Tag: kualitas udara

  • Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat dan Masuk Kota Terpolusi di Dunia

    Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat dan Masuk Kota Terpolusi di Dunia

    7cloud.asia – Libur panjang Idul Adha ternyata tak mampu menurunkan polusi udara dan membuat kualitas udara Jakarta membaik.

    Pada Selasa (18/6/2024) pagi kualitas udara Jakarta justru memburuk dan bahkan masuk dalam kategori sangat tidak sehat.

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 06.30 WIB, indeks kualitas udara (air quality index/ AQI) di Jakarta berada di angka 223.

    Sedangkan untuk angka partikel halus (particulate matter/ PM) 2,5 berada pada angka 148 mikrongram per meter kubik (µg/m³) atau setara 29.6 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Baca Juga: Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    Dengan indeks kualitas udara Jakarta berada di angka 223 ini kembali menempatkan Jakarta sebagai juara kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

    Setelah Jakarta pada peringkat pertama, kota dengan kualitas udara terburuk lainnya, yakni Kinshasa, Kongo dengan indeks kualitas udara di angka 183, kemudian Kampala, Uganda di posisi ketiga dengan indeks 165.

    Dalam situs tersebut, Tangerang Selatan menjadi kota dengan kualitas udara paling buruk se-Indonesia dengan indeks berada di level 278 dengan kategori sangat tidak sehat.

    Setelah Jakarta pada posisi kedua, Kota Bandung tercatat memiliki kualitas udara dengan indeks 167 dan berkategori tidak sehat.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Sejumlah wilayah di Jakarta yang saat ini memiliki kualitas udara dengan kategori sangat tidak sehat, yakni Jeruk Purut, Cilandak Barat dan Kemang.

    Masyarakat direkomendasikan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, mengenakan masker saat di luar, menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor, serta menyalakan penyaring udara.

    Sementara itu, Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta juga tidak jauh berbeda.

    Pantauan itu mencatat bahwa kualitas udara di Jakarta secara keseluruhan untuk polusi udara PM2,5 berada pada kategori sedang dengan indeks angka 79, berdasarkan data terakhir yang diunggah pukul 05.00 WIB.

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta: Diperlukan Sistem Transportasi Publik yang Berkualitas

    Kategori sedang berarti tingkat kualitas udara tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif, dan nilai estetika.

    Sejumlah wilayah yang tercatat berada pada kategori udara sedang, yakni Kebon Jeruk, Kelapa Gading dan Lubang Buaya, sedangkan wilayah dengan kategori tidak sehat yakni Jagakarsa.

  • DLH DKI Jakarta Kembangkan Sistem Intervensi Emisi untuk Pantau Sumber Polusi Udara

    DLH DKI Jakarta Kembangkan Sistem Intervensi Emisi untuk Pantau Sumber Polusi Udara

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sedang mengembangkan sistem inventarisasi emisi yang lebih sistematis untuk memantau sumber-sumber polusi udara.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Asep Kuswanto mengakui beberapa pekan belakangan kualitas udara di Jakarta menurun. Namun, ia menegaskan pihaknya telah punya peta jalan untuk mengatasi polusi udara di Jakarta.

    “Walaupun di tengah-tengah kondisi udara yang sedang menurun, Pemprov DKI sudah memiliki langkah yang jelas dalam menanggulangi pencemaran udara. Kita sedang dalam proses menyelesaikan itu,” katanya, dikutip Antaranews.com Rabu (19/6/2024).

    Ia mengatakan bahwa DLH melanjutkan upaya serius dalam menanggulangi penurunan kualitas udara di Jakarta melalui implementasi Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor 576 Tahun 2023 tentang Strategi Pengendalian Pencemaran Udara (SPPU).

    Baca: Masuki musim kemarau kualitas udara Jakarta memburuk

    Menurut dia, SPPU ini menjadi panduan strategis bagi DLH dan seluruh pemangku kepentingan dalam meningkatkan kualitas udara di Jakarta hingga tahun 2030.

    Selain itu DLH sedang mengembangkan sistem inventarisasi emisi yang lebih sistematis untuk memantau sumber-sumber polusi udara di Jakarta.

    Ia menjelaskan bahwa dengan sistem itu memungkinkan pengumpulan data yang lebih baik tentang emisi dari berbagai sumber, termasuk kendaraan bermotor dan industri.

    Dengan data yang akurat diharapkan, cara mengatasi yang efektif bisa segera ditemukan.

    Selain memperketat pengawasan terhadap sumber emisi bergerak dan tidak bergerak, juga dilakukan langkah strategis lainnya, yaitu kerja sama lintas daerah, terutama daerah algomerasi Jakarta.

    Baca: Warga Jakarta diminta tak sepelekan dampak polusi udara

    “Untuk itu, kami mendorong pemerintah daerah di sekitar Jakarta untuk lebih ketat dalam mengawasi industri di wilayahnya yang berpotensi mencemari udara di sana dan terbawa angin ke Jakarta,” tuturnya.

    Terkait penurunan kualitas udara yang terjadi akhir-akhir ini, Asep menyebut hal ini tak lepas dari arah angin

    Menurut hasil analisis model “Hybrid Single-Particle Lagrangian Integrated Trajector” (HYSPLIT) dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang dilakukan oleh Tim Ahli IPB menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir, angin dominan berasal dari arah timur dan Timur Laut.

    Menurut dia, HYSPLIT adalah model yang digunakan untuk mensimulasikan pergerakan dan penyebaran polutan di atmosfer, membantu dalam memahami sumber dan dampak polusi udara.

    Baca: WFH dan pembatasan kendaraan bermotor jadi langkah mendesak tuk atasi polusi udara

    Asep mengatakan bahwa perubahan perilaku masyarakat dengan beralih menggunakan transportasi publik, bersepeda, dan berjalan kaki untuk mobilisasi jarak dekat juga upaya yang dapat memperbaiki kualitas udara Jakarta.

    “Itu juga kami kampanyekan. Selain itu, upaya jangka pendek juga kita tempuh dengan mengimbau pengelola gedung-gedung tinggi memasang ‘water mist’ dan memperketat uji emisi kepada pemilik kendaraan bermotor di Jakarta,” katanya.

    Sejumlah kalangan menilai pemerintah, khususnya Pemprov DKI Jakarta tak serius atasi polusi udara yang tak kunjung membaik.

    Langkah-langkahvyang dilakukan pemerintah selama ini dinilai tak menyelesaikan akar masalah polusi udara. 

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Jelang Gelaran JAKIM 2024, Kualitas Udara Jakarta Tetap Masuk 10 Terburuk Dunia

    Jelang Gelaran JAKIM 2024, Kualitas Udara Jakarta Tetap Masuk 10 Terburuk Dunia

    7cloud.asia – Tiga hari jelang gelaran akbar Jakarta Internasional Maraton 2024 atau JAKIM 2024, kualitas udara Jakarta tak kunjung membaik.

    Pada Kamis (20/6/2024) pagi, kualitas udara Jakarta berada pada peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dan masuk kategori tidak sehat.

    Berdasarkan pemantauan di https://www.iqair.com/id/pada pukul 05.50 WIB, Indeks Kualitas Udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada pada angka 165.

    Adapun konsentrasi partikel (PM) 2.5 berada di angka 76 mikrongram per meter kubik (µg/m³).

    Baca Juga: DLH DKI Jakarta Kembangkan Sistem Intervensi Emisi untuk Pantau Sumber Polusi Udara

    Disebutkan kualitas udara Jakarta ini masuk kategori tidak sehat dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif.

    Dengan kualitas udara Jakarta yang buruk ini juga bisa menimbulkan kerusakan/kematian pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan angka AQI 179, disusul Kampala, Uganda di urutan ketiga dengan indeks 159.

    Berikut daftar 10 kota dengan kualitas udara terburuk di dunia, selengkapnya:
    1. Kinshasa, Kongo-Kinshasa dengan angka AQI 179
    2. Jakarta, Indonesia; 165
    3. Kampala, Uganda; 159
    4. Dubai, Uni Emirat Arab; 139
    5. Beijing, Cina; 122
    6. Dhaka, Bangladesh; 107.
    7. Batam, Indonesia; 97
    8. Karachi, Pakistan di angka 95
    9. Kuwait City, Kuwait di angka 90,
    10. Incheon, Korea Selatan di angka 90.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta: Diperlukan Sistem Transportasi Publik yang Berkualitas

  • Kualitas Udara Buruk, Warga Kota Jakarta Disarankan Mengurangi Kegiatan di Luar Rumah

    Kualitas Udara Buruk, Warga Kota Jakarta Disarankan Mengurangi Kegiatan di Luar Rumah

    7cloud.asia – Kualitas udara di Jakarta pada Kamis (4/7/2024) pagi menduduki urutan nomor tiga sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Kota dengan kualitas udara terburuk pertama, yakni Kinshasa (Kongo) di angka 182 dan urutan kedua Kampala (Uganda) di angka 163.

    Urutan keempat Lahore (Pakistan) di angka 157, urutan kelima Medan (Indonesia) di angka 145, dan urutan keenam Santiago (Cile) di angka 145.

    Urutan ketujuh Accra (Ghana) di angka 127, urutan kedelapan Beijing (China) di angka 124, urutan kesembilan Incheon, Korea Selatan di angka 114, dan urutan kesepuluh Ho Chi Minh (Vietnam) di angka 113.

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 04.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di urutan pertama dengan angka 155 atau masuk dalam kategori tidak sehat.

    Angka itu memiliki penjelasan kategori tingkat kualitas udaranya tidak sehat bagi kelompok sensitif karena dapat merugikan kesehatan bagi kelompok sensitif.

    Kondisi udara ini juga bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Untuk itu masyarakat disarankan mengenakan masker saat keluar rumah dan mengurangi aktivitas di luar ruangan

    Masyarakat juga disarankan menutup jendela demi menghindari udara luar yang kotor dan menyalakan penyaring udara.

    Baca Juga: Warga Jakarta Diingatkan Tak Mengabaikan Kualitas Udara yang Tidak Sehat

    Kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

    Kualitas udara kategori sedang yakni kualitas udaranya yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 51-100.

    Kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

    Sedangkan kategori berbahaya (300-500) atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

  • Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Salah Satu Kota Terpolusi di Dunia

    Kualitas Udara Buruk, Kota Jakarta Masuk Salah Satu Kota Terpolusi di Dunia

    7cloud.asia – Kualitas udara di DKI Jakarta kembali memburuk dan masuk kategori tidak sehat dengan indeks kualitas udara (AQI) di angka 155, pada Sabtu (20/7/2024) pagi.

    Dengan kondisi udara seperti ini, DKI Jakarta menempati urutan ketujuh kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

    Pada hari dan jam yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia ditempati Lahore (Pakistan) pada angka 188, disusul Kampala (Uganda) di angka 179, dan Kota Medan (Indonesia) 167.

    Menurut situs pemantau kualitas udara IQAir yang dipantau di Jakarta, Sabtu (20/7/2024) pukul 05.00 WIB, kualitas udara di Jakarta masuk kategori tidak sehat dengan partikel halus PM2,5 berada di angka 61 mikrongram per meter kubik.

    Situs yang sama mencatat bahwa konsentrasi PM 2.5 di Jakarta saat ini setara 12,2 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Baca Juga: Jakarta Tambah Stasiun Pemantau Kualitas Udara, Akankah Efektif Jika Tak Dibarengi Pembatasan Kendaraan Bermotor?

    Karena itu, masyarakat yang akan beraktivitas di luar ruangan agar mengenakan masker, karena kualitas udara yang kembali memburuk.

    Sementara itu, situs resmi milik Pemprov DKI yaitu udara.jakarta.go.id menunjukkan bahwa rerata kualitas udara di daerah itu pada Sabtu masuk kategori sedang.

    Dari 31 titik stasiun pemantau kualitas udara (SPKU) hanya terdapat satu titik yang masuk tidak sehat yaitu di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan angka 101.

    Kepala DLH DKI Asep Kuswanto mengatakan bahwa alat yang digunakan untuk memantau kualitas udara telah teruji dan sudah masuk Standar Nasional Indonesia (SNI)

    Baca Juga: Mampukah Dewan Aglomerasi Atasi Kemacetan, Polusi Udara dan Banjir di Jakarta?

    Seperti SNI 9178:2023 yang merupakan standar uji kinerja alat pemantauan kualitas udara yang menggunakan sensor berbiaya rendah.

    Standar ini, lanjut Asep, memastikan bahwa alat pemantau kualitas udara memenuhi kriteria yang diperlukan untuk menghasilkan data yang akurat dan konsisten.

    Berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menangani polusi udara.

    Namun, upaya ini dinilai tidak akan efektif jika akar masalah yakni jumlah kendaraan bermotor dan penggunaan batubara tidak dibatasi.

  • Laporan Kualitas Udara Dunia 2023: Jakarta Masuk Kota Terpolusi Nomor Tujuh Dunia

    Laporan Kualitas Udara Dunia 2023: Jakarta Masuk Kota Terpolusi Nomor Tujuh Dunia

    7cloud.asia – Laporan Kualitas Udara Dunia ke-6 mengungkap data secara rinci tentang negara dan wilayah paling tercemar di dunia pada tahun 2023.

    Untuk laporan tahun ini, data didapat dari 30.000 lebih stasiun pemantauan kualitas udara di 7.812 lokasi di 134 negara dan wilayah yang dianalisis oleh para ilmuwan kualitas udara IQAir.

    Temuan kunci dari Laporan Kualitas Udara Dunia tahun 2023 antara lain:

    1. Hanya tujuh negara memenuhi pedoman PM2,5 tahunan WHO (rata-rata tahunan 5 µg/m3 atau kurang): Australia, Estonia, Finlandia, Grenada, Islandia, Mauritius, dan Selandia Baru.

    2. Lima negara paling berpolusi pada tahun 2023 adalah: Bangladesh, Pakistan, India, Tajikistan, dan Burkina Faso. Konsentrasi PM 2,5 di lima negara tersebut 9-15 kali melebihi standar pedoman WHO.

    3. Sebanyak 124 (92,5 persen) dari 134 negara dan wilayah melampaui nilai pedoman PM2,5 tahunan WHO sebesar 5 µg/m3.

    4. Kondisi iklim dan kabut asap lintas batas merupakan faktor utama di Asia Tenggara, dimana konsentrasi PM2,5 meningkat di hampir setiap negara.

    Baca Juga: Mampukah Dewan Aglomerasi Atasi Kemacetan, Polusi Udara dan Banjir di Jakarta?

    Kota Jakarta sendiri menempati peringkat ketujuh untuk kota paling berpolusi di seluruh dunia. Angka PM 2,5 tahunan 8 kali melampaui standar pedoman WHO yaitu sebesar 43,8 ug/m3.

    Sementara di wilayah Asia Tenggara, Indonesia masih menempati posisi pertama negara paling berpolusi.

    Wilayah Tangerang Selatan menjadi peringkat pertama sebagai kota paling berpolusi se Asia Tenggara, dengan konsentrasi tahunan PM 2,5 mencapai 71,7 ug/m3.

    Berdasarkan data DLH DKI Jakarta, konsentrasi PM2,5 di tahun 2023 melebihi baku mutu udara ambien berdasarkan PP 21/ 2021. Konsentrasi PM2,5 2023 mencapai 40,3 ug/m3, sementara BMUA per tahun adalah 15 ug/m3.

    Peningkatan konsentrasi PM2,5 terjadi pada rentang waktu Juli hingga Oktober 2023. Hasil analisis dari 5 stasiun pengukuran kualitas udara (SPKU) DKI Jakarta, kondisi status mutu udara Jakarta ‘tercemar’, dengan parameter utama PM 2,5 dan PM 10.

    Baca Juga: Polusi Udara di Jakarta Makin Parah, Apa Kabar Pembatasan Kendaraan Bermotor?

    Jakarta telah memiliki strategi pengendalian pencemaran udara yang dituangkan dalam Keputusan Gubernur No 576/ 2023.

    Namun, keputusan ini dinilai terlambat oleh Koalisi Ibukota saat itu, karena draf rencana sebenarnya sudah ada sejak setahun sebelumnya. Pengesahan ini dilakukan saat kualitas udara di Jakarta memburuk hingga diberitakan viral oleh media nasional.

    Warga Jakarta juga telah memenangkan gugatan warga negara atas polusi udara menyusul kasasi Presiden dan KLHK yang ditolak oleh Mahkamah Agung pada November 2023.

    Koalisi IBUKOTA mendesak pihak pemerintah yang menjadi Tergugat yakni Presiden, Menteri LHK, Menteri Kesehatan, Menteri Dalam Negeri, dan Gubernur DKI Jakarta.

    Turut Tergugat yakni Gubernur Jawa Barat dan Gubernur Banten, untuk segera melaksanakan putusan pengadilan atas gugatan warga negara atau citizen law suit (CLS) yang sudah dijatuhkan sejak 16 September 2021.

    “Pemerintah harus segera menjalankan putusan sidang, apalagi dengan terpilihnya presiden dan kabinet yang baru nanti, serta adanya UU DKJ pasca pemindahan ibukota menjadi IKN, perbaikan kualitas udara Jakarta harus menjadi salah satu agenda utama,” ucap Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

    Baca Juga: Jika Pembatasan Kendaraan Bermotor Sukses, Jakarta Bisa Ucapkan Bye-bye Kemacetan dan Polusi Udara

    “Pengendalian pencemaran udara harus diatasi dari sumber emisinya yaitu emisi kendaraan dan industri, kemudian secara bersamaan memperbanyak transportasi umum massal berbasis listrik dan segera beralih ke sumber energi terbarukan,” tegasnya.

    Lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan merupakan hak asasi manusia yang universal. Di banyak belahan dunia, kurangnya data kualitas udara menunda tindakan tegas dan melanggengkan penderitaan manusia yang tidak perlu.

    “Data kualitas udara menyelamatkan nyawa. Saat kualitas udara dilaporkan, tindakan diambil, dan kualitas udara meningkat,” kata Frank Hammes, CEO Global, IQAir.

    Ilmuwan Senior Kualitas Udara, Greenpeace Internasional Aidan Farrow mengatakan, Laporan tahunan IQAir menggambarkan sifat internasional dan konsekuensi yang tidak adil dari krisis polusi udara yang berkepanjangan.

    ”Upaya lokal, nasional, dan internasional sangat diperlukan untuk memantau kualitas udara di tempat-tempat yang kekurangan sumber daya, mengatasi penyebab kabut asap lintas batas, dan mengurangi ketergantungan kita pada pembakaran sebagai sumber energi,” katanya.

    “Pada tahun 2023 polusi udara masih menjadi bencana kesehatan global, kumpulan data global IQAir memberikan pengingat penting akan ketidakadilan yang diakibatkannya dan perlunya menerapkan banyak solusi yang ada untuk masalah ini,” tutupnya.

    Sumber;greenpeace.org

  • Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    Jakarta Peringkat Ketiga Kualitas Udara Terburuk di Dunia

    7cloud.asia – Kota Jakarta menempati peringkat ketiga dengan kualitas udara terburuk di dunia pada Selasa (06/08/2024) pagi.

    Berdasarkan situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.18 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di urutan ke-3 dengan angka 134.

    Angka ini termasuk dalam kategori tidak sehat dengan polusi udara PM2,5 dan nilai konsentrasi 49 mikrogram per meter kubik. Dengan kondisi udara seperti ini, kualitas udara tidak sehat bagi kelompok sensitif.

    Sebab karena dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Baca: Paparan polusi udara sebabkan jantung

    Sementara kota dengan kualitas udara terburuk peringkat pertama yaitu Kinshasa, Kongo-Kinshasa di angka 170, peringkat kedua Baghdad, Iraq di angka 153.

    Peringkat keempat Kampala, Uganda di angka 131, kelima Cairo City, Mesir di angka 113, keenam Nairobi, Kenya di angka 102, ke tujuh Riyadh, Arab Saudi di angka 97,

    Peringkat ke delapan Dubai, Uni Emirat Arab di angka 97, ke sembilan Kuwait City, Kuwait di angka 93, dan ke sepuluh Manama, Bahrain di angka 84.

    Sebelumnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta sebelumnya telah melakukan berbagai upaya untuk menangani masalah polusi udara di Jakarta.

    Diantaranya memperbanyak Stasiun Pemantauan Kualitas Udara (SPKU) untuk mengidentifikasi sumber polusi udara di Jakarta sehingga penanganan masalah tersebut bisa maksimal.

    Baca: Polusi udara di Jakarta tinggi, anak-anak sebaiknya banyak makan buah

    Selain itu DLH DKI menambah dua mobil kabut air (watermist). Mobil tersebut beroperasi mengelilingi Jakarta untuk melanjutkan kegiatan penyiraman di jalan-jalan protokol.

    Mobil ini memiliki kemampuan menyiram dengan jangkauan 50 meter dan kapasitas tanki air 5.000 liter.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan kebijakan terkait pengoperasian “watermist” ini akan dimasukkan dalam susunan rancangan peraturan gubernur agar lebih kuat secara regulasi.

    “Ke depannya untuk kebijakan ‘watermist’ itu kami akan coba dikuatkan dengan peraturan gubernur,” katanya seperti yang dilansir Antaranews.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat

    Kualitas Udara Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat

    7cloud.asia – Kualitas udara di Jakarta pada Kamis (8/8/2024) pagi masuk kategori tidak sehat.

    Kualitas udara Jakarta ini dapat merugikan manusia ataupun kelompok hewan yang sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika.

    Menurut situs pemantau kualitas udara IQ Air yang dipantau pada Selasa pukul 06.13 WIB kualitas udara di Jakarta menempati peringkat ketiga sebagai kota dengan udara terburuk di dunia.

    Sementara dari data yang sama, kota dengan kualitas udara terburuk di dunia urutan pertama yaitu Kinshasa ​​​​​​(Kongo) di angka 170, urutan kedua yaitu Kampala ​​​​​​(Uganda) di angka 160.

    Baca Juga: Kurangi Polusi Udara, Uji Emisi di Jakarta Tetap Berlanjut

    Berada di urutan keempat Manama (Bahrain) di angka 102, dan yang kelima yaitu Cairo City (Mesir) dengan angka 101.

    Indeks kualitas udara (Air Quality Index/ AQI) di Jakarta berada di angka 157 sedangkan partikel halus PM2.5 memiliki nilai konsentrasi 64 mikrogram per meter kubik.

    Angka PM2.5 sebanyak itu setara 12,8 kali nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Terkait kondisi udara di Jakarta, masyarakat disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan, jika berada di luar ruangan gunakanlah masker, kemudian menutup jendela untuk menghindari udara luar yang kotor.

     

    Baca Juga: Mengapa ‘WFH’ Layak Jadi Kebijakan Mendesak untuk Memangkas Polusi Udara di Jakarta

    Sebelumnya, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menerbitkan Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 593 Tahun 2023 tentang Satuan Tugas Pengendalian Pencemaran Udara sebagai kebijakan untuk mempercepat penanganan polusi udara.

    Namun, berbagai upaya yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta belum efektif menurukan polusi udara di Jakarta.

    Sejumlah organisasi lingkungan bahkan menilai apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta tidak akan banyak berpengaruh jika sumber utama emisi yakni kendaraan bermotor dan batubara tidak dipotong.

  • Kualitas Udara Kota Jakarta Memburuk, Cukupkah Hanya Diatasi dengan Penambahan Alat Pemantau Udara?

    Kualitas Udara Kota Jakarta Memburuk, Cukupkah Hanya Diatasi dengan Penambahan Alat Pemantau Udara?

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyampaikan, pihaknya memerlukan 71 titik stasiun pemantau kualitas udara (SPKU).

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto mengatakan, saat ini Jakarta baru memiliki 31 titik pemantau kualitas udara.

    Penambahan alat pemantau udara itu, menurut Asep, diperlukan agar intervensi kebijakan terkait kualitas udara dapat diambil dengan tepat baik untuk sektor kesehatan, pendidikan, maupun transportasi.

    Ia menjelaskan, kebutuhan data yang akurat terkait SPKU juga dibutuhkan dari sektor kesehatan, pendidikan, dan transportasi.

    Menurut dia, 31 titik SPKU yang tersebar di wilayah DKI itu masih sangat kurang untuk memantau kualitas udara di Jakarta.

    Baca: Kualitas udara Jakarta memburuk saat kemarau

    Menurut World Air Quality Report 2023, Jakarta termasuk ke dalam daftar 10 ibu kota paling berpolusi di dunia berdasarkan konsentrasi PM2,5.

    Rata-rata dalam setahun, konsentrasi PM2,5 di langit Jakarta sebesar 43,8 mikrogram per meter kubik pada 2023.

    Sepanjang 2023, polusi tertinggi di langit Jakarta terjadi pada Juli hingga November dengan konsentrasi PM2,5 di atas 50 mikrogram per meter kubik selama sebulan.

    Di antara rentang waktu tersebut, Agustus menjadi bulan dengan konsentrasi PM2,5 tertinggi dengan 58,3 mikrogram per meter kubik.

    Beberapa hari belakangan kualitas udara Jakarta juga tidak bagus, dan masuk kota terpolusi di dunia.

    Baca: Harapan ke Dewan Aglomerasi untuk atasi Kualitas udara Jakarta yang buruk 

    Pun demikian pada Kamis (15/8/2024) pagi, kualitas udara Jakarta berada pada kategori tidak sehat dan masih menduduki sebagai kota paling berpolusi dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia.

    Berdasar situs pemantau kualitas udara IQAir, pada pukul 06.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 174, dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 di angka konsentrasi polutan 88.2 mikrogram per meter kubik.

    Konsentrasi tersebut setara 17.6 kali dari nilai panduan kualitas udara tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Indeks kualitas udara tersebut membuat Jakarta menduduki kota dengan kualitas udara kedua terburuk di dunia. Jakarta juga menduduki peringkat yang sama sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia dengan indeks 187.

    Asep menjelaskan, dari hasil kajian menyebutkan, kebutuhan SPKU di DKI mencapai 71 unit atau sekitar empat SPKU per kecamatan.

    Baca: WFH diusulkan untuk atasi Kualitas udara Jakarta yang buruk 

    “Kami memang sudah mengkaji kebutuhan SPKU dan jumlah 71 unit ini merupakan kajian,” katanya.

    Ia mencontohkan untuk sektor kesehatan, apabila data kualitas udara akurat, petugas atau dinas kesehatan dapat mengintervensi melalui persiapan obat-obatan terutama yang berhubungan dengan penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

    Begitu juga pada sektor transportasi. Ketika di suatu lokasi kualitas udara memburuk, maka petugas Dinas Perhubungan dapat memberlakukan sejumlah rekayasa dalam mengurangi jumlah kendaraan.

    “Akurasi data terkait kualitas udara untuk dinas kesehatan nanti bisa menentukan intervensi terhadap kondisi penyakit yang diderita. Ini bisa merujuk dari data yang dihasilkan oleh SPKU,” ujarnya.

  • Poin-poin Laporan Kualitas Udara Dunia 2024 Versi IQAir

    Poin-poin Laporan Kualitas Udara Dunia 2024 Versi IQAir

    7cloud.asia – IQAir pekan lalu merilis Laporan Kualitas Udara Dunia tahunannya yang ke-7, yang menyoroti tren yang mengkhawatirkan dari negara, wilayah, dan wilayah yang paling tercemar di dunia pada tahun 2024.

    Untuk laporan tahun ini, data kualitas udara didapat dari lebih dari 40.000 stasiun pemantauan kualitas udara di 8.954 lokasi di 138 negara, wilayah, dan kawasan dianalisis oleh para ilmuwan kualitas udara IQAir.

    Temuan utama dari Laporan Kualitas Udara Dunia 2024 IQAir antara lain adalah hanya 17 persen kota di dunia yang memenuhi pedoman polusi udara WHO.

    Seain itu hanya ada tujuh negara memenuhi pedoman PM2.5 rata-rata tahunan WHO sebesar 5 µg/m3, yaitu Australia, Bahama, Barbados, Estonia, Grenada, Islandia, dan Selandia Baru.

    Adapun lima negara yang paling tercemar pada tahun 2024 adalah:
    – Chad (91,8 µg/m3): Lebih dari 18 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan PM2.5 WHO.
    – Bangladesh (78,0 µg/m3): Lebih dari 15 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan PM2.5 WHO.
    – Pakistan (73,7 µg/m3): Lebih dari 14 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan PM2.5 WHO.
    – Republik Demokratik Kongo (58,2 µg/m3): Lebih dari 11 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan PM2.5 WHO.
    – India (50,6 µg/m3): Lebih dari 10 kali lebih tinggi dari pedoman tahunan PM2.5 WHO.

    Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO

    Sebanyak 126 dari 138 negara dan wilayah (91,3 persen) melebihi nilai pedoman standar tahunan PM2.5 WHO sebesar 5 µg/m3.

    Byrnihat, India adalah wilayah metropolitan yang paling tercemar pada tahun 2024, dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata tahunan sebesar 128,2 µg/m3.

    Wilayah Asia Tengah & Selatan merupakan rumah bagi tujuh kota paling tercemar di dunia. India merupakan rumah bagi enam dari sembilan kota paling tercemar di dunia.

    Kota besar di Amerika Serikat yang paling tercemar adalah Los Angeles, California. Ontario, California adalah kota paling tercemar di Amerika Serikat. Seattle, Washington adalah kota besar terbersih di AS.

    Mayaguez, Puerto Rico adalah wilayah metropolitan terbersih pada tahun 2024, dengan konsentrasi PM2.5 rata-rata tahunan sebesar 1,1 µg/m3.

    Baca: Dampak polusi udara pada kesehatan dan ekonomi global

    Konsentrasi PM2.5 menurun di setiap negara di Asia Tenggara, meskipun kabut asap lintas batas dan kondisi El Nino yang berkepanjangan tetap menjadi faktor utama.

    Di Afrika, kelangkaan data pemantauan kualitas udara yang dapat diakses publik secara real-time sangat parah sehingga hanya ada satu stasiun pemantauan untuk setiap 3,7 juta orang.

    Kebakaran hutan di hutan hujan Amazon berdampak pada wilayah yang sangat luas di Amerika Latin pada tahun 2024, dengan tingkat PM2.5 di beberapa kota di negara bagian Rondônia dan Acre, Brasil, meningkat empat kali lipat pada bulan September.

    Oseania adalah wilayah terbersih di dunia, dengan 57 persen kota di kawasan ini memenuhi nilai pedoman tahunan PM2.5 WHO sebesar 5 µg/m3.