Tag: sampah plastik

  • Kemenko Marves Optimistis Mampu Kurangi 70 Persen Sampah Plastik yang Cemari Laut

    Kemenko Marves Optimistis Mampu Kurangi 70 Persen Sampah Plastik yang Cemari Laut

    7cloud.asia – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) optimistis mampu mengurangi 70 persen sampah plastik yang saat ini mengendap dan mencemari laut Indonesia.

    “Target Indonesia sampai dengan 2025 sampah plastik di laut sudah bisa kita kurangi,” kata Plt Sekretaris Deputi (Sesdep) Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Aniza di Padang, Selasa (25/6/2024).

    Aniza mengatakan target tersebut tergolong besar dan ambisius, namun pemerintah khususnya instansi terkait harus berani mematok target lebih untuk menjamin ekosistem bawah laut dari ancaman polusi sampah plastik ini.

    Berdasarkan data yang diperoleh Kemenko Marves, pada 2023 terdapat sekitar 12,87 juta ton sampah plastik yang tersebar di perairan laut Indonesia.

    Baca: Greenpeace desak Unilever kurangi sampah plastik

    Pemerintah melalui berbagai kebijakan termasuk lewat “Misi Indonesia 2024”, salah satunya fokus mengkaji sampah dan mikro plastik yang terkandung di laut Indonesia.

    Dari rangkaian penelitian organisasi nirlaba eksplorasi laut global OceanX bersama BRIN, peneliti menemukan di kedalaman tertentu sampah plastik namun tidak sebanyak di negara lain.

    Meskipun dibanding negara lain volume sampah plastik Indonesia tidak sebesar negara lain, namun Aniza menegaskan pencegahan serta solusi sampah plastik harus segera disiapkan.

    Baca: Dampak pencemaran dan pemanasan global pada ekosistem laut

    Kemudian, dari penelitian “Misi Indonesia 2024” yang melibatkan peneliti luar, peneliti juga mengambil sampel air guna memastikan kadar atau kandungan mikro plastik di laut Indonesia.

    “Jadi, sampel sudah diambil namun belum diteliti berapa persentase mikro plastik yang ada di dalam air,” jelas dia.

    Hasil penelitian tentang mikro plastik sangat penting sebagai bahan kajian atau peringatan dini bagi pemerintah dan masyarakat luas agar menjaga laut dari polusi sampah.

    Baca: Dampak sampah plastik pada ekosistem laut

    Kandungan mikro plastik dapat mencemari laut serta ekosistemnya. Ikan-ikan yang memakan mikro plastik kemudian dikonsumsi masyarakat akan menjadi ancaman bagi kesehatan.

    Setelah seluruh rangkaian penelitian tahap satu hingga lima selesai, Kemenko Marves bersama tim peneliti akan mengumumkan hasil temuan dan mengadakan seminar.

    Harapannya, masyarakat lebih peduli dalam menjaga ekosistem laut dengan mengurangi sampah plastik.

    Sumber:Antaranews.com

  • DKI Belum Batasi Kemasan Saset Meski Jadi Sumber Sampah Plastik, Ini Alasannya

    DKI Belum Batasi Kemasan Saset Meski Jadi Sumber Sampah Plastik, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Hingga saat ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta belum memberlakukan pembatasan kemasan saset (sachet) dalam upaya mengurangi sampah plastik.

    Kebijakan pembatasan kemasan saset untuk kurangi sampah plastik ini sejak lama digaungkan sejumlah organisasi lingkungan.

    Adapun alasan pemerintah tetap mengijinkan kemasan saset karena mempertimbangkan daya beli warga apabila kebijakan tersebut diterapkan.

    “Masyarakat berpenghasilan di bawah Rp100 ribu per hari tentunya bakal kesulitan kalau di pasar adanya kemasan botol,” kata Kepala Seksi Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Adib Awaludin dalam sebuah talkshow di sela Festival Ekonomi Sirkular 2024 Jakarta, Kamis (18/7/2024).

    Baca Juga: Aksi Keren Aktivis Greenpeace: Minta Unilever Segera Kurangi Sampah Plastik

    Menurut Adib alih-alih membeli produk dalam kemasan besar, masyarakat dari kalangan ekonomi rendah cenderung memilih kemasan kecil saset.

    Oleh karena itu, daya beli masyarakat akan menjadi bahan kajian dan diskusi demi menghadirkan solusi apabila aturan pembatasan kemasan saset nanti diberlakukan.

    “Semua masukan, misal nanti keluar produk hukum atau regulasi yang dikeluarkan pemerintah, bisa implementatif, bisa menjadi solusi untuk semua,” ujar dia.

    Tak hanya tentang kemasan kecil, Adib menuturkan Pemerintah juga berpotensi menerbitkan aturan pelarangan penggunaan gabus plastik atau stirofoam (styrofoam) dan sedotan plastik di hotel, restoran, kafe dan kawasan semacam itu.

    Baca Juga: Daftar Negara yang Paling Banyak Mengonsumsi Makanan Tercemar Mikroplastik, Indonesia di Nomor Dua

    Kebijakan penggunaan plastik sekali pakai juga diterapkan di toko ritel, swalayan, pusat perbelanjaan, pasar, dan minimarket.

    “Ada potensi untuk mengatur styrofoam dan sedotan plastik. Ini sejalan dengan peraturan KLHK bahwa pada 1 Januari 2030 yang namanya sedotan plastik dan styrofoam itu dilarang digunakan,” ujar dia.

    Adib menuturkan pemerintah akan menyelenggarakan diskusi-diskusi kelompok bersama para pelaku usaha terkait ini dan diharapkan nantinya ada tanggapan atau masukan.

    Gagasan-gagasan seperti itu sudah ada. Nanti, ujar Adib, ini akan jadi bahan diskusi. Misalkan untuk styrofoam untuk makan di tempat (dine in) seperti apa, untuk dibawa pulang (take away) seperti apa.

    Baca Juga: Riset: Mikroplastik Ditemukan di Mana-mana, Bahkan pada Napas Lumba-lumba

    “Jadi bukan hanya larangan tetapi juga harus menawarkan solusi atau penggantinya seperti apa,” kata Adib.

    Dia merujuk Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 55 Tahun 2021 tentang Pengurangan dan Penanganan Sampah menyebutkan terkait larangan penggunaan kemasan atau wadah sekali pakai.

    “Kalau perlu regulasi, kami buatkan regulasi. Tetapi apakah regulasi itu solusi? Nanti kita bahas lagi, perdalam lagi, kaji lagi,” demikian ujar Adib.

    Sumber:Antaranews.com

  • Pawai Bebas Plastik: Penanganan Krisis Sampah Plastik Harus Dimulai dari Produksi Plastik

    Pawai Bebas Plastik: Penanganan Krisis Sampah Plastik Harus Dimulai dari Produksi Plastik

    7cloud.asia – Pawai Bebas Plastik yang digelar setiap bulan Juli menjadi bagian dari kampanye global yang dikenal sebagai #PlasticFreeJuly.

    Pawai Bebas Plastik secara khusus berfokus pada pengurangan penggunaan plastik sekali pakai sepanjang bulan Juli.

    Para inisiator dari kegiatan Pawai Bebas Plastik ini terdiri dari Indorelawan, WALHI, Greenpeace Indonesia, Divers Clean Action, Dietplastik Indonesia, Econusa, Pandu Laut, dan Pulau Plastik.

    Pawai Bebas Plastik mengajak organisasi, komunitas dan jaringan masyarakat untuk bergabung dalam gerakan Pawai Bebas Plastik di kota-kota lain, bersama-sama menyerukan aksi untuk menghentikan krisis plastik.

    Pawai Bebas Plastik diinisiasi dengan melihat masalah di Indonesia, di mana sampah plastik
    tidak hanya menjadi masalah di wilayah daratan saja, tetapi juga sudah mencemari wilayah laut.

    Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk melihat dampak dari plastik sekali pakai yang ternyata tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan hidup, akan tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan manusia.

    Baca: Tentang Pawai Bebas Plastik

    Melihat fakta-fakta tersebut, koalisi melihat perlu adanya suatu gerakan bersama sebagai upaya pengurangan sampah plastik. Tujuannya, pada tahun 2025 Indonesia dapat mencapai target untuk mengurangi sampah plastik hingga 70 persen.

    Tahun ini, Pawai Bebas Plastik mengangkat isu plastik yang berhubungan dengan kesehatan, iklim, dan masyarakat adat.

    “Isu plastik juga berhubungan dengan seberapa besar produksi plastik dari industri minyak dan gas,“ ujar Ibar Akbar, Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia ditemui di sela acara Piknik Bebas Plastik, Minggu (28/7/2024) di Jakarta.

    Itu sebabnya, pembahasan pembatasan produksi plastik di KTT Plastik Ottawa beberapa waktu lalu berjalan alot. Penghasil minyak bumi bersikeras mempertahankan produksi plastik, karena lebih dari 99 persen plastik sekali pakai diproduksi dari bahan bakar fosil.

    Ibar menegaskan, tanggung jawab produsen atas sampah plastik sangat diperlukan. Menangani isu plastik tidak bisa hanya fokus ke hilir, tapi juga hulu ketika plastik pertama kali diproduksi.

    Ibar memaparkan, saat ini baru 18 produsen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) yang telah mengimplementasikan pilot project Permen LHK no 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

    “Jumlahnya masih sedikit dibandingkan seluruh jumlah produsen di Indonesia dan tidak ada transparansi serta capaian dari peta jalan pengurangan sampah dari produsen” imbuh Ibar.

    Yang banyak muncul di lapangan saat ini, lanjutnya, adalah upaya untuk mendaur ulang sampah plastik untuk berbagai peruntukan. Tetapi belum terlihat upaya untuk memotong atau mengurangi produksi sampah. 

    Sementara emisi gas rumah kaca terjadi pada setiap tahap siklus hidup plastik, mulai dari ekstraksi gas dan minyak hingga produksi, pembakaran, penimbunan, dan bahkan daur ulang.

    Sebelumnya, fokus analisis dampak iklim pada plastik hanya terbatas pada emisi dari produksi resin dan pembuatan produk plastik.

    Namun, pada tahun 2019, Center for International Environmental Law (CIEL) menerbitkan laporan yang memperkirakan emisi global dari seluruh siklus hidup plastik.

    Baca: Tentang Piknik Bebas Plastik 2024

    Produksi kemasan plastik sekali pakai berkontribusi terbesar penyumbang plastik murni
    setiap tahun.

    Diperkirakan sekitar 40 persen dari total permintaan plastik dan lebih dari setengah sampah plastik di seluruh dunia.

    Industri ini juga memperkirakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan signifikan penggunaan plastik di negara-negara berkembang.

    Berdasarkan laporan OECD – Global Plastics Outlook: Policy Scenarios to 2060 menyebutkan dalam skenario baseline, penggunaan plastik global diproyeksikan akan tiga kali lipat antara tahun 2019 dan 2060, dari 460 juta ton menjadi 1.321 juta ton.

    Fakta ini menegaskan, perlunya solusi mengatasi krisis sampah plastik ini mulai dari awal produksi plastik dengan pengurangan produksi plastik di hulu.

    “Inisiatif yang hanya berfokus pengurangan sampah di hilir tidak akan selesai jika keran produksi plastik dikurangi,” Ujar Abdul Ghofar, Manajer Kampanye Polusi dan Urban WALHI.

  • Riset: 60 Perusahaan Global Bertanggung-jawab atas Separuh Sampah Plastik Dunia

    Riset: 60 Perusahaan Global Bertanggung-jawab atas Separuh Sampah Plastik Dunia

    7cloud.asia – Sebuah penelitian terbaru menyoroti kontribusi merek-merek global yang memproduksi sampah plastik terbesar di dunia.

    Dari penelusuran yang dilakukan terungkap, sebagian besar sampah plastik global disumbang hanya oleh 60 perusahaan.

    Analisis yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances mengungkapkan bahwa 56 perusahaan menyebabkan lebih dari 50 persen sampah plastik global di 84 negara selama rentang lima tahun (2018 hingga 2022).

    Sampah plastik lainnya tidak memiliki merek yang jelas, sehingga menimbulkan pertanyaan potensial tentang praktik pelaporan perusahaan.

    “Hal ini menunjukkan sangat, sangat, sangat perlunya transparansi dan ketertelusuran,” kata peneliti polusi plastik dari Pusat Ketahanan Stockholm, Patricia Villarrubia-Gómez, salah satu penulis laporan penelitian tersebut, kepada The Guardian.

    Baca: Temuan sampah plastik dari aksi bersih-bersih sungai

    Penelitian tersebut mencatat bahwa lima merek menyumbang 24 persen sampah plastik bermerek, dengan 11 persen dari total tersebut berasal dari Perusahaan Coca-Cola, PepsiCo, Nestlé, Danone, dan Altria menempati posisi lima besar.

    “Industri sering menaruh tanggung jawab pada individu,” kata pakar polusi plastik dari 5 Gyres Institute, Marcus Eriksen, yang juga penulis penelitian, kepada The Guardian.

    Padahal, lanjutnya, pengemasan dan penerapan model pengiriman barang sekali pakai inilah yang menyebabkan banyaknya sampah plastik.

    Mengapa temuan tentang sampah plastik global ini penting? Mayoritas plastik terbuat dari bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan bensin.

    Baca: Penanganan sampah plastik harus dilakukan dari sumbernya

    Sehingga produksi bahan plastik berkontribusi terhadap kualitas udara yang tidak sehat dan pemanasan berlebih yang berbahaya bagi planet Bumi.

    Ketika plastik non-biodegradable terurai selama puluhan hingga ratusan tahun, plastik tersebut menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

    Sampah plastik menjadi bahaya bagi satwa liar dan mencemari lingkungan dengan racun ketika plastik tersebut terurai menjadi partikel kecil yang dikenal sebagai mikroplastik.

    Para ilmuwan masih menyelidiki dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia, namun tampaknya hal tersebut tidak memberikan manfaat apa pun bagi kita.

    Baca: Pawai bebas plastik sukses bangun kesadaran konsumen

    Sebuah penelitian baru-baru ini di The New England Journal of Medicine mengaitkan partikel tersebut dengan peningkatan risiko stroke atau serangan jantung pada penderita penyakit jantung.

    Sementara penelitian lain yang dilakukan oleh National Library of Medicine menunjukkan bahwa mikroplastik mungkin menjadi penyebab meningkatnya kasus kanker usus besar pada orang berusia di bawah 50 tahun.

    Tim peneliti juga menyerukan penelitian lebih lanjut mengenai masalah yang ditimbulkan sampah plastik ini.

  • Saset Produk FMCG Penyumbang Terbesar Sampah Plastik, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah

    Saset Produk FMCG Penyumbang Terbesar Sampah Plastik, Apa yang Harus Dilakukan Pemerintah

    7cloud.asia – Kemasan saset (sachet) sekali pakai menjadi salah satu sumber utama sampah plastik di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

    Dilansir aliansizerowaste.id, sampah plastik saset mengambil porsi 16 persen dari total sampah plastik di Indonesia yang berjumlah 768.000 ton per tahun.

    Jumlah sampah plastik dari saset ini diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang karena produksinya belum ada tanda akan dikurangi apalagi dihentikan.

    Greenpeace melaporkan sebanyak 855 miliar saset terjual di pasar global tahun 2020. Asia Tenggara memegang pangsa pasar sekitar 50 persen. Diprediksi jumlah kemasan sachet yang terjual akan mencapai 1,3 triliun pada tahun 2027.

    Tak menutup kemungkinan, angka ini akan terus meningkat seiring dengan pola konsumsi masyarakat.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan jajan bebas plastik

    Awalnya, kemasan jenis ini diciptakan untuk membuat hidup lebih praktis dan ekonomis. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadirannya justru menjadi ancaman bagi lingkungan.

    Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar saat berbincang dengan 7cloud.asia di sela acara Piknik Bebas Plastik pekan lalu mengatakan, sampah saset tidak dapat didaur ulang secara aman dan berkelanjutan serta ditemukan mencemari lingkungan darat maupun laut.

    “Ini karena saset berwarna-warni dan terdiri dari beberapa lapisan. Mulai dari lapisan paling dalam berwarna bening, aluminium foil, lapisan gambar hingga lapisan laminasi,” ujarnya

    Akibatnya, pengusaha malas untuk mengupas lapisan kemasan saset satu per satu. Selain itu, belum ada teknologi yang dapat mendaur ulang sampah saset yang bersifat multilayer ini.

    Akhirnya pengolahan sampah saset hanya diolah menjadi berbagai prodk seperti tas dan sebagainya, yang menurutnya ini tidak menyelesaikan masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh saset.

    Baca: SIKLUS, bisa jadi pilihan untuk kurangi saset

    Ibar menegaskan, perlu aturan yang kuat untuk mengurangi sampah plastik dari saset yang diproduksi fast moving consumers goods atau FMCG.

    Seperti diketahui, hingga saat ini belum ada aturan yang melarang produsen untuk penggunaan plastik saset.

    Tanggung jawab produsen atas sampah dan secara khusus tentang saset tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 75 tahun 2019 tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen.

    Aturan ini mewajibkan produsen, salah satunya industri manufaktur, untuk membuat peta jalan pengurangan sampah dari kemasannya sebesar 30 persen. Namun, di sana tidak tegas disebutkan tentang plastik saset ini.

    Ibar menepis narasi yang dikembangkan pemerintah, bahwa saset tidak dilarang untuk mengakomodasi masyarakat dengan daya beli rendah.

    “Masyarakat beli karena ada pilihan, masalahnya opsi yang ada hanya aset. Ketika masyarakat ingin beli refill atau guna ulang dengan harga terjangkau, tetapi tidak disediakan,” ujarnya.

    Baca: Alasan Pemprov DKI Jakarta tak batasi kemasan saset

     

    Ibar menambahkan, seharusnya ini menjadi tanggung jawab produsen tetapi masih belum ada. Dia mengingatkan, saset disebut murah karena tidak mempertimbangkan biaya lingkungan baik saat produksi maupun setelah dibuang.

    Jika biaya lingkungan juga dihitung, ujarnya, maka harganya bisa jauh lebih mahal.
    Aliansi Zero Waste sejak lama mendorong pemerintah untuk merilis kebijakan pembatasan kemasan saset untuk kurangi sampah plastik.

    Mereka melihat, jika ada aturan yang kuat bisa menggerakan masyarakatvdan produsen untuk melakukannya.

    Ibar mencontohkan, aturan larangan kantung plastik sekali pakai yang dulu mendapat penolakan kini sudah dipraktekkan di banyak kota dan cukup efektif mengurangi sampah plastik.

    “Inisiatif masyarakat saja tidak akan cukup untuk menuntaskan krisis sampah plastik ini, ketika pemerintah dan produsen tidak memprioritaskan pengurangan dan guna ulang plastik,” pungkasnya.

  • Galon Sekali Pakai Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Le Minerale Soal Limbah Plastik PET yang Diproduksinya

    Galon Sekali Pakai Jadi Sorotan, Ini Penjelasan Le Minerale Soal Limbah Plastik PET yang Diproduksinya

    7cloud.asia – Produsen air minum dalam kemasan atau AMDK Le Minerale menyatakan, pihaknya telah menarik kembali sebanyak lebih dari 35.000 ton sampah plastik PET (polyethylene terephthalate) untuk didaur ulang.

    Langkah penarikan sampah plastik PET ini merupakan salah satu upaya sebagai upaya menjalankan Gerakan Ekonomi Sirkular Nasional (GESN).

    “Selama kurang lebih 3 tahun berjalan, Le Minerale telah berhasil menarik kembali sebanyak lebih dari 35.000 ton sampah botol dan galon plastik PET,” kata Sustainability Manager Le Minerale Irene Atmadja dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (10/8/2024).

    Sebelumnya, Komunitas Nol Sampah menyoroti tanggung jawab produsen galon sekali pakai dalam mengurangi sampah plastik.

    Dalam rilis yang disiarkan pada Selasa (30/7/2024), Koordinator Komunitas Nol Sampah Wawan Some mengatakan, produsen galon sekali pakai wajib mendaur ulang sampah kemasan produknya.

    Wawan mendesak pemerintah membuka data produsen mana saja yang sudah mematuhi Permen 75 tahun 2019 tentang Pengurangan Sampah Plastik.

    Baca: Komunitas Nol Sampah soroti tanggung jawab produsen plastik

    “Faktanya saya yakin belum semuanya bisa didaur ulang, belum bisa semuanya ditarik sama mereka walaupun klaim mereka kan katanya ukuran besar akan memudahkan untuk ditarik kembali dan didaur ulang,” kata Wawan.

    Dia menegaskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2018 yang diturunkan menjadi Peraturan Menteri KLHK No 75 tahun 2019 menyebutkan bahwa produsen bertanggung jawab atas sampah plastik yang mereka hasilkan.

    Dalam penjelasannya, Irene Atmadja mengatakan sampah plastik dari Le Minerale tersebut dikelola melalui program Integrated Closed Loop Circular Economy yang turut berkolaborasi dengan berbagai pihak.

    Salah satunya adalah kolaborasi bersama PT Bumi Indus Padma Jaya sebagai pabrik daur ulang foodgrade yang mengolah bekas plastik PET menjadi bahan baku baru.

    Hasil daur ulang diolah menjadi botol Le Minerale baru dan produk lainnya, termasuk produk fesyen.

    Untuk produk fesyen, Le Minerale menggandeng sejumlah merek yang mengolah plastik PET menjadi baju, jaket, sepatu, dan lain sebagainya. Dua dari merek tersebut di antaranya Aerostreet dan Cosmonauts.

    Baca: Penanganan sampah plastik seharusnya dari pengurangan produksi

    Kami, ujarnya, ingin terus mengedukasi konsumen dengan cara yang kreatif bahwa kemasan plastik PET dapat diubah menjadi produk baru yang berguna dan stylish.

    “Kami pun akan segera meluncurkan produk fesyen hasil kolaborasi terbaru dengan brand lokal seperti Pijakbumi dan Kivee,” tambah dia.

    Komitmen terhadap ekonomi sirkular juga diwujudkan melalui partisipasi dalam Festival LIKE 2024 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Dalam kegiatan itu, Le Minerale memperkenalkan mesin Reverse Vending Machine (RVM) untuk pengumpulan botol plastik, hasil kerja sama dengan PlasticPay sejak Mei 2023.

    Sebagai upaya mengedukasi para pengunjung, booth Le Minerale juga dilengkapi dengan permainan edukatif, serta pengalaman interaktif tentang proses daur ulang dan manfaatnya.

    “Dengan mendukung dan berpartisipasi aktif dalam Festival LIKE 2024, Le Minerale berharap dapat menginspirasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengurangan sampah plastik dan daur ulang, serta turut berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi generasi mendatang,” ujar Irene.

    Sumber:Antaranews.com

  • Startup TileGreen dari Mesir Sukses Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan

    Startup TileGreen dari Mesir Sukses Mengubah Sampah Plastik Jadi Bahan Bangunan

    7cloud.asia – Ini adalah TileGreen, perusahaan rintisan asal Mesir yang berusia tiga tahun, di mana para pendirinya sukses mengembangkan teknologi baru untuk mengubah potongan-potongan sampah plastik menjadi ubin bebas semen.

    TileGreen berfokus pada sampah plastik yang tidak diinginkan yang biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah, atau di jalan, misalnya kantong plastik sekali pakai dan wadah makanan lainnya yang tidak dapat didaur ulang dengan aman.

    Perusahaan ini memiliki dua tujuan: membuat bahan bangunan yang menawarkan alternatif untuk ubin berbahan dasar semen yang mencemari lingkungan, dan mengurangi sampah plastik di Mesir.

    Mesir menghasilkan sekitar 4,5 juta ton sampah plastik per tahun. Tingkat daur ulangnya berkisar antara 10 dan 15 persen. Ini adalah angka yang bagus jika dibandingkan dengan angka daur ulang di negara-negara tetangganya.

    ”Tetapi ini menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan yang besar dan bahwa sampah plastik berakhir di tempat-tempat yang tidak diinginkan,” ujar Khaled Raafat, salah satu pendiri dan juga kepala bagian teknologi di TileGreen.

    “Kami menciptakan teknologi dan proses industri, yang dengan itu kami mengubah semua bentuk sampah plastik, khususnya yang bernilai rendah, menjadi bahan bangunan,” kata Khaled Raafat.

    Dia menambahkan, “Kami memproduksi bahan yang disebut komposit agregat polimer, di mana kami mencampur sampah plastik dengan agregat alami seperti pasir dan kerikil untuk menghasilkan pengganti beton. Kami dapat menggunakan komposit ini untuk menghasilkan berbagai produk.”

    Baca: Robries sukses mengubah sampah plastik menjadi furniture cantik

    Pecahan-pecahan plastik kecil ini dicampur dengan pasir untuk menciptakan zat yang dicetak menjadi produk akhir.

    Menurut inisiatif lingkungan global “Black to Blue”, Mesir bertanggung jawab atas 43 persen sampah plastik yang dibuang setiap tahun di Laut Mediterania.

    Pada tahun 2022, Mesir berada di peringkat ke-22 di antara 25 negara, yang disurvei untuk efisiensi kebijakan pengelolaan sampah plastik mereka oleh inisiatif yang sama.

    Dengan memproduksi ubin bebas semen, TileGreen dapat membantu mengurangi dampak lingkungan yang sangat besar dari sektor konstruksi, kata Mohamed El Zayet, dosen di Universitas Amerika di Kairo.

    “Bangunan dan konstruksi adalah sektor yang sangat besar dan memiliki banyak industri pemasok tidak langsung dan langsung,” katanya.

    Dampak lingkungan dari sektor ini berasal dari pembuatan bahan bangunan seperti batu bata, semen, baja, dan lainnya. Pembuatan bahan-bahan ini menghasilkan emisi karbon yang pada akhirnya berkontribusi terhadap perubahan iklim.

    “Misalnya, produksi satu kilogram semen menghasilkan hampir satu kilogram CO2, yang merupakan gas rumah kaca. Oleh karena itu, kita berbicara tentang industri yang berdampak buruk pada lingkungan,” tambah dia.

    Konstruksi dan real estat secara luas dipandang sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Mesir. Kedua sektor tersebut menyumbang hampir 19 persen dari PDB negara tersebut pada 2022, menurut angka terbaru Bank Sentral Mesir.

    Baca: Sumber utama sampah plastik ini harus dikurangi

    Namun, industri konstruksi dan manufaktur bertanggung jawab atas 23 persen emisi CO2, menurut angka pemerintah.

    Sementara itu, industri manufaktur negara Afrika Utara tersebut dipelopori oleh sektor semen, yang menyumbang hampir 14 persen emisi CO2, menurut laporan 2016 oleh Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan.

    Di sebuah pabrik kecil yang terletak 49 mil di sebelah timur Kairo, TileGreen memproduksi sekitar 5 ribu ubin per bulan.

    “Saat ini kami memproduksi ubin kait, tetapi teknologi kami memungkinkan kami untuk memproduksi batu bata bangunan, ubin lantai, pilar, berbagai produk pracetak, serta furnitur perkotaan. Teknologi kami dapat diaplikasikan untuk memproduksi lebih dari 40 produk,” kata Raafat.

    Sejak didirikan, perusahaan ini telah dikontrak untuk pengadaan ubin interlocking untuk beberapa proyek percontohan yang dilakukan oleh pengembang real estate lokal.

    Perusahaan multinasional di bidang kebutuhan konsumen, yang berpusat di Kairo yang berupaya mengurangi jejak karbonnya juga menggandeng TileGreen.

    Dua tahun lalu, TileGreen memproduksi ubin interlocking untuk jalur di dalam kompleks administrasi SODIC, pengembang real estate terkemuka. Ahmed El-Halawany, kepala pengembangan SODIC menyambut baik langkah ini.

    Keahlian TileGreen dan hasrat mereka untuk menghasilkan bahan bangunan yang sangat menarik dari segi teknis, kualitas, dan estetika, ujarnya, memberi kami kesempatan untuk berkolaborasi dengan perusahaan rintisan seperti itu.

    Baca: NewBitumen sukses menyulap sampah plastik menjadi conblock

    ”Tidak hanya karena bahan bangunan itu berkualitas tinggi, tetapi juga karena secara estetika menarik. Ini memberi saya peluang besar untuk menerapkannya di berbagai proyek,” katanya.

    Perusahaan rintisan itu saat ini sedang mendiskusikan peluang untuk lebih banyak proyek dengan SODIC. Sejauh ini, TileGreen telah mengumpulkan dana total 650 ribu dolar melalui tiga putaran investasi yang dipimpin oleh pemodal awal, serta perusahaan modal ventura.

    TileGreen adalah salah satu dari banyak perusahaan rintisan yang muncul di Mesir dalam beberapa tahun terakhir, untuk menawarkan solusi yang memastikan keberlanjutan dan transformasi hijau di berbagai sektor.

    Menurut El Zayat, perusahaan rintisan ini membutuhkan lebih banyak dukungan pemerintah agar dapat berkembang.

    “Kita perlu menawarkan insentif keuangan kepada perusahaan rintisan, baik berupa pajak maupun fasilitas pembiayaan, sehingga mereka dapat terus eksis di pasar Mesir dan terus tumbuh,” jelasnya.

    “Sementara itu, kita juga perlu meningkatkan kesadaran pengembang dan pengguna bahwa opsi semacam itu tersedia di pasar.

    Setiap desainer yang ingin membangun bangunan hijau perlu mengetahui terlebih dahulu material hijau apa yang ada di luar sana,” tambahnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Simak Cara Pegiat Lingkungan Asal Texas Menyelidiki Bagaimana Penanganan Sampah Plastik di Kotanya

    Simak Cara Pegiat Lingkungan Asal Texas Menyelidiki Bagaimana Penanganan Sampah Plastik di Kotanya

    7cloud.asia – Pegiat lingkungan asal Texas yang penasaran dengan komitmen daur ulang kotanya, memasukkan AirTag ke dalam sampah plastik yang dia buang untuk melihat apa yang terjadi pada plastik tersebut setelah diambil.

    Kecurigaan Brandy Deason bahwa sampah plastik yang terkumpul di kotanya, Texas tidak didaur-ulang akhirnya terkonfirmasi.

    Brandy Deason, koordinator keadilan iklim untuk Air Alliance Houston—sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan mengurangi dampak polusi udara terhadap kesehatan masyarakat—mengatakan, dia khawatir dengan program “daur ulang bahan kimia” baru di Houston.

    Program tersebut mencantumkan jenis plastik tertentu yang sulit didaur ulang seperti Styrofoam, dapat diterima.

    “Orang-orang sangat peduli, dan mereka melakukan banyak hal untuk mencoba memilah [barang daur ulang],” kata Deason kepada Newsweek pada Senin (2/9/2024).

    Baca: Penanganan sampah plastik harusnya dimulai dari hulunya

    “Ini bukan masalah kesalahan kami. Ini masalah kelebihan produksi barang-barang yang diketahui tidak dapat didaur ulang di industri plastik.” imbuhnya.

    Investigasi Deason yang mendukung AirTag menemukan bahwa hampir setiap tas yang dia masukkan pelacak akhirnya mengiriminya pesan dari bisnis penanganan limbah 20 mil barat laut pusat kota Houston bernama Wright Waste Management.

    Perusahaan, yang disebut-sebut sebagai pendaur ulang karton, berupaya untuk beroperasi sebagai pendaur ulang plastik dan “sampah padat” tahun lalu

    Perusahaan ini merupakan bagian dari inisiatif daur ulang yang diluncurkan pada tahun 2022 yang berupaya menjadi model nasional untuk daur ulang plastik tingkat lanjut.

    Namun permohonan Wright untuk mendaur ulang plastik masih ditinjau hampir dua tahun kemudian, dan plastiknya pun semakin menumpuk.

    Sebagai bagian dari investigasi bersama antara CBS News dan Inside Climate News, Deason pergi ke fasilitas Wright untuk melihat secara langsung kemajuan inisiatif dua tahun ini.

    Baca: Saset Produk FMCG jadi penyumbang terbesar sampah plastik

    Dari total 12 AirTag yang ditempatkan di kantong daur ulang terpisah, sembilan di antaranya berakhir di Wright.

    Video drone CBS menunjukkan tumpukan sampah plastik yang belum diolah menumpuk setinggi lebih dari 10 kaki atau sekitar 3 meter di fasilitas pengelolaan sampah.

    Ketika video tersebut diperlihatkan dan diberi tahu bahwa permohonan Wright untuk mengolah plastik masih belum disetujui oleh regulator lingkungan hidup negara bagian.

    Pejabat tinggi limbah padat Houston, Mark Wilfalk, mengatakan bahwa dia terkejut namun plastik masih lebih baik di fasilitas Wright daripada di tempat pembuangan sampah.

    Newsweek menghubungi Wright Waste Management dan Kantor Ketahanan dan Keberlanjutan Houston melalui email untuk memberikan komentar pada Senin pagi.

    Wilfalk juga mengakui Houston telah mengumpulkan 250 ton sampah plastik sejak akhir tahun 2022, belum ada satupun yang didaur ulang.

  • Riset: India Tercatat sebagai Negara Penghasil Sampah Plastik Terbesar di Dunia

    Riset: India Tercatat sebagai Negara Penghasil Sampah Plastik Terbesar di Dunia

    7cloud.asia – Sebuah studi terbaru mengungkapkan India menjadi penyumbang sampah plastik terbesar di dunia dengan total produksi 9,3 juta ton setiap tahun.

    Posisi India ini menggeser China yang dalam satu dekade terakhir berhasil menurunkan sampah plastik yang dihasilkannya dan kini berada di posisi ke-4 setelah Nigeria dan Indonesia.

    Data sampah plastik yang dilepas ke lingkungan di tiap negara ini diungkapkan dalam jurnal ilmiah Nature oleh para peneliti dari Universitas Leeds di Inggris.

    Berikut ini adalah 10 negara teratas berdasarkan produksi sampah makroplastik:
    1. India: 9,3 juta ton
    2. Nigeria: 3,5 juta ton
    3. Indonesia: 3,4 juta ton
    4. China: 2,8 juta ton
    5. Pakistan: 2,6 juta ton
    6. Bangladesh: 1,7 juta ton
    7. Rusia: 1,7 juta ton
    8. Brasil: 1,4 juta ton
    9. Thailand: 1 juta ton
    10. Kongo: 1 juta ton

    Baca: KTT Plastik Ottawa gagal hasilkan kesepakatan kurangi sampah plastik

    Penelitian ini menggunakan model kecerdasan buatan canggih untuk melacak sampah plastik di lebih dari 50.000 kota di seluruh dunia.

    Mereka menemukan bahwa dari 50,2 juta metrik ton plastik yang dilepaskan ke lingkungan setiap tahunnya. Produksi sampah plastik India yang mencapai 9,3 juta ton ini dapat memenuhi sekitar 604 Taj Mahal.

    Dilansir dari South China Morning Post, Selasa (10/9/2024) salah satu faktor yang mendukung tingginya sampah plastik yang mencemari di India karena kurangnya infrastruktur untuk mengumpulkan dan mengelola sampah plastik.

    Kabar baiknya, India sedang berupaya untuk memperbaiki pengelolaan sampahnya, kebijakan yang sudah ada tetap terfragmentasi dan sulit ditegakkan.

    “Angka-angka tersebut mewakili sebagian besar material yang dihasilkan di India. Jumlah sampah padat kota yang dibakar di India setara dengan empat negara pembakar sampah terbesar berikutnya yaitu Indonesia, Nigeria, China, dan Rusia,” kata Ed Cook, salah satu peneliti.

    Baca: Harapan aktivis lingkungan terkait sampah plastik

    Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa China sebagai produsen sampah plastik terkemuka di dunia.

    Namun upaya terkoordinasi oleh Beijing telah secara signifikan mengurangi emisi negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir. China menyumbang 2,8 juta ton emisi sampah plastik.

    Ed Cook mengatakan, China telah berinvestasi besar dalam pengumpulan dan pengolahan sampah padat kota dalam 15 tahun terakhir, yang berdampak besar pada mitigasi polusi plastik.

    Namun, Cook mengingatkan bahwa, dalam hal kekayaan, China sudah mendekati negara berpendapatan tinggi, sedangkan India masih berada di golongan berpendapatan rendah.

    “Akan sulit bagi India untuk mengikuti jalur yang sama seperti China karena mungkin tidak memiliki sumber daya untuk melakukannya,” tambah Cook.

    Baca: Perdebatan guna ulang vs daur ulang sampah plastik di Eropa

    Dikutip dari NDTV, Dr Costas Velis, peneliti utama dalam studi ini, menyatakan kebutuhan mendesak untuk mengatasi pembakaran terbuka dan sampah yang tidak diangkut.

    Ia berpendapat bahwa pengumpulan sampah harus dianggap sebagai kebutuhan mendasar, seperti layanan air dan sanitasi.

    Studi tersebut menyerukan pengembangan ‘Perjanjian Plastik’ global yang lebih ambisius untuk mengatasi sumber polusi plastik dan mengurangi dampaknya.

    Dr Josh Cottom, penulis utama laporan tersebut, menekankan bahwa peningkatan pengelolaan sampah padat dapat secara signifikan mengurangi polusi plastik dan meningkatkan kualitas hidup miliaran orang.

    Para peneliti berharap temuan mereka akan membantu para pembuat kebijakan dalam menciptakan strategi yang efektif untuk memerangi polusi plastik secara global.

     

  • BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    BRIN Rekomendasikan Pendekatan Ekoregion dalam Pengelolaan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Pengelolaan sampah dengan pendekatan ekoregion dapat diterapkan sebagai salah satu langkah untuk mengatasi isu sampah plastik di wilayah Indonesia yang luas.

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova menjelaskan, pendekatan ekoregion adalah pendekatan dalam satu kawasan ekologi.

    “Sebenarnya paling mudah kita lihatnya satu dari area Sumatera saja, area Jawa saja, Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Maluku, dan area Nusa Tenggara saja,” kata Reza dalam diskusi yang diadakan BRIN di Jakarta, Rabu (11/9/2024) seperti dikutip Antaranews.com.

    Reza menambahkan, pihaknya merekomendasikan kepada pemerintah, pertama, kita harus punya minimal RDF per masing-masing wilayah ekoregion tersebut.

    Baca: Mengenal RDF, teknik pengelolaan sampah plastik menjadi energi

    Refuse Derived Fuel (RDF) adalah teknik pengelolaan sampah anorganik yang diolah untuk menghasilkan listrik atau digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.

    Sampah diolah menjadi lebih kecil atau dibentuk pellet yang kemudian digunakan menjadi bahan bakar.

    Jika tidak memungkinkan dibangun fasilitas RDF, kata Reza, maka dapat dilakukan penambahan insinerator per ekoregion tersebut.

    Hal ini untuk memastikan sampah atau limbah dapat diolah tanpa harus dibawa melalui perjalanan antar-pulau yang akan menimbulkan biaya tambahan.

    Baca: Jakarta lebih memilih RDF ketimbang ITF untuk pengelolaan sampah plastik

    Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN itu memberi contoh bagaimana untuk melakukan pengelolaan sampah yang dihasilkan di wilayah timur Indonesia terkadang harus dibawa ke Pulau Jawa agar dapat dimanfaatkan ulang sebagai bahan bakar atau bahan baku produk daur ulang.

    Dengan demikian, katanya, maka selain mendukung upaya pengurangan sampah di wilayah masing-masing, juga menghasilkan bahan baku yang dibutuhkan oleh industri di Indonesia.

    Saat ini sekitar 20-30 persen kebutuhan bahan baku sampah plastik dan kertas di Indonesia masih dipenuhi melalui impor.

    Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), timbulan sampah nasional mencapai 38,5 juta ton pada 2023 dengan sekitar 37,71 persen diantaranya belum terkelola atau sekitar 14,5 juta ton.

    Sumber:Antaranews.com