Tag: penyakit

  • Virus Nipah Ditemukan di Indonesia, Tapi Mengapa Belum Ada Kasus Penularan pada Manusia

    Virus Nipah Ditemukan di Indonesia, Tapi Mengapa Belum Ada Kasus Penularan pada Manusia

    7cloud.asia – Penyebaran virus Nipah (NiV), disusul kematian dua orang di India dan Bangladesh, mendorong sejumlah negara di Asia Selatan dan Tenggara—termasuk Malaysia, Singapura, dan Filipina—memperketat sistem deteksi dini dan pengendalian penyakit.

    Sejak ditemukan tahun 1998, Nipah telah menginfeksi lebih dari 754 orang di kelima negara tersebut, serta menyebabkan lebih dari 435 kematian.

    Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti tingginya risiko kematian manusia akibat infeksi virus Nipah, yakni mencapai 40-75 persen. Artinya, sekitar 4-8 orang dari 10 manusia yang terinfeksi bisa meninggal dunia.

    Infeksi Nipah pada tahap awal sering kali menimbulkan gejala yang tidak spesifik, seperti demam tinggi, sakit kepala berat, mual, muntah, hingga nyeri otot. Namun, sebagian pasien juga bisa mengalami ensefalitis (radang otak) mendadak—yang menyebabkan gangguan napas, kejang, hilang kesadaran, hingga kematian.

    Sayangnya, belum ada vaksin dan obat efektif untuk mencegah dan mengatasi infeksi virus zoonosis (menular dari hewan ke manusia) ini. Penularan Nipah terjadi lewat air liur dan urine manusia ataupun hewan yang terinfeksi (seperti kelelawar, babi, dan kuda) maupun pakan hewan tersebut.

    Secara ekologis, dengan kawasan hutan tropis yang luas dan populasi kelelawar berlimpah, Indonesia berisiko tinggi terhadap penularan Nipah.

    Apalagi berbagai penelitian di negara kita mengungkap bahwa materi genetik (RNA) virus Nipah sudah ditemukan pada berbagai jenis kelelawar di sejumlah daerah, seperti Sumatra Utara, Jawa Tengah, hingga Kalimantan.

    Namun, mengapa hingga hari ini Indonesia belum melaporkan satu pun kasus infeksi Nipah pada manusia?

    Penyebaran Nipah di Indonesia

    Sejumlah penelitian virologi di Indonesia sejak 2013 menunjukkan bahwa virus Nipah telah lama menular secara alami dan berulang pada populasi kelelawar (Gambar 1).

    Peneliti menemukan materi genetik virus maupun antibodi spesifik Nipah pada sampel kelelawar yang hidup di gua maupun yang diperjualbelikan di pasar satwa.

    Menariknya, kelelawar yang terinfeksi virus Nipah tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Alhasil, virus bisa menetap lama pada tubuh kelelawar, tanpa memunculkan tanda-tanda terinfeksi penyakit.

    Kelelawar pembawa virus Nipah hidup berdampingan dengan manusia, terutama di kawasan perekonomian yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa liar. Contohnya, pasar satwa, kebun buah, peternakan, serta area permukiman di sekitar hutan.

    Area tersebut menjadi titik-titik potensial terjadinya interaksi tidak langsung antara manusia dan kelelawar. Misalnya, dengan mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi, ataupun buah yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

    Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, serta ekspansi pertanian kian memperbesar risiko penularan Nipah ke manusia. Aktivitas ini melenyapkan habitat alami kelelawar, sehingga mendorong mereka mencari sumber pakan di kebun, ladang, hingga permukiman warga.

    Sistem deteksi lemah hingga keberuntungan ekologis

    Pemerintah Indonesia seharusnya lebih serius menanggapi penyebaran virus Nipah pada kelelawar lokal sebagai sinyal peringatan dini. Ketiadaan laporan kasus Nipah pada manusia di Tanah Air tidak serta-merta meniadakan risiko penularan.

    Salah satu penjelasan paling masuk akal mengenai ketiadaan kasus Nipah pada manusia, yaitu karena adanya keterbatasan surveilans (sistem deteksi dini penyakit).

    Pemeriksaan rutin terhadap virus Nipah belum menjadi bagian standar dalam penanganan kasus ensefalitis akut atau sesak napas dengan penyebab tidak jelas.

    Gejala klinis Nipah pun bisa menyerupai infeksi virus lain yang lebih umum, sehingga terkadang ada kemungkinan terjadi salah diagnosis.

    Selain itu, penularan lintas spesies juga bisa dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang sangat spesifik, seperti tingginya jumlah virus, rute paparan yang sesuai, serta kondisi inang (manusia).

    Virus Nipah yang terdeteksi pada kelelawar di Indonesia belum tentu memiliki karakteristik genetik dan tingkat virulensi (keganasan virus) yang sama dengan galur yang menyebabkan wabah besar di Malaysia, Singapura, Bangladesh, atau India.

    Perbedaan kecil dalam struktur genom dapat memengaruhi kemampuan virus untuk berikatan dengan reseptor sel manusia, bereplikasi secara efisien, dan menular antarmanusia.

    Faktor lainnya, struktur peternakan, pola konsumsi, serta bentuk interaksi manusia dengan satwa liar di Tanah Air tidak sepenuhnya identik dengan kelima negara dari Asia Selatan dan Tenggara. Artinya, kombinasi faktor ekologis dan sosial yang memicu penularan penyakit ke manusia dalam skala besar mungkin memang belum terbentuk.

    Untuk benar-benar bisa memastikan besarnya risiko penularan Nipah pada manusia di Indonesia, kita perlu melakukan penelitian genetik yang mendalam dan memantau darah kelompok orang yang paling berisiko tinggi tertular Nipah.

    Belajar dari negara lain

    Indonesia sebenarnya tidak perlu menunggu munculnya kasus manusia pertama untuk mulai bertindak. Kita bisa belajar dari Thailand yang aktif memantau penyebaran virus pada kelelawar meskipun belum pernah mewabah di sana.

    Sementara Singapura mengandalkan sistem surveilans klinis yang sensitif dan kapasitas diagnostik molekuler (identifikasi penyakit lewat DNA dan RNA) yang cepat.

    Adapun India—yang beberapa kali mengalami wabah Nipah—mengembangkan protokol respons cepat untuk kasus ensefalitis akut, termasuk pelacakan kontak dan isolasi pasien secara ketat.

    Kesamaan berbagai pendekatan tersebut adalah adanya upaya membangun sistem sebelum krisis terjadi, bukan menunggu hingga wabah muncul.

    Perluas deteksi dini segera

    Indonesia sebenarnya memiliki berbagai kerangka aturan terkait kewaspadaan dini penyakit dan pengendalian zoonosis. Namun, fokus kebijakan kesehatan saat ini masih banyak diarahkan pada penyakit yang sudah lama menjadi endemik (selalu ada di suatu daerah), sehingga Nipah belum menjadi prioritas dalam praktik klinis sehari-hari.

    Masalah lain yang menonjol adalah terpisahnya surveilans kesehatan manusia dengan satwa liar. Temuan virus pada kelelawar umumnya berasal dari riset akademis. Sementara sistem kesehatan manusia berjalan pada jalur yang berbeda.

    Pertukaran data yang lamban dan keterbatasan operasional antarsektor menyebabkan sinyal peringatan dini sulit diterjemahkan menjadi tindakan pengendalian penyakit.

    Di sisi lain, kapasitas diagnostik molekuler dengan standar biosafety (perlindungan laboratorium dan lingkungan) yang memadai juga belum merata di tingkat daerah, membuat deteksi dini menjadi tantangan tersendiri.

    Dengan perubahan lingkungan yang cepat dan meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah berikut guna mencegah penularan wabah Nipah pada manusia:

      • Perluas surveilans pada kasus ensefalitis akut, dengan memasukkan Nipah sebagai salah satu kemungkinan penyebab.
      • Lakukan edukasi publik, seperti mencuci buah sebelum dikonsumsi, tidak makan buah yang jatuh dari pohon, mengelola pasar lebih higienis, serta mengurangi kontak langsung dengan satwa liar.
      • Tingkatkan kemampuan deteksi dini laboratorium dan jaringan rujukan di daerah.

    Sederet langkah tersebut tidak hanya membantu kita menghadapi virus Nipah, tapi juga ancaman penyakit zoonosis lainnya di masa depan.


    Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga; Arli Aditya Parikesit, Professor of Bioinformatics, Indonesia International Institute for Life Sciences, Indonesia International Institute for Life Sciences; Ronny Soviandhi, Assistant researcher, Center for Tropical Medicine, Universitas Gadjah Mada , dan Yudhi Nugraha, Peneliti di Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Jangan Sepelekan! Campak Bisa Beimplikasi Serius pada Penderitanya

    Jangan Sepelekan! Campak Bisa Beimplikasi Serius pada Penderitanya

    7cloud.asia – Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.

    Peringkat ini berdasarkan pada data pengawasan bulanan periode Juli 2025 hingga Desember 2025 yang dilaporkan kepada WHO per Januari 2026.

    Berdasarkan data jumlah kasus campak di Indonesia pada 2025 yang konfirmasi campak mencapai 11.094, dengan total suspek lebih dari 63.769 kejadian

    Sementara itu, kasus campak di Indonesia selama lima pekan pertama pada 2026 sebanyak 379 campak terkonfirmasi, dengan kasus suspek mencapai 5.329 kejadian

    Atas kondisi ini masyarakat diingatkan bahwa campak bukan merupakan penyakit yang ringan bahkan bisa menyebabkan komplikasi serius jika salah penanganan.

    Baca: KLB Campak harus jadi alarm serius

    Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Barat, Prof. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT (K) mengatakan, komplikasi akibat campak bisa berat dan juga daya tahan tubuh bisa sangat menurun sehingga membuka masuknya terjadinya penyakit lain.

    Berbicara dalam seminar media yang diikuti secara daring dari Jakarta, pada Sabtu (28/2/2026), Prof. Anggraini mengatakan, selama ini masyarakat menganggap campak hanyalah penyakit ringan terutama terkena pada anak-anak dan sebatas demam disertai ruam.

    Dia menegaskan pandangan tersebut keliru. Campak dapat menimbulkan komplikasi karena menyerang berbagai organ tubuh, salah satunya terjadi infeksi paru atau pneumonia.

    Bahkan saat terkena pneumonia, sekitar 77 persen anak yang ke rumah sakit itu karena campak mengalami infeksi mengenai paru-paru.

    “Kita mendapatkan pasien-pasien yang sampai masuk ke ventilasi mekanik. Bayangkan 86 persen dari campak yang meninggal itu disebabkan oleh pneumonia,” tutur anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI itu.

     

    Baca: Penyakit campak merebak karena masyarakat takut vaksin

    Campak juga bisa menimbulkan gangguan pada telinga seperti keluarnya cairan bahkan berisiko memicu kerusakan yang menyebabkan ketulian permanen.

    Di samping itu, penderita campak juga mengalami diare yang bisa berujung terjadi dehidrasi parah sehingga risiko kematian meningkat. Virus campak juga mengurangi kadar vitamin A dalam tubuh sehingga mata menjadi kering dan rentan mengalami gangguan.

    Campak juga meningkatkan risiko kejadian immunological amnesia, di mana sistem kekebalan tubuh terutama pada anak kehilangan memori pernah melawan berbagai penyakit sebelumnya. Sehingga, pada anak menjadi rentan mengalami sakit.

    Pada anak-anak yang daya tahan tubuhnya kurang karena gizi buruk, belum pernah diimunisasi atau punya komorbid berisiko mengalami komplikasi berat karena infeksi ini.

    “Begitu masuk virus campak, maka diserang oleh berbagai daya tahan tubuh agar bisa meredam si virus. Berbagai potensial imun yang berperan juga ikut habis dan fungsinya berkurang. Akhirnya kemampuan daya tahan tubuh untuk training dia menghadapi penyakit menjadi turun,” imbuh dia.

    Baca: Pemerintah diminta pastikan akses vaksin di daerah rentan

    Selain itu, berisiko mengalami kejang bukan demam biasa lantaran virus campak-nya sudah menyebar ke otak.

    Campak jugabukan berisiko memicu dampak jangka panjang seperti Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan saraf progresif merusak otak yang dapat timbul beberapa tahun setelah terinfeksi campak.

    “Sangat bisa karena si virus campak-nya yang ke otak sehingga bisa menimbulkan kematian. SSPE itu bukan sekarang, tetapi next bahkan dikatakan bisa 23 tahun setelah terkena campak,” tutur dia.

    Dia menyoroti merebaknya kasus campak di Indonesia sejak tahun lalu, sehingga mengakibatkan laboratoriumnya juga kewalahan.

    ”Bayangkan hampir 50.000 spesimen masuk, reagennya, laboratoriumnya yang masih terbatas se-Indonesia, dengan positivity rate-nya 24,6. Di 2026 kok rendah karena memang walaupun suspeknya 5.000 lebih, tetapi laboratoriumnya overwhelmed,” ujarnya.

    Dia mengatakan manusia sebagai satu-satunya pejamu atau inang bagi virus campak dan mampu menularkan, di mana penularannya terjadi lewat percikan udara melalui batuk maupun bersin.

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.

     

     

  • Rencana Tambah Layer Cukai Rokok Dinilai Perparah Kemiskinan dan Krisis Kesehatan

    Rencana Tambah Layer Cukai Rokok Dinilai Perparah Kemiskinan dan Krisis Kesehatan

    7cloud.asia – Rencana pemerintah menambah layer cukai rokok yang mulai berlaku pada Juni 2026 mendapat penolakan dari pegiat pengendalian tembakau.

    Kebijakan tersebut dinilai tidak sejalan dengan tujuan cukai sebagai instrumen pengendalian konsumsi rokok dan justru berpotensi memperluas kecanduan di masyarakat.

    Sekretaris Jenderal Komite Nasional Pengendalian Tembakau, Tulus Abadi, menilai penambahan layer cukai akan mendorong fenomena downtrading, yakni peralihan konsumen ke produk rokok yang lebih murah. Dampaknya, harga rokok semakin bervariasi di pasaran dan pengawasan pemerintah menjadi semakin sulit.

    Downtrading ini jadi mudah dijangkau anak-anak serta masyarakat prasejahtera dengan harga yang lebih murah,” kata Tulus saat menjadi pembicara dalam pelatihan jurnalis yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta bertema Di Balik Layer Cukai: Membongkar Narasi, Kepentingan, dan Dampak Kebijakan Tembakau di Indonesia, beberapa waktu lalu.

    Baca: Komnas Pengendalian Tembakau Ingatkan Beban Kesehatan yang Tinggi Akibat Rokok

    Menurut Tulus, kebijakan tersebut berisiko memperbesar jumlah perokok baru, terutama dari kalangan generasi muda dan kelompok ekonomi rentan. Padahal, saat ini pemerintah sudah menerapkan delapan layer cukai yang dinilai rumit untuk diawasi.

    “Delapan layer cukai sekarang sulit diawasi pemerintah, apalagi tambah satu layer dan kebijakan ini juga bertentangan dengan filosofi cukai yaitu pengendalian tembakau,” kata mantan ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) ini.

    Tidak hanya berdampak pada kesehatan, dia juga menyebut konsumsi rokok dapat memperburuk kondisi ekonomi rumah tangga. Data Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) tahun 2019 menunjukkan setiap kenaikan pengeluaran rokok sebesar 1 persen meningkatkan risiko kemiskinan hingga 6 persen.

    Belanja rokok bahkan menjadi penyebab kemiskinan terbesar kedua setelah beras. PKJS-UI mencatat enam dari sepuluh rumah tangga mengalokasikan 10,7 persen pengeluaran untuk rokok, lebih tinggi dibanding bahan pokok sebesar 10,4 persen, buah dan sayur 6,7 persen, serta daging 6,5 persen.

    Baca: Menunda Kenaikan Cukai Rokok Bikin Negara Tambah Tekor

    Pada kesempatan itu, Tulus juga menyoroti dampak rokok bersifat multisektoral. Kandungan nikotin pada rokok konvensional maupun rokok elektronik (vape) dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

    Selain itu, rokok juga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti stroke, kanker, penyakit jantung, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), hingga diabetes.

    Anak yang terpapar asap rokok juga disebut memiliki risiko stunting lebih tinggi dibanding anak dari keluarga non-perokok.

    Senada dengan Tulus, Project Lead for Tobacco Control Center Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Beladenta Amalia pada kesempatan yang sama menilai penambahan layer baru hanya akan memperparah fenomena downtrading dan memperluas pasar rokok murah.

    Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan jumlah perokok, khususnya generasi muda dan masyarakat berpenghasilan rendah.

    Baca: Larangan Penjualan Rokok di Sekitar Sekolah Tetap Berlaku

    Dampak lanjutannya adalah membengkaknya beban ekonomi negara akibat biaya kesehatan dan kerugian sosial yang ditimbulkan konsumsi rokok.

    Karena itu, CISDI bersama sejumlah organisasi masyarakat sipil menolak rencana penambahan layer cukai rokok tersebut.

    Beladenta mengatakan, apabila kebijakan tetap diberlakukan pada Juni 2026, koalisi masyarakat sipil akan memperketat pengawasan implementasinya serta terus mendorong rekomendasi kepada pemerintah untuk meminimalkan dampak negatif yang ditanggung masyarakat.

    “Bahkan bila perlu kita juga akan menempuh jalur hukum melalui judicial review, tapi itu masih dalam kajian,” tegas Beladenta.

  • Stunting hingga Obesitas, Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    Stunting hingga Obesitas, Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    7cloud.asia – Lebih dari tujuh dekade lebih perjalanan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) belum membuat persoalan kesehatan anak di Indonesia selesai. Berbagai tantangan masih membayangi.

    Mulai dari penyakit infeksi yang kini kembali muncul hingga ancaman penyakit tidak menular pada anak seperti obesitas, diabetes melitus dan penyakit lainnya.

    Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI, Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A (K) mengatakan, peringatan HUT ke-72 IDAI menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang pelayanan kesehatan anak di Indonesia.

    Baca: Kualitas Tidur Besar Pengaruhnya pada Anak

    “Selama 72 tahun IDAI, kesehatan anak Indonesia dibanding dahulu sudah mengalami peningkatan. Tetapi memang belum signifikan apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga,” jelas Piprim di sela-sela peringatan HUT IDAI di Jakarta pada Minggu (14/06/2026).

    Ia menyebut, angka kematian bayi dan balita masih menjadi persoalan yang harus mendapat perhatian. Selain itu, Indonesia juga menghadapi persoalan munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi.

    Penyakit seperti difteri, pertusis, polio dan campak kembali ditemukan seiring menurunnya cakupan imunisasi. Kondisi tersebut, menurut Piprim, tidak lepas dari masih adanya keraguan sebagian orang tua terhadap imunisasi.

    Baca: Fasilitas Daycare Harus Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak

    “Dengan cakupan imunisasi yang bisa kita perbaiki, mudah-mudahan angka kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan bisa kita turunkan,” katanya.

    Di sisi lain, persoalan kesehatan anak kini tidak hanya berkutat pada penyakit infeksi. Indonesia masih menghadapi stunting dan gizi buruk, sementara ancaman baru berupa obesitas serta penyakit metabolik mulai meningkat.

    Perubahan pola hidup menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Konsumsi makanan berlebih, kurang aktivitas fisik, serta kebiasaan hidup yang tidak sehat mulai menjadi tantangan baru bagi kesehatan anak.

    “Masalah kesehatan anak semakin kompleks. Kita menghadapi penyakit infeksi, tetapi juga penyakit yang tidak menular,” ujar Piprim.

    Baca: Fenomena El Nino Godzilla, IDAI Imbau Anak untuk Banyak Berada Dalam Ruangan

    Dalam peringatan HUT ke-72, IDAI menggelar sejumlah kegiatan yang melibatkan masyarakat, termasuk pemeriksaan tumbuh kembang anak dan edukasi kesehatan. Namun bagi IDAI, tantangan terbesar tetap berada pada upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan penyakit.

    Menurut Piprim, pelayanan terhadap anak Indonesia harus terus berjalan di tengah berbagai kondisi.

    “Apa pun yang terjadi, kita tetap melayani masyarakat,” tegasnya.

    Ke depan, persoalan kesehatan anak membutuhkan kerja bersama, tidak hanya dari tenaga medis, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Sebab, kualitas kesehatan anak hari ini akan menentukan wajah Indonesia di masa mendatang.

  • Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    7cloud.asia – Masalah gusi kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, gusi yang tidak terawat dapat menjadi sumber peradangan kronis yang berisiko memengaruhi organ tubuh lainnya.

    Disela-sela acara Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta beberapa waktu lalu, drg. Ines Augustina Sumbayak, Sp.Perio menjelaskan, infeksi pada gusi yang dibiarkan terus menerus dapat memicu peningkatan sel inflamasi dalam tubuh.

    “Gusi yang tidak terawat secara terus menerus itu, bakteri dan produk-produk peradangan akan terus berada di dalam aliran darah. Dengan kondisi itu, inflamasi akan semakin tinggi dan bisa berdampak menjadi fokus infeksi,” jelas Ines.

    Baca: Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesehatan gusi memiliki keterkaitan dengan sejumlah penyakit lain, termasuk gangguan jantung. Jalur penyebarannya dapat terjadi melalui pembuluh darah yang membawa bakteri maupun zat peradangan ke organ lain.

    “Makanya kesehatan gusi sering dikaitkan dengan penyakit jantung. Dari pembuluh darahnya bisa terhubung ke jantung,” katanya.

    Tak hanya jantung, masalah gusi juga memiliki hubungan dua arah dengan diabetes. Kondisi gusi yang mengalami peradangan dapat memperburuk kondisi tubuh, sementara penderita diabetes juga lebih rentan mengalami gangguan pada jaringan gusi.

    “Untuk diabetes ada hubungan dua arah. Gusi yang tidak terawat bisa berpengaruh terhadap diabetes, begitu juga diabetes membuat seseorang lebih mudah mengalami masalah gusi,” terangnya.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Juga Mengincar Anak

    Salah satu tanda paling umum penyakit gusi adalah gusi berdarah. Jika dibiarkan, lanjut Ines, peradangan dapat terus berlangsung dan menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    “Kalau gusi berdarah dibiarkan terus menerus, peradangan itu akan terus menempel pada pembuluh darah kita. Ini berbahaya karena bisa menjadi fokus infeksi ke depannya,” kata Ines.

    Fokus infeksi juga dapat munculnya gangguan lain, seperti pada kulit. “Infeksi meningkat, otomatis sel inflamasi meningkat, lalu bisa termanifestasi pada kulit atau sistem imun,” ujarnya.

    Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gusi masih rendah. Banyak yang baru datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami nyeri atau kerusakan gigi, sementara tanda awal seperti gusi berdarah sering diabaikan.

    Baca: Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    Padahal, lanjut Ines, gusi yang sehat menunjukkan tubuh dalam kondisi lebih baik karena jumlah sel inflamasi lebih rendah.

    “Semakin sehat gusi seseorang, itu pertanda sel inflamasinya tidak banyak. Artinya kondisi kesehatannya lebih baik,” katanya.

    Selain itu, Ines mengingatkan, penyakit gusi bukan hanya masalah orang dewasa. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya, bahkan sejak usia dini.

    “Jangan heran kalau anak usia tiga atau empat tahun terkena penyakit gusi. Bisa karena cara perawatan gigi yang kurang tepat atau daya tahan tubuh yang rendah,” jelasnya.

    Untuk mencegahnya, masyarakat perlu memperbaiki kebiasaan sederhana, mulai dari cara menyikat gigi yang benar, menjaga asupan nutrisi, hingga menerapkan pola hidup sehat.

  • Membuat Warga Aktif Bagus untuk Kesehatan: Daftar Wilayah yang Seharusnya Pemerintah Kota Berinvestasi

    Membuat Warga Aktif Bagus untuk Kesehatan: Daftar Wilayah yang Seharusnya Pemerintah Kota Berinvestasi

    7cloud.asia – Negara-negara di Afrika menghadapi peningkatan beban penyakit tidak menular. Kurangnya aktivitas fisik merupakan faktor risiko bagi sebagian besar penyakit tersebut.

    Penelitian tentang tren kurangnya aktivitas fisik di Afrika masih terbatas. Namun, bukti menunjukkan bahwa seiring dengan transisi yang dialami negara-negara seperti peningkatan urbanisasi, tingkat aktivitas fisik mungkin akan menurun.

    Namun di Afrika, agenda kesehatan didominasi oleh isu-isu mendesak seperti penyakit menular dan kerawanan pangan.

    Mengingat prioritas yang saling bersaing ini dan tidak adanya kebijakan aktivitas fisik, negara-negara Afrika perlu mengetahui strategi mana yang harus diinvestasikan.

    Mendorong aktivitas fisik harus menjadi prioritas. Menjadi aktif secara fisik bukanlah sepenuhnya pilihan individu, tetapi merupakan hasil dari dana, ruang, tempat, dan peluang yang tersedia bagi individu dan komunitas.

    Inilah mengapa pemerintah dan para pemimpin memiliki peran untuk dimainkan.

    Untuk membantu pemerintah yang ingin meningkatkan aktivitas fisik, kami di International Society for Physical Activity and Health, menawarkan delapan area utama untuk investasi. Ini didasarkan pada bukti global tentang apa yang berhasil.

    Tujuan kami adalah untuk membantu pemerintah memenuhi target yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

    Penelitian selama beberapa dekade menyoroti bahwa tidak ada satu solusi pun yang akan meningkatkan tingkat aktivitas fisik penduduk, yang telah menurun dan stagnan selama 50 tahun terakhir.

    Itulah mengapa saran investasi ulang kami mencakup berbagai lingkungan dan departemen pemerintah. Beberapa departemen, termasuk transportasi, pendidikan, olahraga, dan kesehatan, perlu bekerja sama.

    Berikut delapan investasi yang sebaiknya didorong oleh pemangku kebijakan untuk membuat warganya lebih sehat:

    Program Sekolah
    Anak-anak yang aktif secara fisik cenderung akan aktif secara fisik saat dewasa. Aktivitas fisik juga berkontribusi positif terhadap prestasi akademik dan perilaku di kelas.

    Lingkungan dan program sekolah yang membuat siswa tetap aktif sebelum, selama, dan setelah sekolah direkomendasikan. Salah satu program multi-komponen yang paling terkenal dan sukses adalah “Sekolah Bergerak” Finlandia.

    Fleksibilitas dalam implementasi program-program ini diperlukan karena sekolah-sekolah menghadapi realitas pasca Covid-19.

    Perjalanan aktif
    Kebijakan transportasi yang didanai yang mendukung berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum mendorong moda perjalanan yang lebih aktif. Kebijakan ini juga harus memperhatikan keselamatan.

    Sebagian besar perjalanan di kota cukup singkat untuk ditempuh dengan berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan kursi roda.

    Mengganti perjalanan mobil dengan perjalanan transportasi aktif meningkatkan kesehatan, mengurangi cedera dan trauma jalan raya, serta mengurangi emisi berbahaya, bersama dengan manfaat lainnya.

    Hal ini telah dilakukan di banyak kota di Eropa. Bagi mereka yang tinggal jauh dari tempat kerja, transportasi umum dapat mendorong moda perjalanan yang lebih aktif, seperti berjalan kaki ke dan dari halte bus atau stasiun kereta api.

     

    Desain perkotaan aktif
    Orang-orang aktif di lokasi yang terasa aman dan menarik untuk digunakan. Ruang dapat dirancang untuk mendukung aktivitas fisik, seperti bangunan di mana tangga terlihat menarik secara visual.

    Menyediakan akses ke taman adalah contoh lain yang jelas, tetapi ada nuansa, seperti jenis dan kualitas fasilitas yang disediakan di taman. Desain perkotaan aktif memungkinkan banyak hal yang dibutuhkan orang berada di dekat rumah atau tempat kerja, dalam jarak berjalan kaki.

    Kebijakan yang didanai yang mendukung akses yang adil ke taman, fasilitas lokal, dan infrastruktur berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum yang lebih baik membuat aktivitas fisik lebih menarik, mudah diakses, dan adil.

    Pertimbangan perencanaan ini sangat relevan di negara-negara Afrika yang mengalami urbanisasi cepat. Ada bukti yang menunjukkan bahwa upaya-upaya ini layak untuk dilakukan.

    Sebagai contoh, fitur lingkungan binaan berkontribusi pada peningkatan aktivitas fisik di kalangan orang dewasa di Uganda, dan di kalangan orang dewasa dan remaja Nigeria.

    Perawatan Kesehatan
    Para profesional kesehatan berada dalam posisi untuk memberi nasihat kepada pasien tentang bagaimana dan mengapa mereka harus aktif secara fisik. Tetapi beberapa profesional kesehatan membutuhkan pelatihan dan dukungan tambahan untuk mempromosikan aktivitas fisik.

    Ada indikasi keberhasilan di beberapa negara berpenghasilan tinggi seperti Australia. Tetapi masih ada ruang untuk perbaikan di negara-negara Afrika, dan strategi dapat memanfaatkan inisiatif global “Olahraga adalah Obat”.

    Pendidikan Publik dan Media
    Kampanye media sosial, media digital, dan media massa dapat menyampaikan pesan yang jelas tentang aktivitas fisik.

    Platform ini dapat menjangkau populasi besar secara efektif dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya aktivitas fisik dan peluang untuk lebih aktif, serta mengarah pada perubahan perilaku.

    Olahraga dan Rekreasi untuk Semua
    Menyediakan berbagai peluang olahraga sepanjang hidup adalah kunci untuk menjaga keterlibatan masyarakat dalam olahraga. Mengingat biaya beberapa olahraga yang tinggi, subsidi pemerintah mungkin menjadi salah satu cara untuk meningkatkan partisipasi.

    Olahraga secara khusus telah dikaitkan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, dengan “Perangkat Aksi” yang dapat digunakan oleh berbagai negara. Olahraga dan rekreasi untuk semua telah tercapai di negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Kanada.

    Kemajuan juga telah dicapai di beberapa negara Afrika, seperti Zambia, di mana kebijakan olahraga nasional lebih eksplisit.

    Artikel ini pertamakali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, baca artikel asli di sini

     

  • Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Sangat Panas

    Lima Cara untuk Tetap Sehat Saat Cuaca Sangat Panas

    7cloud.asia – Perubahan iklim dan pemanasan global mengakibatkan gelombang panas semakin sering terjadi dan semakin intens.

    Dilansir unep.org, gelombang panas sudah menyebabkan hampir 500.000 kematian setiap tahun di seluruh dunia.

    Gelombang panas dapat dengan cepat menjadi risiko kesehatan yang serius, terutama bagi lansia, anak-anak, pekerja luar ruangan, perempuan hamil, dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.

    Itulah mengapa para ahli mengatakan penting untuk bersiap-siap, selain tentunya menurunkan emisi karbon agar laju pemanasan ini bisa ditekan

    Untuk membantu, staf di Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menawarkan beberapa kiat tentang cara mendinginkan rumah dan lingkungan Anda, ketika suhu melonjak.

    1. Minum air secara teratur dan makan makanan ringan
    Minumlah air sedikit demi sedikit sepanjang hari, bahkan sebelum rasa haus muncul. Dalam cuaca panas ekstrem, Anda akan mengalami dehidrasi lebih cepat daripada yang Anda sadari. Hindari alkohol.

    Ganti makanan berat yang dimasak dengan makanan dingin dan lebih kecil seperti salad; Memasak di dalam ruangan meningkatkan suhu rumah Anda, dan mencerna makanan besar menghasilkan panas tubuh.

    Baca: Prancis Siaga Hadapi Potensi Gelombang Panas Ekstrem

    2. Lindungi diri saat panas tak terhindarkan
    Kenakan pakaian ringan, berwarna terang, longgar, dengan topi bertepi lebar dan kacamata hitam.

    Jika memungkinkan, tetaplah di dalam ruangan atau di tempat teduh selama jam-jam puncak panas dan jadwalkan olahraga dan tugas di luar ruangan untuk bagian hari yang lebih sejuk.

    Bagi pekerja luar ruangan, istirahat teratur, akses ke tempat teduh, hidrasi yang sering, dan penyesuaian jam kerja sangat penting untuk melindungi diri dari penyakit yang berhubungan dengan panas.

    3. Kenali tanda-tanda penyakit yang berhubungan dengan panas
    Pusing, sakit kepala, mual, kram otot, dan keringat berlebihan dapat menandakan kelelahan akibat cuaca panas.

    Jika Anda mengalaminya, pindahlah ke tempat yang lebih sejuk, istirahat, dan minum air segera.

    Kebingungan, kehilangan kesadaran, pernapasan cepat, kejang, atau suhu tubuh yang sangat tinggi dapat mengindikasikan serangan panas, suatu keadaan darurat medis. Segera hubungi layanan darurat.

    4. Turunkan suhu tubuh dengan cepat
    Saat suhu melonjak, mendinginkan tubuh Anda secara langsung dapat memberikan bantuan cepat.

    Mandi air dingin, kain lembap di leher dan pergelangan tangan, atau kaki yang direndam dalam air dingin dapat membantu menurunkan suhu tubuh.

    Letakkan kompres dingin yang dibungkus handuk pada titik-titik nadi seperti leher, ketiak, dan selangkangan, di mana pembuluh darah dekat dengan kulit.

    Baca: Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem

    Teknik sederhana ini bekerja cepat, membutuhkan sedikit atau tanpa peralatan, dan dapat membantu mencegah penyakit yang berhubungan dengan panas.

    5. Cari tempat berlindung yang sejuk saat rumah terlalu panas
    Perpustakaan, pusat perbelanjaan, pusat komunitas, bioskop, dan taman yang teduh semuanya dapat memberikan kelegaan selama periode panas ekstrem.

    Banyak kota menjalankan pusat pendinginan khusus selama keadaan darurat panas — periksa dewan kota atau otoritas kesehatan setempat untuk mengetahui yang terdekat.

    Keluar rumah di pagi hari atau sore hari umumnya lebih aman daripada selama jam-jam terpanas di siang hari.

    Pohon, taman, atap hijau, dan vegetasi lainnya membantu mendinginkan lingkungan dengan memberikan naungan dan melepaskan kelembapan ke udara.

    Jika memungkinkan, pilih rute jalan kaki yang teduh, habiskan waktu di ruang hijau, dan dukung upaya untuk memperluas tutupan pohon perkotaan dan solusi pendinginan berbasis alam.

    6. Perhatikan orang lain dan persiapkan diri sebelum cuaca panas tiba
    Lansia, anak-anak kecil, wanita hamil, penderita penyakit kronis, mereka yang tinggal sendirian, dan pekerja di luar ruangan paling berisiko.

    Panggilan telepon atau kunjungan selama gelombang panas dapat menyelamatkan nyawa.

    Seiring suhu terus meningkat, persiapan menghadapi cuaca panas ekstrem menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    Tindakan kecil yang dilakukan sebelum dan selama cuaca panas dapat melindungi kesehatan Anda, mengurangi risiko, dan membantu Anda tetap aman saat suhu melonjak.

    Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi