Tag: keanekaragaman hayati

  • Tenggat Kian Dekat, Apa yang Sudah Dicapai dari Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global

    Tenggat Kian Dekat, Apa yang Sudah Dicapai dari Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global

     

    7cloud.asia – Pada tahun 2022, 196 negara mengadopsi Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (Global Biodiversity Framework/GBF Kunming-Montreal), rencana paling ambisius di dunia untuk melindungi keanekaragaman hayati.

    Di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal ini, negara-negara telah berkomitmen untuk menghentikan dan membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati pada tahun 2030 untuk selanjutnya hidup harmonis dengan alam dan lingkungan pada tahun 2050.

    Komitmen ini dituangkan dalam dalam Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional, (National Biodiversity Strategies and Action Plans/NBSAP) atau rencana setiap negara untuk melindungi alam dan lingkungannya.

    Dengan tenggat waktu 2030 yang semakin dekat, negara-negara diharapkan telah memperbarui Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional mereka agar selaras dengan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global.

    Baca: Upaya dunia dalam menjaga keanekaragaman hayati 

    Namun, hingga 30 Desember 2025, hanya 66 negara yang telah menyerahkan rencana revisi
    Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional

    Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Project/UNEP) mengingatkan negara-negara pentingnya untuk mempercepat tindakan/aksi. Negara-negara harus berupaya memperkuat implementasi pelestarian lingkungan.

    Hal ini termasuk memulihkan habitat, menegakkan hukum lingkungan, mengurangi spesies invasif, memobilisasi pendanaan, dan memastikan keterlibatan masyarakat yang bermakna.

    UNEP mendukung negara-negara dalam memperbarui dan mengimplementasikan NBSAP mereka dengan menyediakan bantuan teknis, pengembangan kapasitas, akses ke pendanaan.

    UNEP juga menyiapkan dan platform untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman menjaga kelestarian keanekaragaman hayati mereka.

    Baca: Dunia harus mempercepat upaya konservasi untuk menjaga keanekaragaman hayati

    Selain itu juga ada Dana multilateral terbesar di dunia untuk lingkungan, Global Environment Facility (GEF).

    GEF saat ini mendanai dua proyek utama untuk membantu negara-negara memperbarui dan mengimplementasikan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBSAP), yang keduanya dibantu oleh UNEP.

    UNEP juga mendukung proyek-proyek lebih lanjut dari Dana Keanekaragaman Hayati Kunming dan Proyek Dana Perwalian China tentang implementasi Kerangka Kerja tersebut, serta Kemitraan Akselerator NBSAP yang dipimpin oleh negara.

    Bersama-sama, inisiatif-inisiatif ini membantu negara-negara di dunia mengubah komitmen keanekaragaman hayati global menjadi tindakan nyata.

    Baca: Deforestasi hancurkan keanekaragaman hayati

  • Praktik Baik Konservasi: Bagaimana Kenya Sukses Melakukan Konservasi dengan Pendekatan Inklusif

    Praktik Baik Konservasi: Bagaimana Kenya Sukses Melakukan Konservasi dengan Pendekatan Inklusif

    7cloud.asia – “Perlakukan Bumi dengan baik: Bumi bukanlah pemberian dari orang tuamu, melainkan pinjaman dari anak-anakmu,” demikian bunyi sebuah peribahasa Kenya.

    Kearifan ini mencerminkan realitas ekonomi yang sangat penting bagi Kenya yang 42 persen PDB dan 70 persen lapangan kerja dihasilkan oleh sektor-sektor yang bergantung langsung pada modal alam dan jasa ekosistem, seperti pariwisata dan pertanian,

    Peribahasa ini juga memperingatkan terhadap hilangnya keanekaragaman hayati merupakan salah satu ancaman besar yang dihadapi masyarakat Kenya.

    Kenya, seperti sebagian besar dunia, telah mengalami penurunan signifikan dalam berbagai spesiesnya karena pertumbuhan penduduk yang cepat, perusakan habitat, dan dampak perubahan iklim.

    Sebagai tanggapan terhadap tantangan-tantangan mendesak ini, otoritas setempat telah mengembangkan pendekatan inovatif yang mengintegrasikan sains, kebijakan, dan bisnis sambil memberdayakan masyarakat setempat.

    Upaya-upaya ini dapat memberikan contoh yang berharga bagi negara-negara lain di Afrika dan di seluruh dunia.

    Baca: Negara-negara ini mengubah caranya memperlakukan lingkungan

    “Kepemimpinan Kenya dalam tata kelola keanekaragaman hayati yang inklusif menawarkan harapan,” kata Doreen Lynn Robinson, Wakil Direktur Divisi Ekosistem di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    Doreen menambahkan, apa yang dilakukan Kenya sangat penting, bukan hanya inspiratif, tetapi juga esensial. Bahwa para pembuat kebijakan, masyarakat sipil, dan komunitas bersama-sama memutuskan bagaimana melestarikan sumber daya alam dan habitat mereka.

    Seperti negara-negara lain, Kenya sedang menjalani proses penting untuk memperbarui Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBSAP) agar dokumen tersebut lebih selaras dengan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal (GBF).

    Kenya juga menggunakan jaringan dukungan global yang dibentuk di bawah GBF untuk mengakses saran ahli, pengetahuan ilmiah, dan teknologi baru, membantu negara tersebut menerapkan NBSAP-nya.

    GBF menetapkan target global yang ambisius untuk tahun 2030, yang mencakup konservasi dan pemulihan ekosistem, mengatasi penyebab hilangnya keanekaragaman hayati, dan memasukkan alam ke dalam pengambilan keputusan ekonomi.

    Dengan hanya empat tahun tersisa sebelum tenggat waktu 2030, negara-negara di dunia perlu memastikan bahwa NBSAP mereka selaras dengan target GBF dan berfungsi sebagai alat yang efektif untuk mencapainya.

    Baca: Ini yang terjadi pada planet Bumi jika manusia tak segera mengubah caranya memperlakukan lingkungan

    “Memperbarui NBSAP adalah latihan yang kompleks,“ kata Doreen.

    Namun, ujian sebenarnya adalah menyatukan semua sektor pemerintah dengan seluruh masyarakat untuk mengubah kebijakan-kebijakan ini menjadi tindakan nyata di lapangan. Dan Kenya telah menciptakan mekanisme untuk mencapai hal tersebut.

    Sebagai bagian dari NBSAP-nya, Kenya telah menciptakan Mekanisme Koordinasi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBCM).

    Alih-alih memperlakukan keanekaragaman hayati sebagai urusan satu kementerian atau sektor saja, NBCM berupaya mengubah upaya-upaya yang terfragmentasi menjadi respons strategis yang terkoordinasi yang mewujudkan pendekatan “seluruh pemerintah, seluruh masyarakat.

    NBCM diinisiasi di bawah kepemimpinan Kementerian Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Kehutanan dan secara resmi diluncurkan pada Agustus 2024.

    NBCM ini menyatukan kementerian, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat dan komunitas lokal, kelompok pemuda, lembaga penelitian, mitra pembangunan, dan pelaku sektor swasta ke dalam satu platform koordinasi.

    Inilah yang menjadi kunci keberhasilan upaya konservasi di Kenya. Apa yang diraih dari NBCM ini akan kami ulas di tulisan selanjutnya.

    Baca: Apa yang sudah dicapai dari Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF)

  • Konservasi Inklusif Sukses Pulihkan Populasi Hewan yang Terancam Punah

    Konservasi Inklusif Sukses Pulihkan Populasi Hewan yang Terancam Punah

    7cloud.asia – Kenya merupakan salah satu negara di Afrika yang memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya.

    Namun, seperti banyak negara lain di dunia, Kenya telah mengalami penurunan signifikan dalam berbagai spesiesnya karena pertumbuhan penduduk yang cepat, perusakan habitat, dan dampak perubahan iklim.

    Untungnya, pemerintah Kenya segera sadar bahwa keanekaragaman hayati menjadi sumber terbesar PDB dan gantungan sebagian besar rakyatnya.

    Karena itu, mereka serius dalam menjalankan konservasi lingkungan. Mereka terus memperbarui strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBSAP) agar selaras dengan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming–Montreal (GBF).

    Konservasi di Kenya sangat maju, menggabungkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan berbasis masyarakat yang kuat, inovasi teknologi, dan kemitraan internasional

    Baca: Konservasi dengan pendekatan inklusif di Kenya

    Konservasi di Kenya difokuskan untuk melestarikan sabana, hutan, dan terumbu karang, serta memberdayakan komunitas lokal untuk mengelola sumber daya alam demi manfaat ekonomi dan sosial jangka panjang.

    Modelnya melibatkan kawasan konservasi swasta dan komunal yang mengintegrasikan pariwisata ramah lingkungan, pertanian, serta pemberdayaan perempuan, sambil menghadapi tantangan tata kelola dan konflik lahan.

    Sebagai bagian dari NBSAP-nya, Kenya telah menciptakan Mekanisme Koordinasi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBCM).

    Alih-alih memperlakukan keanekaragaman hayati sebagai perhatian satu kementerian atau sektor saja, NBCM berupaya mengubah upaya yang terfragmentasi menjadi respons strategis yang terkoordinasi yang mewujudkan pendekatan “seluruh pemerintah, seluruh masyarakat”.

    Diinisiasi di bawah kepemimpinan Kementerian Lingkungan Hidup, Perubahan Iklim dan Kehutanan, NBCM menyatukan kementerian, pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, Masyarakat Adat dan komunitas lokal, kelompok pemuda, lembaga penelitian, mitra pembangunan, dan pelaku sektor swasta ke dalam satu platform koordinasi.

    Baca: Apa yang sudah dicapai dari Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global (GBF)

    Mekanisme ini menyelaraskan tujuan keanekaragaman hayati nasional dengan kerangka kerja global dan memfasilitasi kolaborasi lintas sektor di antara kementerian dan departemen pemerintah yang keputusannya secara langsung memengaruhi ekosistem.

    Pendekatan ini juga memberdayakan aktor non-negara, termasuk komunitas, akademisi, dan sektor swasta, untuk secara aktif berupaya mencari solusi.

    Terakhir, pendekatan ini mendukung pemantauan dan pelaporan melalui sistem informasi keanekaragaman hayati yang lebih terpusat dan koheren.

    Pendekatan ini menarik perhatian di luar perbatasan Kenya. Badan-badan regional dan mitra internasional semakin sering menyebut NBCM sebagai praktik yang baik dalam mengoperasionalkan pendekatan seluruh pemerintah dan seluruh masyarakat untuk konservasi keanekaragaman hayati.

    Pendekatan ini juga berkontribusi pada perubahan positif di lapangan. Tahun lalu, Kenya telah mencapai tonggak penting dalam konservasi satwa liar.

    Baca: Negara-negara yang sukses melakukan konservasi lingkungan 

    Layanan Margasatwa Kenya (KWS) telah mengumumkan bahwa populasi gajah di negara itu telah meningkat menjadi lebih dari 36.000, menunjukkan peningkatan yang stabil setelah penurunan selama beberapa dekade.

    Selain itu, populasi badak hitam, salah satu spesies yang paling terancam punah di dunia, telah meningkat menjadi lebih dari 850 individu.

    Ini adalah keberhasilan yang patut diperhatikan, terutama mengingat Kenya adalah rumah bagi hampir 80 persen badak hitam Afrika Timur.

    Baru-baru ini, Kenya mengumumkan pembukaan lahan seluas 3.200 kilometer persegi untuk konservasi badak di wilayah timur yang disebut Tsavo, dengan laporan yang mengklaim ini sebagai suaka badak terbesar di dunia.

    Kenya terus menghadapi banyak tekanan yang umum terjadi pada negara-negara kaya keanekaragaman hayati, termasuk kebutuhan untuk menyelaraskan kebijakan sektoral dengan lebih baik dan memperkuat sistem implementasi dan pemantauan.

    Namun, Kenya telah membuat kemajuan yang signifikan dalam mengatasi hambatan-hambatan ini dengan menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan kepentingan untuk bekerja sama dalam melestarikan sumber daya alamnya yang berharga.

  • Jelang 174 Tahun Kebun Raya Cibodas: Mengukuhkan Diri Sebagai Salah Satu Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati

    Jelang 174 Tahun Kebun Raya Cibodas: Mengukuhkan Diri Sebagai Salah Satu Pusat Konservasi Keanekaragaman Hayati

    7cloud.asia – Kebun Raya Cibodas yang merupakan salah satu kawasan konservasi ilmiah berada di Cianjur, Jawa Barat, pada 11 April mendatang akan genap berusia 174 tahun.

    Dan selama itu, Kebun Raya Cibodas memiliki peran dan kontribusi yang sangat penting bagi perjalanan sejarah konservasi dan penelitian keanekaragaman hayati tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia.

    Kebun Raya Cibodas didirikan pada tanggal 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann, dengan nama Bergtuin te Tjibodas (Kebun Pegunungan Cibodas). Teijsman saat itu juga merupakan Kurator (Perintis) Kebun Raya Bogor.

    Pada awalnya, Kebun Raya Cibodas dimaksudkan sebagai tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan asal luar negeri yang mempunyai nilai penting dan ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah Pohon Kina (Cinchona calisaya).

    Dikutip dari buku “Sejarah Kebun Raya Cibodas yang diterbitkan LIPI (2019), kebun raya yang terletak di kompleks hutan Gunung Gede dan Gunung Pangrango tepatnya di Desa Cimacan, Cipanas, Kab. Cianjur, Jawa Barat ini kemudian berkembang menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor dengan nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas.

    Mulai tahun 2003 status Kebun Raya Cibodas menjadi lebih mandiri sebagai Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dalam kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

    Baca: Pengelola Kebun Raya Indonesia menilai konservasi tumbuhan butuh perhatian serius

    Pada tahun 2020, Kebun Raya Bogor bersama tiga kebun raya milik BRIN lainnya (Cibodas, Purwodadi dan Bali) dikerjasamakan dengan pihak swasta, yakni PT Mitra Natura Raya melalui skema Kemitraan pemerintah swasta.

    Kebun Raya Cibodas seluas 84,99 hektare ini memiliki topografi lapangan bergelombang dan berbukit-bukit dengan ketinggian kurang lebih 1.300 hingga 1.425 meter di atas permukaan laut.

    Berlokasi di kaki Gunung Gede-Pangrango, Kebun Raya Cibodas berfokus pada konservasi ex-situ, baik tumbuhan asli Indonesia maupun tumbuhan yang didatangkan dari luar negeri.

    Kebun Raya Cibodas memiliki koleksi tanaman pegunungan tropis yang luas, dengan keunggulan berupa Taman Sakura, koleksi paku-pakuan, lumut, dan rumah kaca.

    Dilansir Antaranews.com, Kebun Raya Cibodas telah mengoleksi sebanyak 1.981 spesies tanam dari 11.958 spesimen. Ribuan koleksi itu menegaskan bahwa Kebun Raya Cibodas memiliki peran dan kontribusi yang sangat penting bagi perjalanan sejarah konservasi dan penelitian di Indonesia.

    Dari jenis yang telah terkonservasi terdapat beberapa jenis tumbuhan terancam punah berdasarkan kategori International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN).

    Baca: Daftar kebun raya yang dimiliki Indonesia

    Sejak didirikan pada 11 April 1852 silam, Kebun Raya Cibodas telah berperan penting dalam bidang penelitian dan konservasi serta berkontribusi dalam menjaga flora Indonesia maupun mancanegara khususnya flora yang berasal dari dataran tinggi basah.

    Untuk menjaga keberlangsungan dan penyelamatan flora, Kebun Raya Cibodas melakukan beberapa kegiatan antara lain pengumpulan material tanaman dari berbagai daerah di Indonesia (eksplorasi flora nusantara);

    Termasuk juga penelitian perbanyakan tanaman seperti kultur jaringan, generatif dan vegetatif; penelitian tentang kesehatan pohon dan pemeliharaan koleksi secara kontinuitas.

    Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi dan penyelamatan flora Indonesia, Kebun Raya Cibodas berperan aktif dalam mendiseminasikan ​​​​​​kepada masyarakat terutama pelajar.

    Peraturan Presiden Nomor 93 Tahun 2011 menyatakan bahwa kebun raya adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.

    Adapun tugas dan fungsi Kebun Raya Cibodas yang berada di bawah Kedeputian Infrastruktur Riset dan Inovasi BRIN lebih menitikberatkan pada aspek konservasi, penelitian, dan pendidikan.

    Baca: Peringatan 208 tahun Kebun Raya Bogor

  • Dari Unggahan di Media Sosial, Herbarium Bandungense ITB dan BRIN Ungkap Tiga Homalomena Baru dari Sumatra

    Dari Unggahan di Media Sosial, Herbarium Bandungense ITB dan BRIN Ungkap Tiga Homalomena Baru dari Sumatra

    7cloud.asia – Perkembangan teknologi digital, khususnya media sosial, kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga membuka peluang baru dalam penemuan keanekaragaman hayati.

    Hal ini ditunjukkan melalui penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Telopea (2026) tersebut mengungkap tiga spesies baru dari genus Homalomena, yaitu Homalomena pachyderma, Homalomena pulopadangensis, dan Homalomena uncinata.

    Menariknya, ketiga spesies Homalomena ini pertama kali menarik perhatian ilmiah melalui unggahan tanaman hias di media sosial oleh kolektor dan penghobi.

    Foto-foto yang beredar menampilkan morfologi unik yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Hal ini mendorong para peneliti untuk melakukan kajian ilmiah lebih lanjut hingga akhirnya memastikan bahwa ketiganya merupakan spesies baru yang berbeda dari jenis Homalomena lain di Sumatera.

    Peneliti dari Herbarium Bandungense SITH ITB, Arifin Surya Dwipa Irsyam, S.Si., M.Si., menjelaskan bahwa media sosial kini memiliki peran penting dalam tahap awal penemuan spesies.

    Informasi yang dibagikan secara cepat oleh masyarakat memungkinkan para ahli mengidentifikasi potensi kebaruan lebih dini sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas wilayah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa validasi ilmiah tetap harus dilakukan melalui penelitian formal yang ketat.

    “Media sosial, berfungsi sebagai alat bantu atau tahap early detection, bukan pengganti metode ilmiah,” ujar Arifin.

    Fenomena ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada 2019, peneliti juga berhasil mendeskripsikan spesies baru dari genus Hoya yang awalnya diketahui melalui unggahan di Facebook.

    Hal ini menunjukkan bahwa platform digital berpotensi mempercepat dokumentasi keanekaragaman hayati, khususnya di negara tropis seperti Indonesia.

    Selain media sosial, peran nursery privat juga menjadi faktor penting dalam penelitian ini. Tanaman yang berasal dari berbagai wilayah di Sumatra dikoleksi dan dibudidayakan di Jawa Barat, sehingga memungkinkan pengamatan lebih mendalam, termasuk hingga fase reproduksi.

    Bahkan, salah satu spesies, Homalomena uncinata, diketahui telah berada di Jepang selama sekitar sembilan tahun, meskipun asal-usul distribusinya belum sepenuhnya jelas.

    Lebih lanjut, Arifin menyoroti pentingnya etika dalam penyebaran informasi terkait spesies baru. Ia mengingatkan bahwa publikasi yang tidak terkontrol berpotensi membahayakan spesies, terutama yang rentan terhadap eksploitasi.

    “Oleh karena itu, kolaborasi antara peneliti, komunitas lokal, dan masyarakat menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan konservasi,” ungkapnya.

    Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan nonkonvensional, seperti pemanfaatan media sosial dan partisipasi publik (citizen science), dapat melengkapi metode eksplorasi lapangan dalam mengungkap keanekaragaman hayati.

    Integrasi antara teknologi digital dan penelitian akademik dinilai semakin penting untuk mendukung upaya pendokumentasian biodiversitas Indonesia yang masih sangat luas dan belum sepenuhnya terungkap.

  • Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    7cloud.asia – Kesehatan lingkungan dan umat manusia bergantung pada kesehatan spesies dan ekosistem yang mendukungnya. Misalnya, tiga dari empat tanaman pangan membutuhkan penyerbuk seperti lebah.

    Hutan yang rimbun mengatur air yang sangat penting bagi banyak hal. Bahkan kota-kota dapat dirancang untuk bertindak sebagai spons, dengan ruang hijau yang menangkap air hujan untuk melindungi warganya dari banjir.

    Pemerintah di sejumlah negara telah menyadari perlunya bekerja sama dengan alam, bukan melawannya.

    Di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, mereka telah berjanji untuk melindungi 30 persen lahan, air, dan laut, serta memulihkan 30 persen ekosistem yang rusak pada tahun 2030.

    Lantas, apa yang dapat kita lakukan sebagai warga? Anda dapat membantu memainkan peran dalam proses pemulihan.

    Pada tanggal 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, yang tahun ini mengusung tema “bertindak secara lokal untuk dampak global.”

    Baca: Setiap Orang Dapat Berkontribusi, Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Berikut adalah empat cara yang dapat Anda lakukan untuk mendukung keanekaragaman hayati dari tempat Anda berada, dikutip dari laman unep.org.

    1. Tanam pohon untuk menumbuhkan masa depan
    Pohon adalah salah satu sekutu alam yang paling kuat. Pohon membersihkan udara, memberikan naungan, mencegah erosi tanah, dan menyediakan habitat bagi spesies yang tak terhitung jumlahnya.

    Menanam pohon mungkin tampak seperti tindakan kecil, tetapi dapat memberikan manfaat jangka panjang. Satu bibit dapat tumbuh menjadi pohon menjulang tinggi yang menopang kehidupan selama beberapa dekade.

    Namun, penanaman pohon yang sukses lebih dari sekadar menanam bibit di tanah. Itu berarti merawatnya, memastikan ia bertahan hidup dan tumbuh subur.

    Memilih spesies yang tepat sama pentingnya. Pohon asli seringkali paling cocok untuk ekosistem lokal dan oleh karena itu mendukung keanekaragaman hayati secara lebih efektif.

    Prinsip panduannya sederhana: tanam pohon yang tepat di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Mulailah dari hal kecil, dan kembangkan dari sana, bergabunglah dengan orang lain.

    Jika tertarik, Anda tidak sendirian! Gabungkan upaya Anda dengan banyak orang lain di bawah Dekade Restorasi Ekosistem PBB 2021-2030, dan beri tahu kami serta orang lain tentang apa yang Anda lakukan dan apa yang Anda pelajari.

    Baca: Peran Lebah dalam Rantai Produksi Pangan Global

    2. Ciptakan tempat perlindungan serangga untuk membantu alam berkembang
    Serangga membentuk sekitar 75-90 persen dari semua spesies hewan yang dikenal.
    Namun, mereka berada di bawah tekanan yang meningkat.

    Hilangnya habitat, penggunaan pestisida, dan perubahan iklim mendorong banyak spesies menuju penurunan, meskipun peran penting mereka dalam kelangsungan hidup semua kehidupan di Bumi.

    Serangga penyerbuk seperti lebah dan kupu-kupu memungkinkan tanaman untuk bereproduksi dengan membawa serbuk sari dari bunga ke bunga, mendukung produksi pangan dan ekosistem yang sehat.

    Salah satu cara sederhana untuk membantu adalah dengan menanam padang bunga liar. Bahkan sepetak kecil, baik di kebun, di sepanjang jalan, atau di balkon, dapat menyediakan makanan dan tempat berlindung bagi serangga.

    Hotel serangga – yang dibangun dari bahan alami – menyediakan tempat berlindung, bersarang, dan hibernasi. Tak lama kemudian, tempat-tempat ini menjadi hidup dengan warna, gerakan, dan suara, seiring alam mulai pulih.

    3. Bijak mengonsumsi
    Keputusan konsumsi sehari-hari dapat memiliki konsekuensi yang signifikan bagi lingkungan.

    Misalnya, setengah dari lahan yang dapat dihuni di dunia digunakan untuk pertanian – dan cara orang bertani memiliki dampak besar pada keanekaragaman hayati.

    Baca: Pertanian Monokultur, Pupuk Kimia dan Pestisida Hancurkan Panen Petani di Andhra Pradesh

    Pilihan makanan merupakan salah satu peluang terbesar bagi individu di banyak bagian dunia untuk mendukung keanekaragaman hayati.

    Pilihlah makanan yang sesuai dengan lingkungan setempat yang kaya akan tumbuhan, seperti buah-buahan dan sayuran, yang dapat meningkatkan kesehatan Anda sekaligus melindungi planet ini.

    Selain itu, rencanakan makanan Anda jauh-jauh hari dan gunakan sisa makanan untuk mengurangi pemborosan makanan.

    4. Hindari bahan kimia berbahaya
    Banyak produk sehari-hari, mulai dari perlengkapan pembersih hingga produk perawatan pribadi, mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan ekosistem ketika masuk ke perairan dan tanah.

    Untungnya, alternatif alami semakin banyak tersedia. Mulai dari larutan pembersih berbahan dasar tumbuhan hingga produk perawatan pribadi organik, penggantian kecil dapat membuat perbedaan yang berarti.

    Pastikan saja bahan-bahan berbahan dasar tumbuhan – seperti minyak – ditanam secara berkelanjutan.

    Di kebun dan ruang hijau, mengurangi penggunaan bahan kimia sama pentingnya. Menggunakan pengendalian hama alami dan pupuk organik, seperti kompos dapur, dapat membantu melindungi kesehatan tanah dan mendukung keanekaragaman hayati.

    Seperti tubuh kita, ekosistem yang sehat dimulai dari apa yang kita masukkan ke dalamnya.

  • Yuk, Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    Yuk, Kencangkan Suara untuk Pelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Di bawah Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, mereka telah berjanji untuk melindungi 30 persen lahan, air, dan laut, serta memulihkan 30 persen ekosistem yang rusak pada tahun 2030.

    Negara-negara penandatangan perjanjian ini telah berjanji untuk memulihkan 1 miliar hektare ekosistem yang terdegradasi di seluruh dunia. Luasan area yang akan dipulihkan ini melebihi luas daratan China.

    Namun, lebih banyak tindakan dan pendanaan diperlukan untuk mencapai tujuan pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati global pada tahun 2030.

    Lantas, apa yang dapat kita lakukan sebagai warga? Anda dapat membantu memainkan peran dalam proses pemulihan.

    Baca: Empat Cara untuk Ikut Berkontribusi dalam Menjaga Keanekaragaman Hayati

    Mengutip unep.org, setiap individu dapat berkontribusi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dengan banyak menanam pohon, menjaga ekosistem binatang penyerbuk, bijak mengonsumsi dan menghindari penggunaan bahan-bahan kimia.

    Bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional pada 22 Mei, warga dunia diajak untuk terlibat lebih jauh dalam upaya pelestarian lingkungan

    Dengan mengusung tema “bertindak secara lokal untuk dampak global.” warga dunia diingatkan bahwa upaya melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati adalah usaha seluruh masyarakat.

    Di luar dapur, halaman belakang, dan lingkungan sekitar Anda, Anda juga dapat terlibat lebih jauh dengan mendanai, mendukung, dan bergabung dengan inisiatif yang melindungi lingkungan.

    Baca: Gunakan Suara dan Uang Anda untuk Mendesak Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

    Anda juga bisa terlibat dengan tetap terinformasi dan ingin tahu tentang perkembangan keanekaragaman hayati global;

    Terakhir, Anda dapat mempelajari apa yang dilakukan negara atau wilayah Anda untuk mencapai target keanekaragaman hayati.

    Pengetahuan ini dapat Anda manfaatkan dan sebarluaskan untuk mendorong para pemimpin di daerah Anda untuk mempercepat aksi iklim untuk menyelamatkan lingkungan.

    Jika Anda masih ragu tak perlu berkecil hati. Mulailah dari sekarang, sebab sekecil apapun langkah yang Anda lakukan akan tetap bermanfaat bagi planet Bumi.

  • Ada Sekitar 5.000 Spesies Anggrek Alam di Indonesia, Sebagian Terancam Karena Habitatnya Rusak

    Ada Sekitar 5.000 Spesies Anggrek Alam di Indonesia, Sebagian Terancam Karena Habitatnya Rusak

    7cloud.asia – Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek terbesar di dunia, dengan sekitar 5.000 spesies anggrek alam yang tersebar di berbagai wilayah hutan tropis.

    Jumlah ini diperkirakan mencapai seperlima dari total sekitar 25.000 hingga 30.000 spesies anggrek liar di seluruh dunia, yang terbagi dalam sekitar 700 hingga 880 genus.

    Adapun suku anggrek-anggrekan (Orchidaceae) menjadi salah satu keluarga tumbuhan berbunga terbesar di planet Bumi.

    Kekayaan anggrek Indonesia ini merupakan aset keanekaragaman hayati nasional yang harus dijaga melalui penelitian dan konservasi.

    Di Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, berbagai spesies anggrek dari seluruh Indonesia terus dikoleksi, dipelajari, didokumentasikan, dan dikonservasi untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati.

    Salah satu penemuan terbaru peneliti BRIN adalah Chiloschista tjiasmantoi, spesies anggrek tanpa daun yang berasal dari Aceh. Selain itu, publikasi terbaru BRIN juga mencatat sepuluh rekaman baru anggrek yang tersebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Anggrek Akar Tak Berdaun Endemik Pulau Sumatra

    Berbicara dalam workshop “Teknik Perawatan dan Budidaya Anggrek” yang dihelat BRIN beberapa waktu lalu, Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Richa Kusuma Wati berharap semakin banyak inovasi yang dikembangkan untuk mendukung pelestarian anggrek Indonesia.

    Pelestarian ini khususnya spesies endemik anggrek yang kini menghadapi ancaman kehilangan habitat.

    “Saya berharap semakin banyak teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk menyelamatkan anggrek-anggrek asli Indonesia, khususnya spesies yang langka dan endemik. Semoga semakin banyak peneliti muda maupun masyarakat yang ikut berkontribusi dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia agar tetap lestari,” ujarnya seperti dikutip di laman resmi brin.go.id.

    Melalui talkshow ini, BRIN tak hanya membekali masyarakat dengan pengetahuan praktis mengenai teknik budidaya anggrek, tetapi juga memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan salah satu keanekaragaman hayati Indonesia yang memiliki nilai ilmiah, ekologis, dan ekonomi.

    Cara merawat anggrek
    Dalam paparannya, Richa mengenalkan beberapa jenis anggrek yang populer, seperti Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda, dan Paphiopedilum.

    Ia menjelaskan bahwa Vanda memerlukan paparan sinar matahari langsung dan umumnya ditanam menggantung tanpa media tanam yang padat.

    Baca: Anggrek Spesies Baru Aerides Obyrneana Jadi Buruan Kolektor

    Dendrobium membutuhkan cahaya cukup dengan media tanam berpori, seperti arang, pecahan genting, atau kulit pinus (pine bark), agar akar memperoleh sirkulasi udara yang baik dan tidak mudah membusuk.

    Sementara itu, menurutnya, Phalaenopsis atau anggrek bulan lebih cocok ditempatkan di area teduh dengan cahaya tidak langsung dan sirkulasi udara yang baik karena sensitif terhadap sinar matahari langsung.

    Adapun Paphiopedilum sebagai anggrek terestrial memerlukan media tanah atau lumut yang lembap dengan penyiraman yang lebih hati-hati agar terhindar dari pembusukan akar.

    Richa menjelaskan bahwa langkah pertama dalam merawat anggrek adalah mengenali jenisnya. Menurutnya, setiap spesies memiliki kebutuhan cahaya, media tanam, dan kelembapan yang berbeda sehingga teknik perawatannya tidak dapat disamaratakan.

    “Setiap jenis anggrek memiliki karakteristik tersendiri. Ada yang menyukai sinar matahari penuh, ada yang membutuhkan naungan, ada yang hidup sebagai epifit di pohon inang, bahkan ada yang tumbuh di tanah. Karena itu, cara perawatannya tidak bisa disamakan,” jelas Richa.

    Selain pemilihan media tanam, penyiraman juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan budidaya anggrek. Richa menyarankan penyiraman dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terik agar tanaman dapat menyerap air secara optimal.

    “Pada kondisi cuaca panas, terutama untuk Phalaenopsis, penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, yakni pagi dan sore.”Yang terpenting bukan hanya seberapa sering disiram, tetapi menyesuaikan kebutuhan masing-masing jenis anggrek dan kondisi lingkungannya,” ujarnya.