Tag: emisi

  • UNEP: Emisi dari Sektor Konstruksi untuk Pertama Kalinya Berhenti Meningkat Sejak 2020

    UNEP: Emisi dari Sektor Konstruksi untuk Pertama Kalinya Berhenti Meningkat Sejak 2020

    7cloud.asia – Kabar baik dibagikan oleh Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Progamme/UNEP) yakni semakin banyak negara berupaya untuk melakukan dekarbonisasi bangunan.

    Namun dalam laporan yang dirilis di laman resmi unep.org pada pertengahan Maret lalu, UNEP mengingatkan bahwa kemajuan dan pendanaan yang lamban membahayakan tujuan iklim global.

    Data ini merupakan temuan utama dari tinjauan tahunan sektor bangunan dan konstruksi, yang diterbitkan UNEP dan Aliansi Global untuk Bangunan dan Konstruksi (GlobalABC).

    Laporan Status Global untuk Bangunan dan Konstruksi 2024-2025 itu bukan sekadar menyoroti penggunaan batu bata untuk dinding.

    Laporan itu juga menyoroti kemajuan yang dibuat pada tujuan iklim global terkait dan menyerukan ambisi yang lebih besar pada enam tantangan, termasuk kode energi bangunan, energi terbarukan, dan pendanaan.

    Termasuk juga Kerangka kerja dan inisiatif global seperti Dewan Antarpemerintah untuk Bangunan dan Iklim, Terobosan Bangunan, dan Deklarasi de Chaillot mempertahankan momentum menuju penerapan rencana aksi iklim yang ambisius.

    Baca: Deklarasi de Chaillot menjadi upaya sektor konstruksi untuk lebih ramah lingkungan

    Tak ketinggalan Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDC), untuk bangunan dengan emisi nol bersih menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Belem, Brasil.

    Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen mengatakan bangunan tempat manusia bekerja, berbelanja, dan tinggal menyumbang sepertiga emisi global dan sepertiga limbah global.

    “Kabar baiknya adalah tindakan pemerintah berhasil. Namun, kita harus berbuat lebih banyak dan melakukannya lebih cepat. Saya mendorong semua negara untuk memasukkan rencana untuk memangkas emisi dari bangunan dan konstruksi dengan cepat dalam NDC baru mereka.” ujarnya.

    Meninjau kemajuan sejak Perjanjian Paris ditanda-tangani pada tahun 2015, laporan tersebut menemukan bahwa tahun 2023 adalah tahun pertama ketika pertumbuhan konstruksi bangunan yang berkelanjutan dipisahkan dari emisi gas rumah kaca sektor terkait

    Dengan mengadopsi kode energi bangunan wajib yang selaras dengan emisi nol bersih, standar kinerja wajib, dan memanfaatkan investasi efisiensi energi, intensitas energi sektor tersebut telah berkurang hampir 10 persen.

    Sementara pangsa energi terbarukan dalam permintaan energi final telah meningkat hampir 5 persen.

    Baca: Sektor konstruksi menyumbang sekaligus menjadi solusi perubahan iklim

    Langkah-langkah tambahan seperti praktik konstruksi sirkular, sewa hijau, perombakan bangunan lama yang hemat energi, dan memprioritaskan penggunaan bahan rendah karbon dapat lebih mengurangi konsumsi energi, meningkatkan pengelolaan limbah, dan mengurangi emisi secara keseluruhan.

    Meskipun ada sejumlah kemajuan, sektor konstruksi tetap menjadi pendorong utama krisis iklim, dengan mengonsumsi 32 persen energi global dan berkontribusi terhadap 34 persen emisi CO2 global.

    Sektor konstruksi bergantung pada bahan-bahan seperti semen dan baja yang bertanggung jawab atas 18 persen emisi global dan merupakan sumber utama limbah konstruksi.

    Mengingat hampir setengah dari bangunan di dunia yang akan ada pada tahun 2050 belum dibangun, penerapan kode bangunan energi yang ambisius sangat penting.

    Namun, data menunjukkan penurunan baru-baru ini dalam langkah-langkah yang sangat efektif seperti pemasangan pompa panas dan lebih dari 50 persen ruang lantai yang baru dibangun di negara-negara ekonomi berkembang dan baru muncul masih belum tercakup oleh kode bangunan.

    Laporan tersebut menetapkan tantangan bagi negara-negara penghasil karbon utama untuk mengadopsi kode energi bangunan nol-karbon pada tahun 2028, yang akan diikuti oleh semua negara lain paling lambat tahun 2035.

    Baca: Tantangan menerapkan infrastruktur ramah lingkungan dalam perencanaan kota

    Kode bangunan dan mengintegrasikan rencana reformasi kode bangunan dalam pengajuan NDC yang sedang berlangsung sangat penting untuk mencapai Ikrar Energi Terbarukan dan Efisiensi Energi Global COP28.

    Terakhir, semua negara, lembaga keuangan, dan bisnis perlu bekerja sama untuk menggandakan investasi efisiensi energi bangunan global dari 270 miliar dolar AS menjadi 522 miliar dolar pada tahun 2030.

    Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas dan praktik ekonomi sirkular –termasuk masa pakai bangunan yang lebih lama, efisiensi dan penggunaan kembali material yang lebih baik, daur ulang, desain pasif, dan pengelolaan limbah– disebut sebagai kunci untuk membantu menjembatani kesenjangan dalam pembiayaan.

    Sementara program pengembangan tenaga kerja sangat penting untuk mengisi kesenjangan keterampilan di sektor konstruksi ini.

    UNEP, anggota GlobalABC, dan mitra lainnya akan terus mendukung negara-negara dan bisnis untuk melakukan dekarbonisasi pada bangunan baru dan lama serta seluruh rantai nilai bangunan, termasuk menggunakan data ini untuk mendukung NDC yang ambisius menjelang COP30.

  • Saat Negara Tetangga Beralih ke Standar Emisi Euro 6, Indonesia Masih Bertahan di Euro 4

    Saat Negara Tetangga Beralih ke Standar Emisi Euro 6, Indonesia Masih Bertahan di Euro 4

    7cloud.asia – Indonesia mulai menerapkan baku mutu emisi gas buang kendaraan bermotor Euro 4 pada 2018 untuk mobil berbahan bakar bensin dan 2021 untuk mobil diesel

    Namun, implementasi penerapan Standard Emisi Euro 4 mobil berbahan bakar diesel diundur hingga 2022 sebagaimana tertuang dalam surat yang diterbitkan oleh MenLHK Nomor S786/MENLHK-PPKL/SET/PKL.3/5/2020 tertanggal 20 Mei 2020.

    Adapun Euro 4 adalah standar emisi yang ditetapkan oleh Uni Eropa pada 2005 untuk mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor, termasuk mobil, bus, dan truk.

    Euro 4 menetapkan batas emisi yang lebih rendah dibandingkan standar sebelumnya, seperti Euro 2. Euro 4 menetapkan batas emisi nitrogen oksida (NOx) tidak boleh melebihi 0,08 gram per kilometer dan emisi partikel padat (PM) tidak boleh melebihi 0,005 gram per kilometer

    Dilansir Gaikindo.or.id, penerapan Standar Emisi Euro 4 di Indonesia lebih lambat dibanding negara lain, termasuk negara-negara ASEAN.

    Baca: Standar emisi Euro 4 turunkan emisi hingga 70 persen

    Filipina sudah mulai mengadopsi Standar Emisi Euro 4 sejak tahun 2016. Sementara Thailand telah memakai Standar Euro 4 sejak 2012 dan kini mereka mempersiapkan standard emisi yang lebih ketat dengan mengadopsi Standar Emisi Euro 6.

    Begitupun dengan Singapura yang sejak 2017 sudah mulai menerapkan Standar Emisi Euro 6. Di UE, Standar Emisi Euro 4 sudah ditinggalkan sejak dua belas tahun yang lalu, dan sejak 2012 mereka memperkenalkan Euro 6.

    Berbedanya tingkat standar emisi kendaraan di suatu negara dengan negara lain dapat dipahami dikarenakan komitmen pengurangan emisi yang berbeda-beda di tiap negara.

    Selain itu, penerapan standard gas buang kendaraan semata-mata bukan hanya masalah teknis, namun juga mencakup permasalahan ekonomi poltik.

    Selain isu lingkungan, penerapan standar baku emisi kendaraan bermotor di Indonesia lebih ke sisi ekonomi, yang memerlukan persetujuan menteri keuangan dan ekonomi.

    Baca: Transportasi publik berkualitas turunkan polusi udara di Jakarta

    Marlis Kwan, Analis Fair Business for Environment dalam tulisannya di Gaikindo.or.id, menyebutkan bahwa penerapan standard gas buang pada mesin kendaraan juga mesti memperhatikan kesiapan penyediaan bahan bakar rendah emisi.

    Bahan bakar rendah emisi pada umumnya memiliki harga yang lebih tinggi dari pada bahan bakar yang emisinya lebih banyak.

    Bagi beberapa negara, Indonesia misalnya, mengganti bahan bakar berharga murah ke yang lebih tinggi tidaklah mudah.

    Seringkali kenaikan harga bahan bakar minyak di Indonesia menyebabkan inflasi atau membuat kenaikan harga-harga kebutuhan pokok lainnya.

    Namun, mengingat dampak jangka panjang dari emisi kendaraan bermotor pada lingkungan, sudah saatnya pemerintah tak hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi jangka pendek untuk masalah ini.

    Baca: Menilik kepatuhan uji emisi kendaraan di Jakarta

  • Dunia Makin Serius Kurangi Emisi dari Sektor Pendinginan

    Dunia Makin Serius Kurangi Emisi dari Sektor Pendinginan

    7cloud.asia – Brasil dan Program Lingkungan PBB (UNEP) pada Jumat (13/6/2025) meluncurkan inisiatif baru untuk mengatasi panas ekstrem melalui pendinginan berkelanjutan

    Inisiatif yang diluncurkan menjelang pertemuan puncak iklim COP 30 akhir tahun ini, diberi tajuk “Atasi Panas di Kota/Mutirão contra o Calor Extremo“

    Sementara Italia menjanjikan pendanaan baru sebesar 2 juta euro untuk Ikrar Pendinginan Global, yang mendukung tindakan terhadap kontributor utama perubahan iklim

    Pendinginan berkelanjutan akan menjadi prioritas utama di COP 30 yang akan digelar di Brasil, karena kota, iklim, dan miliaran orang bergantung padanya.

    “Melalui Beat the Heat, tujuan kami adalah mengubah kota menjadi mesin adaptasi, mendorong implementasi Ikrar Global, dan memastikan tidak ada yang tertinggal saat panas ekstrem meningkat,” kata H.E. Ana Toni, CEO COP 30.

    Pengumuman tersebut dibuat di Bonn, Jerman, pada Pertemuan Titik Fokus Penandatangan Ikrar Pendinginan Global pertama.

    Baca: Inovasi alat pendinginan yang lebih ramah lingkungan

    Global Cooling Pledge (GCP) diluncurkan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB 2023 (COP28) oleh Presidensi Uni Emirat Arab (UEA) dan Koalisi UNEP Cool.

    Global Cooling Pledge adalah komitmen kolektif pertama di dunia untuk memangkas dampak iklim terkait pendinginan hingga 68 persen pada tahun 2050, dan memperluas akses yang terjangkau bagi semua yang membutuhkannya.

    Seperti diketahui, dunia baru saja mencatat tahun ketiga berturut-turut suhu panas yang memecahkan rekor, yang menggarisbawahi bahwa suhu panas ekstrem kini berada di ujung tajam perubahan iklim.

    Global Cooling Watch 2023 UNEP memperingatkan bahwa jika tren saat ini terus berlanjut, permintaan pendinginan yang meningkat saja dapat menambah 6,1 gigaton emisi karbon dioksida pada tahun 2050.

    Selain itu, lebih dari satu miliar orang masih kekurangan akses ke pendinginan untuk menjaga agar makanan, obat-obatan, dan ekonomi tetap bertahan.

    “Pendinginan berkelanjutan adalah pengungkit adaptasi inti dan merupakan tindakan mitigasi yang mengoreksi arah yang masih menjaga kita dalam ambang batas 1,5 °C,” kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP.

    Baca: Dua studi ungkap pemanasan global lampaui ambang batas 1,5°C

    “Mengintegrasikan pendinginan dalam rencana iklim nasional baru – atau NDC – akan sangat penting untuk memastikan pendekatan holistik yang menyelaraskan tindakan iklim dengan manfaat sosial dan ekonomi,” imbuhnya.

    Brasil telah mengonfirmasi bahwa pendinginan berkelanjutan dan panas ekstrem akan menjadi prioritas utama di COP 30 di Belém.

    Italia juga mengumumkan pendanaan baru untuk penerapan Ikrar Pendinginan Global melalui Fasilitas Implementasi Ikrar Pemberdayaan untuk Pendinginan (EPIC) UNEP yang baru.

    Inisiatif baru ini yang menaungi Fasilitas Bantuan Teknis dan Akselerator Dana, akan menyalurkan saran teknis dan keuangan ke kota-kota.

    “Italia tidak hanya memajukan target nasionalnya tetapi juga mendukung upaya internasional untuk menerjemahkan Ikrar Pendinginan Global menjadi tindakan lokal melalui inisiatif EPIC,” kata Tn. Alessandro Guerri, Direktur Jenderal, Kementerian Lingkungan Hidup dan Keamanan Energi Italia.

    Baca: Rata-rata suhu global 2024 lampaui Perjanjian Paris

  • Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    Transportasi Masih Menjadi Penyumbang Terbesar Pencemaran Udara di Jabodetabek

    7cloud.asia – Pencemaran udara di Jabodetabek masih tinggi. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/ Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mencatat sektor transportasi masih menjadi penyumbang terbesar pencemaran udara.

    Data KLH dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKUA) dari 1 Mei hingga 3 Juni 2025 menunjukkan parameter kuning atau status tidak sehat.

    Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Nixon Pakpahan menjelaskan nilai konsentrasi PM 2,5 di atas 100 PPM.

    Angka ini lebih tinggi dari standar pemerintah. Total ada 35 titik SPKUA di Jabodetabek yang terpantau mengalami peningkatan skor PM 2.5.

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup perlu perkuat regulasi

    Melansir Antaranews, Nixon menerangkan pihaknya telah melakukan kajian dan ada sejumlah sumber pencemaran udara. Sumber terbesar adalah sektor transportasi.

    Sektor ini menyumbang 32-41 persen polusi udara Jabodetabek saat musim hujan dan 42-57 persen ketika musim kemarau.

    Kemudian posisi kedua adalah emisi dari sektor industri terutama yang menggunakan batu bara, menyumbang 14 persen.

    Baca: Ini dia sumber polusi udara di Jakarta

    Emisi pembakaran sampah terbuka atau ilegal atau pembersihan lahan pertanian 11 persen di musim hujan dan 9 persen di musim kemarau, debu konstruksi bangunan 13 persen dan aerosol sekunder 6-16 persen saat musim hujan dan 1-7 persen pada musim kemarau.

    “Berbicara lingkungan, mari bereskan, prioritas, bereskan dulu sumbernya. Itu lebih penting daripada membahas siklus, cuaca, arah angin dan seterusnya. Bereskan dulu sumbernya,” jelasnya.

    Karena itu, pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan dan PT Pertamina agar dapat menyediakan bahan bakar rendah sulfur.

    Baca: Hanya tujuh negara yang penuhi standar kualitas udara WHO

    Selain itu, penggunaan sistem pemantau emisi untuk mencapai 80 persen pada akhir tahun 2025, penggunaan gas di kawasan industri, pemantauan langsung di kawasan industri serta pendekatan melalui penegakan hukum.

    Nixon juga mengajak semua pihak termasuk masyarakat di wilayah Jabodetabek untuk ikut serta menangani masalah pencemaran udara.

    “Tidak saling menyalahkan, tapi artinya semua harus bekerja sama. Karena kita hidup di satu bumi yang sama, menghirup udara yang sama, kebutuhan yang sama,” kata Nixon.

     

  • Riset: Kendaraan Listrik Bisa Benar-benar Turunkan Emisi Jika Diikuti Transisi ke Energi Bersih

    Riset: Kendaraan Listrik Bisa Benar-benar Turunkan Emisi Jika Diikuti Transisi ke Energi Bersih

    7cloud.asia – Pada era awal penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia, realisasi penjualan unitnya terus bertumbuh. Sepanjang 2021-2023, misalnya, laju pertumbuhan tahunannya rata-rata berkisar 206,6 persen.

    Studi kami menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik bisa mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) secara signifikan. Namun, transisi ke kendaraan listrik tidak secara otomatis menurunkan emisi.

    Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari asap knalpot ke cerobong pembangkit listrik.

    Lebih jauh lagi, efektivitas model kendaraan listrik sangat bergantung pada infrastruktur pendukung dan kebijakan transportasi yang mendukung efisiensi energi secara menyeluruh.

    Tiga skenario adopsi kendaraan listrik
    Kami memanfaatkan data dari Google Environmental Insights Explorer (Google EIE) untuk menganalisis konsumsi BBM dan emisi sektor transportasi.

    Saat ini data terlengkap dan akurat tersedia untuk wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sehingga kami memakai wilayah tersebut sebagai sampel dalam studi ini.

    Baca: Adopsi kendaraan listrik berperan penting dalam aksi iklim

    Di NTB, mobil masih menjadi penyumbang emisi terbesar, meski sepeda motor lebih sering digunakan. Sepanjang tahun 2023 menunjukkan bahwa mobil menyumbang emisi sebesar 1,78 juta ton setara karbondioksida (CO₂e)

    Sementara sepeda motor menyumbang emisi sekitar 0,83 juta ton—padahal jumlah perjalanan motor lima kali lebih banyak.

    Artinya, jika Indonesia ingin menekan emisi dari sektor transportasi, fokus utama harus pada elektrifikasi mobil pribadi.

    Kami juga melakukan simulasi tiga skenario adopsi kendaraan listrik dengan mempertimbangkan pertumbuhan kendaraan, kebutuhan energi atau BBM, serta dinamika emisi karbon.

    Kami memakai asumsi jumlah total kendaraan pada tahun 2050 adalah sekitar 57 juta unit. Hasilnya adalah sebagai berikut:

    Skenario business as usual.
    Jika kendaraan listrik mencapai lebih dari 50 persen pangsa pasar (sekitar 31 juta unit) pada 2050 tanpa perubahan bauran energi—misalnya, pembangkit masih didominasi batu bara—konsumsi BBM memang bakal menurun, tetapi pasokan listrik tidak bisa mengimbangi.

    Akibatnya, emisi tetap tinggi dan terjadi defisit energi. Dalam kondisi ini, masyarakat berisiko kembali beralih ke kendaraan berbahan bakar konvensional.

    Baca: Transisi ke kendaraan listrik bagus untuk keuangan negara

    Skenario moderat:
    Jika pangsa pasar kendaraan listrik ditargetkan 23 persen (sekitar 13 juta unit) pada 2050, dengan pertumbuhan energi terbarukan 15-31 persen per tahun, pasokan listrik cukup stabil.

    Konsumsi BBM bisa ditekan hingga 25 persen, dan impor turun separuhnya. Namun, emisi tetap tinggi karena ketergantungan pada batu bara masih besar.

    Skenario optimistis:
    Jika adopsi kendaraan listrik menembus 50 persen dan energi terbarukan tumbuh 30–65 persen per tahun, konsumsi BBM turun signifikan. Sayangnya, emisi masih tetap tinggi.

    Skenario adopsi kendaraan listrik dan penurunan konsumsi BBM.
    Tiga skenario dalam upaya menghapus konsumsi BBM. Skenario optimis dapat menghapus 56 persen konsumsi BBM.

    Jadi, ketiga skenario masih menghasilkan emisi yang besar. Untuk benar-benar menurunkannya, hitungan kami, bauran energi terbarukan harus tumbuh di atas 65 persen per tahun.

    Dan yang penting dicatat, seluruh rantai pasoknya juga harus dijamin bersih. Lantas bagaimana membuat kendaraan jadi solusi transisi energi? Jawabannya akan kami ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Converstion, Penulis: Glenn Jolodoro (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Susanti Withaningsih (Ketua Program Studi Magister Ilmu Keberlanjutan, Universitas Padjadjaran)

  • Agar Transisi ke Kendaraan Listrik Jadi Solusi Pengurangan Emisi

     

    7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Padjadjaran transisi ke kendaraan istrik tidak secara otomatis menurunkan emisi.

    Tanpa transisi ke sumber energi terbarukan berkelanjutan secara paralel, penggunaan kendaraan listrik hanya akan memindahkan emisi dari asap knalpot ke cerobong pembangkit listrik.

    Untuk benar-benar menurunkan emisi, transisi ke kendaraan listrik harus dibarengi bauran energi terbarukan dengan pertumbuhan di atas 65 persen per tahun.

    Dan yang penting dicatat, seluruh rantai pasoknya juga harus dijamin bersih. Lantas bagaimana membuat kendaraan listrik jadi solusi transisi energi?

    Transisi energi, khususnya di sektor transportasi, tidak cukup sekadar mengganti mesin berbahan bakar fosil ke baterai.

    Langkah ini menuntut transformasi besar yang membutuhkan paradigma baru dalam membangun sistem transportasi yang efisien, terjangkau, dan rendah karbon.

    Baca: Catatan kritis transisi ke kendaraan listrik

    Kendaraan listrik harus dilihat sebagai salah satu bagian dari strategi besar mencapai kedaulatan energi.

    Manfaat penghematan devisa, penguatan ketahanan ekonomi, dan pengurangan kerentanan terhadap gejolak global hanya akan terwujud jika syarat utama terpenuhi: pasokan listrik EV bersumber dari energi terbarukan.

    Selain itu, perlu adanya infrastruktur pendukung yang masif dan merata. Ketersediaan stasiun pengisian daya (charging station) yang berbasis energi terbarukan, jalur tol utama, hingga kawasan penyangga menjadi kebutuhan utama.

    Selanjutnya, industri baterai dalam negeri perlu dikembangkan melalui kebijakan multisektor. Tujuannya, agar ketergantungan pada impor BBM tidak berganti menjadi ketergantungan baru pada impor baterai.

    Hal ini juga menyangkut isu keberlanjutan, karena banyak kasus kerusakan lingkungan terjadi akibat penambangan nikel sebagai bahan baku baterai.

    Belajar dari China, pemerintah bisa mengadopsi pendekatan integratif yang melibatkan berbagai sektor terkait

    Baca: Benarkah penggunaan kendaraan listrik memangkas emisi hingga 50 persen?

    Hal ini meliputi: memperkuat kemitraan dengan UMKM dalam rantai pasok lokal, mempercepat proses perizinan berbasis risiko, menjamin kepastian regulasi dan hukum untuk investor

    Pemerintah juga harus mendanai riset dan pengembangan secara berkelanjutan melalui kolaborasi kampus, industri, dan lembaga litbang.

    Dukungan kebijakan jangka panjang seperti insentif fiskal dan prioritas pada teknologi dalam negeri terbukti berhasil menjadikan China sebagai pemimpin global dalam industri baterai dan kendaraan listrik.

    Reformasi menyeluruh terhadap Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) tak kalah penting. Sistem transportasi masa depan harus mampu mengurangi jumlah perjalanan tanpa mengorbankan mobilitas.

    Bus listrik, KRL, dan MRT harus menjadi tulang punggung transportasi kota, sementara mobil listrik pribadi cukup menjadi pelengkap.

    Hal ini sejalan dengan konsep transportasi masa depan dari Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), yang menekankan bahwa pusat kota seharusnya rendah emisi berkat tingginya penggunaan transportasi publik.

    Baca: Tantangan pengembangan kendaraan listrik di Indonesia

    Artinya, untuk menurunkan emisi secara signifikan, pemerintah perlu fokus membangun transportasi umum yang terintegrasi dan efisien di pusat dan luar kota.

    Pemerintah—melalui Kementerian ESDM, Perhubungan, Perindustrian, serta BUMN terkait harus menyusun peta jalan terpadu yang terintegrasi.

    Pelibatan sektor swasta melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dapat mempercepat pembiayaan infrastruktur tanpa membebani anggaran negara.

    Model-model bisnis inovatif seperti battery swapping atau layanan berlangganan baterai patut dipertimbangkan untuk menjangkau masyarakat dengan daya beli terbatas.

    Keberhasilan transisi energi sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor dan keberanian mengambil langkah reformasi struktural. Tanpa itu, EV berisiko menjadi solusi semu yang tak menyentuh akar persoalan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Converstion, Penulis: Glenn Jolodoro (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Susanti Withaningsih (Ketua Program Studi Magister Ilmu Keberlanjutan, Universitas Padjadjaran)

  • Cara Cerdas Turunkan Jejak Karbon dari Aktivitas Digital

    Cara Cerdas Turunkan Jejak Karbon dari Aktivitas Digital

     

    7cloud.asia – Indonesia adalah salah satu negara dengan pengguna internet terbanyak di dunia. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mencatat ada 221,5 juta pengguna internet di Indonesia.

    Sebesar 34,4 persen di antaranya merupakan Gen Z sebagai kelompok pengguna terbesar. Dan, aktivitas daring Gen Z sangat boros data.

    Pengguna internet Indonesia tercatat menjadi yang terlama di dunia menghabiskan waktu di TikTok dengan (rata-rata 38 jam 26 menit per bulan).

    Indonesia juga menempati peringkat kedua global dalam hal bermain video games (95,3 persen dari pengguna internet). Bahkan, 42,2 persen di antaranya menghabiskan lebih dari empat jam setiap hari.

    Parahnya lagi, sumber pembangkit listrik konsumsi digital yang tinggi ini masih disokong oleh jaringan listrik berbasis batu bara.

    Baca: Jejak karbon dari aktivitas digital 

    Pada 2023, bauran energi baru terbarukan (EBT) Indonesia baru mencapai 13,09 persen, masih jauh dari target 23 persen pada 2025.

    Konsumsi data yang tinggi ditopang energi kotor, tentu akan menghasilkan jejak karbon digital per kapita yang tinggi pula.

    Karena itu sudah saatnya, Gen Z menjadi generasi sadar digital
    Jalan menuju masa depan digital yang berkelanjutan membutuhkan usaha dan kolaborasi bersama semua pihak terkait.

    Inisiatif level individu
    Di level individu, setiap orang bisa mulai melakukan langkah kecil tetapi efektif menurunkan konsumsi energi, seperti:
    1. Kurangi aktivitas digital yang tidak perlu.
    2. Lakukan digital decluttering, seperti membersihkan file dan data yang tak lagi dibutuhkan dan menghapus email lama—satu email dengan lampiran bisa menghasilkan 50 gram CO2e)
    3. Gunakan dan rawat perangkat lebih lama untuk mengurangi “karbon tersembunyi” dari proses produksinya.

    Baca: Cara sederhana kurangi jejak karbon dari penggunaan perangkat elektronik

    Inisiatif level perusahaan
    Inovasi hijau menjadi sangat penting. Salah satu langkah krusial adalah membangun pusat data yang menggunakan energi terbarukan.

    Di Indonesia, beberapa perusahaan sudah bergerak ke arah ini, seperti DCI Indonesia yang meluncurkan pusat data bertenaga panel surya.

    Inisiatif level pemerintah
    Kebijakan yang kuat adalah kunci perubahan. Pemerintah mesti membuat kebijakan yang mendorong pengurangan jejak karbon digital dan mempercepat transisi energi.

    Di semua lini, Generasi Z dan millenial, sebagai demografi digital terbesar di Indonesia, memegang kekuatan luar biasa untuk mendorong perubahan.

    Kekuatan ini tidak hanya terletak pada aksi pribadi, tetapi juga pada suara kolektif yang bisa menggerakkan industri dan pemerintah.

    Selain membangun kesadaran, kaum muda harus menuntut akuntabilitas, dan membuka jalan menuju masa depan digital yang lebih hijau. Anak muda adalah penentu babak baru bagi kisah digital yang lebih berkelanjutan negeri ini.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Aji Saputra (Researcher, Universitas Padjadjaran) dan Gemilang Lara Utama (Peneliti)

  • Orang Kaya Boros Energi, Tapi Orang Miskin yang Menanggung Dampaknya: Pentingnya Keadilan Iklim

    Orang Kaya Boros Energi, Tapi Orang Miskin yang Menanggung Dampaknya: Pentingnya Keadilan Iklim

    7cloud.asia – Orang terkaya di dunia berkontribusi besar terhadap perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem dan mengakibatkan berbagai bencana terkait cuaca dan air, seperti banjir dan kekeringan.

    Riset terbaru dari Schöngart dan tim di Nature Climate Change pada 7 Mei 2025 memaparkan dua pertiga dari emisi yang menyebabkan pemanasan global disebabkan oleh aktivitas 10 persen orang terkaya di dunia.

    Penelitian ini menggunakan data emisi sepanjang 1990 hingga 2019 dan spesifik menganalisis data emisi yang dihasilkan oleh kelompok 10 persen, 1 persen, dan 0,1 persen orang paling kaya secara global.

    Hasil riset menunjukkan bahwa 10 persen orang terkaya di dunia menyumbang emisi 6,5 lebih besar dibandingkan rata-rata orang pada umumnya. Untuk kelompok 1 persen dan 0,1 persen yang lebih elite, angkanya meroket 20 dan 76 kali lipat.

    Temuan ini kian menegaskan adanya ketidakadilan iklim. Negara-negara berkembang dan kelompok masyarakat menengah ke bawah yang berkontribusi lebih sedikit terhadap emisi global justru paling terdampak perubahan iklim akibat jejak emisi negara maju dan elite global.

    Baca: Perubahan iklim mendorong penyebaran penyakit menular

    Jejak karbon orang kaya: Gaya hidup dan investasi
    Dua sumber emisi utama yang dihasilkan oleh kelompok orang kaya berasal dari gaya hidup intensif karbon dan jenis investasi mereka.

    Pertama, soal gaya hidup. Penggunaan jet pribadi jadi simbol status yang kian lazim di kalangan orang kaya. Padahal, pesawat jenis ini menghasilkan emisi per kilometer yang jauh lebih tinggi dibanding moda transportasi lain.

    Jet populer seperti Cessna Citation XLS misalnya, menghabiskan rata-rata 189 galon (857 liter) bahan bakar per jam.

    Pada 2022, Taylor Swift dinobatkan sebagai selebritas penyumbang emisi CO2e terbesar. Dalam satu tahun, ia terbang selama 22.923 menit di udara atau 15,9 hari dengan total 170 penerbangan.

    Total emisi yang dihasilkan Taylor Swift mencapai 8.293 ton atau 1.184 kali emisi tahunan rata-rata orang biasa.

    Baca: Gaya hidup ramah lingkungan berkaitan dengan cara kita mengonsumsi

    Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia misalnya, menjadi sorotan publik karena menggunakan jet pribadi saat mudik Lebaran.

    Meski mengaku tak pakai duit negara, persoalannya emisi yang dihasilkan jet pribadi dalam satu kali penerbangan lintas wilayah mencapai 3,6 metric ton atau Mt karbondioksida (CO₂).

    Menurut studi Gossling, Humpe, dan Leitão, total penerbangan jet pribadi pada 2023 setara dengan emisi 3,7 juta mobil bensin dalam setahun.

    Selain Bahlil, putra mantan presiden Jokowi Kaesang Pangarep dan istrinya Erina Gudono juga sempat dikritik publik setelah naik jet pribadi ke AS, yang ditaksir menghasilkan 83,5 Mt CO₂.

    Kedua, soal portofolio investasi. Banyak orang kaya menanamkan uang mereka di sektor tinggi emisi seperti batu bara dan industri berat.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Riset yang dilakukan Chancel membuktikan bahwa sebagian besar emisi yang dihasilkan 1 persen orang kaya berasal dari hasil investasi tak ramah lingkungannya.

    Beberapa nama besar dalam daftar orang terkaya di Indonesia mendapatkan kekayaan dari usaha tambang batu bara.

    Sebut saja Low Tuck Kwong, pemilik PT Bayan Resources Tbk; keluarga Widjaja yang menguasai Sinar Mas Group; dan Garibaldi Thohir, pendiri emiten PT Adaro Energy Indonesia Tbk.

    Gaya hidup mewah para elite sebenarnya jadi kunci pengurangan emisi global. Sayangnya, kebanyakan enggan mengubah gaya hidup nyaman mereka menjadi lebih ramah lingkungan, meski krisis iklim semakin nyata.

    Seperti apa sikap orang-orang kaya ini terkait emisi karbon diungkap dalam riset Duncan, Hjelmskog, dan Papies di United Kingdom (UK) dengan judul “I can’t compromise the quality of my life I’m sorry” yang akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Stanislaus Risadi Apresian (Assistant Professor of International Relations, Universitas Katolik Parahyangan). Kezia Regina Setyono, Mahasiswa Magister Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

  • Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    Mengapa Gelombang Panas Semakin Mematikan?

    7cloud.asia – Gelombang panas yang mulai melanda Eropa pada akhir Juni dan berlanjut hingga Juli, membawa suhu di atas 40°C di beberapa negara dan memecahkan rekor suhu di Spanyol dan Portugal, dengan suhu tertinggi mencapai 46°C.

    Cuaca yang terik ini mendorong pembatasan jadwal kerja di luar ruangan di Italia, penutupan lebih dari 1.300 sekolah dan beberapa reaktor nuklir di Prancis, serta terjadinya kebakaran hutan di Mediterania.

    Peningkatan suhu panas ekstrem ini disebut sebagai akibat langsung dari pemanasan global, yang didorong oleh gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer.

    Hal ini meningkatkan suhu permukaan Bumi, yang menyebabkan gelombang panas yang lebih panjang dan lebih panas di belahan bumi utara.

    Bulan lalu tercatat sebagai bulan Juni terpanas kelima di Eropa, meskipun sebagian besar Eropa barat dan tengah mengalami suhu udara yang lebih hangat dari rata-rata.

    Baca: Gelombang panas memicu ribuan kematian di Eropa

    Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa, Eropa Barat secara keseluruhan mencatat Juni terhangat yang pernah tercatat, dengan suhu rata-rata 20,49°C, atau 2,81°C lebih tinggi dari rata-rata periode 1991–2020.

    Kehangatan luar biasa juga terjadi di Laut Mediterania, yang mencapai rekor suhu 27°C pada bulan Juni, 3,7°C lebih tinggi dari rata-rata jangka panjang.

    ‘Pembunuh Senyap’
    Gelombang panas, terutama yang berlangsung lama sangat berbahaya bagi manusia karena mengganggu proses fisiologis yang seharusnya menjaga tubuh tetap dingin.

    Sekitar 1.500 dari sekitar 2.300 kematian akibat panas pada bulan Juli dikaitkan dengan perubahan iklim, yang mengakibatkan gelombang panas yang lebih parah di seluruh benua Eropa.

    Tekanan pada tubuh manusia akibat panas mencegah aktivitas sehari-hari yang normal dan kemampuan tubuh untuk mendinginkan diri dengan baik. Area yang umumnya lebih lembap juga dapat membahayakan nyawa.

    Baca: Suhu Bumi makin panas dan dampaknya semakin nyata

    Keringat membantu tubuh kita mendinginkan diri, tetapi kelembapan mengubah cara keringat menguap dari tubuh.

    Ketidakmampuan untuk mendinginkan diri membahayakan kesehatan manusia, dan dapat menyebabkan peningkatan komplikasi kardiovaskular dan pernapasan, dehidrasi, sengatan panas, tekanan darah tinggi, dan kurang tidur.

    Beberapa kondisi kesehatan ini dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.

    Meskipun tidak ada yang benar-benar kebal terhadap panas ekstrem, faktor-faktor seperti usia dan kondisi kesehatan, serta variabel paparan termasuk pekerjaan dan keadaan sosial ekonomi, dapat meningkatkan kerentanan seseorang.

    Studi menunjukkan bahwa perempuan – terutama ibu hamil, anak-anak, dan lansia – sangat berisiko mengalami gejala parah terkait udara panas.

    Gelombang panas bulan lalu secara tidak proporsional memengaruhi kategori rentan ini, menurut studi Atribusi Cuaca Dunia, dengan penduduk berusia 65 tahun ke atas mencapai sekitar 88 persen dari kematian berlebih.

    Baca: Mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global sebesar 2°C

    Gelombang panas membunuh hampir setengah juta orang setiap tahun di seluruh dunia, menjadikannya peristiwa cuaca ekstrem paling mematikan.

    Panas sering disebut sebagai “pembunuh diam-diam”, karena pemantauan akurat kematian terkait panas merupakan tantangan dan banyak negara masih kekurangan sistem pencatatan yang memadai.

    Akibatnya, jumlah kematian terkait panas yang terdokumentasi seringkali jauh lebih rendah daripada jumlah sebenarnya.

    “Meskipun beberapa kematian telah dilaporkan di Spanyol, Prancis, dan Italia, ribuan orang lainnya diperkirakan meninggal akibat suhu yang sangat tinggi dan kematian mereka tidak akan tercatat sebagai kematian terkait panas,” kata Malcolm Mistry, Asisten Profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine dan salah satu penulis studi ini.

    “Kebanyakan orang yang meninggal akibat gelombang panas meninggal di rumah atau di rumah sakit karena tubuh mereka kewalahan dan menyerah pada kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya,” tambahnya.

    Baca: Dampak pemanasan global pada kehidupan manusia

  • UNEP Luncurkan Proyek Penelitian Soal Emisi Metana dari Tambang Batu Bara

    UNEP Luncurkan Proyek Penelitian Soal Emisi Metana dari Tambang Batu Bara

    7cloud.asia – Observatorium Emisi Metana Internasional (IMEO) yang digagas Program Lingkungan PBB (UNEP), pada Rabu (16/7/2025) meluncurkan proyek penelitian baru yang bertujuan untuk meningkatkan akurasi data emisi metana dari tambang batu bara.

    Penelitian yang didukung pemerintah Australia ini akan menjadi yang pertama di dunia untuk melacak emisi dan memandu upaya mitigasi di seluruh sektor batu bara dan baja.

    Menggunakan simulasi tambang batu bara terbuka, di mana batu bara digali dari permukaan, para ilmuwan akan mengevaluasi kemampuan teknologi pengukuran inovatif — mulai dari sensor berbasis darat hingga pesawat dan satelit.

    Sebagai sumber utama emisi metana, tambang batu bara menghadirkan peluang iklim yang signifikan — terutama bagi industri baja, yang menggunakan batu bara metalurgi sebagai sumber bahan bakar.

    Tahun lalu, sektor batu bara melepaskan sekitar 40 juta ton metana di seluruh dunia, menjadikannya penghasil emisi metana terbesar kedua di sektor energi.

    Namun, secara global, emisi dari tambang batu bara masih kurang termonitor dan dilaporkan, dan emisi dari tambang batu bara terbuka sangat sulit diukur.

    Baca: RUPTL 2025-2034 masih bergantung pada bahan bakar fosil

    Temuan studi ini akan meningkatkan pemantauan metana dan menginformasikan pengembangan kerangka kerja regulasi dan strategi untuk mengurangi emisi metana, yang merupakan penyebab sekitar sepertiga pemanasan global saat ini.

    “Data yang akurat dan andal sangat penting untuk menemukan peluang mitigasi dan melacak kemajuan,” kata Martin Krause, Direktur Divisi Perubahan Iklim UNEP.

    Dia menambahkan, “Dengan menilai perangkat mana yang paling sesuai untuk mengukur emisi metana di lingkungan pertambangan khusus ini, kami akan memastikan bahwa kami memiliki informasi yang tepat untuk memanfaatkan peluang iklim yang mudah ini.”

    Pemerintah Australia menjanjikan pendanaan baru sebesar 5,5 juta dolar Australia (~USD 3,2 juta) kepada IMEO UNEP untuk melakukan studi ini. Kontribusi ini sejalan dengan tujuan Australia untuk membangun industri energi bersih baru melalui agenda Future Made in Australia.

    Dekarbonisasi logam merupakan prioritas bagi Australia, baik karena potensinya untuk mengurangi emisi global secara signifikan maupun karena peluang ekonomi bagi Australia.

    Metana dari batu bara metalurgi menambah sekitar seperempat jejak iklim baja tanur sembur —mayoritas baja— tetapi dapat dimitigasi dengan harga sekitar satu persen dari harga baja. Ini merupakan peluang besar yang belum dimanfaatkan untuk aksi iklim yang cepat.

    Baca: Pensiun dini 13 PLTU batu bara di Indonesia

    Emisi metana harus dikurangi setidaknya 30 persen pada tahun 2030 agar batas kenaikan suhu Bumi di bawah 1,5 derajat Celsius tetap tercapai.

    Oleh karena itu, inilah target yang ditetapkan oleh Global Methane Pledge, yang menyatukan lebih dari 155 negara, termasuk Australia, untuk mempercepat pengurangan emisi metana dan menghindari dampak terburuk perubahan iklim.

    Tambang batu bara terbuka adalah jenis tambang batu bara yang paling umum di Australia, tempat eksperimen penting ini akan dilakukan, dan merupakan sumber utama emisi dalam rantai pasokan baja.

    Dengan data berkualitas lebih tinggi, pemerintah dan industri dapat lebih memahami emisi rantai pasokan sektor baja dan mengembangkan strategi untuk memitigasinya.

    Secara global, sebagian besar pelaporan bergantung pada faktor emisi generik, yang seringkali gagal menangkap beragam emisi yang berasal dari tambang batu bara terbuka. Namun, sains dan teknologi baru memungkinkan data yang lebih mudah ditindaklanjuti.

    Menteri Perubahan Iklim dan Energi Australia, Chris Bowen, menegaskan bahwa Australia berkomitmen untuk memastikan bahwa sistem inventaris nasional kelas dunianya terus menggunakan teknologi dan metode terbaik yang tersedia.

    “Kami senang dapat memberikan kontribusi ini untuk membantu semua negara lebih memahami dan mengelola emisi metana fugitive dari tambang batu bara terbuka,” ujarnya.

    Baca: Studi global ungkap kenaikan suhu Bumi lampaui ambang batas 1,5°C