Tag: iran

  • Rusia dan China Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran

    Rusia dan China Kecam Serangan AS dan Israel ke Iran

    7cloud.asia – Rusia dan China bersuara keras terkait serangan AS dan Israel terhadap Iran. Moskow mengatakan bahwa mereka tidak melihat bukti bahwa Teheran sedang mengembangkan senjata nuklir.

    Sedangkan pemerintah China di Beijing mendesak agar serangan gabungan itu segera dihentikan.

    Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, bahwa serangan terhadap Iran terjadi ketika negosiasi antara Washington dan Teheran telah “membuat kemajuan signifikan”.

    “Ini termasuk mengatasi kekhawatiran keamanan Israel,” kata Kementerian Luar Negeri China dalam sebuah pernyataan pada Selasa (3/3/2026)

    “Sayangnya, proses ini telah terganggu oleh aksi militer. China menentang setiap serangan militer yang dilancarkan oleh Israel dan AS terhadap Iran,” kata Wang kepada menteri luar negeri Israel saat berbicara melalui sambungan telepon, menurut kementerian tersebut.

    Baca: Israel dan Amerika Serikat lancarkan serangan ke Iran

    “China menyerukan penghentian segera operasi militer untuk mencegah eskalasi lebih lanjut dan hilangnya kendali atas konflik,” kata Wang.

    Wang menambahkan, kekerasan tidak dapat benar-benar menyelesaikan masalah; sebaliknya, itu akan membawa masalah baru dan konsekuensi jangka panjang yang serius.

    Menurut Kementerian Luar Negeri China, Saar menyetujui permintaan Wang untuk mengambil “langkah-langkah konkret untuk memastikan keselamatan personel dan lembaga China” di Iran.

    Upaya menstabilkan situasi regional yang memburuk menyusul panggilan telepon yang dilakukan Wang pada Senin (2/3/2026) untuk membahas konflik di Timur Tengah dengan para menteri luar negeri Iran, Oman, dan Prancis.

    ‘AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir’
    Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov juga mengkritik serangan mendadak yang dilakukan militer AS dan Israel ke Iran.

    Dalam pernyataan yang dirilis pada Selasa (3/3/2026), Lavrov mengatakan bahwa perang mereka terhadap Iran dapat menyebabkan hasil yang justru ingin mereka cegah: proliferasi nuklir.

    Baca: Iran lancarkan serangan balasan ke Israel dan fasilitas militer AS

    Lavrov mengatakan dalam konferensi pers bahwa konsekuensi logis dari tindakan AS dan Israel adalah “akan muncul kekuatan di Iran… yang mendukung untuk melakukan persis apa yang ingin dihindari Amerika – memperoleh bom nuklir”.

    “Karena AS tidak menyerang mereka yang memiliki bom nuklir,” kata Lavrov.

    Lavrov juga mengatakan bahwa negara-negara Arab kini dapat bergabung dalam perlombaan untuk memperoleh senjata nuklir, mengingat pengalaman beberapa hari terakhir dan “masalah proliferasi nuklir akan mulai lepas kendali”.

    Israel secara luas dipandang sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di kawasan Timur Tengah, yang tidak dikonfirmasi maupun disangkalnya.

    “Tujuan mulia yang tampaknya paradoks untuk memulai perang guna mencegah proliferasi senjata nuklir dapat memicu tren yang sepenuhnya berlawanan,” katanya.

    Lavrov, yang mengatakan bahwa Moskow masih belum melihat bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, berbicara dengan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi, pada hari Selasa.

    Baca: Transisi kepemimpinan Iran pasca meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Dia mengatakan bahwa Rusia siap membantu menemukan solusi diplomatik untuk konflik tersebut, sambil menolak penggunaan “agresi militer tanpa provokasi” oleh AS dan Israel di kawasan tersebut.

    Saat AS dan Israel melancarkan serangan pertama mereka terhadap Iran pada hari Sabtu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebutnya sebagai “tindakan agresi bersenjata yang direncanakan dan tanpa provokasi terhadap negara anggota PBB yang berdaulat dan independen”.

    Kedua negara tersebut telah menyembunyikan niat sebenarnya untuk menggulingkan rezim di Teheran “di bawah kedok” negosiasi untuk menormalisasi hubungan dengan Iran, kata kementerian tersebut.

    AS dan Israel “dengan cepat mendorong kawasan itu menuju bencana kemanusiaan, ekonomi, dan bahkan potensi bencana radiologis,” kementerian tersebut memperingatkan.

    “Tanggung jawab atas konsekuensi negatif dari krisis buatan manusia ini, termasuk reaksi berantai yang tak terduga dan kekerasan yang meningkat, sepenuhnya berada di pundak mereka,” tambah pernyataan itu.

    Rusia telah menghadapi tuduhan agresi terhadap negara berdaulat setelah melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina, perang yang kini memasuki tahun kelima.

  • Iran Siap Lanjutkan Perang: Menolak Berunding dengan Amerika Serikat

    Iran Siap Lanjutkan Perang: Menolak Berunding dengan Amerika Serikat

    7cloud.asia – Iran menyatakan tidak berencana melakukan perundingan dengan Amerika Serikat (AS) dan akan melanjutkan permusuhan di antara mereka.

    Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada Rabu (4/3/2026), menegaskan bahwa Iran tidak memercayai AS.

    “Tak ada kepercayaan pada Amerika, juga tak ada alasan untuk berunding,” katanya dalam siaran televisi.

    Baca: Rusia dan China kecam serangan AS dan Israel ke Iran

    Menurut Mokhber, Iran mampu melanjutkan perang karena memiliki pengalaman delapan tahun, merujuk pada Perang Iran-Irak (1980-1988).

    “Pengalaman sejarah menunjukkan kita tak takut perang, kita tak gentar melanjutkannya,” katanya.

    Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah tidak akan membiarkan begitu saja serangan yang dilancarkan AS dan Israel pada Sabtu.

    Baca: Trump and Netanyahu mau menumbangkan rezim Iran

    Serangan tersebut dilancarkan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil. Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan itu.

    Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    IRGC menuduh AS-Israel menyerang sekolah, rumah sakit, stadion, restoran, dan gedung pernikahan untuk membuat panik masyarakat Iran. Mereka menyebut korban jiwa warga sipil telah melampaui 700 orang.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti

  • Ratusan Warga Hadiri Doa Bersama untuk Iran dan Ayatullah Ali Khamenei

    Ratusan Warga Hadiri Doa Bersama untuk Iran dan Ayatullah Ali Khamenei

    7cloud.asia – Ratusan masyarakat mengikuti doa bersama sebagai bentuk solidaritas atas agresi Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

    Doa bersama yang digelar di kediaman Duta Besar Republik Islam Iran di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

    Doa bersama dimulai sekitar pukul 15.15 WIB. Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi membuka acara dengan sambutan yang isinya mengenang peranan Ali Khamenei.

    Boroujerdi kembali menegaskan bahwa Iran mengutuk keras serangan Amerika Serikat dan Israel yang telah menewaskan rakyat dan ratusan anak di Iran. Dia mengungkapkan terima kasihnya atas dukungan moral dari rakyat Indonesia.

    Masyarakat kemudian bersama-sama melantunkan Surah Yasin dan berdzikir bersama, dan ditutup dengan membaca Surah Al-Fatihah, Ayat Kursi, serta Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah An-Nas.

    Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS

    Kegiatan diakhiri dengan doa bersama untuk Ali Khamenei yang diiringi dengan isak tangis masyarakat, melambangkan rasa duka cita mendalam dan simpati akan perjuangan pemimpin tertinggi Iran tersebut dalam melawan rezim zionis Israel.

    Hingga menjelang buka puasa, warga terus berdatangan meski acara telah selesai. Sederet karangan bunga sebagai ungkapan duka cita atas meninggalnya Khamenei tampak di luar kediaman Duta Besar Iran untuk Indonesia. 

    Karangan bunga antara lain datang dari Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, DPP PDI Perjuangan dan Menteri Agama, Nasaruddin Umar.

    Tidak jauh pintu dari masuk, masyarakat—yang dominan mengenakan pakaian berwarna hitam dengan menggenggam bunga mawar sebagai bentuk berduka—bergantian mengambil dokumentasi dengan foto Ali Khamenei yang terpajang.

    Baca: Transisi kepemimpinan Iran pasca meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Tidak sedikit juga yang memanjatkan doa di depan foto pemimpin tertinggi Iran tersebut.

    Di sisi lain, tampak masyarakat yang sibuk menuliskan ucapan duka cita sembari membubuhkan tanda tangan petisi sebagai wujud solidaritas dan dukungan terhadap perdamaian serta penegakan hukum internasional.

    Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil.

    Televisi Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei gugur dalam serangan itu. Iran kemudian meluncurkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Eskalasi di kawasan itu terjadi di tengah berlangsungnya perundingan nuklir di Jenewa antara AS dan Iran yang dimediasi Oman.

  • AS Kewalahan Atasi Serangan Drone Shahed, Iran Bantah Mulai Kekurangan Amunisi

    AS Kewalahan Atasi Serangan Drone Shahed, Iran Bantah Mulai Kekurangan Amunisi

    7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) tidak memiliki pertahanan yang memadai untuk menghadapi serangan pesawat tanpa awak (drone) Shahed 136 Iran, ungkap laporan The Atlantic, mengutip seorang pejabat kongres.

    “Militer AS tidak memiliki pertahanan yang kuat untuk melawan (drone) Shahed 136,” kata seorang sumber yang dikutip surat kabar tersebut pada Kamis (5/3/2026).

    Dia menambahkan bahwa Menteri Perang AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah mengakui kesenjangan kemampuan AS dalam melawan pesawat tanpa awak tersebut.

    Menurut laporan tersebut, AS telah berinvestasi lebih besar terhadap sistem pertahanan berlapis yang dirancang untuk melawan ancaman dari negara-negara jauh seperti China, daripada target jarak dekat seperti Iran.

    Sehari sebelumnya, CNN melaporkan bahwa Hegseth mengakui dalam sebuah pengarahan tertutup dengan para anggota parlemen bahwa drone Shahed 136 satu arah Iran menghadirkan tantangan yang lebih besar bagi pertahanan udaranya daripada yang diperkirakan sebelumnya.

    Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS

    Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas aktivitas militer Amerika di Timur Tengah, mengatakan pada Rabu bahwa peluncuran rudal Iran telah turun sebesar 86 persen dan peluncuran drone turun 73 persen dalam empat hari terakhir.

    Seorang pejabat Barat sebelumnya mengatakan bahwa jumlah peluncuran rudal balistik Iran menurun sebagai akibat dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap lokasi peluncuran serta fasilitas yang memproduksi rudal tersebut.

    Menepis laporan tersebut, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah amunisi maupun kekuatan rudal negara lain.

    Boroujerdi menegaskan, hanya medan perang yang mampu menentukan pihak mana yang terlebih dahulu kehabisan amunisi.

    Baca: Rusia dan China kecam serangan AS dan Israel ke Iran

    Dia menepis isu melemahnya kekuatan persenjataan Iran dengan menyampaikan bahwa Teheran memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak seiring keaktifan produksi persenjataan konvensional.

    “Kami bukan hanya memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak tetapi pada saat bersamaan jaringan produksi persenjataan konvensional di negara kami juga berlangsung aktif,” kata Dubes Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026)

    Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke berbagai target di Iran, termasuk di Teheran, yang tidak hanya menimbulkan kerusakan tetapi juga korban jiwa di kalangan warga sipil.

    Iran membalas agresi militer tersebut dengan lserangan ke sejumlah wilayah Israel, dan ke sejumlah pangkalan militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

  • Jajak Pendapat Ungkap Mayoritas Warga AS Tolak Cara Donald Trump Tangani Konflik dengan Iran

    Jajak Pendapat Ungkap Mayoritas Warga AS Tolak Cara Donald Trump Tangani Konflik dengan Iran

    7cloud.asia – Sebuah jajak pendapat yang dirilis pada Jumat (6/3/2026) menunjukkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat (AS) tidak menyetujui cara Presiden Donald Trump menangani konflik AS-Israel dengan Iran.

    Dilansir npr.org, survei oleh PBS News/NPR/Marist itu mengungkap, mayoritas warga AS menentang serangan militer oleh AS-Israel ke Iran.

    Ketika operasi militer terhadap Iran mendekati akhir pekan pertamanya, survei menemukan bahwa 56 persen warga Amerika menentang aksi militer AS di Iran, sementara 44 persen mendukungnya.

    Mayoritas besar dari pendukung Partai Republik mendukung baik pendekatan presiden maupun serangan militer tersebut, masing-masing sebesar 79 persen dan 84 persen.

    Baca: AS Kewalahan atasi serangan drone Shahed dari Iran

    Sementara 86 persen pendukung Partai Demokrat menentang keduanya, demikian hasil jajak pendapat tersebut.

    Di kalangan responden independen, sekitar enam dari 10 orang tidak setuju dengan penanganan situasi oleh Trump dan menentang aksi militer, tambahnya.

    Jajak pendapat itu dirilis ketika para anggota parlemen dari Partai Demokrat dan Partai Republik terbelah tajam terkait serangan terhadap Iran.

    Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS

    Partai Demokrat mengecam tindakan tersebut dengan berargumen bahwa tidak ada ancaman nyata dari Iran dan bahwa serangan itu tidak memperoleh otorisasi dari Kongres.

    Survei dilakukan terhadap 1.591 responden nasional ini dilakukan dari Senin hingga Rabu pekan ini, atau beberapa hari setelah Amerika Serikat dan Israel mulai membombardir Iran.

    Survei ini memiliki margin kesalahan 2,8 poin persentase, dan dilakukan dengan wawancara melalui telepon, SMS, dan daring, dan dilakukan dalam bahasa Inggris dan Spanyol.

     

  • Iran Tolak Tuntutan AS untuk Menyerah Tanpa Syarat

    Iran Tolak Tuntutan AS untuk Menyerah Tanpa Syarat

    7cloud.asia – Iran menolak tuntutan Amerika Serikat (AS) agar menyerah tanpa syarat dan menegaskan akan terus mempertahankan diri selama diperlukan, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Minggu (8/3/2026).

    “Kami tidak pernah menyerah. Kami tidak akan menyerah tanpa syarat, dan kami akan terus melawan selama diperlukan,” kata Araghchi kepada penyiar NBC News.

    “Kami terus mempertahankan diri dan kami membela wilayah kami, rakyat kami, serta martabat kami. Martabat kami tidak untuk diperjualbelikan,” kata Araghchi.

    Araghchi menambahkan bahwa Iran menilai masih terlalu dini untuk membahas syarat-syarat gencatan senjata dengan AS pada tahap saat ini.

    “Harus ada pengakhiran perang secara permanen. Dan selama hal itu belum tercapai, saya pikir kami perlu terus berjuang demi rakyat kami dan keamanan kami,” ujar Araghchi.

    Presiden AS Donald Trump, Jumat (6/3/2026), mengatakan bahwa AS tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan Iran dan tidak akan menerima apa pun selain “penyerahan tanpa syarat”.

    Baca: AS kewalahan atasi serangan drone Shahed milik Iran

    Utusan Korps Garuda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, pada hari yang sama menegaskan, Iran mampu melakukan operasi tempur intensif setidaknya selama enam bulan.

    “Angkatan bersenjata Iran memiliki kemampuan untuk melancarkan perang intensif setidaknya selama enam bulan pada tingkat kecepatan saat ini,” kata Naini, seperti dikutip oleh penyiar pemerintah Iran.

    Menurutnya, persenjataan militer Iran mencakup rudal balistik berat, rudal jelajah, serta berbagai jenis drone dan kapal serang, dan siap untuk menghadapi perang berskala besar dan berkepanjangan.

    “Tidak ada alasan untuk khawatir,” kata Naini.

    Dia juga menambahkan bahwa Iran berencana menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan dalam beberapa hari mendatang.

    Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

    Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS

    Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

    AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “preemptive” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran.

    Tetapi tak lama kemudian mereka dengan segera menyatakan bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer tersebut. Republik Islam Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari.

    Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.

    Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer AS-Israel dan menyerukan de-eskalasi segera serta penghentian permusuhan.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik/RIA Novesti-OANA

  • Resmi Gantikan Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran di Bawah Ancaman AS dan Israel

    Resmi Gantikan Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei Pimpin Iran di Bawah Ancaman AS dan Israel

    7cloud.asia – Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan untuk menggantikan ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran, demikian dilaporkan media pemerintah Iran, Senin (9/3/2026).

    Motjaba yang saat ini berusia 56 tahun menjadi Pemimpin Tertinggi ke-tiga Iran sejak Revolusi Islam 1979. Ia diperkirakan akan mengikuti jejak ayahnya yang mempertahankan sikap garis keras terhadap Amerika Serikat.

    Korps Garda Revolusi Islam pada Senin (9/3/2026) menyatakan dukungannya terhadap pemimpin baru tersebut.

    Istri dan ayahnya dilaporkan meninggal akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu

    Menurut laporan media pemerintah setempat, Motjaba Khamenei ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi berdasarkan mufakat Majelis Ahli yang beranggotakan 88 orang ahli agama dan ulama Iran.

    Baca: Transisi kepemimpinan Iran pasca meninggalnya Ayatullah Ali Khamenei

    Profil Mojtaba Khamenei
    Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad di timur laut Iran, salah satu pusat keagamaan utama di negara tersebut.

    Ia merupakan putra kedua dari almarhum Ayatollah Ali Khamenei, yang memimpin Iran sebagai pemimpin tertinggi sejak 1989 hingga meninggal lebih dari sepekan lalu dalam serangan udara AS dan Israel.

    Cucu dari ulama kenamaan Iran, Sayyed Javad Khamenei ini tumbuh dalam lingkungan yang sarat dinamika politik.

    Mojtaba menyaksikan kebangkitan ayahnya sebagai tokoh penting dalam Revolusi Islam dan kemudian sebagai presiden Iran sebelum menjabat sebagai pemimpin tertinggi di negeri para mullah tersebut.

    Motjaba Khamenei menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif terkemuka dan mantan ketua parlemen yang saat ini memimpin salah satu lembaga kebudayaan utama di Iran.

    Baca: Iran tolak tuntutan AS untuk menyerah tanpa syarat

    Zahra termasuk di antara korban yang tewas dalam serangan AS dan Israel yang menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di ibu kota Teheran.

    Mojtaba selamat dari serangan tersebut, namun ia juga kehilangan ibunya, saudara perempuan, ipar, serta keponakan-keponakannya.

    Pemimpin Tertinggi Iran adalah pucuk tertinggi kekuasaan yudikatif, legislatif, dan administratif di Iran. Ia juga adalah yang membuat keputusan terkait hal-hal penting di Iran, termasuk dalam hal program nuklir.

    Suksesi dengan ancaman AS dan Israel
    Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran dalam salah satu momen paling bergejolak dalam sejarah modern salah satu negara Teluk itu.

    Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan bahwa siapapun Pemimpin Tertinggi baru di Iran yang tidak mendapatkan “persetujuan” AS tidak akan bertahan lama.

    Baca: AS kewalahan atasi serangan drone Shahed milik Iran

    Proses transisi ini juga berlangsung di tengah ancaman langsung dari Israel, yang para pemimpinnya bersumpah akan membunuh siapa pun pemimpin Iran yang dipilih untuk menggantikan Khamenei.

    “Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat, dunia bebas dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target pasti untuk dibunuh, apa pun namanya dan di mana pun ia bersembunyi,” kata Kepala Pertahanan Israel, Israel Katz melalui platform media sosial X.

    Ancaman itu menegaskan besarnya tekanan yang menyelimuti proses suksesi kepemimpinan di Iran, sekaligus menempatkan Mojtaba dalam pusat konfrontasi geopolitik yang melampaui batas-batas negara tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Kyodo-OANA-Anadolu

  • Serangan AS-Israel ke Iran Memicu Bencana Lingkungan

    Serangan AS-Israel ke Iran Memicu Bencana Lingkungan

    7cloud.asia – Serangan sepihak yang dilancarkan militer Israel dan AS yang kemudian memicu perang dengan Iran tak hanya menciptakan bencana kemanusiaan, tetapi sekarang juga menjadi bencana lingkungan.

    Ibu kota Iran, Teheran diliputi kegelapan selama akhir pekan dan hujan asam turun dari langit setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap kilang minyak di seluruh kota.

    Dalam pernyataan yang dilansir di akun Facebooknya, organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia menegaskan, dampak perang yang sudah berlangsung 10 hari ini akan dirasakan selama bertahun-tahun yang akan datang.

    Para pemimpin dunia harus bertindak dengan segera dan bersatu untuk mengakhiri permusuhan, melindungi warga sipil, dan mengejar solusi damai dan diplomatik.

    Di tengah kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto didesak membawa Indonesia keluar dari Board of Peace, berhenti berdiri bersama para penjajah dan penjahat perang, dan mulai berdiri bersama mereka yang ditindas.

    “Hentikan perang, hentikan pengeboman, pilih perdamaian!“ demikian Greenpeace dalam pernyataannya.

    Hal serupa diungkap oleh Conflict and Environmet Observatory (CEOBS). Dalam penilaiannya, CEOBS menyaksikan berlanjutnya insiden pencemaran yang membahayakan manusia dan ekosistem, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang akibat perang Iran.

    CEOBS juga mengingatkan adanya tren yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang besar seiring berlanjutnya perang.

    Untuk memahami sifat dan skala kerusakan lingkungan yang diakibatkan perang Iran, CEOBS telah mengidentifikasi insiden yang relevan dengan lingkungan dan melakukan penilaian risiko dasar untuk masing-masing insiden.

    “Kami telah mencari insiden di media sosial dan media tradisional, kemudian melakukan verifikasi dan penilaian lingkungan jarak jauh menggunakan rekaman media sosial dan media tradisional tambahan yang disortir dengan citra satelit,“ demikian CEOBS dalam pernyataan yang dirilis di laman resmina.

    Pada tanggal 10 Maret 2026, CEOBS telah mengidentifikasi lebih dari 300 insiden, 232 di antaranya telah dinilai risiko lingkungannya.

    Hasilnya menunjukkan insiden di Iran, Irak, Israel, Kuwait, Yordania, Siprus, Bahrain, Qatar, UEA, Arab Saudi, Oman, dan Azerbaijan. Jenis fasilitas yang paling umum adalah ‘Objek Militer’ (123).

    Dari jenis tersebut, subtipe yang paling terdampak adalah ‘Pangkalan Udara’ (26). Di luar lokasi militer, insiden mencakup berbagai jenis fasilitas, dengan profil polusi yang berbeda, mulai dari rumah sakit, hingga tempat penyimpanan ban, hingga kilang minyak.

    “Seiring berjalannya konflik, kita melihat lebih banyak serangan terhadap infrastruktur sipil dan infrastruktur dengan penggunaan ganda,“ imbuh pernyataan tersebut.

    Peringatan kesehatan
    Insiden sebagian besar diidentifikasi melalui pemantauan media sosial. Meskipun telah diverifikasi, insiden tersebut memerlukan verifikasi yang lebih komprehensif dan tinjauan sejawat untuk sepenuhnya menilai dampak lingkungannya.

    Banyak insiden tambahan perlu ditambahkan secara retrospektif karena kecepatan, penyebaran geografis, dan lingkungan informasi daring yang kacau.

    Kerusakan lingkungan
    Polusi dari lokasi dan material militer. Sebagian besar serangan AS dan Israel yang dilaporkan selama fase awal ‘Operasi Epic Fury’ menargetkan pangkalan rudal, lapangan terbang, fasilitas dan kapal angkatan laut, gudang senjata, dan lokasi produksi militer di seluruh Iran.

    Iran menanggapi dengan menyerang pangkalan udara dan angkatan laut AS di Kuwait, Qatar, Bahrain, dan UEA. Israel juga telah melakukan puluhan serangan di Lebanon terhadap gudang senjata dan lokasi peluncuran yang diduga.

    Seperti yang ditunjukkan oleh serangan baru-baru ini terhadap lokasi penyimpanan minyak dan kilang, CEOBS mengantisipasi bahwa infrastruktur sipil dan penggunaan ganda akan semakin menjadi fokus serangan setelah fase awal perang ini.

    Meskipun banyak lokasi militer yang diserang menunjukkan ledakan dan kebakaran sekunder, hal ini jarang menghancurkan semua material berbahaya dan dapat menghasilkan polusi tambahan.

    Kemungkinan kontaminan meliputi bahan bakar, minyak, logam berat, senyawa energi, dan PFAS, sementara kebakaran dapat melepaskan dioksin dan furan.

    Banyak fasilitas militer Iran yang lebih besar berada di daerah pedesaan, atau di bawah tanah, yang mempersulit penilaian kerusakan dan berpotensi mengurangi risiko paparan manusia.

    Tetapi lokasi lain di seluruh Iran, Lebanon, dan Teluk terletak di dekat kota, meningkatkan risiko paparan publik terhadap polutan yang dihasilkan konflik.

    Teheran adalah contoh utama bagaimana infrastruktur militer Iran terjalin dengan daerah sipil. CEOBS telah melihat banyak bangunan yang berafiliasi dengan militer di kota itu dibom atau menjadi sasaran rudal.

    Tata ruang dan geografi perkotaan Teheran secara signifikan memengaruhi mobilitas polutan udara. Kota berpenduduk 10 juta jiwa ini dikelilingi oleh pegunungan Alborz, yang sering memerangkap kabut asap dan polusi di dalam kota.

    Gedung-gedung tinggi juga menghambat aliran angin, mengurangi penyebaran polutan konflik dan meningkatkan kualitas udara.

    Hujan asam
    Serangan Israel terhadap empat fasilitas minyak di dan sekitar Teheran pada akhir pekan tanggal 7-8 Maret menarik perhatian global terhadap implikasi lingkungan dari perang.

    Hal ini setelah sembilan juta penduduk kota terpapar tingkat polusi berbahaya, termasuk “hujan hitam” karena jelaga dan polutan berjatuhan dari awan asap.

    Serangan tersebut merupakan bagian dari keputusan Israel untuk menyerang sekitar 30 fasilitas pengolahan dan penyimpanan minyak di seluruh Iran.

    Serangan tersebut membantu menakut-nakuti pasar minyak global dan dikritik oleh pemerintahan Trump.

    Insiden serius lainnya terjadi di kilang Ras Tanurah Arab Saudi pada tanggal 2 Maret, dan Pelabuhan Fujairah UEA pada tanggal 3 Maret.

    Kedua insiden tersebut dilaporkan disebabkan oleh drone Iran, masing-masing sebagai akibat dari serangan langsung dan serangan yang dicegat, dan menghasilkan kepulan asap yang besar.

    Kepulan asap tersebut dapat mengandung partikel, nitrogen oksida, sulfur dioksida, karbon monoksida, dan senyawa organik beracun — termasuk PAH dan berpotensi dioksin — yang menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat di daerah yang terkena dampak.

    Pemadaman listrik setelah serangan terhadap infrastruktur energi, seperti di Kota Industri Ras Laffan di Qatar, dapat menyebabkan kerusakan sekunder yang signifikan, dengan hilangnya daya yang mengganggu sistem keselamatan dan memicu polusi industri.

     

  • Presiden Iran Ungkap Syarat untuk Akhiri Perang dengan AS-Israel

    Presiden Iran Ungkap Syarat untuk Akhiri Perang dengan AS-Israel

    7cloud.asia – Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Rabu (11/3/2026), mengungkapkan syarat untuk mengakhiri perang Iran dengan Amerika Serikat (AS).

    Menurutnya, satu-satunya cara untuk mengakhiri perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel adalah mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan.

    Dalam sebuah unggahan di platform media sosial X, Pezeshkian juga menyatakan Iran berkomitmen terhadap perdamaian di kawasan tersebut.

    Sebelumnya pada hari yang sama, angkatan bersenjata Iran memperingatkan bahwa mereka akan melancarkan serangan balasan besar-besaran jika AS menyerang pelabuhan-pelabuhan Iran.

    Juru bicara angkatan bersenjata Iran Abolfazl Shekarchi menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan stasiun televisi milik pemerintah Iran, IRIB TV

    Ini setelah Komando Pusat AS mengunggah pesan di akun berbahasa Persia mereka di X, menyerukan kepada warga sipil di Iran untuk segera menjauhi fasilitas pelabuhan di mana angkatan laut Iran sedang melakukan operasi.

    “Kalau AS melaksanakan ancamannya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, maka tidak ada pelabuhan, pusat ekonomi, atau titik di Teluk Persia yang akan berada di luar jangkauan kami,” kata Shekarchi.

    Pada 28 Februari, Israel dan AS memulai serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota lain di Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer senior dan warga sipil.

    Iran merespons dengan meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah.

    Sumber: Antaranewscom/Xinhua

  • Iran Tuntut AS Tarik Pasukan dari Teluk Persia untuk Akhiri Perang

    Iran Tuntut AS Tarik Pasukan dari Teluk Persia untuk Akhiri Perang

    7cloud.asia – Iran menuntut agar Amerika Serikat (AS) memberikan kompensasi atas kerusakan dan menarik diri dari kawasan Teluk Persia untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel.

    Hal ini disampaikan anggota Dewan Penentu Kebijakan Iran, Mohsen Rezaei, pada Sabtu (14/3/2026).

    Rezaei mengatakan, Iran hanya akan mempertimbangkan untuk mengakhiri perang jika, pertama, Teheran menerima kompensasi dari AS untuk semua kerusakan.

    Dan kedua, kami mendapatkan jaminan keamanan 100 persen di masa depan, yang mustahil tanpa penarikan militer AS dari kawasan Teluk Persia.

    Baca: Iran ungkap syarat untuk akhiri perang dengan AS-Israel

    “Dengan demikian, syarat kedua adalah penarikan AS dari Teluk Persia,” kata Rezaei kepada stasiun televisi Iran SNN.

    Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, Kamis (12/3/2026), menyerukan kepada negara-negara Timur Tengah untuk menutup pangkalan AS di wilayah mereka dan menuntut ganti rugi.

    Sebelumnya pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran, termasuk di Teheran, menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

    Iran menanggapi serangan brutal itu dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.

    Baca: Serangan AS-Israel ke Iran memicu bencana lingkungan

    AS dan Israel awalnya mengklaim serangan “preemptif” mereka diperlukan untuk melawan ancaman yang dirasakan dari program nuklir Iran, tetapi mereka segera memperjelas bahwa mereka ingin melihat penggantian kekuasaan di Iran.

    Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal pada hari pertama operasi militer AS-Israel.

    Namun, suksesi pemerintahan Republik Islam Iran berjalan mulus dengan Motjaba Khamenei dipilih untuk meneruskan kepemimpinan Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti