7cloud.asia – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada atau BEM UGM, Tiyo Ardianto mengatakan bahwa kritik tajam terhadap program MBG merupakan sikap resmi organisasi yang dipimpinnya
Hal itu diungkapkan Tiyo saat menjadi narasumber dalam Podcast Madilog Forum Keadilan TV. Menurut Tiyo, BEM UGM menilai kebijakan tersebut menyisakan persoalan serius dalam penentuan prioritas negara.
“Ini adalah sikap lembaga yang saya di sana menjadi juru bicaranya… Ini sikap organisasi. Ini kritik kami, BEM UGM kepada pemerintah Republik Indonesia hari ini, kepada rezim Prabowo-Gibran,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Tiyo mengatakan, sikap penuh risiko ini dia dan kawan-kawannya ambil karena rakyat butuh juru bicara yang berani menyuarakan penderitaan mereka.
Tiyo juga mengatakan, kritik ini disampaikan bukan karena mahasiswa membenci Presiden Prabowo Subianto. Kritik ini adalah upaya mahasiswa untuk meluruskan arah pembangunan bangsa yang dinilai tidak sesuai dengan amant konstitusi.
Dia mengajak anak muda dan mahasiswa untuk tidak takut dan berani menyuarakan kebenaran.
Baca: Teror terhadap mahasiswa pengkritik MBG adalah serangan terhadap kebebasan akademik
Sebelum pernyataan ini menguat di ruang publik, BEM UGM diketahui telah surat kepada UNICEF. Langkah ini dimaksudkan untuk meminta perhatian terhadap kondisi pemenuhan hak-hak anak di Indonesia.
Namun, upaya tersebut justru memicu reaksi balik yang tidak diharapkan. BEM UGM mengungkap adanya teror kepada Tiyo Ardianto dan keluarganya setelah surat itu beredar, sehingga polemik pun semakin melebar.
Perhatian dan kritik BEM UGM kian menguat setelah kejadian tragis yang menimpa siswa SD di Nusa Tenggara Timur. Dia mana anak berusia 10 tahun mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000.
BEM UGM menilai kejadian ini sebagai cermin ketimpangan prioritas anggaran negara.
“Kita semua berduka karena ada seorang anak yang memutuskan bunuh diri hanya gara-gara gagal membeli buku dan pena seharga Rp10.000,” ujar Tiyo Ardianto dalam wawancara tersebut.
Dalam pemaparannya, Tiyo memberi perhatian khusus pada besarnya dana yang digelontorkan pemerintah di berbagai sektor, termasuk program MBG. Ia menilai terdapat kejanggalan dalam penentuan prioritas belanja negara.
Baca: Program MBG jadi isu yang paling banyak kena swasensor
“Ada ironi prioritas anggaran yang luar biasa di sini. Ketika seorang anak harus memutuskan bunuh diri hanya gara-gara uang Rp10.000, tetapi pemerintah melakukan penghamburan uang luar biasa di berbagai sektor yang kita ragukan apakah itu benar-benar untuk rakyat,” tegasnya.
Menurut perhitungannya, pemerintah mengalokasikan sekitar Rp1,2 triliun setiap hari atau kurang lebih Rp335 triliun per tahun untuk program makan bergizi gratis.
BEM UGM juga menaruh perhatian serius pada postur anggaran pendidikan tahun 2026 yang disebut mencapai Rp755 triliun.
Walau angka tersebut diklaim Presiden Prabowo Subianto sebagai yang terbesar sepanjang sejarah, BEM UGM menilai rincian di dalamnya justru menimbulkan pertanyaan baru.
“Kalau kita detailkan rinciannya, kita akan temukan ternyata Rp223 triliun dari Rp757 triliun lebih dari 30 persen itu tidak untuk pendidikan, tapi untuk Badan Gizi Nasional, untuk program makan bergizi gratis. Ini melanggar konstitusi,” kata Tiyo.
Baca: Masyarakat gagas petisi untuk hentikan program MBG
Ia merujuk pada amanat Undang-Undang Dasar yang mewajibkan minimal 20 persen APBN dan APBD dialokasikan untuk sektor pendidikan.
Dalam pandangan BEM UGM, pengalihan sebagian anggaran pendidikan untuk MBG berpotensi bertentangan dengan prinsip mandatory spending tersebut.
Di bagian akhir pernyataannya, Tiyo menekankan bahwa akar persoalan Indonesia saat ini terletak pada masih terbatasnya akses pendidikan bagi anak-anak.
Menurutnya, arah kebijakan negara seharusnya lebih menitikberatkan pada perluasan akses dan peningkatan kualitas pendidikan, bukan semata memastikan pemenuhan kebutuhan pangan.
“Sejak hari pertama yang seharusnya dipikirkan oleh Presiden Prabowo adalah bukan bagaimana cara anak-anak itu kenyang, tapi bagaimana anak-anak itu lebih mudah mengakses pendidikan,” pungkasnya.








