Tag: pertanian

  • DPR: Turunnya Minat Generasi Muda Jadi Petani Mengancam Target Swasembada Pangan

    DPR: Turunnya Minat Generasi Muda Jadi Petani Mengancam Target Swasembada Pangan

    7cloud.asia – Lebih dari 60 persen petani Indonesia berusia di atas 45 tahun, dan minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian terus menurun.

    Kondisi ini menurut Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan dapat mengancam swasembada pangan seperti yang ditergetkan Menteri Pertanian. Pasalnya, swasembada pangan tidak hanya soal hasil panen tahun ini, tetapi soal keberlanjutan generasi petani.

    “Jika negara tidak serius menyediakan insentif dan akses tanah bagi petani muda, maka dalam 10–15 tahun ke depan kita bisa menghadapi krisis tenaga kerja pertanian,” ujar Daniel Johan dalam keterangan tertulisnya, Senin (13/10/2025).

    Dia menilai pernyataan Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengenai target swasembada pangan dalam waktu 2–3 bulan ke depan perlu dibuktikan agar sesuai dengan kondisi faktual di lapangan. Ia memberi sejumlah catatan.

    Menurut Daniel, swasembada pangan merupakan cita-cita nasional yang mulia, namun keberhasilan sektor pertanian tidak cukup diukur semata dari capaian angka produksi atau Nilai Tukar Petani (NTP) yang meningkat di atas kertas.

    “Bagi kami, persoalan utama pertanian nasional bukan hanya berapa banyak beras yang dipanen, tetapi seberapa kuat fondasi ekosistem pertanian kita untuk menopang ketahanan pangan secara berkelanjutan,” kata Daniel

    Baca: Solusi krisis pangan adalah reforma agraria 

    “Maka swasembada pangan harus nyata, bukan sekadar janji-janji atau angka politik,” imbuhnya.

    Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berkomitmen untuk mengejar target Presiden Prabowo Subianto mewujudkan swasembada pangan dalam 2-3 bulan ke depan.

    Hal itu disampaikan Amran dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (9/10/2025).

    Amran mengatakan, total produksi beras Indonesia pada tahun ini telah mencapai 33,1 juta ton. Ia menargetkan, produksi tersebut bisa mencapai 34 juta ton pada akhir tahun.

    Daniel mengapresiasi kenaikan produksi beras nasional menjadi 33 juta ton. Namun ia mengingatkan masih banyaknya petani yang menghadapi beban biaya produksi tinggi akibat harga pupuk, benih unggul, dan solar subsidi yang tidak merata.

    “Banyak daerah pertanian yang masih kesulitan mendapatkan pupuk subsidi tepat waktu, sementara harga eceran pupuk non-subsidi naik signifikan. Jadi biaya produksi yang tidak efisiensi penting untuk diatasi karena bila tidak akan menggerus daya saing produksi petani kita,” ungkap Daniel.

    Baca: Prabowo-Gibran mengulang 3 dekade kegagalan ‘food estate’

     

    “Perlu digarisbawahi, swasembada tidak akan berarti jika petani tetap hidup dalam ketidakpastian dan margin keuntungan yang tipis,” sambung Legislator dari Dapil Kalimantan Barat I tersebut.

    Daniel pun menyoroti ketergantungan tinggi sektor pertanian terhadap impor bahan baku seperti pupuk, pestisida, dan alat pertanian. Menurutnya, kemandirian pangan tidak bisa dicapai jika rantai pasok produksinya masih bergantung pada bahan impor.

    “Nah Pemerintah, harus menyiapkan strategi substitusi impor dan memperkuat industri hulu pertanian dalam negeri agar ketahanan pangan benar-benar berdiri di atas kaki sendiri,” jelas Daniel.

    Anggota Komisi Pangan dan Pertanian tersebut juga menilai, data curah hujan ekstrem dan pola musim yang tidak menentu tahun ini harus menjadi perhatian. Daniel menyebut, perubahan iklim menjadi ancaman nyata bagi stabilitas produksi pangan.

    “Target swasembada tidak akan tercapai tanpa adaptasi iklim di sektor pertanian. Misalnya, pembangunan embung, irigasi presisi, serta varietas benih tahan kekeringan dan banjir,” sebutnya.

    “Pemerintah sering kali hanya menyoroti sisi produksi, tetapi melupakan investasi pada sistem irigasi dan konservasi lahan yang rusak,” imbuh Daniel.

    Baca: Food estate untuk mencapai swasembada pangan tapi mengancam lingkungan

     

  • Pranata Mangsa: Kalender Musim Jawa untuk Pertanian yang Berkelanjutan

    Pranata Mangsa: Kalender Musim Jawa untuk Pertanian yang Berkelanjutan

    7cloud.asia – Sedari dulu, masyarakat adat di berbagai belahan dunia terkenal bak cenayang yang bisa memprediksi perubahan cuaca hingga bencana alam. Kearifan lokal tersebut sudah ada sebelum era modern sekarang.

    Di Aceh misalnya, warga lokal menggunakan kata ‘smong’ (tsunami dalam bahasa Simeulue) sebagai peringatan tanda-tanda bahaya tsunami yang akan menerpa.

    Di Filipina, wilayah Rapu-Rapu dijadikan episentrum negara untuk mendeteksi topan karena kawasan tersebut diyakini menjadi titik awal bencana topan yang kerap melanda negara tersebut.

    Tidak hanya sebagai sistem peringatan terhadap bencana, strategi adaptif berbasis pengetahuan lokal ini juga dimanfaatkan untuk pengembangan metode pertanian.

    Di Jawa khususnya, ada yang dinamakan Pranata Mangsa, yaitu sistem kalender tradisional yang menjadi pedoman untuk mengatur musim pertanian.

    Apa itu Pranata Mangsa dan seberapa efektif Pranata Mangsa Jawa ini bekerja dan apakah bisa dibuktikan secara ilmiah? Berikut tulisan Muhamad Khoiru Zaki, Dosen Teknik Pertanian, Universitas Gadjah Mada.

    Hingga kini, Pranata Mangsa masih banyak dipercaya oleh masyarakat pedesaan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam bercocok tanam.

    Pranata Mangsa diperkenalkan pada 1855 dan digunakan secara luas di seluruh Jawa. Pada tahun 1950 hingga 1960-an, Pranata Mangsa mulai diajarkan di Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar sekitar Yogyakarta dan Surakarta.

    Baca: Mengenal sistem pertanian handil warisan kearifan lokal suku Dayak Ngaju

    Pranata Mangsa sejatinya adalah kalender musim tradisional Jawa yang terdiri atas 12 mangsa (musim) yang setiap musimnya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda.

    Melalui pengamatan alam, masyarakat bisa mengukur posisi matahari untuk menentukan waktu tanam, pola tanam, hingga kegiatan pertanian.

    Dalam kalender Pranata Mangsa, ada empat musim tanam yang berbeda (atau Titen) dan masing-masing memiliki karakteristik unik.

    Titen kemudian terbagi lagi ke dalam fase-fase individu, dimulai dengan Kasa, yang berlangsung selama 41 hari. Selama Kasa, petani harus membakar jerami padi dan membiarkan lahan bera.

    Lalu, ada juga musim Kanem, di mana pada periode ini curah hujan tinggi dan petani menyiapkan sawah untuk dipanen pada fase Desta.

    Bagi warga lokal, Pranata Mangsa sudah turun-temurun terbukti akurat menjadi acuan bertani.

    Asal-usul, tradisi, cara hidup, cara menjaga alam, hingga merawat sesama. Semuanya berakar dari pengetahuan lokal. Ada yang sebatas mitos dan tinggal cerita, ada juga yang masih hidup dan relevan, bahkan menjawab masalah terkini.

    Seberapa efektif Pranata Mangsa untuk pertanian?
    Pengetahuan lokal seperti Pranata Mangsa sayangnya kerap dianggap sudah usang atau ketinggalan zaman dan tidak lagi relevan dengan pertanian.

    Baca: Mengapa food estate mengancam kelestarian lingkungan

    Untuk itu, penulis bersama tim melakukan riset untuk menguji secara ilmiah efektivitas Pranata Mangsa untuk pengelolaan pertanian.

    Kami menggunakan toolkit dari Local and Indigenous Knowledge Systems (LINKS) United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) untuk menghubungkan data ilmiah dengan pengetahuan lokal.

    Sebagai langkah awal, kami menerjemahkan teks Pranata Mangsa, yang awalnya ditulis dalam aksara Jawa, ke dalam Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan salah satu bahasa resmi internasional PBB.

    Kami memulai dengan mengukur curah hujan sesuai fase musiman yang tercatat dalam Pranata Mangsa, menggunakan Indeks Presipitasi Standar (SPI). Curah hujan sangat penting untuk memprediksi dan mengurangi kekeringan serta banjir.

    Menariknya, riset kami menemukan bahwa Pranata Mangsa lebih efektif dalam memprediksi kekeringan dibandingkan kalender Gregorian (yang dipakai Indonesia saat ini), meskipun kurang efektif untuk banjir.

    Kami menemukan bahwa curah hujan harian sesuai dengan musim dan transisi yang digambarkan dalam Pranata Mangsa. Artinya, dengan menggunakan kalender Jawa ini, kehilangan hasil panen dapat dikurangi dan kekeringan dapat diprediksi dengan lebih akurat.

    Selain mengurangi risiko bencana, penerapan pola tanam jangka panjang Bera-Palawija juga ditemukan dapat meningkatkan kualitas tanah dan mengurangi kehilangan lengas tanah.

    Baca: Perubahan iklim dan alih fungsi lahan mengancam produksi pangan

    Selain itu, sistem pengelolaan air Macak-macak dalam Pranata Mangsa terbukti meningkatkan hasil panen dan jumlah malai (bulir padi) pada tanaman. Macak-macak juga bermanfaat untuk pemulihan tanah, membuat lahan lebih tahan dan mengurangi beberapa risiko bencana di masa depan.

    Secara lebih spesifik, proses Berå (membiarkan lahan kosong dan membakar sekam padi) yang diterapkan dalam sistem ini bisa menurunkan risiko kekeringan.

    Berå juga meningkatkan porositas dan kepadatan tanah, memungkinkan petani beradaptasi lebih mudah terhadap curah hujan tinggi.

    Jadi instrumen penangkal terjadinya bencana
    Meskipun hasil riset kami menunjukkan potensi besar dalam menggabungkan pengetahuan lokal dengan data ilmiah, ada beberapa area di mana keduanya terbukti tidak kompatibel.

    Beberapa elemen Pranata Mangsa tidak dapat diukur secara ilmiah, khususnya yang terkait ritual dan kepercayaan masyarakat.

    Sebut saja Istisqa, kegiatan berbasis kepercayaan sebagai penghormatan kepada sang Maha Pencipta dan memohon turunnya hujan selama musim kemarau. Begitu pula dengan praktik Sesajen (tindakan meletakkan buah tertentu atau rokok di tepi sawah).

    Namun, terlepas dari ada atau tidaknya penjelasan ilmiah terhadap ritual dan upacara seperti itu, setidaknya bagi warga setempat hal tersebut merupakan bagian penting dari warisan kebudayaan Jawa. Dan kita selayaknya menghormati kearifan lokal tersebut.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Muhamad Khoiru Zaki (Dosen Teknik Pertanian Universitas Gadjah Mada)

  • Tim UGM Tawarkan Solusi Pertanian di Lahan Kering: Irigasi dengan Sistem Geomembran

    Tim UGM Tawarkan Solusi Pertanian di Lahan Kering: Irigasi dengan Sistem Geomembran

    7cloud.asia – Tim peneliti Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi sistem irigasi sawah tanpa perkolasi atau meresap ke bawah tanah sebagai solusi pertanian berkelanjutan di wilayah dengan keterbatasan air permukaan.

    Sitem irigasi dengan geomembran ini cocok diterapkan di daerah berkarakter lahan kering seperti di Kabupaten Gunungkidul atau daerah lainnya di Indonesia.

    Sistem irigasi ini dirancang dengan memasang lembaran geomembran di bawah zona perakaran tanaman padi untuk meminimalkan kehilangan air di petak sawah akibat perkolasi ke dalam tanah, sehingga pemanfaatan air menjadi sangat efisien.

    Adapun penerapan sistem ini dilakukan dengan cara lahan sawah digali dan dilapisi geomembran, kemudian ditutup kembali dengan tanah. Ini dilakukan sebelum dilakukan penanaman. Metode ini terbukti efektif menahan air agar tidak meresap ke bawah.

    Ketua Tim Peneliti Prof. Fatchan Nurrochmad, beserta tim peneliti Dr. Rachmad Jayadi, dan Endita Prima Ari Pratiwi, menjelaskan bahwa sistem irigasi ini bekerja dengan mengendalikan pergerakan air di lahan sawah.

    Air tidak dibiarkan meresap ke bawah tanah atau perkolasi, tetapi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tanaman melalui proses evapotranspirasi, yang mencakup penguapan atau evaporasi dan pengeluaran air melalui stomata daun atau transpirasi.

    “Sawah tanpa perkolasi ini dirancang agar air dan nutrisi tidak hilang ke bawah tanah tetapi dapat dimanfaatkan oleh padi atau tanaman lain secara optimum artinya kebutuhan air dan nutrisi dapat memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah dan tepat kualitas,” kata Fatchan, Rabu (24/12/2025).

    Baca: Mengenal sistem pertanian regeneratif

    Fatchan menambahkan bahwa kebutuhan konsumtif tanaman padi berada pada kisaran 7 – 8 milimeter air per hari.

    Pada sawah konvensional di wilayah dengan tanah lempung hitam seperti Gunungkidul, sebagian besar air yang diberikan langsung meresap ke bawah permukaan tanah saat musim kemarau.

    Sehingga hal ini menyebabkan kekeringan di zona perakaran dan air tidak dapat dimanfaatkan oleh tanaman.

    “Tanah di sini sebenarnya sangat subur, tetapi saat kering dan diberi air, maka air tersebut akan langsung meresap ke bawah. Inilah yang membuat petani kesulitan bercocok tanam saat musim kemarau,” ujarnya.

    Fatchan menilai kawasan Gunungkidul ini memiliki sejumlah potensi mulai dari tanah yang subur, lahan yang luas, hingga ketersediaan air bawah tanah yang melimpah.

    Berdasarkan hasil pengeboran, kedalaman air tanah di wilayah ini berkisar antara 60 hingga 70 meter, bahkan di beberapa titik mencapai lebih dari 100 meter.

    Idealnya, air untuk pertanian seharusnya berasal dari sumber air permukaan seperti sungai. Namun, kondisi geografis setempat membuat cara pemanfaatan air tersebut sulit diterapkan.

    Oleh karena itu, digunakan air dari sumur bor yang dipompa ke atas dan ditampung di tangki air atau toren untuk dialirkan ke petak sawah melalui pipa pvc yang diatur sesuai kebutuhan.

    Baca: Inovasi peneliti UGM untuk perbaiki lahan pertanian yang rusak

    Kebutuhan investasi awal untuk biaya pembuatan sumur bor, pembelian pompa air, jaringan pipa PVC dan geomembran menjadi tantangan tersendiri bagi petani.

    “Secara teknis ini efektif, tetapi biayanya masih mahal. Karena itu, dukungan pihak lain seperti program CSR sangat dibutuhkan agar sistem ini bisa diterapkan lebih luas”, kata Fatchan.

    Penerapan sistem irigasi ini secara kelompok beberapa petani menjadi salah satu opsi untuk mengatasi masalah biaya.

    Selain inovasi pengelolaan air, sistem budidaya di sawah ini juga menerapkan pola Jajar Legowo 2:1, yaitu dua baris tanaman padi diselingi dengan satu baris kosong.

    Pola ini bertujuan untuk mencegah perebutan nutrisi antar tanaman dengan menyebarkan sumber makanan di beberapa titik.

    Pada akhir musim tanam, atau setelah dilakukan pemanenan, tanah yang ada akan dilakukan pengkayaan lagi dengan pupuk organik, sehingga lahan dapat ditanami kembali pada musim tanam berikutnya.

    Proses pengolahan lahan dilakukan dengan hati-hati agar geomembran tidak rusak.

    “Jeda antara penanaman pertama dan berikutnya sekitar 10 hari s.d. 1 bulan untuk memberikan tanah sawah siap ditanami lagi,” ungkapnya.

    Baca: Jakarta punya sawah abadi seluas ratusan hektare

    Danar, ketua kelompok tani, berharap inovasi ini dapat mendorong petani tradisional beralih ke sistem pertanian yang lebih efisien dan produktif di lahan pekarangan.

    “Harapan kami, ke depan mayoritas petani tradisional bisa beralih ke sawah modern tanpa perkolasi karena sistem ini jauh lebih efektif dan efisien, terutama dalam perawatan dan pengelolaan air,” ujarnya.

    Ia menambahkan, berdasarkan penelitian dari FT UGM dan data resmi BPS Gunungkidul, produktivitas sawah tradisional rata-rata hanya sekitar 0,5 kilogram per meter persegi.

    Sementara itu, sawah tanpa perkolasi mampu menghasilkan 1 hingga 1,1 kilogram per meter persegi, atau lebih dari dua kali lipat.

    “Peningkatan produktivitas ini sangat signifikan. Selain hasil panen yang meningkat, air juga benar-benar dimanfaatkan oleh tanaman karena perkolasi hampir nol. Air hanya hilang lewat penguapan dan transpirasi”, jelasnya.

    Fatchan menuturkan kawasan sawah tanpa perkolasi ini juga dirancang untuk dikembangkan melalui konsep mix farming, dengan mengintegrasikan pertanian padi, peternakan kambing, dan budidaya belut.

    Limbah ternak kambing dapat dimanfaatkan untuk budidaya cacing sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu yang berkelanjutan.

    Baca: DPR usulkan anggaran cetak sawah baru dialihkan untuk beli lahan produktif

  • Swasembada Beras Belum Diikuti Peningkatan Kesejahteraan Petani

    Swasembada Beras Belum Diikuti Peningkatan Kesejahteraan Petani

    7cloud.asia – Anggota Komisi IV DPR Usman Husin menegaskan, swasembada beras tak boleh berhenti sebagai angka statistik atau klaim keberhasilan pemerintah.

    Sebab, realitas petani masih jauh dari kata sejahtera. Usman mengatakan mayoritas petani di Indonesia adalah petani kecil dengan lahan sempit, biaya produksi naik, sementara harga gabah kerap tak menutup ongkos.

    Jika negara sudah swasembada beras, tetapi petaninya tetap miskin, maka ada yang keliru dalam tata kelola pangan.

    “Swasembada harus dimaknai sebagai jaminan bahwa hasil panen petani terserap secara maksimal dengan harga yang adil, bukan justru menekan petani di hulu,” ujar Usman dikutip Parlementaria, Rabu (7/1/2026).

    Menurutnya, swasembada beras sejatinya bertujuan melindungi Indonesia dari gejolak pangan global, krisis geopolitik, dan gangguan rantai pasok internasional. Namun, perlindungan itu harus dibarengi penguatan sektor pertanian di dalam negeri.

    Baca: Cetak sawah baru bukan solusi menuju ketahanan pangan

    “Selain itu, swasembada juga membuka peluang penguatan sektor pertanian nasional melalui perbaikan infrastruktur irigasi, distribusi pupuk, hingga pemanfaatan teknologi pertanian modern,” kata politisi Fraksi PKB ini.

    Usman mengingatkan, tantangan terbesar justru datang setelah status swasembada diklaim.

    Negara dituntut hadir memastikan kebijakan benar-benar berpihak pada petani, mulai dari penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang realistis, optimalisasi penyerapan gabah oleh Bulog, hingga perlindungan dari tengkulak dan permainan pasar.

    Ia menekankan bahwa tanpa intervensi kuat, surplus produksi justru berisiko menjatuhkan harga di tingkat petani.

    Ia juga menekankan agar pemerintah konsisten menutup keran impor, termasuk praktik impor terselubung, selama stok dalam negeri mencukupi. Lemahnya pengawasan, kata Usman, bisa merusak harga pasar dan mencederai klaim swasembada.

    Baca: Ada kebijakan yang tak adil untuk petani

    Ke depan, ujarnya, pemerintah harus menjadikan kesejahteraan petani sebagai salah satu indikator keberhasilan swasembada pangan.

    “Bukan hanya soal cukup atau tidaknya beras, tetapi apakah petani bisa hidup layak, menyekolahkan anaknya, dan berproduksi secara berkelanjutan,” tuturnya.

    Secara umum, perbandingan kesejahteraan yang diukur melalui pendapatan petani cenderung lebih rendah dibandingkan profesi non-pertanian, terutama jika dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) di berbagai daerah.

    Sebelumnya, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan stok pangan nasional berada dalam posisi kuat. Carry over stock pangan 2025 dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan 2026 tanpa impor.

    Dalam Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, Bapanas mencatat beras, jagung, dan gula konsumsi memiliki stok lanjutan yang kuat dari 2025. Pemerintah pun memutuskan tak melakukan impor beras, gula konsumsi, maupun jagung pakan tahun ini.

    Adapun carry over stok beras dari 2025 ke 2026 tercatat sebesar 12,529 juta ton, termasuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di gudang Bulog yang hingga akhir Desember 2025 masih mencapai 3,248 juta ton.

    Baca: Petani mengeluh kesulitan membeli pupuk bersubsidi

  • Konsep Agrobiodiversitas Turunkan Biaya Produksi Pertanian

    Konsep Agrobiodiversitas Turunkan Biaya Produksi Pertanian

    7cloud.asia – Pertanian intensif dan perkebunan monokultur yang awalnya dikembangkan untuk menjawab lonjakan kebutuhan pangan, dalam jangka panjang terbukti berdampak buruk pada lingkungan.

    Meski awalnya terlihat begitu menunjukkan hasil panen yang menggembirakan, dalam jangka panjang terbukti memicu berbagai masalah, salah satunya adalah kerusakan tanah.

    Karena itu sejumlah kalangan di seantero bumi, mulai kembali menengok konsep tumpang sari atau agrobiodiversitas.

    Dilansir di laman resmi UNEP, agrobiodiversitas mengacu pada keanekaragaman hayati yang mendukung pertanian yang sehat dan tangguh, termasuk tanaman pangan, ternak, penyerbuk, mikroba tanah, dan spesies liar.

    Proyek ini antara lain diterapkan di Samtskhe-Javakheti, Georgia. Proyek ini ternyata tak hanya sukses mengembalikan kesuburan lahan pertanian setempat, tetapi juga menjadi tujuan wisata yang menarik wisatawan.

    Dengan melestarikan dan memulihkan keanekaragaman ini, proyek ini juga membantu petani mempertahankan dan menghidupkan kembali praktik tradisional yang berakar pada sistem pangan lokal.

    Baca: Pertanian regeneratif sukses kembalikan kesuburan tanah gersang di Portugal

    Hingga saat ini, proyek ini telah mendukung 148 petani untuk membangun lebih dari 500 plot demonstrasi gandum dan anggur endemik di enam kotamadya.

    Aluda Jvaridze adalah salah satu petani yang didukung oleh proyek ini untuk menerapkan praktik pertanian ramah keanekaragaman hayati. Sekarang, Jvaridze menanam gandum endemik, seperti Akhaltsikhe Tsiteli Doli dan Dika, dan anggur, termasuk Meskhturi Mtsvane dan Kharistvala.

    Varietas asli ini secara alami beradaptasi dengan iklim lokal dan tumbuh subur tanpa penggunaan pestisida dan pupuk yang keras, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan lahan dan tanah, tetapi juga bagi pendapatan Jvaridze.

    Di rumah leluhur keluarganya, Jvaridze kini menyambut pengunjung untuk merasakan pembuatan roti, anggur, dan keju tradisional Georgia, yang dibuat menggunakan varietas kuno ini dengan metode memasak yang telah dipraktikkan keluarganya selama beberapa generasi.

    Oven batu besar digunakan untuk memanggang, sementara qvevri, bejana tanah liat, dikubur di bawah tanah tempat ia digunakan untuk membuat, mematangkan, dan menyimpan anggur.

    Di seluruh wilayah itu, petani lain yang didukung melalui proyek ini melakukan hal yang sama.

    Baca: Pertanian monoklutur macam food estae mengancam kelesatraian lingkungan

    Ketika pasangan petani, Zaza Ivanide dan Tiko Chilingarashvili mulai menanam varietas gandum dan anggur endemik, tetangga mereka skeptis, mencatat bahwa mereka sering mengalami hasil panen yang lebih rendah daripada tanaman monokultur yang menggantikannya.

    “Di lahan dengan ukuran yang sama, panen saya 10 kali lebih sedikit,” jelas Ivanide. “Ketika mereka menunjuk jari, bercanda ‘apakah hanya ini yang kamu dapatkan dari gandum Georgia-mu yang terkenal?’ Saya tidak patah semangat.”

    Seiring waktu, cerita yang berbeda telah muncul. Ivanide dan Chilingarashvili membayar lebih sedikit untuk pekerjaan pertaniannya, dan kesuburan tanahnya telah membaik.

    Saat ini, orang-orang mengantre panjang untuk mencicipi khachapuri buatan Ivanide, roti isi keju tradisional Georgia.

    Khachapuri yang dibuat Ivanide adalah salah satu dari lebih dari 50 variasi regional dari hidangan nasional Georgia tersebut.

    “Bahkan saat itu, saya tahu dalam hati bahwa satu butir biji, satu potong roti memiliki nilai lebih dari gabungan semua hasil panen mereka,” canda Ivanide.

    “Kualitasnya jauh lebih unggul, tidak hanya dalam rasa dan kandungan gluten yang lebih rendah, tetapi juga karena nilai intrinsik yang dibawanya untuk menjaga kelestarian lahan dan warisan gandum Georgia.”

    Baca: Kalender musim Jawa untuk pertanian yang berkelanjutan

    Selain mendukung tanaman asli, proyek ini berupaya meningkatkan praktik berkelanjutan seperti rotasi tanaman dan pertanian ramah penyerbuk yang mendukung keanekaragaman tanaman dan spesies yang lebih luas sambil membangun kapasitas dan kesadaran di kalangan petani untuk memastikan adopsi jangka panjang.

    Pekerjaan di Samtskhe-Javakheti ini sejalan dengan komitmen nasional Georgia untuk mencapai netralitas degradasi lahan pada tahun 2030.

    Proyek ini melengkapi kebijakan yang bertujuan untuk memulihkan hutan, meningkatkan kesehatan tanah, berkontribusi pada netralitas iklim, dan mengintegrasikan pengelolaan lahan berkelanjutan ke dalam perencanaan nasional.

    Melalui intervensi proyek ini, ratusan lahan pertanian kecil kini dikelola secara lebih berkelanjutan, mencakup area gabungan lebih dari 300 hektar – sebuah transformasi yang berarti di tempat di mana sebagian besar pertanian berada di bawah satu hektar.

    “Analisis tanah awal kami menunjukkan bahwa pertanian intensif tidak berkelanjutan, dan bahwa konservasi dan praktik cerdas tidak hanya akan meningkatkan kualitas tanah tetapi juga mempertahankan pendapatan petani dari waktu ke waktu,” kata Sophiko Akhobadze, Direktur REC Caucasus.

    Bagi petani seperti Jvaridze, Ivanide, dan Chilingarashvili, pemulihan lahan dan tradisi kini berjalan beriringan dan berakar dalam kehidupan sehari-hari mereka.

    Di sini, pembaruan bukan hanya tentang mendapatkan lebih banyak dari lahan tetapi juga tentang menemukan kembali keanekaragaman yang selalu mendefinisikannya.

  • Varietas Lokal Selamatkan Pertanian di Georgia dari Ancaman Perubahan Iklim

    Varietas Lokal Selamatkan Pertanian di Georgia dari Ancaman Perubahan Iklim

    7cloud.asia – Cerita konservasi keanekaragaman hayati ini datang dari Georgia, tepatnya di wilayah Samtskhe-Javakheti yang terletak di sepanjang tepi selatan negara itu, dengan perbukitannya membentang hingga perbatasan Turki.

    Benteng dan biara berusia berabad-abad, yang kini menjadi objek wisata dan situs warisan budaya, berada di atas dataran tinggi yang menghadap desa-desa yang selama beberapa generasi dibentuk oleh pertanian skala kecil.

    Terletak di wilayah Kaukasus, medan Georgia yang beragam telah mendukung tingkat keanekaragaman tanaman yang tinggi.

    Negara ini merupakan rumah bagi 15 dari 27 spesies gandum yang dikenal di dunia dan lebih dari 500 varietas anggur asli.

    Namun, keanekaragaman dan tradisi pertanian yang dimiliki terbukti lebih sulit untuk dipertahankan daripada landmark bersejarahnya.

    Selama periode Uni Soviet, pertanian negara itu berada di bawah sistem kolektivisasi yang membatasi otonomi petani dan mengurangi prioritas praktik lokal dan varietas tanaman asli.

    Baca: Agrobiodiversitas untuk menjaga keanekaragaman hayati

    Kondisi ini, dan kemudian disusul dengan kesulitan ekonomi, membebani cara-cara pertanian tradisional. Seiring waktu, dan meningkatnya penggunaan praktik pertanian intensif, tekanan pada lahan pun meningkat.

    Erosi tanah skala besar, yang sudah merupakan proses alami, telah meningkat akibat praktik penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan, berkontribusi pada kekeringan dan penggerusan tanah, yang pada gilirannya semakin memperburuk erosi.

    Pada tahun 2018, degradasi lahan mengurangi PDB pertanian Georgia sebesar 8 persen – sebuah lambang lokal dari krisis global di mana degradasi lahan merusak mata pencaharian dan memengaruhi lebih dari 40 persen populasi dunia.

    Menghadapi tantangan ini, petani skala kecil di seluruh wilayah Samtskhe-Javakheti, yang secara historis merupakan salah satu lumbung pangan Georgia, mulai bangkit melakukan konservasi.

    Mereka menghidupkan kembali varietas gandum dan anggur kuno melalui praktik tradisional yang menghubungkan lahan, mata pencaharian, dan pangan.

    Upaya ini merupakan bagian dari proyek yang dipimpin oleh Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan didanai oleh Global Environment Facility (GEF).

    Baca: Butuh paradigma baru untuk menahan laju degradasi tanah global

    Pusat Lingkungan Regional untuk Kaukasus (REC Caucasus) bertindak sebagai badan pelaksana nasional proyek tersebut, untuk mengatasi degradasi lahan dan hilangnya keanekaragaman hayati pertanian.

    Keanekaragaman hayati pertanian mengacu pada keanekaragaman kehidupan yang mendukung pertanian yang sehat dan tangguh, termasuk tanaman, ternak, penyerbuk, mikroba tanah, dan spesies liar.

    Dengan melestarikan dan memulihkan keanekaragaman ini, proyek ini juga membantu petani mempertahankan dan menghidupkan kembali praktik tradisional yang berakar pada sistem pangan lokal.

    Hingga saat ini, proyek tersebut telah mendukung 148 petani untuk membangun lebih dari 500 plot demonstrasi gandum dan anggur endemik di enam kotamadya.

    Dan, proyek ini perlahan mengembalikan kesuburan tanah dan menghidupkan kembali varietas lokal yang lebih tahan dengan kondisi cuaca dan iklim setempat.

    Baca: Kalender musim Jawa untuk pertanian yang berkelanjutan

  • IPB University Tawarkan Teknologi Biointensif untuk Atasi Kenaikan Harga Pupuk Akibat Perang di Teluk Persia

    IPB University Tawarkan Teknologi Biointensif untuk Atasi Kenaikan Harga Pupuk Akibat Perang di Teluk Persia

    7cloud.asia – IPB University menawarkan teknologi biointensif sebagai alternatif solusi pertanian dalam menghadapi dampak krisis di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) global dan berdampak pada sektor pertanian.

    Hal ini mengemukan dalam Konferensi Pers “Adaptasi Petani Nusantara Menghadapi Dampak Perang di Timur Tengah” di Kampus IPB, Bogor, Kamis (2/4/2026).

    Krisis di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga minyak yang kemudian berdampak pada produksi dan kenaikan harga pupuk.

    Menurut Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr Ivanovic Agusta, gejolak harga energi akibat konflik global menjadi momentum untuk mendorong inovasi pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.

    Pada kesempatan itu, Prof Suryo Wiyono, Dekan Fakultas Pertanian IPB University memaparkan, konflik global berdampak langsung terhadap produksi dan logistik pupuk dunia.

    Ia menyebut kawasan Teluk memproduksi sekitar 40 persen pupuk nitrogen dunia, sehingga gangguan pasokan gas alam (LNG) sebagai bahan baku utama berpotensi menghambat produksi pupuk.

    “Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku. Sekitar 42,89 persen bahan baku pupuk fosfor berasal dari Eropa dan negara-negara Arab yang kini terhambat risiko keamanan serta lonjakan biaya asuransi pengiriman,” ujarnya.

    Baca: Harga pangan dunia naik akibat ketegangan di Timur Tengah

    Selain itu, konflik juga berdampak pada penurunan ekspor produk pertanian. Uni Emirat Arab dan Arab Saudi selama ini menjadi pasar ekspor buah-buahan Indonesia seperti pisang, mangga, dan manggis terbesar kedua dan ketiga setelah China.

    Dampak lanjutan dirasakan langsung oleh petani melalui lonjakan harga input pertanian. Harga pupuk nitrogen global tercatat naik 32,4 persen, sementara pestisida diprediksi meningkat 20–30 persen akibat krisis energi dan biaya logistik.

    Kenaikan harga BBM juga mendorong peningkatan biaya produksi, terutama pada transportasi dan operasional alat mesin pertanian, yang berujung pada penurunan keuntungan petani.

    “Sebagai respons, IPB University menawarkan strategi adaptasi melalui penerapan teknologi biointensif. Pendekatan ini mencakup budi daya padi biointensif yang mampu mengurangi penggunaan pupuk pabrikan hingga 30 persen dan pestisida hingga 70 persen tanpa menurunkan hasil produksi,” papar Prof Suryo.

    Selain itu, ia melanjutkan, petani didorong menerapkan pertanian ekologis dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida alami, serta meningkatkan bahan organik tanah untuk efisiensi penggunaan air dan energi.

    Diversifikasi energi terbarukan seperti biogas, panel surya, biomassa, dan energi angin juga dianjurkan untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

    Penguatan ekonomi komunitas menjadi langkah lain yang ditawarkan, melalui pengembangan forum inovasi teknologi ramah lingkungan dan penguatan pasar lokal serta usaha rumah tangga.

    Baca: Konsep agrobiodiversitas turunkan biaya produksi pertanian

    Keunggulan Biointensif

    Pertanian biointensif adalah sistem budidaya ramah lingkungan yang mengoptimalkan peran makhluk hidup (mikroba tanah, tanaman pendamping/refugia) untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengendalikan hama secara alami.

    Teknik ini menekan biaya produksi, mengurangi ketergantungan pada pupuk/pestisida kimia, dan efektif meningkatkan hasil panen serta pendapatan petani.

    Prof Suryo mengurai, sistem biointensif memiliki sejumlah keunggulan, antara lain efisiensi penggunaan input, berbasis ekologi dengan pemanfaatan mikroorganisme tanah, tahan terhadap stres lingkungan, serta berkelanjutan dengan jejak karbon rendah.

    Selain itu, sistem ini juga mengandalkan bahan baku lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mendekati 100 persen.

    Secara konsep, sistem biointensif menekankan pada keterkaitan antara tanah sehat, mikroba (endofit, PGPR, antagonis), tanaman tahan stres, hingga menghasilkan produktivitas yang berkelanjutan dan stabil.

    Praktiknya diintegrasikan melalui rotasi tanaman, tumpang sari, pupuk hijau, dan sistem organik.

    “Pada komoditas padi, penerapan teknologi biointensif menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 24 persen, penurunan biaya produksi sekitar 20 persen, pengurangan penggunaan pupuk sebesar 30 persen, serta penurunan penggunaan pestisida hingga 77 persen,” jelas Prof Suryo.

    Hasil uji di sejumlah daerah seperti Karawang, Subang, Indramayu, Tegal, dan Bojonegoro juga menunjukkan bahwa metode biointensif menghasilkan produktivitas lebih tinggi dibandingkan metode konvensional.

    “Dengan berbagai keunggulan tersebut, kami menilai teknologi biointensif dapat menjadi solusi strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan krisis global,” tandasnya.

  • Pertanian Monokultur, Pupuk Kimia dan Pestisida Hancurkan Panen Petani di Andhra Pradesh, India

    Pertanian Monokultur, Pupuk Kimia dan Pestisida Hancurkan Panen Petani di Andhra Pradesh, India

    7cloud.asia – Negara bagian Andhra Pradesh di India dulu terkenal dengan lereng-lerengnya yang hijau zamrud menakjubkan yang ditutupi vegetasi subur.

    Namun, selama beberapa dekade terakhir, wilayah ini telah kehilangan 30 hingga 40 persen tutupan hutan aslinya, menurut Dinesh Kumar, seorang pejabat pemerintah setempat.

    “Ekspansi pertanian intensif telah menjadi salah satu pendorong utama deforestasi dan hilangnya habitat di Andhra Pradesh,” kata Kavita Sharma, Manajer Tugas di Unit Keanekaragaman Hayati dan Degradasi Lahan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Fasilitas Lingkungan Global (GEF).

    “Hal ini telah menyebabkan tanah yang buruk, hilangnya keanekaragaman hayati agroekologis, dan penurunan permukaan air tanah.” Karena kualitas tanah memburuk, banyak komunitas petani kecil kesulitan untuk membudidayakan tanaman mereka.

    Untuk mengatasi tren yang mengkhawatirkan ini, pada tahun 2004 pemerintah negara bagian meluncurkan program Pertanian Berkelanjutan yang Dikelola Komunitas, yang kemudian berkembang menjadi inisiatif Pertanian Alami yang Dikelola Komunitas Andhra Pradesh (APCNF) pada tahun 2014.

    Berdasarkan inisiatif ini, UNEP dan GEF dengan dukungan dari Pemerintah India, sedang mengimplementasikan proyek yang menggabungkan pengetahuan tradisional dengan sains untuk memulihkan ekosistem, mendiversifikasi tanaman, dan meningkatkan kesehatan tanah.

    “Kami mulai menciptakan kesepakatan yang lebih baik untuk para petani. Kemudian kami bergerak maju, berpikir bahwa itu adalah kesepakatan yang lebih baik untuk konsumen, dan perbaikan pada tanah dan air mulai terasa,” kata Vijay Kumar, Wakil Ketua Eksekutif Rythu Sadhikara Samstha (RySS), perusahaan nirlaba di balik AFCNF.

    Selama bertahun-tahun, petani skala kecil di wilayah tersebut telah melihat hasil panen mereka menurun karena kesehatan tanah yang memburuk. Banyak komunitas bergantung pada pupuk kimia untuk mempertahankan hasil panen mereka.

    Tetapi pupuk tersebut semakin merusak tanah, membutuhkan input yang lebih besar untuk menghasilkan tanaman apa pun, menjebak petani dalam siklus yang buruk.

    “Biaya terus meningkat setiap tahun. Dan risiko gagal panen juga meningkat,” jelas Kumar. “Konsumen juga merasakan dampaknya, karena makanan yang mereka konsumsi mengandung banyak residu kimia, dan integritas nutrisi makanan telah menurun.”

    Situasi ini diperburuk oleh curah hujan yang tidak menentu dan penurunan keanekaragaman hayati yang cepat; Penyerbuk seperti lebah, kupu-kupu, burung, dan kelelawar sangat penting bagi pertanian, memungkinkan reproduksi sekitar 75 persen tanaman berbunga.

    Salah satu penyebab utama di balik krisis yang memburuk ini adalah pertanian monokultur, yang melibatkan penanaman satu jenis tanaman di area yang luas secara berulang-ulang.

    Perluasan pertanian monokultur seringkali membutuhkan penghancuran lanskap yang beragam dan menggantinya dengan lahan yang seragam.

    “Pendekatan konvensional terhadap pertanian ini adalah musuh keanekaragaman hayati,” kata Kumar. “Dengan menerapkan pertanian monokultur, Anda juga mendorong erosi tanah, limpasan air, dan pelarutan nutrisi.”

    Madhuri Nanda, Direktur Asia Selatan di Rainforest Alliance, salah satu mitra pelaksana proyek, menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya apa yang terjadi di lapangan, tetapi bagaimana pendekatan ini memengaruhi lingkungan yang lebih luas.

    “Dalam pertanian konvensional, Anda menggunakan lebih banyak bahan kimia sintetis, dan seluruh lingkungan di sekitarnya mengalami degradasi,” katanya. “Baik itu hutan, penggunaan air yang berlebihan, atau bahan kimia, yang menciptakan ketidakseimbangan keanekaragaman hayati.”

    Pertanian alami yang dipromosikan oleh APCNF sama sekali tidak menggunakan pupuk, apalagi pestisida kimia.

    Sebagai gantinya, petani menyiapkan “bio-stimulan” alami dari bahan-bahan seperti urin dan kotoran sapi, yang menghidupkan kembali organisme hidup yang ada di tanah. Mikroba ini meningkatkan kesuburan tanah dengan menguraikan bahan organik dan mineral, melepaskan nutrisi.

    “Sejumlah kecil bio-stimulan akan memicu mikroba tanah. Setelah beberapa tahun, kita bahkan tidak membutuhkannya lagi ketika tanah menjadi subur,” jelas Kumar

    Filosofi di balik pendekatan ini adalah bahwa beragam tanaman akan memberi nutrisi pada tanah, dan tanah akan tetap sehat, sehingga pada gilirannya memberi nutrisi pada tanaman tanpa perlu pupuk eksternal.

    “Dalam sistem konvensional, yang terjadi adalah tanaman melawan keanekaragaman hayati,” kata Kumar.

    “Di sini, yang terjadi adalah tanaman dan keanekaragaman hayati – jadi tanaman itu sendiri merupakan bagian dari keanekaragaman hayati.”

  • Tingkatkan Produktivitas Lahan Pertanian, UGM Kenalkan Pertanian Cerdas Lewat Teknologi Agrivoltaic

    Tingkatkan Produktivitas Lahan Pertanian, UGM Kenalkan Pertanian Cerdas Lewat Teknologi Agrivoltaic

    7cloud.asia – Menurut laporan BPS tahun 2021, 89,54 persen lahan pertanian di Indonesia dinilai belum memenuhi standar produktivitas yang berkelanjutan akibat penggunaan bahan kimia, pengolahan tanah dan penggunaan air berlebihan, serta adanya konflik sosial.

    Di sisi lain, petani masih menghadapi dampak perubahan iklim yang menyebabkan ancaman kekeringan akibat kemarau berkepanjangan disebabkan el nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2027.

    Sebagai solusi pemanfaatan lahan pertanian yang efisien, Kepala Laboratorium Energi Terbarukan UGM, Ahmad Agus Setiawan, Ph.D., mengenalkan konsep agrivoltaic yang mengintegrasi panel surya di atas lahan pertanian.

    Konsep agrivoltaic ini terinspirasi dari keberhasilan PLTS terapung di Waduk Cirata yang berkapasitas 149 MW hingga 190 MW.

    Dilansir ugm.ac.id, Agus mengatakan teknologi ini diterapkan di desa pandowoharjo Sleman yang dioperasikan langsung oleh masyarakat dan dimanfaatkan langsung oleh petani setempat.

    Rencananya teknologi ini akan dibawa mahasiswa KKN UGM yang mengabdi di daerah terpencil. Mereka membawa paket kombinasi panel surya sebagai sumber daya dan Starlink untuk menyediakan akses internet bagi masyarakat.

    “Kita mengharapkan mahasiswa tumbuh bersama masyarakat,” ungkapnya dalam Seminar Internasional yang bertajuk ‘Smart Agrivoltaic Nusantara: Membangun Kedaulatan Pangan, Energi, dan Air Berbasis Teknologi Hijau dari Desa untuk Indonesia’ di Fakultas Teknik UGM, Rabu (24/6/2026).

    Inovasi teknologi agrivoltaic dikembangkan bersama Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho.

    Menurut Bayu, teknologi smart framing ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu Management Information System (IMS) untuk pengambilan keputusan, Precision Agriculture (pertanian presisi), serta optimalisasi dan robotik.

    Melalui penggunaan smart framing, Bayu menilai banyak keunggulan yang didapat, yaitu meningkatkan produktivitas, data informasi yang diperoleh secara real-time dan akurat, meningkatkan efisiensi, mempermudah monitoring dan kontrol, dan tentunya mampu meningkatkan kualitas produk.

    “Makanya dengan smart farming itu akan memudahkan kita dalam mendapatkan informasi melalui sensor yang dipasang. Seperti, tanah di sini itu kekurangan pupuk N, oleh karenanya yang diberikan adalah pupuk Nm bukan malah diberikan pupuk K,” ungkapnya.

    Akan tetapi, dalam penerapan teknologi tersebut di lahan terbuka jauh lebih menantang dibandingkan dengan di dalam greenhouse, karena terdapat faktor cuaca yang tidak menentu.

    Oleh karena itu, dalam penelitiannya, ia mengembangkan integrasi antara drone baik drone surveillance untuk pemetaan maupun drone sprayer untuk penyemprotan dengan sensor cuaca di atas tanah dan sensor tanah portabel di bawah tanah guna memberikan informasi real-time mengenai kebutuhan tanaman secara presisi.

  • Berbincang dengan Petani Cikarawang, Pakar IPB University Ingatkan Pentingnya Jaga Kesehatan Tanah

    Berbincang dengan Petani Cikarawang, Pakar IPB University Ingatkan Pentingnya Jaga Kesehatan Tanah

    7cloud.asia – Ada pemahaman keliru di antara praktisi pertanian di tanah air. Selama ini kita lebih sering fokus memberi makan tanaman, padahal tanah juga harus dijaga kesehatannya untuk menjaga produksi pangan yang berkelanjutan.

    Hal ini diungkpkan Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB University, Prof Arief Hartono saat bertemu para petani Desa Cikarawang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

    Di hadapan puluhan petani Desa Cikarawang yang ikut “Focus Group Discussion (FGD) Masyarakat Sadar Pangan dan Nutrisi Tanaman” ia mengingatkan bahwa tantangan pertanian saat ini bukan sekadar mengejar peningkatan hasil panen.

    Melainkan beralih dari ketergantungan pupuk kimia berlebih yang merusak tanah menuju pemanfaatan pupuk organik fungsional berbasis limbah lokal.

    “Kalau tanahnya sehat, tanaman akan tumbuh lebih baik dan produktivitasnya bisa dipertahankan dalam jangka panjang,” tuturnya.

    FGD ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM KM), didukung Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) IPB University

    Baca: Penggunaan Pupuk Organik Berhasil Dongkrak Hasil Panen

    Berlatar di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mandiri Jaya, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, ini menjadi wadah bagi para anggota Poktan Setia, Poktan Hurip, Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, KWT Dahlia untuk membedah persoalan nyata yang dihadapi petani setempat.

    Rangkaian diawali sesi cucurak sebagai ajang membangun keakraban antara peserta, panitia, dan narasumber, kemudian dilanjutkan dengan seminar, FGD, dan diskusi.

    Sesi FGD juga menjadi wadah bagi peserta untuk mengidentifikasi berbagai persoalan pertanian di Desa Cikarawang sekaligus menggali potensi sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk alternatif.

    Peserta menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi di lapangan, mulai dari keterbatasan pupuk subsidi, menurunnya kualitas lahan, hingga sulitnya memanfaatkan limbah organik sebagai pupuk alternatif.

    Menanggapi hal tersebut, Prof Arief menegaskan bahwa setiap daerah memiliki potensi yang berbeda sehingga solusi pertanian juga harus disesuaikan dengan kondisi setempat.

    “Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan membeli input dari luar. Potensi lokal yang ada di desa justru bisa menjadi solusi apabila dikelola dengan ilmu pengetahuan dan inovasi yang tepat,” ungkapnya.

    Baca: Pertanian Monokultur, Pupuk Kimia dan Pestisida Hancurkan Panen

    Sebagai solusi memperbaiki tanah, Prof Arief memperkenalkan pupuk organik cair (POC) yang dapat dibuat secara mandiri oleh masyarakat.

    Pupuk cair ini dapat dibuat dengan memanfaatkan limbah organik seperti sisa sayuran, buah-buahan, kotoran ternak, maupun bahan organik lain yang tersedia di lingkungan sekitar.

    Bahan bakunya sebenarnya ada di sekitar kita. Yang diperlukan adalah memahami proses fermentasinya dengan benar agar mikroorganisme dapat bekerja optimal dan menghasilkan pupuk yang berkualitas.

    “Cara ini tidak hanya mampu menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi limbah sekaligus memperbaiki kualitas tanah,” jelasnya.

    Di akhir sesi, Prof Arief mendorong masyarakat untuk terus membangun kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan agar solusi yang dihasilkan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga didukung oleh kebijakan yang tepat.