Tag: kota

  • Cuaca Hari Ini: Sabtu Pagi, Hujan Berpotensi Mengguyur Seluruh Wilayah Jakarta

    Cuaca Hari Ini: Sabtu Pagi, Hujan Berpotensi Mengguyur Seluruh Wilayah Jakarta

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpotensi mengguyur seluruh wilayah Jakarta pada Sabtu (20/09/2025) pagi.

    Laman Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut hujan dengan intensitas ringan berpotensi mengguyur wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Barat pada pagi hari.

    Di waktu yang sama, hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur wilayah Jakarta Timur.

    Selanjutnya pada siang hingga sore hari hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi hampir d seluruh wilayah Jakarta. Hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diprediksi berawan tebal.

    Malam harinya, BMKG memprediksi cuaca di seluruh wilayah Jakarta cerah dan berawan.

    Tak hanya wilayah Jakarta, hujan berintensitas ringan juga berpotensi terjadi di Kota Pekanbaru, Tanjung Pinang, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bandung, Semarang, Surabaya, Pontianak, Samarinda, Palu, Ambon, Ternate, Manokwari dan Jayapura.

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Padang, Mamuju, Sorong, Nabire, Jayawijaya dan Merauke.

    Sedangkan hujan disertai petir berpeluang melanda Kota Bengkulu, Bandar Lampung, Tanjung Selor, Palangkaraya dan Manado.

    BMKG juga mengajak masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir seperti pesisir Batam, pesisir Dabo Singkep, pesisir Bangka Belitung, pesisir Demak, pesisir Pekalongan. pesisir Tegal, pesisir Pemalang, pesisir Surabaya Barat.

    Selain itu, pesisir Bima, pesisir Bitung, pesisir Minahasa Tenggara, pesisir Bolaang Mengondou  Timur, pesisir Bolaang Mengondou Selatan, pesisir Kepulauan Sitaro, pesisir Kepulauan Sagihe juga berpotensi terjadi banjir rob.

    Banjir rob berpotensi juga terjadi di pesisir Kepulauan Talaud, pesisir Palu Donggala, pesisir Toli-Toli, pesisir Buol, pesisir Morowali, pesisir Banggai Laut dan pesisir Maluku Tengah.

     

     

  • Akses Air Bersih Belum Merata, SPAM Jatiluhur Jadi Percontohan Nasional

    Akses Air Bersih Belum Merata, SPAM Jatiluhur Jadi Percontohan Nasional

    7cloud.asia – Wakil Ketua Komisi V DPR, Andi Iwan Darmawan, menyoroti persoalan penyediaan air bersih di Indonesia yang dinilainya masih belum merata.

    Meski proyek Bendungan Jatiluhur 1 di Jawa Barat dinilai sudah cukup maksimal dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Jabodetabek, ia menegaskan bahwa daerah lain juga perlu mendapat perhatian serius.

    “Bukan hanya Bekasi dan Jakarta, di seluruh kota di Indonesia ini kita memiliki persoalan air bersih. Bahkan ada kabupaten-kabupaten tertentu yang penyediaan air bersihnya belum bisa dipenuhi,” ungkap Andi dikutip Parlementaria, Rabu (17/9/2025).

    Ia menekankan bahwa pemerintah harus memastikan keadilan akses air bersih di seluruh Indonesia.

    “Untuk Bekasi, Jakarta, maupun daerah-daerah sekitarnya memang sudah cukup maksimal. Namun kita harapkan seluruh penduduk di Indonesia, khususnya di daerah-daerah yang masih kesulitan, juga bisa segera terpenuhi kebutuhan air bersihnya,” jelasnya.

    Baca: Jaringan Rakyat Miskin Kota tolak privatisasi PAM Jaya

    Menurutnya, pemerataan infrastruktur air bersih harus menjadi prioritas pemerintah, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan meningkatnya kebutuhan dasar masyarakat.

    Akses air bersih di tanah air masih belum merata dan dibutuhkan peningkatan infrastruktur lebih lanjut. Pasalnya, baru 20 persen masyarakat Indonesia yang mampu mendapatkan akses air bersih.

    Menurut data Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI), pada 2023 hanya sebanyak 19,47 persen rumah tangga yang memiliki akses terhadap air pipa.

    Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan yang besar pada pendanaan akses air bersih di seluruh Indonesia.

    Adapun salah satu dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2024 menargetkan akses untuk air yang layak pakai sebesar 100 persen, air yang aman untuk dipakai sebesar 15 persen, dan rumah tangga yang memiliki akses terhadap air pipa sebesar 30 persen.

    Baca: Miliaran penduduk dunia kesulitan mengakses air bersih

    Sementara itu, salah satu target Sustainable Development Goals (SDG) tahun 2030 adalah akses untuk air yang aman untuk dipakai sebesar 100 persen.

    Anggota Komisi V DPR, Sudjatmiko menilai keberadaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Jatiluhur Regional, yang dinilai berhasil menjadi solusi penyediaan air bersih lintas daerah di sekitar Jakarta diharapkan bisa direplikasi di daerah lain.

    SPAM Jatiluhur ini memasok kebutuhan air bersih untuk wilayah Jakarta, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, dan Karawang, dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

    menegaskan bahwa model regional dalam pengelolaan air bersih ini dapat dijadikan contoh bagi provinsi lain di Indonesia.

    “Sistemnya juga baik, karena tidak semuanya menggunakan APBN, tapi ada sistem KPBU. Ini salah satu cara untuk mengurangi kekurangan pasokan air di Bekasi, Jakarta, dan Karawang,” jelasnya kepada Parlementaria usai meninjau proyek SPAM Jatiluhur, Karawang, Jawa Barat, Rabu (17/9/2025).

    Baca: Kekeringan dan krisis air global sudah di depan mata

  • Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    7cloud.asia – Permintaan alat pengkondisian atau pendinginan udara (AC) terus meningkat seiring dengan panas ekstrem yang semakin sering terjadi di banyak kota di dunia.

    Namun, konsumsi energi alat pendinginan ini sangat besar sehingga penggunaan AC secara masif akan mendongkrak emisi yang kemudian akan memperburuk krisis iklim.

    Untuk menurunkan emisi dari penggunaan alat pendinginan ini diperlukan pendekatan pendinginan yang lebih holistik dan mencakup skala luas.

    Di kota-kota beriklim hangat seperti Dubai (Uni Emirat Arab) pendinginan kawasan merupakan alternatif berkelanjutan yang terbukti efektif untuk menjaga suhu tetap rendah, hanya membutuhkan setengah energi dibandingkan dengan pendingin udara.

    Air dingin dialirkan melalui pipa-pipa berinsulasi dari instalasi pendingin pusat ke gedung-gedung. Air tersebut kemudian didistribusikan ke unit-unit penanganan udara, yang mendinginkan gedung.

    Setelah air menyerap panas, air tersebut mengalir kembali ke instalasi pendingin pusat untuk didinginkan dan digunakan kembali.

    Baca: Menanam pohon terbukti efektif menurunkan efek pulau panas perkotaan

    Di Eropa, semakin banyak kota yang mempertimbangkan pendinginan kawasan untuk menjaga suhu tetap rendah sekaligus menjaga emisi tetap rendah. Paris memiliki salah satu sistem pendinginan distrik terbesar di Eropa.

    Lebih dari 800 lokasi di kota itu, termasuk Museum Louvre, tetap sejuk dengan air dingin dari Sungai Seine.

    Dilansir Earth.org, otoritas kota Paris berencana untuk memperluas sistem ini lebih lanjut, menghubungkan rumah sakit, panti jompo, dan tempat penitipan anak di seluruh kota.

    Kota Hijau sebagai solusi
    Solusi pendinginan berbasis alam seperti menciptakan ruang hijau seperti taman dan hutan kota, merestorasi lahan basah juga mulai dilakukan banyak kota.

    Juga penerapan infrastruktur hijau seperti atap dan dinding hijau dapat membantu menurunkan suhu di area perkotaan yang terlalu panas, dan mengurangi kebutuhan pendinginan penghuninya secara keseluruhan.

    Solusi pendinginan pasif seperti naungan, insulasi, dan peningkatan ventilasi alami semuanya dapat membantu mengurangi suhu dalam ruangan tanpa AC.

    Baca: Menurunkan emisi gas rumah kaca dengan prinsip bangunan hijau

    Pendinginan pasif dapat membantu mengurangi emisi sebesar 1,3 miliar ton pada tahun 2050, menurut beberapa perkiraan.

    Atap dingin atau atap hijau adalah salah satu solusi pendinginan pasif yang paling sederhana dan paling hemat biaya.

    Inisiatif yang dipimpin masyarakat di empat kota di India menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan atap tradisional, atap dingin menurunkan suhu dalam ruangan sebesar 2 hingga 5°C.

    Di ibu kota Korea Selatan, Seoul, banyak sungai yang mengalir melalui kota menawarkan tempat mencari udara sejuk selama musim panas.

    Contohnya adalah sungai Cheonggyecheon di kota tersebut, yang suhunya 3-6°C lebih dingin dibandingkan dengan jalan lain di area yang sama.

    Hal ini merupakan hasil dari peningkatan aliran air sungai, penambahan pepohonan dan tanaman, serta penghapusan jalan tol di dekatnya. Transformasi hijau sungai ini juga mendorong pertumbuhan bisnis dan pariwisata.

    Di Medellín, Kolombia, 30 koridor hijau menawarkan akses udara sejuk bagi jutaan orang setiap harinya.

    Program koridor hijau kota ini dimulai pada tahun 2016, dan mengurangi efek pulau perkotaan sebesar 2°C dalam waktu sekitar tiga tahun. Pada tahun 2044, kota ini memperkirakan penurunan sebesar 4-5°C.

    Baca: Alam menawarkan cara berkelanjutan untuk menurunkan panas perkotaan

  • Dorong Warga Memilah Sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta Bagikan 5000 Ember untuk Tampung Sampah Organik

    Dorong Warga Memilah Sampah, Pemerintah Kota Yogyakarta Bagikan 5000 Ember untuk Tampung Sampah Organik

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Yogyakarta membagikan 5.000 ember untuk menampung sampah organik sisa dapur rumah tangga kepada para penggerobak di 45 kelurahan.

    Pembagian ember sampah organik ini merupakan bagian dari gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah atau Mas JOS, yang bertujuan membangun pemahaman dan kebiasaan baru masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah sejak dari level rumah tangga.

    Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjelaskan, lewat gerakan Mas JOS masyarakat tidak hanya diajak tapi juga difasilitasi untuk memilah sampah sampah dapur dan dipisahkan masuk ke ember kecil atau galon bekas.

    “Kalau sudah dipisahkan nanti setiap hari akan diambil oleh transporter yang di tiap gerobaknya juga sudah disediakan ember khusus untuk sampah organik dari rumah tangga,” terang Hasto usai Apel Luar Biasa Pendampingan Pengelolaan Sampah pada Jumat (19/9/2025) di Kompleks Balai Kota Yogyakarta

    Hasto menyatakan volume sampah organik per hari di Kota Yogyakarta sekitar 125 ton. Setiap penggerobak sudah dibekali 2 ember yang mampu menampung 50 kilogram sampah organik sisa dapur.

    Baca: Darurat sampah di Kota Yogyakarta belum sepenuhnya teratasi

    Hasto menekankan, pemilahan sampah menjadi langkah pertama dalam mengatasi persoalan sampah. Setelah terpilah pengelolaan sampah akan berjalan lebih optimal. Seperti halnya yang menjadi ajakan dalam gerakan Mas JOS.

    Dia meminta masyarakat memilah sampah sesuai jenisnya, bawa sampah anorganik ke bank sampah atau pengepul, olah sampah organik, habiskan makanan dan gunakan wadah berulang.

    “Dimulai dari rumah kita masing-masing, sehingga kita bisa jadi contoh termasuk juga ASN, seluruh perangkat daerah Pemkot juga akan mendampingi 45 kelurahan soal pengelolaan sampah,” tandasnya.

    Hasto mengajak warga supaya bisa gotong royong menyelesaikan permasalahan sampah di Kota Yogyakarta.

    Kalau masih ada yang ragu memilah sampah karena nanti di gerobak juga akan tercampur, ujarnya, setiap transporter telah difasilitasi ember khusus untuk sampah organik, dan sisanya adalah sampah residu karena anorganik sudah masuk ke bank sampah atau pengepul.

    Baca: Sepertiga produksi sampah di Kota Yogyakarta belum tertangani

    Sampah organik yang diambil penggerobak masuk ke ember besar, setelah terkumpul akan diambil oleh off taker yang akan membeli, sifatnya B2B jadi jual beli itu ya dengan penggerobak atau kesepakatan dengan warga setempat.

    “Nanti Pemkot melalui perangkat daerah maupun kemantren mencari off taker dari swasta dan mengubungkannya dengan wilayah sebagai supplier sampah organik,” lanjutnya.

    Pihaknya menambahkan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, akan didampingi secara langsung baik melalui Juru Pengawas Pemilahan Sampah atau Jumilah di tiap kelurahan maupun Satpol PP juga Linmas.

    Saat ini ada 90 Jumilah di 45 kelurahan, 650 anggota Satpol PP, juga linmas dan perangkat daerah pendamping kelurahan akan bergilir datang langsung turun ke wilayah.

    Mereka bertugas untuk mengajak, mendampingi maupun bentuk pengawasan sejauh mana pemilahan sampah itu berjalan.

    Baca: Gerakan Mbah Dirjo mampu turunkan sampah di Kota Yogyakarta

    “Sebab ini upaya kita bersama membangun sistem dan kebiasaan baru dalam mengatasi sampah,” imbuhnya.

    Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta Rajwan Taufiq mengatakan sejauh ini ada tiga off taker yang akan mengelola sampah organik dari wilayah Kota Yogyakarta.

    Dalam satu kali angkut, off taker ini mampu membawa 1 ton sampah sisa dapur rumah tangga.

    Ditargetkan, nantinya ada satu off taker di setiap kelurahan sehingga sampai akhir tahun diharapkan sudah ada 45 off taker baik peternak maupun pengepul sampah organik.

    “Sekali jalan bisa 1 ton, tinggal nanti kesepakatan dengan wilayah masing-masing mampu berapa kali angkut. Terkait titik kumpul pengambilan juga tidak harus di depo sampah, bisa juga di kelurahan atau titik lain yang disp penggerobak tiap wilayah,” katanya.

    Baca: Sistem pengelolaan sampah berbayar tuk atasi masalah di TPA Piyungan

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Suhu Udara Capai 35 Derajat Celsius di Kota Ini

    7cloud.asia – Suhu udara yang panas berpotensi melanda beberapa wilayah di Indonesia pada Minggu (21/09/2025). Bahkan suhu udara mencapai 35 derajat celsius.

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam kanal youtube resminya menyebut, Kota Gorontalo mencapai suhu udara hingga 35 derajat celsius. Kota Makassar suhu udara mencapai 34 derajat celsius.

    Meski demikian, masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir di sejumlah wilayah di Indonesia.

    Hujan dengan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Padang,, Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, Bandar Lampung, Serang, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, Mamuju, Manado, Ternate, Ambon, Sorong, Jayapura dan Jayawijaya.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Nabire dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Pekanbaru, Bandung dan Tanjung Selor.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Bangka Belitung, pesisir Jawa Tengah, pesisir Nusa Tenggara Barat, pesisir Sulawesi Tengah, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

     

  • UNEP: Sudah Saatnya Dunia Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya

    UNEP: Sudah Saatnya Dunia Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya

    7cloud.asia – Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan sampah kota di dunia bakal meningkat dua pertiga dan biayanya hampir dua kali lipat dalam satu generasi.

    Karena itu butuh upaya pengurangan drastis produksi sampah untuk menjamin masa depan planet Bumi yang layak huni dan terjangkau.

    Berjudul “Beyond an age of waste: Turning rubbish into a resource” the UNEP Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO 2024), laporan ini memberikan pembaruan paling substansial tentang jumlah sampah global dan biaya sampah serta pengelolaannya sejak 2018.

    Analisis ini menggunakan penilaian siklus hidup untuk mengeksplorasi apa yang bisa diperoleh atau hilang dengan melanjutkan bisnis seperti biasa, mengadopsi langkah-langkah setengah jalan, atau berkomitmen penuh pada masyarakat tanpa sampah dan ekonomi sirkular.

     

     

    Baca: Saatnya mengonsumsi secara bertanggung jawab untuk mengurangi sampah

    Menurut laporan tersebut, jumlah sampah kota diperkirakan akan tumbuh dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

    Pada tahun 2020, biaya langsung global untuk pengelolaan sampah diperkirakan mencapai 252 miliar dolar atau sekitar Rp4.183 triliun.

    Namun, jika memperhitungkan biaya tersembunyi berupa polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim akibat praktik pembuangan sampah yang buruk, biayanya meningkat menjadi 361 miliar dolar atau sekitar Rp5.995 triliun.

    Tanpa tindakan segera dalam pengelolaan sampah, pada tahun 2050 biaya tahunan global ini dapat meningkat hampir dua kali lipat menjadi 640,3 miliar dolar atau sekitar Rp10.633 triliun. Jumlah yang sangat besar bukan?

    Pemodelan dalam laporan ini menunjukkan, pengendalian sampah dengan mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengelolaan sampah dapat membatasi biaya tahunan bersih hingga 270,2 miliar dolar pada tahun 2050.

    Baca: Perjanjian global untuk cegah migrasi sampah plastik sering disalah-gunakan

    Namun, proyeksi menunjukkan bahwa model ekonomi sirkular, di mana produksi sampah dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan melalui penerapan penghindaran sampah, praktik bisnis berkelanjutan, dan pengelolaan sampah secara menyeluruh, justru dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar 108,5 miliar dolar per tahun.

    Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan, timbulnya sampah secara intrinsik terkait dengan PDB, dan banyak negara dengan pertumbuhan pesat sedang berjuang melawan beban pertumbuhan sampah yang pesat.

    Dia menekankan pentingnya mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti menuju masa depan yang lebih berdaya dan menekankan peran penting para pengambil keputusan di sektor publik dan swasta untuk bergerak menuju nol sampah.

    Dengan prospek Pengelolaan Sampah Global ini dapat mendukung upaya mencegah hilangnya peluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

    ”Upaya ini sekaligus mengamankan planet Bumi yang lebih layak huni bagi generasi mendatang,” kata Inger Andersen.

    Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

    GWMO 2024 adalah panduan dan ajakan bertindak untuk mengkatalisasi upaya kolektif dalam mendukung solusi yang berani dan transformatif, membalikkan dampak buruk dari praktik pengelolaan sampah saat ini, dan memberikan manfaat nyata bagi setiap individu yang hidup di planet ini.

    “Tindakan-tindakan ini berperan penting dalam mempercepat pencapaian Agenda 2030. Sebagai mitra dan pendukung GWMO sejak awal, ISWA akan memastikan GWMO disebarluaskan dan diimplementasikan di lapangan dengan memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan yang saat ini diamati,” ujar Carlos Silva Filho, Presiden ISWA.

    Temuan laporan ini menunjukkan bahwa dunia perlu segera beralih ke pendekatan tanpa sampah, sekaligus meningkatkan pengelolaan sampah untuk mencegah polusi yang signifikan, emisi gas rumah kaca, dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

    Laporan itu mengingatkan, polusi akibat sampah tidak mengenal batas wilayah, sehingga menjadi kepentingan semua pihak untuk berkomitmen pada pencegahan sampah dan berinvestasi dalam pengelolaan sampah di tempat yang masih kurang.

    “Solusinya tersedia dan siap untuk ditingkatkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat untuk menetapkan arah dan langkah yang diperlukan, serta memastikan tidak ada yang tertinggal,” ujar Zoë Lenkiewicz, penulis utama laporan ini.

  • BRIN: Daerah Padat Penduduk Cenderung Memiliki Kerentanan Lingkungan yang Besar

    BRIN: Daerah Padat Penduduk Cenderung Memiliki Kerentanan Lingkungan yang Besar

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laras Toersilowati mengungkapkan bahwa kepadatan penduduk cenderung memiliki kerentanan lingkungan yang lebih besar.

    Hal tersebut disampaikannya saat memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia, dalam acara Ocean Indonesia and Atmosphere Training Workshop, Selasa (16/9/2025) di Kantor BRIN Bandung.

    Laras mengungkapkan temuan ini saat melakukan analisis environmental criticality index (ECI) di Kota Surabaya, Jawa Timur.

    ECI adalah Indeks berbasis penginderaan jauh yang digunakan untuk menentukan area lingkungan kritis dengan menganalisis faktor-faktor seperti Suhu Permukaan Tanah (SPL), Indeks Perbedaan Vegetasi Ternormalisasi (NDVI).

    ECI seringkali menggabungkan kepadatan bangunan (NDBI) dan badan air (MNDWI) untuk memetakan kualitas lingkungan, terutama di wilayah perkotaan.

    Baca: Minim ruang hijau, kota-kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem

    Indeks ini mengidentifikasi area berisiko tinggi mengalami degradasi lingkungan akibat faktor-faktor seperti peningkatan suhu, kepadatan bangunan dan berkurangnya vegetasi, yang seringkali terkait dengan urbanisasi.

    Peneliti menggunakan berbagai indeks spektral seperti NDVI, DBI, dan NDWI untuk mengidentifikasi area dengan tingkat kerentanan lingkungan yang tinggi.

    “Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kritis tertinggi berada di pusat kota, bagian utara, serta sebagian kawasan barat Surabaya,” kata Laras.

    Semakin jauh dari pusat kota, yakni ke arah sisi timur dan sisi barat, suhu permukaan menurun karena masih banyak tanaman hijau dan kepadatan bangunan juga lebih rendah.

    Kondisi rentan tersebut berkorelasi dengan tingginya kepadatan penduduk yang menekan daya dukung lingkungan.

    Baca: Pembangunan ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh

    “Temuan kami menunjukkan bahwa kota dengan kepadatan tinggi cenderung memiliki tingkat kerentanan lingkungan yang lebih besar. Hal ini menuntut strategi tata ruang yang lebih adaptif,” papar Laras.

    Organisasi Riset Kebumian dan Maritim melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia.

    Kajian ini dilakukan sejak tahun 2022 hingga 2025, dengan fokus pada lima studi kasus, meskipun dalam kesempatan presentasi kali ini hanya tiga yang dibahas secara singkat.

    Laras menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya perubahan iklim di kawasan perkotaan akibat urbanisasi, perubahan tutupan lahan, dan meningkatnya emisi polutan.

    Ia menekankan pentingnya data satelit sebagai instrumen utama dalam penelitian iklim modern saat perubahan iklim sudah di depan mata.

    Lebih jauh, menurut Laras, data satelit memungkinkan kita melihat pola perubahan iklim secara lebih detail, baik dari sisi ruang maupun waktu. Dengan informasi ini, kita bisa lebih tepat memahami bagaimana kota berkembang dan apa dampaknya terhadap lingkungan.

    Baca: Upaya Jakpro wujudkan transformasi hijau

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Suhu Udara di Kota Ini Mencapai 36 Derajat Celsius

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Suhu Udara di Kota Ini Mencapai 36 Derajat Celsius

    7cloud.asia – Suhu udara yang panas bahkan hingga mencapai 36 derajat celsius berpotensi terjadi di beberapa kota di Indonesia pada Selasa (23/09/2025).

    Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam kanal youtube resminya menjelaskan suhu udara hingga mencapai 36 derajat berpotensi melanda Kota Surabaya.

    Suhu tinggi antara 34 hingga 35 derajat celsius juga berpotensi terjadi Kota Sabang,  Pekanbaru, Semarang, Palangkaraya dan Jayapura.  

    Meski demikian, BMKG mengungkap masih ada potensi hujan dengan intensitas ringan hingga hujan disertai petir di sejumlah kota.

    Hujan intensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang, Tanjung Selor, Banjarmasin, Palu, Mamuju, Manado. Ambon, Sorong, Manokwari, Jayapura dan Jayawijaya.

    Baca: BMKG rilis peringatan dini cuaca ekstrem untuk Jawa Barat

    Sementara hujan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Ternate. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Nabire dan Merauke.

    Untuk kota Jakarta BMKG memprediksi cuaca cerah hingga berawan sepanjang hari. Pada pagi hari cuaca cerah berawan menaungi Kepulauan Seribu. Sementara cuaca cerah menaungi Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

    Pada siang hari cuaca cerah menaungi Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

    Pada sore hari cuaca cerah berawan menaungi Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur. Sementara cuaca cerah di Jakarta Barat.

    BMKG memprakirakan cuaca berawan pada malam hari di Kepulauan Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Timur.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Bangka Belitung, pesisir Banten, pesisir Jawa Tengah, pesisir Jawa Timur, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.

    Baca: Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem 

  • Akankah Rumah Flat Jadi Solusi Hunian yang Lebih Adil?

    Akankah Rumah Flat Jadi Solusi Hunian yang Lebih Adil?

    7cloud.asia – Selama ini, masyarakat kelas menengah Indonesia tak punya banyak pilihan hunian. Antara terjebak di kos-kosan yang tak layak huni, apartemen yang aksesibilitasnya dipertanyakan, atau tercekik dengan KPR rumah tapak.

    Tak heran, konsep rumah flat Menteng di Jakarta Pusat ramai diperbincangkan. Hunian ini dibangun oleh Marco Kusumawijaya, arsitek sekaligus pendiri Rujak Center for Urban Studies. Rumah flat hadir sebagai alternatif di tengah ketimpangan akses hunian.

    Rumah flat adalah rumah tapak komunal yang umumnya bertingkat tiga sampai empat sehingga dapat ditinggali oleh beberapa keluarga.

    Rumah flat dianggap sebagai solusi kepemilikan rumah yang layak bagi kelas menengah. Hunian ini memiliki harga murah dibanding rumah tapak konvensional, lokasi strategis, dan desainnya nyaman untuk ditinggali.

    Rumah flat Menteng sebagai inisiator konsep hunian kolektif ini dibangun dengan sistem koperasi perumahan. Pengelolaannya transparan dan proses perancangannya melibatkan penghuni.

    Biaya konstruksi bisa ditekan, tidak ada biaya pemasaran, tanpa margin keuntungan—hunian yang dibangun murni untuk ditinggali.

    Namun, apakah model hunian seperti rumah flat Menteng solusi adil untuk masyarakat—atau justru hanya menjadi solusi sementara yang belum menjawab akar masalah ketimpangan akses hunian di Indonesia?

    Baca: Pemprov DKI Jakarta berencana membangun dan merevitalisasi sembilan rusunawa

    Kelayakan hidup di rumah flat
    Dari segi kelayakan, rumah flat cukup ideal bagi masyarakat, baik dari desain bangunan maupun aksesibilitas.

    Desain bangunan hunian Indonesia saat ini biasanya hanya terbagi menjadi rumah tapak (rumah deret ataupun terpisah) dan apartemen bertingkat menengah (mid-rise) atau bertingkat tinggi (high-rise).

    Namun sebenarnya, ada yang hilang antara desain hunian tingkat rendah dan bangunan tinggi.

    Rujak Center of Urban Studies menggunakan istilah “missing middle housing” atau hunian menengah yang hilang. Istilah ini pertama kali dimunculkan oleh arsitek asal Amerika Serikat, Daniel Parolek, meskipun tipologi bangunan townhouse atau multiplex sendiri bukan hal yang baru.

    Di Belanda, misalnya. Apartemen tiga atau empat lantai sudah muncul sejak tahun 1920-an dengan desain yang bervariasi. Di kota-kota besar seperti Amsterdam, Den Haag, dan Rotterdam, blok-blok apartemen empat hingga enam lantai juga lazim dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian yang tinggi dengan ketersediaan lahan yang rendah.

    Baca: Harga rumah makin mahal, haruskah punya hunian sendiri?

    Rumah flat sebagai solusi kekurangan rumah Indonesia
    Desain bangunan yang bertingkat rendah menyederhanakan berbagai aspek struktur, konstruksi, serta mekanikal dan elektrikal pada bangunan, sehingga pemeliharannya pun akan relatif lebih mudah dan murah.

    Secara sosial, hidup di desain bangunan bertingkat rendah juga mengurangi risiko munculnya perasaan kesepian dan terisolasi yang sering dirasakan oleh penghuni apartemen bertingkat tinggi.

    Selain itu, rumah flat idealnya dibangun di lokasi yang tidak terlalu jauh dari pusat kegiatan ekonomi seperti rumah flat Menteng. Terlebih, kebanyakan pilihan hunian bagi para kelas menengah saat ini justru semakin menjauh dari pusat kegiatan ekonomi.

    Padahal, mayoritas mereka bekerja di pusat kota sehingga harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk pulang pergi.

    Kondisi “tua di jalan” ditambah ongkos transportasi yang dapat mencapai sepertiga gaji tentu mengurangi kualitas hidup individu. Dengan posisi ini, aksesibilitas hunian menjadi poin kuat dari rumah flat.

    Baca: Apakah kita mampu beli rumah kalau berhemat?

    Biaya rumah flat
    Dari segi biaya, harga rumah flat Menteng mungkin lebih terjangkau dibanding rumah tapak. Namun, memiliki rumah flat membutuhkan modal awal yang cukup besar.

    Dalam rumah flat Menteng, setiap pemilik unit hanya perlu membayar sewa tanah. Namun, biaya iuran pembangunan unit di awal cukup besar, mulai dari Rp380 juta hingga lebih dari 1 miliar.

    Dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini, tidak banyak kelas menengah yang memiliki cukup aset likuid untuk membayar iuran pembangunan.

    Pemerintah juga belum menyediakan instrumen pembiayaan untuk rumah flat, meskipun Peraturan Gubernur DKI Jakarta sudah mengakui adanya zonasi untuk pembangunan flat.

    Instrumen pembiayaan terfokus pada hunian konvensional: Kredit kepemilikan rumah baru maupun kredit pembangunan rumah.

    Dengan minimnya akses pembiayaan ini, maka pasar yang bisa dijangkau oleh rumah flat sejenis pun sangat terbatas.

    Jika rumah flat Menteng menjadi preseden, replikasi konsep hunian yang sama dengan skala besar akan sulit terwujud. Karena harga sewa yang dipatok inisiator rumah flat lebih rendah dibandingkan dengan harga pasaran.

    Alhasil, pemilik lahan lain mungkin akan menganggap inisiatif ini kurang menguntungkan. Oleh karena itu, bola perluasan inisiatif pembangunan rumah flat sejenis saat ini ada pada pemerintah.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetren

    Lantas, apa makna kemunculan rumah flat? Rumah flat Menteng adalah ide penyediaan perumahan swadaya yang harus diapresiasi.

    Meski begitu, pemerintah juga perlu menyadari bahwa inovasi ini muncul karena kegagalan sistem perumahan dalam menyediakan hunian yang layak bagi semua kelompok masyarakat, termasuk bagi kelas menengah perkotaan.

    Saat ini, pemerintah masih salah fokus dalam menangani isu backlog hunian Indonesia. Pemerintah justru memperkenalkan rumah subsidi alias tiny house atau mengurangi luasan rumah subsidi di daerah pinggiran yang jauh dari pusat kegiatan ekonomi.

    Pemerintah seharusnya fokus mengembangkan inovasi-inovasi penyediaan hunian yang betul-betul layak, baik dari segi keterjangkauan harga, aksesibilitas, maupun kualitas bangunan. Salah satunya dengan konsep rumah flat.

    Apabila didukung dengan kebijakan yang kuat, payung hukum yang ideal, serta ketersediaan pilihan pembiayaan yang meringankan, hunian komunal seperti rumah flat Menteng adalah pilihan yang lebih menguntungkan bagi para kelas menengah perkotaan.

    Baca: Hunian dengan konsep micro living makin jadi pilihan

    Jika rumah flat dikembangkan lebih luas
    Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk mengembangkan konsep rumah flat adalah mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat dimanfaatkan sebagai lokasi pembangunan flat sejenis.

    Utamanya, lahan-lahan ini perlu berada dekat dengan rute transportasi umum, seperti stasiun KRL, MRT, atau halte bus TransJakarta.

    Kemudian pemerintah dapat mulai memperluas jangkauan kredit pembiayaan. Bisa dalam bentuk koperasi perumahan yang sudah dibentuk oleh komunitas yang tujuannya membangun rumah sejenis atau untuk individu yang ingin membeli salah satu unit pada flat yang sudah ada atau akan dibangun.

    Selain itu, pemerintah perlu memastikan pembangunan dan jual beli hak guna bangunan rumah flat bebas dari para spekulan dan tidak digunakan sebagai instrumen investasi.

    Meski mekanisme rumah flat Menteng sudah mengantisipasi hal ini, perlindungan harga unit tetap perlu memiliki payung hukum yang kuat dari pemerintah.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Issa Tafridj (PhD Researcher, Institute for Housing and Urban Development Studies, Erasmus University Rotterdam, Universitas Pembangunan Jaya)

  • Cuaca Hari Ini: Sebagian Wilayah Jakarta Berpeluang Hujan

    Cuaca Hari Ini: Sebagian Wilayah Jakarta Berpeluang Hujan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas ringan berpeluang terjadi di sebagian wilayah Jakarta pada Rabu (24/09/2025) siang hingga malam.

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pagi hari seluruh wilayah Jakarta diprediksi cerah dan berawan.

    Potensi hujan berintensitas ringan terjadi pada siang hari di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sementara pada malam hari wilayah Jakarta diprediksi berawan hingga hujan berintensitas ringan.

    Tak hanya wilayah Jakarta. BMKG juga memprediksi hujan berintensitas ringan akan terjadi di Kota Padang, Pekanbaru, Tanjung Pinang, Serang, Bandung, Semarang, Denpasar, Mataram, Tanjung Selor, Palangkaraya, Palu, Kendari, Ternate, Ambon, Manokwari dan Jayapura.    

    Kemudian hujan dengan intensitas sedang berpotensi mengguyur Kota Medan, Mamuju, Nabire, Jayawijaya dan Merauke. Sedangkan hujan disertai petir berpotensi melanda Kota Bengkulu, Banjarmasin, Manado dan Sorong.

    BMKG mengimbau masyarakat mewaspadai potensi banjir rob di sejumlah pesisir seperti pesisir Sumatera Utara, pesisir Kepulauan Riau, pesisir Bangka Belitung, pesisir Banten, pesisir Jawa Tengah, pesisir Jawa Timur, pesisir Sulawesi Utara dan pesisir Maluku.