Tag: burung

  • Bantu Pelestarian Satwa, Burung Indonesia Gelar WMBD 2023 di Gorontalo

    Bantu Pelestarian Satwa, Burung Indonesia Gelar WMBD 2023 di Gorontalo

    7cloud.asia – Burung Indonesia Program Gorontalo menggelar World Migratory Bird Day (WMBD) 2023, dengan melakukan pengamatan burung (bird watching) di kawasan mangrove Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo.

    Terdapat tiga titik yang menjadi lokasi pengamatan burung yakni kawasan mangrove di Cagar Alam Panua Kecamatan Paguat.

    Selain itu, Cagar Alam Tanjung Panjang di Kecamatan Randangan, dan Desa Dudewulo Kecamatan Popayato.

    Koordinator Program Gorontalo Burung Indonesia Patmasanti di Gorontalo, Senin mengatakan bulan Oktober merupakan momen perayaan burung bermigrasi.

    baca: kenali beragam jenis tanaman bakau di kebun raya mangrove surabaya

    Sehingga merupakan waktu yang tepat untuk mengamati dan mendapatkan data jenis-jenis burung yang bermigrasi di tiga kawasan tersebut.

    Dalam kegiatan itu, Burung Indonesia menggandeng sejumlah jurnalis, komunitas pecinta alam, aktivis lingkungan, pemerintah daerah hingga akademisi.

    “Kami sengaja melibatkan banyak pihak, agar setelah ini mereka bisa menjadi penyambung untuk mensosialisasikan kepada masyarakat lain di lingkungan sekitar masing-masing, bahwa betapa pentingnya pelestarian satwa dan lingkungan,” kata Patmasanti. 

    Para peserta diajak mengamati langsung burung di alam, mengidentifikasi jenisnya dengan bantuan teropong, buku, serta penjelasan dari praktisi konservasi burung Ferry Hasudungan.

    baca: pameran konservasi melestarikan binatang langka tak berarti harus memiliki

    Selain jenis burung bermigrasi, kata dia, para peserta juga diperkenalkan dengan pentingnya menjaga ekosistem mangrove yang menjadi habitat dan tempat singgah untuk mencari makan dari berbagai jenis burung.

    “Kami juga ingin mendorong peran media dan komunitas dalam upaya konservasi dan pemantauan keragaman hayati,” katanya.

    Kegiatan yang dimulai pada 27 Oktober 2023 itu, diakhiri dengan kunjungan ke kampung suku bajo di Desa Torosiaje Laut Kecamatan Popayato yang menjadi salah satu desa tujuan program Burung Indonesia.

    Di desa tersebut, pihaknya menggelar workshop tentang “Pentingnya Mangrove Bagi Manusia dan Keanekaragaman Hayati di Dalamnya”, yang diikuti peserta dan warga setempat.

    Sumber: Antaranews

  • Pengamatan Belantara Foundation Temukan Tiga Burung Langka di Lapangan Banteng

    Pengamatan Belantara Foundation Temukan Tiga Burung Langka di Lapangan Banteng

    7cloud.asia – Belantara Foundation dan Sekolah Alam Indonesia (SAI) tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengamati keberadaan burung-burung liar di kawasan Taman Lapangan Banteng, Jakarta pada Kamis (25/01/2024). 

    Pengamatan burung liar di Lapangan Banteng ini diikuti oleh 48 siswa SMP SAI. Mereka dibagi menjadi 6 kelompok dan didampingi oleh 18 fasilitator.

    Para fasilitator ini berasal dari Kelompok Pengamat Burung (KPB) Nectarinia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KPB Nycticorax UNJ dan Biological Bird Club Ardea
    Biologi UNAS.

    Koordinator Edukasi, Fundraising dan Outreach Belantara Foundation, Ahmad Baihaqi menyampaikan pentingnya menjaga keletarian lingkungan sebagai habitat alami burung-burung liar.

    Baca: Mengintip keberadaan burung nuri di Maluku

    Selain penyampaian materi dalam bentuk teori, Abay juga mempraktikan langsung kegiatan mengamati burung-burung liar di salah satu ruang terbuka hijau di ibukota ini.

    Ahmad Rizky Mudzakir dari SMP SAI mengatakan bahwa pengamatan burung ini bertujuan untuk penyadartahuan (awareness) dan edukasi bagi masyarakat khususnya siswa SAI akan pentingnya menjaga lingkungan sekitar lewat pengamatan burung.

    “Pengamatan burung ini juga sebagai wadah pembekalan dan pengayaan materi sebelum mereka melakukan eksplorasi burung-burung di kawasan Taman Nasional Manusela, Maluku pada April mendatang”, ujar Ahmad.

    Dengan menggunakan teropong dan poster burung-burung para peserta mengamati burung-burung di Lapangan Banteng  serta mencatat burung yang
    berhasil diamati pada tabulasi data yang telah disiapkan.

     

    Baca: Populasi burung kakatua terus menurun

    Sementara Ahmad Baihaqi dari Belantara Foundation menegaskan bahwa burung memainkan peran penting bagi ekosistem

    “Sehingga penting bagi masyarakat khususnya generasi muda berpartisipatif aktif dalam menjaga dan melestarikan burung-burung di habitat alaminya seperti di ruang terbuka hijau (RTH) di Jakarta,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia.

    Ia menambahkan, RTH Jakarta seperti Taman Lapangan Banteng tak hanya berfungsi untuk menyerap polusi udara tapi juga berperan sebagai habitat bagi burung-burung liar.

    Keberadaan burung liar tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi generasi muda khususnya siswa sekolah terutama pembelajaran ilmu biologi.

     

    Baca: Mengenal burung elang jawa yang terancam punah

    Abay menambahkan dalam pengamatan selama satu hari ini, terdapat setaidaknya 23 jenis burung yang berhasil diamati dan identifikasi.

    Dari jumlah itu terdapat tiga jenis burung masuk ke dalam kategori yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi.

    Tiga jenis burung tersebut yaitu kipasan belang (Rhipidura javanica), betet biasa (Psittacula alexandri) dan alap-alap sapi (Falco moluccensis).

    Berdasarkan status keterancaman, terdapat dua jenis burung yang masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).

    Yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) berstatus rentan terancam punah / Vulnerable (VU) dan betet biasa (Psittacula alexandri) berstatus hampir terancam punah / Near Threatened (NT).

     

  • Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    Seperti Ini Peran Kupu-kupu dan Burung bagi Kelestarian Lingkungan

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, keberadaan ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan dapat dijadikan sebagai laboratorium alam, tempat menimba ilmu bagi pelajar khususnya bidang biologi.

    Ruang terbuka hijau di kawasan perkotaan tak hanya menyerap karbon, tapi juga bisa menciptakan ruang atau tempat hidup satwa liar seperti burung dan kupu-kupu. 

    Selanjutnya, satwa liar seperti kupu-kupu dan burung memiliki peran yang sangat penting bagi kelangsungan ekosistem.

    Misalnya, kupu-kupu berperan penting sebagai pollinator, yaitu agen penyerbuk alami bagi bunga shingga terjadi pembuahan.

    Sedangan, burung dapat membantu dalam penyebaran biji (seeds dispersal) dan pengendali hama (biokontrol).

    Selain itu, kupu-kupu dan burung dapat menjadi indikator baik atau tidaknya kualitas lingkungan (bioindikator).

    Baca: Kelas Biodiversitas Belantara Foundation

    Seiring pesatnya pembangunan, kupu-kupu dan burung menghadapi ancaman seperti kehilangan habitat, perburuan dan perdagangan secara ilegal

    “Pencemaran lingkungan, perubahan iklim global, serta kerusakan ekosistem yang berdampak pada produktivitas dan kesehatan habitat mereka,“ ujar Dolly saat membuka Kelas Biodiversitas yang diselenggarakan Belantara Foundation pada Sabtu (18/5/2024) lalu.

    Dalam kesempatan sama, Pendiri komunitas KupuKita, Nurul L. Winarni mengatakan pihaknya terus mengajak dan mendorong masyarakat terutama generasi muda untuk terlibat dalam pendataan kupu-kupu yang ada di sekitar mereka.

    “Kami terus mendorong gerakan citizen science kupu-kupu, Sebuah kegiatan kerja ilmiah yang dilakukan masyarakat secara menyenangkan dengan dampingan ilmuwan profesional atau lembaga ilmiah” kata Nurul yang juga sebagai Head of Service and Development/Research Scientist Research Center for Climate Change Universitas Indonesia.

    Kelas Biodiversitas ini diselenggarakan di Taman Heulang Bogor, Jawa Barat dan diikuti siswa dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi.

    Baca: Upaya memetakan populasi kupu-kupu di Jakarta

    Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN mengatakan,  Taman Heulang dipilih menjadi lokasi kegiatan karena merupakan taman terluas yang ada di Kota Bogor.

    Taman Heulang memiliki luas lebih kurang 2,8 hektare yang awalnya hanya dijadikan sebagai lapangan bola dan tidak terurus.

    Pemerintah Kota Bogor merevitalisasi lapangan tersebut menjadi sebuah taman pada 2015 sehingga menjadi salah satu ruang terbuka hijau di kota Bogor.

    ”Sangat penting dilakukan pendataan potensi biodiversitas seperti jenis-jenis tumbuhan, burung dan kupu-kupu sebagai bahan monitoring dan evaluasi untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di taman tersebut” ujar Dolly, yang juga pengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan.

    Baca: Sensus burung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni, dkk. pada 2018,  terdapat setidaknya 17 jenis burung yang berhasil dijumpai di Taman Heulang.

    Data tersebut perlu dilakukan pemutakhiran setiap waktu untuk mengetahui apakah terjadi perubahan terhadap keberadaan jumlah jenis burung tersebut.

    Sementara berdasarkan hasil pengamatan pada Sabtu lalu, didapatkan 15 jenis burung dan 16 jenis kupu-kupu.

    Dari 15 jenis burung yang berhasil diidentifikasi, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kipasan belang (Rhipidura javanica) yang masuk ke dalam kategori burung yang dilindungi oleh Permen LHK No.106 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

    Berdasarkan status keterancaman, terdapat satu jenis burung, yaitu burung kacamata biasa (Zosterops melanurus) masuk ke dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) yang berstatus rentan terhadap kepunahan atau Vulnerable (VU).

    Baca: Sensus burung di Ancol, Jakarta Utara

     

  • Upaya Kota Chicago Bantu Burung yang Bermigrasi Hindari Tabrak Dinding Kaca

    Upaya Kota Chicago Bantu Burung yang Bermigrasi Hindari Tabrak Dinding Kaca


    7cloud.asia – Burung-burung yang bermigrasi sering menabrak jendela-jendela kaca di Kota Chicago, AS. Jumlah burung yang menjadi korban tidak hanya belasan, tetapi puluhan dan terkadang bahkan ratusan.

    Chicago Bird Collision Monitors adalah salah satu organisasi nirlaba yang memprihatinkan fenomena itu. Setiap musim gugur dan musim semi, para anggotanya disebar untuk menyelamatkan burung yang terluka setelah menabrak jendela kaca.

    Annette Prince, direktur Chicago Bird Collision Monitors, mengatakan mayoritas burung yang menabrak jendela kaca mati.

    “Dari yang kami temukan, sekitar 70% di antaranya mati, dan sekitar 30% di antaranya terluka. Yang 30% tersebut kami segera selamatkan dari trotoar, jalanan, dan bangunan sebelum kerusakan lebih parah terjadi.” ujarnya.

    Pemerintah Chicago tidak tinggal diam. Mereka kini mensyaratkan bangunan-bangunan tinggi di kota itu, terutama yang terkenal dan menjadi kebanggaan, melakukan perbaikan yang memberi keamanan bagi burung.

    Gedung-gedung berdinding — atau berjendela — kaca harus menurunkan pencahayaan dan menambahkan titik-titik pada setiap jendela kaca sehingga menurunkan prospek ditabrak burung.

    Salah satu bangunan paling berbahaya bagi burung di Chicago adalah McCormick Place. Doug Stotz, ahli ekologi konservasi senior di Field Museum, yang berada di dekat bangunan terkenal itu, membenarkan itu.

    McCormick Place secara historis merupakan bangunan yang sangat buruk karena lokasinya tepat di tepi danau. Pernah sekitar 1.000 burung menabrak gedung itu pada satu malam.

    “Itu sebetulnya jumlah rata-rata burung dalam satu tahun yang tewas akibat menabrak kaca. Tapi itu terjadi hanya dalam satu malam,” kata Stotz.

    Musim gugur ini, McCormick Place memasang kaca film baru di salah satu dinding kacanya yang menghadap langsung Danau Michigan.

    Tidak cuma itu, melalui proyek 1,2 juta dolar, mereka juga menghiasi dinding-dinding kacanya dengan titik-titik kecil.

    Titik-titik tersebut, yang biasanya tampak buram atau seperti goresan, berfungsi sebagai indikator visual yang seolah mengingatkan burung untuk tidak menabraknya.

    Burung-burung yang mati akibat menabrak permukaan kaca sering kali dimanfaatkan untuk keperluan ilmiah, seperti di Field Museum, sementara burung-burung yang diselamatkan dibawa ke pusat-pusat rehabilitasi satwa liar, termasuk Pusat Konservasi Margasatwa DuPage di pinggiran kota Chicago.

    Sarah Reich adalah dokter hewan di fasilitas itu. Ia mengatakan, “Burung-burung itu akan menjalani pemeriksaan fisik lengkap oleh staf dokter hewan kami. Mereka diberi obat yang berbeda, yang umumnya disesuaikan dengan cedera apa pun yang mereka alami.”

    Pusat ini menampung sekitar 10.000 hewan per tahunnya, dengan 65 persen di antaranya berjenis unggas dan sebagian besar adalah korban insiden tabrak kaca.Sumber:VOAIndonesia

  • Setiap Pergantian Musim Jutaan Burung Melakukan Migrasi, Pembangunan Kota Jadi Kendala

    Setiap Pergantian Musim Jutaan Burung Melakukan Migrasi, Pembangunan Kota Jadi Kendala

    ruangkotacom – Dua kali setahun, jutaan burung di seluruh planet Bumi melakukan perjalanan epik antara tempat berkembang biak dan tempat musim dingin mereka.

    Fenomena migrasi burung ini menjadi salah satu keajaiban alam terbesar di dunia. Migrasi burung sangat penting untuk mempertahankan keanekaragaman hayati planet ini.

    Sebagai penyebar benih dan pengendali serangga, burung membantu menjaga ekosistem yang sehat. Melalui perjalanan panjang mereka, burung-burung ini menghubungkan habitat yang jauh dan menumbuhkan keseimbangan ekologi.

    Burung juga menghubungkan orang-orang di seluruh dunia, dengan kembalinya spesies yang sangat dicintai yang dirayakan dalam banyak budaya sebagai berkah dan penanda pergantian musim.

    Kini, migrasi burung yang biasa terjadi menjelang pergantian musim dan dihormati sebagai Hari Burung Migrasi Sedunia yang dirayakan setiap tanggal 10 Mei,

    Baca: Kota Chicago cegah burung yang bermigrasi tabrak dinding kaca

    Namun, perjalanan burung, besar dan kecil, penuh dengan bahaya. Bahaya terlemah rentan terhadap cuaca buruk, predator, dan kelelahan. Selama ribuan tahun, orang telah memburu burung yang bermigrasi untuk makanan.

    Belakangan, polusi, kabel listrik, bangunan kaca yang mengilap, hilangnya habitat, dan perubahan iklim menambah ancaman yang dialami burung-burung yang berimigrasi ini.

    Banyak bahaya yang tumpang tindih di kota-kota, yang telah menjadi fokus upaya untuk membantu burung mencapai tujuan mereka, terutama ketika pusat kota terletak di rute migrasi utama, yang dikenal sebagai jalur migrasi.

    Kondisi ini menjadi ancaman nyata terhadap kelestarian burung-burung yang biasa bermigrasi atau yang biasa disebut dengan burung migran.

    Setidaknya 134 spesies burung migran terancam punah, menurut laporan tahun 2024 dari Konvensi Spesies Migrasi, sebuah kesepakatan global yang dirancang untuk melindungi hewan yang melakukan perjalanan lintas batas.

    Baca: Migrasi tahunan burung layang-layang

    Dari 1.189 spesies yang tercantum dalam konvensi tersebut, 44 persen menunjukkan penurunan populasi, dengan 22 persen terancam punah.

    Inisiatif seperti Generation Restoration Cities membantu menginspirasi penduduk dan mendukung pemerintah kota dan daerah di seluruh dunia dalam membangun jaringan dan berbagi pengalaman.

    Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan di Divisi Perubahan Iklim UNEP. Mirey Atallah mengatakan, upaya melestarikan ruang bagi burung telah dilakukan otoritas Seattle (AS) dan Istanbul (Turkiye).

    ”Pelajaran terpenting yang mereka ajarkan kepada kita adalah bahwa daerah perkotaan yang dipulihkan dan dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi tempat berlindung di dunia yang terus berubah bagi satwa liar maupun manusia,” katanya.

    Apa yang dilakukan pemerintah dua kota ini akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

  • Cara Kota Istanbul Menjadi Tempat Aman Bagi Burung-burung Migran

    Cara Kota Istanbul Menjadi Tempat Aman Bagi Burung-burung Migran

    7cloud.asia – Bagi burung yang mengikuti jalur migrasi Afrika-Eurasia, kota Istanbul di Turki menjadi masalah tersendiri.

    Setiap musim semi dan musim gugur, ratusan ribu burung bangau dan burung pemangsa mengikuti jembatan darat sempit antara Timur Tengah dan Eropa tempat kota Istanbul berada.

    Burung laut terbang melewati kapal kargo besar yang berlayar melalui Selat Bosphorus; dan burung yang lebih kecil beristirahat dan mengisi bahan bakar di taman dan kebun kota.

    Para pelestari lingkungan khawatir perluasan kota yang cepat, proyek-proyek besar seperti Bandara Internasional Istanbul dan Jembatan Yavuz Sultan Selim mengganggu ritual tahunan burung ini.

    Juga degradasi ekosistem, seperti Danau Büyükçekmece, persinggahan utama bagi unggas liar, meningkatkan tekanan pada satwa liar yang tinggal di sana dan yang bermigrasi.

    Baca: Kota Chicago cegah burung yang bermigrasi tabrak dinding kaca

    Untuk mengatasi ancaman tersebut, pemerintah kota Istanbul telah meluncurkan sebuah proyek untuk meningkatkan kesadaran dan konservasi keanekaragaman hayati, termasuk burung migran, di dalam wilayah metropolitan.

    Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Generation Restoration Cities dari United Nations Environment Programme (UNEP), yang memajukan solusi berbasis alam untuk tantangan lingkungan di wilayah perkotaan.

    Melalui upaya ini, UNEP bekerja sama dengan 24 kota, 14 di antaranya menerima dukungan finansial dan teknis langsung untuk menguji coba solusi berbasis alam perkotaan.

    Inisiatif ini merupakan bagian dari Dekade PBB untuk Restorasi Ekosistem, sebuah upaya global untuk menghidupkan kembali alam.

    Istanbul juga telah bergabung dengan Journeys for Life, sebuah inisiatif baru yang dipimpin oleh ICLEI – Pemerintah Daerah untuk Keberlanjutan, untuk membantu kota dan wilayah dalam melestarikan spesies migrasi yang rentan.

    Baca: Teknologi CFD dorong ketahanan kota terhadap udara panas

    Untuk membantu penduduk Istanbul menghargai alam di sekitar mereka, kota ini menjalankan kampanye media sosial dan akan menggunakan poster dan video di halte bus kota untuk menyajikan fakta-fakta utama dan gambar-gambar menarik dari burung-burung migrasi.

    Rumput dan bunga akan ditanam di atap halte bus untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap spesies asli yang mendukung lebih banyak satwa liar.

    “Jutaan orang menggunakan halte bus ini setiap hari, jadi ini adalah platform yang bagus bagi kami untuk membantu orang memahami hal-hal seperti pentingnya koridor hijau,” kata Nilgün Cendek, Direktur Direktorat Sistem Ekologi Perkotaan di Otoritas Metropolitan Istanbul.

    Untuk menarik kaum muda, pemerintah kota Istanbul merancang rencana pelajaran tentang keanekaragaman hayati untuk digunakan di sekolah dasar.

    Para pejabat juga menyelenggarakan lokakarya pada bulan Mei di mana kelompok masyarakat sipil dan bisnis setempat, serta para ahli dan pejabat pemerintah, akan membahas cara terbaik untuk menjaga ruang hijau, seperti Hutan Kota Atatürk yang banyak dikunjungi, dan menjadikan kota lebih berkelanjutan.

    Baca: Lampu di kota besar mengganggu migrasi burung

    “Dengan keterlibatan dan keterlibatan yang luas, kami berharap dapat menyalurkan minat, kesadaran, dan perhatian masyarakat yang semakin meningkat tentang keanekaragaman hayati menjadi momentum untuk tindakan konservasi,” kata Cendek.

    Puncak dari kampanye ini jatuh pada Hari Burung Migrasi Sedunia, saat pemerintah kota dan mitra mengharapkan ribuan orang untuk bergabung dalam penghitungan burung tahunan dari berbagai titik strategis di kota, seperti perbukitan Büyük dan Küçük Çamlıca.

    Bangau hitam, bangau putih, dan burung pemangsa, termasuk banyak spesies elang dan alap-alap, sering terbang berputar-putar dalam jumlah besar di atas kota saat mereka memanfaatkan arus udara hangat untuk mencapai ketinggian sebelum melanjutkan migrasi mereka.

    Para pecinta burung yang bersenjatakan teropong, kamera, dan teleskop telah melakukan perjalanan ke Istanbul untuk menyaksikan tontonan tersebut, yang menyoroti bagaimana burung dan migrasi mereka dapat mendukung ekowisata.

     

     

  • Cara Kota Seattle dan Istanbul Melindungi Burung Migran

    Cara Kota Seattle dan Istanbul Melindungi Burung Migran

    7cloud.asia – Setidaknya 134 spesies burung migran terancam punah, menurut laporan tahun 2024 dari Konvensi Spesies Migrasi, sebuah perjanjian global yang dirancang untuk melindungi hewan yang melintasi batas negara.

    Dari 1.189 spesies yang terdaftar dalam konvensi tersebut, 44 persen burung migran menunjukkan penurunan populasi, dengan 22 persen di antaranya terancam punah.

    Dilansir di laman resmi UNEP, untuk mengatasi ancaman terhadap burung migran ini telah digagas sejumlah inisiatif yang melibatkan sejumlah kota di dunia.

    Salah satu inisiatif itu adalah Generation Restoration Cities yang membantu menginspirasi warga dan mendukung otoritas kota dan regional di seluruh dunia dalam membangun jaringan dan berbagi pengalaman.

    Di Amerika Serikat, misalnya, Kota Seattle telah berupaya selama bertahun-tahun untuk mengakomodasi burung osprey, elang pemakan ikan yang terancam punah akibat meluasnya penggunaan pestisida.

    Baca: Upaya Kota Chicago lindungi burung yang bermigrasi

    Dinas pertamanan kota telah mendirikan anjungan bersarang di lokasi yang aman bagi burung-burung, yang kembali setiap musim semi dari Amerika Selatan dan Tengah.

    Menurut Urban Raptor Conservancy, sebuah kelompok konservasi lokal, sekitar 20 pasang burung bersarang di dalam kota, yang merupakan bagian dari inisiatif Generation Restoration Cities.

    Sementara otoritas Kota Istanbul telah meluncurkan proyek untuk meningkatkan kesadaran dan konservasi keanekaragaman hayati, termasuk burung migran, di wilayah metropolitan.

    Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif Generation Restoration Cities dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), yang memajukan solusi berbasis alam untuk tantangan lingkungan di wilayah perkotaan.

    Lewat program ini, UNEP bekerja sama dengan 24 kota, 14 di antaranya menerima dukungan finansial dan teknis langsung untuk menguji coba solusi berbasis alam perkotaan.

    Baca: Pembangunan kota menjadi ancaman untuk burung migran

    Inisiatif ini merupakan bagian dari Dekade Restorasi Ekosistem PBB, sebuah upaya global untuk memulihkan alam sekaligus menjaga keanekaragamanhayati.

    Istanbul juga telah bergabung dengan Journeys for Life, sebuah inisiatif baru yang dipimpin oleh ICLEI – Pemerintah Daerah untuk Keberlanjutan, untuk membantu kota dan wilayah dalam melestarikan spesies migrasi yang rentan.

    Untuk membantu warga lebih menghargai alam di sekitar mereka, pemerintahkota Istanbul menjalankan kampanye media sosial dan akan menggunakan poster dan video di halte bus kota.

    Kampanye ini menyajikan fakta-fakta penting dan gambar-gambar menarik tentang burung-burung migrasi. Rumput dan bunga ditanam di atap halte bus untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap spesies asli yang mendukung lebih banyak satwa liar.

    “Seattle dan Istanbul mungkin berada di ujung dunia yang berlawanan, tetapi keduanya memiliki kesamaan dalam upaya melestarikan ruang bagi burung,” kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan di Divisi Perubahan Iklim UNEP.

    Baca: Kota Istanbul menjadi tempat aman bagi burung migran

    Dia menambahkan, pelajaran penting yang bisa dipetik adalah bahwa kawasan perkotaan yang telah direstorasi dan dikelola secara berkelanjutan dapat menjadi surga di dunia yang terus berubah, baik bagi satwa liar maupun manusia.

  • Soroti Penyelundupan Burung Endemik Maluku Utara, DPR Minta Regulasi Ekspor Ketat

    7cloud.asia – Komisi IV DPR menyoroti pentingnya perlindungan spesies endemik, terutama burung-burung khas Maluku dan Maluku Utara yang dikenal memiliki warna eksotis dan nilai jual tinggi di pasar internasional.

    Anggota Komisi IV Darori Wonodipuro mengingatkan bahwa praktik penyelundupan dan klaim penangkaran palsu masih marak dan mengancam keanekaragaman hayati Indonesia Timur.

    Dari pengalaman lapangan dan laporan aparat setempat, Darori mengungkapkan bahwa burung-burung tersebut kerap ditangkap di hutan Maluku Utara, diselundupkan ke negara tetangga, lalu diberi label “hasil penangkaran” sebelum diekspor ke Eropa dan Amerika.

    “Kita rugi besar secara ekologis dan ekonomi. Negara tetangga yang mendapat keuntungan, sementara kita kehilangan plasma nutfah,” ujarnya saat Kunjungan Kerja Spesifik ke Maluku Utara (23/9/2025)

    Baca: BKSDA Maluku lepasliarkan 25 satwa dilindungi

    Baca: BKSDA Maluku lepasliarkan burung nuri sitaan

    Ia menegaskan bahwa revisi UU Konservasi yang sedang difinalisasi telah memuat ketentuan lebih ketat tentang izin akses sumber daya genetik, perizinan angkut satwa, dan sanksi pidana.

    Rancangan UU Konservasi diharapkan menjadi jawaban atas maraknya perdagangan ilegal dan upaya biopiracy yang merugikan Indonesia.

    Dirinya juga mengusulkan skema ekspor legal berbasis penangkaran resmi dengan pengawasan ketat sebagai jalan tengah.

    “Kalau mekanisme penangkaran terstandar dan populasi liar terjaga, masyarakat lokal bisa memperoleh manfaat ekonomi tanpa merusak ekosistem,” jelasnya di hadapan para kepala desa dan pegiat konservasi yang hadir.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi kelestarian lingkungan

    Baca: Perdagangan ilegal burung langka Papua

    Komisi IV mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah Maluku Utara membentuk tim pengawasan terpadu yang melibatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), aparat kepolisian, dan otoritas bandara untuk menutup jalur penyelundupan.

    Selain itu, perlu sosialisasi kepada masyarakat mengenai nilai ekologis burung endemik dan konsekuensi hukum jika melakukan perburuan ilegal.

    Darori menutup pertemuan dengan menegaskan komitmen DPR untuk memastikan setiap pasal dalam UU baru mampu menyeimbangkan kepentingan konservasi, hak masyarakat adat, dan potensi ekonomi lestari.

    “Maluku Utara harus menjadi contoh bahwa perlindungan satwa bisa berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

     

  • Repatriasi Burung Perkici Dada Merah Endemik Bali ke Habitat Asalnya

    Repatriasi Burung Perkici Dada Merah Endemik Bali ke Habitat Asalnya

    7cloud.asia – Komisi IV DPR mengapresiasi langkah pemerintah melalui Kementerian Kehutanan serta Badan Karantina Indonesia yang berhasil memulangkan atau melakukan repatriasi 40 ekor burung Perkici Dada Merah (Trichoglossus forsteni) dari Paradise Park, Inggris, ke habitat aslinya di Bali dan Lombok.

    Wakil Ketua Komisi IV DPR, Ahmad Yohan menilai keberhasilan ini sebagai kabar baik bagi dunia konservasi dan momentum penting revisi regulasi untuk memperkuat perlindungan satwa endemik yang terancam punah.

    “Mudah-mudahan pengembalian ini dapat membantu memulihkan populasi satwa yang hampir punah,” ujar Ahmad Yohan usai bertemu dengan Kementerian Kehutanan, Badan Karantina Indonesia, serta Gubenur Provinsi Bali dan jajarannya, di Bali Senin (27/10/2025).

    Ia menegaskan bahwa setelah pemulangan, pemerintah perlu memastikan proses penangkaran dan pelepasliaran burung perkici dada merah ini dilakukan dengan cermat.

    “Tempat pelepasliaran harus benar-benar nyaman bagi burung yang baru dipulangkan. Jangan sampai justru hilang kembali karena habitatnya tidak disiapkan dengan baik,” tegasnya.

    Kementerian Kehutanan telah menyiapkan sejumlah langkah pengawasan dan penangkaran agar keberadaan burung endemik tetap terjaga. Ia juga mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian.

    Baca: Penyelundupan burung endemik Maluku Utara

    Dia berharap masyarakat ikut sadar. Jangan sampai burung yang sudah dipulangkan justru ditangkap atau dijual lagi. Yohan juga menyoroti perlunya revisi Undang-Undang Kehutanan agar lebih tegas dalam mengatur perlindungan satwa dan tumbuhan langka.

    “Kami mendorong agar revisi undang-undang kehutanan nantinya mencakup ketentuan baru yang bisa memastikan hewan dan tumbuhan langka dapat hidup dan berkembang kembali di negeri sendiri,” jelasnya.

    Ditambahkan bahwa koordinasi lintas kementerian perlu diperkuat untuk menciptakan kebijakan lingkungan yang terpadu antara darat dan laut.

    “Harus ada pembicaraan lebih lanjut antara Kementerian Kehutanan dan Kementerian Kelautan dan Perikanan agar pengelolaan lingkungan bisa seimbang dan terkoordinasi,” tandasnya.

    Dalam kesempatan sama, Anggota Komisi IV DPR IN. Adi Wiryatama mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat edukasi serta memperketat regulasi dalam upaya melindungi satwa endemik Bali, khususnya burung Perkici Dada Merah.

    Adi menilai repatriasi ini merupakan langkah luar biasa sekaligus refleksi penting terhadap kondisi konservasi satwa di Indonesia.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

    “Burung endemik kita, yang di habitat aslinya sempat punah namun berkembang di luar negeri, akhirnya bisa dikembalikan. Tapi ini juga menjadi pengingat, di mana letak kesalahannya sampai bisa punah di tempat asal ?” ujarnya.

    Menurutnya, keberhasilan repatriasi harus diikuti dengan upaya nyata memperbaiki tata kelola konservasi satwa endemik. Ia menegaskan, pelestarian satwa bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat.

    “Yang paling penting sekarang adalah edukasi. Burung-burung yang dilindungi, terutama yang hampir punah, harus dijaga bersama. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,“ tegasnya.

    Adi juga menyoroti aktivitas pariwisata yang bersinggungan dengan alam membuat isu perburuan burung menjadi sangat sensitif di mata wisatawan asing.

    Politisi PDI-Perjuangan ini menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah pusat yang telah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga satwa endemik.

    Baca: Mengenali migrasi tahunan burung layang-layang

    Ia mendorong agar masyarakat Bali ikut berperan aktif melalui peningkatan kesadaran lingkungan dan ketaatan terhadap aturan.

    Dia meminta agar pelepasliaran satwa dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan kecocokan habitat.

    “Jangan sampai burung yang sudah dikembalikan malah hilang lagi karena tembpatnya tidak cocok. Habitat dan lingkungan harus benar-benar disesuaikan,” katanya.

    Menutup pernyataannya, Adi berharap momentum repatriasi Perkici Dada Merah dapat menjadi langkah awal kebangkitan konservasi satwa nasional.

    “Jangan hanya satu jenis burung saja. Masih banyak satwa Indonesia yang punah dan kini hidup di luar negeri. Mari kita bersama-sama mengembalikan, memelihara, dan mengembangkannya agar kekayaan hayati kita tetap lestari di tanah sendiri,” tutupnya.

    Foto:Kemenhut

  • 6 Jenis Burung Diusulkan Masuk Daftar Konservasi Internasional

    7cloud.asia – Para pihak dalam Konvensi tentang Konservasi Spesies Hewan Liar Migrasi (CMS) mengusulkan untuk menambahkan 42 spesies migrasi baru ke lampiran Konvensi sebagai spesies yang membutuhkan konservasi internasional.

    Di antara 42 spesies yang diusulkan untuk dimasukkan dalam daftar Konvensi, beberapa menggambarkan tantangan mendesak yang dihadapi satwa liar migrasi.

    Usulan amandemen terhadap lampiran CMS akan dipertimbangkan pada Pertemuan ke-15 Konferensi Para Pihak (COP15) yang akan diadakan di Campo Grande, Brasil, dari tanggal 23 hingga 29 Maret 2026 mendatang

    Di antara 42 spesies yang diusulkan tersebut, terdapat 6 jenis dari kelompok burung (Aves). Salah satunya adalah burung hantu salju (Bubo scandiacus) telah dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir melalui budaya populer, tetapi statusnya semakin genting.

    Selama tiga dekade terakhir, spesies ini telah kehilangan sepertiga dari populasi globalnya.

    Organisasi konservasi internasional BirdLife International baru-baru ini menyatakan spesies ini punah di Swedia.

    Baca: 42 Spesies diusulkan masuk daftar konservasi internasional

    Sebagai predator puncak dan ikon burung di tundra Arktik, burung hantu salju merupakan indikator utama kesehatan ekosistem yang rapuh ini.

    Perubahan iklim dan eksploitasi berlebihan adalah beberapa pendorong utama penurunan populasinya, yang menggarisbawahi kerentanan spesies ini meskipun statusnya ikonik.

    Berikut daftar lengkap 6 jenis burung yang diusulkan untuk dimasukkan dalam lampiran CMS tercantum di bawah ini:

    1. Burung hantu salju (Bubo scandiacus)
    Usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran II, diajukan oleh Pemerintah Norwegia.

    2. Burung petrel lalat pengganggu
    Setidaknya ada 26 spesies dari genus Pterodroma dan Pseudobulweria.

    Usulan untuk memasukkan 9 taksa burung petrel lalat pengganggu ke dalam Lampiran I dan 17 taksa ke dalam Lampiran II, diajukan oleh Pemerintah Australia, Brasil, Chili, Kepulauan Cook, Republik Dominika, Fiji, dan Selandia Baru.

    Baca: Praktik baik konservasi di Kenya

    3. Burung shearwater berkaki daging (Ardenna carneipes)
    Usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran II, diajukan oleh Pemerintah Australia, Prancis, dan Selandia Baru.

    4. Burung whimbrel Hudson (Numenius phaeopus hudsonicus)
    Usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran I, diajukan oleh Pemerintah Brasil dan Chili.

    5. Burung godwit Hudson (Limosa haemastica)
    Usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran I, diajukan oleh Pemerintah Brasil dan Chili.

    6. Burung yellowlegs kecil (Tringa flavipes)
    Usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran I, diajukan oleh Pemerintah Uruguay.

    7. Burung pemakan biji Iberia (Sporophila iberaensis) – usulan untuk dimasukkan ke dalam Lampiran II, diajukan oleh Pemerintah Argentina dan Brasil.

    Foto:Zdeněk Macháček/unsplash.com