Tag: plastik

  • Cegah Paparan Mikroplastik, Menteri Lingkungan Hidup Minta Pengelola TPA Segera Lakukan Capping

    Cegah Paparan Mikroplastik, Menteri Lingkungan Hidup Minta Pengelola TPA Segera Lakukan Capping

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq meminta pengelola Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jabodetabek segera melakukan capping atau menutup sampah agar tidak mencemari lingkungan sekitar, termasuk menyebarkan mikroplastik.

    Dalam peninjauan ke TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang, Jumat (24/10/2025), Hanif menyampaikan apresiasi langkah pemerintah daerah (pemda) setempat yang sudah melakukan capping tumpukan sampah di TPA open dumping.

    Sebelumnya TPA Jatiwaringin menjadi salah satu lokasi terkena sanksi oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) karena masih menerapkan sistem pembuangan terbuka atau open dumping.

    “Saya akan memberikan waktu kepada semua pengelola TPA di Jabodetabek untuk segera memenuhi arahan dari Menteri, segera melakukan capping terhadap open dumping-nya,” kata Hanif seperti dikutip Antaranews.com

    Langkah itu diperlukan, kata dia, termasuk untuk menekan mikroplastik menyebar ke lingkungan dan pada akhirnya bisa berakhir masuk ke tubuh manusia yang dapat menyebabkan beragam masalah kesehatan.

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Capping atau menutup sampah perlu dilakukan sembari menunggu proses penyelesaian TPA open dumping yang banyak ditemukan di berbagai wilayah.

    Capping bertujuan menghindari air hujan masuk ke sampah tercampur, sehingga menghasilkan lindi yang mencemari lingkungan, mencegah sampah berhamburan akibat tertiup angin, serta mengontrol pelepasan gas metana dari tumpukan sampah.

    “Ini mikroplastiknya kalau tidak diginiin, akan jatuh ke air, larut sampai ke tempat kita. Kalau tidak seperti itu dia akan ke udara atau ke tanah dan semua bisa terjadi ke kita. Jadi kita harus cegah sebisanya,” tutur Menteri Hanif.

    Mikroplastik timbul dari proses degradasi tidak sempurna dari sampah plastik, selain juga berasal dari serat yang tergerus dari berbagai bahan seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.

    Mikroplastik dapat tersebar melalui berbagai media mulai dari air sampai dengan udara.

    Baca: Gunakan tumbler untuk kurangi mikroplastik

    Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova bahkan baru-baru ini bahkan menjelaskan bahwa kandungan mikroplastik sudah ditemukan di dalam air hujan di wilayah Jakarta.

    Fenomena itu terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan.

    Fenomena ini biasa dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition atau pembuangan mikroplastik ke udara.

    Cemaran mikroplastik ini bisa terhirup ke dalam tubuh manusia/makhluk hidup dan memicu sejumlah masalah kesehatan termasuk menyebabkan kanker.

    Penanganan sampah plastik di berbagai kota di Indonesia saat ini masih mengundang kritik dari orgaisasi lingkungan. Hingga hari ini, pemerintah belum menunjukkan sikap tegas untuk mengurangi sampah plastik dari hulunya.

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), jumlah sampah plastik menempati posisi kedua sebesar 19,52 persen dari total timbulan sampah nasional 34,9 juta ton yang dilaporkan pada 2024.

    Baca: Sistem guna ulang untuk kurangi mikroplastik

  • Temuan Mikroplastik di Air Hujan di Jakarta: Kurangi Sampah Plastik Sekarang Juga!

    Temuan Mikroplastik di Air Hujan di Jakarta: Kurangi Sampah Plastik Sekarang Juga!

    7cloud.asia – Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada, Dr. Annisa Utami Rauf mengingatkan ancaman mikroplaastik pada kesehatan manusia.

    Dilansir ugm.acid, Annisa mengatakan risiko paparan mikroplastik memang lebih tinggi di wilayah perkotaan yang padat penduduk.

    Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai berkontribusi besar terhadap akumulasi partikel plastik di udara dan lingkungan. Kesadaran masyarakat untuk membatasi konsumsi plastik harus ditingkatkan agar dampaknya dapat ditekan.

    Dari sisi kesehatan masyarakat, tantangan terbesar dalam mengendalikan paparan mikroplastik adalah rendahnya kesadaran dan kebiasaan buruk dalam mengonsumsi di kalangan masyarakat.

    Langkah sederhana seperti membawa tumbler, mengurangi penggunaan kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik dapat menjadi titik awal perubahan.

    “Kita bisa mulai dari hal kecil seperti membawa botol minum sendiri atau menghindari kantong plastik saat berbelanja. Upaya kecil ini berkontribusi besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan,” ujarnya.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

    Annisa juga menyoroti pentingnya tanggung jawab industri dalam pengelolaan limbah plastik. Produsen besar dinilai memiliki peran strategis untuk mengembangkan sistem pengembalian kemasan dan daur ulang produk.

    Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan pengurangan sampah dari hulu hingga hilir.

    “Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya program taking back trash. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah tidak berakhir di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

    Ia menilai konsep reduce dan reuse masih menjadi strategi paling efektif dalam mengurangi potensi akumulasi mikroplastik di alam.

    Beberapa negara telah memulai langkah konkret dengan memberikan insentif bagi masyarakat yang mengembalikan produk lama atau mendaur ulang limbah plastik.

    Menurutnya, pola semacam itu dapat diterapkan di Indonesia dengan menyesuaikan konteks sosial dan budaya masyarakat.

    Baca: Gunakan tumbler efektif kurangi sampah plastik

    “Program pengurangan sampah bisa dilakukan lewat kolaborasi industri dan masyarakat. Intinya, sampah harus dikurangi dari sumbernya,” ujarnya.

    Keberadaan mikroplastik yang kini ditemukan di atmosfer, bahkan pada air hujan dan awan, memperlihatkan bahwa siklus plastik telah menjangkau seluruh lapisan lingkungan.

    Riset di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik ditemukan di awan, menandakan bahwa polusi ini telah bersifat global.

    “Mikroplastik sudah menyebar di berbagai media lingkungan, termasuk udara dan awan. Kalau kita tidak menghentikan sumbernya, dampaknya bisa semakin luas,” kata Annisa.

    Sebagai penutup, Annisa menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif mulai dari individu hingga pembuat kebijakan.

    Pemerintah daerah dapat mengambil langkah konkret dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik. Pendidikan sejak dini juga penting untuk membentuk perilaku ramah lingkungan.

    “Kesadaran harus dibangun dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kalau sejak anak-anak sudah dibiasakan membawa botol minum sendiri, kita bisa berharap generasi berikutnya lebih peka terhadap isu plastik,” tutupnya.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi masih diabaikan

  • Sampel Mikroplastik Ditemukan di Tubuh Manusia, Pemerintah Diminta Lebih Serius Batasi Produksi Plastik

    Sampel Mikroplastik Ditemukan di Tubuh Manusia, Pemerintah Diminta Lebih Serius Batasi Produksi Plastik

    7cloud.asia – Hasil pengujian sampel yang berasal dari masyarakat kota Semarang menunjukkan adanya kontaminasi mikroplastik di sekitar kita, mulai dari air hujan, makanan, hingga pakaian.

    Pengujian cemaran mikroplastik ini dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) lewat kegiatan uji coba Citizen Science.

    “Selain itu, kami juga mengajak pengunjung menampung air hujan sebanyak 1–2 liter dari lingkungan sekitar mereka untuk mengetahui seberapa jauh penyebaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton seperti dikutip greenpeace.org.

    Penelitian yang dilakukan ECOTON di 18 kota/kabupaten di Indonesia ini menemukan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang membawa partikel mikroplastik naik ke udara dan, pada akhirnya, ikut mencemari air hujan.

    Komposisi polimer mikroplastik di udara Indonesia didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, disusul polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, dan pelapis tahan panas.

    “Polyester dan polyisobutylene, yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel, menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara” ungkap Rafika.

    Baca: Warga Kota Semarang teliti cemaran mikroplastik di wilayahnya

    Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komposisi polimer mikroplastik di udara selaras dengan data sumber utama mikroplastik di 18 kota dan kabupaten. Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen, sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.

    Sampel mikroplastik juga ditemukan di dalam tubuh manusia. Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) mengungkap, mikroplastik juga ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.

    Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.

    Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    “Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujarnya.

    Baca: ECOTON dan SIEJ ungkap paparan mikroplastik di 18 kota

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Tingginya pencemaran mikroplastik yang kini telah menjadi ancaman kesehatan mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

    Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

    Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

    Koordinator Jaringan Peduli Iklim dan Alam (Jarilima) Ellen Nugroho mengatakan, acara Roadshow The Invisible Threat of Microplastics semakin memperkuat bukti bahwa mikroplastik kini telah masuk ke dalam tubuh manusia melalui air, makanan, bahkan udara yang kita hirup setiap hari.

    Jika ingin mencegah anak-anak Semarang terganggu kesehatan dan tumbuh kembangnya akibat mikroplastik, ujarnya, kita harus mulai mengurangi plastik sekali pakai hari ini.

    Baca: Pembakaran sampah jadi sumber utama polusi mikroplastik di udara

    “Yang perlu diubah tidak hanya gaya hidup masyarakat, tapi juga sistem yang membuat kita sulit hidup tanpa plastik,” kata Ellen.

    “Pemerintah dan pengusaha harus terlibat mengubah cara produksi dan distribusi untuk mengatasi masalah ini.”

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    “Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” kata Ibar.

    Baca: Temuan mikroplastik di air hujan di Jakarta

  • Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    Hujan Mikroplastik Berpotensi Hambat Fungsi Otak

    7cloud.asia – Cemaran mikroplastik semakin mengkhawatirkan. Kini, mikroplastik tak hanya ditemukan di air hujan, tapi sudah sampai ke dalam tubuh manusia yang bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan, termasuk menghambat fungsi otak.

    Studi yang dilakukan Greenpeace Indonesia bersama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan.

    Berdasarkan studi yang dilakukan, mikroplastik kini bisa ditemukan di dalam urin, darah, hingga feses manusia.

    Jenis plastik PET (Polyethylene Terephthalate), yang biasa ditemukan di kemasan plastik sekali pakai seperti botol air minum dalam kemasan (AMDK), adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Ahli Saraf FKUI dr. Pukovisa Prawirohardjo, SP.S(K)., Ph.D. mengatakan, hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    Baca: Temuan mikroplastik di air hujan di Jakarta

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Dampak mikroplastik pada kesehatan diulas dalam acara diskusi Invisible Threat of Microplastics bersama Lembaga Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) dan SDGs Center Universitas Airlangga (Unair).

    Dari hasil penelitian tersebut, tim peneliti menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik.

    “Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia.

    Gabriella Amanda, SDGs Ambassador Universitas Airlangga mengatakan, diskusi Invisible Threat of Microplastics juga jadi momentum penting bagi mahasiswa dan generasi muda untuk menyadari bahaya mikroplastik yang semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Selain itu, kegiatan ini mengajak generasi muda untuk tidak berhenti pada kesadaran semata, melainkan bergerak aktif dalam kampanye pengurangan plastik sekali pakai, dan mendorong budaya guna ulang.

    “Semangat generasi muda menjadi kunci. Dengan kreativitas, energi, dan keberanian mereka, pesan tentang bahaya mikroplastik dapat menjangkau masyarakat luas,” kata Gabriella.

    Selain diskusi, para pengunjung juga diajak untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui seberapa luas mikroplastik mencemari lingkungan, pakaian, hingga makanan melalui uji coba Citizen Science.

    Menurut Rafika Aprilianti, Kepala Laboratorium Ecoton, para pengunjung diminta mengumpulkan 1–2 liter air hujan dari lingkungan tempat tinggal mereka untuk dianalisis.

    Peserta diajak membawa berbagai sampel dari rumah, seperti air minum, makanan, hingga swab kulit yang kemudian akan diperiksa menggunakan mikroskop.

    “Upaya ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana mikroplastik telah masuk ke dalam aktivitas dan kehidupan kita sehari-hari.” ujarnya.

    Baca: Gunakan tumbler efektif kurangi sampah plastik

  • Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    Riset yang Dilakukan JEJAK Ungkap Cemaran Mikroplastik dalam Air Hujan di Surabaya

    7cloud.asia – Riset Jaringan Gen Z Jatim Tolak Plastik Sekali Pakai (Jejak), Komunitas Growgreen, River Warrior, dan Ecoton menemukan cemaran mikroplastik di dalam air hujan di Surabaya dengan tingkat pencemaran yang cukup tinggi

    Cemaran mikroplastik ini terutama ditemukan di kawasan padat aktivitas dan dekat titik pembakaran sampah.

    Kontaminasi mikroplastik dalam air hujan tertinggi di Surabaya ditemukan di wilayah Pakis Gelora yang mencapai 356 partikel per liter, disusul wilayah Tanjung Perak dengan 209 partikel per liter.

    Adapun jenis polimer yang paling banyak terdeteksi berasal dari gesekan ban kendaraan serta serpihan botol plastik sekali pakai.

    Tingginya pencemaran mikroplastik mencerminkan tingginya penggunaan plastik sekali pakai, baik secara lokal, nasional, maupun global.

    Baca: Pasar Tanah Abang jadi titik dengan cemaran mikroplastik tertinggi di Indonesia

    Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 660.947 ton sampah di tahun 2024 di Surabaya.

    Sekitar 22 persen dari total sampah di Surabaya merupakan sampah plastik. Jumlah ini jauh di atas komposisi sampah plastik nasional sebesar 19,78 persen dari total sampah di tahun lalu.

    Sementara di tingkat nasional, produksi sampah plastik 7,68 juta hingga 10 juta ton sampah plastik per tahun. Volume sampah plastik ini mencapai sekitar 12-18 persen dari total timbunan sampah nasional yang mencapai 64 juta ton per tahun.

    Sebagian besar sampah plastik ini belum terkelola dengan baik, dan diperkirakan sekitar 1,29 hingga 3,2 juta ton di antaranya berakhir di laut.

    Di tingkat global, konsumsi plastik yang terus meningkat ikut menambah masalah sampah plastik di Bumi.

    Baca: Sistem guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik

    Laporan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang bertajuk Policy Scenarios for Eliminating Plastic Pollution by 2040 menemukan adanya peningkatan sampah plastik di seluruh dunia hingga lebih dari dua kali lipat, dari 213 juta ton menjadi 460 juta ton sepanjang tahun 2000 sampai 2019.

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, perlu ada langkah konkret dari pemerintah dan produsen untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    “Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer, serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya, serta membuat peta jalan pengurangan sampah,” kata Ibar.

    Baca: Hujan mikroplastik berpotensi ganggu fungsi otak

  • Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Plastik adalah material yang sangat praktis, efisien, dan murah. Tetapi plastik juga merupakan salah satu masalah lingkungan terbesar bagi planet Bumi.

    Meskipun produksi plastik meroket dalam beberapa dekade terakhir (dunia menggunakan 20 kali lebih banyak plastik daripada 50 tahun yang lalu), lebih dari 90 persen plastik berakhir di tempat pembuangan sampah

    Selanjutnya sampah plastik ini masuk dan mencemari perairan laut, yang menyebabkan berbagai masalah lingkungan lainnya.

    Mendaur ulang plastik merupakan bagian penting dari upaya mengurangi sampah plastik, begitu pula dengan mencari alternatif ramah lingkungan. Bagaimana masyarakat menangani dan membuang plastik setelah digunakan sangat penting dalam mengurangi masalah plastik.

    Namun demikian, ada satu cara yang dinilai lebih ampuh dalam mengurangi masalah yang dipicu sampah plastik, yakni menghindari plastik sekali pakai dan menerapkan sistem guna ulang.

    Namun, sistem guna ulang ini belum terlalu populer. Karena itu tidak ada salahnya jika kita mendorong daur ulang semaksimal mungkin sebelum sistem guna ulang terbangun dengan baik.

    Baca: Sistem guna ulang jadi solusi terbaik atasi polusi sampah plastik

    Daur Ulang Plastik
    Plastik dipilah berdasarkan jenis polimernya, baik oleh konsumen maupun oleh pabrik daur ulang untuk memastikan semua kontaminan telah dihilangkan.

    Setelah dipilah dan dibersihkan, plastik dapat dihancurkan atau dilelehkan menjadi bentuk pelet sebelum akhirnya dicetak menjadi produk baru.

    Setidaknya ada tujuh jenis plastik yang disimbolkan dengan angka.  Tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan daur ulang plastik.

    Jadi mulai sekarang, sering-seringlah memperhatikan simbol daur ulang yang tercetak pada produk dan material plastik yang kamu gunakan

     

    Dari tujuh kategori plastik yang ada, hanya empat yang dapat didaur ulang. Apa saja? Berikut daftarnya seperti dilansir di Earth.org

    Baca: Sampel mikroplastik ditemukan di tubuh manusia

    Polietilen Tereftalat (PET)
    Plastik yang paling umum digunakan untuk kemasan sekali pakai untuk makanan dan minuman adalah PET – perhatikan simbol daur ulang #1.

    Plastik jenis PET ini kuat, ringan, dan murah untuk diproduksi oleh produsen. Dan plastik ini sepenuhnya dapat didaur ulang.

    Ini adalah plastik yang paling banyak didaur ulang di seluruh dunia dengan lebih dari 1,5 miliar pon plastik PET dikumpulkan dan didaur ulang di AS setiap tahunnya.

    Plastik jenis PET dapat didaur ulang melalui pencucian dan peleburan ulang, dan memiliki risiko rendah terhadap pelepasan produk hasil penguraian.

    Saat ini, tingkat daur ulang PET tergolong tinggi. Dilansir Earth.org, di Eropa daur ulang plastik PET mencapai sekitar 52 persen, sedangkan di AS sekitar 31 persen.

    PET daur ulang sering ditemukan dalam botol baru, pakaian seperti polar fleece, karpet, dan kantong tidur.

    Baca: KLH wajibkan produsen bertanggung jawab atas sampah plastiknya

    High Density Polyethylene (HDPE)
    HPDE adalah plastik yang lebih kuat dan lebih berat yang tahan terhadap bahan kimia korosif. Ini adalah plastik populer untuk pengemasan susu, deterjen, pemutih, dan sampo.

    Plastik HDPE juga sering ditemukan dalam kantong plastik. HPDE dapat didaur ulang, meskipun selalu periksa dengan otoritas setempat Anda. Sekitar 12 persen dari semua kantong plastik dan 28 persen dari botol air dan susu didaur ulang di Inggris.

    HDPE daur ulang sering ditemukan dalam pipa, ubin lantai, lembaran dan plastik film, dan bahkan peti.

    Low Density Polyethylene (LDPE)
    Sama seperti HDPE, polietilen densitas rendah, atau LDPE, tidak banyak diterima dalam sebagian besar program daur ulang, tetapi dapat didaur ulang tergantung pada otoritas setempat.

    LDPE adalah plastik keras dan fleksibel yang ditemukan dalam botol peras seperti pasta gigi dan kantong roti. LDPE sering kali digunakan kembali sebagai pelapis tempat sampah.

    Polipropilen (PP)
    Polipropilen adalah plastik yang dapat didaur ulang dan telah lebih banyak diterima dalam program daur ulang. Karena titik lelehnya yang tinggi, PP sering digunakan sebagai wadah untuk cairan hangat dan kemasan populer untuk yogurt dan obat-obatan.

    Pastikan untuk membuang sisa makanan dan cairan sebelum didaur ulang. Anda akan menemukan PP daur ulang digunakan untuk sapu, sikat, dan nampan plastik.

  • Hindari Tiga Jenis Plastik Ini Karena Tidak Dapat Didaur Ulang

    Hindari Tiga Jenis Plastik Ini Karena Tidak Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Mendaur ulang plastik merupakan bagian penting dari upaya mengurangi sampah plastik, sekaligus alternatif ramah lingkungan.

    Bagaimana masyarakat menangani dan membuang plastik setelah digunakan sangat penting dalam mengurangi masalah plastik yang kini telah menjadi masalah serius bagi lingkungan

    Bagaimana proses daur ulang plastik berjalan? Plastik dipilah berdasarkan jenis polimernya, baik oleh konsumen maupun oleh pabrik daur ulang untuk memastikan semua kontaminan telah dihilangkan.

    Setelah dipilah dan dibersihkan, plastik dapat dihancurkan atau dilelehkan menjadi bentuk pelet sebelum akhirnya dicetak menjadi produk baru.

    Baca: Jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Setidaknya ada tujuh jenis plastik yang disimbolkan dengan angka. Tetapi, perlu diketahui angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan daur ulang plastik.

    Selain itu juga ada jenis plastik tertentu yang tidak dapat didaur ulang. Apa saja jenis plastik itu, berikut daftarnya seperti kami kutip dari Earth.org.

    PVC
    Polivinil klorida dan vinil tidak dapat didaur ulang karena klorin melepaskan bahan beracun dan larut dalam proses daur ulang.

    Karena merupakan plastik yang lebih kuat dan tahan lama, PVC biasanya digunakan dalam plastik pembungkus makanan, selang, dan sebagian besar botol sampo dan minyak goreng.

    Baca: Sampel mikroplastik ditemukan di tubuh manusia

    Polistirena (PS)
    Paling dikenal sebagai Styrofoam, plastik polistirena adalah salah satu pencemar plastik yang paling buruk.

    Meskipun banyak perusahaan telah beralih ke plastik yang dapat terurai secara hayati, sebagian besar wadah dan kemasan makanan siap saji masih menggunakan polistirena, yang tidak dapat didaur ulang.

    PS juga digunakan untuk isolasi, butiran pengisi kemasan, dan bahan-bahan berbusa lainnya. Jadi sebaiknya hindari penggunaan produk apa pun yang terbuat dari polietilen.

    Lainnya
    Kemasan atau bahan plastik apa pun yang memiliki simbol #7 dan tulisan “Lainnya” tidak termasuk dalam kategori lain, dan yang lebih penting, tidak dapat didaur ulang.

    Plastik jenis ini sering kali termasuk polikarbonat (yang mengandung BPA) dan PLA (asam polilaktat).

  • Polemik Polusi Plastik: Mendorong Daur Ulang atau Mengurangi Produksi Plastik?

    Polemik Polusi Plastik: Mendorong Daur Ulang atau Mengurangi Produksi Plastik?

    7cloud.asia – Ilmuwan kelautan dari Universitas Plymouth, AS, Prof Richard Thompson OBE membahas bagaimana kriteria esensialitas, keamanan, dan keberlanjutan dapat mengubah produksi plastik dan membuka jalan untuk memperlambat polusi plastik.

    Menurutnya, masyarakat dunia perlu memastikan bahwa saat merancang produk plastik dengan bahan yang berbeda atau mengganti sesuatu yang lain, harus memiliki tolok ukur untuk mengetahui bahwa barang baru tersebut lebih baik, bukan hanya berbeda.

    Dilansir Earth.org, Prof Thompson menambahkan bahwa plastik berbasis bio atau yang dapat terurai secara hayati hanya dapat berfungsi dalam sistem yang menerapkan pengelolaan limbah yang tepat.

    Argumen tentang mengurangi produksi plastik versus meningkatkan pengelolaan limbah plastik telah disebut sebagai alasan utama mengapa kita belum mampu mencapai Perjanjian Plastik Global.

    Saat ini, sebagian besar limbah plastik dikelola dengan buruk, dikirim ke tempat pembuangan sampah, dibakar, diperdagangkan, atau didaur ulang.

    Baca: Alternatif solusi untuk atasi polusi plastik global

    Daur ulang sering dipuji sebagai metode yang lebih disukai. Namun, tingkat daur ulang global saat ini sangat minim dan bervariasi secara signifikan antar wilayah. Secara global, sebagian besar plastik tidak didaur ulang.

    Eropa Utara dianggap memiliki pengelolaan limbah yang baik, di mana rata-rata 40,7 persen limbah kemasan plastik didaur ulang.

    Di AS, tingkat daur ulang plastik diperkirakan sekitar 5 persen, sedangkan di India dan Cina, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 13 persen dan 14 persen, masing-masing.

    Menurut sebuah makalah yang diterbitkan di Nature, sekitar 40 persen sampah plastik di seluruh dunia dikirim ke tempat pembuangan akhir dan 34 persen dibakar.

    Pembakaran sampah dikaitkan dengan efek kesehatan yang merugikan, termasuk beberapa jenis kanker, masalah reproduksi, dan kematian bayi.

    Baca: Tiga jenis plastik ini tak dapat didaur ulang

    Dapat dikatakan, bagaimana produk plastik dikelola di akhir masa pakainya adalah masalah global. Profesor Thompson menyerukan kriteria yang membahas pengelolaan sampah pada tahap desain. Dengan cara ini, secara internasional, hanya produk plastik penting yang lebih aman dan berkelanjutan yang diproduksi.

    Perjanjian ambisius yang disepakati semua negara adalah hasil yang paling diinginkan untuk mengatasi polusi plastik global. Namun, hal itu sulit dicapai untuk saat ini.

    Karena itu, Prof. Thompson menyarankan salah satu jalan keluar dari kebuntuan saat ini adalah kesepakatan ambisius oleh mayoritas negara dengan ambisi bersama untuk mengurangi polusi plastik.

    Ia menyerukan serangkaian kriteria yang jelas yang memastikan produsen plastik menciptakan produk yang dirancang untuk memastikan esensialitas, keamanan, dan keberlanjutan.

    Saat negosiasi berlanjut, jalan ke depan mungkin memerlukan tindakan berani dari negara-negara yang ambisius daripada konsensus global tentang perjanjian yang begitu lemah sehingga gagal memberikan hasil.

    Saat ini, setidaknya 2.000 truk berisi plastik yang mencemari lautan kita setiap hari. Karena itu sangat urgen bagi masyarakat dunia untuk segera mengambil tindakan, agar kondisi tidak semakin buruk.

    Baca: Daur ulang tak mampu imbangi ledakan polusi plastik

     

  • Bahaya di Balik Kebiasaan Takeaway: Cangkir Kopi Sekali Pakai Lepaskan Ribuan Partikel Mikroplastik

    Bahaya di Balik Kebiasaan Takeaway: Cangkir Kopi Sekali Pakai Lepaskan Ribuan Partikel Mikroplastik

     

    7cloud.asia – Pukul 07.45 pagi. Kamu membeli kopi takeaway di kafe langganan, sembari menggenggam gelas hangat, menyeruput sedikit, lantas bergegas ke kantor.

    Kamu mungkin menganggap gelas kopi itu tidak berbahaya, hanya wadah praktis yang membungkus asupan kafein harian.

    Tapi beda ceritanya kalau gelas tersebut terbuat dari plastik atau memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya. Besar kemungkinan gelas itu melepaskan langsung ribuan pecahan plastik berukuran sangat kecil ke dalam minumanmu.

    Secara global, orang-orang di dunia menggunakan 500 miliar gelas minuman panas sekali pakai tiap tahun.

    Dalam penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials: Plastics, penulis dan beberapa rekan peneliti mengkaji bagaimana gelas-gelas ini bereaksi saat terpapar panas.

    Hasilnya, kami menemukan panas merupakan faktor utama yang mendorong pelepasan mikroplastik. Bahan gelas juga sangat menentukan seberapa banyak partikel mikroplastik yang dilepaskan.

    Apa itu mikroplastik?

    Mikroplastik adalah pecahan kecil plastik berukuran sekitar 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Bayangkan partikel debu hingga biji wijen, kira-kira dalam rentang itulah ukurannya.

    Mikroplastik bisa terbentuk ketika benda plastik yang lebih besar terurai, atau terlepas langsung dari produk plastik saat digunakan. Partikel-partikel ini kemudian berakhir di lingkungan, masuk ke makanan kita, dan pada akhirnya ke dalam tubuh kita.

    Baca: Restoran dan kafe di sejumlah negara mulai tinggalkan alat sekali pakai

    Sampai saat ini, kita belum memiliki bukti yang benar-benar pasti tentang seberapa banyak mikroplastik yang bertahan di dalam tubuh manusia.

    Apalagi penelitian di bidang ini sangat rentan terhadap kontaminasi, sehingga sulit mengukur secara akurat partikel sekecil itu di jaringan tubuh manusia.

    Para ilmuwan juga masih berupaya memahami dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Namun, ada baiknya kita memahami muasal cemaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.

    Suhu berperan penting

    Saya dan rekan-rekan pertama-tama melakukan meta-analisis—yakni sintesis statistik dari berbagai penelitian yang sudah ada—dengan menganalisis data dari 30 studi yang sudah melalui proses telaah sejawat (peer-review).

    Kami meninjau bagaimana plastik pada umumnya seperti polietilena dan polipropilena bereaksi dalam berbagai kondisi. Satu faktor yang paling menonjol dibandingkan yang lain adalah suhu.

    Semakin tinggi suhu cairan di dalam wadah, umumnya semakin banyak mikroplastik yang dilepaskan.

    Dalam studi-studi yang kami telaah, jumlah partikel yang dilaporkan berkisar antara ratusan hingga lebih dari 8 juta partikel per liter, tergantung pada jenis bahan dan desain penelitian.

    Menariknya, “lama perendaman”—yakni berapa lama minuman berada di dalam gelas—tidak selalu menjadi faktor yang konsisten memengaruhi pelepasan mikroplastik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi minuman di dalam gelas plastik, tidak seberpengaruh suhu awal cairan saat pertama kali terpapar plastik.

    Baca: Kisah sukses penerapan sistem guna ulang di bisnis restoran dan kafe

    Menguji 400 gelas kopi

    Untuk melihat bagaimana hal ini terjadi di dunia nyata, kami mengumpulkan 400 gelas kopi dari dua jenis utama di sekitar Brisbane, Australia.

    Kami mengumpulkan gelas plastik berbahan polietilena. Gelas kertas berlapis plastik ini tampak seperti kertas biasa, tetapi memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya.

    Kami mengujinya pada suhu 5°C (suhu kopi dingin) dan 60°C (suhu kopi panas). Kedua jenis gelas sama-sama melepaskan mikroplastik, tetapi hasilnya menunjukkan dua hal berbeda.

    Pertama, bahan sangat menentukan. Gelas kertas berlapis plastik melepaskan lebih sedikit mikroplastik dibandingkan gelas yang sepenuhnya terbuat dari plastik, baik pada suhu dingin maupun panas.

    Kedua, panas memicu peningkatan pelepasan mikroplastik yang signifikan. Pada gelas plastik murni, peralihan dari air dingin ke air panas meningkatkan pelepasan mikroplastik sekitar 33 persen.

    Jika seseorang meminum 300 mililiter kopi (seukuran cangkir kecil biasa) per hari dari gelas plastik berbahan polietilena, maka ia berpotensi menelan sekitar 363 ribu partikel mikroplastik setiap tahun.

    Lalu, mengapa panas begitu berpengaruh?

    Dengan menggunakan pencitraan resolusi tinggi, kami memeriksa dinding bagian dalam gelas dan menemukan bahwa gelas plastik murni memiliki permukaan yang jauh lebih kasar ketimbang gelas kertas yang dilapisi plastik.

    Tekstur yang lebih kasar membuat partikel lebih mudah terlepas. Panas mempercepat proses tersebut dengan melunakkan plastik serta menyebabkan pemuaian dan penyusutan, sehingga menciptakan lebih banyak ketidakteraturan pada permukaan yang pada akhirnya terpecah lalu masuk ke dalam minuman kita.

    Mengelola risiko

    Kamu tidak harus sepenuhnya meninggalkan kebiasaan membeli kopi takeaway di pagi hari, tetapi kamu bisa mengganti wadahnya untuk mengurangi risiko.

    Untuk minuman panas, gunakan gelas pakai ulang berbahan stainless steel, keramik, atau kaca, karena bahan-bahan ini tidak melepaskan mikroplastik.

    Jika kamu terpaksa menggunakan gelas sekali pakai, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa gelas kertas berlapis plastik umumnya melepaskan lebih sedikit partikel dibandingkan gelas plastik murni—meskipun keduanya tidak sepenuhnya bebas mikroplastik.

    Terakhir, karena panas adalah faktor utama pemicu pelepasan plastik, hindari menuangkan cairan yang benar-benar mendidih langsung ke dalam wadah berlapis plastik.

    Minta barista menyiapkan kopi dengan suhu sedikit lebih rendah sebelum dituangkan ke gelas, sehingga menurunkan tekanan fisik pada lapisan plastik dan mengurangi paparan mikroplastik secara keseluruhan.

    Dengan memahami bagaimana suhu dan pilihan bahan saling berinteraksi, kita bisa merancang produk yang lebih baik sekaligus membuat pilihan yang lebih bijak untuk asupan kafein harian kita.


    Professor Chengrong Chen berkontribusi dalam artikel ini.


    Xiangyu Liu, Research Fellow, School of Environment and Science and Australian Rivers Institute, Griffith University

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Perang di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Saatnya Terapkan Sistem Guna Ulang

    Perang di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik, Saatnya Terapkan Sistem Guna Ulang

    7cloud.asia – Serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, tak hanya mengakibatkan lonjakan harga minyak tetapi juga memicu kenaikan harga plastik.

    Pedagang melaporkan harga kemasan plastik sekali pakai, di antaranya plastik kresek dan gelas plastik, naik hingga Rp8.000 per bungkus. Kenaikan yang dipicu oleh terganggunya rantai pasok bahan baku plastik ini tercatat sudah mulai dirasakan sejak sebelum periode Lebaran.

    Juru Kampanye Zero Waste Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar menilai bahwa krisis ini bukanlah hal yang mengejutkan.

    Menurutnya, gangguan terhadap rantai pasok plastik dan industri petrokimia adalah konsekuensi dari pembangunan ekonomi berorientasi bahan bakar fosil yang sudah lama diprediksi.

    Para pelaku industri dan pemimpin dunia sudah sama-sama mengetahui bahwa ketergantungan pada minyak bumi dan plastik sekali pakai sebagai turunannya, adalah bom waktu yang dapat menghancurkan kita semua.

    ”Kini, risiko itu menjadi nyata ketika konflik global langsung memukul rantai pasok plastik,” tegasnya.

    Baca: Krisis energi akibat perang harus jadi momentum transisi ke energi bersih

    Krisis plastik dapat merugikan masyarakat karena berpotensi mendorong harga makanan, minuman, dan kebutuhan harian lain yang bergantung pada kemasan plastik.

    Padahal, permintaan atas sistem guna ulang produk-produk rumah tangga sudah banyak disuarakan oleh konsumen selama ini.

    Survei Greenpeace Indonesia pada tahun 2021 menunjukkan bahwa hampir 70 persen responden telah bersedia beralih ke produk dengan sistem isi ulang (refill) dan guna ulang (reuse).

    Sayangnya, keengganan industri dan pemerintah untuk berinvestasi pada solusi hijau memaksa konsumen terjebak dalam krisis plastik global yang terjadi saat ini.

    Masyarakat, yang seharusnya terbebas dari beban rantai pasok industri nan rapuh, mesti ikut menanggung kerugian akibat ketergantungan terhadap plastik yang dirawat oleh industri dan pemerintah.

    Baca: Perang di Timur Tengah memicu kenaikan harga pupuk, teknologi Biointensif ditawarkan jadi alternatif

    Menurut Ibar, industri dan pemerintah tidak boleh puas dengan sekadar memberikan peringatan kenaikan harga pada konsumen.

    “Ini adalah saatnya untuk mengambil langkah nyata dengan berinvestasi ke alternatif-alternatif terbarukan,“ tandasnya.

    Dia menegaskan, kondisi ini seharusnya menjadi momentum untuk mengimplementasikan pelarangan dan pembatasan kemasan plastik sekali pakai secara penuh.

    Pemerintah sudah memiliki modal Permen LHK nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen untuk melakukan pelarangan, khususnya kemasan saset yang sangat sulit untuk didaur ulang, dan mendorong tanggung jawab penuh produsen atas kemasannya.

    Selain itu, investasi ke sistem guna ulang juga perlu didorong. Keberadaan infrastruktur sistem guna ulang domestik tidak hanya dapat menyelesaikan masalah kelebihan muatan sampah.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran memicu bencana lingkungan

    Menurut Ibar infrastruktur guna ulang juga dapat membuka lapangan kerja, menjaga stabilitas rantai pasok, dan membangun kemandirian dari disrupsi komoditas global.

    Krisis ini menunjukkan rapuhnya ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada bahan bakar fosil dan industri turunannya. Saat para elit menciptakan perang, masyarakat sipil lah yang dipaksa menanggung bebannya.

    Kita bisa melihat bagaimana ketergantungan terhadap bahan bakar fosil telah menciptakan konflik berkepanjangan di berbagai belahan bumi dalam beberapa dekade terakhir.

    Indonesia sendiri perlu melepaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil, karena industri ekstraktif dan turunannya sudah terbukti tidak relevan untuk menopang ekonomi negara yang berkelanjutan.

    Momentum ini harus menjadi titik balik untuk kurangi plastik sekali pakai, dorong sistem guna ulang, dan percepat transisi untuk keluar dari ketergantungan bahan bakar fosil.

    “Jika tidak sekarang, kita akan terus terkunci pada jebakan bahan bakar fosil, serta sulit bertransisi ke pilihan alternatif dan terbarukan,“ pungkasnya.