AS Kewalahan Atasi Serangan Drone Shahed, Iran Bantah Mulai Kekurangan Amunisi

Written by

in

7cloud.asia – Amerika Serikat (AS) tidak memiliki pertahanan yang memadai untuk menghadapi serangan pesawat tanpa awak (drone) Shahed 136 Iran, ungkap laporan The Atlantic, mengutip seorang pejabat kongres.

“Militer AS tidak memiliki pertahanan yang kuat untuk melawan (drone) Shahed 136,” kata seorang sumber yang dikutip surat kabar tersebut pada Kamis (5/3/2026).

Dia menambahkan bahwa Menteri Perang AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah mengakui kesenjangan kemampuan AS dalam melawan pesawat tanpa awak tersebut.

Menurut laporan tersebut, AS telah berinvestasi lebih besar terhadap sistem pertahanan berlapis yang dirancang untuk melawan ancaman dari negara-negara jauh seperti China, daripada target jarak dekat seperti Iran.

Sehari sebelumnya, CNN melaporkan bahwa Hegseth mengakui dalam sebuah pengarahan tertutup dengan para anggota parlemen bahwa drone Shahed 136 satu arah Iran menghadirkan tantangan yang lebih besar bagi pertahanan udaranya daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS

Namun, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang bertanggung jawab atas aktivitas militer Amerika di Timur Tengah, mengatakan pada Rabu bahwa peluncuran rudal Iran telah turun sebesar 86 persen dan peluncuran drone turun 73 persen dalam empat hari terakhir.

Seorang pejabat Barat sebelumnya mengatakan bahwa jumlah peluncuran rudal balistik Iran menurun sebagai akibat dari serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap lokasi peluncuran serta fasilitas yang memproduksi rudal tersebut.

Menepis laporan tersebut, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi mengatakan bahwa tidak ada yang mengetahui jumlah amunisi maupun kekuatan rudal negara lain.

Boroujerdi menegaskan, hanya medan perang yang mampu menentukan pihak mana yang terlebih dahulu kehabisan amunisi.

Baca: Rusia dan China kecam serangan AS dan Israel ke Iran

Dia menepis isu melemahnya kekuatan persenjataan Iran dengan menyampaikan bahwa Teheran memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak seiring keaktifan produksi persenjataan konvensional.

“Kami bukan hanya memiliki jumlah rudal dan amunisi yang banyak tetapi pada saat bersamaan jaringan produksi persenjataan konvensional di negara kami juga berlangsung aktif,” kata Dubes Boroujerdi dalam konferensi pers di kediamannya di Jakarta, Kamis (5/3/2026)

Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke berbagai target di Iran, termasuk di Teheran, yang tidak hanya menimbulkan kerusakan tetapi juga korban jiwa di kalangan warga sipil.

Iran membalas agresi militer tersebut dengan lserangan ke sejumlah wilayah Israel, dan ke sejumlah pangkalan militer AS di seluruh kawasan Timur Tengah.

Sumber: Antaranews.com/Sputnik-OANA

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *