Tag: kesehatan mental

  • AI Bisa Salah Diagnosis: Konsultasi Kesehatan Mental Sebaiknya ke Profesional

    AI Bisa Salah Diagnosis: Konsultasi Kesehatan Mental Sebaiknya ke Profesional

    7cloud.asia – Fenomena curhat dengan chatbot kecerdasan buatan (AI) sedang marak, bukan hanya di kalangan Gen Z dan Milenial, tapi juga mereka yang sudah lanjut usia (lansia).

    Namun, di balik segala kemudahan yang ditawarkan, AI memiliki sejumlah kelemahan. Kita perlu berpikir ulang jika ingin menjadikan teknologi ini sebagai pengganti praktisi kesehatan mental sepenuhnya.

    Hal ini terutama terkait dengan keamanan dan keakuratan saran psikologis yang diberikan AI.

    Curhat dengan chatbot AI mungkin bisa membuat kita terbuai karena teknologi ini dirancang menyerupai sifat-sifat manusia (antropomorfisme). Namun, AI juga rentan membuat kesalahan.

    Karena hanya dilatih berdasarkan pola dari preferensi pengguna, tanpa akal sehat maupun empati, AI rentan bias dan keliru dalam mengenali gejala maupun memberikan saran psikologis.

    Baca: Kesalahan yang umum ditemukan saat curhat dengan AI

    Beberapa kesalahan yang ditermukan terkait penggunaan AI antara lain adalah salah diagnosis, rentan halusinasi dan bisa diskriminatif

    Karena itu konsultasi kesehatan mental lebih disarankan ke profesional, baik psikolog maupun psikiater.

    AI memang pintar, tapi bukan manusia. Curhat mengenai masalah personal hingga krisis hidup ke sebuah sistem yang tidak mampu merasakan empati, justru berisiko memperburuk keadaan.

    Dampak negatif curhat dengan AI bisa memperkuat gangguan kecemasan, khususnya bagi orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Pasalnya, interaksi intens dan respons tanpa batas dari AI, memperkuat perilaku berulang (kompulsif).

    Meski begitu, AI mungkin bisa dimanfaatkan sekadar sebagai pelengkap, seperti membantu praktisi merangkum transkrip dari sesi konsultasi dengan pasien.

    Baca: Ketergantungan emosional kepada AI memicu gangguan kesehatan mental

    AI juga bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan teknik terapi perilaku kognitif (CBT) dasar, memantau suasana hati, serta latihan pernapasan.

    Pada akhirnya, dalam menghadapi kasus seperti trauma, depresi berat, atau pikiran untuk bunuh diri, pendekatan yang penuh empati dan penanganan langsung dari profesional bukan hanya penting, tapi mutlak.

    Sebab, memahami manusia bukan hanya soal algoritme, tapi juga membutuhkan keahlian, empati, dan pengalaman klinis.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Ali Akbar Septiandri (PhD Candidate in Statistical Science, UCL) dan Jessica Christina Widhigdo (Dosen School of Psychology, Universitas Ciputra)

  • Seluruh Puskesmas di Jakarta Akan Sediakan Psikolog

    Seluruh Puskesmas di Jakarta Akan Sediakan Psikolog

    7cloud.asia – Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menargetkan seluruh puskesmas di ibu kota memiliki layanan psikolog tahun ini. Langkah ini merupakan bagian dari penguatan layanan kesehatan mental di tingkat layanan primer.

    Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati mengungkapkan, saat ini dari total 44 puskesmas kecamatan di Jakarta, sebanyak 28 di antaranya sudah memiliki tenaga psikolog.

    “Tahun ini kita targetkan semua puskesmas memiliki psikolog. Jadi puskesmas benar-benar punya layanan kesehatan mental, termasuk layanan berhenti merokok dan konseling lainnya,” ujar Ani, Rabu (6/8/2025).

    Menurutnya, layanan kesehatan mental di puskesmas juga akan terintegrasi dengan layanan kesehatan jiwa di rumah sakit serta sistem konsultasi daring Jakcare yang bisa diakses 24 jam.

    Baca: JakCare bantu warga Jakarta yang punya masalah kesehatan mental

    “Ini kita integrasikan, jadi masyarakat bisa mengakses layanan mana pun. Apalagi dalam keadaan darurat, karena psikolog di puskesmas tidak bisa melayani 24 jam,” jelas Ani.

    Ia menambahkan, layanan Jakcare yang digagas Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung itu dijalankan oleh psikolog profesional bersertifikat serta menjamin kerahasiaan identitas pengguna.

    “Jakcare ini dilayani oleh psikolog yang memiliki surat tanda registrasi, dan buka 24 jam. Kami komitmen menjaga kerahasiaan setiap masyarakat yang mengakses layanan ini,” tandasnya.

    Baca: Memilih buku self help yang berdampak pada kesehatan mental

    Dinkes DKI berharap penguatan layanan psikologis ini dapat menjawab kebutuhan masyarakat terhadap dukungan kesehatan mental yang lebih mudah, cepat, dan terpercaya.

    Menurut data Kementerian Kesehatan, DKI Jakarta merupakan provinsi dengan share penderita gangguan kesehatan mental tertinggi secara nasional yakni sebanyak 24,3 persen

    Untuk itu, penanganan orang dengan gangguan kesehatan mental harus mendapatkan perhatian serius.

    Baca: Teman Cerita dari Ganjar Pranowo bantu anak muda yang punya masalah kesehatan mental

  • K-drama Kill Me Heal Me: Setiap Orang Punya Masa Gelap dalam Hidupnya

    K-drama Kill Me Heal Me: Setiap Orang Punya Masa Gelap dalam Hidupnya

    7cloud.asia – Isu mengenai kesehatan mental telah menginspirasi para penulis skenario di drama Korea atau K-drama. Tema kesehatan mental menjadi isu yang konsisten diangkat di K-drama.

    Dengan kecerdasan dan rasa sensitifnya, para penulis skenario K-drama membangun kesadaran seputar kesehatan mental dan menyoroti perjuangan penyintas kesehatan mental.

    Dari romansa yang lambat hingga narasi irisan kehidupan, K-drama telah berhasil menyajikan kepada penontonnya narasi tentang kesehatan mental.

    Tak hanya masalah yang ditimbulkan, K-drama juga memunculkan masa-masa di mana para karakter berdamai dan berusaha pulih dari masalah mereka.

    Endingnya, K-drama menjadi tontonan yang juga memberdayakan pemirsanya bahwa di muka Bumi ini ada orang-orang yang tidak seberuntung mereka.

    Baca: K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental

    K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental ini sekaligus menyadarkan betapa berartinya barang bernama kesehatan mental ini dalam kehidupan seseorang.

    Salah satu K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental adalah Kill Me Heal Me. Kill Me Heal Me mengangkat kisah penyintas Dissociative Identity Disorder (DID), atau yang lebih dikenal dengan kepribadian Ganda.

    Jin Soo-Wan menulis skenario Kill Me Heal Me dengan cermat. Dia menyelipkan humor di tengah rumitnya masalah yang dihadapi tokoh utama Cha Do Hyun yang memiliki tujuh kepribadian.

    Hasilnya, Kill Me Heal Me tidak terasa sangat berat tetapi tetap mampu memberikan pencerahan atau bahkan bahan renungan kepada para penontonnya.

    Menonton habis 20 episode Kill Me Heal Me, menyadarkan penulis bahwa setiap orang menyimpan lukanya masing-masing. Ada yang berani menghadapinya, dan ada yang coba menghindarinya tetapi gagal dan justru menambah dalam luka itu

    Baca: My Happy Ending, K-drama yang mengangkat penyintas bipolar

    Inilah yang dihadapi tokoh utama Kill Me Heal Me, Cha Do Hyun (yang diperankan dengan apik oleh Ji Sung). Dia adalah pewaris perusahaan besar, tetapi namanya disebut dengan disertai bisik-bisik di antara para konglomerat.

    Do Hyun dirawat karena masalah kesehatan mental yang rumit. Dia menderita gangguan identitas disosiatif dan “hidup” dengan enam kepribadian berbeda, yang masing-masing muncul ke permukaan tergantung pada situasinya.

    Do Hyun menciptakan kepribadian ini untuk menghadapi masa lalunya yang traumatis dan kejam sebagai seorang anak.

    Kepribadiannya pecah akibat rasa bersalah dan emosi negatif lain yang mengendap dan bergulung di dalam diri Cha Do Hyun kecil, dan terus menghantuinya hingga usia dewasa.

    Titik terang mulai terlihat ketika Do Hyun bertemu Oh Ri Jin (diperankan Hwang Jung Eum), seorang psikiater muda.

    Baca: K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental

    Do Hyun saat itu tampil dalam karakter Shin Se Gi, yang kasar dan berangasan yang muncul saat Do Hyun marah atau terluka. Ri Jin kemudian menyadari bahwa itu adalah salah satu dari banyak kepribadian Do Hyun.

    Ri Jin dan Do Hyun ternyata berbagi masa lalu saat masih usia kanak-kanak. Dalam ingatan yang tak utuh, keduanya mencoba mengurai masalah yang memicu masalah kesehatan mental yang dialami Do Hyun.

    Dan, ketika tragedi dan trauma itu masa lalu itu dibuka dan dimaknai secara berbeda maka perlahan masalah kesehatan mental yang dihadapi Do Hyun mulai teratasi

    “Semua orang punya ruang bawah tanah yang gelap di dalam hatinya. Jika hanya dipandangi maka akan terasa gelap dan menakutkan. Jadi turunlah ke bawah sana dan hadapi apa yang ada di dalamnya. Jika kau takut, pasti akan ada orang yang bisa menggandeng tanganmu untuk mengusir rasa takutmu”

    Petikan narasi di episode terakhir Kill Me Heal Me ini, seolah memberi panduan untuk mereka yang merasa punya masalah tetapi menutup rapat-rapat masalah mereka.

    Buat Anda yang tertarik dan ingin menyaksikan K-drama yang diproduksi pada 2015 ini, dapat menyaksikannya di Viki ataupun WeTV

    Baca: K-drama Good Partner mengangkat lika-liku perceraian

     

  • Kapan Kita Harus Berkonsultasi ke Psikolog? Sadari Ciri Diri Butuh Konseling

    Kapan Kita Harus Berkonsultasi ke Psikolog? Sadari Ciri Diri Butuh Konseling

    7cloud.asia – Ada banyak alasan mengapa seseorang berkonsultasi dengan psikolog. Mulai dari ujian hidup yang berat, trauma, emosi yang tak stabil, hubungan yang bermasalah, sampai kondisi well-being yang butuh ditingkatkan.

    Meski bermanfaat di banyak aspek kehidupan, kita sering kali masih ragu: apakah kita benar-benar membutuhkan konsultasi ke psikolog? Untuk kamu yang sedang membaca artikel ini: bisa jadi saat ini juga adalah waktu yang paling tepat untuk berkonsultasi.

    Ketika kita mempertimbangkan untuk mendapatkan bantuan profesional, kemungkinan ada sesuatu yang mengganggu sehingga kita membutuhkan pertolongan. Kondisi ini sudah cukup untuk jadi alasan mencari bantuan.

    Jika kamu masih ragu harus ke psikolog atau tidak, lanjutkan membaca.

    Kenapa kita harus ke psikolog? Ada kalanya isi kepala kita terlalu ramai untuk dikendalikan.

    Berkonsultasi ke psikolog dapat membantu kita menemukan dasar dari pikiran, perasaan, dan tingkah laku diri sendiri. Kita juga dapat belajar untuk berpikir, merasa, dan bertindak secara lebih sehat.

    Melalui konsultasi ke psikolog, kita bisa:
    Mengenali dan menghadapi masalah dalam diri,
    Mengevaluasi pola pikir atau keyakinan yang menghambat,
    Meningkatkan kesejahteraan mental,
    Mengatasi masalah kesehatan mental, serta
    Membangun pola hidup yang lebih sehat dan seimbang.

    Baca: Anak muda rentan alami kesehatan mental, tapi sedikit yang ke psikolog

    Apa bedanya mental health dan mental illness?
    Kita sering mendengar istilah “mental health” dan “mental illness” digunakan ketika membahas soal kondisi mental dan emosional. Namun, terkadang istilah ini disalahartikan.

    Mental health artinya kesehatan mental yaitu kondisi batin diri yang memampukan kita menghadapi segala naik dan turun kehidupan.

    Kesehatan mental kita baik jika kita dapat menikmati hidup, punya hubungan yang kuat dengan orang lain, dapat menghadapi stres dengan sehat, punya tujuan hidup, dan mengenali diri sendiri.

    Sementara Mental illness artinya gangguan mental yaitu kondisi terganggunya pikiran, perasaan, dan persepsi yang mengganggu keseharian kita.

    Terdapat berbagai jenis gangguan mental yang dibedakan berdasarkan pikiran, perasaan, dan perilaku yang muncul.

    Perbedaan keduanya dapat dipahami seperti ini. Setiap orang pasti pernah merasakan perasaan negatif di tengah situasi sulit, misalnya sedih karena putus dari pacar atau cemas menjelang perubahan besar.

    Namun, perasaan negatif tersebut belum tentu berarti kita punya gangguan mental, tetapi jelas berdampak pada kesehatan mental kita.

    Perasaan negatif ini jadi tak sehat ketika kesehatan mental kita signifikan terdampak. Ketika kondisi kesehatan mental kita tak baik-baik saja, kita jadi sulit pulih dari kondisi kehilangan atau duka.

    Maka dari itu, konsultasi akan membantu kita meningkatkan kesehatan mental, mengembangkan ketahanan diri, dan menjaga kesejahteraan mental kita.

    Baca: Kesehatan mental makin penting, perlu sosialisasi sejak dini

    Lalu, bagaimana dengan gangguan mental? Ciri yang muncul dari gangguan mental adalah sebagai berikut.
    1. Putus asa: Merasa stuck, kehilangan semangat, atau tak berdaya.

    2. Apatis: Tak lagi tertarik dengan hal-hal yang sebelumnya membuat kita senang atau membawa kepuasan.

    3. Marah: Merasakan kemarahan dan kebencian yang terlalu sering atau tak sesuai proporsi ideal.

    4. Stres: Mengalami kewalahan, merasa tak mampu mengerjakan sesuatu, tak bisa beristirahat, atau merasa segala hal sangat sulit meski hal sederhana sekali pun.

    5. Bersalah: Merasa malu akan diri sendiri, tak pantas mendapatkan hal baik, dan hanya pantas menerima hal buruk.

    6. Cemas: Mengkhawatirkan terlalu banyak hal atau memiliki pikiran menyeramkan yang amat mengganggu.

    7. Kelelahan: Tidur lebih lama dari biasanya, sulit bangkit dari tempat tidur, atau merasa tak berenergi sepanjang hari.

    8. Insomnia: Sulit tidur atau mengalami gangguan saat tidur.

    Lalu, kapan kita butuh ke psikolog?
    Berkonsultasi pada psikolog tak perlu menunggu sampai di tahap gangguan mental. Ketika kita merasa kondisi kesehatan mental kita kurang baik, ini adalah alasan yang cukup untuk berkonsultasi.

    Coba tanya pada diri sendiri: apakah saya kesulitan menghadapi masalah hidup? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

    Baca: Seluruh Puskesmas di Jakarta akan sediakan psikolog

    Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi perasaan mereka. Di momen tertentu, sebagian orang mengalami kenaikan berat badan, sebagian lainnya justru kebalikannya.

    Ada pula yang melakukan mekanisme koping yang kurang sehat seperti menjalani hubungan toksik, melakukan aktivitas yang membahayakan nyawa, atau menumbuhkan kebiasaan menunda.

    Sebagian lain menarik diri dari teman atau keluarga. Ada pula yang secara tak sadar membesar-besarkan pengalaman kurang mengenakan yang dirasakan.

    Entah apa pun bentuknya, gangguan mental dapat semakin serius jika tak ditangani. Gangguan ini berdampak pada berbagai aspek kehidupan: menurunkan produktivitas kerja, merenggangkan hubungan, dan melemahkan kesehatan fisik. Dalam kasus tertentu, bahkan bisa berujung pada bunuh diri.

    Coba tanyakan pada diri sendiri: apakah saya merasakan beban mental yang memengaruhi keseharian dan kesejahteraan diri? Jika jawabannya iya, tak ada salahnya untuk berkonsultasi.

    Gangguan mental dialami oleh 970 juta orang di dunia dan menjadi penyebab utama seseorang mengalami keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari.

    Satu dari lima orang dewasa dan lebih dari satu dari sepuluh anak serta remaja memiliki gangguan mental.

    Di Indonesia, satu dari tiga anak muda di Indonesia rentan mengalami gangguan mental. Gangguan mental yang umum dirasakan adalah gangguan kecemasan, gangguan perhatian, hiperaktivitas, dan depresi.

    Jangan biarkan stigma akan kesehatan mental menghambat kita mengembangkan diri. Setiap orang berhak untuk sehat dan memiliki hidup yang bermakna. Konsultasi dapat membantu kita meraihnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Simon Sherry (Clinical Psychologist and Professor in the Department of Psychology and Neuroscience, Dalhousie University) dan diterjemahkan oleh Kezia Kevina Harmoko.

  • Kesepian dan Kondisi Finansial Jadi Faktor Utama Pemicu Gangguan Kesehatan Mental

    Kesepian dan Kondisi Finansial Jadi Faktor Utama Pemicu Gangguan Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Survei yang dilakukan Populix pada 2022 menyimpulkan bahwa masalah finansial (59 persen) dan merasa kesepian (46 persen) merupakan faktor utama yang memicu munculnya gejala-gejala gangguan kesehatan mental.

    Gangguan kesehatan mental saat ini masih menjadi salah satu isu kesehatan yang sangat diperhatikan di seluruh dunia.

    Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan lebih dari 19 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

    “Berbagai masalah seperti kondisi perekonomian yang tidak menentu, rasa kesepian, tuntutan pekerjaan, hingga permasalahan hubungan yang timbul di masa-masa transisi endemi turut mempengaruhi kesehatan mental banyak orang,” kata Co-Founder dan COO Populix Eileen Kamtawijoyo

    Survei dilakukan terhadap 1.005 laki-laki dan perempuan berusia 18 hingga 54 tahun di Indonesia dan terangkum dalam laporan “Indonesia’s Mental Health State and Access to Medical Assistance”.

    Ia menyatakan survei menunjukkan bahwa 52 persen masyarakat Indonesia, terutama perempuan berusia 18-24 tahun, menyadari bahwa mereka memiliki gejala gangguan kesehatan mental, baik dalam bentuk gejala ringan maupun berat.

    Mayoritas dari para responden juga menyadari bahwa telah mengalami gejala tersebut dalam 6 bulan terakhir.

    Gejala gangguan kesehatan mental
    Hasil survei menemukan bahwa perubahan suasana hati yang cepat adalah gejala yang paling sering dialami 57 persen responden dalam 6 bulan terakhir.

    Diikuti perubahan kualitas tidur atau nafsu makan (56 persen), rasa lelah yang signifikan, energi menurun (42 persen), ketakutan atau kegelisahan yang berlebihan (40 persen), merasa bingung, pelupa, sering marah, mudah tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan ketakutan yang tidak normal (37 persen).

    Gejala lainnya adalah kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi (35 persen), penarikan diri dari lingkungan sosial (30 persen), serta ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari (26 persen).

    Beberapa responden juga merasakan gejala dalam tingkat yang lebih parah seperti mengalami nyeri yang tidak dapat dijelaskan (13 persen), marah berlebihan dan rentan melakukan kekerasan (10 persen).

    Lantas, berteriak atau berkelahi dengan keluarga dan teman-teman (9 persen), dan ingin melukai diri sendiri (9 persen), dan mencoba bunuh diri (6 persen).

    Dari berbagai gejala gangguan kesehatan mental tersebut, survei memperlihatkan sebagian responden mengalami gejala-gejala tersebut setidaknya 2 hingga 3 kali dalam seminggu (42 persen).

    Bahkan, 16 persen responden menyatakan mengalami gejala tersebut setiap hari. Apabila terus dibiarkan, gejala-gejala tersebut dapat berpotensi mengganggu aktivitas dan produktivitas sehari-hari, bahkan dalam kasus yang lebih parah, mengancam keselamatan jiwa seseorang.

    Faktor pemicu dan cara mengatasi
    Masalah finansial (59 persen) dan merasa kesepian (46 persen) merupakan faktor utama yang memicu munculnya gejala-gejala gangguan kesehatan mental tersebut.

    Selain itu, masih terdapat juga beberapa faktor lainnya seperti tekanan pekerjaan (37 persen), trauma masa lalu (28 persen), tekanan dari pasangan (17 persen), tinggal di lingkungan yang buruk (13 persen), serta mengalami diskriminasi dan stigma (10 persen).

    Untuk mengurangi gejala gangguan kesehatan mental yang dirasakan, 73 persen masyarakat mengatakan mereka akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, menjaga kecukupan tidur dan istirahat (55 persen), rekreasi (46 persen).

    Melakukan aktivitas fisik agar tetap aktif (36 persen), bercerita kepada sahabat (34 persen), menjaga hubungan baik dengan orang lain (32 persen), membantu orang lain dengan tulus (27 persen), dan melakukan meditasi (19 persen).

    Di tengah meningkatnya berbagai akses dan layanan kesehatan mental akhir-akhir ini, survei menunjukkan bahwa 69 persen masyarakat yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental tidak pernah menggunakan layanan tersebut karena berbagai alasan.

    Alasan utama yang mereka sampaikan adalah merasa tidak perlu untuk melakukan konsultasi (45 persen), meyakini bisa mencari jalan keluar sendiri (42 persen), biaya mahal (41 persen), dan malu untuk bercerita kepada orang tidak dikenal (33 persen).

    Namun demikian, sebagian masyarakat juga mengaku bahwa mereka tidak tahu adanya layanan kesehatan mental (27 persen).

    Selanjutnya, dari 31 persen masyarakat yang pernah mencoba layanan kesehatan mental mengatakan bahwa mereka mencoba layanan tersebut karena mudah diakses (63 persen), tenaga kesehatannya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik (59 persen).

    Selanjutnya, biaya terjangkau (57 persen), mempunyai reputasi pelayanan yang baik (47 persen), serta mengikuti rekomendasi dari teman, keluarga, pemengaruh (37 persen).

    Tipe layanan kesehatan yang dipilih adalah konsultasi dengan psikolog/psikiater di klinik kesehatan terdekat (61 persen), mengakses telemedisin melalui aplikasi daring (54 persen), bergabung dengan komunitas sosial yang peduli dengan kesehatan mental (38 persen), dan konsultasi dengan pemuka agama (36 persen).

    “Selain meratakan akses terhadap fasilitas dan dukungan kesehatan mental, edukasi dari berbagai pihak juga masih diperlukan guna menghapus stigma negatif terhadap gangguan kesehatan mental,” tutup Eileen.

    Berbagai kenyataan dari survei di atas diharapkan bisa menjadi referensi dan memotivasi masyarakat untuk lebih peduli dengan kesehatan mentalnya, dan memiliki kesadaran penuh untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan jiwanya.

  • Bagaimana Memulai Hari Berpengaruh Besar pada Kesehatan Mental

    Bagaimana Memulai Hari Berpengaruh Besar pada Kesehatan Mental

    7cloud.asia – Bagaimana seseorang menjalani awal hari di pagi hari bisa menjadi penentu suasana sepanjang hari. Aktivitas di pagi hari dapat memengaruhi suasana hati, konsentrasi, dan tingkat stres.

    Dilansir Hindustan Times, seorang psikiater dengan pengalaman 22 tahun Dr Daniel Gregory Amen, membagikan sejumlah hal baik yang dapat dilakukan setiap pagi untuk menjaga kesehatan mental.

    Daniel menekankan pentingnya menggabungkan persiapan mental dengan kebiasaan fisik untuk memulai hari. Kebiasaan sederhana seperti mendapatkan paparan sinar matahari, cukup minum, dan gerakan ringan dapat memberi energi pada pikiran dan tubuh.

    “Bangun pola pikir. Pergilah ke luar rumah, kecuali jika cuaca sangat dingin, dan dapatkan sinar matahari,” kata Daniel pada Selasa (3/3/2026).

    Baca: Ketika satu pekerjaan tak mampu menutupi biaya hidup

    Dia menambahkan, jalan kaki singkat untuk meningkatkan metabolisme, minum segelas besar air dengan tambahan setengah buah lemon ke dalamnya akan membantu mendetoksifikasi tubuh.

    Nutrisi juga memainkan peran penting dalam rutinitas pagi, Daniel mengungkapkan hampir setiap hari ia memulai dengan asupan protein dan lemak sehat.

    “Bagi saya, saya suka tiga butir telur, lalu membuat protein shake sedikit lebih siang. Saya penggemar puasa intermiten, jadi memberi jeda 12, 14, atau 16 jam antar waktu makan, sehingga sarapan lebih siang tidak masalah,” imbuh dia.

    Dia juga menyarankan, dalam beraktivitas, untuk selalu memikirkan kesehatan otak dan mental sepanjang hari.

    “Selalu tanyakan pada diri sendiri, pertanyaan ini: Apakah ini baik untuk otak saya atau buruk untuknya?” pungkasnya.

    Baca: Kondisi tak menentu memicu depresi, kenali gejalanya yuk!

  • Darurat Kesehatan Mental pada Anak dan Remaja: Kesehatan Mental Harus Masuk Kurikulum Nasional

    Darurat Kesehatan Mental pada Anak dan Remaja: Kesehatan Mental Harus Masuk Kurikulum Nasional

    7cloud.asia – Kondisi darurat kesehatan mental pada anak dan remaja saat ini menuntut langkah nyata dan terintegrasi dari semua pihak.

    Data Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.

    Temuan ini diperkuat hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Maret 2026 yang menyatakan satu dari sepuluh anak Indonesia menghadapi indikasi masalah kesehatan jiwa.

    Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, 363.326 anak atau sekitar 4,8 persen menunjukkan gejala depresi dan 338.316 anak (4,4 persen) mengalami gejala kecemasan. 

    Namun, dari jumlah tersebut, hanya 2,6 persen anak dan remaja yang mendapatkan penanganan profesional.

    Baca: Sepertiga anak muda rentan alami masalah kesehatan mental

    Karena itu Anggota Komisi X DPR Lestari Moerdijat menilai kesehatan mental dinilai menjadi aspek penting yang harus dimuat dalam kurikulum pendidikan nasional. Menurutnya, langkah ini perlu ditempuh sebagai upaya untuk menyelamatkan masa depan penerus bangsa.

    “Penanganan yang terintegrasi untuk mengatasi masalah kesehatan mental anak dan remaja sangat krusial, demi menyelamatkan masa depan generasi penerus bangsa,” ujar Lestari keterangan tertulisnya kepada Parlementaria, di Jakarta, Minggu (12/4/2026).

    Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menilai, sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja dalam beberapa bulan terakhir—seperti anak membunuh ibu di Sumbawa, NTB, dan di Semarang, Jawa Tengah—bukanlah anomali.

    “Itu adalah gejala. Gejala dari sistem yang gagal membekali mereka dengan kemampuan paling dasar sebagai manusia, yaitu memahami diri sendiri,” tegas Rerie.

    Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu mengkritisi sistem pendidikan nasional yang selama ini terlalu memuja angka, ranking, dan capaian kognitif, namun mengabaikan kesehatan mental dan kematangan emosi.

    Baca: Bantu anak muda atasi masalah kesehatan mental, Ganjar Pranowo luncurkan “Teman Cerita”

    “Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka sekolah—tanpa disadari—akan menjadi ruang yang justru memproduksi tekanan, bukan membangun ketahanan. Kesehatan mental harus menjadi bagian inti dalam kurikulum nasional,” jelas Wakil Ketua MPR ini.

    Rerie mengungkapkan bahwa anak-anak saat ini tumbuh di lingkungan dengan tekanan yang semakin kompleks, namun belum sepenuhnya dibekali kemampuan untuk memahami dan mengelolanya.

    Tanpa upaya intervensi yang serius, ujar dia, bangsa ini berisiko kehilangan satu generasi karena tumbuh dalam tekanan ancaman kesehatan jiwa yang rapuh.

    “Untuk menjadi bangsa yang kuat, kita membutuhkan generasi penerus yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental,” ujar Politisi Fraksi Partai NasDem itu.

    Menurut Rerie, diperlukan komitmen kuat dan langkah nyata dari para pemangku kepentingan agar mampu mewujudkan mekanisme tepat yang melahirkan generasi penerus bangsa yang sehat, berkarakter kuat, dan berdaya saing di masa depan.

    Baca: Cara minimalisme meningkatkan kesehatan mental

  • Lakukan Hal Ini, Ketika Kamu Merasa Kelelahan atau ‘Burnout’

    Lakukan Hal Ini, Ketika Kamu Merasa Kelelahan atau ‘Burnout’

    7cloud.asia – Aktivitas yang padat dan tuntutan pekerjaan yang tiada henti sering membuat orang merasa kelelahan, atau yang biasa disebut burnout. Untuk kamu yang mengalami burnout, simak masukan Psikolog Klinis A. Kasandra Putranto.

    Kasandra menjelaskan burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang memerlukan penanganan melalui pendekatan holistik. ​​​​​​Burnout dapat dipulihkan melalui intervensi yang tepat.

    Kasandra menyebut terdapat sejumlah faktor yang mendukung pemulihan akibat kelelahan bekerja (burnout) yang diakibatkan oleh aktivitas pekerjaan.

    “Sejumlah aktivitas dapat direkomendasikan sebagai bagian dari proses pemulihan, baik secara preventif maupun kuratif, dengan tujuan memulihkan keseimbangan psikologis dan meningkatkan ketahanan individu terhadap stres kerja,” kata Kasandra dikutip Antaranews.com beberapa waktu lalu.

    Namun, adanya akses terhadap layanan kesehatan mental seperti konseling psikologis, terapi perilaku kognitif (CBT), atau dukungan psikiatri dapat memberikan ruang bagi individu untuk memahami sumber stres.

    Psikolog juga dapat membantu membangun strategi koping, serta mengembalikan fungsi psikologis dan produktivitas kerja sangat penting bagi kesembuhan pasien.

    Baca: Ritme dunia modern bikin kamu burnout

    “Mengakses layanan kesehatan mental secara tepat dan konsisten dapat membantu seseorang pulih dari burnout. Namun, pemulihan burnout tidak selalu instan dan bergantung pada tingkat keparahan, dukungan lingkungan, dan keterlibatan individu dalam proses pemulihan,” ucap dia.

    Lebih lanjut, kesembuhan pasien juga perlu didukung beberapa hal seperti terapis psikologis berupa Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang terbukti efektif dalam membantu individu mengubah pola pikir negatif dan mengelola stres.

    Konseling secara individual dengan psikolog juga akan membantu penderita mengenali penyebab burnout dan mengembangkan solusi berbasis kekuatan pribadi.

    “Faktor lainnya adalah adanya dukungan organisasi atau keluarga. Lingkungan kerja yang responsif dan relasi sosial yang suportif mempercepat proses pemulihan,” ucapnya.

    Faktor yang mempengaruhi itu, katanya, termasuk perubahan gaya hidup seperti manajemen waktu, aktivitas fisik, tidur cukup dan rekreasi psikologis.

    Selain faktor-faktor tersebut, ada juga aktivitas yang direkomendasikan untuk mendukung proses pemulihan. Menurut Kasandra kegiatan pertama yang dapat dicoba adalah aktivitas relaksasi dan regulasi emosi.

    Baca: Prioritas yang dicari Gen Z di dunia kerja

    Kegiatan ini berfokus pada ketenangan pikiran, misalnya, melatih pernapasan dalam dan meditasi mindfulness, untuk menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesadaran diri.

    Toga dan tai chi yang mengintegrasikan gerakan fisik dengan konsentrasi dan relaksasi serta relaksasi otot progresif, sebagai teknik untuk melepaskan ketegangan fisik yang berkaitan dengan stres.

    Penderita burnout juga direkomendasikan untuk mencoba aktivitas yang melibatkan fisik karena secara ilmiah mampu meredakan stres melalui peningkatan produksi hormon endorfin.

    Misalnya, dengan berjalan kaki, berlari, bersepeda, berenang, atau aktivitas aerobik lainnya secara teratur minimal 30 menit per hari sebagai olahraga ringan di sela waktu kerja untuk menjaga sirkulasi dan konsentrasi.

    Sebagai pilihan, penderita juga dapat mencoba aktivitas kreatif untuk mengekspresikan diri karena dapat membantu individu memulihkan rasa kendali dan makna pribadi, seperti menggambar, menulis jurnal, memainkan alat musik, berkebun, atau kegiatan kerajinan tangan.

    Baca: Jebakan WFH dan fleksibelitas yang justru bikin ‘Burnout’

    Kehadiran emosional yang diperlukan, katanya, juga bisa didapat dari aktivitas sosial. Dukungan ini merupakan faktor protektif yang signifikan dalam pemulihan burnout.

    Bentuk aktivitas yang dianjurkan berupa membangun komunikasi yang terbuka dengan keluarga, teman, atau kelompok pendukung atau berpartisipasi dalam kegiatan komunitas atau keagamaan yang memberikan rasa keterikatan dan makna.

    Kasandra menyebut hal lain yang dapat dicoba adalah meningkatkan perawatan diri karena menjaga kesehatan dasar merupakan fondasi dalam pemulihan burnout.

    Aktivitas ini mencakup tidur yang cukup dan berkualitas, menjaga pola makan seimbang dan hidrasi yang memadai, menghindari konsumsi alkohol, kafein, dan zat adiktif lainnya secara berlebihan, termasuk meluangkan waktu pribadi untuk istirahat dan rekreasi (me-time).

    Terakhir, ia menyarankan penderita untuk melakukan refleksi diri dan reorientasi tujuan hidup melalui penulisan jurnal reflektif terkait sumber stres dan perkembangan personal.

    Kamu juga dapat melakukan reorientasi terhadap tujuan karier dan kehidupan agar selaras dengan kapasitas dan nilai pribadi.

  • Masalah Kesehatan Mental Pekerja Akibatkan Kerugian hingga Rp463 triliun

    Masalah Kesehatan Mental Pekerja Akibatkan Kerugian hingga Rp463 triliun

     

    7cloud.asia – Akhir Juni lalu, seorang dokter muda berusia 27 tahun di Nusa Tenggara Timur bunuh diri setelah mengalami depresi karena diintimidasi oleh keluarga pasien.

    Kasus ini menambah daftar panjang tenaga medis Indonesia yang meninggal akibat tekanan dan beban kerja berlebih sehingga mengganggu kesehatan mental

    Tenaga medis termasuk jenis pekerjaan berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental. Beban kerja yang berat menyebabkan mereka rentan mengalami kelelahan akibat stres berkepanjangan (burnout) hingga depresi.

    Risiko kelelahan mental sebenarnya juga membayangi banyak pekerja sektor lain di Indonesia, terutama yang punya waktu kerja dan durasi perjalanan berlebih.

    Sekitar 20-50% pekerja keuangan, misalnya, rentan mengalami kelelahan dan penurunan motivasi kerja. Risikonya 2,5 kali lebih besar dialami pekerja usia produktif di bawah 40 tahun.

    Kendati masalah kesehatan mental pekerja kian banyak diperbincangkan, problem ini belum mendapatkan perhatian penuh dari pemerintah. Padahal, masalah mental tak hanya merugikan individu.

    Penelitian tahun 2025 di Tanah Air menunjukkan bahwa negara merugi sangat besar akibat masalah kesehatan mental yang merundung para pekerja.

    Mahalnya biaya kesehatan mental

    Riset mengungkapkan bahwa masalah mental (seperti kecemasan dan depresi) menyebabkan pekerja Indonesia kehilangan lebih dari tiga bulan waktu bekerja efektif tiap tahunnya. Survei ini melibatkan 5.828 orang dewasa usia minimal 18 tahun.

    Pekerja dengan masalah mental bisa absen selama 34 hari per tahun dan mengalami penurunan performa bekerja hingga 51%.

    Mereka rata-rata harus merogoh kocek Rp2,1 juta per tahun untuk biaya perawatan kesehatan langsung (seperti konsultasi psikolog dan obat-obatan).

    Rata-rata pekerja juga kehilangan Rp5,1 juta karena absen dan Rp11 juta karena hadir bekerja, tapi tidak dapat berfungsi penuh (misalnya bekerja lebih lambat) tiap tahunnya.

    Gejala gangguan mental bahkan menyebabkan hampir 20% pekerja terkena PHK.

    Adapun kerugian ekonomi yang ditimbulkan menyebabkan Indonesia kehilangan Rp463 triliun per tahun atau setara 2,1% PDB tahun 2023. Sebanyak 88,5% kerugian berasal dari hilangnya produktivitas pekerja, bukan dari biaya berobat mereka.

    Lingkaran setan yang membelenggu

    Masalah mental pekerja bisa dipicu oleh sejumlah faktor, seperti waktu kerja berlebihan, lamanya durasi perjalanan ke tempat kerja, hingga minimnya dukungan sosial.

    Regulasi di Indonesia mengatur bahwa jam kerja normalnya adalah 40 jam per pekan. Namun, Survei Angkatan Kerja Nasional 2025 mengungkap bahwa sebanyak 25,47% pekerja Indonesia bekerja lebih dari 49 jam per pekan.

    Waktu kerja melebihi 48 jam per minggu berisiko meningkatkan burnout, stres psikologis, hingga susah tidur. Semua itu berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan fisik pekerja.

    Risiko ini kian besar bagi pekerja komuter di sekitar Jabodetabek. Sebanyak 69,5% pekerja komuter mengalami pengalaman buruk akibat kemacetan dan terlalu lama menghabiskan waktu di jalan—yang berpengaruh signifikan memicu stres.

    Dampaknya seperti lingkaran setan. Sebuah riset tahun 2025 mengungkap bahwa lima dari enam pekerja komuter Jakarta mengalami stres dan kelelahan yang turut mengganggu relasi mereka dengan keluarga.

    Sayangnya, minimnya dukungan mental dari lingkungan kerja (seperti layanan konseling hingga kebijakakan cuti sakit mental) membuat para pekerja kian kesulitan mengatasi kondisi mereka.

    Hal ini terbukti dari temuan riset yang menunjukkan bahwa 14,7% pekerja mengalami gejala yang mengarah pada kecemasan dan depresi, tetapi 60% belum pernah didiagnosis.


     

    Hidup kita lagi dikepung ketidakpastian. Konflik berujung inflasi. Kritik berujung jeruji. Udara berpolusi. Mau sehat sulitnya setengah mati.

    Sampai kapan masalah terus menekan? Bagaimana mengatasinya?

    Untuk menjawab pertanyaan ini, kami bersama pakar memetakan dinamika yang terjadi dan meramu solusi bersama.

    Simak terus serial kampanye #SeniBertahanHidup The Conversation Indonesia.


    Di mana peran pemerintah?

    Kementerian Ketenagakerjaan telah mengakui bahwa beban pekerjaan dapat memicu kecemasan dan depresi.

    Kementerian Kesehatan, misalnya, telah membuka dan memperluas layanan kesehatan mental dan skrining kesehatan jiwa bagi dokter residen. Mereka juga tengah menyiapkan Perpres perlindungan tenaga medis.

    Tapi semua ini masih bersifat penanganan reaktif bergantung viralnya kasus. Sementara negara lain sudah mengarah ke upaya proaktif.

    Contohnya, Jepang sejak Desember 2015 mewajibkan Stress Check Program alias skrining stres psikososial tahunan bagi semua perusahaan dengan karyawan berjumlah lebih dari 50 orang.

    Di Australia, sebuah uji coba acak terkontrol berupa pelatihan kesehatan mental selama empat jam bagi para manajer di dinas pemadam kebakaran, efektif menurunkan angka izin sakit karyawan secara signifikan.

    Manfaatnya diperkirakan bisa 10 kali lipat menghemat biaya operasional akibat penurunan produktivitas ataupun ketidakhadiran pekerja dengan masalah mental.

    Meski tidak bisa langsung digeneralisasi ke semua sektor, pelajaran penting yang bisa dipetik dari temuan tersebut adalah pembekalan kesehatan mental bagi manajer berdampak besar dan menghemat biaya operasional.

    Dalam kasus Indonesia, pemerintah sebenarnya bisa lebih memperkuat pelaksanaan skrining kesehatan jiwa berkala lewat kerangka K3 seperti tercantum dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 Tahun 2018. Sayangnya, aturan ini belum diterapkan secara konsisten.

    Selain itu, pemerintah perlu memperjelas definisi operasional gangguan mental akibat tekanan kerja sebagai bagian dari penyakit akibat kerja (PAK). Hal ini sudah tercantum dalam Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2019, tetapi tidak dilaksanakan. Alhasil, pembiayaan penanganannya tidak masuk ke skema Jaminan Kecelakaan Kerja BPJS Ketenagakerjaan.

    Pemerintah bisa memulai keduanya dari sektor pekerjaan berisiko tinggi dengan beban besar dan durasi perjalanan yang panjang.


    Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan.


    Grace Wangge, Associate Professor of Public Health, Monash University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.