UNEP: Sudah Saatnya Dunia Mengubah Sampah Menjadi Sumber Daya

Written by

in

7cloud.asia – Laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) memperkirakan sampah kota di dunia bakal meningkat dua pertiga dan biayanya hampir dua kali lipat dalam satu generasi.

Karena itu butuh upaya pengurangan drastis produksi sampah untuk menjamin masa depan planet Bumi yang layak huni dan terjangkau.

Berjudul “Beyond an age of waste: Turning rubbish into a resource” the UNEP Global Waste Management Outlook 2024 (GWMO 2024), laporan ini memberikan pembaruan paling substansial tentang jumlah sampah global dan biaya sampah serta pengelolaannya sejak 2018.

Analisis ini menggunakan penilaian siklus hidup untuk mengeksplorasi apa yang bisa diperoleh atau hilang dengan melanjutkan bisnis seperti biasa, mengadopsi langkah-langkah setengah jalan, atau berkomitmen penuh pada masyarakat tanpa sampah dan ekonomi sirkular.

 

 

Baca: Saatnya mengonsumsi secara bertanggung jawab untuk mengurangi sampah

Menurut laporan tersebut, jumlah sampah kota diperkirakan akan tumbuh dari 2,3 miliar ton pada tahun 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada tahun 2050.

Pada tahun 2020, biaya langsung global untuk pengelolaan sampah diperkirakan mencapai 252 miliar dolar atau sekitar Rp4.183 triliun.

Namun, jika memperhitungkan biaya tersembunyi berupa polusi, kesehatan yang buruk, dan perubahan iklim akibat praktik pembuangan sampah yang buruk, biayanya meningkat menjadi 361 miliar dolar atau sekitar Rp5.995 triliun.

Tanpa tindakan segera dalam pengelolaan sampah, pada tahun 2050 biaya tahunan global ini dapat meningkat hampir dua kali lipat menjadi 640,3 miliar dolar atau sekitar Rp10.633 triliun. Jumlah yang sangat besar bukan?

Pemodelan dalam laporan ini menunjukkan, pengendalian sampah dengan mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengelolaan sampah dapat membatasi biaya tahunan bersih hingga 270,2 miliar dolar pada tahun 2050.

Baca: Perjanjian global untuk cegah migrasi sampah plastik sering disalah-gunakan

Namun, proyeksi menunjukkan bahwa model ekonomi sirkular, di mana produksi sampah dan pertumbuhan ekonomi dipisahkan melalui penerapan penghindaran sampah, praktik bisnis berkelanjutan, dan pengelolaan sampah secara menyeluruh, justru dapat menghasilkan keuntungan bersih sebesar 108,5 miliar dolar per tahun.

Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan, timbulnya sampah secara intrinsik terkait dengan PDB, dan banyak negara dengan pertumbuhan pesat sedang berjuang melawan beban pertumbuhan sampah yang pesat.

Dia menekankan pentingnya mengidentifikasi langkah-langkah yang dapat ditindaklanjuti menuju masa depan yang lebih berdaya dan menekankan peran penting para pengambil keputusan di sektor publik dan swasta untuk bergerak menuju nol sampah.

Dengan prospek Pengelolaan Sampah Global ini dapat mendukung upaya mencegah hilangnya peluang untuk menciptakan masyarakat yang lebih berkelanjutan.

”Upaya ini sekaligus mengamankan planet Bumi yang lebih layak huni bagi generasi mendatang,” kata Inger Andersen.

Baca: Ledakan sampah plastik memicu penjajahan gaya baru

GWMO 2024 adalah panduan dan ajakan bertindak untuk mengkatalisasi upaya kolektif dalam mendukung solusi yang berani dan transformatif, membalikkan dampak buruk dari praktik pengelolaan sampah saat ini, dan memberikan manfaat nyata bagi setiap individu yang hidup di planet ini.

“Tindakan-tindakan ini berperan penting dalam mempercepat pencapaian Agenda 2030. Sebagai mitra dan pendukung GWMO sejak awal, ISWA akan memastikan GWMO disebarluaskan dan diimplementasikan di lapangan dengan memberikan dukungan yang dibutuhkan untuk mengatasi tantangan yang saat ini diamati,” ujar Carlos Silva Filho, Presiden ISWA.

Temuan laporan ini menunjukkan bahwa dunia perlu segera beralih ke pendekatan tanpa sampah, sekaligus meningkatkan pengelolaan sampah untuk mencegah polusi yang signifikan, emisi gas rumah kaca, dan dampak negatif terhadap kesehatan manusia.

Laporan itu mengingatkan, polusi akibat sampah tidak mengenal batas wilayah, sehingga menjadi kepentingan semua pihak untuk berkomitmen pada pencegahan sampah dan berinvestasi dalam pengelolaan sampah di tempat yang masih kurang.

“Solusinya tersedia dan siap untuk ditingkatkan. Yang dibutuhkan saat ini adalah kepemimpinan yang kuat untuk menetapkan arah dan langkah yang diperlukan, serta memastikan tidak ada yang tertinggal,” ujar Zoë Lenkiewicz, penulis utama laporan ini.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *