Tag: lingkungan

  • Dinas Lingkungan Hidup Makassar Galakkan Pembuatan Biopori

    Dinas Lingkungan Hidup Makassar Galakkan Pembuatan Biopori

    7cloud.asia – Dinas lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Sulawesi Selatan mencanangkan program 1.000 biopori untuk mendorong pemanfaatan limbah menjadi pupuk kompos.

    Program 1.000 biopori sebagai bagian dari pengembangan tempat pengolahan sampah reduce-reuse- recycle (TPS3R) yang digalakkan oleh Pemerintah Kota Makassar melalui DLH.

    Kabid Persampahan Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas DLH Makassar, Bau Asseng, dalam Diskusi tentang persampahan di Makassar, Jumat (26/9/2025), mengatakan program ini difokuskan untuk mengolah limbah organik rumah tangga menjadi kompos.

    Pembuatan biopori secara massal di Kota Makassar diharapkan dapat mengurangi timbunan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Antang.

    Baca: Pemkot Tangerang galakkan pembuatan biopori untuk antisipasi banjir

    Biopori dipilih karena ramah lingkungan dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Lubang biopori ditempatkan di area TPS3R atau di kawasan perumahan, sehingga masyarakat bisa langsung memanfaatkan sisa makanan dan daun kering sebagai bahan kompos.

    “Dengan adanya biopori dan memberikan dampak baru berupa pupuk alami yang bisa digunakan warga untuk tanaman maupun pertanian di wilayah perkotaan,” katanya.

    Biopori adalah teknologi sederhana yang diciptakan Kamir R. Brata, seorang peneliti dari IPB, berupa lubang silindris vertikal yang dibuat di dalam tanah untuk menyerap air dan mengurai sampah organik,

    Lubang ini diisi sampah organik yang menjadi makanan bagi organisme tanah seperti cacing dan akar tanaman, sehingga menciptakan pori-pori alami dalam tanah yang berfungsi sebagai saluran air dan meningkatkan daya serap tanah.

    Baca: Pembuatan biopori jadi opsi penanganan sampah di kota Yogyakarta

    Biopori bisa jadi alternatif solusi konservasi air akibat berkurangnya resapan air di kota-kota besar dan kawasan padat bangunan

    Biopori bermanfaat menjaga resapan tanah dan mencegah genangan air saat musim hujan karena kompos di dalamnya dapat menyimpan air lebih banyak.

    Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah dari sumbernya sangat dibutuhkan.

    Dia mengatakan dengan pencanangan 1.000 biopori itu, DLH Makassar berharap kesadaran warga untuk memilah sampah dan mengolah limbah semakin meningkat.

  • Supermodel Amber Valletta Dinobatkan Menjadi Duta Program Lingkungan PBB

    Supermodel Amber Valletta Dinobatkan Menjadi Duta Program Lingkungan PBB

    7cloud.asia – Supermodel dan aktris Amerika Amber Valletta dinobatkan menjadi Duta Besar Kehormatan Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP).

    Penunjukan ini diumumkan pada Selasa (23/9/2025) di sela-sela Sidang Umum PBB ke-80, di New York, AS.

    Di mana negara-negara berkumpul untuk membahas isu-isu kunci yang memengaruhi umat manusia, termasuk perubahan iklim, lingkungan, hilangnya lahan dan keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.

    Amber Valletta, anggota Suku Cherokee yang menjadi ikon industri mode yang telah meraih kesuksesan luar biasa dalam dunia akting, kewirausahaan, dan aktivisme.

    Sepanjang kariernya, Amber Valletta telah tampil di sampul lebih dari 100 majalah Vogue internasional dan membintangi film-film blockbuster Hollywood serta serial TV.

    “Merupakan suatu kehormatan yang luar biasa untuk dinobatkan sebagai Duta Besar Kehormatan UNEP,” ujar Amber Valletta dalam pidatonya saat penobatan.

    Baca: Aktivisme sosial Taylor Swift

    Dia menambahkan, peran ini merupakan tonggak sejarah pribadi sekaligus tanggung jawab yang mendalam.

    Pekerjaan saya sebagai seorang pencinta lingkungan, ujarnya, selalu berakar pada keyakinan bahwa kita masing-masing memiliki kekuatan untuk melindungi dan memulihkan planet kita.

    Sebagai bagian dari misi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Amber Valletta berharap dapat menggunakan platformnya untuk memperkuat isu-isu lingkungan yang mendesak, memperjuangkan solusi yang menciptakan dampak nyata, dan menginspirasi aksi kolektif menuju dunia yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.

    Selama bertahun-tahun, Valletta telah menyuarakan aspirasinya di dunia mode yang etis dan berkelanjutan.

    Kiprahnya di sektor ini meliputi pendirian platform daring Master & Muse, yang menawarkan mode yang stylish dan bertanggung jawab secara ekologis, serta bermitra dengan merek-merek besar dalam koleksi kapsul berkelanjutan.

    Perusahaan produksi film yang ia dirikan bersama, A Squared Films LLC, juga telah memproduksi banyak film yang mendukung tema sosial dan lingkungan yang progresif.

    Baca: Sahil Jha, berkeliling dunia untuk kampanyekan pelestarian tanah

    Pada tahun 2020, Valletta ditunjuk sebagai Editor Kontribusi Keberlanjutan pertama British Vogue dan Duta Keberlanjutan Fashion Institute of Technology.

    Pada tahun 2022, ia diundang untuk menjadi tuan rumah konferensi tahunan Hari Laut Sedunia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana ia menekankan perlunya lebih banyak industri untuk berinvestasi dalam upaya konservasi.

    “UNEP bangga menyambut salah satu supermodel paling ikonis di dunia ke dalam keluarga kami – bukan hanya sebagai figur mode, tetapi juga sebagai advokat lingkungan yang penuh semangat,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.

    Dia melanjutkan, fesyen berkelanjutan bukan sekadar tren, melainkan gerakan yang berkembang pesat yang mengatasi dampak sektor fesyen dan tekstil yang semakin besar terhadap lingkungan kita.

    “Advokasi Amber menunjukkan bahwa gaya dapat didefinisikan ulang agar lebih selaras dengan ekosistem. Suara dan pengalamannya, yang menjembatani budaya dengan isu-isu iklim, akan membantu mengubah kesadaran menjadi tindakan yang kita butuhkan.” pungkas Inger

    Baca: Paus Leo XIV dan pandangannya soal lingkungan 

  • Kepemimpinan Baru WALHI: Tegakkan Daulat Rakyat Wujudkan Keadilan Ekologis

    Kepemimpinan Baru WALHI: Tegakkan Daulat Rakyat Wujudkan Keadilan Ekologis

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025-2029, Boy Jerry Even Sembiring, mengatakan bahwa WALHI akan menjadi rumah bagi seluruh gerakan untuk membangun gerakan pulihkan Indonesia secara kolektif dan kolaboratif.

    Gerakan ini akan dilakukan bersama seluruh kantor daerah WALHI, organisasi gerakan rakyat, Masyarakat Adat, petani, nelayan dan orang muda.

    WALHI, ujarnya, harus menuntut negara kembali pada mandat-mandat konstitusionalnya. Secara politik, Eksekutif Nasional dan Dewan Nasional akan mendesak negara untuk berhenti melakukan tindakan yang militeristik.

    “WALHI akan menunjukkan wajah garangnya bagi setiap kebijakan yang meminggirkan rakyat,“ ujar Boy dalam jumpa pers yang dipantau secara daring Jumat (26/9/2025).

    Boy menambahkan, WALHI juga akan hadir dalam setiap gerakan rakyat lintas isu untuk berjuang bersama dan mendesak negara untuk melakukan koreksi kebijakan yang destruktif dan meminggirkan rakyat.

    Salah satu agenda yang terus diperjuangkan WALHI adalah pengesahan Undang-Undang Masyarakat Adat dan Keadilan Iklim.

    WALHI akan terus berdiri di garda terdepan dalam penyelamatan lingkungan dan keselamatan rakyat. Dengan akan terus mengusung narasi anti kapitalistik, lalu memperluas dan memperkuat pendidikan serta pengorganisasian rakyat.

    Melakukan kampanye masif baik di level lokal, nasional dan internasional. Dan, pastinya WALHI akan menghimpun gerakan rakyat yang lebih masif untuk mewujudkan Indonesia yang adil dan lestari.

    Seperti diketahui, pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) XIV WALHI menegaskan perlawanan terhadap sistem ekonomi kapitalistik ekstraktif dan oligarki politik yang menjadi akar kerusakan ini.

    Forum yang berlangsung sejak 18 hingga 24 September 2025 di Pulau Sumba tersebut memilih Boy Jerry Even Sembiring sebagai Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029 bersama tujuh Dewan Nasional.

    Dengan mandat baru ini, WALHI meneguhkan diri sebagai rumah gerakan rakyat untuk menghentikan perampasan ruang hidup, melawan penghancuran ekologis, serta memperjuangkan hak rakyat atas lingkungan hidup yang sehat dan kedaulatan bangsa yang berkeadilan.

    Dewan Nasional WALHI, Torry Kuswardono mengatakan bahwa sejak awal disadari bahwa tantangan ke depan jauh lebih besar. Karena itu WALHI mengambil sikap bahwa proses pemilihan ini haruslah lebih dari sekedar kontestasi.

    Hasilnya dari seruan ini kami terpilih secara aklamasi oleh seluruh anggota WALHI dengan total anggota WALHI yang datang berjumlah 487 orang.

    Arie Rompas, Dewan Nasional WALHI juga menyampaikan bahwa keadilan itu tidak datang dengan sendirinya. Keadilan harus diperjuangkan, dan WALHI bersama dengan rakyat akan memperjuangkannya.

    “Keadilan ekologis harus didasarkan pada daulat rakyat, dan demokrasi yang substansi. Saling menguatkan, membangun soliditas dan solidaritas adalah kunci kerja kita nantinya”, kata Arie.

  • Mahasiswa IPB Ubah Limbah Sawit Jadi Panel Akustik Ramah Lingkungan

    Mahasiswa IPB Ubah Limbah Sawit Jadi Panel Akustik Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tiga mahasiswa Departemen Fisika IPB University, yakni Pristy Tasya Nabila, Salsabilla Permata Bayah, dan Annisa Nur Azahra, berhasil mengolah limbah kelapa sawit menjadi panel akustik ramah lingkungan.

    Inovasi ini lahir dari kepedulian mereka terhadap melimpahnya limbah sawit di Indonesia, terutama setelah ketiganya meninjau langsung kondisi perkebunan sawit di daerah Kalimantan.

    Ketiganya melihat dampak kelapa sawit di Indonesia sangat besar, terutama dari sisi limbah yang dihasilkan.

    “Mulai dari batang sawit hingga tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Dari situ, kami mencoba mencari cara agar limbah tersebut bisa diolah menjadi bahan yang lebih bermanfaat,” jelas Pristy.

    Berangkat dari ide tersebut, tim mengolah limbah batang sawit dan TKKS menjadi panel akustik. Prosesnya cukup sederhana. Batang sawit dikeringkan lalu digiling hingga menjadi bubuk.

    Baca: Memanfaatkan limbah sawit jadi bioetanol bisa turunkan emisi

    Sementara TKKS dipotong menjadi serat. Kedua bahan itu kemudian dicampur dengan tepung tapioka sebagai perekat alami, dicetak, lalu dipanaskan dalam oven.

    “Tepung tapioka kami pilih karena alami, mudah diperoleh, dan memiliki kandungan starch yang efektif sebagai pengikat,” tambah Annisa.

    Hasil uji laboratorium menunjukkan panel akustik buatan mahasiswa IPB University ini memiliki koefisien serap suara 0,8 (80 persen) mendekati kualitas panel akustik komersial.

    “Produk kami tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga punya performa setara dengan panel pabrikan. Bahkan, pengujian menunjukkan panel mampu mereduksi suara hingga 21 persen,” ujar Salsabilla.

    Saat ini, ia dan tim juga terus mengembangkan panel ini melalui berbagai uji coba ketahanan (uji bakar, rendam, dan kekuatan).

    Baca: Mengkaji produksi bioetanol berbahan limbah sawit

    Produk yang diberi nama Trangton tersebut bahkan telah mengantarkan tim meraih prestasi gemilang, yaitu Juara Pertama sekaligus Best Presentation pada ajang International Oil Palm Trunk Product Design Competition 2025.

    Pencapaian ini sekaligus membuka peluang besar bagi Trangton untuk melangkah ke tahap komersialisasi.

    Meski demikian, tim masih menghadapi kendala, terutama pada pengangkutan batang sawit yang berukuran besar.

    “Solusinya, batang sawit bisa dikeringkan di lokasi perkebunan terlebih dahulu agar lebih ringan dipindahkan. Proses pembuatannya sebenarnya sederhana, tapi hasilnya luar biasa,” kata Pristy.

    Ke depan, mereka optimistis inovasi olahan limbah sawit ini dapat dikembangkan lebih luas dengan dukungan investor maupun mitra industri.

    Dengan begitu, limbah sawit yang sebelumnya terbuang percuma bisa memiliki nilai tambah sekaligus menjadi alternatif panel akustik berkelanjutan yang ramah lingkungan.

    Baca: Plus minus penggunaan biodiesel berbahan dasar sawit

  • Hebatnya Dampak Lingkungan Akibat Perang di Gaza

    Hebatnya Dampak Lingkungan Akibat Perang di Gaza

    7cloud.asia – Hampir dua tahun dilanda konflik, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah dan belum pernah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza.

    Laporan baru dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Environment Programme/UNEP) menyebut, perang di Gaza telah merusak vegetasi, tanah, pasokan air tawar, dan garis pantainya.

    Dampak Lingkungan dari konflik Gaza, yang dirilis 23 September 2025, menyatakan bahwa pemulihan dari sebagian kerusakan lingkungan tersebut dapat memakan waktu puluhan tahun.

    Penilaian ini dilakukan sebulan setelah panel ahli independen menetapkan bahwa sebagian wilayah Gaza berada dalam kondisi kelaparan.

    “Mengakhiri penderitaan manusia yang telah melanda Gaza harus menjadi prioritas utama,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    Baca: Greenpeace desak dampak lingkungan konflik Gaza dibahas di UNEA

    UNEP melihat pemulihan sistem air tawar dan membersihkan puing-puing untuk memungkinkan akses kemanusiaan dan memulihkan layanan penting sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa di Gaza

    “Pemulihan vegetasi, ekosistem air tawar, dan tanah juga akan sangat penting untuk ketahanan pangan dan air, serta untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Gaza.” imbuhnya.

    Di antara temuan utama laporan UNEP tersebut adalah:
    Pertama, pasokan air bersih di Gaza sangat terbatas dan sebagian besar yang tersisa tercemar.

    Kedua, runtuhnya infrastruktur pengolahan limbah, rusaknya sistem perpipaan, dan penggunaan lubang pembuangan limbah untuk sanitasi kemungkinan besar telah meningkatkan kontaminasi akuifer yang memasok sebagian besar air ke Gaza.

    Wilayah laut dan pesisir juga kemungkinan terkontaminasi, meskipun pengujian saat ini belum memungkinkan.

    Baca: Pembangunan kembali Gaza butuh 50 miliar dolar lebih

    Ketiga, krisis air telah berkontribusi pada lonjakan penyakit menular, termasuk kasus diare berair akut (yang meningkat 36 kali lipat) dan sindrom penyakit kuning akut, yang merupakan indikasi hepatitis A, (yang meningkat 384 kali lipat).

    Keempat, Sebagian besar vegetasi Gaza telah hancur. Sejak 2023, daerah kantong tersebut telah kehilangan 97 persen tanaman pohonnya, 95 persen semak belukarnya, dan 82 persen tanaman tahunannya. Produksi pangan dalam skala besar tidak memungkinkan.

    Hal ini terjadi ketika lebih dari 500.000 orang di Gaza menghadapi kondisi kelaparan, dengan sekitar 1 juta lainnya mengalami darurat pangan.

    Kelima, sekitar 78 persen dari sekitar 250.000 bangunan di Gaza telah rusak atau hancur. Hal ini telah menghasilkan 61 juta ton puing – volumenya kira-kira setara dengan 15 Piramida Agung Giza atau 25 Menara Eiffel.

    Sekitar 15 persen dari puing ini berpotensi terkontaminasi asbes, limbah industri, atau logam berat jika aliran limbah tidak dipilah secara efektif sejak dini.

    Keenam, Hilangnya vegetasi dan pemadatan akibat aktivitas militer telah memengaruhi struktur tanah dan mengurangi kemampuannya menyerap air, meningkatkan risiko limpasan dan banjir, serta mengurangi pengisian ulang air tanah.

    Baca: Butuh waktu belasan tahun untuk singkirkan puing bangunan di Gaza

  • Kerusakan Lingkungan Akibat Perang di Gaza Sangat Parah, Butuh Waktu Puluhan Tahun untuk Pemulihan

    Kerusakan Lingkungan Akibat Perang di Gaza Sangat Parah, Butuh Waktu Puluhan Tahun untuk Pemulihan

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) baru-baru ini merilis laporan mengenai hasil pemantauan kerusakan akibat konflik di Gaza, Palestina.

    Laporan ini disusun atas permintaan Palestina. Ini merupakan yang kedua kalinya sejak Oktober 2023 UNEP melakukan penilaian lingkungan terhadap kerusakan akibat konflik di Gaza.

    Karena kendala keamanan, staf UNEP tidak dapat melakukan perjalanan ke Gaza. Penilaian dilakukan melalui kombinasi penginderaan jarak jauh, termasuk analisis citra satelit, dan observasi lapangan oleh badan-badan PBB lainnya.

    Hampir dua tahun dilanda konflik, telah mengakibatkan kerusakan lingkungan yang sangat parah dan belum pernah terjadi sebelumnya di Jalur Gaza.

    Baca: Hebatnya dampak lingkungan yang dipicu perang Gaza

    Laporan terbaru UNEP ini menyebut, perang di Gaza telah merusak vegetasi, tanah, pasokan air tawar, dan garis pantainya. Pemulihan dari kerusakan lingkungan di Gaza tersebut dapat memakan waktu puluhan tahun.

    Berdasarkan hampir semua ukuran, lingkungan wilayah Gaza telah memburuk secara drastis sejak penilaian terakhir pada Juni 2024.

    Misalnya, jumlah puing telah meningkat 57 persen dan sekarang 20 kali lebih besar daripada total puing yang dihasilkan oleh semua konflik di Gaza sejak 2008.

    “Situasinya semakin memburuk, Jika ini terus berlanjut, akan meninggalkan warisan kerusakan lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan generasi penduduk Gaza.” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger andersen seperti dikutip di laman resmi UNEP.

    Baca: Greenpeace mendesak dampak lingkungan akibat perang Gaza dibahas di UNEA

    Laporan ini merupakan bagian dari upaya UNEP yang lebih luas untuk membantu negara-negara mengatasi dampak lingkungan akibat bencana dan konflik. Sejak 1999, UNEP telah mendukung lebih dari 40 negara yang terdampak krisis.

    Penilaian tersebut mencakup 30 rekomendasi untuk memulihkan kerusakan lingkungan Gaza. Rekomendasi tersebut meliputi rekonstruksi cepat infrastruktur air dan pembuangan limbah.

    Juga pengujian sistematis tanah Gaza untuk kontaminasi, pembuangan – dan sedapat mungkin didaur ulang – puing-puing, dan pembuangan amunisi yang aman.

    Penilaian tersebut menyatakan bahwa pemulihan lingkungan Gaza akan bergantung pada perencanaan yang cermat, inklusif, dan berbasis sains.

  • Dampak Lingkungan Industri Ekstraktif Berbeda di Setiap Daerah, Pendekatan Tak Bisa Diseragamkan

    Dampak Lingkungan Industri Ekstraktif Berbeda di Setiap Daerah, Pendekatan Tak Bisa Diseragamkan

     

    7cloud.asia – Persoalan lingkungan hidup di Indonesia memiliki variasi dan karakteristik yang berbeda-beda di setiap daerah. Karena itu penangannya tidak bisa diseragamkan dan tersentraliasi.

    Secara umum, masalah lingkungan itu dipicu oleh industri akstraktif –yakni mengambil langsung sumber daya alam dari lingkungan untuk dimanfaatkan atau diolah lebih lanjut oleh manusia, tanpa proses pengolahan yang rumit di tempat pengambilan– dengan tidak memenuhi kaidah pelestarian lingkungan.

    Dalam kunjungan kerja Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII DPR ke sejumlah daerah, industri ekstraktif yang memicu kerusakan lingkungan itu meliputi pertambangan (emas, batu bara, minyak), perikanan, kehutanan (penebangan kayu), dan pertanian untuk hasil alam yang dapat langsung dipasarkan.

    Masalah lingkungan yang dihadapi daerah di Pulau Sumatra, misalnya, rata-rata terkait dengan pabrik pulp atau kelapa sawit (CPO) yang berpengaruh kepada lingkungan melalui limbah hasil pemrosesan.

    ”Sementara di Banggai ini, karena basisnya minyak dan gas, problemnya tentu berbeda,” ujar Ketua Komisi XII DPR Bambang Patijaya usai memimpin kunjungan Panja Lingkungan Hidup ke sejumlah perusahaan energi di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Senin (29/9/2025).

    Baca: UU Minerba dinilai memperkuat industri ekstraktif

    Bambang menilai, perusahaan migas di Banggai relatif sudah menjalankan teknologi dan prosedur penanganan lingkungan dengan baik, sehingga tidak muncul persoalan khusus. Namun, ia menekankan pentingnya konsistensi agar standar tersebut terus dipertahankan.

    “Kita harapkan ini dapat dipertahankan sehingga isu-isu yang muncul pada tiap-tiap daerah itu semuanya dapat diminimalisir sepanjang mengikuti prosedural lingkungan yang sudah ditetapkan,” tambahnya.

    Sementara Jaring Advokasi Tambang Sulawesi Tengah (Jatam Sulteng) menyebutkan, aktivitas pertambangan mengancam kelestarian lingkungan di Banggai.

    Jatam Sulteng mencatat, pada 2023 ada sekitar 20 perusahaan tambang nikel mendapatkan izin di Banggai. Menurut Jatam Sulteng, penerbitan izin kawasan di Kabupaten Banggai ini bermasalah, lokasi tambang tumpang tindih dengan ruang hidup masyarakat.

    Baca: Aliansi Perempuan Indonesia soroti eksploitasi lingkungan yang meminggirkan perempuan

    Penerbitan izin nikel khusus berpotensi memicu konflik antara masyarakat dan perusahaan. Sebab, lahan masyarakat yang dikelola sebagian wilayah perkebunan, persawahan akan kena dampaknya.

    Panja Lingkungan Hidup juga menyoroti pentingnya penerapan prinsip ekonomi sirkular di sektor energi.

    Bambang menekankan bahwa keberhasilan program lingkungan hidup tidak cukup diukur dari angka-angka administratif, tetapi dari kebermanfaatan dan perputaran nilai tambah yang dihasilkan.

    “Ketika ekonomi sirkular berjalan, barang itu bergerak, kebermanfaatannya ada. Kita tidak ingin hanya sekadar checklist, tetapi harus ada outcome dan keberlanjutan,” jelas legislator asal Bangka Belitung tersebut.

    Komisi XII, melalui Panja Lingkungan Hidup, berkomitmen terus melakukan pengawasan dan serap aspirasi di berbagai daerah, dengan pendekatan yang disesuaikan pada karakteristik permasalahan lingkungan di masing-masing wilayah.

    Baca: Orang muda melihat kerusakan lingkungan sebagai masalah serius

     

     

  • Sistem Pangan Sirkular Jadi Opsi untuk Mengatasi Limbah Makanan

    Sistem Pangan Sirkular Jadi Opsi untuk Mengatasi Limbah Makanan

    7cloud.asia – Masalah pemborosan makanan yang menghasilkan limbah makanan sangat beragam, mulai dari industri hingga individu;

    Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap tinginya produksi limbah makanan, seperti preferensi pembelian, produksi berlebih, standar ritel, kenyamanan, dan biaya.

    Pemborosan yang memicu limbah makanan memengaruhi ketiga aspek keberlanjutan: lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ini adalah masalah sosial yang menyentuh semua orang di seluruh dunia.

    Limbah makanan juga berkontribusi pada masalah perubahan iklim. Sistem pangan secara keseluruhan bertanggung jawab atas sepertiga dari seluruh emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia

    Dilansir Earth.org, limbah makanan akibat pemborosan makanan berkontribusi sekitar 8-10 persen dari emisi ini setiap tahunnya. Saat ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan solusi untuk mengatasi pemborosan makanan.

    Setiap orang memiliki peran untuk dimainkan, mulai dari perusahaan besar hingga komunitas kecil. Meskipun para inovator telah mengeksplorasi berbagai solusi dalam industri sains dan teknologi, masih banyak yang harus dilakukan.

    Baca: Limbah makanan jadi masalah serius untuk lingkungan

    Manfaat mengurangi limbah makanan
    Mengurangi pemborosan makanan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tindakan amal; hal ini juga menawarkan manfaat yang signifikan bagi lingkungan dan seringkali tidak disadari.

    Bagi pelaku bisnis, menerapkan solusi inovatif dalam mengurangi sampah makanan dapat menghasilkan keuntungan yang substansial.

    Dengan mengalihkan kelebihan makanan ke masyarakat yang membutuhkan, perusahaan dapat menghemat uang dan sekaligus mengurangi emisi metana mereka.

    Mendidik masyarakat tentang manfaat ini dapat mendorong bisnis dan konsumen untuk memantau limbah mereka lebih cermat, mendorong perubahan yang lebih komprehensif dan berdampak.

    Menciptakan Sistem Pangan Sirkular
    Pelaku bisnis dapat memperoleh manfaat dari pengurangan limbah makanan secara ekonomi, sosial, dan, dalam skala yang lebih luas, lingkungan.

    Terinspirasi oleh upaya keberlanjutan Patagonia, Proyek Tim Mitchell Center di University of Maine melakukan proyek penelitian yang berupaya memberdayakan bisnis untuk mengadopsi praktik pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan.

    Baca: Dampak limbah makanan pada lingkungan

    Studi ini dilakukan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan dari berbagai industri terkait pangan di Maine, mulai dari toko kelontong dan pertanian hingga restoran dan rumah sakit.

    Tujuan proyek ini adalah untuk menentukan seberapa mudah perubahan ini dapat diadaptasi agar sesuai dengan gaya hidup masing-masing konsumen.

    Dengan menggunakan pendekatan tiga tujuan utama, bisnis didorong untuk memprioritaskan keuntungan moneter mereka secara seimbang dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial mereka.

    Mereka merekomendasikan perubahan sistem pangan dari sistem linier menjadi sistem sirkular. Dalam sistem linier, terdapat hubungan sederhana antara produksi dan konsumsi, yang menghasilkan limbah.

    Namun, dengan ekonomi sirkular, tujuannya adalah mendaur ulang limbah menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan produk baru.

    Sampah makanan bukan hanya masalah perusahaan; individu juga bertanggung jawab, karena limbah rumah tangga menyumbang 37 persen dari total sampah global. Untuk membuat perbedaan nyata, masyarakat perlu mengubah kebiasaan dan pola pikir kita.

    Baca: Cara kota-kota di Eropa menangani limbah makanan

    Cara sederhana untuk mengurangi limbah makanan di rumah adalah dengan menatanya. Anda dapat menata lemari es agar barang-barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat berada di depan dan di tengah.

    Mencatat inventaris makanan dan tanggal kedaluwarsanya secara berkala juga dapat membantu mencegah pembelian berlebihan dan makanan yang terlupakan.

    Meskipun ini mungkin tampak memakan waktu, sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa kebiasaan kecil ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan, baik dari segi makanan maupun uang.

    Kita juga perlu mengubah persepsi tentang makanan. Alih-alih memasak apa pun yang kita inginkan, kita harus membuat keputusan menu berdasarkan apa yang perlu digunakan terlebih dahulu.

    Lebih lanjut, meneliti resep yang menggunakan sisa makanan adalah cara yang bagus untuk menjadi lebih kreatif.

    Misalnya, meningkatkan tingkat pengomposan secara global dapat menghasilkan penghematan karbon yang setara dengan menghilangkan sekitar 15 juta kendaraan penumpang dari jalan raya selama tiga dekade.

    Baca: Yang bisa dilakukan untuk kurangi sampah makanan

  • Hari Danau 2025: Kondisi 15 Danau Prioritas Tidak Baik-baik Saja

    Hari Danau 2025: Kondisi 15 Danau Prioritas Tidak Baik-baik Saja

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup tengah mempersiapkan langkah untuk mengintensifkan upaya penyelamatan 15 danau prioritas nasional yang belum mencapai target strategi penyelamatan yang sudah ditetapkan.

    Merujuk Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 60 tahun 2021 tentang Penyelamatan Danau Prioritas Nasional 15 danau prioritas adalah Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatra Barat), dan Danau Kerinci (Jambi).

    Juga Danau Rawa Danau (Banten), Danau Rawa Pening (Jawa Tengah), Danau Tondano (Sulawesi Utara), Danau Kaskade Mahakam (Kalimantan Timur), Danau Sentarum (Kalimantan Barat).

    Enam danau lainnya adalah Danau Limboto (Gorontalo), Danau Poso (Sulawesi Tengah), Danau Tempe (Sulawesi Selatan), Danau Matano (Sulawesi Selatan), Danau Batur (Bali), dan Danau Sentani (Papua).

    Dalam puncak peringatan Hari Danau Sedunia 2025 sekaligus Rakornas Penyelamatan Danau Indonesia di Jakarta, Rabu (1/10/2025), Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengakui masih banyak danau di Indonesia berada dalam kondisi tidak baik.

    “15 danau prioritas tadi yang disebutkan, seluruhnya dalam kondisi tidak baik. Angka-angka tadi, penilaian secara administratif, tetapi secara fisik 15 danau tadi benar-benar belum kita sentuh dengan kegiatan nyata yang membawa dampak real untuk perubahan 15 danau tadi,” kata Hanif.

    Baca: Pemanasan global perburuk kondisi danau di seluruh dunia

    Beberapa danau bahkan mencatatkan nihil perkembangan dalam implementasi program penyelamatan, seperti Danau Maninjau yang dilaporkan hasil nol persen dalam kategori penataan ruang.

    Sementara Danau Batur dan Tondano hanya mencapai poin terendah yaitu 50 persen dalam kategori kebijakan dan anggaran.

    Di kategori penyelamatan ekosistem perairan, sempadan, dan tangkapan air, Danau Tondano kembali mencatat nilai terendah dengan poin 30 persen.

    Dalam kategori penerapan riset, pemantauan dan basis data, Danau Limboto dan Singkarak memperlihatkan capaian terendah dengan nilai nol persen.

    Untuk kategori pengembangan sosial ekonomi, penguatan kelembagaan dan peran masyarakat, Danau Singkarak menjadi yang terendah dengan capaian 33 persen.

    Secara khusus Hanif menyoroti hampir seluruh danau di Pulau Jawa berada kondisi mengkhawatirkan. Mulai dari adanya masalah sedimentasi, penggunaan keramba yang tidak terkontrol, dan masuknya spesies invasif yang menekan populasi satwa endemik.

    Baca: Pemanasan global mengakibatkan separuh danau di dunia mengering

    Kondisi itu, katanya, membuat penurunan kapasitas dan kualitas daya dukung serta daya tampung danau menurun yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

    Untuk itu dia memastikan akan mengambil respons cepat setelah rapat koordinasi yang dilakukan hari Rabu kemarin.

    Berkaca dari pengalaman yang dibagikan oleh para pakar, pihaknya akan memberikan waktu satu bulan kepada para pemangku kepentingan dari Kementerian/Lembaga (K/L) dan pemerintah daerah untuk memaparkan rencana strategis penyelamatan 15 danau prioritas tersebut.

    Dia memastikan KLH/BPLH akan melakukan koordinasi untuk memastikan rencana aksi tersebut dapat diimplementasikan di lapangan.

    “Kita minta disusun rencana konkret, saya minta waktu sebulan dari sekarang. Rencana aksi ini harus segera kita bicarakan di level expert nasional untuk mendapat review dari semua kementerian terlibat, sehingga langkah aksinya tidak hanya seremoni,” kata Menteri LH Hanif Faisol Nurofiq.

    Baca: Hari Danau Sedunia lahir sebagai respons terhadap persediaan air yang menipis

     

  • Pencemaran Logam Berat di Laut Sangihe Mengancam Ekosistem, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat

    Pencemaran Logam Berat di Laut Sangihe Mengancam Ekosistem, Pangan, dan Kesehatan Masyarakat

    7cloud.asia – Politeknik Negeri Nusa Utara (Polnustar) bersama Greenpeace Indonesia merilis hasil penelitian terbaru tentang kondisi perairan Pulau Sangihe.

    Penelitian ini menemukan peningkatan signifikan kadar logam berat di perairan dan ikan perairan Pulau Sangihe. yang mengancam ekosistem, sumber pangan, dan kesehatan masyarakat.

    Kepulauan Sangihe, yang berada di pusat segitiga terumbu karang dunia, merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia dan telah ditetapkan sebagai area penting secara ekologis dan biologis (EBSAs).

    Namun, status penting ini terancam oleh aktivitas pertambangan emas yang semakin masif.
    Laporan ini mencatat adanya alih fungsi lahan yang signifikan dengan peningkatan luas lahan untuk pertambangan emas mencapai 45,53 persen antara tahun 2015 hingga 2021.

    Pembukaan lahan ini menyebabkan erosi yang membawa material berbahaya ke laut dengan cepat melalui peristiwa runoff yang ditunjang dengan kontur perbukitan terjal di wilayah pesisir.

    Hasil uji laboratorium di perairan Teluk Binebas menemukan konsentrasi logam berat yang telah melampaui baku mutu. Kadar Arsen (As) di permukaan air laut mencapai 0,0228 miligram/liter (standar: 0,012 mg/L) dan Timbal (Pb) mencapai 0,0126 mg/L (standar: 0,008 mg/L).

    Padahal, berdasarkan dokumen AMDAL PT Tambang Mas Sangihe (TMS) kandungan Arsen di Sangihe sekitar <0.0003 pada 2017 dan <0.0001 pada 2020. Pencemaran ini berdampak langsung pada ekosistem pesisir, ditandai dengan kerusakan dan kematian vegetasi mangrove serta fenomena pemutihan terumbu karang (coral bleaching).

    Temuan ini adalah alarm keras. Sangihe, sebuah pulau kecil dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa, sedang menghadapi ancaman kerusakan lingkungan yang sistematis.

    “Situasi ini memerlukan respon serius dari pemerintah untuk mencegah dampak yang lebih luas dan memulihkan kondisi yang sudah rusak,” kata Afdillah, Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia.

    Logam berat yang mencemari laut tidak berhenti di perairan, tapi masuk juga ke dalam rantai makanan. Sampel ikan layang, sumber protein utama masyarakat, ditemukan mengandung merkuri/raksa (Hg), arsen, dan timbal.

    Senyawa turunan merkuri, yaitu metilmerkuri, bersifat neurotoksin yang dapat menembus plasenta dan jaringan darah-otak, sangat berbahaya bagi janin dan anak-anak.

    Analisis risiko berdasarkan tingkat konsumsi ikan lokal menunjukkan bahwa paparan merkuri harian pada balita dapat melebihi batas aman hingga empat kali lipat.

    Data menunjukkan adanya kerusakan nyata dan terukur, baik di lingkungan maupun sosial-ekonomi. Peningkatan logam berat tidak hanya merusak laut sebagai sumber kehidupan, tetapi juga menempatkan masa depan anak-anak kita dalam risiko kesehatan jangka panjang.

    “Padahal UU No. 1 Tahun 2014 secara tegas melarang aktivitas tambang di pulau kecil seperti Sangihe,” kata Prof. Frans G. Ijong, akademisi dan peneliti Polnustar.

    Dampak negatif juga terjadi pada ekonomi masyarakat. Para nelayan kini menghadapi berbagai tekanan. Selain cuaca ekstrem dan persaingan dengan nelayan industri yang menggunakan rumpon, kerusakan ekosistem akibat tambang memperparah kondisi mereka.

    Laporan EcoNusa dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor (PKSPL IPB) menunjukkan volume tangkapan di Sangihe turun hingga 69,04 persen setelah aktivitas tambang marak, terutama untuk ikan cakalang, bobara, baronang, dan kakap merah.

    Penurunan tangkapan ikan ini menyebabkan pendapatan nelayan anjlok rata-rata 27,3 persen.

    Di sisi lain, janji kesejahteraan dari sektor tambang tidak terwujud bagi para pekerja tambang. Sebagian besar bekerja tanpa kontrak dan pelindungan hukum. Mereka terjebak dalam sistem bagi hasil yang tidak adil, yang seringkali membuat mereka memiliki lebih banyak utang dibandingkan pendapatan.

    Berdasarkan temuan-temuan tersebut, Polnustar dan Greenpeace Indonesia merekomendasikan pemerintah untuk:

    1. Menghentikan seluruh aktivitas pertambangan di Sangihe yang tidak sejalan dengan konsep ekonomi biru dan ekonomi hijau di Provinsi Sulawesi Utara serta Asta Cita Presiden RI;

    2. Menetapkan moratorium penerbitan izin pertambangan baru di Sangihe karena termasuk pulau kecil; melakukan rehabilitasi terhadap ekosistem mangrove dan terumbu karang yang rusak;

    3. Melaksanakan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat, terutama anak-anak, di sekitar wilayah tambang; serta menetapkan Kepulauan Sangihe sebagai kawasan pelindungan darat dan laut.

    Sangihe adalah kawasan ekologis yang unik dan tak tergantikan. Aktivitas pertambangan yang didorong keuntungan jangka pendek ini akan menimbulkan kerusakan sumber daya alam secara permanen.

    “Pilihan saat ini adalah bertindak tegas untuk menghentikan perusakan atau membiarkan Sangihe kehilangan masa depan demi kepentingan segelintir pihak,” tutup Ijong.