Tag: banjir

  • Tiga Wilayah di Sumbar Masih Berpotensi Hujan Sangat Lebat dalam Sepekan ke Depan

    Tiga Wilayah di Sumbar Masih Berpotensi Hujan Sangat Lebat dalam Sepekan ke Depan

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat masih berpotensi mengguyur tiga wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) yaitu Kabupaten Agam, Tanah Datar dan Padang Panjang hingga sepekan kedepan.

    Kondisi tersebut yang memicu terjadinya banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor di tiga wilayah tersebut.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan  Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers Bencana Hidrometeorologi Sumatra Barat.

    Dia menjelaskan berdasarkan analisa BMKG per tanggal 6 Mei 2024 telah terdeteksi adanya pola sirkulasi siklonik di sebelah barat Aceh yang berpotensi memicu pertumbuhan awan hujan secara intensif.

    Baca: Banjir di Sumatera Barat, 27 orang tewas

    “Merespons hal tersebut, BMKG di hari yang sama langsung menerbitkan peringatan dini potensi hujan lebat hingga sangat lebat yang dapat berujung bencana hidro-meteorologi seperti banjir, banjir bandang, banjir lahar hujan dan longsor di Sumatra Barat,” terang Dwikorita.

    Informasi dalam bentuk peringatan dini tersebut, kata dia, sangat penting untuk ditindak lanjuti oleh pihak-pihak terkait yang berwenang melakukan upaya mitigasi.

    Hal ini untuk mengurangi risiko bencana di Sumatra Barat, khususnya di daerah rawan bencana seperti di bantaran sungai, pegunungan dan perbukitan, selama periode mulai dari tanggal 9-12 Mei 2024.

    Pada kesempatan itu perempuan yang akrab disapa Rita ini juga mengajak warga mewaspadai lahar dingin yang berasal dari material erupsi Gunung Marapi beberapa waktu.

    Baca: Banjir di Sulawesi Selatan, 8 orang tewas

    Material tersebut masih mengendap di lereng bagian atas gunung, kemudian hanyut terbawa air hujan ke arah hilir, hingga menerjang tiga kabupaten yang berada di sekitarnya.

    Seperti yang diberitakan sebelumnya, banjir bandang melanda sejumlah kabupaten di Sumatra Barat pada Sabtu (11/5/2024) malam menewaskan 41 orang.

    BPBD Sumbar di Padang mengungkapkan 41 orang warga yang menjadi korban meninggal dunia itu sebanyak 19 orang di Kabupaten Agam, 15 orang di Kabupaten Tanah Datar dan 7 orang di Kota Padang Panjang.

    Rita juga memperkirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi bakal terjadi hingga tanggal 22 Mei 2024 atau selama sepekan ke depan.

    Baca: Banjir di Sumatera Barat, Walhi nilai pemerintah lalai

    “Prospek cuaca selama satu pekan ke depan masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat,” katanya.

    Hasil analisa BMKG, lanjutnya, hingga tanggal 13 Mei 2024 berpotensi terjadinya hujan dengan intesitas sedang hingga lebat.

    Sedangkan, pada tanggal 14 Mei diperkirakan ada penurunan intensitas hujan menjadi ringan, lalu pada tanggal 15-17 Mei 2024 diprediksi akan terjadi peningkatan curah hujan lagi hingga tanggal 22 Mei 2024.

    “Artinya kewaspadaan terhadap terjadinya banjir lahar hujan, juga Galodo atau banjir bandang serta longsor ini masih akan berlanjut paling tidak hingga tanggal 17-22 Mei atau sepekan ke depan. Maka, masyarakat dihimbau untuk menghindar atau menjauhi lereng-lereng bukit atau gunung yang rawan longsor,” jelas Rita.

    Baca: Begini cara Pemprov DKI tangani banjir

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memonitor informasi BMKG, dengan memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini yang selalu dikeluarkan resmi BMKG setiap hari.

    Dengan kondisi cuaca seperti ini, BMKG merekomendasikan untuk dilakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Sumbar.

    Menurut dia, TMC dengan cara menabur zat NaCl atau garam ke langit menggunakan pesawat, merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengendalikan potensi cuaca ekstrem.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Mengenal Konsep Rumah Pemanen Air Hujan yang Dikembangkan Warga Bandung

    Mengenal Konsep Rumah Pemanen Air Hujan yang Dikembangkan Warga Bandung


    7cloud.asia – Di Kota Bandung, Jawa Barat banjir kini menjadi masalah serius dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2003 terdapat dua kejadian banjir, meningkat di 2005 dengan 14 kejadian, kemudian 2010 dengan 25 kali banjir, dan sejauh ini yang terbanyak pada 2018 ada 54 kali banjir.

    Seiring waktu dan perkembangan yang terjadi, Kota Bandung dan Kawasan Cekungan Bandung secara lebih luas lagi, butuh solusi yang memiliki dampak nyata agar banjir teratasi.

    Salah satunya adalah mengembalikan daya resap tanah untuk menerima air hujan yang jatuh di permukaan tanah, meskipun lahan tersebut telah berdiri bangunan di atasnya.

    Hal inilah yang dilakukan Hadi Nurtjahjo, warga Arcamanik, Bandung Timur. Di atas lahan pribadinya, ia memanen air hujan dan menggunakan air hujan untuk keperluan sanitasi harian.

    Menurut Hadi, dengan pola rekayasa teknik yang dilakukan, lahannya memungkinkan memiliki daya resap plus kelolaan air hujan yang turun sampai 100 persen, hingga tidak ada limpasan air yang ke luar dari rumahnya, atau zero run-off.

    Baca Juga: Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    Di atas lahan seluas 220 meter persegi di kawasan Jalan Sembrani yang kini di atasnya telah dibangun rumah tinggal itu, Hadi membangun rumah dua lantai, yang memakan sekitar 60 sampai 70 persen luas lahan tersebut.

    Dengan dua ruang terbuka yang dijadikan taman di bagian depan dan belakangnya, rumah bercat merah jambu tersebut, dari luar memang terlihat beda dibandingkan rumah-rumah tetangganya.

    Perbedaan itu terletak pada bagian atapnya, di mana tetangga sekelilingnya memakai bentuk limas yang sisi jalur airnya ke arah luar bangunan, Hadi membuat atap rumahnya dicondongkan ke tengah bangunan di atas lantai dua tanpa talang.

    Hal tersebut, untuk membuat air hujan yang ada di atap, terpusat di atas tengah bangunan yang dibuat memungkinkan untuk menampung air agar tidak tumpah ke bawah, kemudian disalurkannya ke tangki-tangki yang ada di halaman depan untuk menjalani tugas selanjutnya.

    Ada tiga tangki bawah tanah (ground tank) yang jaraknya dibuat berdekatan atau bersebelahan di halaman depan rumah, dengan memiliki fungsi yang berbeda masing-masingnya.

    Baca Juga: Jadi Duta World Water Forum ke-10, Cinta Laura Akan Kampanyekan Konservasi Air Bersih

    Tangki pertama yang memiliki ukuran sekitar 1 meter kubik, berfungsi sebagai penerima pertama air hujan yang terkumpul di atas rumah, dan juga bertugas sebagai penyaring awal berbagai sedimen yang terkandung dalam air hujan.

    Setelah air di tangki pertama penuh, air kemudian masuk ke saluran yang mengalir ke tangki kedua dengan ukuran 3,375 meter kubik, sebagai penampung air sekaligus penyaring tahap kedua.

    Air dari tangki kedua ini, kemudian disedot ke atas oleh pompa yang ditanam di tangki ketiga, untuk kemudian ditampung pada tandon air di atas bangunan, yang kemudian digunakan untuk air penyiram toilet dan penyiram tanaman di rumah tersebut.

    Jika kondisi hujan sangat lebat sehingga membuat tangki bawah tanah kedua di rumah Hadi penuh, dia telah mengantisipasi dengan membuat saluran pembuangan yang mengarah ke kolam di halaman depan bangunan berukuran 2,5 m x 1,7 m x 1 m.

    Struktur yang menyerupai kolam ikan tersebut, adalah kolam retensi yang berfungsi menampung dan meresapkan air hujan limpahan dari tangki kedua.

    Baca Juga: Mengenal Subak, Tata Kelola Air Berkelanjutan di Bali

    Kemudian limpasan air yang tak terserap di lahan parkir terbuka, air talang dari atap lahan parkir tertutup, atau yang jatuh langsung ke dalam kolam itu sendiri.

    Sementara di halaman belakang, Hadi membuat kolam retensi juga yang dikamuflase sebagai taman, dengan sistem merendahkan lahan sekitar 10-15 sentimeter dari ketinggian lantai rumah dan membuat jalur airnya.

    “Jadi saya menggunakan konsep Rain Water Harvest (Panen Air Hujan) dengan titik kuncinya adalah atap yang terpusat,” ujar Hadi.

    “Dengan sistem ini, saya bisa katakan bahwa tidak ada setitik pun air dari limpasan hujan ke luar dari rumah saya, yang artinya ini memiliki fungsi konservasi air tanah,” imbuhnya.

    Bahkan, dengan sistem yang dibangunnya sedemikian rupa, Hadi juga mengatakan rumah miliknya mampu melakukan penghematan air perpipaan (PDAM), di mana 30 persen kebutuhan air di rumah tersebut telah terpenuhi oleh air hujan.

    Sistem yang dibangun pada rumah Hadi di Arcamanik tersebut, secara konsep bisa dibilang telah melakukan penahanan, penyimpanan dan pencadangan air hujan.

    Sumber:Antaranews.com

  • Kolam Retensi: Cara Pemerintah Kota Bandung Tangani Ancaman Banjir

    Kolam Retensi: Cara Pemerintah Kota Bandung Tangani Ancaman Banjir


    7cloud.asia – Di balik keelokannya, Kota Bandung menyimpan “luka” yang kerap muncul saat musim hujan tiba yakni ancaman banjir.

    Banjir memang menjadi masalah serius dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu yang dihadapi pemerintah kota dan warga Bandung.

    Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2003 terdapat dua kejadian banjir, meningkat di 2005 dengan 14 kejadian, kemudian 2010 dengan 25 kali banjir, dan sejauh ini yang terbanyak pada 2018 ada 54 kali banjir.

    Hal ini tek lepas dari posisi Kota Bandung memang terletak di sebuah cekungan yang dikelilingi oleh pegunungan sehingga sering digambarkan seperti berada di tengah mangkuk raksasa.

    Menelisik sejarah, cekungan Bandung terbentuk jutaan tahun lalu akibat letusan dahsyat Gunung Sunda.

    Erupsi ini menciptakan kaldera raksasa yang kemudian terisi air dan menjadi danau purba. Seiring dengan waktu, danau tersebut mengering dan meninggalkan cekungan yang luas.

    Terletak di tengah cekungan, kota ini memang rawan banjir karena air hujan mudah terkonsentrasi ke wilayah tengah dan mengalir dari lereng gunung menuju dua aliran sungai utama, yaitu Sungai Cikapundung dan Sungai Citarum yang sangat rentan meluap saat musim hujan tiba.

    Baca Juga: Sungai Ciliwung, Sejarah dan Maknanya Bagi Warga Jakarta

    Dulu, Bandung memiliki banyak sekali kawasan hijau, seperti hutan, kebun, dan persawahan. Kawasan-kawasan ini dulu berfungsi sebagai kolam alami yang mampu menampung air hujan dan mencegah terjadinya banjir.

    Akan tetapi, saat ini banyak kawasan hijau yang beralih fungsi menjadi permukiman, gedung perkantoran, hingga perhotelan. Hal ini menyebabkan berkurangnya daerah resapan air yang berpotensi memicu banjir di wilayah Kota Bandung.

    Oleh karena itu, permasalahan banjir menjadi pekerjaan rumah bagi kota ini. Aliran air sering kali meluap ke permukaan setelah terkikisnya lahan hijau akibat perubahan tata guna lahan.

    Menyadari hal ini, Pemerintah Kota Bandung pada masa kepemimpinan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada tahun 2015 meluncurkan program inovatif untuk memerangi banjir di kota ini melalui pembangunan kolam retensi.

    Kolam retensi kali pertama dibangun di Taman Lansia, Kelurahan Cisangkuy, Kecamatan Bandung Wetan.

    Ide pembangunan Kolam Retensi Taman Lansia muncul dari keprihatinan atas permasalahan banjir yang kerap melanda Kota Bandung dengan mengamati bahwa taman perkotaan, selain berfungsi sebagai ruang publik, juga memiliki potensi untuk menampung air hujan.

    Baca Juga: Sumur Resapan, Kisah Pengendalian Banjir dan Konservasi Air di Jakarta

    Kolam Retensi Taman Lansia memiliki luas 2.452 meter persegi dengan kedalaman 4 meter sehingga dapat menampung air sebanyak 8.417 meter kubik untuk dialirkan menuju anak Sungai Cikapundung, yakni Sungai Cikapayang.

    Program pembangunan kolam retensi ini menjadi salah satu langkah awal dalam upaya penataan sistem drainase di Kota Bandung dan menjadi cikal bakal dari 13 kolam retensi yang telah dibangun untuk pengendalian banjir yang hingga saat ini masih terus dikembangkan.

    Kolam retensi bukan sembarang kolam. Kolam buatan ini dirancang khusus untuk menampung air hujan, mengendalikan banjir, dan menjaga keseimbangan air tanah.

    Pemerintah Kota Bandung sejak tahun 2015 hingga 2024 telah membangun 13 kolam retensi, yakni Kolam Retensi Taman Lansia, Sarimas, Sirnaraga.

    Juga kolam retensi Kandaga Puspa, Rancabolang, Cisurupan, Gedebage, Bima, Allugoro, Cisanggarung, Bandung Inten, Dian Permai dan Margahayu.

    Adapun kehadiran kolam retensi di wilayah Kecamatan Gedebage mempunyai peran penting dalam pengendalian banjir.

    Baca Juga: Membangun Waduk Menjadi Salah Satu Cara Pemprov Jakarta Atasi Banjir

    Secara topografi, kecamatan ini menjadi titik terendah dan terletak di dasar cekungan Bandung dengan ketinggian 666 meter di atas permukaan laut sehingga kawasan ini kerap menjadi langganan banjir kala hujan deras tiba.

    Dibangun pada tahun 2020, Kolam Retensi Gedebage memiliki luas1.550 meter persegi dengan kedalaman 4 meter dan menampung air sebanyak 5.425 meter kubik untuk dialirkan menggunakan rumah pompa menuju anak Sungai Cipamulihan.

    Petugas Kolam Retensi Gedebage Risky (26) kepada ANTARA menjelaskan, secara teknis kolam ini mirip dengan bak penampung air raksasa dari aliran sungai saat hujan deras.

    Di beberapa titik, air dialihkan ke kolam retensi. Di sini, air ditampung dan diproses secara alami untuk kemudian dialirkan secara perlahan ke sungai sehingga meminimalisasi risiko luapan dan banjir.

    Sebelum pembangunan kolam retensi, Gedebage kerap dilanda banjir yang tidak kunjung surut. Aliran sungai yang meluap tak jarang merendam kendaraan yang melintasi Jalan Soekano-Hatta hingga menyebabkan mogok dan tidak bisa melintas.

    “Sebelum ada Kolam Retensi Gedebage, Jalan Soekarno-Hatta bisa terendam kurang lebih 5 jam karena aliran Sungai Cipamulihan meluap ke jalan,” katanya.

    Baca Juga: Mungkinkah Membangun Waduk yang Ramah Lingkungan? Sulit Tapi Sangat Dimungkinkan

    Keberadaan kolam retensi itu tidak hanya bergantung pada penampungan air ini karena di balik itu terdapat tiga pompa yang mampu menyedot air dengan cepat dan efisien.

    Saat kolam penuh air, pompa ini bekerja tanpa henti untuk mengalirkan air ke sungai sehingga dapat mencegah genangan air di jalan dan permukiman warga.

    Pompa ini dilengkapi dengan sistem kontrol canggih. Pompa ini dapat bekerja secara ideal di kala hujan deras tiba, yakni air kolam dapat terkontrol dengan baik dan tidak sampai meluap.

    “Kalau tadinya banjir di Gedebage selama 5 jam belum surut, setelah ada pompa, kalau hujan cukup deras, 2 jam bisa langsung surut,’ kata Risky.

    Menurut Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Kota Bandung, kehadiran kolam retensi berpengaruh signifikan terhadap volume genangan banjir yang tersisa di Kota Kembang.

    Sembilan tahun lalu, tepatnya pada 2015, volume genangan banjir di Kota Bandung mencapai 99.336 meter kubik dan telah menyusut 62.719 meter kubik setelah dibangun 13 kolam retensi di berbagai wilayah hingga tahun 2024.

    Baca Juga: Pembangunan Bendungan Menyimpan Segudang Ancaman bagi Lingkungan

    “Jadi pembangunan kolam retensi masih perlu dilakukan lagi karena berdasarkan kajian pada tahun 2023 masih volume genangan air di Kota Bandung masih tersisa sekitar 36.000 meter kubik yang belum tertampung,” kata Kepala Seksi Pengendalian Daya Rusak Air Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga Kota Bandung, Yudi Gumelar.

    Penanganan kolam retensi di Kota Bandung terbagi dalam 12 sub-daerah aliran sungai (DAS), yakni kawasan Cigondewah, Cianting, Cibereum, Cicahiyang, Cipariuk, Curugdogrog, Citepus, Cikapundung, Cicadas, Cidurian, Cipamokolan, dan Cinambo.

    Dari ke-12 sub DAS tersebut volume genangan di empat sub DAS telah dinyatakan menyusut sehingga saat ini DSABM Kota Bandung berfokus pada sisa volume genangan banjir di delapan sub DAS tersisa dengan volume genangan yang tersisa sebesar 36.000 meter kubik.

    “Saat ini tersisa delapan sub DAS–jika diatasi semua dengan kolam retensi–dibutuhkan kolam seluas 9.154 meter persegi,” kata dia.

    Selain menyusutnya volume genangan air pada 12 sub DAS, pembangunan kolam retensi juga memberikan dampak penyusutan terhadap titik banjir di Kota Bandung.

    Pemerintah Kota Bandung sudah melakukan serangkaian pengendalian banjir. Hasilnya, bila pada tahun 2020 ada 68 titik banjir, sekarang ini (2024) tinggal tujuh titik banjir.

    Baca Juga: Riset: Pemanasan Global Akibatkan Separuh Danau di Dunia Mengering

    Lebih dari sekadar penangkal banjir, kolam retensi di Kota Bandung dirancang tidak hanya sebagai penampung air, tetapi juga sebagai fasilitas publik dan taman.

    Beberapa kolam retensi pun telah dilengkapi dengan fasilitas seperti lintasan jalan kaki (jogging track), taman bermain anak, tempat duduk, dan toilet umum.

    Tak hanya itu, beberapa kolam retensi juga dijadikan sebagai ruang edukasi tentang pengelolaan air maupun budi daya ikan yang dapat membuka mata pencarian baru bagi warga sekitar.

    Pada masa menjelang kemarau, masyarakat memanfaatkannya dengan budi daya ikan lele, sedangkan pada musim hujan sebagai penampungan air.

    Sumber: Antaranews.com

  • Kota Bandung Berbenah, Menanggulangi Banjir Sekaligus Memanen Air Hujan

    Kota Bandung Berbenah, Menanggulangi Banjir Sekaligus Memanen Air Hujan

    7cloud.asia – Banjir di Kota Bandung merupakan masalah kompleks yang membutuhkan sinergi dan kolaborasi dari berbagai sektor untuk mencapai solusi efektif dan berkelanjutan.

    Penjabat Wali Kota Bandung Bambang Tirtoyuliono menyebut persoalan banjir menjadi fokus untuk diselesaikan dengan kerja sama lintas sektoral.

    Masalah banjir di Kota Bandung sebenarnya sudah terpetakan cara penyelesainnya, namun Pemkot Bandung tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi persoalan tersebut.

    Dibutuhkan dukungan dari lintas wilayah untuk mengatasi persoalan ini.

    “Saya merasa yakin ada solusi bersama karena simpul-simpul terjadinya banjir sudah terindentifikasi, tinggal bagaimana berkolaborasi dengan lintas wilayah,” katanya.

    Pembangunan satu kolam retensi membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk pembebasan lahan, konstruksi, hingga pemeliharaan.

    Baca: Pembangunan kolam retensi di Kota Bandung

    Oleh karena itu, penanggulangan banjir, termasuk pembangunan kolam retensi, membutuhkan upaya bersama dari semua pihak. Kolaborasi lintas sektoral menjadi kunci mendapatkan solusi efektif dan berkelanjutan.

    Dengan sinergi lintas sektor dan wilayah, Kota Bandung bakal menjadi kota yang lebih aman dan nyaman bagi 2.693.500 warganya.

    Sejak akhir tahun 2021 (Desember), Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat telah mencanangkan program dengan konsep menahan, menyimpan dan mencadangkan air hujan yang disingkat dengan akronim “Hansip Cai”.

    Menurut Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi Jawa Barat, program ini bertujuan untuk kegiatan konservasi dan bagian dari mitigasi dengan mereduksi debit run-off air permukaan untuk penanganan banjir di Jawa Barat.

    Hansip Cai dari Pemprov Jabar ini adalah pembangunan sumur resapan yang sampai 2024 ini telah terbangun 1.000 unit.

    Sumur resapan ini dibangun di titik-titik aliran air yang bisa menggenangi beberapa kawasan seperti di Terowongan Cibaduyut, dan sekitar Cikadut.

    Baca: Pemprov Jakarta terus berupaya menambah penampung air

    Diharapkan juga dijalankan oleh semua pemangku kepentingan.

    Pasalnya, disadari juga oleh Pemprov Jabar bahwa saat ini, perbandingan resapan air dan limpasan air di sebagian besar Jabar terutama perkotaan adalah 20 persen-30 persen berbanding 70 persen.

    “Itu pun kalau ada tamannya. Jadi, intinya tujuannya adalah mengembalikan ke fungsi tata guna lahan sebelumnya sebelum ada pembangunan,” ucap Kepala Dinas SDA Jabar, Dikky Achmad Sidik.

    Sumur resapan sendiri telah diatur, di mana setiap Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diterbitkan, mencantumkan adanya keharusan untuk membuat sumur resapan.

    Adapun itungannya untuk tiap 100 meter lahan terbangun, butuh sumur resapan yang bisa menampung sembilan kubik air.

    Namun diakui oleh Dinas SDA, belum semua pihak taat dalam menjalankan regulasi tersebut, sehingga butuh keterlibatan pemerintah tingkat kota/kabupaten untuk mengawasi ketentuan itu.

    Baca: Membangun waduk yang ramah lingkungan

    Apalagi izin mendirikan bangunan kini ada di kota/kabupaten.

    Di sisi lain, pemerintah bisa mulai memikirkan dan mewajibkan konsep zero run-off atau bahkan rumah memanen air hujan untuk diterapkan pada perumahan, sekolah, gedung pemerintahan, sampai pemukiman padat dengan pendekatan yang berbeda-beda.

    Langkah awalnya, pemerintah bisa membuat regulasi yang meminta pengembang kawasan perumahan, untuk membuat rancangan hunian yang tidak menimbulkan limpasan air hujan ke luar unit rumahnya, dan kawasan proyeknya.

    Kemudian, bisa dilanjutkan dengan kewajiban serupa pada kawasan perumahan, industri, pemerintahan. Serta pada kawasan padat penduduk bisa dilakukan dengan sistem komunal.

    Tujuannya, tentu mengurangi limpasan air dari bangunan-bangunan yang menutup tanah, semisal di Bandung ada 60 persen lahan yang terbangun.

    Ini artinya kalau sistem tersebut bisa diterapkan dengan baik, limpasan akan berkurang seluas yang terbangun itu sendiri.

    Baca: Sodetan Ciliwung tak hanya mencegah banjir

    Sebagai pemikat, pemerintah bisa memberikan insentif seperti pengurangan PBB. Dan jika sistem ini terbangun, dan seluruh rumah dan bangunan bisa zero run-off, akan selesai dan bisa tidak banjir.

    Tapi ini tidak bisa cepat, sedikitnya 50 persen melaksanakan baru terasa perbedaannya,” ucap Hadi yang juga merupakan pakar dalam bidang perencanaan wilayah dan perdesaan ITB ini.

    Penanganan banjir, konservasi air hujan untuk mengatasi penurunan muka air tanah di kota-kota besar, termasuk Bandung, perlu ada inovasi yang sangat efektif.

    Tapi, hal ini juga perlu ada kerja bersama antar semua pihak secara pentahelix, agar bisa terlaksana dengan baik dan terasa efeknya bagi masyarakat.

    Seperti kata Doel Sumbang dalam lagu Bandung Kusta seperti di awal: “Walikota jeung warga kota, Niatna kudu sarua. Gawe rampak babarengan, Hayang bebenah ngomean”.

    Artinya, pemerintah dan warganya harus memiliki niat sama, bekerja bersama-sama, ingin memperbaiki keadaan. Karena, apapun tidak akan ada hasilnya jika berjalan sendiri-sendiri.

    Sumber: Antaranews.com

  • Korban Akibat Banjir di Brasil Bertambah menjadi 151 Orang, Disebut Bencana Iklim Terburuk

    Korban Akibat Banjir di Brasil Bertambah menjadi 151 Orang, Disebut Bencana Iklim Terburuk

    7cloud.asia – Sebanyak 151 orang tewas akibat bencana iklim terburuk di Brasil selatan dan 104 orang lainnya masih hilang hingga saat ini.

    Badan pertahanan sipil Brasil pada Kamis (16/5/2024) menyatakan banjir yang melanda negara bagian Rio Grande do Sul ini merupakan bencana iklim terburuk dalam 80 tahun terakhir.

    Sejak hujan lebat mulai mengguyur Rio Grande do Sul, negara bagian paling selatan di Brasil, pada 29 April, banjir dan tanah longsor telah menyebabkan sekitar 600.000 orang kehilangan tempat tinggal.

    Baca Juga: Brasil Selatan Dilanda Banjir Terburuk dalam 80 Tahun Terakhir, 126 Orang Tewas

    Dalam 24 jam terakhir, jumlah korban jiwa meningkat dari 149 menjadi 151 saat 458 dari 497 kota di negara bagian Brasil itu dilanda banjir parah, termasuk ibu kota Porto Alegre.

    Bencana iklim ini mengakibatkan Sungai Guaiba meluap dan menimbulkan banjir di sebagian besar wilayah metropolitan tersebut.

    Menurut laporan terbaru dari badan pertahanan sipil Brasil, lebih dari 2,28 juta penduduk terdampak langsung oleh bencana di negara bagian yang berbatasan dengan Argentina dan Uruguay itu.

    Baca Juga: Indonesia dan Brasil Jadi Penyumbang Terbesar Deforestasi di Hutan Tropis

    Selama ini negara bagian Rio Grande do Su dikenal sebagai pusat agrobisnis Brasil dan penghasil beras terbesar di Amerika Latin.

    Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva kembali mengunjungi daerah tersebut pada Rabu (15/5/2024) dan berbicara dengan mereka yang berlindung di tempat penampungan.

    Sang presiden menjanjikan lebih banyak bantuan untuk keluarga-keluarga yang terpaksa mengungsi agar mereka dapat membeli rumah baru.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Pemerintah telah membentuk sekretariat khusus di Porto Alegre, yang memiliki kedudukan setara dengan kementerian, untuk mengoordinasikan upaya bantuan dan pemulihan hingga Februari 2025.

    Sumber: Antaranews.com/Xinhua

  • Modifikasi Cuaca di Sumbar untuk Cegah Banjir Bandang Susulan

    Modifikasi Cuaca di Sumbar untuk Cegah Banjir Bandang Susulan

    7cloud.asia – Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk menanggulangi dampak bencana yang terjadi di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Salah satunya melakukan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

    Modifikasi cuaca ini dilakukan untuk cegah hujan yang dikhawatirkan bisa memicu banjir bandang susulan.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan TMC yang dilakukan dengan menebar 3 ton Natrium Klorida (NaCl) di langit Kota Padang.

    “Operasi teknologi modifikasi cuaca kali ini dilaksanakan sebanyak tiga sortie dengan durasi penerbangan lebih kurang enam jam dan 11 menit,” ungkap Abdul Muhari seperti dilansir Antaranews pada Minggu (19/05/2024).

    Baca: Korban tewas akibat banjir bandang di Sumatera Barat bertambah

    Selanjutnya dia menjelaskan penyemaian NaCl tersebut difokuskan pada wilayah-wilayah di sekitar daerah aliran sungai pada lereng Gunung Marapi yang berada di Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.

    Jumlah NaCl yang disemai sebanyak 3 ton atau 3 ribu kilogram. Setiap sortie disemai sebanyak 1.000 kilogram.

    Sortie pertama dilakukan pada pukul 10.21 WIB dengan target penyemaian di sekitar wilayah tenggara hingga timur Kota Padang yakni Kabupaten Sijunjung dan Solok bagian selatan.

    Sortie pertama ini dilakukan dengan ketinggian 11.000 kaki,” katanya.

    Baca: Banjir di Tanah Datar, tanggap darurat 14 hari

    Kemudian sortie kedua menyasar wilayah di sekitar Kabupaten Pesisir Selatan atau bagian selatan dari Kota Padang.

    Penyemaian tersebut dilakukan pada ketinggian 12.500 hingga 13.000 kaki. Sementara sortie ketiga menyasar wilayah timur laut hingga bagian timur Kota Padang.

    Penyemaian tersebut sengaja dilakukan pada pagi jelang siang hari hingga sore hari.

    Sebab berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan terjadi pada siang hari.

    Baca: Walhi menilai pemerintah lalai

    Wilayah yang diperkirakan terdampak hujan yaitu Kota Pariaman, Padang, Bukittinggi, Batu Sangkar, dan Padang Panjang.

    “Daerah-daerah tersebut diprediksi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sebesar 6,3 sampai 16,6 milimeter per hari,” katanya.

    Operasi TMC ini merupakan oprasi gabungan BNPB bersama BMKG serta instansi lainnya untuk dalam penanggulangan dan percepatan masa transisi darurat ke pemulihan bencana banjir lahar hujan dan tanah longsor di wilayah Sumbar.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Masih Ada 10 Orang Hilang, Masa Tanggap Darurat Bencana di Tanah Datar Diperpanjang 14 Hari

    Masih Ada 10 Orang Hilang, Masa Tanggap Darurat Bencana di Tanah Datar Diperpanjang 14 Hari

    7cloud.asia – Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat memperpanjang masa tanggap darurat bencana selama 14 hari, hingga 8 Juni mendatang. Salah satu pertimbangannya masih ada 10 orang yang hilang

    Keputusan ini diambil setelah rapat evaluasi yang dilakukan Bupati Tanah Datar, Eka Putra bersama instansi terkait lainnya mengenai penanganan bencana dan kondisi terbaru bencana banjir bandang.

    “Setelah menerima saran, masukan dan pertimbangan dari Forkopimda, BMKG, Bazarnas dan instansi terkait lainnya, maka diputuskan masa tanggap darurat bencana di Tanah Datar diperpanjang 14 hari lagi hingga 8 Juni 2024,” jelas Eka seperti yang dilansir Antaranews .

    Baca: Banjir di Sumatera Barat, 27 orang tewas

    Masa tanggap darurat bencana banjir bandang dan lahar dingin pertama sebenarnya berakhir pada hari ini, Sabtu (25/05/2024). Namun masa tanggap darurat diperpanjang dengan mempertimbangkan beberapa hal.

    Menurut Eka, salah satu pertimbangannya adalah masih adanya korban hilang yang belum ditemukan. Selain itu, banyaknya rumah masyarakat yang butuh penanganan tim untuk dibersihkan.

    “Saat ini 10 orang korban masih dinyatakan hilang dan selain itu ada rumah masyarakat yang butuh dibersihkan, sehingga masih perlu dilanjutkan untuk pencarian dan pembersihan,” ujarnya.

    Baca: Korban banjir bandang di Sumbar bertambah, Walhi nilai pemerintah lalai

    Pihaknya, lanjut Eka, juga melakukan berbagai langkah antisipasi yang dilakukan bersama dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

    Di antaranya, Pemkab Tanah Datar bersama BNPB akan memasang early warning system (EWS) di beberapa titik.

    EWS merupakan sistem untuk memberitahukan akan timbulnya kejadian alam berupa bencana maupun tanda-tanda alam lainnya agar masyarakat segera mengetahui ketika terjadi bencana.

    Selain itu, Pemkab Tanah Datar bersama BNPB juga akan membangun sabo dam serta memecahkan batu besar yang saat ini menjadi penghalang yang ada di hulu sungai.

    Baca: Cegah banjir susulan pemerintah lakukan modifikasi cuaca

    “Kami bersama BNPB akan memasang berupa peringatan dini dan sabo dam di beberapa titik,” ujarnya.

    Seperti yang diwartakan sebelumnya, banjir bandang melanda tiga wilayah di Sumatera Barat sejak Sabtu (11/05/2024).

    Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat sebanyak 32 orang meninggal dunia dan 10 orang hilang. Sementara infrastruktur yang terdampak yakni 36 jembatan rusak berat, 30 unit rumah hanyut, 88 unit rumah rusak berat.

  • PBB Peringatkan Potensi Lebih Banyak Banjir akan Terjadi di Afghanistan Akibat Perubahan Iklim

    PBB Peringatkan Potensi Lebih Banyak Banjir akan Terjadi di Afghanistan Akibat Perubahan Iklim

    7cloud.asia – PBB memperingatkan, perubahan iklim memicu kemungkinan banjir yang lebih “hebat” yang akan mempengaruhi ketahanan pangan di Afghanistan dalam beberapa bulan mendatang.

    Para ahli mengatakan, pemerintah Afghanistan, perlu perencanaan jangka panjang untuk mengurangi dampak buruk perubahan iklim.

    PBB mengatakan, banjir yang terjadi di sejumlah provinsi di timur laut dan barat laut Afghanistan dalam dua minggu terakhir, berdampak pada lebih dari 80.000 orang di negara tersebut.

    Pejabat Taliban di provinsi Ghor mengatakan pada hari Kamis (23/5/2024), banjir pekan lalu menewaskan sedikitnya 50 orang di provinsi itu dan merusak lebih dari 4.000 rumah dan toko.

    Baca Juga: WMO: Transisi Cepat dari El Nino ke La Nina Bakal Memicu Musim Badai

    Menurut PBB, banjir di sejumlah provinsi di Afghanistan timur laut: Badakhshan, Takhar dan Baghlan pada tanggal 10 dan 11 Mei lalu telah menewaskan 347 orang dan melukai 1.651 orang.

    Banjir tersebut menghanyutkan 7.800 rumah, membunuh hampir 14.000 hewan ternak dan merusak sekitar 24.000 hektar lahan di tiga provinsi di Afghanistan itu.

    Perubahan iklim yang memburuk menyebabkan “pola cuaca tidak menentu” yang mana telah menjadi “sesuatu yang umum” di Afganistan, menurut (Program Pangan Dunia WFP).

    “Orang-orang yang terkena dampak tinggal di distrik-distrik dengan kerawanan pangan yang lebih tinggi,” kata Ziauddin Safi, juru bicara WFP di Afghanistan.

     

    Baca Juga: OCHA: Krisis Iklim Picu Masalah Kemanusiaan di Afghanistan, Pakistan dan Sudan

    Ia menambahkan, “banjir disebabkan oleh curah hujan yang tidak biasa, setelah musim dingin yang kering, sehingga tanah sulit menyerap air hujan yang disebabkan oleh krisis iklim.”

    “Sayangnya, WFP memperkirakan lebih banyak banjir akan terjadi di masa depan,” tambah Safi.

    Afghanistan menjadi salah satu negara di dunia yang paling rentan terdampak oleh perubahan iklim, walaupun negara tersebut hanya sedikit mennghasilkan emisi gas rumah kaca.

    Menurut Indeks Risiko INFORM 2023, Afghanistan berada di peringkat keempat dalam daftar negara paling berisiko terkena krisis.

    Baca Juga: WMO: Kenaikan Suhu Global Picu Bencana Akan Lebih Sering Terjadi

    Afghanistan juga merupakan salah satu negara yang paling rentan dan tidak siap menurut Indeks Adaptasi Global Notre Dame.

    Najibullah Sadid, seorang ahli perairan Afghanistan di Universitas Stuttgart, Jerman, mengatakan kepada VOA bahwa Afghanistan memerlukan rencana jangka panjang untuk memitigasi efek dari perubahan iklim namun negara tersebut juga kekurangan sumber daya untuk mencapai tujuan itu.

    “Sayangnya, tanpa bantuan ekonomi internasional, menerapkan proyek [untuk memitigasi efek perubahan iklim] di Afghanistan itu menjadi mustahil,” ungkap Sadid.

    Ia menambahkan bahwa Afghanistan memerlukan dukungan dari Dana Iklim Hijau PBB dan Dana Kerugian untuk Negara Berkembang.

    Sumber: VOA Indonesia

  • Sungai Ngarai Sianok Meluap, 7 Rumah Rusak Berat Diterjang Banjir

    Sungai Ngarai Sianok Meluap, 7 Rumah Rusak Berat Diterjang Banjir

    7cloud.asia – Banjir melanda pemukiman warga yang berada disekitar sungai Ngarai Sianok, Bukittinggi, Sumatera Barat pada Senin (03/06/2024) sore.

    Banjir ini akibat curah hujan yang tinggi di kawasan hulu sungai Ngarai Sianok. Sebanyak 7 rumah rusak berat dan hanyut akibat meluapnya Sungai Ngarai Sianok hanya dalam waktu 15 menit.

    Salah seorang warga terdampak, Ilham (31) mengungkapkan Sungai Ngarai Sianok memang kerap meluap. Namun kali ini yang terparah.

    Apalagi posisi rumahnya berada di dataran terendah di bibir Sungai Sianok. Hal ini membuat rumahnya rusak parah.

    Baca: Korban akibat banjir bandang di Sumatra Barat bertambah hingga menjadi 37 orang

    “Air tadi bahkan sampai setinggi dada saya, keluarga memang sudah mengungsi. Ini kejadian ketiga sejak akhir April 2024 lalu,” ungkapnya seperti yang dilansir Antaranews.

    Sementara itu Komandan Kodim (Dandim) 0304/ Agam, Letkol Arm Bayu Ardhitya menjelaskan luapan ini berasal dari aliran pertengahan Sungai di Ngarai Sianok bagian Koto Gadang.

    Dia memperkirakan terjadi ada sumbatan kemudian jebol dan meluap tiba-tiba ke bawah.

    Pihaknya bersama Kapolresta Bukittinggi dan pemerintah daerah setempat menegaskan larangan tinggal sementara di wilayah aliran Sungai Sianok.

    “Ini Buffer Zone atau wilayah penyangga. Diminta warga menjauhi kiri kanan 50 meter dari sungai. Tidak layak menjadi tempat tinggal, arus masih kencang,” jelas Bayu.

    Baca: Cegah banjir bandang susulan, BMKG lakukan modifkasi cuaca

    Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar) segera mencarikan solusi terkait musibah banjir aliran Sungai Ngarai Sianok yang telah terjadi beberapa kali.

    “Kami akan meminta kajian Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) jika dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat tidak ada solusi, kami akan minta ke pusat,” jelas Wakil Wali Kota Bukittinggi, Marfendi saat meninjau lokasi bencana.

    Marfendi mengungkapkan kejadian ini sudah ketiga kalinya yang memang lebih besar dampaknya saat ini.

    Menurutnya warga sudah diminta waspada dengan sebagian mengungsi ke rumah kerabatnya di daerah aman.

    Baca: Banjir lahar dingin di Gunung Marapi

    “Kejadian tadi tanpa adanya hujan, tiba-tiba saja. Nantinya BKSDA kami minta bekerjasama mengecek titik aliran yang jebol. Normalisasi sungai diperlukan agar kejadian tidak berulang,” katanya.

    Pemkot Bukittinggi memastikan tidak ada korban jiwa yang timbul dari kejadian yang mirip dengan musibah banjir bandang di Kabupaten Agam.

    “Tidak ada korban jiwa karena di kejadian serupa pada akhir April lalu sudah dilarang adanya aktivitas jual beli di bibir sungai,” katanya.

  • BMKG Ingatkan Potensi Hujan Deras yang Dapat Memicu Banjir di 4 Provinsi hingga 20 Juni Mendatang

    BMKG Ingatkan Potensi Hujan Deras yang Dapat Memicu Banjir di 4 Provinsi hingga 20 Juni Mendatang

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi banjir yang dipicu oleh curah hujan berintensitas sedang-deras di empat provinsi pada periode 11 – 20 Juni 2024.

    Berdasarkan data Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG yang dilansir Jumat (14/6/202), melaporkan keempat provinsi siaga potensi banjir akibat tingginya intensitas curah hujan tersebut, antara lain Sumatera Selatan, Maluku, Papua Tengah dan Papua Barat Daya.

    Tim ahli klimatologi BMKG mengklasifikasikan potensi hujan yang dapat memicu banjir di Sumatera Selatan dalam kategori rendah.

    Namun, berdasarkan hasil analisa dasarian II yang berlangsung hingga 20 Juni hujan akan merata mencakup seluruh 17 kabupaten/kota, sehingga tetap diperingatkan untuk siaga.

    Baca Juga: Waspada! BMKG Sebut Suhu Panas Hingga 36 Derajat Celsius Berpotensi Melanda Indonesia Sepekan Kedepan

    BMKG memperkirakan hujan akan melanda sejumlah wilayahvdi Sumatera Selatan seperti Kabupaten Banyuasin, Empat Lawang, Lahat, Muara Enim, Musi Banyuasin, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir.

    Hujan juga berpotensi teradi di Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Selatan, Ogan Komering Ulu Timur, Penukal Abab Lematang Ilir, hingga kota Pagar Alam, Lubuk Linggau, dan Palembang.

    Untuk Provinsi Maluku, Papua Tengah dan Papua Barat Daya pada medio yang sama diklasifikasikan BMKG dalam kategori daerah yang potensi banjir tinggi.

    Potensi hujan deras yang dapat memicu banjira di Maluku diprakirakan meliputi Kota Ambon (Kecamatan Baguala, Leitimur Selatan, Nusaniwe, Sirimau, Telukambon).

    Baca Juga: BRIN: Cuaca Ekstrem Meningkat Signifikan Ini Dampak yang Dirasakan Indonesia

    Juga Kabupaten Maluku Tengah (Kecamatan Amahai, Leihitu, Leihitu Barat, Pulauharuku, Seram Utara), Kabupaten Seram Bagian Barat (Kecamatan Amalatu, Huamual, Inamosol, Kairatu, dan Kairatu Barat).

    Provinsi Papua Barat Daya meliputi Kabupaten Maybrat (Kecamatan Mare), Kabupaten Sorong (Kecamatan Makbon, Sayosa), dan Sorong Selatan (Kecamatan Sawiat).

    Kemudian, potensi hujan yang memicu banjir di Provinsi Papua Tengah meliputi Kabupaten Mimika (Kecamatan Amar, Iwaka, Kuala Kencana, Kwamki, Narama, Mimika Barat dan sekitarnya),

    Juga Kabupaten Deiyai (Kecamatan Bowobado, Kapiraya, Tigi Barat), dan Memberamo Raya (Kecamatan Memberamo Hulu dan Rufaer).

    Sumber:Antaranews.com