Tag: kesehatan

  • Hindari Gaya Hidup Rebahan karena Bisa Picu Kanker Pankreas

    Hindari Gaya Hidup Rebahan karena Bisa Picu Kanker Pankreas

    7cloud.asia –  Banyak pakar menyebut, gaya hidup malas bergerak atau sedenter (yang juga populer disebut rebahan) dan pola makan tak dijaga itu nggak bagus untuk kesehatan.

    Karena itu gaya hidup rebahan ini disarankan untuk segera ditinggalkan karena bisa memicu berbagai macam penyakit.

    Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, MMB, FINASIM, FACP mengatakan gaya hidup rebahan berpotensi memicu terjadinya kanker pankreas.

    Dilansir Antaranews.com, gaya hidup rebahan atau gaya hidup tidak sehat ini seakan jadi tren di kalangan anak muda.

    “Makannya tinggi lemak misalnya steak, minumnya juga rutin alkohol, merokok juga jadi budaya, lalu obesitas dan seringnya tidak sadar. Itu berisiko terkena kanker pankreas,” kata Ari dalam diskusi daring bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diikuti dari Jakarta, Jumat (5/1/2024).

    Baca:Kenali beragam vaksin untuk orang dewasa

    Ari menambahkan, kanker pankreas pada umumnya berpotensi terjadi pada individu usia 55 tahun ke atas.

    Namun, dengan perkembangan gaya hidup seperti gaya hidup sedenter maka potensi dewasa muda di usia 30-an terkena kanker pankreas juga ikut membesar.

    Dokter yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Pengurus Besar IDI itu menjelaskan, pankreas dalam tubuh merupakan kelenjar yang berkaitan erat dengan sistem pencernaan.

    Hal ini karena fungsi pankreas adalah untuk menghasilkan enzim serta untuk menghasilkan hormon insulin yang mengatur gula darah.

    Apabila seseorang memiliki gaya hidup rebahan maka organ-organ di dalam tubuh harus bekerja lebih keras untuk melakukan metabolisme, tak terkecuali pankreas.

    Dengan fungsinya yang vital sebagai penghasil enzim untuk pencernaan, apabila makanan maupun minuman yang dikonsumsi tidak memiliki gizi dan hanya memperberat kinerja pankreas maka lambat laun akan terjadi masalah kesehatan termasuk salah satunya potensi kanker.

    Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

    Secara logika makanan tinggi lemak seperti daging merah membuat kinerja organ-organ tubuh menjadi lebih berat, bila melihat fungsinya pankreas itu menciptakan enzim.

    “Kalau kinerjanya jadi lebih berat artinya bisa menyebabkan masalah, dan bisa sudah ada masalah daging-daging itu sulit tuntas dicerna, akhirnya ada peradangan kronis, lalu jadi polip, dan berujung kanker,” kata Ari.

    Selain menghindari gaya hidup rebahan, Ari juga menyarankan untuk rutin melakukan medical check-up (MCU) atau pemeriksaan medis umum bagi orang-orang berusia di atas 35 tahun untuk mencegah kanker pankreas.

    Beberapa hal yang harus diperiksa di antaranya darah perifer lengkap, fungsi hati, bilirubin total, amilasi, dan Ca19-9 atau dikenal dengan pemeriksaan tumor marker.

    Terkhusus untuk orang-orang yang kerap mengalami nyeri ulu hati, pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya potensi terjadinya kanker pankreas.

    Baca: Malas gerak, berbagai penyakit mengintai

    World Cancer Research Fund International mencatat kanker pankreas menempati posisi ke-12 sebagai kanker yang umum ditemukan di dunia. Pada 2020, secara global ada sebanyak 495.000 kasus kanker pankreas.

    Kanker pankreas dikenal sebagai silent killer karena tingkat kematiannya begitu tinggi setelah penderita dinyatakan memiliki kanker pankreas.

    Hal itu dapat dilihat dari laporan di AS lewat Surveillance Epidemiology and End Result Program (SEER) yang mengungkap pada 2020 ditemukan 57.600 kasus kanker pankreas.

    Dari angkat itu sekitar 90 persen di antaranya atau  total 47.050 kasus berujung kematian.

    Sumber: Antaranews.com

     

  • Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    Kementerian Kesehatan Ajak Masyarakat CERDIK untuk Deteksi Kanker

    7cloud.asia – Pemeriksaan kesehatan awal dengan CERDIK perlu dilakukan untuk mendeteksi dini adanya indikasi kanker.

    Hal ini diungkapkan oleh Staf Komunikasi Transformasi Kesehatan pada Kementerian Kesehatan, Ngabila Salama seperti yang dilansir Antaranews. 

    Selanjutnya Ngabila menjelaskan CERDIK meliputi Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres, untuk mencegah kanker.

    Melakukan cek kesehatan juga dapat dilakukan di puskesmas dan fasilitas kesehatan lain.

    Mantan Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta itu mengatakan, pemeriksaan kesehatan rutin setiap enam atau 12 bulan sekali.

    Baca: Kanker pankreas intai usia muda

    Dengan pemeriksaan rutin, lanjut Ngabila, indikasi kanker dapat dideteksi dan ditangani sejak dini. Selain itu juga dapat mendeteksi adanya kelainan dan masalah kesehatan.

    Jika terindikasi kanker, maka penanganannya bisa dilakukan dengan pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.

    Data dari Kementerian Kesehatan sebanyak 30 sampai 50 persen kanker dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko dan menjalankan perilaku CERDIK.

    Ia mengatakan, deteksi dini mesti dilakukan bersamaan dengan upaya pencegahan melalui penerapan pola hidup sehat.

    Yaitu seperti tidak merokok, rutin berolahraga, mengelola stres, mencukupkan istirahat, dan mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang.

    “Jangan lupa untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah sehari-hari 3-5 porsi per hari,” katanya.

    Baca: Gaya hidup rebahan picu kanker pankreas

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, penyakit kanker setiap tahun menyebabkan 9,6 juta kematian di dunia serta merupakan masalah kesehatan global dan nasional.

    Sementara data Globocan tahun 2020 menunjukkan kasus baru kanker di Indonesia mencapai 396.914 kasus dan 234.511 di antaranya mengakibatkan kematian.

    Pada perempuan penyakit kanker yang paling banyak ditemukan yakni kanker payudara (65.858 kasus) diikuti kanker leher rahim (36.633 kasus).

    Sedangkan pada lelaki paling banyak kanker paru-paru (34.783 kasus) diikuti kanker kolorektal (34.189 kasus). 

    Reporter: Nurakhmayani

  • Larangan Penggunaan Ganja untuk Keperluan Medis Kembali Digugat

    Larangan Penggunaan Ganja untuk Keperluan Medis Kembali Digugat

    7cloud.asia – Pelarangan penggunaan ganja (Cannabis sativa L.) untuk keperluan medis kembali mendapat sorotan.

    Pada 12 Februari 2024, Pipit Sri Hartanti dan Supardi, orang tua dari anak yang mengalami Cerebral palsy, mengajukan gugatan uji materi Undang-Undang (UU) No. 8 Tahun 1976 tentang Pengesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 Beserta Protokol yang Mengubahnya.

    Gugatan yang dilayangkan ke Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut meminta agar penggunaan ganja medis dapat dilegalkan di Indonesia.

    Pengajuan gugatan legalisasi ganja untuk obat semacam ini bukanlah yang pertama kali. Pada 2020, tiga orang ibu meminta uji materi UU Narkotika agar ganja medis tak lagi dilarang.

    Alasannya, mereka sangat membutuhkan tanaman tersebut untuk anaknya yang menderita Cerebral palsy. MK menolak permohonan gugatan tersebut.

    Baca: Pro kontra pemanfaatan ganja untuk pengobatan

    Padahal, tanaman ganja memang memiliki manfaat medis sehingga pembatasannya berdampak pada sebagian orang yang memiliki penyakit tertentu dan membutuhkannya untuk berobat.

    Pelarangan ganja untuk keperluan medis kontradiktif dengan jaminan bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, hidup dalam lingkungan yang aman dan sehat, serta berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, sebagaimana dijamin dalam Pasal 28H UUD 1945.

    Larangan ini bahkan bertentangan dari salah satu tujuan yang hendak dicapai oleh UU Narkotika itu sendiri, yaitu menjamin ketersediaan narkotika untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Di berbagai negara, pandangan tentang ganja telah mulai bergeser, dari yang awalnya negatif menjadi terbuka terhadap manfaat medisnya.

    Negara-negara maju sudah mulai melegalkan ganja untuk penggunaan medis. Dengan demikian, sudah saatnya pemerintah Indonesia mengevaluasi kembali larangan ini.

    Baca: 80 persen penduduk dunia gunakan obat herbal

    Pergeseran penggunaan ganja: dari negatif jadi efektif
    Penentang penggunaan ganja medis secara global saat ini dipengaruhi oleh kebijakan obat-obatan Amerika Serikat (AS) pada masa lalu.

    Pada 1910, AS mengesahkan UU Makanan dan Obat Murni yang menandai upaya pertama pengendalian federal terhadap ganja.

    UU tersebut merupakan respons atas banyaknya imigran Meksiko yang mulai bermigrasi ke AS dengan membawa serta tradisi merokok ganja.

    Ketika kecemasan masyarakat terhadap imigrasi Meksiko meningkat, tuduhan hiperbolik mengenai narkotika mulai beredar.

    Namun, dalam konteks global saat ini, perdebatan mengenai ganja medis sudah bergeser ke pemahaman bahwa ganja adalah salah satu obat yang efektif.

    Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), beberapa temuan penelitian menunjukkan efek terapeutik ganja untuk mual dan muntah pada pasien yang menderita penyakit lanjut seperti kanker dan AIDS.

    Baca: Sedere manfaat temulawak untuk kesehatan

    Institute of Medicine (1982) melakukan penelitian terhadap potensi obat ganja untuk penggunaan medis.

    Dalam penelitian ini, ganja dan zat turunannya diuji untuk mengetahui glaukoma, asma, kecemasan, depresi, perilaku alkoholik, sindrom yang timbul pada seseorang akibat tidak lagi mengkonsumsi opium (opiatwithdrawal), tumor, kejang, gangguan nafsu makan, dan muntah.

    Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa ganja dan zat turunannya cukup menjanjikan dalam menyembuhkan beberapa dari gangguan kesehatan tersebut.

    Pada glaukoma misalnya, yang mana mekanisme kerja ganja berbeda dengan mekanisme kerja obat-obatan biasa; pada asma, ganja memiliki kadar efektivitas yang sama dengan isoproterenol yang biasa digunakan sebagai obat asma;

    Sedangkan pada perasaan mual (sifat antiemetik), yang mana ganja dinilai lebih efektif jika dibandingkan dengan phenotiaxines.

    Manfaat medis lainnya yang telah diakui dan divalidasi secara luas oleh beberapa penelitian ilmiah lainnya adalah kandungan Cannabidiol (CBD) dalam tanaman ganja untuk pengobatan penderita epilepsi.

    Baca: Daun kelor, ukuran mini manfaatkan maxy

    Studi menunjukkan bahwa pasien dengan sindrom Dravet yang menerima CBD mengalami penurunan frekuensi kejang.

    Ganja juga telah digunakan dalam pengobatan tradisional di Indonesia sepanjang sejarah.

    Di Aceh, selama periode 1764-1794, ganja telah dipraktikkan selama bertahun-tahun dan lazim digunakan sebagai salah satu obat herbal di kalangan masyarakat. Fakta ini tidak banyak dibicarakan karena dianggap masih tabu.

    Pada akhir abad ke-19, iklan ganja kerap kali muncul di beberapa surat kabar berbahasa Belanda di Hindia Belanda, yang sebagian besarnya mempromosikan rokok ganja sebagai obat untuk berbagai penyakit, mulai dari asma, batuk, penyakit tenggorokan, kesulitan bernapas, dan sulit tidur.

    Artikel telah terbit di The Conversation, Penulis: Dio Ashar Wicaksana, PhD Student, Australian National University

  • Praktisi Kesehatan Sebut Ada Kaitan Antara Peningkatan Kasus DBD dengan Perubahan Cuaca

    Praktisi Kesehatan Sebut Ada Kaitan Antara Peningkatan Kasus DBD dengan Perubahan Cuaca

    7cloud.asia – Meningkatnya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) saat ini tak terlepas dari adanya perubahan cuaca yang semakin ekstrem.

    Praktisi kesehatan masyarakat, Ngabila Salama menyoroti kasus DBD di Indonesia biasa naik per tiga tahun sekali seperti yang terjadi pada tahun 2016, 2019 dan 2022 lalu.

    Namun, pada tahun ini yang diprediksinya puncak DBD maju sedikit cepat, disebabkan oleh peralihan cuaca La Nina ke El Nino yang sedikit berbeda.

    “Saya melihat fenomena kasus dengue atau DBD biasanya mengalami kenaikan atau Kejadian Luar Biasa (KLB) karena berhubungan dengan cuaca atau iklim,” jelas Ngabila seperti dikutip Antaranews.

    Baca: Satu anak meninggal di Tasikmalaya karena DBD

    Selanjutnya Staf Teknis Komunikasi Transformasi Kesehatan Kementerian Kesehatan ini menjelaskan perlu masukan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta entomology (ahli nyamuk).

    Hal ini perlu dilakukan untuk mencari solusi dan bukti konkret adanya  pengaruh iklim dan cuaca terhadap pola perilaku nyamuk tertentu yang berubah dan mempengaruhi.

    “Kalau iklim selain kelembapan atau relative humidity (RH), juga punya peranan penting untuk naik turunnya kasus. Juga tetesan air hujan menjadi media utama untuk modal perkembangan nyamuk,” jelasnya.

    Sementara terkait dengan indikasi demam yang dicurigai dengue, dia menjelaskan jika kasus demam dengan trombositopenia yang diindikasikan terduga demam berdarah perlu dilakukan penapisan infeksi lain.

    Terutama adanya infeksi virus lain seperti influenzae, parainfluenzae, adenovirus, rinovirus, campak, rubella, HMFD, cikungunya hingga mumps (gondongan).

    Baca: Puncak BDB diperkirakan April

    “Perlu sampling pemeriksaan panel virus untuk surveilans aktif berbasis laboratorium dan pada kasus trombositopenia diperiksakan minimal NS1 sebagai pemeriksaan sederhana dengue, atau jika memungkinkan pemeriksaan IgM dan IgG dengue meski tidak dicover BPJS,” urainya.

    namun hal terpenting untuk mencegah sakit akibat penularan dengue adalah menjadikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M Plus di sembilan tatanan kota sehat sebagai sebuah rutinitas.

    “Jadi tidak hanya di rumah atau pemukiman. Misal di taman, di tanah kosong yang melakukan PSN petugas pertamanan dan kebersihan misalnya atau RT/RW terkait,” katanya.

    Selain itu mengadakan surveilans aktif berbasis masyarakat baik itu dari RT, RW, kader kesehatan dan jumantik kepada puskesmas.

    Baca: Kasus DBD di Jakarta meningkat

    Menurutnya, sistem rujukan dari puskesmas atau FKTP ke rumah sakit juga perlu ditingkatkan.

    “Yang terpenting juga laporan dari rumah sakit untuk kasus dengue penting disampaikan segera agar puskesmas dapat melakukan penyelidikan segera, dan jika dibutuhkan dilakukan fogging. Kemudian jika diperlukan audit medis pada beberapa kasus yang unik dari gejala rutin yang ditemukan dan audit kematian,” ucap Ngabila.

    Data dari Kementerian Kesehatan per 18 Maret 2024, total kasus DBD sudah mencapai angka 35.556 kasus.

    Ada lima propinsi yang menyumbang kasus terbanyak adalah Jawa Barat 10.428 kasus, Jawa Timur 3.638 kasus, Sulawesi Tenggara 2.763 kasus, Kalimantan Tengah 2.309 kasus, Kalimantan Selatan 2.068 kasus dan Lampung 1.761 kasus.

    Sementara kasus kematian yang diakibatkan oleh dengue pun sudah mencapai 290 kasus.

    Reporter: Nurakhmayani

     

     

     

     

  • Sering Menghangatkan Opor atau Makanan Besrsantan? Ini Dia Bahayanya

    Sering Menghangatkan Opor atau Makanan Besrsantan? Ini Dia Bahayanya

    7cloud.asia – Hidangan opor dan ketupat identik dengan lebaran. Biasanya opor dibuat dalam porsi banyak dan tak habis dalam sekali makan. Alhasil sisa opor dihangatkan kembali saat akan menyantapnya. Padahal membahayakan kesehatan tubuh.

    Ahli gizi dari Mayapada Hospital Kuningan, Christina Andhika Setyani, menjelaskan pada dasarnya makanan apapun yang dipanaskan berulangkali pasti akan mengurangi nilai gizi bahkan dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.

    “Misalnya rendang, jika dipanaskan berulang ulang pasti rasanya makin enak. Ya, sebenarnya memang makin enak dari segi rasa di mulut tetapi dari efek jangka panjangnya yang tidak enak,” jelas Christina seperti yang dikutip Antaranews.

    Lebih jauh Christina menerangkan jika makanan tersebut mengandung santan dan dipanaskan berulang kali atau mengalami proses pemasakan yang panjang akan merubah kandungan lemak di dalamnya menjadi lemak jenuh.

    “Lemak jenuh inilah yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” tambah dia.

    Kendati demikian ada beberapa trik untuk memasak makanan bersantan agar jadi lebih aman untuk tubuh.

    “Sebaiknya saat memasak makanan yang menggunakan santan, masukkan santan terakhir sesaat masakan akan matang,” katanya.

    sebenarnya, lanjut Christina, memasak makanan yang mengandung santan tidak perlu terlalu lama.

    Sebab, jika terlalu lama dimasak, maka santan akan mengeluarkan minyak. Nah, lapisan inilah yang berbahaya karena mengandung lemak jenuh.

    Menurutnya jika makanan yang mengandung santan tersebut harus dipanaskan, maka sebisa mungkin panaskan seminimal mungkin dan jangan sampai terbentuk lapisan minyak di atasnya.

    “Supaya tidak menjadi boomerang untuk kesehatan kita maka sebaiknya barengi konsumsi makanan berlemak tinggi dengan serat 2 kali lipat lebih banyak, aktivitas fisik dan konsumsi air putih yang cukup,” pesannya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    Pakar Kesehatan: Waspada Penyakit Kronik yang Muncul di Minggu Pertama Lebaran

    7cloud.asia – Lebaran identik dengan makanan berlemak tinggi dan bersantan. Akibatnya penyakit kronis berpotensi muncul kembali pada minggu pertama lebaran.

    Guru besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menjelaskan penyakit tersebut muncul akibat makanan yang tak terkontrol saat lebaran.

    “Bisa saja kambuh dalam sehari dua hari saat lebaran, oleh karena itu ini yang harus kita antisipasi supaya penyakit kronis ini tidak kambuh,” ujar Ari seperti yang dilansir Antaranews.

    Ari menjelaskan penyakit kronis yang berpotensi muncul adalah asam urat, kencing manis karena gula darah berlebih dan sakit maag.

    Pada saat puasa, penyakit tersebut sebenarnya sudah bisa terkontrol. Sebab selama puasa, kita terbiasa makan di jam teratur dan mengurangi kebiasaan makan berlebihan.

    Sebagian besar pasien pun menurutnya mengalami perbaikan pada penyakit maag-nya karena berpuasa.

    Karena itu, agar penyakit tersebut tidak kambuh, Ari menyarankan untuk memilih makanan saat lebaran dan tidak mengonsumsi makanan berlebihan.

    Selain itu, Ari mengingatkan untuk menghindari mengonsumsi makanan yang terlalu asin atau terlalu manis.

    “Di satu sisi saya ingatkan harus tetap mengonsumsi sayur dan buah karena ini bisa mengurangi penyerapan kolesterol di usus halus, selain itu serat dari sayur dan buah ini bisa membuat buang air besar lancar,” jelasnya. 

    Tak hanya penyakit kronis, Ari menjelaskan penyakit lain yang berpotensi muncul saat lebaran adalah penyakit infeksi karena kelelahan dan daya tahan tubuh yang menurun saat harus beraktivitas, bersilaturahmi atau berekreasi saat libur lebaran.

    Penyakit infeksi tersebut antara lain infeksi saluran pernapasan atas, infeksi demam berdarah, dan daya tahan tubuh menurun karena kelelahan.

    Daya tahan tubuh yang menurun juga dapat menimbulkan kecelakaan yang tidak diinginkan saat melakukan perjalanan mudik.

    Karena itu, lanjut Ari, meski libur lebaran bukan berarti libur olahraga pula. Olahraga penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran serta rutin mengonsumsi air putih untuk mencukupi cairan tubuh.

    “Lebaran mestinya lebih bebas melakukan olahraga karena tidak berpuasa. jadi kalau banyak keringat bisa langsung konsumsi air, di masa lebaran nanti kebetulan juga libur tapi tetap lakukan olahraga,” paparnya.

    Namun, jika selama lebaran merasa tidak mengontrol makanan dengan baik, Ari menyarankan untuk melakukan cek kondisi kesehatan atau medical check up usai lebaran.

    Hal ini perlu dilakukan untuk melihat kadar kolesterol, asam urat, hingga gula darah dalam kadar yang sesuai demi antisipasi tetap sehat pasca lebaran.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Simak! Waktu Tidur Ideal dan Kapan Waktunya

    Simak! Waktu Tidur Ideal dan Kapan Waktunya

    7cloud.asia – Tidur menjadi salah satu faktor penting bagi kondisi kesehatan seseorang. Namun, banyak orang mengabaikan hal ini.

    Tidur teratur, kurang tidur ataupun tidur yang tidak berkualitas akan berpengaruh besar pada daya tahan tubuh seseorang.

    Nah, untuk tidur berkualitas ini Ketua Umum Terpilih PP Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra membagikan kiatnya.

    Ia mengemukakan bahwa sebaik-baiknya waktu untuk tidur malam adalah dari pukul 20.00 atau 21.00 sampai pukul 04.00 atau 05.00.

    “Tidur yang berkualitas normalnya antara lima sampai delapan jam per hari, dan sebaik-baiknya waktu untuk istirahat itu adalah pada pukul delapan atau sembilan sampai pukul empat atau lima subuh,” kata Hermawan kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

    Dia menyampaikan bahwa pola dan rentang waktu tidur setiap orang bisa berbeda tergantung pada kondisi fisik dan biologisnya.

    Namun, ia mengatakan, mengupayakan untuk tidur antara lima sampai delapan jam per hari dari sekitar pukul 20.00 atau 21.00 sampai pukul 04.00 atau 05.00 lebih baik untuk menjaga kesehatan tubuh.

    Hermawan mengemukakan, kebiasaan bangun dini hari untuk sahur selama menunaikan ibadah puasa pada bulan Ramadhan bisa membantu upaya pengaturan waktu tidur yang lebih baik, karena membuat tubuh mengaktifkan semacam alarm alami untuk bangun pada waktu-waktu tersebut.

    Menurut dia, pola tidur yang baik dapat diwujudkan dengan membiasakan bangun lebih pagi, menghindari tidur terlalu malam, dan menerapkan pola makan yang sehat.

    Ia menekankan bahwa pola tidur yang baik dan tidur yang berkualitas penting untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

    “Membuat tubuh kita juga akan lebih segar, rileks…,” katanya.

    Sementara, buat mereka yang punya keluhan susah tidur, Psikolog klinis Kate Kaplan, PhD dari Stanford University School of Medicine punya metode dari hasil penelitiannya.

    Dia menyampaikan bahwa ketika tidak sibuk atau mengalami stres karena tekanan dari luar pada siang hari pun, pikiran bisa berpacu pada malam hari karena kecenderungan orang menghabiskan waktu dengan distraksi-distraksi dari luar yang menyibukkan pikiran.

    Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah pikiran berpacu pada malam hari, yakni menetapkan waktu tidur rutin.

    Melakukan hal yang sama sebelum tidur setiap malam memberikan sinyal pada otak bahwa sudah waktunya istirahat, sehingga tubuh bisa lebih mudah tertidur.

    Kaplan mengatakan bahwa melakukan kegiatan rutin yang menenangkan dan menyenangkan sebelum jam tidur juga dapat membantu.

    Menghindari terlalu banyak rangsangan dengan berhenti menggunakan ponsel dan laptop serta mematikan TV, mandi atau berendam menggunakan air hangat, melakukan rutinitas perawatan kulit, dan menikmati secangkir teh dapat membantu menghadirkan ketenangan sebelum tidur.

    Sumber: Antaranews.com

  • Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    Cek Fakta Benarkah Perubahan Iklim Memicu Kenaikan Kasus DBD?

    7cloud.asia – Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Imran Pambudi mengatakan perubahan iklim tak hanya membebani pelayanan kesehatan.

    Imran menyebut, perubahan iklim menyebabkan tren kasus demam berdarah dengue (DBD) kembali naik pada 2024 setelah sempat menurun pada 2023.

    ”Karena membuat kasus semakin naik dan naik, tetapi kami juga menimbang bahwa perubahan iklim akan membebani sistem kesehatan.”

    ”Sebagai contoh kekeringan. Ketika desa diterpa kekeringan, orang-orang pun pindah ke kota. Ketika pindah ke kota, maka kota semakin padat dan hal itu dapat membuat kasus semakin naik.” ujar Imran Pambudi dalam pertemuan International Arborius Summit di Bali, 22 April 2024.

    Baca Juga: Kasus DBD Naik Hingga Nyaris 3 Kali Lipat

    Benarkah pernyataan Imran ini? The Conversation berkolaborasi dengan peneliti kesehatan publik dari Universitas Airlangga, Ilham Akhsanu Ridlo, untuk memeriksa pernyataan Imran.

    Dan, dia mengatakan pernyataan Imran bahwa perubahan iklim memicu kasus DBD adalah benar.

    Ilham mengatakan, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim menjadi penyebab utama kenaikan kasus DBD.

    “Meningkatnya suhu global antara tahun 1950-2018 telah meningkatkan kesesuaian iklim untuk penularan virus dengue oleh vektor nyamuk Aedes aegypti,” ujar Ilham, yang menyitir informasi dari jurnal kesehatan terkemuka, The Lancet.

    Baca Juga: Kasus DBD Melonjak: Lima Daerah Menetapkan Status Kejadian Luar Biasa dan Banyak Pasien Tak Terlayani

    Informasi tersebut turut diperkuat dengan studi di Argentina yang menunjukkan adanya hubungan peningkatan kasus demam berdarah dengan jumlah hari dan bulan dengan suhu optimal untuk penularan demam berdarah dari waktu ke waktu.

    Di Indonesia, studi ekologi spasial turut menemukan kejadian demam berdarah selama 2006-2016 di Sumatra dan Kalimantan sangat bersifat musiman dan terkait dengan faktor iklim dan deforestasi.

    “Penelitian ini lebih jauh memerlukan telaah lanjut untuk menggabungkan indikator iklim ke dalam surveilans berbasis risiko mungkin diperlukan untuk demam berdarah di Indonesia,” ujar Ilham.

    Selain faktor perubahan iklim, Ilham menambahkan faktor lainnya yang mendorong kenaikan kasus demam berdarah atau DBD.

    Baca Juga: Terapi Kombinasi Ramuan Daun Pepaya, Alternatif Baru Menangani Pasien DBD

    Beberapa di antaranya adalah urbanisasi, peningkatan pergerakan orang dan barang, serta persoalan air dan sanitasi.

    “Namun, perubahan iklim dianggap sebagai faktor utama yang mendorong peningkatan dramatis kasus demam berdarah secara global dalam beberapa dekade terakhir,” kata dia.

  • Lima Risiko Kesehatan yang Mengintai Jemaah Haji di Mekah

    Lima Risiko Kesehatan yang Mengintai Jemaah Haji di Mekah

    7cloud.asia – Para calon jemaah haji diminta mewaspadaia lima risiko kesehatan yang sering terjadi pada jamaah saat mengikuti kegiatan ibadah haji di Arab Saudi.

    Seperti diketahui, calon jemaah haji akan masuk Asrama Haji Pondok Gede untuk memastikan kesehatan tahap akhir pada 11 Mei 2024 mendatang dan akan mulai diberangkatkan ke Madinah pada 12 Mei.

    Praktisi Kesehatan Masyarakat Ngabila Salama mengingatkan, ibadah haji merupakan salah satu jenis ibadah yang 90 persen kegiatannya (menggunakan) fisik.

    Karena itu selama mengikuti ibadah haji, kesehatan dan kebugaran jamaah menjadi hal utama yang patut dijaga serta dipertahankan.

    Berada di negara yang memiliki kondisi cuaca dan iklim yang berbeda dapat meningkatkan risiko kesehatan jadi terganggu. Apalagi selama ibadah haji jamaah berada di tengah kerumunan orang banyak.

    Menurut dia, ada lima risiko kesehatan yang sering ditemukan pada jemaah haji yakni kelelahan akibat tidak terbiasa bergerak dalam waktu yang cukup lama.

    Baca Juga: Jamaah Haji Indonesia 2024 Diberangkatkan Mulai 12 Mei 2024

    Risiko lainnya adalah terkena heat stroke (serangan panas) yakni kondisi di mana tubuh tak lagi bisa mengontrol suhu karena cuaca yang terlalu panas sehingga sulit untuk melakukan mekanisme pendinginan.

    “Penderitanya dapat mengalami tubuh gemetar, tubuh tidak mengeluarkan keringat, kebingungan hingga pingsan atau koma,” terang Ngabila.

    Risiko lainnya adalah terkena pneumonia atau radang paru-paru, serangan jantung serta kehilangan memori (demensia).

    Maka dari itu, Ngabila menjelaskan pemerintah berupaya untuk melakukan tes kesehatan sebelum jemaah berangkat agar kondisi fisik yang bersangkutan dipastikan sehat.

    Pemeriksaan juga dilakukan untuk memastikan jamaah haji layak terbang dan tidak terkena penyakit menular seperti tuberkulosis, pneumonia atau gagal jantung.

    Tahun ini, katanya, pemerintah juga menyediakan pendamping lansia untuk memonitor kesehatan jamaah haji lansia dengan lebih ketat.

    Baca Juga: Menag Ingatkan Agar Calon Haji Indonesia Taati Prosedur yang Ada

    Di samping layanan yang diberikan oleh pemerintah, Ngabila menganjurkan jamaah untuk menghindari risiko tersebut dengan mengikuti tiap anjuran teknis yang diarahkan oleh ketua regu hingga petugas kloter setiap waktu agar kesehatan tetap terjaga.

    “Pastikan untuk saling peduli sesama jamaah untuk melaporkan kondisi kesehatan. Prinsip utama lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan terpisah dari rombongan, dan tidak malu bertanya,” kata Kepala Seksi Pelayanan Medik RSUD Tamansari itu.

    Jemaah haji juga dianjurkan melakukan senam peregangan dua jam sekali secara rutin, meminum segelas air per jam dan selalu memakai alat pelindung diri seperti topi, payung, kacamata hitam, masker, pakaian berwarna cerah, semprotan air, alas kaki, membawa paspor serta menggunakan gelang identitas dimanapun berada.

    Sebelumnya, Kementerian Agama mengumumkan bahwa Indonesia tahun ini mendapat 221.000 kuota haji.

    Selain itu, Indonesia juga mendapat tambahan sebesar 20.000 kuota. Sehingga, total kuota haji Indonesia tahun ini berjumlah 241.000 orang.

    Jumlah tersebut terdiri atas 213.320 kuota jamaah calon haji reguler dan 27.680 kuota jamaah calon haji khusus.

    Baca Juga: Daftar Tunggu Haji Panjang Picu Banyaknya Haji Lansia

    Adapun rincian rencana perjalanan haji 1445 H/2024 M yakni jemaah dijadwalkan mulai masuk ke asrama haji pada 11 Mei 2024.

    Jemaah gelombang pertama dijadwalkan berangkat dari Indonesia ke Kota Madinah dari 12 sampai 23 Mei 2024.

    Selanjutnya, jemaah haji gelombang pertama akan diberangkatkan dari Kota Madinah ke Kota Makkah dari 21 Mei sampai 1 Juni 2024.

    Dari 24 Mei sampai 10 Juni 2024, jemaah haji gelombang kedua diberangkatkan dari Indonesia ke Kota Jeddah.

    Pemberangkatan jemaah haji Indonesia ke Arab Saudi dijadwalkan berakhir pada 10 Juni 2024 atau closing date.

    Pada 14 Juni 2024, jamaah haji dijadwalkan berangkat menuju ke Arafah dari Kota Makkah dan melaksanakan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah 1445 Hijriah atau 15 Juni 2024.

    Baca Juga: Pelunasan Biaya Haji Mulai Januari dan Bisa Dicicil

    Setelah seluruh rangkaian ibadah haji selesai, jamaah Indonesia yang datang pada gelombang pertama akan dipulangkan ke Tanah Air dari Kota Jeddah dari 22 Juni sampai 3 Juli 2024.

    Jemaah gelombang pertama dijadwalkan mulai tiba di Indonesia pada 22 Juni 2024.

    Jemaah haji gelombang kedua rencananya diberangkatkan dari Kota Makkah ke Madinah dari 26 Juni sampai 13 Juli 2024 dan dipulangkan ke Tanah Air dari Madinah mulai dari 4 sampai 21 Juli 2024.

    Pemulangan jemaah haji gelombang kedua ke Indonesia dijadwalkan rampung pada 22 Juli 2024.

    Sumber:Antaranews.com

  • Peneliti Temukan Kaitan Diet dengan Pengobatan Bipolar

    Peneliti Temukan Kaitan Diet dengan Pengobatan Bipolar

    7cloud.asia – Setelah bertahun-tahun jadi teka-teki, pemicu gangguan mental bipolar mulai menemukan titik terang.

    Para peneliti telah menemukan kaitan menarik antara sebuah asam lemak omega-6 yang ditemukan dalam telur, unggas, dan makanan laut dengan risiko tereduksi untuk gangguan bipolar.

    Gangguan bipolar adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan perubahan suasana hati yang drastis, mulai dari puncak emosional yang intens (mania atau hipomania) hingga ke surut (depresi).

    Dikutip dari Medical Daily, Kamis (2/5/2024) penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa penyakit bipolar sangat dipengaruhi oleh genetika, tetapi penyebab yang tepat belum diketahui.

    Menurut penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Biological Psychiatry, tingkat lipid yang lebih tinggi dari asam arakidonat terkait dengan risiko lebih rendah terkena gangguan bipolar.

    Baca: Mengenal lebih dekat apa itu bipolar

    Studi ini menyarankan bahwa gangguan bipolar dan kondisi psikiatrik lainnya terhubung dengan perubahan dalam tingkat metabolit.

    Hal ini membuka cahaya pada jalur potensial yang berkontribusi pada kondisi-kondisi ini.

    Studi baru juga mengindikasikan kemungkinan penggunaan intervensi diet untuk mencegah atau melambatkan perkembangan gangguan psikiatrik.

    “Bukti yang terakumulasi menunjukkan peran metabolit dalam gangguan bipolar dan gangguan psikiatrik lainnya” kata penyelidik utama David Stacey dalam rilis berita.

    Ia melanjutkan, dengan mengidentifikasi metabolit yang memainkan peran penyebab dalam gangguan bipolar, pihaknya berharap dapat menyoroti intervensi potensial gaya hidup atau diet,

    Baca: 4 langkah sederhana untuk merawat kesehatan mental

    Para peneliti mengidentifikasi 33 dari 913 metabolit yang ada dalam darah yang terkait dengan gangguan bipolar, sebagian besar dari mereka adalah lipid.

    Mereka juga menemukan sekelompok gen yang dikenal sebagai klaster gen FADS1/2/3 terkait dengan peningkatan risiko terkena gangguan bipolar.

    Mereka menemukan bahwa gen-gen ini mempengaruhi hubungan antara gangguan bipolar dan tingkat asam arakidonat dan metabolit lainnya dalam tubuh.

    “Asam arakidonat umumnya adalah asam lemak omega-6 yang luas hadir dalam tubuh dan otak yang berkontribusi pada kesehatan membran sel,” kata Dr. John Krystal, Editor Biological Psychiatry.

    Baca: Masa kritis untuk kesehatan mental

    Studi ini memberikan langkah menarik ke depan dalam upaya untuk mengembangkan biomarker darah risiko gangguan bipolar, terutama pada pasien-pasien dengan gangguan bipolar dan variasi gen risiko di klaster gen FADS1/2/3.

    Produk daging dan makanan laut merupakan sumber diet yang baik untuk asam arakidonat. Ini juga dapat disintesis dari sumber asam linoleat diet seperti dari kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak.

    Para peneliti menyatakan bahwa studi mereka adalah terobosan karena ini adalah yang pertama kali menyarankan kaitan kemungkinan antara asam arakidonat dan gangguan bipolar.

    Namun, mereka merekomendasikan bahwa studi preklinis tambahan dan uji acak terkendali diperlukan untuk memahami manfaat pencegahan atau terapi potensial dari suplemen asam arakidonat.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan fisik dan mental

    Metode ini terutama bagi orang-orang dengan sintesis alami asam arakidonat yang lebih rendah dan asupan terbatas dari sumber-sumber diet.

    “Temuan kami juga mendukung jalur potensial untuk intervensi kesehatan presisi yang difokuskan pada nutrisi awal kehidupan untuk memastikan bahwa bayi dan anak-anak menerima cukup asam arakidonat dan asam lemak tak jenuh ganda lainnya,” kata Dr. Stacey.

    Menurut Stacey, hal ini penting untuk mendukung perkembangan otak yang optimal, yang juga dapat mengurangi risiko gangguan bipolar.

    Sumber:Antaranews.com