Tag: indonesia

  • Kondisi Palestina Terus Memburuk, Menlu RI Pertanyakan Kepemimpinan Dewan Keamanan PBB

    Kondisi Palestina Terus Memburuk, Menlu RI Pertanyakan Kepemimpinan Dewan Keamanan PBB

    7cloud.asia – Indonesia mempertanyakan bagaimana kepemimpinan Dewan Keamanan (DK) PBB dalam menciptakan perdamaian ketika kondisi di Palestina terus memburuk.

    Pernyataan tegas tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat berpidato di hadapan forum Debat Terbuka Tingkat Tinggi DK PBB di Markas Besar PBB New York, Rabu (25/9).

    “Kita semua di sini membicarakan tentang kepemimpinan dalam isu perdamaian. Namun, damai itu tidak pernah dirasakan oleh Bangsa Palestina,” ujar Menlu.

    Baca: Gaza dan Ukraina jadi pembahasan di sidang umum PBB

    Dengan kondisi mengkhawatirkan di Palestina di mana 41.000 orang telah kehilangan nyawa dan jutaan orang lainnya mengungsi, serta akses terhadap bantuan diputus, menurut Retno, “Kita layak mempertanyakan rasa kemanusiaan dunia”.

    “Jika kita tidak bisa melaksanakan hal yang dimandatkan DK PBB untuk menciptakan perdamaian, apa lagi yang tersisa dari kepemimpinan DK dalam isu perdamaian?” Retno mempertanyakan.

    Karena itu, Indonesia menawarkan cara-cara untuk mengembalikan kredibilitas dan kepercayaan atas DK PBB dengan mengupayakan kepemimpinan yang lebih demokratis serta mengikutsertakan lebih banyak pihak.

    Baca: Dunia gagal melindungi warga sipil di Gaza yang tak bersalah

    “Indonesia menyerukan mekanisme yang lebih demokratis untuk pengambilan keputusan yang efektif supaya tidak ada kelambanan dalam menghadapi ancaman besar terhadap kedamaian dan keamanan internasional,” ucap Menlu.

    Retno menutup pidatonya dengan satu penegasan bahwa dunia tidak perlu repot-repot mencari cara untuk menciptakan perdamaian di masa depan, karena langkah-langkah itu harus dimulai sejak saat ini juga.

    Sumber: Antaranews

  • Badai Matahari Menerjang Indonesia, Ini Dampaknya Bagi Manusia

    Badai Matahari Menerjang Indonesia, Ini Dampaknya Bagi Manusia

    7cloud.asia – Cuaca panas melanda beberapa Kota di Indonesia, tidak hanya akibat adanya peralihan musim dari kemarau ke musim hujan. Namun juga adanya badai matahari atau solar storm.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi fenomena badai kuat Matahari melanda wilayah Indonesia hingga 13 Oktober karena itu semua pihak diminta mewaspadai dampak yang menyertainya.

    Melansir Antaranews, Ketua Tim Bidang Geofisika Potensial BMKG, Syrojudin menjelaskan badai kuat Matahari tersebut berada pada indeks ekstrem (G4) dan telah mencapai puncaknya pada Jumat (11/10/2024).

    Baca: Siang akan lebih panjang, ini penyebabnya

    Sebelumnya Lembaga Kelautan dan Atmosfer Amerika (NOAA) menyebut bahwa ledakan Matahari pada Senin (7/10/2024) lalu mengakibatkan badai magnet berat skala G4 di Bumi.

    Ledakan tersebut adalah letusan besar radiasi elektromagnetik dari matahari yang berlangsung selama beberapa menit hingga jam.
     
    Berdasarkan analisis tim geofisika BMKG menunjukkan selama tiga hari ke depan Indonesia akan merasakan dampak dari badai matahari.

    Baca: Fakta yang menarik saat gerhana matahari total

    Selain cuaca terasa lebih panas, juga terjadi gangguan yang cukup signifikan pada jaringan internet, termasuk yang menggunakan sistem satelit seperti Starlink.

    Karena itu Syrojudin mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat berkegiatan atau transaksi menggunakan jaringan internet, komunikasi berbasis radio selama periode badai matahari tersebut.

    Kemudian bagi para pilot drone di seluruh Indonesia disarankan BMKG untuk tidak mengoperasikan pesawat tanpa awaknya karena berpotensi hilang kendali, dan akurasi posisi berbasis satelit seperti GPS juga akan menurun.

    Baca: Mengenal ozon dan kaitannya dengan pemanasan global

    Mengutip dari buku Matahari oleh Viyanti (2023:18), badai matahari adalah kejadian saat aktivitas matahari berinteraksi dengan medan magnetik bumi.

    Terjadinya fenomena alam ini berkaitan langsung dengan peristiwa ledakan matahari (solar flare) dan pelontaran material korona (CME – Cornal Mass Ejection).

    Ketika matahari dalam siklus keaktifan maksimumnya, Angin matahari akan lebih kencang dan partikel yang dikeluarkan lebih energik. Kemudian, peristiwa solar flare dan CME juga terjadi.

    Jika partikel yang dilontarkan sangat besar maka pada matahari akan terjadi. Tentunya peristiwa alam ini mampu memberikan dampak bagi kehidupan manusia.

     

  • Indonesia Masuk Empat Besar Negara dengan Lahan Gambut Terluas di Dunia

    Indonesia Masuk Empat Besar Negara dengan Lahan Gambut Terluas di Dunia

    7cloud.asia – Indonesia diketahui sebagai negara yang memiliki luas lahan gambut nomor empat di dunia, setelah Kanada, Rusia dan Amerika Serikat.

    Data mengenai luas lahan gambut di Indonesia belum bisa diketahui secara pasti. Namun, berdasarkan Peta Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) skala 1:250.000 tahun 2017 yang diterbitkan oleh Ditjen Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kementerian KLHK, Indonesia memiliki lahan gambut seluas 24.67 juta hektare.

    Lahan gambut tersebut tersebar di enam provinsi yaitu Papua, Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan dan Papua Barat. Isu terkait lahan gambut memang sangat menarik walaupun di sisi lain juga cukup sensitif.

    “Data yang dikeluarkan Kemen KLHK ini merupakan kompilasi dari beberapa lembaga salah satunya bersumber dari BBSDLP, Balitbangtan, Kementan,” ujar Peneliti Kelompok Riset Pengelolaan Sumber Daya Air Pertanian, Budi Kartiwa, dalam webinar PRLSDA#58 yang digelar Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kamis (26/9/2024) lalu.

    Lahan gambut merupakan ekosistem dengan beragam fungsi diantaranya fungsi produksi dan sumber mata pencaharian, serta fungsi sebagai penyedia jasa lingkungan yaitu penyimpan sekitar 40 persen cadangan karbon, penyimpan air dan pengatur tata air, serta konservasi keanekaragaman hayati.

    Baca: Restorasi lahan gambut di Kalimantan Barat

    Karena pertimbangan ekonomi dan keterbatasan lahan, saat ini banyak pelaku usaha, khususnya di sektor kehutanan, perkebunan dan pertanian, yang mulai memanfaatkan lahan gambut.

    Hal ini terjadi karena lahan tanah mineral sudah semakin terbatas, sehingga lahan gambut menjadi alternatif walaupun hal ini seringkali menimbulkan isu lingkungan seperti emisi GRK (gas rumah kaca), dekomposisi bahan organik berdampak pada penurunan muka tanah gambut (subsidensi) serta juga adanya risiko kebakaran lahan gambut.

    Menurut Budi, risiko kebakaran lahan gambut sebenarnya banyak terjadi pada lahan-lahan yang tidak dibudidayakan atau dibiarkan terlantar. Sedangkan lahan yang dibudidayakan misalnya untuk perkebunan umumnya aman, apa pun kondisi lahannya lembab ataupun kering.

    Selain itu praktek pembukaan lahan ataupun pengolahan tanah dengan cara dibakar yang dilakukan oleh sebagian masyarakat serta aktivitas berisiko disekitar lahan gambut dalam kondisi kering.

    ”Seperti merokok dan membuang puntung rokok sembarangan, menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kebakaran lahan gambut,” ungkapnya.

    Baca: Jenis tanaman yang cocok untuk restorasi lahan gambut

    Budi menjelaskan, berdasarkan data dari LSM Pantau Gambut, kebakaran lahan yang terjadi selama periode 2015-2019, mencapai luas 4,4 juta ha, dan 50persen area yang terbakar merupakan lahan gambut.

    Dan, seluas 789.600 ha atau sekitar 18persen dari lahan yang terbakar, mengalami kebakaran berulang. Salah satu isu penting terkait kebakaran ini, adalah elevasi muka air tanah (groundwater level), yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi kunci dalam menurunkan risiko kebakaran lahan.

    Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, ditetapkan dalam upaya pengendalian kerusakan gambut. Pasal 23 ayat 3 menyebutkan bahwa “ekosistem gambut dengan fungsi budidaya dinyatakan rusak apabila muka air tanah lebih dari 0,4 meter di bawah permukaan gambut”.

    Sebagai turunan dari PP No. 57 tahun 2016, terdapat juga Peraturan Menteri LHK No. P.15 tahun 2017 yang mengatur tata cara pengukuran muka air tanah di titik penaatan.

    Titik penaatan ini merujuk pada titik centroid atau titik tengah petak atau blok budidaya tanaman kehutanan ataupun perkebunan di lahan gambut, sebagai titik pengamatan muka air tanah.

    Baca: BRIN ingatkan pengolahan lahan gambut sering picu kebakaran lahan

    Titik penetapan muka air tanah ditetapkan paling sedikit 15persen dari seluruh jumlah petak atau blok tanah gambut.

    Penetapan kedalaman maksimum muka air tanah di lahan gambut pada angka 40 centimeter, menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan, terutama para pelaku usaha sektor kehutanan dan perkebunan.

    Pada tahun 2018, isu ini telah menjadi perhatian dan menjadi topik diskusi hingga menjadi usulan untuk melakukan riset bersama oleh Badan Litbang Pertanian, IPB, UGM, Ditjen Perkebunan serta beberapa perusahaan perkebunan swasta yang akan menyediakan lokasi penelitian.

    Berdasarkan beberapa fakta yang telah dijelaskan, terdapat isu-isu yang perlu diverifikasi melalui penelitian diantaranya realistis atau tidaknya penentuan kedalaman muka air tanah maksimum pada angka 40 cm pada lahan gambut yang telah didrainase. Sumber:brin.go.id

  • La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    La Nina Berpotensi Terjadi Hingga Maret 2025, Begini Dampaknya di Indonesia

    7cloud.asia – Fenomena La Nina berpotensi muncul hingga Maret 2025 dan berdampak pada curah hujan yang tinggi. Hal ini diungkapkan oleh Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) dalam laman resminya.

    “La Nina diperkirakan akan muncul pada bulan September-November (peluang 60%) dan diperkirakan akan bertahan hingga Januari-Maret 2025,” demikian NOAA dalam laman resminya.

    La Nina sendiri  merupakan kebalikan dari fenomena El Nino yaitu kondisi naiknya suhu permukaan laut yang dapat berakibat pada kekeringan ekstrem seperti yang terjadi di Indonesia pada tahun lalu.

    Baca: BMKG ajak masyarakat waspada potensi banjir

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), La Nina merupakan keadaan suhu permukaan laut (SPL) atau sea surface temperature (SST) di Samudra Pasifik tropis bagian tengah dan timur yang lebih dingin dibandingkan suhu normalnya.

    Kondisi ini biasanya diikuti dengan berubahnya pola sirkulasi Walker (sirkulasi atmosfer arah timur barat yang terjadi di sekitar ekuator) di atmosfer yang berada di atasnya dan dapat mempengaruhi pola iklim dan cuaca global.

    Kondisi La Nina ini dapat berulang dalam beberapa tahun sekali dan setiap kejadian dapat bertahan sekitar beberapa bulan hingga dua tahun.

    Baca: Akibat pemanasan global, El Nino dan La Nina sulit diprediksi

    Sementara itu Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan dari data BMKG suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah cenderung mendingin dan hampir menyentuh batas La Nina.

    Kondisi ini terjadi selama Agustus hingga awal Oktober 2024. Ardhasena mengungkapkan suhu permukaan laut akan terus mendingin dan diperkirakan akan berlanjut hingga Maret 2025.

    “Fenomena La Nina terjadi di Samudra Pasifik, tapi akan berdampak secara global, termasuk di Indonesia,” kata Ardhasena seperti yang dilansir Kompas.com.

    Baca: Transisi cepat El Nino ke La Nina memicu musim badai

    La Nina memberikan dampak yang beragam di wilayah Indonesia, terutama dampak terhadap curah hujan bulanan dan musiman. 

    Jika terjadi pada bulan Juni-Juli-Agustus (JJA), La Niña menyebabkan peningkatan curah hujan di hampir di sebagian besar wilayah Indonesia.

    Kemudian jika terjadi pada bulan September-Oktober-November (SON), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah tengah hingga timur Indonesia.

    Sedangkan pada Desember-Januari-Februari (DJF), dan Maret-April-Mei (MAM), La Niña berpengaruh pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia bagian timur.

    Baca: Indonesia harus bersiap dengan fenomena La Nina

    Peningkatan curah hujan saat La Niña umumnya berkisar 20-40% lebih tinggi dibandingkan curah hujan saat tahun Netral. Namun, terdapat juga beberapa wilayah yang mengalami peningkatan curah hujan lebih dari 40%.

    Pada periode puncak musim hujan (DJF), La Nina tidak memberikan dampak peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan barat sebagai akibat interaksinya dengan sistem monsun.

    Dengan adanya fenomena La Nina ini, peningkatan curah hujan berpotensi menimbulkan banyak bencana hidrometeorologi, air dan atmosfer. Misalnya banjir, longsor, angin putting beliung, dan lain-lain.

  • Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    Fenomena La Nina Landa Indonesia, Ini Dampak Positifnya

    7cloud.asia – Fenomena La Nina yang sedang terjadi berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Namun, sebenarnya fenomena ini dapat berdampak positif untuk masyarakat.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan peluang positif akibat La Nina dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.

    Menurutnya, melimpahnya air hujan akibat La Nina dapat dimanfaatkan secara optimal guna mendukung ketahanan pangan dan air serta energi.

    Di sektor pertanian, papar Dwikorita, petani memiliki peluang percepatan tanam, perluasan area tanam padi baik di lahan sawah irigasi, tadah hujan, maupun ladang.

    Baca: Waspada La Nina yang picu bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Selain itu, Dwikorita mengatakan dengan langkah mitigasi yang tepat, tingginya curah hujan akibat La Nina juga bermanfaat dalam meningkatkan kapasitas tampungan air di bendungan dan waduk.

    Hal ini akan mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air secara maksimum sehingga menjamin pasokan energi listrik.

    Masyarakat, tambah dia, dapat memanen air hujan atau rainwater harvesting dan digunakan saat musim kemarau tiba guna mengantisipasi kekeringan.

    “Untuk itu, penting untuk terus menjaga kualitas infrastruktur seperti bendungan dan waduk agar siap digunakan sepanjang tahun. Selain itu, optimalisasi drainase dan tampungan air harus disiapkan guna menghadapi musim kemarau berikutnya,” jelas Dwikorita.

    Baca: Kapan La Nina melanda Indonesia

    La Nina merupakan fenomena anomali iklim global yang diakibatkan oleh suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang mendingin, lebih dingin dibandingkan biasanya.

    Fenomena ini berlangsung mulai November atau akhir tahun 2024 hingga setidaknya Maret atau April 2025. 

    Sebelumnya BMKG telah menjelaskan meski lemah, fenomena La Nina ini mengakibatkan potensi penambahan curah hujan antara 20 hingga 40 persen.

    Dampaknya adalah bencana hidrometeorologi berupa banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang dan lain-lain. 

  • Cuaca Hari Ini: Termasuk Jakarta, Sebagian Besar Wilayah di Indonesia Berpotensi Hujan Lebat

    Cuaca Hari Ini: Termasuk Jakarta, Sebagian Besar Wilayah di Indonesia Berpotensi Hujan Lebat

    7cloud.asia – Beberapa hari menjelang Natal, sebagian besar wilayah di Indonesia termasuk Jakarta, berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat, yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca tersebut diprediksi terjadi dalam kurun waktu 20 hingga 26 Desember 2024.

    Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah:

    Aceh
    Sumatera Utara
    Sumatera Barat
    Riau
    Kepulauan Riau
    Jambi
    Sumatera Selatan
    Kepulauan Bangka Belitung
    Bengkulu
    Lampung
    Banten
    DKI Jakarta
    Jawa Barat
    Jawa Tengah
    DI Yogyakarta
    Jawa Timur
    Bali
    Nusa Tenggara Barat
    Nusa Tenggara Timur
    Kalimantan Barat
    Kalimantan Tengah
    Kalimantan Selatan
    Kalimantan Timur
    Kalimantan Utara
    Sulawesi Utara
    Gorontalo
    Sulawesi Tengah
    Sulawesi Barat
    Sulawesi Barat
    Sulawesi Tenggara
    Maluku Utara
    Papua Barat Daya
    Papua Barat
    Papua Tengah
    Papua Pegunungan
    Papua
    Papua Selatan

    Sedangkan hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah:

    Riau
    Kepulauan Riau
    Lampung
    Jawa Timur
    Kalimantan Barat
    Kalimantan Utara
    Sulawesi Barat
    Sulawesi Selatan
    Sulawesi Utara
    Maluku
    Papua Selatan

    Sementara angin kencang berpotensi melanda wilayah:

    Kepulauan Riau
    Kepulauan Bangka Belitung
    Jawa
    Kalimantan Utara
    Kalimantan Selatan
    Sulawesi Selatan
    Bali
    Nusa Tenggara
    Maluku Utara
    Maluku
    Papua Barat Daya

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir.

    Selain itu, jika beraktivitas di luar ruangan hindari wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat.

     

  • Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat Bakal Guyur Sebagian Besar Wilayah di Indonesia

    Cuaca Hari Ini: Hujan Lebat Hingga Sangat Lebat Bakal Guyur Sebagian Besar Wilayah di Indonesia

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur sebagian besar wilayah di Indonesia pada Selasa (07/01/2025).

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi cuaca tersebut berpotensi terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur.

    Wilayah lainnya yang berpotensi hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat adalah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Sulawesi Barat.

    Sementara di Jakarta hampir seluruh wilayah diperkirakan hujan dengan intensitas ringan pada pagi hari. Hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diperkirakan berawan tebal.

    Kemudian pada siang hari, seluruh wilayah Jakarta diprediksi hujan dengan intensitas ringan. Namun, malamnya hanya wilayah Kepulauan Seribu yang diprediksi hujan berintensitas ringan. Wilayah lainnya diperkirakan berawan.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 33 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara berkisar antara 60 hingga 100 persen.

    Masyarakat yang berada di Kota Jayawijaya diprediksi akan merasakan suhu terendah. Sedangkan suhu tertinggi diprediksi akan dirasakan masyarakat yang berada di Kota Kupang, Palangkaraya dan Gorontalo.  

  • Produksi Rempah Indonesia Menurun, Ini Penyebabnya

    Produksi Rempah Indonesia Menurun, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Indonesia saat ini sedang berupaya memperjuangkan “Jalur Rempah” untuk diakui sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO.

    Rempah-rempah telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah dan budaya Indonesia. Di masa lalu, tanah Nusantara dikenal dengan tanaman rempahnya sehingga menjadi rebutan penjajah.

    Sebagai salah satu penghasil rempah terbesar di dunia, Indonesia dikenal dengan komoditas seperti kayu manis, cengkeh, pala, lada, dan vanili.

    Potensi rempah Indonesia juga sangat besar, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, menjadikannya komoditas ekspor yang sangat bernilai.

    Keunikan rasa dan aroma rempah-rempah Indonesia yang eksotik telah menarik perhatian bangsa asing sejak berabad-abad lalu. Sejarah ini membuktikan betapa berharganya rempah-rempah Indonesia di mata dunia.

    Baca: Upaya menghidupkan kembali jalur rempah Nusantara

    Permintaan global terhadap rempah diperkirakan akan meningkat pesat hingga 12 kali lipat pada 2050.

    Dilansir di brin.go.id, meski memiliki potensi besar, ekspor rempah Indonesia saat ini mengalami penurunan signifikan.

    Indonesia hanya menguasai sekitar 6,4 persen pasar rempah dunia, jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand.

    Salah satu tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah rendahnya kualitas dan produktivitas rempah.

    Produktivitas rempah Indonesia menghadapi berbagai kendala, seperti pohon rempah yang sudah tua, kurangnya pengetahuan tentang budi daya, serta pengelolaan pascapanen yang belum optimal.

    Baca: Indonesia usulkan Jalur Rempah menjadi warisan budaya dunia

    Oleh karena itu, butuh kolaborasi antara produsen, pemerintah, swasta, dan lembaga terkait untuk meningkatkan kualitas dan produksi rempah, terutama komoditas unggulan Indonesia yang memiliki potensi ekspor besar.

    Beberapa faktor yang memengaruhi adalah kebijakan investasi yang belum mendukung, metode budi daya yang masih tradisional, dan kualitas produk yang belum memenuhi standar internasional.

    Hal ini menghambat daya saing rempah Indonesia di pasar global. Untuk mengatasi tantangan ini, Indonesia perlu mengadopsi pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

    Dengan memanfaatkan teknologi terbaru, kualitas rempah dapat ditingkatkan dan memastikan produk bebas dari mikroba berbahaya, bahan kimia, dan ramah lingkungan.

  • Cap Go Meh di UI, Bakul Budaya Rayakan Keberagaman Budaya Indonesia

    Cap Go Meh di UI, Bakul Budaya Rayakan Keberagaman Budaya Indonesia

    7cloud.asia – Sejak pagi ratusan orang dengan pakaian mayoritas berwarna merah atau cerah memenuhi pelataran Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada Rabu (12/02/2025). Mereka menghadiri “Cap Go Meh ala Bakul Budaya di Kampus UI”.

    Warna senada juga mendominasi tempat perayaan Cap Go Meh ini. Pernak pernik khas imlek berwarna merah menyala serta lampion bergantungan di berbagai sudut.

    Semakin siang, para pengunjung semakin ramai. Mereka merupakan civitas akademika UI, berbagai komunitas budaya, dan masyarakat umum.

    Apalagi dalam acara tersebut terdapat Pasar Bakul yang menjual berbagai kuliner dan fashion dari peranakan Tionghoa.

    Baca: Komunitas Bakul Budaya FIB UI rayakan HUT RI dengan tumpeng raksasa

    Berbagai kuliner yang menandai perayaan Cap Go Meh sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek dijual di Pelataran FIB UI ini, seperti Lontong Cap Go Meh, Bakso, siomay, lumpia, empek-empek, Liang tea, jus jeruk.

    Tak hanya makanan dan minuman, Pasar Bakul ini juga menjual berbagai batik, kebaya encim, dan pernak-pernik lainnya.

    Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya 3 stanza dan dihadiri pula oleh Dekan FIB UI, Dr. Bondan Kanumoyoso.

    Dalam sambutannya, Bondan sangat mengapresiasi diadakannya perayaan Cap Go Meh di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.

    “Kegiatan Cap Go Meh ini memguatkan jati diri bangsa Indonesia. Dan Bakul Budaya FIB UI secara kongkrit telah menunjukkan komitmrnnya yang teguh untuk terus memajukan Budaya Indonesia,” katanya.

    Baca: Meriah, sedekah hutan UI ditutup dengan pentas seni

    Sementara itu, Ketua Umum Bakul Budaya,  Dewi Fajar Marhaeni mengatakan cara Cap Go Meh ala Bakul Budaya ini sebagai bentuk perayaan keberagaman budaya di Indonesia.

    “Dengan  Cap Go Meh, kita merayakan keberagaman di negeri ini. Sesuai dengan misi Bakul Budaya –melestarikan budaya dan merajut kebhinekaan, slogan “Bhineka Tunggal Ika” harus diejawantahkan dan tidak jadi slogan kosong.

    Hal ini juga merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Bakul Budaya dalam pemajuan kebudayaan di akar rumput,” jelas Dewi.

    Tak hanya mengenalkan budaya, acara ini juga mengusung gerakan peduli lingkungan “Ramah dari Rumah,” yang mengajak peserta untuk membawa perlengkapan pribadi guna meminimalkan sampah.

    Baca: Mahfud terkenang Gus Dur saat hadir perayaan Cap Go Meh di Glodok

    Pengunjung yang hadir dapat menambah pengetahuan pula dengan mengikuti bincang-bincang Budaya bersama Dr. Rahadjeng Pulungsari Hadi (Dosen Prodi Cina FIB UI) dan Notty J. Mahdi (Antropolog, peneliti dan kolektor wastra Nusantara).

    Acara semakin meriah dengan adanya atraksi barongsai dan Peragaan Kain Batik Peranakan Tionghoa dan Kebaya Encim oleh mahasiswa Prodi Cina FIB UI.

    Sejumlah mahasiswa dan pengunjung lainnya tampak antusias menonton atraksi barongsai. Bahkan beberapa diantaranya tampak memberikan angpau kepada barongsai.

    Hingga acara berakhir dengan ditutup oleh penampilan Tari Yapong yang dibawakan oleh Namiyah (peserta termuda Bakul Budaya), Bakul Swara.

     

  • Infrastruktur Bagus Tapi Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Apa Penyebabnya?

    Infrastruktur Bagus Tapi Minat Baca Masyarakat Indonesia Rendah, Apa Penyebabnya?

    7cloud.asia – Sudah menjadi rahasia umum bahwa minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih sangat rendah, jika diukur dari tingkat literasi dunia.

    Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca.

    Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

    Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung minat baca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.

    Baca: Minat baca dan literasi masyarakat Indonesia rendah

    Menyoroti rendahnya minat baca masyarakat Indonesia ini, anggota Komisi X DPR Bonnie Triyana menekankan pentingnya pemerintah merumuskan kebijakan yang konkret.

    “Minat baca masyarakat sangat rendah artinya harus ada kebijakan konkret dari Perpustakaan Nasional agar bagaimana caranya minat membaca masyarakat ini meningkat tajam”, ujar Bonie dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X dengan Kepala Perpusnas Indonesia di Gedung DPR, Kamis (24/4/2025).

    Untuk meningkatkan minat baca, Bonnie mengatakan perlu kesadaran bahwa kini ada banyak sekali sumber bacaan dan pengetahuan.

    Buku tidak lagi hanya berupa buku cetak, tetapi juga buku elektronik atau e-book maupun jurnal-jurnal atau hasil riset yang tersedia di berbagai platform terpercaya.

    Baca: Cara mudah menumbuhkan minat baca pada anak

    “Berdasarkan temuan lapangan banyak perpustakaan di daerah yang terbengkalai, ini menunjukkan bahwa pemerintah juga kurang serius untuk meningkatkan minat baca masyarakat”, imbuh Bonnie.

    Lebih lanjut, ia menilai efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah berpotensi mengakibatkan hilangnya 8.400 naskah kuno karena tidak dilakukan preservasi.

    Menurut Bonnie, Indonesia memiliki kelembapan udara yang cukup tinggi khususnya di Perpusnas sehingga berpotensi mempercepat kerusakan naskah kuno.

    “Ada baiknya pemangkasan anggaran selain tidak menganggu pelayanan publik juga tidak menganggu preservasi karena peradaban bangsa terekam dengan jelas melalui naskah kuno yang terancam rusak”, imbuhnya.