7cloud.asia – Kepala Divisi WKR, Pendidikan dan Pengorganisasian WALHI Kalimantan Barat, Andre Illu mengingatkan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla sudah agenda peringatan tahunan.
Sayangnya, ini bukan peringatan yang membanggakan, justru sebagai bentuk kegagalan pemerintah menyelesaikan persoalan karhutla.
Pasca karhutla hebat tahun 2015, ujarnya, pemerintah menyatakan berkomitmen memulihkan kerusakan gambut akibat karhutla serta melindungi gambut yang masih sehat, tapi setiap tahun kebakaran gambut masih terjadi.
Andre menyoroti penanganan kasus kejahatan lingkungan dalam konteks karhutla, seringkali menyasar individu, tapi jarang menyentuh korporasi. Padahal dari temuan WALHI, banyak kejadian karhutla berada di lahan korporasi dan daerah konsesi.
Dalam pernyataan yang dirilis di laman resmi WALHI, Andre menegaskan bahwa Karhutla di Kalimantan Barat tidak lepas dari kerusakan lahan gambut. Karena itu penanganan karhutla harus menyentuh pemulihan lahan gambut ini.
Baca: Karhutla terus berulang karena lemahnya penegakan hukum
Dan, perlindungan gambut mestinya menyeluruh dan menyentuh akar masalah. Meskipun beberapa perusahaan telah melakukan penataan air di konsesi, pembukaan kanal di lahan gambut menyebabkan hidrologis pada KHG menjadi rusak, terutama pada kawasan masyarakat yang terkena dampak.
Andre mengingatkan, musim kemarau masih akan panjang dan saat ini baru awal, tapi kota Pontianak sudah terkena dampak kabut asap dan kualitas udara yang tidak sehat.
“Jika tidak ada upaya yang benar-benar serius, negara hanya menegaskan kelalainnya dalam memenuhi hak warga atas lingkungan yang baik dan sehat,“ ujarnya.
Sepanjang Mei hingga mendekati akhir Juli 2025, terdapat 8644 hotspot yang terpantau di seluruh wilayah Kalimantan Barat.
WALHI Kalbar mencatat titik api ditemukan di seluruh wilayah kabupaten dan kota dengan 5 wilayah tertinggi yaitu Sanggau 1816 hotspot, Mempawah dan Sambas masing-masing 1190 hotspot, Landak 807 hotspot, Ketapang 657 hotspot.
Baca: Titik panas di Kalimantan dan Sumatera meningkat signifikan
Dijelaskan, sebanyak 2.652 hotspot terpantau di sejumlah konsesi perusahaan, dengan hotspot terbanyak berada di konsesi PT. Perkebunan Nusantara XIII (124),
Disusul kemudian PT. Kapuas Palm Industri (108), Sumatera Unggul Makmur (106), PT. Global Kalimantan Makmur (103), Mitra Austral Sejahtera (89), Peniti Sungai Purun (60).
Sementara itu jika dioverlay dengan peta izin Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), terdapat 1061 hotspot yang berada pada 54 konsesi. Dengan terbanyak berada di PT. Finantara Intiga (143).
Disusul PT Duta Andalan Sukses (102), PT Fajar Wana Lestari (88), Inhutani Nanga Pinoh (72), PT. Kanya Resources (71), Mayawana Persada (57), Citra Mulia Inti (43) dan Gambaru Selaras Alam (41).
Kebakaran lahan gambut masih terjadi di tahun 2.025, identifikasi hotspot yang berada di kawasan Hidrologis gambut, ditemukan 2.353.
Hotspot ini berada di 36 konsesi perkebunan kelapa sawit, dengan terbanyak pada PT Sumatera Unggul Makmur (89), Peniti Sungai Purun (53), Mitra Andalan Sejahtera (18), Muara Sungai Landak (17), Bumi Perkasa Khatulistiwa (16), Sebukit Internusa (14), Buluh Cawang Plantation(13), Condong Garut (8).









