Tag: iran

  • Situasi di Iran Berangsur Tenang Usai Dilanda Kerusuhan

    Situasi di Iran Berangsur Tenang Usai Dilanda Kerusuhan

    7cloud.asia – Situasi di seluruh Iran kembali tenang pada Sabtu (10/1/2026) atau sehari setelah kerusuhan publik yang meluas yang menewaskan 6 orang di negara itu.

    “Menurut pengamatan di lapangan, situasi sosial di berbagai kota di seluruh negeri sudah tenang,” kata kata juru bicara kepolisian Iran, Saeed Montazer Al-Mahdi seperti dikutip Antaranews.com.

    Juru bicara kepolisian tersebut menjelaskan bahwa hanya ada sejumlah kecil kasus di beberapa kota yang melibatkan kelompok-kelompok yang ia sebut sebagai “teroris.”

    Aksi protes di Iran dimulai pada akhir Desember di tengah melemahnya mata uang lokal, rial Iran. Para pengunjuk rasa mengeluhkan gejolak nilai tukar yang tajam dan dampaknya terhadap harga grosir dan eceran.

    Baca: Militer AS lancarkan serangan ke Iran

    Presiden AS, Donald Trump telah berulang kali mengancam otoritas Iran di tengah protes tersebut.

    Pada Jumat (9/1/2026) Trump mengatakan bahwa Washington akan terlibat dan akan “menghantam mereka dengan sangat keras di titik lemah mereka” jika para pengunjuk rasa terbunuh selama kerusuhan di Iran.

    Sebelumnya pada Jumat, media Iran melaporkan bahwa para pengunjuk rasa merusak properti milik pribadi maupun milik negara di ibu kota Teheran.

    Sementara itu, walikota ibu kota itu, Alireza Zakani, berbicara tentang serangan yang dilakukan oleh peserta unjuk rasa pada Kamis (8/1/2026) terhadap fasilitas pasukan keamanan, pembakaran bus dan truk pemadam kebakaran, serta penyerangan terhadap bank.

    Baca: Iran mengecam standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya

    Sementara itu, televisi pemerintah melaporkan adanya korban jiwa selama peristiwa tersebut, tetapi tidak menyebutkan dari pihak mana mereka berasal.

    Iran sedang mengalami periode inflasi tinggi, dengan Bank Sentral menetapkan tingkat inflasi tahunan sebesar 38,9 persen.

    Nilai tukar dolar AS berada di sekitar 50.000 rial (sekitar Rp842) sebelum penarikan AS dari kesepakatan nuklir pada Mei 2018, kini telah melonjak menjadi sekitar 1,4 juta rial (sekitar Rp23.595) di pasar terbuka.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Iran Kecam Campur Tangan AS dan Israel untuk Ciptakan Destabilisasi di Iran

    Iran Kecam Campur Tangan AS dan Israel untuk Ciptakan Destabilisasi di Iran

    7cloud.asia – Otoritas Iran melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia mengecam keterlibatan Amerika Serikat dan Israel di belakang kerusuhan yang terjadi di Iran dalam beberapa waktu terakhir.

    Dalam keterangan tertulisnya kepada media, disebutkan unjuk rasa pada Minggu (28/12/2025) dilatarbelakangi reaksi akibat dampak negatif fluktuasi mata uang terhadap kegiatan bisnis dan daya beli.

    Tuntutan utama mereka adalah untuk mengembalikan stabilitas pasar dan menerapkan langkah-langkah ekonomi yang efektif. Unjuk rasa itu sejak awal bersifat umum.

    Unjuk rasa berlangsung damai, berorientasi pada serikat pekerja dan tuntutan. Para pengunjuk rasa berusaha menyampaikan tuntutan dengan tenang tanpa mengganggu ketertiban umum.

    Republik Islam Iran berpegang teguh pada hukum dan praktik hak kebebasan berekspresi dan berunjuk rasa secara damai, dan mengakui hak-hak ini dalam kerangka konstitusi dan komitmen internasional, termasuk Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik (ICCPR).

    Baca: Situasi di Iran berangsur tenang usai dilanda kerusuhan

    Ditegaskan, semua otoritas dan lembaga terkait telah memperhatikan tuntutan damai dan sah dari warga negara dan menggunakan kapasitas yang dimiliki untuk memenuhi tuntutan.

    “Dalam konteks ini, tidak ada tindakan yang diambil terhadap para pengunjuk rasa damai,” demikian Kedutaan Besar Iran dalam pernyataannya.

    Namun, otoritas Iran menekankan pihaknya tidak menolerir tindakan kekerasan terorganisir yang mengganggu ketertiban umum. Menurut dokumentasi yang ada, dalam beberapa kasus, unjuk rasa damai telah disalahgunakan secara sengaja untuk menyulut kekerasan.

    Aksi anarkis ini disebut berafiliasi dengan kekuatan yang disetir dari luar, sehingga menyebabkan pengrusakan properti publik, penyerangan terhadap lembaga penegak hukum, dan penggunaan alat pembakar dan bahkan senjata api.

    “Tindakan-tindakan ini tidak ada hubungannya dengan tuntutan ekonomi yang sah dan dianggap berada di luar cakupan perlindungan terhadap unjuk rasa damai menurut hukum hak asasi manusia internasional,” imbuh pernyataan tersebut.

    Baca: Iran mengecam standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya

    Otoritas Iran menyoroti sikap dan intervensi terang-terangan dari beberapa aktor asing, terutama AS dan rezim Zionis.

    Pernyataan dan sikap yang eksplisit dan intervensionis dari para pejabat kedua pihak ini, yang mengandung provokasi untuk melakukan kekerasan, hasutan untuk menimbulkan kerusuhan, ancaman penggunaan kekerasan, dan melegitimasi tindakan destabilisasi internal.

    Teheran menegaskan, ini merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip dasar hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, terutama prinsip kedaulatan nasional, nonintervensi dan larangan ancaman atau penggunaan kekerasan.

    Secara khusus, Teheran mengecam pernyataan Presiden dan beberapa pejabat AS, yang secara eksplisit mengandung ancaman dan provokasi untuk melakukan kekerasan di dalam Iran, juga sikap Perdana Menteri Israel yang secara nyata mendukung kerusuhan di Iran.

    “Ini telah memicu intensifikasi kekerasan teroris dan destabilisasi sosial,” tandasnya.

    Iran menekankan bahwa setiap hasutan, dukungan, atau fasilitasi tindakan kekerasan dan subversif di dalam sebuah negara merdeka dianggap sebagai tindakan yang melanggar hukum internasional dan menimbulkan tanggung jawab langsung dari negara yang campur tangan.

    Baca: Serangan Israel ke Iran langgar Piagam PBB

  • Iran Isyaratkan Kesepakatan Sangat Mungkin Tercapai, Jika AS Fokus pada Pengembangan Senjata Nuklir Iran

    Iran Isyaratkan Kesepakatan Sangat Mungkin Tercapai, Jika AS Fokus pada Pengembangan Senjata Nuklir Iran

    7cloud.asia – Seorang pejabat senior Iran pada Kamis (26/2/2026) menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat “sangat mungkin tercapai” dalam waktu dekat.

    Syarat utamanya adalah kedua pihak sepakat bahwa inti dari perundingan di Jenewa saat ini adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

    Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, menegaskan melalui akun X miliknya bahwa larangan senjata nuklir ini sejalan dengan “fatwa” (perintah agama) Ali Khamenei.

    Shamkhani, yang merupakan kepala Dewan Pertahanan yang baru dibentuk, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan Jenewa, memiliki “dukungan dan wewenang penuh untuk kesepakatan tersebut.”

    Status program nuklir Iran saat ini masih belum jelas menyusul serangan pada Juni 2025 terhadap tiga fasilitas nuklir utama, yang pada saat itu diklaim oleh Presiden AS Donald Trump telah “menghancurkan” infrastruktur nuklir negara tersebut.

    Sebelumnya, Iran mengajukan proposal kepada Amerika Serikat yang disebut sebagai uji “keseriusan” menjelang putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa, menurut laporan IRNA pada Kamis (26/2/2026).

    Baca: Donald Trump perintahkan serangan militer ke 7 negara sepanjang 2025

    Kantor berita Iran itu melaporkan draf proposal itu diserahkan kepada pihak AS melalui mediator Oman menjelang perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Jenewa, Swiss.

    “Menolaknya sama saja dengan membenarkan kecurigaan awal bahwa Amerika Serikat tidak sungguh-sungguh berkomitmen pada diplomasi dan bahwa sikap diplomatik mereka hanyalah permainan,” sebut IRNA menjelang putaran baru perundingan yang menentukan.

    Namun, isi proposal tersebut tidak diungkapkan.

    Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi tiba di Jenewa pada Rabu (25/2/2026) malam didampingi wakilnya, Majid Takht-Ravanchi, dan tim ahli ahli nuklir, hukum, dan ekonomi.

    Araghchi kemudian bertemu dengan Menlu Oman Badr Al-Busaidi untuk membahas garis besar perundingan dan draf proposal.

    Araghchi menegaskan bahwa keberhasilan perundingan memerlukan “keseriusan pihak lain” serta menghindari “perilaku dan sikap yang kontradiktif,” menurut media.

    Baca: Serangan militer AS ke Iran dinilai inkonstitusional

    Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan kedua diplomat meninjau proposal yang akan disampaikan delegasi Iran dalam perundingan untuk mencapai kesepakatan.

    Draf tersebut didasarkan pada prinsip panduan yang disepakati dalam putaran sebelumnya.

    Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin Utusan Khusus Steve Witkoff juga bertemu dengan Menlu Oman setelah tiba di Jenewa pada Kamis (26/2/2026) pagi.

    Menjelang keberangkatannya, Araghchi menyatakan Iran akan melanjutkan perundingan guna mencapai kesepakatan yang adil sesegera mungkin.

    Ia menyebut putaran baru itu sebagai “kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

    Setelah putaran terakhir pada 17 Februari, kedua pihak menilai hasil pembicaraan positif karena menyepakati prinsip-prinsip panduan.

    Perundingan tak langsung itu berlangsung di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Teluk Persia dan latihan militer Garda Revolusi Iran (IRGC).

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Israel dan Amerika Serikat Lancarkan Serangan ke Iran

    Israel dan Amerika Serikat Lancarkan Serangan ke Iran

    7cloud.asia – Jet tempur zionist Israel melancarkan serangan udara ke Iran, kata menteri pertahanan Israel, Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

    Dikutip dari reuters.com, militer Israel telah membunyikan sirene serangan udara secara protektif di berbagai wilayah di seluruh negeri untuk mempersiapkan masyarakat terhadap kemungkinan peluncuran rudal dari Iran ke arah Israel sebagai balasan.

    Media pemerintah Iran melaporkan ledakan telah terdengar sejumlah kota di Teheran menyusul serangan mendadak ke Iran ini dengan apa yang disebut Israel sebagai serangan pencegah terhadap peluncuran rudal Teheran.

    Pada saat serangan terjadi, IDF mengirimkan peringatan nasional kepada seluruh warga untuk tetap berada di dekat tempat yang dilindungi.

    Dilansir reuters.com, seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan, operasi Israel terhadap Iran pada hari Sabtu pagi ini dikoordinasikan dengan AS.

    Operasi tersebut telah direncanakan selama berbulan-bulan dan tanggal peluncurannya telah diputuskan beberapa minggu yang lalu, tambah pejabat tersebut.

    Baca: Iran minta AS fokus pada pengembangan senjata nuklir Iran

    Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah video yang diunggah di akun @realDonaldTrump mengatakan, “Beberapa waktu lalu militer AS memulai operasi tempur besar di Iran.”

    “Tujuan kami adalah untuk membela rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman nyata dari rezim Iran.”

    Iran “tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.”

    “Kami berulang kali berupaya untuk membuat kesepakatan.”

    Iran “berusaha membangun kembali program nuklirnya.”

    Iran sedang mengembangkan rudal jarak jauh yang mengancam AS dan negara lain.”
    “Kami akan menghancurkan rudal mereka dan meluluhlantakkan industri rudal mereka.”

    “Kita akan memusnahkan angkatan laut mereka.”
    “Kita akan memastikan bahwa Iran tidak memperoleh senjata nuklir.”

  • Tidak Secara Tegas Mengecam Serangan Israel ke Iran, Sikap Kemlu Dipertanyakan Warganet

    Tidak Secara Tegas Mengecam Serangan Israel ke Iran, Sikap Kemlu Dipertanyakan Warganet

    7cloud.asia – Pemerintah Republik Indonesia sangat menyesalkan gagalnya perundingan antara AS dan Iran, yang telah berdampak pada eskalasi militer di kawasan Timur Tengah.

    Dalam pernyataan yang dilansir di akun X resmi Kementerian Luar Negeri @Kemlu_RI pada Sabtu (28/2/2026), Indonesia menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri dan mengedepankan dialog dan diplomasi.

    Dalam pernyataan itu, Kemlu RI kembali menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara serta menyelesaikan perbedaan melalui cara damai.

    Pemerintah RI, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi.

    Peningkatan ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas kawasan serta perdamaian dan keamanan dunia.

    Baca: Israel dan Amerika Serikat lancarkan serangan ke Iran

    WNI di wilayah terdampak diimbau tetap tenang, waspada, mengikuti arahan otoritas setempat, dan menjaga komunikasi dengan Perwakilan RI terdekat.

    Namun, oleh warganet pernyataan Kemlu ini dinilai kurang tegas dan terkesan berpihak kepada Israel dan Amerika Serikat. Warganet mempertanyakan sikap Kemlu yang tidak secara tegas menyebut Israel dan AS sebagai agresor.

    “Seluruh pihak menahan diri???”…Bisa ga bilang: “Amerika dan Israel tahan diri, bangsat!” tulis @GobloSayaBilang

    “Eskalasi militer”? Kenapa gak menyebut Israel sbg pihak yg menyerang pertama kali? Kenapa seakan-akan tidak ada biang kerok dg keributan ini?… Kalian memang cocok jadi anak buah Netanyahu di BOP.” tulis pemilik akun @mana_buktinya

    “Ga ada mengutuk-mengutuknya gitu min @Kemlu_RI ? Sungkan ya karena kalian ud 1 geng ?!” tulis @kapalapilsener

    Baca: Iran akan gunakan haknya untuk membalas serangan Israel dan AS

    Sedangkan pemilik akun @agus******* menyertakan statemen Perdana Menteri Malaysia @AnwarIbrahim yang dengan tegas mengecam serangan Israel dan Amerika ke Iran tersebut.

    Sikap warganet ini tak lepas dari kekecewaan mereka terhadap langkah Presiden Prabowo Subianto yang memutuskan Indonesia bergabung dengan Board of Peace yang diinisiasi Presiden AS, Donald Trump

    Langkah ini oleh sejumlah kalangan dinilai bertentangan dengan prinsip bebas aktif yang selama ini dianut Indonesia dalam diplomasi luar negerinya.

    “Mana kemaren yg bilang Indonesia sebagai anggota BoP bisa mengubah dari dalam dan bisikin kuping Netanyahu?” tulis akun @sikumannakal

  • Iran Akan Gunakan Haknya untuk Membalas Serangan Israel dan AS

    Iran Akan Gunakan Haknya untuk Membalas Serangan Israel dan AS

    7cloud.asia – Pemerintah Iran mengecam serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel ke wilayahnya pada Sabtu (28/2/2026) pagi.

    Dalam pernyataan resminya kepada media, Kedutaan Besar Iran di Indonesia menebut Israel dan AS telah melakukan serangan terhadap lokasi-lokasi sipil dan infrastruktur vital di Tehran serta beberapa kota lainnya.

    “Serangan ini melanggar integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran,“ demikian pernyataan Duta Besar Iran di Jakarta.

    Disebutkan, serangan Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Republik Islam Iran
    merupakan pelanggaran terhadap Pasal 2 ayat (4) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
    dan merupakan tindakan agresi yang nyata terhadap Republik Islam Iran.

    Baca: Israel dan Amerika Serikat lancarkan serangan ke Iran

    Menanggapi agresi Israel tersebut, Tehran menyatakan menjadi hak yang sah dan legitimat Republik Islam Iran berdasarkan Pasal 51 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    “Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menggunakan hak tersebut sepenuhnya dalam rangka mempertahankan integritas teritorial dan kedaulatan nasional Republik Islam Iran,“ imbuh kedutaan Iran.

    Iran akan memberikan respons yang tegas dan kuat terhadap agresi rezim Zionis Israel dan Amerika Serikat.

    Sebagai negara pendiri PBB yang bertujuan mencegah agresi, pelanggaran perdamaian, dan ancaman terhadap perdamaian, Republik Islam Iran menegaskan tanggung jawab Dewan Keamanan PBB untuk segera mengambil tindakan dalam menghadapi pelanggaran perdamaian dan keamanan internasional akibat agresi Israel terhadap Iran.

    Baca: Donald Trump bertanggung-jawab atas serangan ke 7 negara sepanjang 2025

    Republik Islam Iran meminta Ketua dan para Anggota Dewan Keamanan untuk segera mengambil langkah dalam hal ini.

    Kedutaan Besar Iran di Indonesia, dengan merujuk pada berbagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB, hukum internasional, hak asasi manusia, dan hukum humaniter internasional yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis dalam beberapa tahun terakhir, dengan tegas mengecam tindakan agresif tersebut.

    Tehran memandang tindakan Washington dan Tel Aviv sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan regional maupun internasional.

    “Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Indonesia berharap agar Pemerintah dan rakyat Indonesia, para tokoh politik, organisasi keagamaan dan Islam, kalangan akademisi, serta insan media untuk secara tegas dan terbuka mengecam dimulainya perang dan agresi terhadap wilayah Republik Islam Iran,“ pungkasnya.

  • Iran Melancarkan Serangan Balasan ke Israel dan Fasilitas Militer AS, Kawasan Timur Tengah Memanas

    Iran Melancarkan Serangan Balasan ke Israel dan Fasilitas Militer AS, Kawasan Timur Tengah Memanas

    7cloud.asia – Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah, Sabtu (28/2/2026).

    Serangan itu menyasar pasukan AS di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA). Bahrain mengonfirmasi bahwa markas besar Armada Kelima Angkatan Laut AS di negara tersebut menjadi sasaran serangan rudal.

    Armada Kelima AS yang bermarkas di Bahrain menjadi salah satu instalasi militer utama Amerika Serikat di kawasan Teluk.

    Sementara itu, Kementerian Pertahanan Qatar menyatakan, rudal Iran yang menargetkan wilayahnya dicegat oleh sistem pertahanan udara Patriot. Ledakan juga terdengar di ibu kota Qatar, Doha, tak lama setelah pernyataan tersebut disampaikan.

    Ledakan juga terjadi di Kuwait. Di UEA, ledakan keras terjadi di ibu kota, Abu Dhabi yang menjadi lokasi pangkalan yang menampung personel militer AS.

    Baca: Iran akan gunakan haknya untuk membalas serangan Israel dan AS

    Bahkan di Palm, resor termewah di Dubai, ledakan mengguncang bangunan dan menghantam sebuah hotel mewah, membuat penduduk yang panik berlari mencari perlindungan saat rudal dan pencegat melesat di langit.

    Serangan balasan Iran yang melesat melintasi negara-negara Teluk ini membenarkan kekhawatiran lama para pemimpin mereka bahwa Teheran dapat membawa perang ke depan pintu mereka

    Dilansir reuters.com, serangan ini kemungkinan akan memperkuat dukungan para penguasa Arab terhadap serangan AS-Israel.

    Serangan balasan Iran ini adalah tanda yang jelas bahwa konflik telah meluas melampaui perbatasan Iran – seperti yang telah diperingatkan Teheran.

    “Yang sekarang telah terbukti adalah bahwa kita – bukan Amerika Serikat – berada di garis tembak,” kata Dr. Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center.

    Baca: Warganet pertanyakan sikap Kemlu RI yang tidak mengecam serangan Israel ke Iran

    “Ketika Iran menyerang, mereka menyerang Teluk terlebih dahulu dengan dalih menargetkan pangkalan AS.”

    Para analis mengatakan serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tidak ada sekutu AS di kawasan itu yang tidak dapat dijangkau, dan untuk meningkatkan biaya mendukung kampanye Washington.

    “Bahayanya adalah bahwa kesalahan perhitungan apa pun dapat mendorong kawasan itu dari pertukaran sinyal menjadi perang terbuka,” tambah al Ketbi.

    Sumber-sumber di Teluk mengatakan bahwa dengan menargetkan negara-negara Teluk yang kaya minyak, Teheran “menginternasionalkan medan perang” dan mengancam aliran minyak global, bukan hanya keamanan regional.

    Bagi ekonomi yang berkembang pesat seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab — yang bergantung pada ruang udara terbuka, jalur pelayaran yang aman, dan perdagangan — konflik yang lebih luas akan sangat mengganggu.

    Baca: Donald Trump bertanggung-jawab atas serangan militer AS ke 7 negara sepanjang 2025

    Untuk membingkai perang sebagai dorongan untuk perubahan rezim di Iran, Trump telah menjadikannya eksistensial, meningkatkan risiko bahwa Teheran akan menyerang balik, kata Mohammed Baharoon, direktur jenderal Pusat Penelitian Kebijakan Publik Dubai (B’huth).

    “Jika Iran salah perhitungan dan melakukan tindakan perang terhadap negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk, konflik akan berubah secara fundamental. Orang-orang tidak bisa hanya berdiri diam sementara nyawa melayang dan aset hancur dan tidak melakukan apa pun.”

    Analis Teluk, Abdelkhaleq Abdulla, mengatakan Iran melakukan kesalahan strategis dengan menargetkan negara-negara tetangganya yang terdekat.

    “Adalah tindakan bodoh bagi Iran untuk mengasingkan orang-orang yang paling dekat dengannya,” kata Abdulla.

    “Teheran mungkin percaya bahwa mereka menargetkan pangkalan militer AS, tetapi negara-negara Teluk melihat ini sebagai tindakan agresi yang terang-terangan—pelanggaran kedaulatan mereka dan serangan terhadap tanah mereka.”

  • Transisi Kepemimpinan Iran Pasca Meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Transisi Kepemimpinan Iran Pasca Meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    7cloud.asia – Pemimpin tertinggi Iran meninggal Ayatullah Ali Khamenei meninggal akibat serangan rudal Amerika Serikat dan Israel, ke Tehran Sabtu (28/2/2026).

    Meninggalnya Ali Khamenei merupakan kehilangan besar bagi negeri para mullah ini. Namun, pengamat Timur Tengah Universitas Padjadjaran Dina Sulaeman mengatakan, transisi kepemimpinan di Iran dipastikan masih akan berjalan mulus.

    Pun demikian halnya dengan keberlanjutan pemerintahan Republik Islam Iran tetap akan berjalan meski serangan AS dan Israel tetap berlanjut.

    Hal ini karena, sistem ideologis dan institusional Iran yang sudah berjalan selama empat dekade telah matang dan memiliki struktur kekuasaan berlapis.

    “Pengalaman wafatnya Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 menunjukkan bahwa transisi bisa berjalan tanpa mengguncang fondasi negara,” kata Dina dilansir Antaranews.com, Minggu (1/3/2026).

    Merujuk pada meninggalnya Pemimpin Tertinggi pertama Iran setelah Revolusi 1979, Dina mengatakan, Republik Islam Iran tidak berjalan sebagai sebuah “rezim personalistik” yang hanya bergantung pada satu figur.

    Baca: Israel dan Amerika Serikat lancarkan serangan sepihak ke Iran

    Terkait tokoh yang akan menjadi pengganti Ali Khamenei, Dina menyebut bahwa tokoh tersebut harus merupakan ulama yang bergelar Ayatullah, yang merupakan gelar tertinggi dalam keilmuan agama di Iran.

    “Iran punya banyak Ayatullah,” kata akademisi itu menegaskan.

    Di samping gelar Ayatullah, sistem Iran menjadikan integritas serta kepemimpinan yang teruji sebagai syarat lain bagi tokoh yang dapat ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi, kata dia.

    Dina pun menjelaskan bahwa di tengah kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi, Majelis Ahli yang beranggotakan para ahli agama dan ulama dari seluruh provinsi Iran akan bersidang untuk memilih Pemimpin Tertinggi yang baru.

    Pada Sabtu pagi (28/2/2026) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban masyarakat sipil.

    Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Baca: Iran melancarkan serangan balasan ke Israel dan fasilitas militer AS

    Pada Minggu, televisi nasional Iran mengkonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei meninggal akibat serangan rudal AS-Israel tersebut.

    Pada hari yang sama, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memastikan bahwa Majelis Ahli akan segera berkumpul dan memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang gugur.

    Pemerintah Iran mengumumkan, Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Garda akan mengawasi periode transisi menyusul wafatnya Ayatullah Ali Khamenei.

    Menurut konstitusi Iran, pengganti Khamenei harus dipilih oleh lembaga yang sama yang dahulu memilihnya: Majelis Ahli Kepemimpinan.

    Lembaga ini terdiri atas 88 ulama yang secara formal dipilih rakyat setiap delapan tahun. Pada praktiknya hanya ulama yang dianggap paling loyal kepada Republik Islam yang diizinkan mencalonkan diri.

    Karena itu, mayoritas anggota majelis saat ini merupakan ulama garis keras seperti Ayatullah Ali Khamenei.

  • Trump and Netanyahu Mau Menumbangkan Rezim Iran: Perang Panjang di Depan Mata

    Trump and Netanyahu Mau Menumbangkan Rezim Iran: Perang Panjang di Depan Mata

     

    7cloud.asia – Serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta serangan balasan Teheran ke Israel dan sejumlah negara Arab tetangga, kembali membawa Timur Tengah ke dalam perang.

    Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa serangan ke Iran bertujuan mengganti rezim pemerintahan di sana dengan yang lebih menguntungkan bagi rakyat Iran. Namun dampaknya bagi Iran, Timur Tengah, dan bahkan dunia, tidak bisa dianggap sepele.

    Kematian Khamenei memang menjadi pukulan telak bagi rezim Islam, tapi Iran kemungkinan masih mampu bertahan dan menyesuaikan diri.

    Banyak tokoh penting Iran yang terbunuh di masa lalu, salah satunya adalah Qassem Soleimani, tokoh kunci strategi keamanan regional Iran, yang tewas dalam serangan oleh AS pada Januari 2020. Nyatanya, pergantian kepemimpinan Qassem berjalan lancar. Rezim Islam tetap bertahan.

    Kepergian Khamenei tampaknya tidak akan langsung menumbangkan rezim Iran dalam waktu dekat. Ia disebut telah mengantisipasi kemungkinan ini, bahkan disebut telah menyiapkan garis suksesi termasuk untuk posisi kepemimpinan militer senior, keamanan, dan politik jika mereka gugur atau “mati syahid”.

    Namun, Khamenei adalah pemimpin politik sekaligus spiritual dengan pengaruh luas, tidak hanya di kalangan Syiah taat di Iran tetapi juga di banyak komunitas Muslim di kawasan yang lebih luas. Kematiannya berpotensi memicu aksi balas dendam dan menyulut gelombang kekerasan ekstremis di kawasan tersebut dan sekitarnya.

    Rezim yang dibangun untuk bertahan

    Berdasarkan konstitusi Republik Islam, Majelis Ahli—lembaga yang berwenang menunjuk dan memberhentikan pemimpin tertinggi—akan bertemu dan menunjuk pemimpin sementara atau jangka panjang, baik dari kalangan mereka sendiri maupun dari luar.

    Sejauh ini, ada tiga kandidat kuat yang berpeluang menjadi penerusnya:

     

      • Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i, Kepala Kehakiman

     

      • Ali Asghar Hejazi, Kepala Staf Khamenei

     

      • Hassan Khomeini, cucu pendiri Republik Islam, Ayatollah Rohullah Khomeini.

     

    Rezim ini akan melakukan segala cara untuk mempertahankan keberlangsungannya.

    apalagi, ada banyak penegak dan pembela rezim di seluruh negeri, yang dipimpin oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan kelompok paramiliter di bawahnya, Basij. Mereka berperan menekan pemberontakan domestik sekaligus menjaga agar rezim tetap berdiri.

    Nasib para aparat, birokrat hingga simpatisan dari kalangan warga biasa terikat erat dengan keberlangsungan rezim ini. Loyalitas mereka didorong oleh perpaduan ideologi Syiah dan nasionalisme yang kuat.

    Trump dan Netanyahu menyerukan kepada rakyat Iran—sekitar 60% di antaranya berusia di bawah 30 tahun—untuk menggulingkan rezim setelah operasi AS–Israel melumpuhkannya.

    Di dalam negeri, banyak warga Iran mengaku menderita akibat pemaksaan agama serta situasi ekonomi yang memburuk. Mereka turun ke jalan dalam gelombang protes pada akhir 2025 hingga awal 2026. Namun rezim merespons dengan penindasan keras menewaskan ribuan orang.

    Mungkinkah terjadi pemberontakan publik sekarang? Sejauh ini, aparatur negara yang bersifat koersif dan administratif tampaknya masih solid mendukung rezim. Tanpa munculnya keretakan serius di kalangan elite—terutama IRGC—rezim ayatollah kemungkinan mampu bertahan melewati krisis.

    Dampak bagi ekonomi global

    Iran terbukti mampu merespons agresi luar dengan sangat cepat. Mereka membalas Israel dan pangkalan militer AS di seluruh Teluk Persia menggunakan pesawat nirawak serta rudal balistik canggih jarak pendek dan jarak jauh.

    Meskipun banyak proyektil Iran yang berhasil ditangkis, beberapa di antaranya mengenai sasaran dan menyebabkan kerusakan serius.

    IRGC juga mulai mencekik Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20% minyak dan 25% gas dunia melintasi selat ini setiap hari, menjadikannya titik krusial bagi energi global.

    AS telah bersumpah menjaga jalur tersebut tetap terbuka, tetapi IRGC berada pada posisi strategis untuk mengganggu lalu lintasnya. Setiap upaya pemblokiran berisiko mengguncang pasokan energi dan ekonomi global.

    Kedua belah pihak dalam konflik ini telah melanggar semua batasan yang ada sebelumnya. Mereka kini berada dalam peperangan terbuka yang dapat melanda seluruh kawasan.

    Perang berkepanjangan mungkin terjadi

    Jika Washington dan Yerusalem mengira serangan mereka tak akan memicu perang regional, asumsi itu keliru. Eskalasi sudah mulai terlihat.

    Sejumlah negara yang menjalin hubungan erat dengan Iran, termasuk Cina dan Rusia, mengecam tindakan AS–Israel. Sekretaris Jenderal PBB António Guterres juga mendesak deeskalasi dan kembalinya perundingan diplomatik, seruan yang juga digaungkan banyak pihak lain.

    Namun peluang meredakan situasi tampak tipis. AS dan Iran sedang berada di tengah putaran kedua perundingan nuklir Teheran ketika serangan terjadi. Menteri Luar Negeri Oman, yang menjadi mediator kedua belah pihak, sempat mengklaim bahwa “perdamaian sudah dalam jangkauan”.

    Namun hal itu tidak cukup untuk meyakinkan Trump dan Netanyahu agar tetap melanjutkan negosiasi.

    Mereka merasa sekarang adalah waktu terbaik untuk menyerang Iran demi menghancurkan tidak hanya program nuklirnya, tetapi juga kemampuan militernya, setelah Israel melumpuhkan beberapa afiliasi regional Teheran, seperti Hamas dan Hizbullah, serta memperluas jejaknya di Lebanon dan Suriah selama dua setengah tahun terakhir.

    Arah konflik masih sulit dipastikan, tetapi panggung untuk perang berkepanjangan telah disiapkan. Pertempuran bisa berlangsung berminggu-minggu, bukan sekadar hitungan hari. Washington dan Israel disebut menginginkan perubahan rezim, sementara Teheran bertekad bertahan.

    Di balik itu, pemerintahan Trump mengirim sinyal kepada rivalnya—terutama Cina—bahwa AS tetap kekuatan global utama, sementara Netanyahu berupaya menegaskan dominasi Israel di kawasan.

    Pada akhirnya, rakyat Iran, kawasan Timur Tengah, dan dunia luaslah yang harus menanggung konsekuensi dari satu lagi “perang pilihan” demi ambisi geopolitik di dunia yang kian rapuh.

    Amin Saikal, Emeritus Professor of Middle Eastern Studies, Australian National University; The University of Western Australia; Victoria University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Kirim Surat Duka Atas Meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei, Megawati Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran

    Kirim Surat Duka Atas Meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei, Megawati Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran

    7cloud.asia – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri mengirimkan surat duka cita kepada Pemerintah Republik Islam Iran atas meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei, akibat serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke negara tersebut.

    Surat tersebut diantarkan Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Iran di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

    Dalam suratnya, Megawati menyampaikan duka mendalam atas wafatnya pimpinan tertinggi Iran yang disebut gugur akibat serangan militer mendadak pada 28 Februari 2026.

    “Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan dan kedaulatan negara merdeka, saya menyampaikan simpati dan solidaritas kami yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran,” tulis Megawati, dalam suratnya.

    Dalam surat itu, Megawati juga menegaskan sikap Indonesia yang menolak agresi militer sepihak terhadap negara manapun. Megawati mengecam serangan militer mendadak yang dilancarkan oleh Israel dan AS ke Iran.

    Baca: Transisi kepemimpinan di Iran pasca meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Megawati menyatakan prinsip yang dipegang rakyat Indonesia sejak era Presiden Sukarno hingga saat ini bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog.

    Selain itu, penyelesaian konflik juga semestinya melalui perundingan yang adil dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan dengan kekerasan maupun penggunaan kekuatan bersenjata.

    “Saya perlu menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia,” tulis Megawati dalam surat pernyataannya dikutip pada Selasa, 3 Maret 2026.

    Adapun pernyataan Megawati ini disampaikan melalui surat eksternal bernomor 014/EX/KU/III/2026. Surat bertarikh 2 Maret 2026 itu ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Sementara, Presiden, dan segenap rakyat Republik Islam Iran.

    “Pada kesempatan ini, saya perlu menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia,” kata Megawati.

    Baca: Trump dan Netanyahu bernafsu tumbangkan rezim Iran

    Khamenei di mata Megawati
    Megawati pun turut mengenang sosok Khamenei yang memimpin Iran dalam situasi sulit di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer selama lebih dari tiga dekade.

    “Dalam diri beliau kami melihat seorang ulama dan negarawan yang berupaya memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam satu garis perjuangan yang konsisten,” tulis Megawati.

    Megawati juga mengenang kunjungan resminya ke Teheran pada 2004 saat menjabat Presiden RI untuk menghadiri Konferensi D-8.

    “Kala itu saya berkesempatan untuk bertemu dengan Ayatullah Ali Khamenei. Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta karisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau,” tulis Megawati.

    Di akhir surat, Megawati menyampaikan doa bagi almarhum Khamenei dan rakyat Iran. Dia berharap rakyat Iran diberi kekuatan dan persatuan untuk melewati masa sulit.

    “Semoga rakyat Iran dikaruniai kekuatan, persatuan, dan kebijaksanaan untuk melewati masa-masa sulit ini, serta mampu menjaga kemerdekaan, kehormatan, martabat dan kedaulatan negerinya di tengah badai sejarah yang tengah bergelora,” pungkas dia.