Iran Isyaratkan Kesepakatan Sangat Mungkin Tercapai, Jika AS Fokus pada Pengembangan Senjata Nuklir Iran

Written by

in

7cloud.asia – Seorang pejabat senior Iran pada Kamis (26/2/2026) menyatakan bahwa kesepakatan dengan Amerika Serikat “sangat mungkin tercapai” dalam waktu dekat.

Syarat utamanya adalah kedua pihak sepakat bahwa inti dari perundingan di Jenewa saat ini adalah komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Ali Shamkhani, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, menegaskan melalui akun X miliknya bahwa larangan senjata nuklir ini sejalan dengan “fatwa” (perintah agama) Ali Khamenei.

Shamkhani, yang merupakan kepala Dewan Pertahanan yang baru dibentuk, mengatakan bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, yang memimpin delegasi Iran dalam pembicaraan Jenewa, memiliki “dukungan dan wewenang penuh untuk kesepakatan tersebut.”

Status program nuklir Iran saat ini masih belum jelas menyusul serangan pada Juni 2025 terhadap tiga fasilitas nuklir utama, yang pada saat itu diklaim oleh Presiden AS Donald Trump telah “menghancurkan” infrastruktur nuklir negara tersebut.

Sebelumnya, Iran mengajukan proposal kepada Amerika Serikat yang disebut sebagai uji “keseriusan” menjelang putaran ketiga perundingan nuklir di Jenewa, menurut laporan IRNA pada Kamis (26/2/2026).

Baca: Donald Trump perintahkan serangan militer ke 7 negara sepanjang 2025

Kantor berita Iran itu melaporkan draf proposal itu diserahkan kepada pihak AS melalui mediator Oman menjelang perundingan yang dijadwalkan berlangsung di Kedutaan Besar Oman di Jenewa, Swiss.

“Menolaknya sama saja dengan membenarkan kecurigaan awal bahwa Amerika Serikat tidak sungguh-sungguh berkomitmen pada diplomasi dan bahwa sikap diplomatik mereka hanyalah permainan,” sebut IRNA menjelang putaran baru perundingan yang menentukan.

Namun, isi proposal tersebut tidak diungkapkan.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi tiba di Jenewa pada Rabu (25/2/2026) malam didampingi wakilnya, Majid Takht-Ravanchi, dan tim ahli ahli nuklir, hukum, dan ekonomi.

Araghchi kemudian bertemu dengan Menlu Oman Badr Al-Busaidi untuk membahas garis besar perundingan dan draf proposal.

Araghchi menegaskan bahwa keberhasilan perundingan memerlukan “keseriusan pihak lain” serta menghindari “perilaku dan sikap yang kontradiktif,” menurut media.

Baca: Serangan militer AS ke Iran dinilai inkonstitusional

Kementerian Luar Negeri Oman menyatakan kedua diplomat meninjau proposal yang akan disampaikan delegasi Iran dalam perundingan untuk mencapai kesepakatan.

Draf tersebut didasarkan pada prinsip panduan yang disepakati dalam putaran sebelumnya.

Sementara itu, delegasi AS yang dipimpin Utusan Khusus Steve Witkoff juga bertemu dengan Menlu Oman setelah tiba di Jenewa pada Kamis (26/2/2026) pagi.

Menjelang keberangkatannya, Araghchi menyatakan Iran akan melanjutkan perundingan guna mencapai kesepakatan yang adil sesegera mungkin.

Ia menyebut putaran baru itu sebagai “kesempatan bersejarah untuk mencapai kesepakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”

Setelah putaran terakhir pada 17 Februari, kedua pihak menilai hasil pembicaraan positif karena menyepakati prinsip-prinsip panduan.

Perundingan tak langsung itu berlangsung di tengah pengerahan besar-besaran militer AS di Teluk Persia dan latihan militer Garda Revolusi Iran (IRGC).

Sumber: Antaranews.com/Anadolu

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *