7cloud.asia – Pajak karbon makin sering didengungkan seiring dengan semakin nyatanya dampak yang dirasakan manusia akibat perubahan iklim.
Meningkatnya dampak perubahan iklim dan pengakuan bahwa penetapan harga karbon sangat penting untuk mencapai dekarbonisasi secara global, jadi momentum untuk menerapkan pajak karbon secara luas di masa yang akan datang.
Meski mulai membuka bursa karbon, Indonesia saat ini masih mengkaji penerapan pajak karbon ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut penerapan pajak karbon perlu kajian yang matang dan persiapan yang hati-hati.
Lantas apa sebenarnya pajak karbon dan bagaimana seluk beluk pajak karbon dalam menahan laju perubahan iklim? Bagaimana pajak karbon dapat menekan emisi dan menstabilkan suhu global sehingga terwujud lingkungan yang adil dan berkelanjutan?
Ruangkota.com akan menurunkan tulisan berseri soal aspek-aspek utama pajak karbon, termasuk tujuan, desain, efektivitas, penerimaan, dan penerapannya di berbagai negara.
Baca: Pajak karbon akan dilakukan secara bertahap dan hati-hati
Dilansir earth.org, pajak karbon adalah mekanisme penerapan biaya atau pajak sejumlah tertentu oleh pemerintah atas emisi karbon dan gas rumah kaca yang dihasilkan pembakaran yang menyebabkan pemanasan global.
Pembakaran ini meliputi minyak, gas, dan batu bara. Pajak karbon diukur per ton emisi setara karbon dioksida yang dilepaskan dan harus dibayar oleh entitas yang menghasilkan emisi karbon.
Dengan menetapkan biaya yang berbanding lurus dengan jumlah emisi, pajak karbon akan memberikan insentif nyata bagi rumah tangga, dunia usaha, dan entitas lain untuk mencari alternatif emisi yang lebih rendah.
Pajak karbon juga akan mendorong pelaku usaha untuk melakukan efisiensi energi guna menghindari pembayaran pajak karbon yang lebih tinggi.
Pajak karbon bertujuan untuk mengungkap dan memasukkan biaya ekonomi dan sosial dari polusi karbon yang ditimbulkan oleh berbagai aktivitas dan penggunaan bahan bakar ke dalam harga pasarnya.
Baca: Mengapa PLTU batubara harus segera diakhiri
Prinsip inti di balik pajak karbon yang efektif adalah bahwa pajak ini menetapkan lintasan kenaikan harga yang stabil dan cukup tinggi untuk mendorong pengurangan emisi.
Secara tidak langsung, penerapan pajak karbon berarti perluasan teknologi ramah lingkungan secara terus menerus dari waktu ke waktu.
Untuk memungkinkan transisi yang diperlukan dari perekonomian dengan emisi tinggi, tingkat pajak karbon harus mencapai 100-200 dolar AS per ton setara CO2 (CO2e) dalam beberapa dekade mendatang.
Jadi bisa dikatakan, pajak karbon adalah pendekatan hulu yang berfokus pada pengenaan pajak terhadap pemasok dan distributor bahan bakar fosil yang berada di posisi teratas dalam rantai pasokan.
Hal ini memungkinkan biaya disalurkan ke hilir melalui perusahaan minyak ke konsumen di pompa bahan bakar, tagihan utilitas, dan secara implisit dalam harga barang dan jasa di seluruh perekonomian.
Baca: Perdagangan karbon ditataulang
Dalam hal target spesifik perpajakan, sumber utama perpajakan akan mencakup bahan bakar transportasi dan pemanas seperti bensin, solar, gas alam, propana, serta batu bara dan gas alam yang digunakan dalam pembangkit listrik.
Setelah diterapkan, pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas dalam menentukan apakah pendapatan pajak akan netral atau membiarkannya sebagai sumber dana pemerintah yang baru.
Pendapatan negara yang diperoleh dari pajak karbon dapat dikembalikan melalui rabat per kapita yang setara kepada masyarakat, digunakan untuk mengimbangi pajak lain atau mendanai proyek infrastruktur ramah lingkungan.
Uang dari pajak karbon juga bisa dialokuasikan untuk insentif penelitian, pengembangan energi bersih, program pelatihan ulang pekerja, dan dana darurat untuk mengatasi dampak sosial ekonomi.
Tujuan utama dari perumusan pajak karbon adalah untuk menetapkan harga karbon yang stabil dan meningkat pada tingkat yang memadai dengan menggunakan model yang konsisten untuk diterapkan dalam kebijakan nasional.
Baca: Kenali mekanisme perdagangan karbon









