Tag: jakarta

  • Kualitas Udara Jakarta Membaik, Angka PM 2,5 Berada di Kisaran 51-100

    Kualitas Udara Jakarta Membaik, Angka PM 2,5 Berada di Kisaran 51-100

    7cloud.asia – Dinas Lingkungan Hidup (LH) DKI Jakarta menyebutkan, kualitas udara di Jakarta pada Kamis (14/9/2023) masuk kategori sedang.

    Dari pantauan pada Kamis pagi hingga pukul 06.00 WIB, jumlah partikel halus (particulate matter/PM) 2,5 berdasar indek standar pencemar udara (ISPU) di Jakarta berada pada angka 51-100 

    Laman resmi Sistem Informasi Lingkungan dan Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, menyebutkan di antara lima wilayah, Lubang Buaya Jakarta Timur memiliki angka PM2,5 sebesar 99.

    Baca: Tilang uji emisi dibatalkan, ini sebabnya

    Angka itu memiliki penjelasan tingkat kualitas udaranya sedang karena tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif, dan nilai estetika.

    Sedangkan kategori baik yakni tingkat kualitas udara yang tidak memberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai estetika dengan rentang PM2,5 sebesar 0-50.

    Kemudian, kategori sangat tidak sehat dengan rentang PM2,5 sebesar 200-299 atau kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar.

    Baca: DPRD minta hasil uji emisi dibuka ke publik

    Terakhir, kualitas udara disebut berbahaya  jika PM2,5 berada di angka 300-500 atau secara umum kualitas udaranya dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi.

    Selain Jakarta Timur, ISPU di wilayah kota Jakarta lainnya terpantau sedang, yakni Bunderan HI Jakarta Pusat (80), Kelapa Gading Jakarta Utara (85), Jagakarsa Jakarta Selatan (73) dan Kebon Jeruk Jakarta Barat (73).

    Sementara itu, pada situs pemantauan IQ Air, Kamis, pukul 06.00 WIB, Jakarta, diklasifikasikan sebagai kota nomor 11 dengan pencemaran udara tertinggi di dunia dengan nilai 84.

    Baca: Seperti ini rencan atilang uji emisi

    Untuk kota paling tercemar yakni Dubai, UEA (172), kedua Lahore, Pakistan (169), ketiga Delhi, India (157), keempat Sydney, Australia (156) dan kelima Doha, Qatar (152).

    Indeks kualitas udara (IKU) di Jakarta tinggi karena konsentrasi PM2.5 saat ini sudah 5,6 kali lebih tinggi dari nilai panduan kualitas udara organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO).

    Data kualitas udara diperoleh berdasarkan pantauan di 20 stasiun pemantau, di antaranya berada di Layar Permai (PIK), Jalan Raya Perjuangan (Kebon Jeruk), dan Jimbaran (Ancol).

    Sumber: Antaranews

     

     

  • Pemasangan Water Mist di Gedung Tinggi di Jakarta Terkendala Ketersediaan Alat

    Pemasangan Water Mist di Gedung Tinggi di Jakarta Terkendala Ketersediaan Alat

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengimbau kepada pengelola gedung swasta untuk memasang pompa bertekanan tinggi (water mist generator). Namun, jumlah alat yang tersedia terbatas. 

    Karena itu, Pejabat Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono meminta Satuan Tugas Pengendalian Polusi Udara Jakarta untuk mengumumkan jumlah pompa untuk water mist yang sudah terpasang.  

    “Nanti, juru bicara dari tim Satgas Polusi akan menyampaikan besok (15/9), setiap Jumat,” ujar Heru seperti dikutip Antaranews pada Kamis (14/09/2023).

    Heru juga meminta pimpinan tingkat kota administrasi di DKI Jakarta untuk ikut memantau jumlah pompa water mist yang sudah terpasang di wilayah masing-masing.

    Baca: Perdagangan karbon untuk dorong perusahaan turunkan emisi

    Selanjutnya Heru menjelaskan pemasangan alat ini sebelumnya telah disosialisasikan kepada seluruh pemilik gedung tinggi yang ada DKI Jakarta sebagai upaya mengatasi polusi udara.

    Sebelumnya, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Erni Pelita Fitratunnisa menjelaskan para pengelola gedung mengeluh terbatasnya jumlah alat untuk water mist. 

    Hal ini disebabkan oleh adanya kendala dalam proses produksi alat tersebut, baik dari segi bahan baku maupun sumber daya manusia (SDM).

    Meski demikian, pihaknya berharap, para pemilik gedung dapat berinisiatif memasangnya sebagai alat kelengkapan gedung, sama seperti alat pemadam kebakaran.

    Baca: Opsi jangka pendek untuk atasi polusi udara di Jakarta

    Sebenarnya sekitar 700 gedung tinggi milik perusahaan  swasta di DKI Jakarta siap dipasang pompa bertekanan tinggi (water mist) untuk membuat kabut air guna menurunkan polusi udara.

    “Sudah ada sekitar 700 pemilik gedung. Mereka mendukung program dengan ‘water mist’,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto.

    Tetapi saat ini, pompa air sedang diproduksi Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

    “Kalau sudah tersedia banyak, saya optimistis bahwa pemilik gedung pasti akan menyediakan alat ‘water mist’,” harap Asep.

    Baca: Polusi udara di Jakarta parah, pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan

    Sejumlah kantor Pemprov DKI Jakarta juga telah memasangnya seperti di Kantor Wali Kota Jakarta Pusat dan Kantor Wali Kota Jakarta Utara.

    Selain itu, Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Kantor Wali Kota Jakarta Barat serta Kantor Wali Kota Jakarta Selatan juga telah memasangnya.

    Sementara lima perusahaan swasta telah memasang pompa pembuat kabut air, yaitu PT Pamapersada Nusantara, PT United Tractors Tbk, PT Waskita Rajawali Tower di wilayah Jakarta Timur dan LTC Glodok di Jakarta Barat.

    Sejumlah perusahaan lainnya sedang memesannya yakni PT Graha Serasi Oto Raya, PT Toyota Astra Moto, Pengelola Apartemen Springhill, Pengelola Apartemen Northland di wilayah Jakarta Utara.

    Kemudian PT Soho Global Health di Jakarta Timur dan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo di Jakarta Utara.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Polusi Udara, Pemerintah dan Pemprov DKI Jakarta Bisa Belajar dari China

    Atasi Polusi Udara, Pemerintah dan Pemprov DKI Jakarta Bisa Belajar dari China

    7cloud.asia – Beberapa pekan belakangan ini, publik dihebohkan dengan buruknya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Meski kualitas udara di Jakarta sudah masuk kategori tidak sehat dan mengancam kesehatan warga, pemerintah provinsi DKI jakarta terkesan maju mundur untuk mengatasi polusi udara ini. 

    Kebijakan yang diambil terkesan hanya untuk jangka pendek dan tidak mengatasi sumber masalah polusi udara. Lihat saja water mist, penyemprotan jalan, hujan buatan yang hanya memindahkan polutan ke tempat lain. 

    Sementara sumber polusi udara sangat sedikit disentuh. Tilang uji emisi yang sempat diwacanakan batal dilaksanakan dengan alasan memberatkan masyarakat. 

    Baca: Dinilai memberatkan tilang uji emisi dibatalkan

    Pun demikian dengan razia emisi ke kawasan industri yang terkesan hangat-hangat tahu ayam. Sekarang juga mulai tak ada kabar kelanjutannya. Pun sanksi apa yang dijatuhkan kepada pelanggar emisi. 

    Mengatasi polusi udara di Jakarta perlu langkah serius dan spartan, karena masalah ini sudah sedemikian parah. Namun kondisi ini, tidak bisa dijadikan alasan untuk membiarkannya karena ini menyangkut hidup jutaan warga yang tinggal dan setiap hari bekerja di Jakarta. 

    Indonesia bisa belajar dari China untuk mengatasi polusi udara. Negara itu berhasil mengurangi jumlah partikel udara yang merugikan sebanyak 40% dalam kurun waktu tujuh tahun, sejak tahun 2013 hingga 2020.

    Menurut studi berdasar pengukuran satelit yang dipublikasikan oleh Energy Policy Insitute (EPIC) dari Universitas Chicago, capain China ini adalah penurunan populasi udara tertinggi di suatu negara dalam waktu yang singkat.

    Baca: Daftar PLTU batubara yang layak dibatalkan

    Dilansir BBC, Amerika Serikat membutuhkan waktu tiga dekade untuk mencapai jumlah penurunan polusi yang sama sejak kebijakan menurunkan emisi industri dan kendaraan—yang dikenal dengan Clean Air Act—dikeluarkan pada 1970.

    Bagaimana China melakukannya dalam waktu singkat? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus kembali ke tahun 2013, ketika polusi udara di negara-negara Asia mencapai level ekstrem.

    Pada tahun itu, China mencatat rata-rata 52,4 mikrogram (µg) per meter kubik (m3) partikel polutan PM2,5, sepuluh kali lebih banyak dari batas yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hari ini.

    Partikel halus PM2,5, yang berasal dari pembakaran bahan bahan bakar fosil, sangat berbahaya bagi kesehatan karena kemampuannya yang tinggi untuk menembus saluran pernapasan.

    Baca: 4 unit PLTU Suralaya dimatikan, ini dampaknya bagi lingkungan

    “Pada saat itu, Beijing mengalami apa yang kami sebut ‘akan kiamat’, dengan polusi ekstrem yang membuat orang sadar akan masalah tersebut,” kata Christa Hasenkopf, direktur program kualitas udara di EPIC dan salah satu penulis laporan tersebut, kepada BBC Mundo.

    Oleh karena situasi yang serius ini, pemerintah China mendeklarasikan perang melawan polusi udara.

    Pada akhir 2013, pemerintah mengimplementasikan rencana aksi nasional tentang kualitas udara, demi menurunkan polusi dalam periode empat tahun, dengan anggaran sebesar US$270.000 juta, atau sekitar Rp4 triliun.

    Dewan Kota Beijing menambah anggaran dana sebesar US$120.000, setara Rp1,8 triliun.

    Baca: PLTU batubara yang kepung jakarta dituding sebagai sumber polusi udara

    Perang melawan batubara menjadi kunci sukses ini. Rencana aksi itu menetapkan target khusus untuk menurunkan polusi udara sekitar 35% dalam jangka waktu lima tahun ke depan.

    Adapun, musuh pertama dari polusi udara adalah mineral yang memungkinkan industrialisasi yang pesat di China yang dimulai pada kuartal terakhir abad ke-20, sekaligus sumber energi utama di negara itu: batu bara.

    Pemerintah telah melarang pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara di hampir seluruh kawasan yang tercemar polusi udara.

    Beijing juga memaksa pembangkit listrik yang sudah ada untuk mengurangi emisi atau beralih ke bahan bakar gas alam.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesak dilakukan

    Pada 2017 saja, sebanyak 27 tambang batubara di provinsi Shanxi ditutup. Shanxi adalah produsen batubara terbesar di China.

    Pada tahun berikutnya, pada Januari 2018, satu-satunya pembangkit listrik batubara yang tersisa di China akhirnya ditutup.

    Di sisi lain, pemerintah China membatalkan rencana untuk membangun 103 pembangkit listrik baru yang menggunakan batubara.

    Kendati batu bara masih menjadi sumber utama listrik di China, negara itu telah menurunkan sekitar 67,4% keseluruhan produksinya pada 2013 menjadi 56,8% pada 2020, menurut data resmi dari China.

    Untuk mengimbangi dekarbonisasi, pemerintah China menambah pembangkit listrik dari energi terbarukan.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

  • Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    Menghijaukan Jakarta lewat Ruang Terbuka Hijau, Upaya Mengembalikan Kualitas Udara Jakarta

    7cloud.asia – Beberapa bulan terakhir, pencemaran udara di Jakarta menjadi topik hangat di tengah masyarakat.

    Polusi udara membuat kualitas udara Jakarta masuk dalam kategori tidak sehat, salah satunya ditandai dengan langit yang berwarna abu-abu.

    Melihat kondisi polusi udara tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun tak tinggal diam. Berbagai upaya dilakukan untuk memperbaiki kualitas udara Jakarta.

    Mulai dari pengurangan emisi, hingga peningkatan ruang terbuka hijau (RTH). Pemprov DKI Jakarta menargetkan akan menambah 800 ruang terbuka hijau di seluruh wilayah Jakarta.

    Bicara soal ruang terbuka hijau, Jakarta yang memiliki luas 664 kilometer persegi masih punya banyak “pekerjaan rumah” alias PR. 

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan buka 800 ruang terbuka hijau

    Berbeda dengan Jakarta tempo dulu yang hijau dan asri, Jakarta kini telah berubah jadi metropolitan yang penuh gedung pencakar langit.

    Kini, luas RTH di Jakarta hanya 9 persen dari luas wilayah. Padahal, menurut Undang-undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proporsi RTH setidaknya 30 persen dari luas wilayah.

    Ruang terbuka hijau ini terdiri dari 20 persen RTH publik yang disediakan pemerintah dan 10 persen RTH di lahan privat yang dikelola oleh swasta atau masyarakat.

    Pengkampanye Polusi dan Perkotaan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Abdul Ghofar mengatakan ruang terbuka hijau berpotensi mengurangi pencemaran udara di Jakarta.

    Hal ini karena vegetasi di ruang terbuka hijau dapat menyerap polutan dan mengubahny amenjadi oksigen.

    Namun, menurutnya, ruang terbuka hijau ini harus tetap didukung dengan strategi pengurangan emisi dari sumbernya, seperti kendaraan bermotor dan aktivitas industri.

    Baca: taman kota, jadi resep Surabaya atasi polusi udara

    Secara terpisah, pengamat tata kota sekaligus Direktur Eksekutif Pusat Studi Perkotaan Nirwono Joga menambahkan bahwa ruang terbuka hijau juga memiliki ragam fungsi ekologis lain, seperti penyerap air alami atau pengendali banjir, penyejuk iklim mikro, hingga sebagai habitat satwa.

    Tentu saja, penghijauan di Jakarta menjadi hal yang penting dilakukan. Meski agak sedikit terlambat untuk mengimbangi buruknya kualitas udara saat ini, tapi ada banyak hal positif lain yang bisa didapatkan demi mewujudkan masa depan Jakarta yang lebih baik.

    Ada beberapa strategi yang dapat dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk memperluas RTH, salah satunya pengembalian fungsi kawasan.

    Sebab saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa banyak RTH yang sudah terkonversi menjadi kawasan bisnis maupun kawasan permukiman.

    Ini adalah hal yang paling sulit, tapi tentu harus ada penegakan hukum. Untuk wilayah-wilayah lindung atau kawasan RTH yang sudah beralih fungsi, harusnya bisa didorong untuk pengembalian fungsi kawasan.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta galakkan penanaman pohon langka

    Selain pengembalian fungsi kawasan, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau yang ada juga sangat penting.

    Jika dilihat lebih seksama, ruang terbuka hijau yang ada saat ini masih minim pohon dan terlalu banyak beton, sehingga belum cukup memadai untuk menjalankan fungsinya sebagai penyerap air dan polutan.

    Oleh karenanya, dengan menambah vegetasi dan mengurangi betonisasi, ruang terbuka hijau diharapkan dapat lebih baik dalam menjalankan fungsi ekologisnya.

    Sementara itu, strategi perluasan ruang terbuka hijau di Jakarta dapat dilakukan dengan penghijauan di bantaran 13 sungai utama.

    Penghijauan di 13 koridor bantaran rel kereta api, penghijauan di kolong jalan atau jembatan layang, penyediaan taman antarbangunan gedung, pengembangan hutan pantai atau mangrove, hingga pembangunan taman kota baru.

    Kemudian, ruang terbuka hijau berupa taman atap atau rooftop garden dan taman dinding atau vertical garden juga bisa dipertimbangkan sebab memiliki fungsi ekologis, seperti penyerap polutan dan penyejuk iklim mikro.

    Baca: RTH Kalijodo selesai direnovasi, warga diajak turut merawatnya

    Di samping itu, RTH taman atap juga memiliki fungsi sosial bagi penghuni bangunan.

    Namun, perlu dicatat bahwa pembangunan taman atap dan taman dinding tidak menambah ruang terbuka hijau kota secara signifikan karena luasnya yang sangat terbatas. Selain itu, taman tersebut juga tidak dapat membantu menyerap air secara alami.

    Saat ini, Pemprov DKI Jakarta terus berupaya menghijaukan kembali Jakarta guna mencapai target RTH seluas 30 persen.

    Pada 2023, Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta telah membangun taman seluas 67.327 meter persegi di empat wilayah.

    Rinciannya, tiga lokasi dengan total luas 12.319 meter persegi di Jakarta Barat, tujuh lokasi dengan total luas 16.568 meter persegi di Jakarta Timur, 11 lokasi dengan total luas 32.587 meter persegi di Jakarta Selatan, dan dua lokasi dengan total luas 5.853 meter persegi di Jakarta Utara.

    Kemudian, Pemprov DKI Jakarta juga menanam sebanyak total 10.474 pohon di RTH dan jalur hijau.

    Baca: Pemkot Jakarta Timur siapkan 8,5 hektare lahan untuk hutan kota

    Sebagai contoh, pada Agustus 2023, sebanyak 1.000 pohon ditanam di jalur hijau Kali Mookervart Jakarta Barat.

    Terbaru, pada Jumat (15/9/2023), Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono menanam ratusan pohon buah di lahan terbuka di kawasan Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Bagaimana pun, dalam menghijaukan kembali Jakarta, dibutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak.

    Sebab berdasarkan mandat undang-undang, masyarakat dan swasta diamanahi untuk menyediakan RTH privat seluas 10 persen dari target 30 persen luas wilayah.

    Pemprov DKI Jakarta pun telah berkali-kali menggaungkan agar masyarakat dan swasta dapat turut berkontribusi dalam menghijaukan Jakarta.

    Walaupun tidak memiliki ladang, masyarakat Jakarta tetap dapat berkontribusi dalam penghijauan dengan cara lain, seperti menyisihkan sebagian lahan tempat tinggal untuk dijadikan pekarangan atau taman.

    Baca: Mengenal taman Bungkul, salah satu taman terbaik di Asia

    Sementara itu, para pengembang perumahan harus mengalokasikan 30 persen dari luas lahannya untuk dijadikan kawasan hijau, sesuai peraturan yang ada.

    Penyediaan RTH juga dapat dimaksimalkan ketika membangun fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) di area perumahan.

    Selain itu, perluasan RTH oleh pihak swasta juga dapat dilakukan dengan membangun halaman atau taman di area perkantoran atau kawasan industri.

    Swasta juga dapat memanfaatkan program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dalam melakukan upaya-upaya penghijauan.

    Menghijaukan kembali Jakarta memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, namun perlu upaya ekstra.

    Bukan hanya sekadar membangun RTH baru dan menanam pohon, tapi juga butuh perawatan yang berkelanjutan serta kesadaran seluruh lapisan masyarakat agar tidak mengalihfungsikan lahan hijau menjadi tempat yang berpotensi mengancam keberlangsungan lingkungan dan kehidupan.

    Penulis: Suci Nurhaliza diedit Masuki M Astro

     

  • Meski Tak Dipungut Biaya, Cetak Ulang KTP Jakarta Tetap Dianggap Pemborosan

    Meski Tak Dipungut Biaya, Cetak Ulang KTP Jakarta Tetap Dianggap Pemborosan

    7cloud.asia – Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Utara, memastikan  penggantian Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik (e-ktp) menyusul perubahan status Jakarta akan mudah dan praktis.

    Warga hanya diharuskan membawa KTP ke tempat pelayanan di kantor Dukcapil ataupun kantor kelurahan dan kecamatan. Pemkot Jakut memastikan proses penggantian nama tersebut tidak akan dipungut biaya alias gratis.

    “Kalau untuk proses pencetakannya cepat hanya 15 menit dan untuk kebutuhan blankonya sedang disiapkan oleh Kementerian Dalam Negeri,” kata Kepala Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Kasudin Dukcapil) Jakarta Utara Ginanjar dilansir Antaranews.com, Senin (18/9/2023).

    Ginanjar mengatakan pengubahan nama kota di KTP harus dilakukan lantaran tahun depan Jakarta tidak lagi berstatus ibu kota.

    Ginanjar belum bisa memastikan kapan proses pengubah nama kota di KTP akan berlangsung.

    Baca: Ibu kota pindah ke IKN, warga Jakarta kudu ganti KTP

    Hal itu dikarenakan rencana penggantian nama kota masih dibahas di tingkat pemerintah provinsi, pemerintah pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

    “Kita masih menunggu RUU perubahannya yang sekarang sedang di siapkan oleh DPRD,” kata Ginanjar.

    Dia berharap regulasi tersebut bisa rampung sehingga sebanyak 1.373.122 wajib pemegang KTP di Jakarta Utara bisa melakukan perubahan nama kota dengan mudah.

    Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Provinsi DKI Jakarta, Budi Awaludin mengatakan, pihaknya siap melayani perubahan nama kota jika DKI Jakarta sudah berubah menjadi DKJ.

    “Terkait cetak ulang KTP-el, memang sepantasnya saat DKI Jakarta berubah menjadi DKJ tentunya harus juga ada perubahan secara redaksional di dalam KTP bagi warga DKJ,” kata Budi.

    Baca: Ibu kota pindah ke IKN, status Jakarta tetap daerah khusus

    Namun perubahan tersebut akan dilakukan secara bertahap agar berjalan tertib dan menyesuaikan dengan stok blanko yang tersedia setiap harinya.

    Cetak ulang KTP warga Jakarta ini menuai kritik dari Partai Solidaritas Indonesia, karena dinilai sebagai pemborosan.

    “Tidak perlu cetak ulang karena akan menghabiskan anggaran. Ada lebih dari 11 juta orang di Jakarta, berapa dana yang dihabiskan? Ini bukanlah hal yang prioritas dilakukan,” kata Sekretaris Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta William A Sarana dalam keterangannya, dikutip Selasa (19/9/2023).

    Selain pemborosan, hal itu juga akan menyulitkan dan merepotkan warga di DKI Jakarta untuk kemudian berbondong-bondong mengurusnya di kelurahan.

    “Jika cetak ulang, akan merepotkan warga Jakarta ke kelurahan. Tentunya, kelurahan akan kesulitan bahkan kewalahan dalam melayani warga yang membludak hanya untuk sekadar mengganti nama DKI Jakarta di KTP-el,” tutur dia.

    Baca: Sejarah Jakarta dari Jayakarta menjadi Batavia lalu jadi ibu kota negara

    Sebagai alternatif, menurut William, perubahan nama DKI menjadi DKJ lebih baik dilakukan dalam database saja. Tidak perlu sampai perubahan fisik dalam KTP-el, sehingga akan lebih efektif dan efisien.

    “Saya menyarankan agar database-nya saja diubah, fisik KTP-el tidak perlu diubah. Untuk pemilik KTP-el baru saja mungkin yang perlu diubah fisik KTP-nya. Pemilik KTP-el pertama kali saja untuk penyesuaian nama Jakarta menjadi DKJ,” ujar dia.

     

     

     

  • Kondisi Udara Jakarta Rabu Malam Tidak Sehat

    Kondisi Udara Jakarta Rabu Malam Tidak Sehat

    7cloud.asia – Kondisi udara di Jakarta pada Rabu (20/09/2023) masih tidak sehat bagi kelompok sensitif. Dilihat dari situs IQAir pada pukul 20.20 WIB, Jakarta berada di posisi ke delapan dengan indeks kualitas udara 102.

    Peringkat ini berada di bawah kota Lahore, Pakistan dengan indeks kualitas udara berada pada angka 104 dengan status yang sama dengan Jakarta.

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan PM 2,5 di Jakarta saat ini 7.2 kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO. Posisi pertama indeks kualitas udara terburuk adalah kota Kuching, Malaysia IQAir 157.

    Humas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Yogi Ikhwan menjelaskan dengan kualitas udara seperti ini setiap orang masih dapat beraktivitas di luar tanpa masker.

    Tetapi untuk kelompok sensitif diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar serta tetap menggunakan masker saat di luar ruangan.  

    “Artinya, tingkat kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika,” ungkap Yogi.

    Selanjutnya Yogi menjelaskan Pemprov DKI Jakarta telah melakukan berbagai usaha untuk memperbaiki kualitas udara di Jakarta.

    Diantaranya melakukan razia emisi yang harus memenuhi baku mutu pada emisi bergerak.

    Pemprov DKI Jakarta juga menyediakan tempat pelaksanaan uji emisi di 333 bengkel untuk kendaraan roda empat dan 107 bengkel untuk kendaraan roda dua.

    Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga melakukan penertiban kepada industri yang tidak melaksanakan perawatan dan pengelolaan pada cerobong untuk emisi tidak bergerak.

    Berdasarkan data Satgas Pengendalian Pencemaran Udara DKI Jakarta per 15 September 2023 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan maupun DLH Provinsi DKI Jakarta telah menertibkan enam perusahaan stockpile batu bara.

    Selain itu, tiga perusahaan juga telah dilakukan legal sampling pengukuran emisi cerobong serta dilakukan penyegelan karena belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Upaya lain yang dilakukan untuk mengurangi polusi udara adalah melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) dengan melakukan hujan buatan.

    Pemprov DKI Jakarta juga mengimbau gedung-gedung tinggi di Jakarta memasang pompa air bertekanan tinggi (water mist generator).

    Penyiraman jalan-jalan protokol juga masih dilakukan sejak pertengahan Agustus lalu. Hingga kini sudah 215 lokasi yang disiram, melibatkan 270 mobil dan personel sekitar 800 orang.

    Tak hanya itu, Pemprov DKI juga masih menerapkan kebijakan 50 persen WFH bagi pegawai di lingkungan kerja Pemprov DKI Jakarta selama dua bulan ini.

    “Kebijakan ini diterapkan dalam menyikapi masalah polusi udara di Jakarta,” kata Yogi.

    Repoter: Nurakhmayani

     

     

     

  • Lima Pencemar yang Bikin Polusi Udara di Jakarta Membahayakan Kesehatan

    Lima Pencemar yang Bikin Polusi Udara di Jakarta Membahayakan Kesehatan

    7cloud.asia – Polusi udara di Jakarta tidak bisa dianggap enteng, Dalam berapa pekan terakhir, kualitas udara di Jakarta begitu buruk.

    Pasalnya, polusi udara di Jakarta berkontribusi terhadap 10 ribu kematian setiap tahunnya.

    Selain itu 50 ribu kasus rawat inap karena penyakit pernapasan dan kardiovaskular, 7 ribu masalah kesehatan serius terhadap anak-anak juga tak lepas dari akibat polusi udara di Jakarta.

    Bicara tentang polusi udara di Jakarta, pencemar di udara tidak hanya terlihat sebagai kabut yang memengaruhi jarak pandang, melainkan terdapat zat kimia berbahaya tidak kasat mata.

    Pencemar jenis inilah yang lebih mengkhawatirkan dan bisa merusak kesehatan.

    Baca:  Menghijaukan Jakarta untuk perbaiki kualitas udara

    Berikut adalah lima pencemar udara utama (criteria air pollutant) yang berpengaruh terhadap kesehatan seperti ditulis , Assistant Professor of Environmental Health, Universitas Andalas seperti telah diterbitkan di The Conversation

    1. Partikulat
    Ukuran partikulat beragam dari ukuran paling kasar hingga paling halus yaitu PM10 (≤ 10 mikron), PM2,5 (≤ 2,5 mikron), dan ultra fine particulate (≤ 0,1 mikron).

    Sebagai perbandingan, diameter partikel PM10 adalah 1/7 diameter rata-rata rambut manusia atau kurang. Saat terhirup, partikulat yang kasar akan tetap berada di saluran pernapasan bagian atas.

    Namun semakin halus ukurannya, partikulat akan bertahan dalam permukaan alveoli (kantung halus di paru-paru tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida) dan menyebabkan kerusakan fungsi paru.

    Partikulat dapat membawa alergen ke dalam paru-paru dan menyebabkan respons berlebihan saluran napas. Selain itu, partikulat yang sangat halus dapat memasuki saluran peredaran darah dan meningkatkan berbagai risiko kesehatan terutama penyakit kardiovaskular.

    Partikulat terutama berasal dari kendaraan bermotor, pembangkit listrik, fasilitas industri, pembakaran sisa panen, dan kebakaran hutan.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    2. Karbon Monoksida (CO)
    CO adalah gas beracun dan mematikan yang tidak berbau serta tidak berasa. Gas ini berasal dari pembakaran tidak sempurna dari bahan bakar fosil.

    CO yang terhirup langsung masuk ke dalam peredaran darah dan mengikat oksigen lebih kuat daripada hemoglobin. Ini mengakibatkan pasokan oksigen dalam tubuh berkurang sehingga menyebabkan penurunan fungsi vital.

    Dalam waktu yang singkat, paparan CO dalam kadar tertentu dapat menyebabkan sakit kepala hingga kematian mendadak.

     

    3. Ozon (O3)
    Ozon yang termasuk dalan pencemar udara kriteria adalah ozon trofosferik. Ini adalah ozon yang berada antara 8 – 15 kilometer di atas permukaan tanah.

    Ozon merupakan polutan sekunder yang terbentuk karena adanya reaksi oksida nitrogen (NOx) dan senyawa organik yang mudah menguap/volatil (VOC) dengan sinar matahari.

    Sebagai polutan yang “tidak terlihat”, ozon telah terbukti memiliki bahaya kesehatan yang signifikan.

    Ozon merupakan oksidan yang kuat karena merusak sel dan cairan pelapis pada saluran napas, menyebabkan otot-otot di saluran udara menyempit, sehingga memerangkap udara di alveoli.

    Efek buruk yang dirasakan adalah kesulitan bernapas hingga pemburukan fungsi paru-paru.

    4. Nitrogen Dioksida (NO2)
    NO2 mayoritas terbentuk dari kegiatan pembakaran dan terlihat seperti kabut berwarna coklat kemerahan.

    NO2 dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan peradangan pada saluran pernapasan. Hal ini menyebabkan penurunan kekebalan yang menyebabkan organ pernapasan rentan mengalami infeksi.

    Baca: Jakarta masuk kota terpolusi di dunia

    5. Sulfur Dioksida (SO2)
     Gas ini berbau tapi tidak berwarna. SO2 terbentuk dari pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur.

    Sulfur berasal dari pembakaran bahan bakar fosil (batu bara dan minyak bumi) dan peleburan bijih mineral (aluminium, tembaga, seng, timbal, dan besi) yang mengandung belerang.

    Gas ini dapat bereaksi dengan senyawa lain di atmosfer untuk membentuk partikel halus yang mengurangi jarak pandang (kabut). SO2 dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan (selaput lendir hidung, tenggorokan dan saluran pernapasan).

    Risiko yang lebih berbahaya terjadi jika SO2 berubah menjadi polutan sekunder yang lebih berbahaya karena dapat menghancurkan jaringan pada organ tubuh vital serta bersifat karsinogenik (penyebab kanker).

    Angka kematian akibat SO2 meningkat sebesar 1,4% terutama pada suhu 22,8–29,4°C.

    Baca: Lokasi CFD di Jakarta

    Selain pencemar udara kriteria, kita juga mengenal pencemar udara berbahaya (hazardous air pollutant) seperti Volatile Organic Compounds (VOC), logam berat, dan dioksin.

    Zat ini dapat memberikan efek karsinogenik dan kelainan fungsi organ. Sumber pencemar udara berbahaya terutama berasal dari pembakaran limbah beracun dan berbahaya (termasuk plastik dan limbah medis), merokok, penggunaan bahan-bahan mengandung logam, dan kebakaran tempat pembuangan sampah).

    Cepatnya perkembangan teknologi dan industri yang berpotensi menghasilkan banyaknya zat berbahaya baru perlu disertai dengan kajian risiko kesehatan yang komprehensif.

    Mengapa kualitas udara semakin buruk di tengah isu pemanasan global?
    Isu perubahan iklim dan pemanasan global berdampak pada skala lokal dan regional. Masalah itu berhubungan dengan kualitas udara di suatu wilayah.

    Perubahan cuaca ekstrem seperti kemarau panjang, akan meningkatkan kejadian kebakaran hutan dan pembakaran biomassa (material dari tumbuhan).

    Baca: Atasi polusi udara, pemerinath dorong transisi ke mobil listrik

    Berkurangnya curah hujan, meningkatnya kekeruhan tanah, dan peningkatan kecepatan angin permukaan akan menyebabkan peningkatan aktivitas partikulat di udara.

    Peningkatan suhu diprediksi akan meningkatkan konsentrasi ozon di Amerika Utara, Eropa dan Asia terutama di wilayah yang berpolusi.

    Selain itu, suhu udara yang panas akan menyebabkan musim semi yang lebih lama. Ini berhubungan dengan lebih banyak penyakit terkait alergi, seperti asma karena banyaknya serbuk sari di udara.

    Perlunya pengelolaan kualitas udara yang komprehensif
    Pada dasarnya, pencemaran di lingkungan terdiri dari sumber, media, dan reseptor. Untuk sumber pencemar, perlu adanya inventarisasi emisi untuk mengetahui sumber-sumber pencemaran udara beserta konsentrasinya.

    Di udara ambien sebagai media perantara, titik monitoring pencemaran udara yang lebih representatif dan pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk melihat kualitas udara yang diterima masyarakat.

    Untuk reseptor yaitu manusia, studi toksikologi dan epidemiologi diperlukan untuk mengetahui risiko dan dampak kesehatan yang muncul dari zat zat pencemar di udara.

    Oleh karena itu, lima pencemar berbahaya di udara tersebut harus diwaspadai keberadaannya karena dapat secara signifikan memberikan kerugian bagi kesehatan.

    Terutama pada penyakit pernapasan dan kardiovaskular pada kelompok rentan yang berada pada area-area yang menjadi sumber polusi udara.

  • Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    Harga Rumah di Kota Besar Makin Mahal, Haruskah Kita Punya Hunian Sendiri?

    7cloud.asia – Asteria, 35 tahun, yang hidup bersama orang tuanya di bilangan Jakarta Selatan, berharap bisa memiliki hunian atau rumah sendiri.

    “Buat gw, punya rumah sendiri itu bentuk pembuktian diri,” ujar Asteria yang lahir dan besar di Jakarta.

    Namun, posisinya sebagai sandwich generation dan orang tua tunggal yang harus patungan membiayai pengeluaran di rumah orang tua dan menyekolahkan anak menyulitkannya untuk bisa menyisihkan tabungan demi bisa membayarkan uang muka.

    Apalagi, keluarganya menilai bahwa dengan statusnya sebagai orang tua tunggal, akan lebih baik tinggal bersama di rumah orang tua untuk menghindari kasak-kusuk tetangga.

    Selain itu ada isu utama di luar itu, yakni mahalnya harga rumah di Jakarta. Isu soal mahalnya harga rumah atau properti di Jakarta memang bolak-balik ramai diperbincangkan warganet.

    Baca: Gerakan rumah mungil sedang ngetrend, ini manfaatnya untuk lingkungan

    Di kota-kota besar seperti Jakarta dan wilayah satelitnya, harga rumah tapak dibanderol ratusan juta bahkan miliaran–-kadang dengan ukuran terbilang kecil dan lokasi yang jauh dari daerah perkantoran.

    Belum lagi, bagi mereka yang menggunakan kredit pemilikan rumah (KPR), seringkali butuh puluhan tahun untuk mengangsur cicilan dan bunganya.

    Saat ini, terdapat 12,71 juta backlog perumahan di Indonesia. Sementara, harga properti terus mengalami kenaikan tiap tahunnya–pada 2022 kenaikannya tercatat sebesar hampir 4% dari tahun sebelumnya.

    Di tengah kondisi seperti ini, haruskah kita memaksakan diri membeli rumah?

    The Conversation Indonesia berbicara dengan dua orang pakar mengenai perkara ini. Keduanya menjawab bahwa keputusan untuk memiliki rumah adalah pilihan masing-masing individu, meski mempunyai hunian sendiri tetaplah pilihan terbaik.

    Baca: Milenial makin sulit miliki hunian sendiri

    Adinda Tenriangke Mungkar, Direktur Utama The Indonesian Institute, berkata pada akhirnya keputusan pembelian rumah kembali ke intensi masing-masing.

    Apalagi, ada yang berpendapat bahwa membeli rumah adalah indikator keberhasilan dan lebih bijak daripada menghabiskan uang untuk barang-barang konsumsi. Tentunya, tak semua individu sepakat dengan persepsi ini.

    “Menurut saya, buat beberapa orang bisa jadi itu adalah keharusan, tapi bisa jadi bukan keharusan juga buat yang lain karena kondisinya,” ujar Adinda.

    Kondisi Asteria di atas misalnya, bisa jadi ilustrasi bagaimana memiliki hunian sendiri tak harus jadi prioritas utama.

    Bagi Adinda, membeli atau tak membeli rumah harus mempertimbangkan cost (beban) dan benefit (keuntungan) masing-masing–termasuk lingkungan, fasilitas umum maupun fasilitas pendidikan yang baik.

    Baca: Alternatif pembiayaan rumah untuk kelompok berpendapatan rendah

    Mereka yang memiliki gaya hidup nomaden, misalnya, bisa jadi akan lebih nyaman mengontrak hunian.

    Namun, menurutnya, memiliki rumah tetaplah menjadi daya tarik tersendiri. Selain memberikan privasi dan keleluasaan untuk mendesain, rumah adalah aset yang harganya tak mengalami penyusutan.

    Membeli rumah mengasah literasi keuangan untuk menabung dan mengalokasikan pengeluaran untuk cicilan, kebutuhan, dan aktivitas bersenang-senang.

    Ia menambahkan bahwa selalu ada konsekuensi dan trade-off dari pembelian rumah yang mesti dipahami pembeli sebelum transaksi–-entah itu beban dan bunga cicilan jangka panjang, jarak, dan kompromi–kompromi lain yang mesti dipertimbangkan sebelum mengambil hunian.

    Senada, Wahyu Fahrul Ridho, dosen manajemen keuangan dari UPN Veteran Jawa Timur, menambahkan bahwa dalam situasi saat harga rumah makin mahal ini, keputusan untuk membeli rumah harus mempertimbangkan banyak faktor yang akan sangat berbeda setiap orang sesuai dengan profil resiko, keuangan dan aspirasi individu.

    Namun, ia menekankan pentingnya rumah sebagai proteksi hari tua.

    Baca: Memulai konsep slow living dari rumah sendiri

    Saat kita pensiun, ujarnya, penghasilan kita akan berkurang atau bahkan hilang sepenuhnya. Sehingga akan ada risiko beban keuangan yang besar jika kita masih harus menyewa tempat tinggal pada saat pensiun.

    “Rumah bisa juga diwariskan untuk mengurangi beban anak kita di masa depan,” terang Wahyu.

    Untuk bisa matang membeli rumah, Wahyu pun mengedepankan pentingnya perencanaan keuangan perlu dilakukan sebagai langkah awal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berinvestasi di aset keuangan (saham, reksadana, obligasi, dan lain-lain).

    Alternatif lain
    Pilihan juga merujuk pada bagaimana luasnya produk yang disediakan pasar. Artinya, mereka yang ingin membeli maupun menyewa sebetulnya punya beragam opsi yang bisa disesuaikan dengan kantong masing-masing.

    Menurut Wahyu, alternatif yang bisa diambil pekerja muda adalah dengan sewa tempat tinggal seperti kos, apartemen dan mengontrak yang lokasinya dekat dengan tempat kerja.

    Selain itu, jika belum menikah juga bisa mempertimbangkan untuk co-living sehingga menghemat biaya.

    Sementara menurut Adinda, dinamika pasar properti sebetulnya cukup sigap menjawab kebutuhan konsumen.

    Baca: BPS mencatat 40 persen warga tinggal di rumah tidak layak

    Ia mencontohkan banyaknya pengembang yang membangun kompleks perumahan di daerah satelit yang dekat dengan akses tol dengan harga yang jauh lebih murah dari di tengah kota.

    Atau, hunian lengkap dengan perabot yang bisa disewa dalam jangka panjang.

    Uang muka yang tinggi kerap jadi penghambat yang menyurutkan niatan membeli rumah. Terkait hal ini, Adinda memaparkan bagaimana banyak opsi uang muka yang sebenarnya ditawarkan pasar.

    “Misalnya model bekerja sama dengan bank atau langsung ke pengembangnya, ada tawaran,” jelasnya.

    Tak hanya itu, di tengah tren bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan hybrid (bergantian antara bekerja dari rumah atau kantor), membeli rumah di kota-kota kecil yang harganya lebih ramah di kantong sebetulnya bisa jadi alternatif.

    Isu ini sebetulnya sempat diangkat oleh seorang warganet yang membangun rumah di sebuah kota di Jawa Tengah, meski banyak menuai kritik pedas terkait gentrifikasi.

    Baca: Salah kaprah pembangunan hunian berkonsep TOD di Indonesia

    Ini merujuk pada perpindahan warga dengan kelas pendapatan lebih tinggi ke wilayah yang standar hidupnya lebih rendah dan berpotensi menimbulkan kenaikan harga-harga di atas pemasukan warga lokal.

    Meski enggan mengomentari isu gentrifikasi, Wahyu berpendapat bahwa dari perspektif bisnis dan ekonomi, kepadatan penduduk yang meningkat akan menarik minat pengembang dan investor untuk mengembangkan daerah tersebut dan meningkatkan ekonomi secara lokal. Catatannya, pemerintah harus hadir sebagai regulator agar tak merugikan warga setempat.

    Kota kecil dapat menjadi solusi dengan tren gaya WFH dan hybrid working saat ini.

    “Harga yang lebih terjangkau dibanding kota besar dan kualitas hidup yang lebih baik dari tingkat kualitas polusi dan kepadatan penduduk bisa menjadi keuntungan tersendiri,” ujarnya.

    Adinda pun sepakat dengan pendapat ini. Asal, perpindahan yang dilakukan tidak melanggar hukum dan menghormati warga lokal.

    “Kita bagaimanapun kan makhluk sosial. Kalau ada pendatang dari luar, ya ada permisi-permisinya,” ujar Adinda.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih ramah lingkungan

    Harga tinggi, perlukah pemerintah turun tangan?
    Pemerintah sebenarnya bukannya tak turun tangan. Kementerian Pembangunan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), misalnya mengalokasikan Rp 34 triliun untuk penyediaan rumah subsidi tahun ini.

    Wahyu, misalnya, menyoroti bagaimana dari segi pembiayaan pemerintah telah melakukan berbagai inisiatif untuk mengurangi backlog dengan skema pendanaan seperti Fasilitas Likuiditas Perumahan (FLPP).

    Pemerintah jud memberikan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM), dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT), dan KPR Tabungan Perumahan Rakyat.

    “Namun inisiatif ini hanya menyasar masyarakat berpenghasilan rendah, sementara backlog masyarakat kelas menengah juga perlu untuk diatasi,” ujar Wahyu.

    Sementara, Adinda berpendapat bahwa pemerintah tak sebaiknya turun tangan mengatur harga, mengingat dinamika pasar yang sebetulnya sudah cukup baik dalam membaca sinyal. Apalagi, pemerintah punya reputasi yang buruk perihal atur-mengatur harga.

    Yang perlu dilakukan pemerintah, menurutnya, adalah memastikan penegakan hukum yang kuat.

    “Yang penting, pemerintah memastikan bahwa hak kepemilikan itu dihargai jangan sampai ada proses transaksi yang tidak jelas. Misalnya, tanahnya belum diurus, waktu pembebasan lahan masih bermasalah, lebih baik seperti itu,” ujarnya.

    Baca: Kota di dunia yang mengutamakan pejalan kaki

    Baik Adinda dan Wahyu juga menekankan bahwa pemerintah lebih baik memastikan transportasi umum terintegrasi dan mengembangkan daerah satelit agar populasi tak menumpuk di kota-kota besar.

    Nah, yang terpenting, kita sebagai konsumen juga mesti peka agar tak ikut melambungkan harga.

    Misalnya, Wahyu menghimbau untuk membeli rumah untuk investasi (terutama spekulasi) secara makro dapat menaikkan harga rumah, sehingga makin membuat rumah menjadi tak terbeli bagi yang membutuhkan tempat tinggal.

    Atau, menurut Adinda, jika mendapatkan rumah susun atau hunian bersubsidi, ada baiknya memang ditempati langsung dan bukan disewakan agar tak merusak harga pasaran.

    Penulis: , Business + Economy Editor The Conversation

  • Akhir Pekan, Jakarta Masuk 3 Besar Kota Terpolusi Dunia

    Akhir Pekan, Jakarta Masuk 3 Besar Kota Terpolusi Dunia

    7cloud.asia – Jakarta masih tercatat sebagai ibukota dengan polusi udara terburuk di dunia. Kualitas udara sebagai imbas polusi udara di Jakarta belum kunjung membaik.

    Dipantau dari situs IQAir pada Sabtu (30/9/2023) pukul 07.40 WIB, polusi udara di Jakarta menempati posisi ketiga terburuk dunia.

    Dengan indeks kualitas udara 160. Ini artinya polusi udara di Jakarta masih tinggi.

    Baca: Butuh langkah komprehensif atasi polusi udara di Indonesia

    Di situs tersebut terpantau di Jakarta nilai konsentrasi polutan PM 2,5 di Jakarta saat ini 14.5 kali kali nilai panduan kualitas udara tahunan WHO.

    Sementara posisi kedua ditempati oleh Shanghai, China dengan indeks kualitas udara 160 dan urutan pertama adalah Delhi, India dengan indeks kualitas udara 164.

    Dengan kualitas udara seperti itu, IQAir menyarankan agar membatasi aktivitas di luar ruangan. Apalagi untuk kelompok usia rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

    Baca: Upaya Pemprov hijaukan kembali Jakarta

    Jika memang harus melakukan aktivitas di luar ruangan, masyarakat diimbau mengenakan masker saat berada di luar ruangan.

    Selain itu, jika memiliki penyaring udara maka dapat menyalakan penyaring udara agar udara dapat jernih kembali.

    Masyarakat juga dihimbau untuk menutup jendela guna menghindari polusi udara dari luar.

    Baca: 4 unit PLTU Suralaya dimatikan, ini dampaknya bagi lingkungan

    Sementara itu, Guru Besar Bidang Pulmonologi dan Respirasi Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp. P(K), FISR, FAPSR menyebut polusi udara di Jakarta ini mengancam kesehatan.

    Karena itu. ia mengajak masyarakat untuk mengenakan masker kain yang dilapisi filter untuk particulate matter (PM) 2.5 saat polusi udara sangat tinggi seperti sekarang.

    “Ini bisa jadi solusi murah, yakni masker kain ditambah filter untuk PM 2.5. Ini banyak di toko daring jual filter untuk PM 2.5 harganya Rp10 ribu,” ujar Agus.

    Baca: PLTU batubara dituding sebagai sumber polusi udara di Jakarta

    Cara ini disebut sefektif menyaring 95 – 99 persen partikulat. Selain itu, masyarakat juga bisa menggunakan N95, KF94 dan masker bedah.

    Reporter: Nurakhmayani

  • BKT, Pengendali Banjir yang Berubah Menjadi Pusat Kegiatan Masyarakat di Jakarta Timur

    BKT, Pengendali Banjir yang Berubah Menjadi Pusat Kegiatan Masyarakat di Jakarta Timur

    7cloud.asia – Matahari belum tinggi saat kami tiba di Banjir Kanal Timur atau BKT yang terletak di Duren Sawit, Jakarta Timur.

    Desir angin sejuk yang berhembus semilir diselingi kicauan burung membuat kami sangat menikmati pagi di BKT yang dibangun untuk mengendalikan banjir di Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

    Sekumpulan kupu-kupu terbang kesana-kemari, seakan tak mau tertinggal dalam menyapa indahnya suasana di sepanjang BKT yang kini menjadi tujuan favorit warga Jakarta. 

    Deretan ratusan pohon hijau yang menaungi sepanjang tepi BKT membuahkan suasana yang asri dengan udara yang segar sehingga menjadi pilihan warga Jakarta untuk mengisi hari liburnya untuk jalan santai, lari atau bersepeda.

    Namun. suasana di kawasan pintu air sedikit berbeda. Suara hingar bingar, riuh dengan atraksi ondel-ondel khas betawi bercampur dengan musik kekinian yang diputar komunitas senam aerobik.

    Baca: Setelah BKT, kini ada sodetan kali Ciliwung untuk kendalikan banjir Jakarta

    Pedagang dan warga berbaur di sana. Bagi para ibu dan remaja di Jakarta, ke BKT artinya adalah olahraga sambil belanja dan menikmati kuliner. Banyak jajanan yang dijual di sini.

    Segala macam sayuran, perkakas dapur, barang elektronik, sepatu, tas, baju dan kemeja, topi hingga pakaian dalam, tersedia semua di BKT saat hari libur. 

    Macam-macam jajanan kuliner, seperti gudeg, ketoprak, bubur ayam, bakso, dimsum, soto betawi, cilok, cilung, es potong, es doger dan jajanan lainnya juga tersedia. 

    Warga juga menjadikan BKT sebagai tempat piknik bersama keluarga. Seraya menikmati pemandangan sungai BKT yang mengalir tenang sembari menikmati jajanan kuliner di sekitarnya.

    Sejumlah balita memilih naik odong-odong, mengendarai kuda menyusuri ruas jalan BKT didampingi sang kusir, bermain mandi bola, naik komidi putar atau memancing ikan di kolam yang terbuat dari karet dan melakukan permainan lainnya.

     

    Baca: Pemkot Jakarta Timur siapkan 8,5 hektare lahan untuk hutan kota

    BKT dibangun sejak awal tahun 2003 oleh Pemprov DKI bersama Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, semula bertujuan untuk mengatasi bencana banjir di Jakarta bagian timur dan sebagian wilayah Jakarta Utara.

    Pencanangan proyek pembangunan BKT dilakukan oleh mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di bulan Juli 2003 dan menelan biaya sekitar Rp 2,1 triliun.

    Lahan BKT membentang sepanjang 2 kilometer dari muara ke hulu, dengan
    pembangunan kanal sekitar 200 meter dan muara sekitar 300 meter dengan kedalaman 4 meter.

    Saluran BKT ini memotong Cipinang, Kali Sunter, Kali Buaran, Kali Jatikramat, dan Kali Cakung di perbatasan timur wilayah DKI Jakarta dan dialirkan ke utara.

    Dalam perjalanannya, BKT menjadi tempat favorit bagi banyak orang, lantaran bisa menjadi sarana santai, pelepas lelah dan penat setelah beberapa hari bekerja.

    Baca: Mengapa Pemprov Jakarta lebih memilih pengelolaan sampah RDF ketimbang ITF

    Tak urung beberapa kegiatan penting juga pernah digelar di tempat ini. Dari mulai pagelaran seni, bazaar, gerak jalan bersama warga.

    Minggu lalu BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menggelar edukasi tentang cara pemakaian pelampung, dayung, perahu serta memberikan konseling pada masyarakat yang berkunjung yang akan rutin dilakukan tiap bulan.

    “Kita di sini melakukan edukasi pada masyarakat tentang cara memakai pelampung, dayung, perahu serta memberikan layanan dukungan petugas sosial pada mayarakat dengan melibatkan petugas pemadam kebakaran (Damkar), PMI, satpol PP. Semuanya gratis dan tidak dipungut biaya,” kata Wahyudi, salah satu pegawai BNPB pada ruangkota.

    Selain itu, masyarakat juga diajak menyusuri sekitar sungai BKT dengan perahu karet menggunakan pelampung dada dan dayung didampingi beberapa petugas, 

    Untuk anak-anak, BNPB juga bekerjasama dengan petugas Damkar menyediakan
    flying fox dengan tali yang dibentang dari tangga mobil Damkar dan berakhir di ujung jalan jembatan pintu air BKT.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta akan tambah 800 ruang terbuka hijau

    Sarana bermain untuk mengenalkan cara menghadapi bencana ini menjadi hiburan tersendiri dan langsung diserbu oleh puluhan anak yang penasaran dan antusias ingin mencoba bermain flying fox. 

    Bocah-bocah tersebut dengan sabar mengantri di bawah matahari pagi yang makin terik.

    Mereka pun berteriak girang saat meluncur di udara dengan tali dan akhirnya mendarat dengan selamat dibantu oleh puluhan petugas Damkar dan BNPB yang menolong mereka.
    .