Yayasan Plan Internasional: Perubahan Iklim Akibatkan Jutaan Anak Putus Sekolah

Written by

in

7cloud.asia – Yayasan Plan Internasional baru-baru ini merilis hasil risetnya mengenai perubahan iklim dan dampaknya bagi Bumi yang bertajuk “For Our Future”.

Riset Plan Internasional tentang dampak perubahan iklim ini merupakan kerjasama dengan 30 anak muda agen perubahan di Indonesia, Nepal, dan Australia.

Hasil riset Yayasan Plan Internasional mengungkap bahwa 12,5 juta anak perempuan mungkin tidak dapat menyelesaikan pendidikan setiap tahunnya akibat perubahan iklim.

Sebanyak 80 persen responden mengalami gangguan saat menuju dan pulang dari sekolah karena berbagai bencana alam yang dipicu perubahan iklim.

Baca: Cara tepat mengenalkan perubahan iklim pada anak 

Selain itu, satu dari tiga responden juga melihat sekolah mereka ditutup, rusak, atau hancur karena perubahan iklim.

“Sebanyak 98 persen responden prihatin tentang dampak perubahan iklim pada kehidupan sekolah dan masa depan mereka,” kata kata Influencing Director Plan Indonesia, Nazla Mariza, dalam webinar di Jakarta, Jumat (26/1/2024).

Dilansir Antaranews, Nazla memaparkan, setidaknya 35.300 sekolah di Indonesia terdampak bencana, terutama bencana hidrometeorologi sejak 2005 hingga 2019.

Baca: Pendidikan yang memberikan solusi bagi perubahan iklim

Menyikapi kondisi ini, Yayasan Plan Indonesia meminta pemerintah membangun wadah untuk kaum muda perempuan terkait isu perubahan iklim.

Wadah ini diharapkan bisa menjadi tempat bagi mereka yang memiliki pengalaman nyata dari dampak perubahan iklim.

“Pemerintah perlu membangun wadah semacam Dewan Nasional untuk kaum muda perempuan di isu perubahan iklim agar menjadi sarana amplifikasi suara yang beragam,” ujar Nazla.

Baca: Ganjar usulkan isu lingkungan masuk dalam kurikulum

Plan Indonesia juga mendorong perencanaan yang lebih baik untuk memastikan keberlangsungan pendidikan bagi anak muda.

Pemerintah juga diminta untuk membatasi disrupsi akibat krisis iklim, baik bencana iklim yang berlangsung pendek maupun yang berdampak panjang.

“Pendidikan perlu dilihat sebagai bentuk loss and damage yang non-ekonomi karena kerugian bukan hanya ekonomi,” pungkas Nazla Mariza.

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *