Hindari Gaya Hidup Rebahan karena Bisa Picu Kanker Pankreas

Written by

in

7cloud.asia –  Banyak pakar menyebut, gaya hidup malas bergerak atau sedenter (yang juga populer disebut rebahan) dan pola makan tak dijaga itu nggak bagus untuk kesehatan.

Karena itu gaya hidup rebahan ini disarankan untuk segera ditinggalkan karena bisa memicu berbagai macam penyakit.

Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, KGEH, MMB, FINASIM, FACP mengatakan gaya hidup rebahan berpotensi memicu terjadinya kanker pankreas.

Dilansir Antaranews.com, gaya hidup rebahan atau gaya hidup tidak sehat ini seakan jadi tren di kalangan anak muda.

“Makannya tinggi lemak misalnya steak, minumnya juga rutin alkohol, merokok juga jadi budaya, lalu obesitas dan seringnya tidak sadar. Itu berisiko terkena kanker pankreas,” kata Ari dalam diskusi daring bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) yang diikuti dari Jakarta, Jumat (5/1/2024).

Baca:Kenali beragam vaksin untuk orang dewasa

Ari menambahkan, kanker pankreas pada umumnya berpotensi terjadi pada individu usia 55 tahun ke atas.

Namun, dengan perkembangan gaya hidup seperti gaya hidup sedenter maka potensi dewasa muda di usia 30-an terkena kanker pankreas juga ikut membesar.

Dokter yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Pengurus Besar IDI itu menjelaskan, pankreas dalam tubuh merupakan kelenjar yang berkaitan erat dengan sistem pencernaan.

Hal ini karena fungsi pankreas adalah untuk menghasilkan enzim serta untuk menghasilkan hormon insulin yang mengatur gula darah.

Apabila seseorang memiliki gaya hidup rebahan maka organ-organ di dalam tubuh harus bekerja lebih keras untuk melakukan metabolisme, tak terkecuali pankreas.

Dengan fungsinya yang vital sebagai penghasil enzim untuk pencernaan, apabila makanan maupun minuman yang dikonsumsi tidak memiliki gizi dan hanya memperberat kinerja pankreas maka lambat laun akan terjadi masalah kesehatan termasuk salah satunya potensi kanker.

Baca: Manfaat daun meniran untuk kesehatan

Secara logika makanan tinggi lemak seperti daging merah membuat kinerja organ-organ tubuh menjadi lebih berat, bila melihat fungsinya pankreas itu menciptakan enzim.

“Kalau kinerjanya jadi lebih berat artinya bisa menyebabkan masalah, dan bisa sudah ada masalah daging-daging itu sulit tuntas dicerna, akhirnya ada peradangan kronis, lalu jadi polip, dan berujung kanker,” kata Ari.

Selain menghindari gaya hidup rebahan, Ari juga menyarankan untuk rutin melakukan medical check-up (MCU) atau pemeriksaan medis umum bagi orang-orang berusia di atas 35 tahun untuk mencegah kanker pankreas.

Beberapa hal yang harus diperiksa di antaranya darah perifer lengkap, fungsi hati, bilirubin total, amilasi, dan Ca19-9 atau dikenal dengan pemeriksaan tumor marker.

Terkhusus untuk orang-orang yang kerap mengalami nyeri ulu hati, pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya potensi terjadinya kanker pankreas.

Baca: Malas gerak, berbagai penyakit mengintai

World Cancer Research Fund International mencatat kanker pankreas menempati posisi ke-12 sebagai kanker yang umum ditemukan di dunia. Pada 2020, secara global ada sebanyak 495.000 kasus kanker pankreas.

Kanker pankreas dikenal sebagai silent killer karena tingkat kematiannya begitu tinggi setelah penderita dinyatakan memiliki kanker pankreas.

Hal itu dapat dilihat dari laporan di AS lewat Surveillance Epidemiology and End Result Program (SEER) yang mengungkap pada 2020 ditemukan 57.600 kasus kanker pankreas.

Dari angkat itu sekitar 90 persen di antaranya atau  total 47.050 kasus berujung kematian.

Sumber: Antaranews.com

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *