Tag: bekasi

  • Kemarau Bikin Warga Bekasi Kesulitan Air Bersih, Harus Dicari hingga Karawang

    Kemarau Bikin Warga Bekasi Kesulitan Air Bersih, Harus Dicari hingga Karawang

    7cloud.asia – Kemarau panjang memicu kekeringan di sejumlah daerah, termasuk Cibitung, Bekasi, Jawa Barat. Warga kesulitan mendapatkan air bersih sehingga harus mencarinya ke wilayah Karawang Selatan.

    “Air bersih di rumah kosong, musim kemarau ini kekeringan,” ujar Sudirja, seorang warga Cibitung, Bekasi, yang mencari air bersih di sekitar kaki Gunung Cipaga Karawang, di Karawang, Sabtu (30/09/2023).

    Warga Bekasi ini datang ke area pegunungan di wilayah Karawang selatan untuk mencari air bersih, dengan membawa sekitar 16 galon untuk diisi.

    Baca: Warga Lebak mencari air bersih ke hutan

    Melansir Antaranews, Sudirja menjelaskan air bersih disekitar rumahnya sulit dijumpai. Bahkan ia harus membeli dengan harga Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per galon.

    “Kualitas airnya juga beda. Jadi kalau air ini (Cipaga) disimpan di rumah dua bulan tidak keruh, tidak berlumut. Sedangkan kalau air bersih beli dari isi ulang, sebentar saja disimpan langsung berubah kualitasnya,” jelasnya.

    Kelangkaan air bersih ini menyusul kekeringan yang melanda wilayah ini sejak beberapa bulan. Beberapa daerah lain di wilayah Kabupaten Bekasi juga mengalami kekeringan.

    Baca: BMKG sebut sebagian wilayah Indonesia masuk musim hujan

    Sementara itu, saat tengah mengisi galon kosong dengan air dari mata air Gunung Cipaga yang mengalir di dekat jalan raya, Sudirja ditemui oleh Dedi Mulyadi yang kebetulan saat itu sedang melintasi daerah tersebut.

    Saat itu Dedi Mulyadi menyampaikan agar hal ini harus menjadi perhatian bagi pemerintah. Jangan sampai kekayaan alam Gunung Cipaga rusak oleh keberadaan tambang yang masif.

    Selain itu, politisi partai Gerindra ini meminta agar tak ada lagi penambangan di areal Gunung Sanggabuana salah satunya meliputi Gunung Cisaga di Karawang.

    Baca: Musim hujan tahun ini akan mundur

    Kekeringan pada musim kemarau kali ini merupakan dampak dari fenomena El Nino. Tidak hanya kekeringan, El Nino juga menyebabkan petani gagal panen, mundurnya musim tanam bagi petani serta kebakaran lahan.

    Selain melanda wilayah Cibitung, kekeringan juga melanda empat kecamatan di wilayah Karawang.

    Baca: El Nino akan berlangsung hingga Mei 2024

    Sesuai dengan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang, empat kecamatan yang dilanda kekeringan itu ialah Kecamatan Ciampel, Telukjambe Barat, Tegalwaru dan Kecamatan Pangkalan.

     

    Dari empat kecamatan tersebut, sebanyak 11 ribu lebih warga yang terdampak kekeringan.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Hadirkan Transportasi Publik yang Terintegrasi di Kota Bekasi

    Kolaborasi Pemerintah dan Swasta Hadirkan Transportasi Publik yang Terintegrasi di Kota Bekasi

    7cloud.asia – Untuk mengintegrasikan layanan transportasi publik di Kota Bekasi, Kementerian Perhubungan melalui Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) bersama PT Kilap Propertindo dan Dinas Perhubungan Kota Bekasi meresmikan halte bus Revo.

    Peresmian halte yang berlokasi di depan Revo Mall Bekasi ini, menjadi langkah penting dalam mewujudkan transportasi publik yang terintegrasi di kawasan transit oriented development atau TOD LRT Bekasi Barat.

    Melalui kolaborasi antara BPTJ, pemerintah daerah, dan pihak swasta, diharapkan pelayanan transportasi publik bagi masyarakat semakin nyaman, efisien, dan terjangkau.

    Peresmian halte ini sekaligus menandai serah terima halte yang telah dibangun oleh PT Kilap Propertindo kepada BPTJ, sebagai salah satu upaya memperkuat fasilitas transportasi terintegrasi di kawasan TOD LRT Bekasi Barat.

    Kehadiran halte ini diharapkan dapat mempermudah mobilisasi pengguna layanan BISKITA Trans Bekasi Patriot yang saat ini jumlahnya terus meningkat.

    Dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (12/12/2024) halte ini diharapkan menjadi transfer point untuk berpindah ke LRT Jabodebek yang terhubung dengan Mall Revo.

    Baca: LRT Jabodebek ubah lanskap transportasi publik di Jakarta

    Direktur Prasarana BPTJ Zamrides menyampaikan apresiasinya terhadap kolaborasi yang terjalin dalam pembangunan halte ini. Menurutnya, kolaborasi ini jadi contoh nyata bagaimana Pemerintah dan swasta bekerja bersama untuk menciptakan transportasi publik yang lebih baik.

    “Kami sangat berterima kasih kepada PT Kilap Propertindo atas inisiatifnya dan kepada Pemerintah Kota Bekasi yang telah mendukung pengembangan transportasi di kawasan TOD ini,” ujar Zamrides.

    Ia menambahkan bahwa pembangunan fasilitas transportasi publik harus mengutamakan integrasi antarmoda dan intermoda.

    “Tujuan kita bersama adalah menciptakan layanan transportasi yang nyaman, efisien, dan mempermudah aksesibilitas masyarakat. Ini adalah tanggung jawab bersama antara pemerintah, pihak swasta, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya,” jelas Zamrides.

    Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Zeno Bachtiar, yang turut hadir dalam peresmian, menyatakan bahwa halte ini merupakan bagian penting dalam meningkatkan layanan transportasi di Kota Bekasi.

    Baca: Jumlah penumpang LRT Jabodebek terus meningkat

    “Halte ini mendukung upaya kami dalam menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi. Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat,” kata Zeno.

    Sementara itu, General Manager Revo Mall, Wahyu Hidayat, mengungkapkan kebanggaannya dapat berkontribusi dalam pengembangan transportasi di kawasan TOD Bekasi Barat.

    “Kami percaya bahwa keterlibatan sektor swasta sangat penting untuk mendukung pengembangan fasilitas publik. Halte ini kami bangun untuk meningkatkan konektivitas kawasan dan memberikan kenyamanan bagi pengguna transportasi umum,” ujar Wahyu.

    Selain halte bus, PT Kilap Propertindo sebelumnya juga telah membangun skybridge yang menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek Bekasi Barat dengan Revo Mall yang diresmikan pada tahun 2022 lalu.

    Skybridge ini dilengkapi dengan fasilitas park and ride, memberikan kemudahan akses bagi warga Bekasi untuk menggunakan transportasi umum.

  • Diduga untuk Tujuan Reklamasi, Walhi Minta Pemerintah Bongkar Pagar Laut di Bekasi

    Diduga untuk Tujuan Reklamasi, Walhi Minta Pemerintah Bongkar Pagar Laut di Bekasi

    7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) sedang melakukan verifikasi untuk memeriksa apakah pembuatan pagar laut di Bekasi memiliki dokumen lingkungan yang dibutuhkan.

    Direktur Pengaduan dan Pengawasan Lingkungan Hidup KLH/BPLH Ardyanto Nugroho menjawab pertanyaan ANTARA di Jakarta pada Jumat, menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan pemeriksaan lokasi pagar laut di Desa Segara Jaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat pada 15 Januari 2025.

    Tim Pengawas LH, ujar Ardyanato akan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat dan beberapa pihak lainnya untuk mengetahui pagar laut di Bekasi mempunyai persetujuan lingkungan atau tidak.

    Sebelumnya, pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sudah menyegel pagar laut di Kabupaten Bekasi pada Rabu (15/1/2025).

    Menurut KKP, pagar laut di Bekasi ini tidak mengantongi izin Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL).

    Baca: Komisi IV DPR mendesak dilakukan penyelidikan terkait pagar laut di Tangerang

    Pihak KKP menyebut bahwa pagar laut yang menggunakan bambu itu masuk dalam kategori kegiatan reklamasi.

    Kegiatan itu masuk reklamasi, jelas Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan KKP Sumono Darwinto, karena dilakukan di luar garis pantai berdasarkan Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 9 Tahun 2022 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Barat Tahun 2022-2042.

    Tidak hanya pagar laut di pesisir Kabupaten Bekasi, pihak KLH juga tengah mendalami dampak lingkungan dari pagar laut yang berada di pesisir Kabupaten Tangerang, Banten.

    Setelah sebelumnya memverifikasi pagar laut di lokasi tersebut tidak memiliki dokumen lingkungan, pihaknya juga tengah memeriksa beberapa pihak terkait aktivitas pemagaran laut tersebut.

    “Pemanggilan terhadap beberapa pihak yang diduga terkait dalam pemagaran laut oleh Penyidik PNS kami,” demikian Ardyanto Nugroho.

     

    Baca: PSN di Pantai Indah Kapuk 2 mengokupasi wilayah hutan lindung

    Terpisah, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendorong pemerintah untuk mengambil tindakan tegas terkait pagar laut di Tangerang, Banten, dan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

    “Kalau memang berpihak kepada lingkungan, kepada nelayan, dicabut saja,” kata Deputi Eksternal Eksekutif Nasional Walhi Mukri Friatna di Jakarta, Jumat (17/1/2025)

    Selain melakukan pencabutan, dia juga mengharapkan kementerian/lembaga terkait untuk mengidentifikasi pelaku yang melakukan pemagaran tersebut

    Langkah tegas itu perlu dilakukan, jelasnya, karena kekhawatiran bahwa pembangunan pagar tersebut bertujuan untuk menjadikan lahan baru atau reklamasi.

    Hal itu berdasarkan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Rencana Tatar Ruang Wilayah Kabupaten Tangerang Tahun 2011-2031.

    Baca: Menteri ATR/BPN Bakal Mengkaji Ulang status PSN di PIK 2

    Di dalam Perda tersebut ditulis luas daratan 95.961 hektare ditambah dengan luasan kawasan reklamasi pantai seluas 9.000 hektare. Rencana yang sama diduga menjadi tujuan pemagaran di perairan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

    Terkait adanya rencana reklamasi itu, dia memperingatkan sejumlah dampak tidak hanya kepada lingkungan sekitar tetapi juga perekonomian. Secara khusus masyarakat yang berada di pesisir.

    “Kalau dampak ekologis, yang pertama kematian terhadap terumbu karang. Yang kedua, kalau terumbu karang mati maka keragaman biodiversitas pantainya juga terdampak, ikan itu juga akan hilang,” katanya.

    Hilangnya ikan yang berada di sekitar pesisir pada akhirnya akan berdampak kepada nelayan yang harus mencari ikan lebih jauh ke tengah laut.

    “Mereka itu double burden. Kerja untuk mendapatkan hasil, tetapi untuk menjawab kebutuhan BBM, untuk menjawab kebutuhan air bersih pun mereka tidak terpenuhi,” jelasnya.

  • Bekasi Dilanda Banjir Terburuk dalam 9 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?

    Bekasi Dilanda Banjir Terburuk dalam 9 Tahun Terakhir, Apa Penyebabnya?

    7cloud.asia – Hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak dan wilayah Jabodetabek telah mengakibatkan meluapnya Sungai Cileungsi dan Kali Bekasi dan memicu banjir yang meluas serta melumpuhkan sejumlah wilayah di Kabupaten dan Kota Bekasi, Jawa Barat.

    Di Kabupaten Bekasi, perumahan Vila Nusa Indah 1 dan Vila Nusa Indah 2 terdampak banjir akibat luapan dua sungai yang berhulu di Kawasan Puncak ini.

    Di Kota Bekasi, beberapa perumahan mengalami banjir dengan ketinggian air bervariasi antara 1,1 hingga 3 meter lebih.

    Banjir terparah terjadi di Gang Mawar RT8 RW3 di Kecamatan Bekasi Timur mengalami banjir setinggi 3 meter. Perumahan Pondok Gede Permai (PGP) dan Villa Jatirasa juga mengalami banjir parah dengan ketinggian air mencapai lebih dari 3 meter.

    Dilansir Antaranews.com, Pusat perniagaan hingga akses Jalan Utama Ahmad Yani, Bekasi Selatan – yang menjadi nadi ekonomi dan pusat perbelanjaan di Kota Bekasi dilaporkan lumpuh setelah turut direndam banjir.

    Banjir tidak hanya melumpuhkan pemukiman warga, tetapi juga fasilitas penting seperti rumah sakit, stasiun kereta api. Di beberapa tempat juga dilakukan pemadaman listrik total.

    “Dari 12 kecamatan, yang terdampak di Kota Bekasi itu delapan kecamatan. Dan hari ini, Kota Bekasi lumpuh, sampai di jalan utama, termasuk kantor pemerintahan, itu sudah mulai masuk air, karena kemudian juga limpasannya sungguh luar biasa,” kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dalam pernyataannya di Bekasi, Selasa (4/3/2025).

    Banjir yang melanda Kota Bekasi saat ini dinilai sebagai yang terburuk sejak 2016 dan 2020, dengan ketinggian air mencapai 8 meter akibat kenaikan permukaan air di Kali Bekasi.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Pengaruh bendung
    Bendung Bekasi di Jalan M. Hasibuan, Bekasi Selatan, menghadapi situasi kritis akibat debit air yang melebihi kapasitas tampungnya.

    Dikabarkan, bahwa kapasitas maksimal bendungan peninggalan Belanda ini adalah 1.000 meter kubik per detik, namun saat itu debit air mencapai 1.100 meter kubik per detik.

    Kondisi ini memaksa pihak pengelola dari Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane (BBWSCC) untuk membuka pintu air guna mengurangi tekanan, yang dapat menyebabkan kenaikan permukaan air di wilayah hilir.

    Selain itu, pompa air yang biasanya berfungsi untuk mengendalikan volume air, untuk sementara tidak dioperasikan. Akibatnya, kemampuan sistem pengendalian banjir menurun, meningkatkan risiko banjir di area sekitar.

    Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi melaporkan bahwa TMA Kali Bekasi telah mencapai puncaknya pada pukul 06.30 WIB, dengan ketinggian 875 cm, jauh melebihi batas maksimal 350 cm.

    Sebagai perbandingan, banjir kali ini boleh jadi sebagai yang terparah jika dibandingkan situasi yang sama di awal 2020. Saat itu, TMA yang meluap berada di kisaran 750 cm.

    Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, telah memantau kondisi bendungan dan memastikan pengaturan pintu bendungan untuk mengantisipasi kenaikan debit air.

    Diprediksi beberapa wilayah di Kota Bekasi, terutama yang berdekatan dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Bekasi, mengalami banjir akibat hujan deras dan kiriman air dari Bogor.

    Baca: Jabodetabek dikepung banjir, ribuan rumah terdampak

    Hingga hari ini, Pemerintah Kota Bekasi bekerja sama dengan otoritas terkait telah mengerahkan tim evakuasi dan menyiapkan posko-posko pengungsian bagi warga terdampak.

    Dilansir Tirto.id, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi, Priadi Santoso menyebut hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir diduga kuat menjadi penyebab banjir Bekasi.

    Selain itu, banjir kian meluap usai adanya limpahan air dari wilayah hulu Kali Bekasi, khususnya dari Bogor yang membuat debit air sungai semakin tinggi dan meluap.

    Sementara warga Bekasi menilai banjir besar ini tak lepas dari buruknya tata ruang di wilayah itu.

    “Emang pemkab dan pemkotnya gak guna, auto pilot, bikin tata kota acak-acakanan, gak ada serapan, perumahan pada tinggi-tinggian mau menang sendiri. buang-buangan air sembarangan,” tulis warga di akun chat Whatsapp.

    Banjir besar yang melanda Kota Bekasi kali ini menjadi pengingat betapa rentannya wilayah bantaran sungai terhadap ancaman luapan air.

    Meski peringatan dini telah diberikan, derasnya aliran air dari hulu, buruknya sistem pengendalian banjir, serta kapasitas bendungan yang terbatas membuat bencana ini sulit dihindari.

    Warga yang terdampak kini menghadapi kenyataan pahit, rumah dan harta benda mereka hancur, sementara kebutuhan dasar di pengungsian harus segera terpenuhi.

    Upaya evakuasi masih terus dilakukan, dan posko-posko bantuan mulai didirikan untuk menampung korban banjir. Namun, lebih dari sekadar bantuan darurat, kejadian ini seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan masyarakat untuk mengevaluasi sistem mitigasi bencana secara menyeluruh.

    Jika tidak ada langkah nyata untuk memperbaiki infrastruktur dan memperketat pengawasan tata ruang, banjir serupa, atau bahkan yang lebih buruk, hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

  • Banjir Besar di Bekasi Akibatkan 114 Sekolah Rusak

    Banjir Besar di Bekasi Akibatkan 114 Sekolah Rusak

    7cloud.asia – Banjir besar yang melanda kabupaten dan kota Bekasi, Jawa Barat pekan lalu telah mengakibatkan 114 sekolah rusak sedang hingga parah.

    Dilansir inijabarcom, Dinas Pendidikan Kota Bekasi mengajukan anggaran sebesar Rp3,6 miliar, untuk perbaikan sekolah-sekolah yang rusak akibat banjir beberapa waktu lalu.

    Anggaran tersebut merupakan bagian dari total pengajuan sebesar Rp23,5 miliar, yang diajukan kepada Pemerintah Kota Bekasi.

    Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Warsim Suryana, menjelaskan bahwa usulan tersebut difokuskan pada perbaikan infrastruktur sekolah yang menjadi prioritas.

    “Usulan perbaikan sekolah rusak akibat banjir direalisasikan secara prioritas dengan anggaran Rp3,6 miliar melalui Bantuan Tak Terduga (BTT),” kata Warsim di kantornya, Selasa (11/3/2025).

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup akan tertibkan kawasan hulu

    Menyikapi kondisi ini, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani meminta pemerintah pusat dan daerah segera bersinergi dalam memperbaiki ratusan sekolah yang rusak.

    Menurutnya, perbaikan gedung sekolah harus menjadi prioritas agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal.

    “Sekolah rusak akibat banjir, rumah para siswa juga terendam. Lengkap sudah penderitaan mereka. Semua pihak harus turun tangan,” ujar Lalu Hadrian kepada Parlementaria, Senin (10/3/2025).

    Politisi PKB yang akrab disapa Lalu Ari ini mengungkapkan keprihatinannya atas dampak banjir yang melanda Jabodetabek, khususnya di Bekasi. Ia menyebutkan bahwa kerusakan sekolah terjadi merata, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA, hingga SLB.

    Akibat kerusakan tersebut, banyak siswa terpaksa diliburkan karena gedung sekolah terdampak banjir. Selain itu, para siswa juga kehilangan perlengkapan belajar, seperti buku, alat tulis, dan seragam sekolah yang hanyut terbawa air.

    Baca: Banjir Jabodetabek jadi bukti nyata ancaman krisis iklim

    Lalu Ari mengapresiasi langkah cepat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang turun langsung ke lokasi terdampak dan memberikan bantuan kepada para siswa.

    “Perbaikan sekolah harus menjadi prioritas. Selain pembersihan lumpur, perbaikan gedung rusak harus segera dilakukan. Pemerintah juga perlu memiliki data yang jelas mengenai tingkat kerusakan dan kebutuhan anggaran untuk perbaikan,” tegasnya.

    Ia menekankan bahwa pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani perbaikan sekolah. Pemerintah pusat harus ikut turun tangan agar proses perbaikan bisa berjalan cepat dan siswa dapat kembali belajar di sekolah.

    “Jika perbaikan gedung tidak bisa selesai dalam waktu singkat, maka pemerintah harus menyiapkan tempat belajar alternatif agar proses belajar mengajar tetap berlangsung,” imbuhnya.

    Lalu Ari menegaskan bahwa Komisi X DPR RI akan terus mengawal persoalan ini. Pihaknya juga berencana turun langsung ke lokasi untuk memantau kondisi sekolah yang terdampak.

    “Nanti kami juga akan memanggil Mendikdasmen untuk membahas langkah-langkah perbaikan sekolah yang rusak,” pungkasnya.

    Baca: Tren bencana banjir di Indonesia semakin mengkhaawatirkan

  • Kementerian ATR/BPN Diminta Rigid dalam Perencanaan Pembangunan untuk Cegah Banjir Besar Terulang di Bekasi

    Kementerian ATR/BPN Diminta Rigid dalam Perencanaan Pembangunan untuk Cegah Banjir Besar Terulang di Bekasi

    7cloud.asia – Terdapat analisa yang salah dalam konsep perencanaan dan pembangunan pemukiman di Kabupaten Bekasi sehingga menyebabkan banjir yang memicu masalah serius.

    Anggota Komisi II DPR RI Aziz Subekti mengatakan bahwa kawasan pemukiman yang baru yang dilanda banjir pada awal Maret lalu bukan kawasan penduduk.

    ”Berarti ini ada analisa yang salah dalam perencanaan dari kementerian terkait,” katanya saat diwawancarai Parlementaria di Cikarang Pusat, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (26/3/2025).

    Menurutnya, penyebab banjir itu terjadi karena kurangnya perencanaan yang rigid dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) dan kurang memperhatikan ekologi.

    Baca: Bekasi dilanda banjir terburuk dalam 9 tahun terakhir

    “Hal itu diperlukan agar ke depannya daerah ini tidak sembarangan dalam perencanaan dan pembangunan, serta tidak mengikuti kepentingan kapital,” tambah Politisi Fraksi Partai Gerindra ini.

    Seharusnya, ia melanjutkan, membangun itu mengikuti kepentingan kawasan pemukiman yang terintegritas dan bisa sustainable, agar tercipta pembangunan yang berkelanjutan.

    “Nah terkait pembangunan di daerah itu harus ada masukan dari masyarakat, dari ahli, teknokrat, birokrat dan lainnya semua harus bersama-sama, yang utamanya adalah kepentingan kawasan untuk berkelanjutan bukan untuk kepentingan pemodal,” pungkasnya.

    Seperti diketahui kota dan Kabupaten Bekasi menjadi daerah yang paling parah dilanda banjir saat banjir besar terjadi di Jabodetabek pada awal Maret lalu, di mana sejumlah pemukiman tergenang air hingga 3 meter.

    Baca: KLH percepat rehabilitasi DAS Sungai Bekasi dan Sungai Ciliwung

    Banjir tidak hanya melumpuhkan pemukiman warga, tetapi juga fasilitas penting seperti rumah sakit, stasiun kereta api. Di beberapa tempat juga dilakukan pemadaman listrik total.

    Tercatat 12 kecamatan yang terdampak banjir, delapan kecamatan berada di Kota Bekasi dan empat lainnya di Kabupaten Bekasi.

    “Dan hari ini, Kota Bekasi lumpuh, sampai di jalan utama, termasuk kantor pemerintahan, itu sudah mulai masuk air, karena kemudian juga limpasannya sungguh luar biasa,” kata Wali Kota Bekasi Tri Adhianto dalam pernyataannya di Bekasi, Selasa (4/3/2025).

    Banjir di Bekasi ini tak lepas dari buruknya tata ruang, selain juga rusaknya kawasan penyangga di hutan di daerah hulu.

    Atas kondisi ini pemerintah diminta membuat tim investigasi untuk pelaku-pelaku perusahaan yang tidak taat dan patuh menjalankan peraturan, sehingga keadilan dapat diwujudkan dengan cara salah satunya, penjarakan pelaku yang merusak alam.

    Baca: Banjir Jabodetabek dipicu tata ruang yang amburadul

  • Pembangunan Bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut Ditargetkan Rampung November 2025

    Pembangunan Bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut Ditargetkan Rampung November 2025

    7cloud.asia – Puluhan truk dikerahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bekasi, untuk mengangkut sampah limbah hasil penertiban bangunan liar yang berdiri di sepanjang bendung sungai hulu Kali Cikarang dan Kali Bekasi Cikarang Laut (CBL).

    Penertiban bangunan liar di atas tanah negara ini dilakukan untuk kepentingan pembangunan bendungan yang diharapkan mencegah terulangnya banjir besar seperti yang terjadi pada Maret lalu, sekaligus untuk cadangan pengairan pertanian kawasan tersebut.

    “Titik pengangkutan limbah bangunan ini berlokasi di wilayah perbatasan antara Desa Sukajaya di Kecamatan Cibitung dan Desa Kali Jaya di Kecamatan Cikarang Barat,” kata Koordinator Lapangan UPTD Wilayah III DLH Kabupaten Bekasi Amit Setiawan di Cikarang, Kamis (8/5/2025).

    Langkah ini sekaligus bentuk nyata dalam mendukung kelancaran pembangunan proyek strategis bendungan Kali CBL oleh pemerintah daerah, sebagai upaya menyuplai air irigasi di areal persawahan wilayah utara daerah itu.

    Selain mengerahkan truk pengangkut, kata dia, puluhan personel kebersihan juga turut dilibatkan dalam proses pembersihan sisa puing bangunan hasil penertiban bangunan liar, termasuk melibatkan peran aktif unsur TNI/Polri, Satpol PP, Dinas Bina Marga, serta instansi terkait lain.

    Baca: Perencanaan pembangunan untuk cegah banjir besar terulang di Bekasi

    Amit memastikan proses pembersihan dilakukan secara menyeluruh demi mendukung kelancaran pembangunan proyek strategis bendungan Kali CBL serta penataan ruang agar lebih tertata rapi.

    “Sampah hasil dari penertiban ini, ada jenis sampah campuran kayu, plastik, dan sisa cor bangunan rumah, yang cukup banyak jumlahnya. Kami sangat mendukung penuh proses pembangunan bendungan ini dan kami pastikan lokasi ini segera terbebas dari sisa puing sampah,” katanya.

    Diperkirakan total limbah hasil pembongkaran bangunan liar mencapai seberat 150 ton. Pembersihan sampah sudah dimulai sejak awal pekan ini.

    “Kami estimasi ada sekitar 150 ton sampah sisa material bangunan liar yang akan kami angkut. Kami optimistis bisa selesai secepatnya mengingat kami juga terbantu dengan alat berat dari pelaksana yang ditunjuk pemerintah daerah membangun bendungan ini,” kata dia.

    Pemerintah Kabupaten Bekasi, menargetkan pembangunan Bendung Kali Cikarang Bekasi Laut (CBL) selesai dikerjakan pada November 2025.

    Baca: Bekasi dilanda banjir terburuk dalam 9 tahun terakhir

    “Bendung ini akan mengalirkan air ke saluran sekunder Kali Srengseng Hilir dan menyuplai kebutuhan irigasi untuk lahan pertanian seluas 7.252 hektare di wilayah utara,” kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (SDABMBK) Kabupaten Bekasi Henri Lincoln di Cikarang, Selasa.

    Ia menyatakan pembangunan bendung ini menjadi solusi kekeringan yang kerap melanda areal pertanian saat musim kemarau.

    Lokasi bendung berada di Desa Sukajaya Kecamatan Cibitung, berbatasan dengan Desa Kalijaya di Kecamatan Cikarang Barat dan Desa Karang Asih Kecamatan Cikarang Utara.

    “Fokus kami menangani kekeringan yang menjadi aspirasi petani wilayah utara. Selama ini, air tidak sampai ke hilir saat kemarau. Pemkab Bekasi dan BBWS Citarum telah menyepakati pembagian tanggung jawab melalui nota kesepahaman,” katanya.

    Baca: Berbagai masalah muncul akibat maraknya pembangunan bendungan

    Henri menjelaskan selama ini para petani di wilayah utara secara swadaya membendung aliran air menggunakan bronjong batu dan cerucuk bambu agar debit air mengalir ke saluran sekunder Kali Srengseng saat musim kemarau.

    Pembangunan bendung sungai hulu ini sempat tertunda selama dua bulan karena menunggu tuntas proses penertiban bangunan liar yang berdiri di atas tanah negara pada sepanjang aliran sungai tersebut.

    Sementara itu, perwakilan Gerakan Petani Utara Aris Sukadam mengapresiasi pembangunan bendung, terlebih infrastruktur tersebut telah lama dinantikan petani sebagai solusi mengatasi gagal panen dan tanam, seperti yang terjadi saat kemarau ekstrem tahun lalu.

    “Kami bersyukur akhirnya pembangunan dimulai. Selama ini kami bergotong-royong membendung air secara manual agar sawah tetap mendapatkan pasokan air,” katanya.

    Kali Srengseng mengalir sepanjang 38 kilometer melintasi tujuh kecamatan di antaranya Karangbahagia, Sukatani, Tambelang, Sukawangi, Sukakarya, Cabangbungin dan Muaragembong.

  • Penanggulangan Banjir Bekasi Jadi Tanggung Jawab Pusat: DPR Dorong Dijadikan PSN

    Penanggulangan Banjir Bekasi Jadi Tanggung Jawab Pusat: DPR Dorong Dijadikan PSN

    7cloud.asia – Anggota Komisi V DPR, Sudjatmiko menegaskan perlunya langkah serius sekaligus terintegrasi untuk mengatasi persoalan banjir di Kota Bekasi yang berulang setiap tahun.

    Sebab itu, ia mendorong agar program normalisasi Sungai Bekasi dimasukkan ke dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sehingga pendanaan bisa ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan.

    Banjir besar di Bekasi, ujarnya, terjadi setiap lima tahun sekali. Dampaknya meluas hingga 25 kelurahan dari 12 kecamatan, sekitar 18.700 kepala keluarga terdampak, dengan kerugian lebih dari Rp4 triliun.

    “Kalau hanya mengandalkan Pemda dan PUPR, tentu berat. Karena itu harus masuk PSN,” tegas Sudjatmiko usai mengikuti agenda Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR RI meninjau langsung progres pembangunan Bendungan Kali Bekasi bersama jajaran Kementerian PU di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, Kamis (28/8/2025).

    Ia mencontohkan banjir besar pada Maret 2025, ketika curah hujan ekstrem mencapai 232 mm per hari. Air meluap hingga ke kawasan pusat perbelanjaan, termasuk merendam basement Mall Giant.

    “Memang cuaca ekstrem tak bisa dihindari, tapi bisa diantisipasi dengan membangun embung dan melakukan normalisasi sungai,” ujarnya.

    Baca: Upaya mencegah banjir besar terulang di Bekasi

    Sebagai informasi, upaya normalisasi memang sudah berjalan. Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas SDA-BMBK mencatat ada 65 titik bantaran sungai yang tengah dinormalisasi sejak awal tahun 2025 dengan alokasi anggaran sekitar Rp300 miliar.

    Pekerjaan normalisasi Sungai Bekasi mencakup pengerukan, pembangunan turap, dan bendungan kecil.

    Hingga Mei 2025, progres baru sekitar 40 persen, sementara pada Juli sudah ada 54 titik di 13 kecamatan yang tersentuh pengerjaan, termasuk Pebayuran, Babelan, Tambun Utara, dan Karangbahagia. Target penyelesaian seluruh titik dipatok pada Agustus 2025.

    Sudjatmiko juga menyinggung rencana pembangunan delapan embung bekerja sama dengan JICA yang diharapkan mampu mereduksi banjir besar.

    Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga daerah aliran sungai (DAS) dengan dua cara berupa memasang tanda batas (plank) dan penghijauan dengan pohon jati atau sengon.

    “Percuma disertifikasi kalau tidak dijaga. Kalau lahannya diserobot masyarakat, sungai makin menyempit, banjir akan terus berulang,” katanya.

    Baca: Bekasi dilanda banjir terburuk dalam 9 tahun terakhir

    Politisi PKB itu menambahkan, banyak jaringan irigasi di Bekasi kini tidak berfungsi akibat alih fungsi lahan.

    “Lucu kalau banjir bukan hanya dari sungai alam, tapi juga dari saluran irigasi. Kalau sawah sudah tidak ada, kembalikan fungsinya sesuai kebutuhan, apakah untuk air minum, peternakan, atau perikanan,” jelasnya.

    Sudjatmiko juga mengingatkan Jasakirta, badan usaha pengelola jaringan sungai di Bekasi, agar tidak lagi memberikan izin sewa lahan di bantaran sungai. Menurutnya, praktik sewa-menyewa ini memicu konflik dengan masyarakat.

    “Banyak laporan masuk ke DPR, mereka merasa sudah menyewa puluhan tahun sehingga punya hak atas lahan. Itu harus dihentikan, kembalikan lagi sesuai fungsinya,” tegasnya.

    Ia pun mengungkap adanya lahan yang sudah dibebaskan sejak 1960 oleh Kementerian SDA, namun belakangan justru terbit sertifikat baru. BPN tidak berani bayar karena statusnya tumpang tindih sehingga harus diselesaikan agar proyek bisa berjalan.

    Dengan fakta di lapangan bahwa normalisasi 65 titik belum menyelesaikan masalah banjir secara menyeluruh, usulan Sudjatmiko agar proyek normalisasi Sungai Bekasi masuk PSN dinilai relevan.

    Baca: Sodetan Ciliwung belum efektif cegah banjir

    Dalam kesempatan yang sama, anggota Komisi V DPR RI Boyman Harun menegaskan agar pemerintah tidak lagi saling lempar tanggung jawab dalam penanganan banjir Bekasi.

    Menurutnya, bencana banjir bukan hanya masalah daerah, melainkan persoalan nasional yang membutuhkan intervensi langsung pemerintah pusat.

    “Ini kan masalah banjir nasional, jadi tidak bisa lagi hanya mengandalkan Pemda. Kalau ada proyek-proyek strategis nasional, banjir juga harus dipandang sebagai masalah strategis nasional,” ujar Boyman.

    Boyman menilai upaya teknis yang dilakukan Kementerian PUPR, seperti normalisasi sungai, peninggian tanggul, dan pembangunan hilir, sebenarnya sudah berjalan baik. Namun, paparnya, kendala utama justru muncul pada penyediaan lahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.

    Menurutnya, kondisi ini membuat proyek bernilai ratusan miliar rupiah berjalan tersendat.

    “Kalau Pemda bilang tidak punya anggaran untuk pembebasan lahan, lalu dibiarkan, yang rugi tetap masyarakat. Negara juga akhirnya harus keluar uang lebih besar ketika banjir terjadi, mulai dari perbaikan infrastruktur, kerugian ekonomi, sampai relokasi warga,” tegasnya.

    Baca: Pembangunan bendungan Kali Cikarang Bekasi Laut