7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laras Toersilowati mengungkapkan bahwa kepadatan penduduk cenderung memiliki kerentanan lingkungan yang lebih besar.
Hal tersebut disampaikannya saat memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia, dalam acara Ocean Indonesia and Atmosphere Training Workshop, Selasa (16/9/2025) di Kantor BRIN Bandung.
Laras mengungkapkan temuan ini saat melakukan analisis environmental criticality index (ECI) di Kota Surabaya, Jawa Timur.
ECI adalah Indeks berbasis penginderaan jauh yang digunakan untuk menentukan area lingkungan kritis dengan menganalisis faktor-faktor seperti Suhu Permukaan Tanah (SPL), Indeks Perbedaan Vegetasi Ternormalisasi (NDVI).
ECI seringkali menggabungkan kepadatan bangunan (NDBI) dan badan air (MNDWI) untuk memetakan kualitas lingkungan, terutama di wilayah perkotaan.
Baca: Minim ruang hijau, kota-kota di belahan bumi selatan rentan terhadap panas ekstrem
Indeks ini mengidentifikasi area berisiko tinggi mengalami degradasi lingkungan akibat faktor-faktor seperti peningkatan suhu, kepadatan bangunan dan berkurangnya vegetasi, yang seringkali terkait dengan urbanisasi.
Peneliti menggunakan berbagai indeks spektral seperti NDVI, DBI, dan NDWI untuk mengidentifikasi area dengan tingkat kerentanan lingkungan yang tinggi.
“Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kritis tertinggi berada di pusat kota, bagian utara, serta sebagian kawasan barat Surabaya,” kata Laras.
Semakin jauh dari pusat kota, yakni ke arah sisi timur dan sisi barat, suhu permukaan menurun karena masih banyak tanaman hijau dan kepadatan bangunan juga lebih rendah.
Kondisi rentan tersebut berkorelasi dengan tingginya kepadatan penduduk yang menekan daya dukung lingkungan.
Baca: Pembangunan ruang terbuka hijau mikro di kawasan kumuh
“Temuan kami menunjukkan bahwa kota dengan kepadatan tinggi cenderung memiliki tingkat kerentanan lingkungan yang lebih besar. Hal ini menuntut strategi tata ruang yang lebih adaptif,” papar Laras.
Organisasi Riset Kebumian dan Maritim melalui Pusat Riset Iklim dan Atmosfer memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia.
Kajian ini dilakukan sejak tahun 2022 hingga 2025, dengan fokus pada lima studi kasus, meskipun dalam kesempatan presentasi kali ini hanya tiga yang dibahas secara singkat.
Laras menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari fenomena meningkatnya perubahan iklim di kawasan perkotaan akibat urbanisasi, perubahan tutupan lahan, dan meningkatnya emisi polutan.
Ia menekankan pentingnya data satelit sebagai instrumen utama dalam penelitian iklim modern saat perubahan iklim sudah di depan mata.
Lebih jauh, menurut Laras, data satelit memungkinkan kita melihat pola perubahan iklim secara lebih detail, baik dari sisi ruang maupun waktu. Dengan informasi ini, kita bisa lebih tepat memahami bagaimana kota berkembang dan apa dampaknya terhadap lingkungan.

Leave a Reply