7cloud.asia – Iran menolak tuntutan Amerika Serikat (AS) agar menyerah tanpa syarat dan menegaskan akan terus mempertahankan diri selama diperlukan, kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Minggu (8/3/2026).
“Kami tidak pernah menyerah. Kami tidak akan menyerah tanpa syarat, dan kami akan terus melawan selama diperlukan,” kata Araghchi kepada penyiar NBC News.
“Kami terus mempertahankan diri dan kami membela wilayah kami, rakyat kami, serta martabat kami. Martabat kami tidak untuk diperjualbelikan,” kata Araghchi.
Araghchi menambahkan bahwa Iran menilai masih terlalu dini untuk membahas syarat-syarat gencatan senjata dengan AS pada tahap saat ini.
“Harus ada pengakhiran perang secara permanen. Dan selama hal itu belum tercapai, saya pikir kami perlu terus berjuang demi rakyat kami dan keamanan kami,” ujar Araghchi.
Presiden AS Donald Trump, Jumat (6/3/2026), mengatakan bahwa AS tidak akan menandatangani perjanjian apa pun dengan Iran dan tidak akan menerima apa pun selain “penyerahan tanpa syarat”.
Baca: AS kewalahan atasi serangan drone Shahed milik Iran
Utusan Korps Garuda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, pada hari yang sama menegaskan, Iran mampu melakukan operasi tempur intensif setidaknya selama enam bulan.
“Angkatan bersenjata Iran memiliki kemampuan untuk melancarkan perang intensif setidaknya selama enam bulan pada tingkat kecepatan saat ini,” kata Naini, seperti dikutip oleh penyiar pemerintah Iran.
Menurutnya, persenjataan militer Iran mencakup rudal balistik berat, rudal jelajah, serta berbagai jenis drone dan kapal serang, dan siap untuk menghadapi perang berskala besar dan berkepanjangan.
“Tidak ada alasan untuk khawatir,” kata Naini.
Dia juga menambahkan bahwa Iran berencana menggunakan rudal jarak jauh yang lebih canggih dan jarang digunakan dalam beberapa hari mendatang.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Baca: Iran siap lanjutkan perang dan menolak berunding dengan AS
Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
AS dan Israel awalnya menyatakan bahwa serangan “preemptive” tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang dianggap berasal dari program nuklir Iran.
Tetapi tak lama kemudian mereka dengan segera menyatakan bahwa mereka ingin melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei tewas pada hari pertama operasi militer tersebut. Republik Islam Iran kemudian menyatakan masa berkabung selama 40 hari.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengutuk operasi militer AS-Israel dan menyerukan de-eskalasi segera serta penghentian permusuhan.
Sumber: Antaranews.com/Sputnik/RIA Novesti-OANA

Leave a Reply