Tag: lansia

  • Layanan untuk Calon Haji Lansia Jadi Perhatian Pelaksanaan Haji 2026

    Layanan untuk Calon Haji Lansia Jadi Perhatian Pelaksanaan Haji 2026

    7cloud.asia – Komisi VIII DPR memberikan perhatian khusus pada pelayanan jemaah haji lanjut usia (lansia) dan evaluasi terhadap syarikah (perusahaan penyelenggara layanan haji) yang menangani jemaah Indonesia di Arab Saudi.

    Dalam kunjungan kerja ke Embarkasi Batam, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ansori Siregar, menegaskan pentingnya pengetatan istithaah (kelayakan) kesehatan karena mayoritas calon haji adalah lansia.

    Mayoritas jemaah kita adalah lansia dan yang memiliki risiko tinggi kesehatannya. Karena
    itu, menurut Ansori, istithaah kesehatan harus diperketat agar hanya yang benar-benar layak yang diberangkatkan.

    “Kalau memang tidak memenuhi kriteria kesehatan, lebih baik tidak diberangkatkan” tegasnya, usai memimpin tim kunjungan kerja spesifik komisi VIII DPR ke Embarkasi haji di Batam, Kamis (3/7/2025).

    Dalam kesempatan ini, Ansori juga menanggapi komentar dari pihak Arab Saudi terkait banyaknya jemaah lansia dari Indonesia.

    Baca: Waktu tunggu panjang menyebabkan banyaknya haji Lansia

    Menurutnya, hal ini menjadi bahan evaluasi agar ke depan tidak ada jemaah yang diberangkatkan jika tidak memenuhi syarat kesehatan.

    “Bahkan orang Saudi ada komentar, ‘ngapain kalian mengirimkan orang-orang tua yang mau meninggal dulu di sini’. Ini juga akan kita evaluasi di komisi. Kalau niat haji sudah ada, walaupun tidak mampu berangkat, insyaAllah pahalanya sama,” ujarnya.

    Adapun salah satu penyebab banyaknya calon haji Indonesia berangkat saat lansia adalah lamanya waktu tunggu yakni mencapai belasan hingga 20an tahun.

    Dari sisi pelayanan syarikah, Ansori menyoroti perubahan kebijakan dari satu syarikah menjadi delapan syarikah untuk menghindari monopoli.

    Namun, ditemukan masalah seperti pemisahan pendamping dan jemaah, serta suami-istri yang ditempatkan di hotel berbeda.

    Baca: Tambahan kuota haji memangkas waktu tunggu 

    “Sekarang oleh Presiden, supaya tidak ada monopoli, dibuatlah delapan syarikah. Tapi ini juga nanti akan kita evaluasi. Ada masalah pendamping pisah dengan jemaah, suami-istri pisah hotel. Kalau pisah kamar di satu hotel tidak masalah, tapi ini pisah hotel,” jelasnya.

    Ansori juga menekankan pentingnya sinkronisasi data dan perbaikan sistem agar tidak terjadi pemisahan antara ketua kloter, dokter, dan jemaah yang didampingi.

    “Ketua kloter dan dokter juga pisah dengan jemaah yang dipantau. Padahal di Indonesia mereka sudah tahu siapa saja jemaahnya, sakitnya apa, obatnya apa. Di sana malah dipisah. Ini harus kita perbaiki ke depan,” tambahnya.

    Seluruh temuan dan masukan dari kunjungan ini akan menjadi bahan dalam pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, guna memastikan pelayanan haji yang lebih baik di masa mendatang.

    Baca: Menengok layanan untuk haji lansia dan disabilitas

  • Senior School Pintar: Sekolah untuk Para Lansia di Jakarta Timur

    Senior School Pintar: Sekolah untuk Para Lansia di Jakarta Timur

    7cloud.asia – Sebanyak 30 warga lanjut usia (Lansia) mengikuti kegiatan Senior School Pintar (SSP) di RPTRA Susukan Ceria, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur pada pertengahan April lalu.

    Senior School Pintar ini adalah program Sekolah Lansia Online yang merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Jakarta Timur dan Universitas Respati Indonesia (URINDO).

    Program ini bertujuan untuk memberikan pendidikan dan pelatihan kepada para lansia agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.

    Senior School Pintar disebut menawarkan pembelajaran yang mudah diakses dan sederhana, berfokus pada peningkatan kualitas hidup lansia melalui pendekatan yang cerdas, sehat, mandiri, aktif, dan produktif, sesuai dengan tujuh dimensi lansia tangguh.

    Materi pembelajaran mencakup berbagai aspek, seperti kesehatan, teknologi informasi, dan keterampilan produktif.

    Baca: Tantangan yang dihadapi Indonesia saat masuki era aging population

    Pihak Pemerintah Kota Jakarta Timur mengatakan, SSP ini digelar serentak di 65 kelurahan se-Jakarta Timur. Setiap lokasi diikuti sebanyak 30 Lansia.

    Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Jakarta Timur, Iin Mutmainnah menjelaskan, kelebihan Senior School Pintar ini adalah menggunakan konsep digital, sehingga pembelajaran bisa dilakukan secara efektif.

    Pembelajaran sekolah pintar dilakukan dua pekan sekali dengan lokasi di kantor kelurahan, RPTRA, dan tempat lainnya,” terangnya.

    Menurutnya, materi yang diberikan bersifat edukatif dan promotif karena juga melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas PPAPP, dan Pemerintah kota Jakarta Timur berkolaborasi dengan Universitas Respati Indonesia.

    “Senior School Pintar ini sudah didaftarkan hak ciptanya di Kementerian Hukum Republik Indonesia,” ucapnya.

    Baca: Sejumlah kota tengah menjajaki membangun sekolah lansia

    Melalui kegiatan ini, Iin berharap, dapat mengoptimalisasi penguatan Posyandu Lansia di Jakarta Timur. Sehingga, bisa mewujudkan harapan hidup yang lebih baik dan Lansia semakin tangguh mandiri, sehat, dan berdaya.

    Sementara, seorang peserta Senior School Pintar bernama Tri Salafiah (61) mengaku merasakan manfaat dari kegiatan ini. Sekolah lansia ini, menurutnya, dapat menambah pengetahuan juga bisa saling silaturahmi dan berinteraksi dengan sesama Lansia.

    “Alhamdulillah masih bisa mengikuti kegiatan SSP. Kebetulan materi ini juga sangat menarik soal kesehatan,” tandasnya.

    URINDO berada di balik penyusunan modul dan kurikulum pembelajaran Senior School Pintar. Ini merupakan implementasi visi URINDO menjadi universitas entrepreneur dan ramah lansia yang diakui.

    Baca: Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

  • Mau Tinggal di Mana Saat Lansia Nanti? Saatnya Mempersiapkan Diri Jadi Lansia Mandiri

    Mau Tinggal di Mana Saat Lansia Nanti? Saatnya Mempersiapkan Diri Jadi Lansia Mandiri

    7cloud.asia – Orang berusia lanjut atau lansia merupakan salah satu kelompok rentan yang kualitas hidupnya perlu diperhatikan. Dengan siapa lansia tinggal, atau istilahnya “pengaturan tempat tinggal” (living arrangement), dapat menentukan kualitas hidup mereka.

    Istilah “pengaturan tempat tinggal” secara sederhana menggambarkan dengan siapa seseorang tinggal. Istilah ini dapat berkaitan dengan hal lain seperti komposisi dan struktur rumah tangga dan kesejahteraan seseorang seperti dukungan sosial, dan manfaat yang diterima oleh seseorang.

    Saat ini, mayoritas lansia ternyata masih lebih memilih untuk tinggal bersama keluarga, alih-alih tinggal di panti jompo maupun fasilitas lainnya. Ini secara langsung maupun tidak berkontribusi pada kesejahteraan fisik dan mental mereka.

    Mayoritas lansia memilih tinggal bersama keluarga di hari tua sehingga berpotensi membebani generasi berikutnya dan melahirkan generasi ‘sandwich’.

    Namun, secara tidak langsung, ketergantungan lansia pada keluarganya di masa tua mereka pun bisa menjadi beban generasi berikutnya. Maka dari itu, penting bagi generasi muda saat ini untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi hari tua.

    Tinggal bersama keluarga lebih baik?
    Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 mencatat, selama lebih dari lima tahun terakhir, sekitar 60 persen lansia hidup bersama keluarga, baik keluarga inti ataupun keluarga besar.

    Lansia yang tinggal bersama keluarga cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan dengan lansia yang hidup sendiri atau hanya dengan pasangannya.

    Ini karena mereka lebih mungkin mendapatkan dukungan emosional sehingga berdampak pada psikis mereka, yang pada akhirnya berdampak pada kesehatan lansia.

    Baca: Indonesia masuki fase aging population

    Selain itu, lansia juga bisa mendapatkan perawatan medis dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari dari anak-anak dewasa mereka. Meskipun terkadang lansia juga bertanggung jawab menjaga dan merawat cucu mereka.

    Data BPS juga menunjukkan bahwa sekitar 82 persen rumah tangga lansia mendapatkan pembiayaan terbesar dari anggota rumah tangga yang bekerja.

    Hanya sekitar 5 persen lansia yang mendapatkan sumber pembiayaannya dari sumber lainnya seperti dana pensiun dan tabungan.

    Hal ini bisa menggambarkan bahwa mereka mendapatkan bantuan keuangan dan perawatan dari anak-anak mereka.

    Di negara berkembang, termasuk India dan Indonesia, persentase lansia yang hidup bersama keluarga biasanya lebih tinggi dibandingkan dengan negara maju seperti Jepang, Amerika Serikat (AS) dan Eropa Barat.

    Budaya dan nilai-nilai yang dijunjung masyarakat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sebagian besar lansia di Indonesia hidup bersama beberapa generasi selanjutnya.

    Lansia yang tinggal bersama keluarga di masa tua cenderung hidup lebih sejahtera secara mental. Budaya “balas budi” masih dijunjung tinggi, dan anak-anak dan kerabat memiliki tanggung jawab untuk menjaga orang tua.

    Baca: Agar para lansia merasa lebih berharga

    Opsi panti jompo
    Pada dasarnya lansia memiliki beberapa opsi untuk hidup dan tinggal selain dengan keluarganya. Panti jompo, misalnya, bisa menjadi opsi untuk menghabiskan masa tua.

    Sayangnya, di masyarakat luas, opsi tinggal di panti jompo masih sering mendapat stigma negatif. Banyak yang menganggap bahwa lansia yang tinggal di panti jompo adalah mereka yang ditelantarkan oleh keluarganya.

    Padahal, tidak selamanya seperti itu. Panti jompo umumnya menyediakan fasilitas lengkap serta kegiatan sosial untuk menjaga kualitas hidup lansia. Semuanya dirancang untuk memenuhi kesejahteraan mental dan fisik para penghuninya.

    Bahkan, menurut studi, banyak lansia yang memilih tinggal di panti jompo atas keinginan sendiri. Ini karena, bagi mereka, panti jompo punya petugas dan perawat yang siap membantu.

    Para lansia juga bisa beraktivitas, berteman, dan bertukar pikiran dengan yang usianya sepantaran, sehingga mereka tidak merasa kesepian.

    Selain panti jompo, terdapat pula komunitas khusus lansia yang menawarkan hunian mandiri dengan fasilitas bersama, kegiatan sosial dan keamanan.

    Hunian ini sering disebut senior living community atau retirement home. Namun, untuk tinggal di komunitas ini biasanya membutuhkan biaya yang lebih besar.

    Beban generasi ‘sandwich’
    Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya dapat berpotensi mengubah kualitas hidup lansia di masa depan.

    Di samping tekanan ekonomi, sebagian dari anak yang sudah bekerja perlu membiayai orang tua dan anak. Situasi ini melahirkan generasi sandwich–mereka yang memiliki tanggung jawab menghidupi orang tua atau mertuanya, biasanya secara finansial.

    Baca: Manfaat bekerja untuk para lansia

    Suka atau tidak, keberadaan orang tua yang tinggal bersama anak seringkali menciptakan beban finansial dan emosional.

    Trauma sosial atas fenomena generasi sandwich kemudian membuat generasi muda zaman sekarang lebih menyadari pentingnya perencanaan masa tua supaya nantinya mereka lebih mandiri secara finansial.

    Data menunjukkan bahwa saat ini banyak generasi muda, sekitar usia 18-25 tahun, memutuskan childfree sehingga dapat menyiapkan dana pensiun, tabungan, dan investasi untuk menyiapkan masa depan mereka tanpa menyusahkan generasi berikutnya.

    Bahkan mereka akan menyiapkan dan membangun jejaring sosial dan komunitas atau perawatan lansia.

    Menjadi lansia yang berdaya
    Meskipun tinggal bersama keluarga merupakan opsi yang baik, usaha kita untuk mempersiapkan kebutuhan hari tua juga penting agar tidak membebani generasi berikutnya.

    Perencanaan keuangan dan asuransi atau jaminan sosial merupakan hal yang penting bagi kita dalam mempersiapkan masa depan.

    Kedua hal tersebut terbukti mengurangi kebutuhan lansia untuk terus bekerja dan membantu mempersiapkan masa tua. Harapannya, kita bisa tetap memenuhi kebutuhan meski sudah berstatus lansia.

    Edukasi mengenai keuangan dan kemandirian juga penting untuk kita persiapkan agar generasi muda dapat mempersiapkan hari tua dengan baik tanpa membebani generasi berikutnya ataupun keluarga.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ruth Meilianna, Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

  • Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    Indonesia Masuki Fase Aging Population: Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    7cloud.asia – Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, Indonesia akan memasuki fase penuaan penduduk atau aging population pada tahun 2030, dengan lebih dari 15 penduduk penduduk tergolong lansia atau berusia 60 tahun ke atas.

    Untuk itu pemerintah diminta segera mengantipasi dan mempersiapkan/membangun sistem perlindungan sosial untuk lansia yang inklusif dan adaptif mulai dari sekarang.

    Hal itu dibahas dalam seminar internasional bertajuk “Triangular Collaboration in Elderly Care: Academia, Industry, and Community for Sustainable Ageing Solutions” pada Rabu (17/9/2025) di Auditorium Komunikasi, FISIP UI, Depok.

    Dekan FISIP UI, Prof. Semiarto Aji Purwanto mengatakan, di Indonesia, sistem keluarga tradisional masih ada, tetapi semakin rapuh. Banyak anak merantau untuk bekerja, sehingga orang tua lanjut usia sering hidup sendiri.

    Hal ini memunculkan dua masalah utama: kekerasan terhadap lansia dan lansia yang tinggal sendirian tanpa dukungan keluarga. Karena itu, perawatan lansia tidak bisa hanya mengandalkan keluarga, tetapi juga tidak bisa sepenuhnya diserahkan ke institusi.

    ”Solusi terbaik adalah sistem hibrida, dengan menggabungkan solidaritas keluarga dengan layanan profesional, dukungan komunitas, dan peran negara,” ujarnya.

    Baca: Indonesia masuki era aging population, ini tantangannya

    Prof. Aji berharap peran pemerintah dalam kebijakan ini bertumpu pada kesehatan, perlindungan sosial dan partisipasi aktif dari lansia.

    Namun, strategi ini hanya akan berhasil jika didukung oleh kebijakan yang mengintegrasikan keluarga, pengasuh, komunitas, dan dunia usaha ke dalam sebuah sistem yang terpadu.

    Guru besar Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI, Prof. Isbandi Rukminto Adi mengatakan, pembangunan lansia di Indonesia pada 2025–2045 melalui kebijakan pembangunan yang berfokus pada pengembangan modal manusia, sosial, dan spiritual.

    Hal ini agar penduduk lanjut usia dapat berdaya dan menjadi lansia yang lebih produktif serta sehat. Pengembangan modal tersebut akan mendorong serta mempercepat pencapaian lima dimensi dalam policy context untuk lansia yang produktif dan sehat.

    ”Lansia yang produktif dan sehat, harus memenhi ⁠physical dimension, ⁠psychological dimension, social dimension, spiritual dimension dan financial dimension,” jelasnya.

    Seminar yang digelar Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI ini bertujuan untuk mendorong kolaborasi segitiga antara akademisi, industri, dan masyarakat dalam mengembangkan solusi perawatan lansia yang berkelanjutan.

    Baca: Kementerian kesehatan dorong lansia tetap sehat dan aktif 

    Akademisi berperan dalam menghasilkan penelitian berbasis bukti yang dapat digunakan sebagai dasar kebijakan dan model intervensi.

    Sedangkan Industri memberikan dukungan melalui teknologi, inovasi, dan sumber daya keuangan. Sementara itu, masyarakat berperan sebagai platform untuk melaksanakan program yang disesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat.

    Sinergi ketiga elemen ini akan menciptakan ekosistem yang lebih adaptif terhadap kompleksitas permasalahan perawatan lansia.

    Acara ini terdiri dari sesi panel 1 membahas tema “Isu dan Tantangan Menuju Pengembangan Sistem Perawatan Lansia yang Komprehensif di Indonesia dan Kawasan Asia Pasifik”.

    Diskusi ini menguraikan tantangan dalam mengembangkan sistem perawatan lansia yang komprehensif, serta peluang dalam membangun sistem perlindungan sosial yang inklusif dan adaptif.

    Sesi 2 berfokus pada “Percepatan Kebijakan dan Layanan untuk Lansia: Perspektif dari Akademisi, Praktisi, dan Industri.”

    Panel ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang nyata dalam memperkuat layanan untuk lansia, melalui inovasi teknologi, penguatan peran profesi pekerja sosial, dan dukungan kebijakan publik.

    Seminar ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan dan model intervensi yang dapat diadaptasi oleh pemerintah, organisasi sosial, dan pelaku industri, termasuk Universitas Indonesia.

    Baca: Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun di Indonesia

  • Lansia Rentan Alami Depresi: Stigma Lemah Jadi Pemicu

    Lansia Rentan Alami Depresi: Stigma Lemah Jadi Pemicu

    7cloud.asia – Orang berusia lanjut (lansia) tidak hanya berisiko mengalami penurunan fungsi tubuh dan kemampuan berpikir. Mereka juga rentan terkena gangguan mental, termasuk depresi.

    Sejumlah perubahan besar dalam hidup bisa jadi pemicunya, mulai dari penurunan kondisi fisik, berkurangnya aktivitas, hingga rasa kesepian setelah kehilangan pasangan, teman, ataupun anak-anak yang sudah hidup mandiri.

    Kasus depresi lansia global sangatlah tinggi, sekitar 18,6 persen. Di Indonesia, riset tahun 2022 menunjukkan prevalensi depresi lansia berkisar antara 9,2 hingga 16,3 persen.

    Ironisnya, nyaris 50 persen keluarga tidak menyadari lansia terkena depresi, bahkan ketika tingkat keparahannya sudah berat.

    Penyebabnya, banyak orang salah kaprah menganggap gejala depresi lansia (seperti kelelahan, tidak bersemangat, dan sedih berkepanjangan) sebagai bagian normal dari penuaan.

    Masih kuatnya stigma masyarakat terhadap kesehatan mental—yang sering kali terkait dengan stereotip negatif dan ketidaktahuan—turut memperparah kondisi gangguan mental lansia.

    Contohnya, keluarga bereaksi lebih cepat dan responsif terhadap keluhan fisik lansia (seperti pusing atau nyeri sendi), ketimbang keluhan emosionalnya.

    Akibatnya, lansia tidak mendapatkan pertolongan psikologis yang seharusnya mereka butuhkan. Ini diperparah pula dengan banyaknya anggapan keliru masyarakat soal lansia yang membuat mereka kian berisiko mengalami depresi.

    Baca: Indonesia masuki fase aging population

    Butuh dihargai, bukan dikasihani
    Ketika mengurus lansia, kita mungkin lebih terfokus untuk memenuhi kebutuhan fisik mereka (seperti pangan dan obat). Namun, kita lalai untuk menanyakan kabar dan mengobrol dengan lansia.

    Apalagi mereka rentan mengalami diskriminasi usia karena banyak orang menganggap lansia lemah, lamban, dan tidak lagi relevan.

    Pandangan tersebut bisa sangat menyakitkan, merampas rasa percaya diri, menyebabkan banyak lansia merasa sendirian, ditinggalkan, dan kesepian secara emosional meski mereka dikelilingi keluarga.

    Penelitian terhadap 673 paruh baya dan lansia di Cina (2025) mengungkap bahwa perasaan tidak lagi dibutuhkan dan ditinggalkan meningkatkan risiko depresi pada lansia.

    Perasaan dihargai dan diakui memang sangat penting bagi mereka. Lansia ingin didengarkan, dilibatkan, dan tidak dianggap sebagai “beban”, melainkan bagian penting dari lingkungan sosialnya.

    Mereka tetap butuh terhubung secara emosional, bukan sekadar fisik.

    Studi literatur (2025) menunjukkan bahwa risiko depresi lansia bisa menurun ketika mereka mendapatkan dukungan emosional yang sepadan, termasuk perasaan dihargai dan terkoneksi dengan keluarga dan masyarakat.

    Karena itu, kita perlu meluangkan waktu untuk mengobrol rutin dari hati ke hati dengan lansia, bukan sekadar basa-basi. Tunjukkan bahwa perasaan, pengalaman, dan pendapat mereka masih relevan dan berharga.

    Baca: Tantangan yang dihadapi Indonesia saat masuki fase aging population

    Pastikan pula untuk selalu melibatkan lansia dalam kegiatan dan pengambilan keputusan keluarga, misalnya:

    “Menurut ibu, enaknya Lebaran tahun ini kita kumpul di rumah siapa ya?” atau “Pak, waktu menghadapi situasi sulit di masa muda, biasanya bapak bagaimana? Saya pengen belajar dari pengalaman bapak.”

    Jangan batasi, mereka tetap ingin berdaya
    Laporan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan SMERU (2020) mengungkapakan bahwa 11 persen lansia hidup dalam kemiskinan. Sebanyak 60 persen dari mereka tinggal dengan anggota keluarga yang kemungkinan besar bukan pengasuh mereka.

    Sayangnya, hanya 2 persen dari total seluruh lansia di Indonesia yang mendapatkan bantuan sosial. Sementara itu, hanya 12 persen lansia yang punya jaminan sosial ketenagakerjaan.

    Kondisi ini membuat lansia rentan terjebak dalam situasi bergantung pada orang lain, yang akhirnya berisiko membuat mereka kehilangan kendali atas hidupnya.

    Misalnya, pihak keluarga melarang lansia berjualan atau melakukan aktivitas fisik yang disenangi karena takut mereka kelelahan dan jatuh sakit.

    Meski bermaksud baik, pihak keluarga sering tanpa sadar mengambil alih semua hal, bahkan tugas-tugas sederhana yang sebenarnya masih bisa dilakukan sendiri oleh lansia seperti mengenakan pakaian.

    Baca: 8 Kota pilihan untuk menghabiskan masa pensiun

    Situasi ini rentan menyebabkan lansia merasa tidak berdaya, sehingga memperbesar risiko depresi.

    Padahal, penelitian menunjukkan banyak lansia memiliki semangat dan kemampuan untuk hidup secara aktif. Motivasinya bukan cuma faktor ekonomi saja, melainkan keinginan untuk tetap merasa berdaya dengan aktif secara fisik, mental, maupun sosial.

    Sebaiknya hindari memperlakukan lansia seperti anak kecil. Biarkan lansia memiliki kendali atas hidup mereka dengan melakukan berbagai aktivitas (yang tidak membahayakan) secara mandiri.

    Dorong mereka melakukan hobi yang disenangi, serta libatkan mereka dalam kegiatan sosial bersama kelompok lansia.

    Pentingnya lebih peduli lansia
    Menghilangkan stigma terhadap lansia merupakan tugas kita. Upaya ini lebih dari sekadar terhubung dengan mereka secara emosional, tapi juga memberikan lansia ruang agar bisa hidup lebih mandiri, produktif, dan bahagia.

    Dimulai dari keluarga, kita bisa menciptakan lingkungan ramah lansia—yang tidak memandang mereka sebagai beban, melainkan bagian hidup yang patut dirayakan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Resti Pujihasvuty (Researcher at Family Dynamic Research Group; Research Center for Population, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Pemenuhan Gizi Lanjut Usia Tak Bisa Sembarangan, MBG Bisa Racuni Lansia

    Pemenuhan Gizi Lanjut Usia Tak Bisa Sembarangan, MBG Bisa Racuni Lansia

    7cloud.asia – Pemerintah berencana memperluas penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok lanjut usia (lansia) per 2026.

    Padahal, program MBG diketahui telah menimbulkan banyak masalah termasuk menyebabkan lebih dari 15 ribu kasus keracunan akibat tata kelola pangan yang sangat buruk.

    Dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 115/2025 tentang MBG, lansia belum dicantumkan sebagai kelompok sasaran dan belum memiliki ketetapan presiden, Badan Gizi Nasional (BGN), maupun petunjuk teknis terpisah.

    Indonesia sebenarnya telah memiliki kerangka kebijakan untuk mendukung gizi lansia melalui pendekatan multisektor. Program Keluarga Harapan (PKH) melindungi lansia miskin, sementara Strategi Nasional Kelanjutusiaan memprioritaskan kesejahteraan lansia.

    Lansia juga didorong untuk mengikuti Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) guna mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis terkait penyakit tidak menular, seperti hipertensi dan diabetes.

    Meski memiliki akses bantuan sosial yang lebih baik, studi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan SMERU tahun 2020 menunjukkan bahwa kecukupan gizi harian penerima bantuan sosial di Indonesia cenderung menurun. Sebanyak 11 persen lansia hidup dalam kemiskinan.

    Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa pemberian bahan makanan saja tidak cukup bagi lansia.

    Baca: Program pemakanan untuk lansia oleh Kemensos

    Lansia butuh tetap berdaya
    Di negara-negara berpenghasilan tinggi, seperti Australia dan Singapura, program gizi untuk lansia diterapkan melalui pengantaran makanan matang langsung ke rumah alias Meals on Wheels (MOW).

    Di Australia, MOW melayani lansia yang tidak dapat memasak atau berbelanja. Target usia penerima disesuaikan dengan kerentanan pangan—65 tahun ke atas untuk warga umum dan 50 tahun ke atas untuk penduduk asli.

    Di Singapura, program ini menyasar lansia yang tidak memiliki pengasuh dan tidak mampu memasak. Makanan dikirim dua kali sehari, tujuh hari seminggu, termasuk akhir pekan dan hari libur nasional.

    MOW menyediakan variasi diet sesuai kondisi medis, budaya, maupun agama.

    Sementara itu, Thailand dan Vietnam menjalankan program perawatan lansia berbasis komunitas yang kuat. Ini sejalan dengan budaya Asia yang mengandalkan keluarga dan komunitas dalam merawat lansia.

    Kedua negara ini membentuk klub lansia atau pusat penitipan harian yang menyediakan layanan transportasi, aktivitas fisik, hingga makanan gratis dan berbiaya rendah.

    Setiap hari kerja, lansia datang ke tempat tersebut untuk makan siang bergizi dan mengikuti kegiatan sosial di bawah pengawasan staf terlatih.

    Klub lansia digabungkan dengan penitipan anak, menciptakan lingkungan antargenerasi yang mendorong partisipasi lansia agar mereka tetap merasa berguna dan bermartabat.

    Pendekatan ini mendapat pengakuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena memanfaatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan dan fungsi sosial lansia.

    Baca: Banyak lansia tak miliki BPJS Kesehatan

    Skema pendanaan program gizi yang ideal
    Perlu digarisbawahi bahwa semua program gizi lansia di negara percontohan tersebut tidaklah gratis. Di Singapura, makanan lansia dihargai sekitar 4 dolar Singapura (Rp52 ribu) per orang. Adapun di Australia, penerima dikenakan sekitar 4-12 dolar Australia (Rp44 – 133 ribu).

    Pendanaannya bervariasi, tetapi mayoritas disubsidi oleh pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah kota atau daerah setempat. Pengelolaannya juga bekerja sama dengan asosiasi lansia, lembaga nirlaba, maupun lembaga keagamaan.

    Di Australia, analisis tahun 2011 menunjukkan bahwa MOW dengan model kolaborasi tersebut dapat mengurangi angka rawat inap, lama perawatan, insiden lansia jatuh, dan biaya perawatan jangka panjang.

    Setiap 1 dolar (Rp11 ribu) yang diinvestasikan menghasilkan manfaat lebih dari AU$2 (Rp22 ribu), dengan potensi penghematan lebih dari 463 juta dolar (Rp5,17 triliun) dalam 10 tahun.

    Adapun di Indonesia, meski belum ada analisis sejenis, pendanaan MBG sepanjang 2025 dari kas negara berisiko menyebabkan kerugian negara sebesar Rp1,8 miliar per tahun per Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Hal ini belum mencakup analisis pada populasi lansia dengan memperhitungkan elemen-elemen biaya di atas.

    Secara hitungan kasar saja, tanpa mengikutsertakan populasi lansia dan dengan jumlah SPPG lebih dari 13 ribu, maka total kerugian akibat pelaksanaan MBG bisa mencapai lebih dari Rp240 triliun per tahun.

    Berdasarkan Perpres No. 115/2025 tentang MBG, model pendanaan yang dilakukan di negara-negara maju sebenarnya bisa diadaptasi di Indonesia.

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga telah menerbitkan buku Pedoman Pelayanan Gizi Lansia pada 2023. Pedoman ini mengatur bagaimana pengelolaan gizi lansia perlu diterapkan pada level komunitas (keluarga dan kader posyandu), puskesmas, hingga rumah sakit.

    Selain itu, pedoman Kemenkes juga merekomendasikan agar pelaksanaannya dilakukan oleh anggota keluarga atau pengasuh khusus lanjut usia. Pedoman tersebut juga menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dan ahli gizi dalam membantu menyusun menu makanan lansia.

    Baca: Gejala depresi terselubung pada lansia

    Pemenuhan gizi menyesuaikan kesehatan lansia
    Pelaksanaan program makan untuk lansia sangat kompleks karena kebutuhan gizi mereka lebih rumit akibat kondisi kesehatan yang menurun. Dengan buruknya rekam jejak MBG saat ini, perluasan layanan untuk lansia dapat berisiko negatif.

    Lansia cenderung menunjukkan gejala keracunan makanan yang samar, serta lebih rentan mengalami dehidrasi atau infeksi serius yang mungkin sulit dideteksi, bahkan oleh tenaga medis di layanan dasar.

    Pemberian makan bergizi untuk lansia idealnya disesuaikan dengan kebutuhan kesehatan masing-masing penerima.

    National Meal Guidelines Australia yang digunakan dalam program MOW memungkinkan makanan disesuaikan dengan kondisi kesehatan klien, seperti rendah garam atau diet khusus diabetes.

    Sementara itu, Kementerian Kesehatan Singapura meluncurkan Pharmaceutical Care Services (PCS) yang menempatkan apoteker komunitas di pusat perawatan lansia. Apoteker meninjau obat, memberi nasihat penggunaan bersama makanan, dan menghubungi dokter jika perlu penyesuaian.

    Thailand dan Vietnam juga mengintegrasikan pendekatan serupa melalui kader terlatih (sering kali pensiunan perawat) yang melakukan kunjungan rumah, memantau tekanan darah, mengingatkan jadwal obat, serta memberikan edukasi mengenai hubungan makanan, penyakit, dan obat-obatan.

    Mereka bekerja sama dengan keluarga atau tenaga medis untuk menyesuaikan pola makan dengan kondisi kesehatan lansia.

    Sementara itu, MBG masih mengandalkan produksi massal oleh SPPG dan cenderung menggunakan pangan ultraproses yang menambah risiko kelebihan natrium, gula, dan paparan zat kimia.

    Distribusinya pun tidak memerhatikan kondisi kesehatan penerima maupun risiko interaksi obat dengan makanan.

    Karena itu, jika tetap dilaksanakan, MBG lansia wajib menerapkan standar keamanan pangan yang ketat, termasuk sistem manajemen keamanan pangan Hazard Analysis Critical Control Points (HACCP) dan penyesuaian pangan berdasarkan kebutuhan diet lansia.

    Distribusi MBG Lansia sebaiknya melibatkan tenaga kesehatan di puskesmas, ahli gizi, farmasi, dan komunitas lokal. Tujuannya agar lansia tetap terhubung secara sosial dan status pengobatan mereka dapat dipantau dengan baik.

    Terakhir, pemerintah wajib melakukan pelatihan terhadap keluarga dan kader kesehatan dalam menangani lansia, dengan pemantauan kualitas layanan secara berkala.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Grace Wangge (Associate Proffesor, Monash University)

  • Miliki Populasi Lansia Tertinggi, Kota Yogyakarta Dorong Pendirian Sekolah Lansia

    Miliki Populasi Lansia Tertinggi, Kota Yogyakarta Dorong Pendirian Sekolah Lansia

    7cloud.asia – Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan provinsi dengan persentase penduduk lanjut usia atau lansia tertinggi di Indonesia.

    Kepala Perwakilan BKKBN DIY, Mohammad Iqbal Apriansyah menyampaikan, data terbaru menunjukkan pada tahun 2024 jumlah lansia di DIY mencapai 18,5 persen atau hampir satu dari lima penduduk.

    Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, pada 2023 Indonesia memiliki hampir 12 persen penduduk lansia sehingga bisa dikatakan sudah memasuki aging population.

    Untuk mengantisipasi penduduk yang makin menua, BKKBN memiliki sejumlah program pendukung lansia, seperti Lansia Berdaya, pemeriksaan kesehatan, pendampingan berbasis keluarga, serta Kartu Lansia Sejahtera yang memberikan akses layanan dan berbagai kemudahan bagi lansia.

    Dilansir Jogjakarta.go.id, untuk menyiapkan warga menghadapi masa lansia, didirikan sejumlah sekolah lansia di kota Yogyakarta.

    Iqbal mengatakan, Sekolah Lansia Standar Satu ini adalah tahap awal untuk mengenali diri sebagai lansia.

    Baca: Indonesia memasuki fase aging population

    “Mengenali kondisi fisik, mental, dan kesiapan menjalani tahapan kehidupan lansia agar tetap bermakna. Slogannya sangat tepat, ‘Hidup hanya sekali, jangan menua tanpa arti’,” ujar Iqbal di sela peluncuran sekolah lansia di Kota Yogyakarta.

    Launching dan Studium General (Pembelajaran Pertama) Pengurus Sekolah Lansia Standar Satu (S-1) tahun 2026 ini berlangsung di Ruang Bima Balaikota Yogyakarta, Selasa (10/2/2026).

    Dalam kesempatan ini, ada sembilan Sekolah Lansia yang dilaunching, antara lain adalah Sekolah Lansia Anugrah 8 Kricak, Sekolah Lansia Kotabaru SMART, Sekolah Lansia Jasmine 23 Pringgokusuman, Sekolah Lansia SETAMAN Mantrijeron.

    Sekolah Lansia merupakan bentuk pendidikan formal berbasis Bina Keluarga Lansia yang menjadi strategi konkret dalam mendukung terwujudnya lansia SMART atau sehat, mandiri, aktif, responsif dan produktif

    Berdasarkan hasil kajian dari Indonesia Ramah Lansia (IML), kualitas hidup lansia yang mengikuti sekolah lansia terbukti meningkat signifikan.

    Baca: Tantangan yang dihadapi negara yang memasuki fase aging population

    “Dari sampling lebih dari 600 lansia, ditemukan bahwa lansia yang mengikuti sekolah lansia memiliki kualitas hidup enam kali lebih baik dibandingkan yang tidak mengikuti,” ungkapnya.

    Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan yang hadir dalam kesempatan itu menegaskan, Sekolah Lansia S-1 menjadi ruang belajar bersama bagi para lansia untuk saling menguatkan.

    Sekolah lansia juga dapat memperluas wawasan, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta tetap berperan aktif dalam keluarga maupun masyarakat.

    Menurutnya, belajar di usia lanjut bukanlah tanda keterbatasan, melainkan bukti semangat untuk terus tumbuh dan berkembang.

    “Dari hasil penelitian, sekolah lansia ini berdampak besar. Memberikan rasa optimisme, menumbuhkan semangat, menambah pengalaman, berbagi cerita, memperluas pertemanan, dan yang paling penting membuat para lansia merasa lebih percaya diri serta merasa masih dibutuhkan,” ujarnya.

  • Studi: Rutin Memasak Berkaitan dengan Penurunan Risiko Demensia pada Lansia

    7cloud.asia – Memasak ternyata berdampak bagus terhadap kesehatan mental, terutama jika hal ini dilakukan pada mereka yang berusia lanjut atau lansia.

    Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Epidemiology & Community Health baru-baru ini, menemukan bahwa aktivitas memasak seminggu sekali dapat menurunkan risiko demensia pada lansia.

    Peneliti menilai temuan tersebut menunjukkan bahwa memasak di rumah dapat menjadi salah satu aktivitas sederhana yang mendukung kesehatan otak pada usia lanjut, selain memberikan manfaat dari sisi pola makan dan interaksi sosial.

    Dilansir laman Eating Well,, penelitian tersebut menganalisisi data lebih dari 10.000 warga Jepang berusia 65 tahun ke atas yang diikuti selama sekitar enam tahun dalam proyek Japan Gerontological Evaluation Study (JAGES).

    Para periset meneliti hubungan antara frekuensi memasak, kemampuan memasak, dan kejadian demensia pada peserta. Frekuensi memasak diukur berdasarkan seberapa sering peserta menyiapkan makanan sendiri, tidak termasuk makanan siap saji.

    Baca: Indonesia Masuki Fase Aging Population, Pemerintah Diminta Siapkan Sistem Perawatan untuk Lansia

    Selain itu, peneliti juga menilai keterampilan memasak melalui sejumlah kemampuan dasar, seperti mengupas buah, merebus sayuran, dan memanggang ikan.

    Selama masa pemantauan, peneliti menemukan bahwa peserta yang memasak setidaknya sekali dalam seminggu memiliki risiko mengalami demensia sekitar 30 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang memasak kurang dari sekali dalam seminggu.

    Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, tingkat pendidikan, pendapatan, dan kondisi kesehatan awal peserta.

    Penelitian juga menemukan bahwa manfaat terbesar terlihat pada peserta dengan kemampuan memasak yang masih rendah.

    Pada kelompok ini, kebiasaan memasak setidaknya sekali seminggu menurunkan risiko demensia hingga 70 persen lebih rendah jika dibandingkan dengan mereka yang jarang memasak.

    Baca: Indonesia Masuki Fase Aging Population, Ini Tantangannya

    Menurut peneliti, memasak merupakan aktivitas yang melibatkan berbagai fungsi sekaligus, mulai dari perencanaan, pengambilan keputusan, aktivitas fisik, hingga interaksi sosial.

    Kombinasi aktivitas tersebut diduga membantu menjaga fungsi otak tetap aktif seiring bertambahnya usia.

    Sementara itu, peserta yang telah memiliki keterampilan memasak tinggi sejak awal penelitian memang menunjukkan risiko demensia yang lebih rendah.

    Namun, peningkatan frekuensi memasak tidak memberikan manfaat tambahan yang signifikan pada kelompok tersebut.

    Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa studi ini bersifat observasional sehingga belum dapat membuktikan hubungan sebab akibat.

    Selain itu, penelitian dilakukan pada populasi lansia di Jepang sehingga hasilnya belum tentu berlaku sama di negara lain dengan pola makan dan kebiasaan memasak yang berbeda.