Tag: hamas

  • Hamas dan Israel Sepakati Gencatan Senjata di Jalur Gaza Selama 60 Hari

    Hamas dan Israel Sepakati Gencatan Senjata di Jalur Gaza Selama 60 Hari

    7cloud.asia – Kelompok perjuangan Palestina, Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5).

    Sebelumnya pada hari itu, Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Jalur Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat Steve Witkoff melalui mediator.

    Sementara itu penyiar Israel Kan, yang mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff.

    Namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

    Menurut laporan, Utusan Khusus Presiden Donald Trump itu sudah diberitahu bahwa kedua pihak setuju untuk melakukan gencatan senjata.

     

    Sumber: Antaranews/Sputinik-OANA

  • Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Desak AS Beri Jaminan Atas Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas meminta mediator dari Amerika Serikat, Steve Witkoff, untuk memberikan jaminan tertulis yang serius terkait penghentian serangan Israel di Jalur Gaza.

    Juru bicara Hamas, Jihad Taha mengatakan bahwa Hamas dalam koordinasi dengan kelompok perlawanan lainnya, sedang meninjau dengan cermat proposal yang diajukan Steve Witkoff

    Demikian Pusat Informasi Palestina sebagaimana dilaporkan IRNA pada Sabtu (31/5/2025) waktu setempat.

    Taha menyampaikan bahwa rencana yang diajukan Witkoff tidak memiliki jaminan yang diperlukan dan gagal mengakomodasi sejumlah permintaan dari Hamas.

    Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Hamas tetap mempertahankan sikap positif terhadap setiap inisiatif atau usulan yang dapat mengarah pada penghentian perang dan penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Baca: Hamas dan Israel sepakati gencatan senjata selama 60 hari

    Ia juga menekankan bahwa setiap kesepakatan harus mencakup gencatan senjata penuh serta penarikan total militer Israel dari Jalur Gaza.

    Namun, versi final dari rencana Witkoff tidak mencantumkan jaminan langsung maupun bertahap untuk penghentian perang.

    Diberitakan sebelumnya Hamas dan Zionis Israel menyepakati gencatan senjata selama 60 hari ke depan di Jalur Gaza, lapor penyiar Al Arabiya yang mengutip berbagai sumber pada Kamis (29/5/2025).

    Hamas mengatakan pihaknya telah menerima usulan baru gencatan senjata di Gaza dari Utusan Khusus Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

    Sementara itu penyiar Israel Kan, dengan mengutip beberapa sumber, melansir bahwa Israel sepakat dengan usulan baru Witkoff.

    Baca: Blokade Israel picu krisis kemanusiaan di Gaza

    Namun Hamas keberatan dengan usulan tersebut lantaran tidak ada jaminan perang berakhir secara permanen dan penarikan penuh militer Israel dari wilayah kantong itu.

    Lebih lanjut, Taha menyerukan kepada organisasi-organisasi internasional untuk menyatakan status darurat guna menyelamatkan Gaza dari bencana kemanusiaan.

    Menurut kantor berita Wafa, agresi Israel di Gaza sejak 7 Oktober 2023 telah menewaskan 54.321 warga Palestina dan melukai 123.770 lainnya.

    Serangan Israel juga menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza. Hingga saat ini tentara Israel masih menerapkan blokade terhadap Gaza yang dihuni lebih dari 2juta jiwa.

    Sumber: Antaranewscom/Sputnik-IRNA-OANA

  • Serangan ke Gaza Berlanjut: Puluhan Orang Meninggal Saat Tentara Israel Serang Satu-satunya Kafe yang Masih Bertahan

    Serangan ke Gaza Berlanjut: Puluhan Orang Meninggal Saat Tentara Israel Serang Satu-satunya Kafe yang Masih Bertahan

    7cloud.asia – Setidaknya 95 warga Palestina tewas akibat serangan Israel di seluruh Gaza, termasuk lebih belasan orang yang putus asa mencari bantuan makanan di lokasi distribusi bantuan yang didukung AS-Israel.

    Dalam serangan tunggal paling mematikan pada itu, jet tempur Israel mengebom sebuah kafe internet dengan pesta ulang tahun anak-anak yang sedang berlangsung, menewaskan sedikitnya 39 orang.

    Seorang pejabat senior Hamas mengatakan kepada Al Jazeera, “kami bertekad untuk mencari gencatan senjata yang akan menyelamatkan rakyat kami”, dan menuduh Israel “menyabotase negosiasi”.

    Hampir 40 orang tewas dalam serangan tunggal paling mematikan pada hari Senin (30/6/2025) saat militer Israel tanpa henti menggempur Gaza.

    Baca: Israel gencar luncurkan serangan ke warga Gaza

    Kafe internet dan restoran yang menjadi sasaran, yang sejauh ini bertahan selama lebih dari 20 bulan perang Israel, telah menjadi tempat populer di Gaza yang hancur.

    “Selalu ada banyak orang di tempat itu, yang menawarkan minuman, tempat untuk keluarga, dan akses internet,” kata Ahmad al-Nayrab, 26 tahun, yang sedang berjalan di pantai terdekat ketika mendengar ledakan keras.

    “Itu adalah pembantaian. Itu adalah pemandangan yang mengerikan. Semua orang berteriak.” ujarnya dikutip AlJazeera

    Anak-anak sedang merayakan pesta ulang tahun pada saat serangan itu. Jurnalis Palestina Ismail Abu Hatab termasuk di antara mereka yang tewas dalam serangan itu.

    Baca: Warga Gaza diserang saat mengantri bantuan makanan

    Terpisah, sumber di Rumah Sakit Nasser memberi tahu Al Jazeera bahwa tiga warga Palestina tewas oleh tembakan Israel di dekat pusat distribusi bantuan di utara kota Rafah.

    Sejauh ini setidaknya 11 pencari bantuan telah tewas oleh pasukan Israel di seluruh Gaza sejak pagi.

    Sekitar 600 warga Palestina tewas dan 4.200 terluka saat menunggu makanan di lokasi distribusi bantuan yang dioperasikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza yang didukung Israel-AS sejak memulai operasi kontroversialnya pada 27 Mei.

    Perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 56.531 orang dan melukai 133.642, menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan 7 Oktober dan lebih dari 200 orang ditawan.

  • Hamas Siap Bahas Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Siap Bahas Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menyatakan siap memulai pembicaraan “segera” mengenai usulan gencatan senjata di Gaza.

    Dalam pernyataan yang dilansir Kamis (3/7/2025) sekutu Hamas, Jihad Islam, mengatakan pihaknya mendukung rencana pembicaraan mengenai gencatan senjata dengan Israel di Gaza.

    Namun, juru bicara Hamas menuntut “jaminan” bahwa proses tersebut akan mengarah pada gencatan senjata permanen.

    Pernyataan itu diumumkan setelah sebelumnya Hamas mengadakan konsultasi dengan faksi-faksi Palestina lainnya.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam dalam sejarah

    Pernyataan Hamas ini dirilis sebelum kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington pada Senin (7/7/2025), di mana Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendorong diakhirinya perang di Gaza.

    Pada Juli 2025, perang di Gaza telah memasuki bulan ke-21. Israel kembali mengintensifkan serangan, setelah perjanjian gencatan senjata berakhir pada Maret 2025 lalu.

    Pada Kamis (3/7/2025) badan pertahanan sipil mengatakan serangan Israel yang sedang berlangsung menewaskan lebih dari 50 orang.

    Baca: Israel lakukan genosida dengan mencegah kelahiran warga Palestina

    Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa serangan Israel telah menewaskan sedikitnya 18 orang di seluruh wilayah kantong yang terkepung itu sejak Jumat (4/7/2025) tengah malam (21GMT Jumat).

    Menurut Pusat Informasi Palestina dan Jaringan Berita Quds, perang Hamas-Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 57.268 orang dan melukai 135.625 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

    Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan 7 Oktober 2023, dan lebih dari 200 orang ditawan.

  • Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera Demi Gencatan Senjata di Gaza

    Hamas Siap Bebaskan 10 Sandera Demi Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas, pada Rabu (9/7/2025) malam menyatakan sepakat untuk membebaskan 10 warga Israel yang mereka sandera sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza.

    Hamas mengatakan, mereka akan terus berusaha memastikan putaran perundingan yang sedang berlangsung “mencapai kesepakatan komprehensif yang mengakhiri agresi” Israel terhadap rakyat Palestina.

    Dalam pernyataan itu, Hamas juga berjanji akan menjamin masuknya bantuan kemanusiaan dengan aman, dan “meringankan penderitaan yang kian parah di Jalur Gaza.”

    “Gerakan ini (Hamas) telah menunjukkan fleksibilitas yang diperlukan dan menyetujui pembebasan 10 tahanan,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel serang tenda pengungsian di Gaza

    Meski begitu, sejumlah isu krusial masih dibahas, termasuk aliran bantuan kemanusiaan, penarikan pasukan Israel dari Jalur Gaza, dan jaminan konkret atas terciptanya gencatan senjata secara permanen.

    Namun, pernyataan Hamas itu belum ditanggapi oleh Israel.

    Sebelumnya, lembaga penyiaran publik Israel mengutip sumber anonim yang menyebut bahwa Israel menunjukkan “fleksibilitas signifikan” dalam beberapa jam terakhir, khususnya terkait penarikan pasukan dari poros Morag di Gaza selatan.

    Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pemerintahannya “semakin dekat” dengan kesepakatan gencatan senjata di Gaza yang sering disebut sebagai wilayah kantong Palestina itu.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam sepanjang sejarah

    Di sisi lain, mantan Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot, mendesak sang pemimpin, Benjamin Netanyahu, untuk “menanggalkan sikap keras kepala”.

    Dia juga mendesak Netanyahu segera menyelesaikan kesepakatan demi pembebasan para sandera dan tercapainya gencatan senjata permanen, menurut laporan Channel 7 Israel.

    Pada Selasa (8/7/2025) malam, Trump bertemu Netanyahu untuk kedua kalinya dalam 24 jam terakhir di Gedung Putih, di mana mereka membahas upaya gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

    Delegasi Hamas dan Israel masih melanjutkan perundingan di Doha, Qatar, untuk mengakhiri perang yang telah menewaskan lebih dari 57.000 warga Palestina sejak Oktober 2023.

    Sumber: Antaraanews.com/Anadolu

  • Negosiasi Gencatan Senjata: Hamas Tinjau Peta Baru Kendali Israel di Gaza

    Negosiasi Gencatan Senjata: Hamas Tinjau Peta Baru Kendali Israel di Gaza

    7cloud.asia – Hamas dikabarkan sedang meninjau peta terbaru yang diajukan oleh para mediator terkait kendali militer Israel di Jalur Gaza, sebagai bagian dari negosiasi mengenai kemungkinan gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

    Kelompok perlawanan Palestina tersebut menerima peta yang diperbarui dari negara-negara mediator, yang menunjukkan wilayah-wilayah di Gaza yang masih berada di bawah kendali Israel, menurut sumber yang dekat dengan tim negosiasi di Qatar.

    Peta tersebut mencakup sebagian besar wilayah Beit Hanoun di utara, separuh Rafah, kawasan Huzaa dan Abasan di selatan Khan Younis, serta sebagian besar Distrik Shujaiyya di Kota Gaza.

    Sumber itu mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa Hamas telah memulai konsultasi internal untuk mengevaluasi peta tersebut dan tengah berdiskusi dengan faksi-faksi Palestina lainnya.

    Peta sebelumnya menunjukkan Israel masih menguasai penuh wilayah luas di Beit Hanoun, Beit Lahiya, seluruh Rafah, sebagian besar Khan Younis, serta wilayah perbatasan — proposal yang sebelumnya ditolak oleh Hamas.

    Baca: Hamas siap bahas gencatan senjata di Gaza

    Hamas tetap bersikeras pada garis penarikan yang telah disepakati pada Januari, yang menyerukan penarikan pasukan Israel sejauh 390 hingga 1.100 meter dari wilayah Gaza.

    Seiring perkembangan terbaru, sejumlah media Israel melaporkan adanya optimisme hati-hati bahwa kemajuan mungkin tercapai.

    Harian Yediot Ahronot, mengutip sumber yang dekat dengan perundingan, menyebutkan adanya “sinyal menjanjikan bahwa kesepakatan bisa dicapai dalam dua pekan ke depan”.

    Namun, laporan itu juga mencatat bahwa Hamas masih ragu-ragu soal jumlah tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai imbalan atas setiap tawanan Israel.

    Mediator, khususnya Qatar, disebut memainkan peran penting dalam memperkecil perbedaan antara kedua belah pihak.

    Baca: Gaza alami genosida terkejam dalam sejarah

    Meski begitu, menurut penyiar publik Israel, KAN, yang mengutip sumber pemerintah yang tidak disebutkan namanya, Hamas belum memberikan tanggapan atas proposal terbaru tersebut.

    Seorang pejabat Israel mengatakan, “Kami sudah menunjukkan fleksibilitas, tetapi Hamas belum merespons.”

    Seorang perwakilan dari salah satu negara Arab mediator, yang berbicara secara anonim kepada KAN, mengatakan bahwa “sebagian besar sengketa mengenai penyebaran pasukan Israel telah diselesaikan,” dan hanya “tersisa isu-isu kecil.”

    Diplomat tersebut menggambarkan situasi saat ini sebagai “optimisme yang hati-hati.”

    Ia juga mengungkapkan bahwa dalam dua hari terakhir di Doha, fokus utama negosiasi adalah pada jumlah dan identitas tahanan Palestina yang akan dibebaskan sebagai imbalan atas tawanan Israel.

    Diplomat tersebut juga menyebutkan bahwa pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani menjadi “titik balik penting” dalam mendorong kemajuan negosiasi.

    Trump dikabarkan menyampaikan bahwa Washington “puas dengan kemajuan yang dicapai sejauh ini.”

    Baca: Israel lakukan genosida dengan mencegah kelahiran di Palestina

    Usulan gencatan senjata di meja perundingan
    Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Israel telah menyetujui syarat-syarat yang diperlukan untuk pelaksanaan gencatan senjata selama 60 hari.

    Usulan gencatan senjata, yang dirancang oleh Qatar dan Mesir itu, telah diajukan kepada Hamas untuk ditinjau.

    Hamas merespons secara positif, menyampaikan kepada mediator kesediaannya untuk melanjutkan dan menyatakan siap bernegosiasi mengenai implementasi gencatan senjata tersebut.

    Namun, pemerintah Israel awalnya menolak sejumlah perubahan yang diajukan Hamas terhadap proposal dari Qatar, dan menyebut perubahan itu “tidak dapat diterima.”
    Meskipun demikian, delegasi Israel tetap melakukan perjalanan ke Doha untuk melanjutkan pembicaraan.

    Negosiasi di Doha dilaporkan telah menyelesaikan banyak perbedaan utama, namun penolakan Israel untuk menarik pasukan dari Koridor Morag — yang memisahkan Rafah dan Khan Younis — serta keberadaan militernya yang berkelanjutan di Rafah, masih menjadi kendala utama dalam perundingan.

    Sumber: Anadolu

  • Hamas Tegaskan Tidak Akan Mundur Sampai Berdirinya Negara Palestina Merdeka

    Hamas Tegaskan Tidak Akan Mundur Sampai Berdirinya Negara Palestina Merdeka

    7cloud.asia – Kelompok perlawanan Palestina, Hamas menegaskan pihaknya tidak akan menyerah sampai Negara Palestina resmi berdiri dan berdaulat.

    Pernyataan Hamas yang dirilis pada Sabtu (2/8/2025) itu disampaikan sebagai respons atas pernyataan Utusan Khusus Amerika Serikat (AS) untuk Timur Tengah Steve Witkoff.

    Hamas mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa perlawanan tidak akan berhenti dan senjata tidak akan diturunkan sampai hak-hak nasional kami sepenuhnya dipulihkan, terutama pendirian negara Palestina yang merdeka dan berdaulat penuh.

    Sebelumnya, saat bertemu dengan keluarga warga Israel yang disandera Hamas dalam sebuah unjuk rasa di Tel Aviv pada Sabtu, Witkoff mengatakan, Hamas telah menyatakan bahwa mereka siap untuk didemiliterisasi.

    Baca: Mewujudkan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat

    “Beberapa pemerintah Arab kini sedang menuntut Hamas untuk didemiliterisasi… Jadi, kita sangat, sangat dekat dengan solusi untuk mengakhiri perang ini,” tambah Witkoff, sebagaimana dikutip dari surat kabar Israel, Haaretz.

    Dalam pernyataan terpisah, Hamas menuduh kunjungan Witkoff ke pusat-pusat distribusi bantuan di Jalur Gaza sebagai pertunjukan sandiwara yang dirancang untuk menyesatkan opini publik.

    Hamas juga menyebut kunjungan Witkoff untuk menutupi citra pendudukan, dan memberikan kedok politik atas kebijakan kelaparan dan pembunuhan sistematis terhadap anak-anak dan warga sipil tak berdosa di Gaza.

    Baca: Sidang DK PBB serukan pengakuan untuk Palestina yang merdeka

    Pernyataan Hamas itu mengatakan pemerintah AS sepenuhnya terlibat dalam masalah kelaparan di Gaza yang disengaja ini.

    Witkoff mengunjungi Jalur Gaza pada Jumat (1/8/2025). Dalam kunjungan tersebut, dia menginspeksi sebuah pusat distribusi bantuan yang kontroversial milik Gaza Humanitarian Foundation di Kota Rafah di Jalur Gaza selatan.

    Di lokasi Gaza Humanitarian Foundation ini, lebih dari 100 warga Palestina meninggal saat mengantri bantuan makanan. Kelaparan akut melanda Gaza sejak beberapa waktu terakhir akibat blokade yang diterapkan tentara Israel. 

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Rencana Israel Mengambilalih Gaza Mendapat Tentangan dari Banyak Negara

    Rencana Israel Mengambilalih Gaza Mendapat Tentangan dari Banyak Negara

    7cloud.asia – Rencana Israel untuk menguasai sepenuhnya Kota Gaza, Palestina menuai penolakan dari banyak negara di dunia.

    Seperti diberitakan, otoritas Israel menyatakan bahwa kabinet keamanan telah menyetujui usulan Benjamin Netanyahu untuk mengalahkan Hamas dan kini tentara Israel bersiap untuk menguasai Kota Gaza.

    Dalam pernyataan yang dirilis Kamis (7/8/2025), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel bermaksud untuk melanjutkan perampasan penuh atas seluruh Gaza.

    Dia berdalih bahwa tujuannya adalah untuk melenyapkan Hamas dan memastikan keamanan serta makanan bagi warga sipil di wilayah kantong Palestina yang dilanda konflik tersebut.

    “Pada saat yang sama, Israel tidak berencana untuk mempertahankan kendali atas seluruh Jalur Gaza, tujuannya hanyalah untuk membangun “perimeter keamanan,” kata Netanyahu.

    Baca: Hamas tidak akan mundur hingga berdirinya negara Palestina

    Israel berjanji memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di luar zona perang, kata kabinet Netanyahu, menambahkan bahwa lima syarat harus dipenuhi sebagai imbalan untuk mengakhiri konflik dengan Hamas.

    Adapun kelimanya adalah pelucutan senjata Hamas, pengembalian seluruh 50 sandera Israel, demiliterisasi Jalur Gaza, kendali penuh Israel atas keamanan di Jalur Gaza,

    Israel juga mensyaratkan pembentukan pemerintahan alternatif ketiga yang bukan Hamas atau Otoritas Palestina (PA).

    Kelompok perlawanan Palestina, Hamas bereaksi keras atas rencana tersebut dan menyebut ini merupakan sebuah bentuk kejahatan perang baru.

    Baca: Sidang Dewan Keamanan PBB serukan kemerdekaan Palestina

    “Persetujuan kabinet Zionis (Israel) atas rencana untuk menduduki Kota Gaza dan mengevakuasi penduduknya merupakan kejahatan perang baru, yang direncanakan tentara penjajah terhadap kota tersebut dan sekitar satu juta penduduknya,” kata Hamas.

    Penolakan juga datang dari sejumlah negara termasuk Indonesia. Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa negaranya menolak dan meminta agar Israel segera menghentikan rencana untuk mengambil alih Kota Gaza.

    China sangat prihatin dengan keputusan Israel, dan mendesak Israel untuk segera menghentikan langkah berbahaya tersebut.

    “Kota Gaza adalah milik rakyat Palestina dan merupakan bagian integral dari wilayah Palestina,” kata Juru Bicara Kemlu China Guo Jiakun dalam pernyataan tertulis di Beijing, Jumat (8/8/2025)

    Baca: Mungkinkah mewujudkan berdirinya negara Palestina?

    Kemlu Prancis juga menegaskan, “penentangan tegas” Paris terhadap rencana apa pun untuk menduduki Jalur Gaza dan menggusur paksa penduduknya.

    Dalam pernyataan yang dirilis Jumat, pihak Kemlu Prnacis menggarisbawahi tindakan tersebut sebagai langkah menuju “pelanggaran serius hukum internasional” dan “kebuntuan mutlak.”

    Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengutuk keputusan sepihak Israel untuk mengambil alih Jalur Gaza karena tindakan tersebut merupakan pelanggaran berat atas hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Tindakan Israel itu juga akan memperkeruh prospek perdamaian di Timur Tengah dan krisis kemanusiaan di Gaza, kata Kemlu RI dalam pernyataan resmi media sosial X dipantau di Jakarta, Sabtu (9/8/2025).

    Sumber: Antaranews.com/Sputnik-RIA Novosti-OANA

    ​​​​

  • Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata di Gaza yang Diusulkan Mesir dan Qatar

    Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata di Gaza yang Diusulkan Mesir dan Qatar

    7cloud.asia – Gerakan perlawanan Palestina, Hamas, Senin (18/8/2025), mengonfirmasi persetujuannya untuk menerima usulan gencatan senjata di Jalur Gaza, yang diserahkan Mesir dan Qatar.

    “Gerakan Hamas dan faksi-faksi Palestina telah memberi tahu para mediator tentang persetujuan mereka untuk menerima usulan yang diserahkan kemarin oleh Mesir dan Qatar,” demikian pernyataan tersebut.

    Sebelumnya di hari yang sama, seorang sumber Mesir mengungkapkan kepada RIA Novosti bahwa Hamas menyetujui gencatan senjata selama gua bulan di Jalur Gaza, serta pembebasan separuh sandera Israel dengan imbalan sejumlah tahanan Palestina.

    Baca: 24 Negara desak Israel hentikan blokade terhadap Gaza

    Usulan Mesir dan Qatar, yang disetujui Hamas, antara lain mencakup penghentian sementara permusuhan di Jalur Gaza selama 60 hari, yang diharapkan akan mengarah pada perdamaian jangka panjang,

    “Usulan ini juga pembebasan separuh sandera Israel dengan imbalan sejumlah tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel,” katanya.

    Perjanjian tersebut juga mengatur pengiriman bantuan kemanusiaan dalam jumlah yang diperlukan untuk memenuhi semua kebutuhan warga, tambah sumber tersebut.

    Baca: Sekitar satu juta perempuan dan anak-anak hadapi kelaparan di Gaza

    Pemindahan sandera akan dilakukan dalam dua tahap, dan gerakan Palestina juga akan memindahkan jenazah korban, lapor kantor berita Al Jazeera.

    Perang di Gaza yang telah berlangsung sejak Oktober 2023 dan telah menewaskan 62.000 warga dan mengakibatkan krisis kemanusiaan di Gaza.

    Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina di Kawasan Timur Tengah, UNRWA menyebut blokade Israel di Gaza sejak Maret 2025, telah mengakibatkan bencana kelaparan yang dialami 2 juta orang warga Gaza, termasuk perempuan dan anak-anak

    Sumber: Sputnik-OANA

  • Saat Perundingan Berlangsung, Israel Justru Siapkan Operasi Duduki Kota Gaza

    Saat Perundingan Berlangsung, Israel Justru Siapkan Operasi Duduki Kota Gaza

    7cloud.asia – Tentara cadangan Israel mulai menerima panggilan terkait rencana pendudukan Kota Gaza, padahal Hamas telah menerima usulan gencatan senjata yang diserahkan Mesir dan Qatar, lapor media lokal pada Selasa (19/8/2025)

    Penyiar Channel 12 mengatakan pasukan Israel telah mengeluarkan perintah darurat yang disebut “Order 8” kepada tentara cadangan untuk melakukan operasi menduduki Kota Gaza.

    Laporan itu mengatakan puluhan ribu tentara cadangan diperkirakan akan dipanggil dalam beberapa hari ke depan. Kepala militer Eyal Zamir juga memperpanjang masa tugas prajurit cadangan yang saat ini bertugas.

    Media itu menambahkan bahwa “Langkah militer baru ini merupakan persiapan untuk kemungkinan pendudukan Kota Gaza,”

    Baca: Hamas Setujui Usulan Gencatan Senjata di Gaza

    Media juga mencatat bahwa “tentara Israel saat ini sedang melakukan semua persiapan akhir untuk melaksanakan rencana pendudukan Gaza.”

    Channel 12 menekankan bahwa “perundingan mengenai pertukaran tahanan dengan Hamas kemungkinan terjadi di tengah serangan, dan militer Israel tidak akan berhenti hingga perjanjian tercapai dan ditandatangani”.

    Selasa pagi, Zamir menguraikan rencana invasi, termasuk meningkatkan kekuatan pasukan Israel di Gaza utara.

    Pada 8 Agustus, Kabinet Israel menyetujui rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menduduki kembali Jalur Gaza secara bertahap, dimulai dengan Kota Gaza.

    Baca: 24 Negara Desak Israel Buka Akses Bantuan di Gaza

    Rencana tersebut mencakup pemindahan sekitar 1 juta warga Palestina dari Kota Gaza ke selatan, diikuti dengan pengepungan kota dan penyerbuan ke permukiman.

    Sebagai bagian dari upaya ini, tentara melancarkan serangan besar-besaran pada 11 Agustus di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza, menurut saksi mata kepada Anadolu.

    Serangan tersebut mencakup penghancuran rumah-rumah dengan robot jebakan, tembakan artileri, tembakan acak, dan pemindahan paksa.

    Persiapan Israel terus berlanjut meskipun ada perundingan gencatan senjata tidak langsung dengan kelompok Palestina Hamas, yang telah menyetujui penangguhan operasi militer selama 60 hari berdasarkan proposal yang diajukan oleh Mesir dan Qatar.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu