Tag: caleg

  • Jelang Pemilu 2024: Pentingnya Kamu Mengenali Caleg di Daerahmu

    Jelang Pemilu 2024: Pentingnya Kamu Mengenali Caleg di Daerahmu

    7cloud.asia – Jelang pelaksanaan Pemilu 2024, percakapan ruang publik terkait kontestasi pemilihan umum legislatif atau pileg dinilai masih rendah. Pembahasan seputar Pemilu 2024 cenderung didominasi oleh kontestasi calon presiden dan calon wakil presiden, sementara pembahasan calon legislatif (caleg) kurang diperhatikan.

    Padahal, pileg dengan caleg yang akan terpilih didalamnya akan sangat menentukan kualitas dan kompetensi wakil rakyat untuk mengawasi kinerja lembaga eksekutif.

    Ketua Presidium Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Jojo Rohi mengatakan, jelang Pemilu 2024 masyarakat lebih suka mendiskusikan pemilu presiden (pilpres) ketimbang pileg.

    Jojo melihat, salah satu penyebabnya karena dalam Pemilu 2024 ini, pilpres dan pileg  berlangsung secara bersamaan. Secara tidak langsung, hal ini akan membuat fokus masyarakat dapat mudah teralihkan.

    Untuk caleg sendiri, saat ini masih dalam proses pendaftaran baik untuk tingkat pusat maupun tingkat provinsi dan kota. Penetapan caleg akan dilakukan pada Oktober 2023 mendatang.

    Baca: 66 Orang tewas akibat konflik agraria di sejumlah daerah di Indonesia

    Jojo mengutip hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) mengenai Pemilu 2019 yang menemukan bahwa 70 persen percakapan publik soal Pemilu 2024 didominasi pembahasan pilpres. Ini membuat pileg tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam diskursus publik.

    ”Dalam survei (LSI) juga menemukan hanya 25 persen pemilih yang mengenal calon legislatif (caleg) di daerah pemilihannya. Para caleg ini masih diabaikan dan belum dipertimbangkan secara kritis oleh masyarakat,” ujar Jojo dalam diskusi ”Kenali dan Kritisi Daftar Calon Sementara Legislatif untuk Pemilu 2024” yang digelar secara daring, Sabtu (15/4/2023).

    Berdasarkan pengalaman di Pemilu 2019, pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara juga didominasi oleh mereka yang datang untuk memilih pasangan capres-cawapres ketimbang caleg. Ini karena banyak pemilih yang tidak mengenal caleg pilihan mereka.

    Menurut Jojo, mendorong masyarakat untuk memilih caleg yang tidak dikenalinya merupakan tindakan yang tidak etis dan tak bermoral. Masyarakat perlu kritis dan mengenali caleg di daerah pemilihan masing-masing.

    Baca: Buka puasa ala Indonesia mampu satukan tokoh tiga agama di AS

    Mereka perlu mempertimbangkan apakah caleg pernah terlibat kasus korupsi, perusakan lingkungan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Apalagi di era digital seperti sekarang, informasi mengenai kandidat dan prosedur pemilihan tersedia secara memadai.

    Para pemilih bisa memantau kinerja para caleg drai pemberitaan media pun akun media sosial mereka. 

    Selain itu para caleg yang sudah ditetapkan juga akan diminta untuk memublikasikan biodata atau daftar riwayat hidupnya. Dalam biodata itu juga dilampirkan motivasi, program, visi, dan misi setiap caleg saat terpilih sebagai anggota DPR, DPRD atau DPD. Ini bisa menjadi pertimbangan para pemilih saat memberikan suaranya kelak.

    Dosen ilmu politik Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman, menuturkan, minimnya perhatian publik menjadi tantangan tersendiri untuk para caleg. Mereka perlu memanfaatkan momentum sebelum masa kampanye untuk menyosialisasikan diri masing-masing tanpa harus melanggar aturan dalam pemilu.

    ”Partai politik sebagai payung para caleg juga perlu mengambil peran dalam menyosialisasikan kandidatnya. Perlakuan kepada setiap caleg harus setara tanpa mengutamakan kandidat-kandidat tertentu. Jadi, tidak hanya caleg bermodal finansial besar saja yang disorot, tetapi juga caleg kompeten tanpa modal ekonomi besar,” katanya seperti dikutip Kompas.id

  • Nama Artis Jejali Daftar Bakal Caleg di Pemilu 2024, Akankah Pengaruhi Kualitas DPR?

    Nama Artis Jejali Daftar Bakal Caleg di Pemilu 2024, Akankah Pengaruhi Kualitas DPR?

    7cloud.asia – Proses pengajuan bakal calon anggota legislatif atau bakal caleg Pemilu 2024, resmi ditutup pada 14 Mei 2023 lalu. Ketua KPU Hasyim Asy’ari menyampaikan 18 partai politik nasional telah mengajukan bacalon DPR-nya ke Kantor KPU.

    Hasyim menyampaikan pada saat menerima kedatangan partai politik tersebut, KPU baru sebatas melihat kelengkapan dokumen atau berkas bakal caleg yang diserahkan partai politik peserta Pemilu 2024.

    “Jadi tim dari parpol dan KPU memastikan dokumen sudah lengkap atau belum, apabila ada dokumen belum lengkap dilengkapi sampai hari ini (Minggu 14 Mei 2023) pukul 23.59 WIB,” kata Hasyim.

    Pascamasa pengajuan bakal caleg 1-14 Mei 2023, KPU selanjutnya melakukan verifikasi administrasi atas berkas yang diserahkan, dilanjutkan dengan pengumuman Daftar Caleg Sementara atau DCS.

    Komisioner KPU Idham Holik mengatakan, setelah DCS diumumkan, KPU menunggu masukan dan tanggapan terkait rekam jejak bakal caleg dari masyarakat.

    “Nanti pada 19 Agustus (selama 5 hari) sampai 23 Agustus selanjutnya KPU akan mengumumkan DCS (Daftar Calon Sementara), dan pada 19-28 Agustus KPU juga memberi kesempatan kepada masyarakat memberi masukan DCS,” ucap Idham. 

    Baca: Pentingnya kamu mengenali caleg di daerah kamu

    Dalam kesempatan itu, Idham juga  menyampaikan kronologi dari proses pengajuan bacalon 1-14 Mei 2023, di mana kehadiran partai politik yang hendak mengajukan bakal caleg baru terjadi pada hari ke-8 oleh PKS.

    “Jadi dari tanggal 1-7 Mei 2023 tidak ada partai politik yang mengajukan bakal caleg,” ujar Idham.

    Adapun partai politik selanjutnya datang mengajukan bakal caleg yakni Partai Hanura pada 10 Mei 2023, PDI Perjuangan, Partai NasDem, Partai Garuda, dan Partai Ummat pada 11 Mei 2023, PPP dan PAN pada 12 Mei, PBB, Partai Gerindra dan PKB pada 13 Mei dan PSI, Partai Demokrat, Partai Gelora, Partai Perindo dan Partai Buruh pada 14 Mei.

    Mencermati bakal caleg yang didaftarkan, partai politik terkesan masih dilandasi “nafsu untuk mendongkrak jumlah kursi di parlemen” ketimbang memperkuat kerja-kerja legislasi.

    Sejumlah partai politik mengusung artis atau publik figur sebagai bakal caleg untuk mendulang suara di Pemilu 2024.

    Baca: Jadwal dan tahapan Pemilu 2024

    Dilansir BBC Indonesia, pengamat politik dari Formappi, Lucius Karus mengatakan hal ini karena bakal caleg dari kalangan selebriti yang sudah populer dan lebih menjual ketimbang kader sendiri yang tak dikenal.

    Partai NasDem, misalnya, mengajukan delapan pesohor dengan latar belakang penyanyi seperti Annisa Bahar dan Reza Artamevia, pemain sinetron Ali Syakieb dan Nafa Urbach, presenter Choky Sitohang dan Ramzi, dan tak ketinggalan musisi Didi Riyadi serta Diana Sastra.

    Selain NasDem, PDI Perjuangan juga sama. Partai ini mencalonkan 14 publik figur, di antaranya musisi Once Mekel dan Marcel Siahaan, pelawak Denny Cagur, budayawan Taufik Hidayat Udjo, pembawa acara Tamara Geraldine, dan penyanyi Sari Koeswoyo.

    Ada pula politisi petahana yang juga artis yakni Krisdayanti, Rieke Diah Pitaloka, dan Rano Karno.

    Selebihnya ada Partai Perindo yang menyodorkan setidaknya delapan caleg dari kalangan artis dan Partai Amanat Nasional sebanyak lima bacaleg.

    Gerindra merangkul Al dan El yang merupakan anak musisi ahmad Dhani yang sejak lama memang bergabung di sana.

    Yang paling sedikit adalah Partai Keadilan Sejahtera yaitu hanya satu, komedian Narji Cagur.

    Baca: Mengapa Jokowi ikut cawe-cawe di Pemilu 2024

    Lucius Karus, mengatakan pencalonan para selebritas menjadi anggota legislatif adalah cara mudah partai politik untuk mendongkrak suara atau kursi di parlemen. Tren seperti ini sudah berlangsung sejak 2004 atau ketika pemilu langsung diberlakukan.

    Di mana kursi anggota DPR yang diperebutkan semakin banyak, sementara persaingan jadi lebih ketat bersamaan dengan kian bertambahnya partai politik. Namun Lucius mempertanyakan kemampuan para artis ini di panggung politik.

    Untuk itu para calon pemilih diminta untuk lebih cermat dalam memilih wakil rakyat, agar dihasilkan DPR yang berkualitas. 

     

     

     

  • Menteri yang Maju Jadi Caleg di Pemilu 2024 Akan Dievaluasi

    Menteri yang Maju Jadi Caleg di Pemilu 2024 Akan Dievaluasi

    “Presiden sudah mengatakan menteri-menteri tidak boleh mengabaikan tugasnya, kalau nanti sampai tugasnya tidak dilaksanakan dengan baik itu akan di-reshuffle. Saya kira itu, sudah ada pernyataan dari Presiden,” kata Wapres Ma’ruf Amin di Nusa Dua, Bali, Selasa (23/05/2023).
     
    Baca: Polarisasi diperkirakan masih warnai Pemilu 2024

    Karena itu, Wapres menganjurkan para menteri yang maju sebagai caleg di Pemilu 2024 supaya tetap menjalankan tugasnya sebagai menteri, sebagai pembantu Presiden.

     
    “Saya kira saya sudah beberapa kali sudah membuat seruan jangan sampai mereka mengabaikan tugasnya,” tambah Wapres.
     
    Diketahui sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju menjadi caleg dalam Pemilu 2024.
     
    Nama Menteri Pertahanan yang juga Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto diusulkan oleh Partai Gerindra yang berkoalisi dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk menjadi capres.
     
    Baca: Jadwal  dan tahapan Pemilu 2024

    Sejumlah nama yang diketahui ikut maju menjadi caleg adalah Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan yang maju di Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Tengah I meliputi Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal, Kota Salatiga, dan Kota Semarang.

    Selanjutnya Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah akan menjadi bakal caleg lewat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Dapil Jakarta II yang mencakup Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri.

    Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar yang juga akan menjadi caleg pada Pemilu Anggota DPR RI 2024 melalui PKB

    PDI Perjuangan juga mendaftarkan nama Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly sebagai caleg pada Pemilu 2024.

     
    Baca: Bagaimana harusnya Presiden bersikap di Pemilu 2024
     
    Sementara itu, dari Partai NasDem muncul Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate.

    Selanjutnya Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo akan nyaleg lewat Partai Perindo di Dapil Jawa Timur I yang meliputi Surabaya dan Sidoarjo.

    Sementara itu, Wakil Menteri Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Ferry Noor akan mencalonkan diri melalui Partai Bulan Bintang (PBB) di Dapil Jawa Barat V.

     
    Dari PPP muncul nama Wakil Menteri Agama Zainut Tahuid Sa’adi sebagai caleg.

  • KPU: Semua Parpol Penuhi Kuota 30 Persen Caleg Perempuan di Pemilu 2024

    KPU: Semua Parpol Penuhi Kuota 30 Persen Caleg Perempuan di Pemilu 2024

    “Semua parpol atau 18 parpol peserta Pemilu 2024 telah memenuhi ketentuan Pasal 246 ayat (2) UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum,” kata anggota KPU RI Idham Holik kepada wartawan di Jakarta, pekan lalu

     

    Pasal tersebut mengatur bahwa daftar bakal calon anggota legislatif (caleg) di setiap daerah pemilihan (dapil) disusun dengan komposisi minimal 30 persen atau ada satu caleg perempuan di antara tiga bakal caleg.
     

     

    KPU juga telah merilis data lengkap persentase jumlah calon anggota DPR RI perempuan yang diajukan oleh parpol peserta Pemilu 2024 di 84 dapil. Berikut ini, data tersebut.
     
    Partai Ummat: 292 perempuan dari total 580 bakal caleg  (49,66 persen).

    Partai Garuda: 264 perempuan dari total 580 bakal caleg  (45,52 persen)

    Perindo: 249 perempuan dari total 580 bakal caleg (42,93 persen)

    Partai Kebangkitan Nusantara (PKN): 238 perempuan dari total 580 bakal caleg (41,03 persen).

    Partai Bulan Bintang (PBB): 235 perempuan dari total 580 bakal caleg (40,52 persen).

    Partai Buruh: 222 perempuan dari total 580 bakal caleg (38,28 persen).

    Baca: Akankah Pemilu 2024 hasilkan pemimpin yang pro lingkungan?

    Partai Hanura: 217 perempuan dari total 580 bakal caleg (37,41 persen).

    Partai Amanat Nasional (PAN): 215 perempuan dari total 580 bakal caleg (37,07 persen).

    Partai Persatuan Pembangunan (PPP): 214 perempuan dari total 580 bakal caleg (36,90 persen).

    Partai Gerindra: 208 perempuan dari total 580 bakal caleg (35,86 persen).

    Partai Keadilan Sejahtera (PKS): 208 perempuan dari total 580 bakal caleg (35,86 persen).

    Partai Kebangkitan Bangsa (PKB): 207 perempuan dari total 580 bakal caleg (35,69 persen).

    Baca: MK putuskan Pemilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    Partai Demokrat: 201 perempuan dari total 580 bakal caleg (34,66 persen).

    Partai NasDem: 199 perempuan dari total 580 bakal caleg (34,31 persen).

    Partai Golkar: 197 perempuan dari total 580 bakal caleg (33,97 persen).

    Partai Gelora: 157 perempuan dari total 463 bakal caleg (33,91 persen).

    PDI Perjuangan: 190 perempuan dari total 580 bakal caleg (32,76 persen).

    Partai Solidaritas Indonesia (PSI): 187 perempuan dari total 580 bakal caleg (32,24 persen).

     

     

  • Perjuangan Caleg Bermodal Cekak Siasati Politik Berbiaya Tinggi

    Perjuangan Caleg Bermodal Cekak Siasati Politik Berbiaya Tinggi

    7cloud.asia – Erie Sandra Amelia seorang calon anggota legislatif (caleg) untuk DPRD DKI Jakarta dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) pernah mengalami kejadian tak mengenakkan.

    Penampilannya yang sederhana justru dipertanyakan. Bonafiditas Erie sebagai caleg diragukan, meski Erie telah lama aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya di Pekayon, Jakarta Timur.

    “Ihh caleg kok sederhana banget, harusnya kalau sudah jadi caleg berpenampilan mewah lah. Jadi kita yakin kalau caleg tersebut cukup kaya untuk menjadi anggota dewan,” demikian salah seorang warga mengomentari penampilannya.

    Kondisi ini tak menyurutkan semangat Erie, ia tetap maju. Ini karena, tujuannya maju sebagai caleg bukan semata untuk berkuasa, tetapi agar ia lebih mudah memperjuangkan misinya melawan kemiskinan dan stunting di wilayahnya.

    “Dari pengalaman selama ini, saya merasa akan lebih mudah bagi saya jika masuk ke sistem,” ujar mantan jurnalis ini.  

    Baca: KPU sudah umumkan DCS, masukan dari masyarakat ditunggu hingga 28 Agustus

    Erie menambahkan, PSI juga tidak mengizinkan caleg nya untuk mencari sponsor untuk membiayai pencalonan mereka. Karena itu Erie mantap melangkah dengan modal aktivisme yang dilakukannya selama ini.

    Kondisi tak mengenakkan juga dihadapi caleg lain di DKI Jakarta yang minta namanya disamarkan menjadi Damar.

    Kepada 7cloud.asia ia menceritakan, jauh sebelum namanya masuk dalam DCS, ke manapun dia mengenalkan diri, selalu ada saja yang meminta bantuan materi.

    “Di Jakarta susah. Melangkah kemanapun pada minta sembako.” ujarnya.

    Karena itu ia memutuskan melepas tim suksesnya dan bergerak sendiri, setelah tim yang berjanji membantunya memaksa untuk memberi sembako dan uang sejumlah tertentu kepada warga setiap bulan.

    Baca: ICW temukan 15 mantan terpidana korupsi dalam daftar DCS

    Apa yang dialami Erie dan Damar ini mungkin menjadi gambaran bagaimana kondisi politik di Indonesia. Bahwa mereka yang ingin terjun ke panggung politik, baik sebagia caleg dan apalagi kepala daerah, harus punya modal cukup.

    Itu sebabnya, tak jarang para caleg nekad mencari pinjaman atau ‘sponsor’ demi bisa terpilih menjadi wakil rakyat. Harapan mereka, modal itu akan dibayar setelah mereka terpilih. 

    Dalam sebuah diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu, mantan Ketua Umum Golkar, Jusuf Kalla mengingatkan, politik berbiaya tinggi inilah yang sering  menjerumuskan politisi untuk melakukan korupsi. 

    Oleh karena itu, ia mengimbau mereka khususnya anak-anak muda yang ingin terjun ke politik agar tidak menjadikan politik sebagai tujuan karier, tetapi alat untuk menyejahterakan masyarakat.

    Baca: Kampanye simpatik Ganjar Pranowo tuai apresiasi

    Dalam kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia Philips J Vermonte menambahi, tingginya biaya politik juga terungkap dalam hasil sensus parpol yang dilakukan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada 2015.

    Saat itu, CSIS menemukan bahwa regenerasi kepemimpinan parpol di daerah sudah berjalan. Hal itu terlihat dari usia pimpinan parpol yang umumnya di bawah 40 tahun.

    Namun, jika dilihat lebih lanjut, mayoritas pimpinan parpol berusia muda itu berlatar belakang profesi pengusaha. Hal itu tidak terlepas dari tingginya biaya politik yang harus dikeluarkan untuk menjadi pimpinan parpol.

    ”Akibatnya yang menjadi ketua partai di daerah-daerah itu ya pengusaha karena mereka yang memiliki modal untuk memobilisasi massa. Artinya, ada soal sistem yang harus kita perbaiki,” kata Philips seperti dikutip Kompas.com.

    Baca: MK putuskan Pmeilu 2024 gunakan sistem proporsional terbuka

    Selain Kalla dan Philips juga hadir Direktur Eksekutif Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia Hurriyah serta pendiri dan CEO Think Policy Andhyta F Utami.

     

    Hurriyah mengatakan, di tengah politik berbiaya tinggi, kepemilikan modal sosial dan basis massa di akar rumput menjadi penting.

    Hal itu merupakan bekal anak muda agar memiliki posisi tawar di hadapan parpol. Dengan begitu, ada alternatif yang bisa dijajaki untuk memasuki politik tanpa mengeluarkan modal finansial besar, yang umumnya tak dimiliki anak muda.

    ”Kalau memang tak bisa masuk ke politik praktis lewat jalur darah biru, bisa masuk melalui jalur lain, misalnya popularitas. Tapi, bukan popularitas semata, popularitas karena aktivisme yang dilakukan dengan membangun gerakan akar rumput,” ujar Hurriyah.

    Baca: Menteri yang akan maju sebagai caleg atau capres akan dievaluasi

     

  • Ketua Bawaslu Ajak Pemilih Kaji Rekam Jejak Capres dan Caleg yang Berlaga di Pemilu 2024

    Ketua Bawaslu Ajak Pemilih Kaji Rekam Jejak Capres dan Caleg yang Berlaga di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Pemilihan Umum atau Pemilu 2024 beberapa bulan lagi digelar. Beberapa bakal calon presiden (capres) maupun bakal calon anggota  legislatif (caleg) mulai melakukan sosialisi.

    Para pemilih perlu mempelajari rekam jejak capres dan caleg yang akan dipilih pada Pemilu 2024 nanti.

    Hal ini diungkapkan oleh Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), Rahmat Bagja. Menurutnya para pemilih perlu mencari tahu profil gan rekam jejak para caleg dan capres yang akan dipilih di Pemilu 2024.

    Rahmat juga meminta para pemilih mempelajari visi dan misi serta program-program kerja para caleg dan capres yang akan berkontestasi di Pemilu 2024.

    “Lihat dapilnya (daerah pemilihan) mana, siapa dia, rekam jejak seperti apa. Pegang janjinya, lihat visi, program, misi sehingga jangan beli kucing dalam karung,” jelas Bagja seperti yang dikutip Antaranews.

    Baca: Jumlah pmeilih disabilitas capai 1,1 juta orang

    Selain mencari tahu profil caleg dan capres, pemilih juga jangan sampai terjebak dalam politik uang, yaitu memilih calon tertentu karena ada imbalan uang.

    ” Semua warga memilih dengan tanpa tekanan, jadi jangan tergiur dengan politik uang. Kenali siapa calonmu, capres-cawapres, caleg dapil mana,” ujarnya.

    Selain itu Bagja mengajak para pemilih termasuk pemilih muda dari kalangan milenial dan Generasi Z (Gen Z) untuk mengecek nama-nama mereka di laman resmi KPU.

    Hal ini untuk memastikan kembali nama-namanya di dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang tersedia di laman dpt.kpu.go.id.

    Baca: Riset ungkap polarisasi masih mungkin warnai Pemilu 2024

    Cara pengecekan cukup mudah karena para pemilih tinggal memasukkan data nomor induk kependudukan (NIK).

    Pemungutan suara Pemilu 2024 akan dilakukan serentak pada 14 Februari 2024 dengan memilih Capres/cawapres, anggota DPD dan anggora DPR, DPRD ! dan DPRD II.

    Sementara itu, pendaftaran bakal capres dan cawapres  dijadwalkan pada 19 Oktober 2023 sampai dengan 25 November 2023.

    Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu (UU Pemilu) pasangan calon presiden dan wakil presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR.

    Baca: Cara beda PDIP dan PSI memandang pemilih muda

    Pasangan capres dan cawapres juga bisa diajukan partai dan gabungan partai yang memperoleh 25 persen dari suara sah secara nasional pada pemilu anggota DPR sebelumnya.

    Saat ini ada 575 kursi di parlemen sehingga pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Pilpres 2024 harus memiliki dukungan minimal 115 kursi di DPR RI.

    Bisa juga pasangan calon diusung oleh parpol atau gabungan parpol peserta Pemilu 2019 dengan total perolehan suara sah minimal 34.992.703 suara.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • Lika-liku Caleg yang Ingin Jadi Wakil Rakyat

    Lika-liku Caleg yang Ingin Jadi Wakil Rakyat

    7cloud.asia – Menjadi wakil rakyat dengan calon anggota legislatif atau caleg menjadi mimpi banyak orang di Pemilu 2024 ini.

    Untuk mewujudkan ambisinya itu banyak caleg yang mengerahkan segala daya upaya untuk terpilih menjadi wakil rakyat.

    Tak jarang, para caleg sampai berutang atau menggadaikan harta bendanya agar bisa menjadi wakil rakyat.

    Alhasil ketika tidak terpilih alias gagal menjadi wakil rakyat, banyak caleg yang terlibat berbagai masalah. Bahkan ada yang keluarganya berantakan

    Baca: Cucu Soeharto jadi caleg dari Partai Golkar

    Untuk mencegah hal ini terjadi, Politisi Fraksi Partai NasDem Ahmad Sahroni membagikan kiatnya untuk para caleg yang baru berlaga di Pemilu 2024 ini.

    Ia mengingatkan agar para caleg matang dari aspek finansial sebelum melakukan pencalegan.

    “Makanya bapak/ ibu yang nyaleg, berkampanye lah sesuai kemampuan. Malah kalau bisa, sebelum jadi caleg, bapak/ibu telah matang secara finansial, tidak masih mikir ini itu,” sebut dia.

    Dengan kondisi keuangan yang mantap, maka caleg bisa fokus memperjuangkan visi dan misinya melayani rakyat.

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024, yang mewarisi previlese dan yang berjuang di atas kaki sendiri

    Legislator  dari Dapil Jakarta III itu juga menegaskan menjadi anggota dewan adalah sebuah pengabdian. Bukan tempat memanfaatkan kekuasaan untuk mencari uang.

    Ia menegaskan, banyak caleg yang berpikir bahwa berpolitik dengan menjadi caleg untuk mencari sumber pendapatan. 

    “Untuk menjadi caleg harus siap mengabdi. Kalau belum siap, sebaiknya jangan. Nanti stres, karena sudah pasti nggak balik modal,” pungkasnya. 

    Baca: Perjuangan caleg bermodal cekak atasi politik biaya tinggi

    Sahroni yang menjabat menjadi Wakil Ketua Komisi III DPR ini juga menyoroti  fenomena banyaknya calon anggota legislatif (caleg)  yang digugat cerai pasangannya pasca gagal menjadi legislatif tahun 2024.

    Menurutnya, fenomena serupa juga pernah terjadi seusai Pemilu 2019 lalu.

    Menurutnya, pengajuan cerai cenderung meningkat seusai pesta demokrasi jika dibandingkan dengan hari biasa.

    Baca: Menjual isu lingkungan dalam kampanye Pemilu 2024

    “Daripada keteteran karena kaget terima banyak permohonan gugatan cerai, pengadilan agama mending bersiap-siap dari sekarang. Karena percaya enggak percaya, yang beginian banyak benarnya.

    Pasti (permohonan gugatan) melonjak, percaya deh,” kata Sahroni melalui keterangan tertulisnya yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Kamis (28/12/2023).

     

     

  • Pemkot Jakpus Sediakan Layanan Kesehatan Mental untuk Para Caleg

    Pemkot Jakpus Sediakan Layanan Kesehatan Mental untuk Para Caleg

    7cloud.asia – Pemerintah Kota Jakarta Pusat menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan jiwa di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dan rumah sakit (RS) bagi peserta Pemilu 2024 yang gagal terpilih.

    “Untuk antisipasi, kami sudah menyiapkan layanan di puskesmas dan rumah sakit,” kata Kepala Suku Dinas Kesehatan (Kasudinkes) Jakarta Pusat Risma Sari saat dihubungi di Jakarta, Jumat (26/1/202).

    Fasilitas ataupun layanan kesehatan mental ini sebagai antisipasi bagi peserta pemilu yang gagal terpilih terutama calon legislatif (caleg) mengingat tingkat stres yang tinggi.

    Baca: DPR minta semua petugas KPPS dilindungi BPJS

    Risma menyebut jika ada kasus tersebut maka layanan gawat darurat kesehatan mental sudah disiapkan di puskesmas wilayah Jakarta Pusat.

    Lalu, jika ada kasus khusus karena perlu dilakukan rawat inap, maka akan dirujuk ke rumah sakit.

    Lebih lanjut, Risma menjelaskan faktor yang menyebabkan caleg atau peserta pemilu stres saat gagal atau kalah itu dapat terjadi karena adanya harapan tinggi yang tidak terpenuhi, sementara segala upaya dan sumber daya sudah dilakukan.

    Baca: Koalisi Pemilu Bersih nilai Jokowi langgar UU Pemilu

    Hal yang perlu disadari, kata Risma yakni pemilu merupakan kontestasi yang pastinya ada menang dan kalah.

    Konsekuensi tersebut sudah seharusnya ditanamkan sejak awal terhadap seluruh peserta pemilu baik caleg maupun capres.

    “Kalau dari pengalaman pemilu sebelumnya, di wilayah Jakarta Pusat belum pernah ditemukan atau belum ada laporan,” ujar Risma.

    Baca: Diduga salahgunakan fasilitas negara untuk kampanye, Prabowo dilaporkan ke Bawaslu 

    Risma berharap seluruh caleg, tim sukses (timses) Pemilu 2024, ataupun peserta pemilu lainnya bahkan pendukung pun harus bisa melaksanakan proses pemilihan dengan bijak.

    Sehingga Pemilu 2024 dapat berjalan lancar dan tetap terjaga kesehatan fisik ataupun mentalnya.

    Sebelumnya, anggota Komisi E DPRD DKI Abdul Aziz meminta Pemerintah Provinsi DKI meningkatkan fasilitas kesehatan (faskes) jiwa bagi peserta pemilu sebagai antisipasi jika mengalami kegagalan.

    Baca: Mahfud akan mundur dari jabatannya sebagai MenkoPolhukham 

    “Kami mengimbau Dinas Kesehatan DKI melakukan langkah-langkah antisipatif menyiapkan fasilitas kesehatan menjelang pemilu,” kata Aziz saat dihubungi di Jakarta, Selasa (23/1/2024).

    Pernyataan ini sebagai evaluasi dari Pemilu 2019 agar penanganan kesehatan jiwa caleg yang stres karena gagal menjadi lebih baik pada 2024 ini.

     

  • RSJ Islam Klender Siap Terapi Caleg Gagal di Pemilu 2024

    RSJ Islam Klender Siap Terapi Caleg Gagal di Pemilu 2024

    7cloud.asia – Pengelola Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Islam Klender, Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur siap memberikan terapi kepada  calon anggota legislatif (caleg) yang gagal terpilih pada Pemilu 2024.

    “Kami tidak ada persiapan khusus, tapi pada intinya kami siap kalau dibutuhkan seperti ruang rawat inap untuk pasien-pasien bagi para caleg yang memang mengalami tekanan yang berat dan membutuhkan terapi,” jelas Direktur Utama RSJ Islam Klender, dr. Prasila Darwin, SpKJ di RSJ Islam Klender.

    Pihaknya sudah menyiapkan delapan ruangan untuk caleg yang mengalami kegagalan sehingga perlu mendapatkan perawatan.

    Baca: Pemkot Jakpus sediakan layanan kesehatan mental untuk para caleg

    Bahkan, lanjut Prasila, pasien yang menjalani rawat inap akan mendapatkan pendampingan bila mengalami gejala berat. Namun,  itu tergantung dari keluhan pasien.

    Untuk pasien yang hanya memiliki gejala ringan, nantinya akan diberikan berupa konseling.

    “Kalau memang gangguan jiwanya berat, kami siapkan tim psikiater. Tetapi kalau gangguannya ringan, biasanya kami kolaborasi juga dengan psikolog karena pasien hanya membutuhkan konseling saja tidak butuh obat-obatan seperti itu,” urainya.

    Selama perawatan, keluarga pasien juga diperkenankan untuk menjenguk. Biasanya, rawat inap berlangsung sekitar satu pekan.

    Pada Pemilu 2019, pihaknya pernah menerima beberapa pasien yang merupakan caleg gagal lolos di pemilu. Tetapi, hanya mengalami depresi ringan seperti cemas, khawatir, dan sulit tidur.

    Baca: Lika liku caleg yang ingin menjadi wakil rakyat

    “Tetapi, dari pengalaman sebelumnya, untuk rawat inap belum ada karena mayoritas hanya gejala ringan seperti khawatir, sulit tidur, hingga cemas. Tapi kalau rawat inap dibutuhkan, kami siap. Nanti pihak keluarga juga bisa menemani,’ terangnya.

    Delapan ruangan yang telah disiapkan memiliki fasilitas yang berbeda-beda. Ada ruangan yang miliki satu tempat tidur dengan fasilitas kulkas, televisi, hingga sofa, dan ada juga yang satu ruangan diisi dua tempat tidur.

    Namun, seluruh ruangan terdapat kamera pengawas (CCTV) dan terpantau ke ruangan perawat selama 24 jam.

    Sumber: Antaranews

  • Pemilu 2024: Sehari Jelang Pencoblosan, Masih Banyak Pemilih yang Bingung Pilih Caleg

    Pemilu 2024: Sehari Jelang Pencoblosan, Masih Banyak Pemilih yang Bingung Pilih Caleg

    7cloud.asia – Sehari jelang pencoblosan Pemilu 2024 muncul diskusi kecil di Whasapp grup alumni tentang caleg yang akan dipilih.

    Mereka saling menanyakan siapa calon anggota DPRD Kota/Provinsi yang direkomendasikan untuk dipilih di Pemilu 2024 yang berlangsung hari ini Rabu (14/2/2024).

    “Saya sudah punya pilihan calon presiden dan caleg DPR Pusat, apakah ada yang bisa merekomendasikan anggota DPRD provinsi dan kota di Pemilu 2024 besok?” ujar seorang anggota WAG tersebut.   

    Perbincangan di atas mungkin menjadi cerminan banyak dari pemilih yang masih kebingungan siapa caleg yang akan dipilih di Pemilu 2024 ini.

    Baca: Tercatat ada 76.000 lebih WNI di Hong Kong dan Makau yang gunakan hak pilihnya

    Selain tidak dikenal para caleg yang maju di Pemilu 2024 ini juga terkesan tidak berusaha mengenalkan dirinya kepada para calon pemilih. 

    Dalam diskusi “Pemilu Legislatif, Bijak Memilih Pasti Terwakili” yang diselenggarakan Sekretariat Jendral (Setjen) DPR bersama Tempo juga ditemukan sejumlah tantangan demi meningkatkan kualitas pemilu 2024.

    Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amalia mengatakan, pemilu 2024 banyak didominasi oleh pemilih pemula yang tidak mengetahui latar belakang dari masing-masing Calon Legislatif (Caleg) di Daerah Pemilihannya.

    Baca: Film Dirty Vote ungkap kecurangan di Pemilu 2024

    Ia mengatakan, banyak caleg muda yang belum dikenal dan bahkan tidak mempunyai pengalaman sebelumnya. Kondisi ini yang menyebabkan banyak pemilih yang tidak tahu kualitas mereka.

    “Caranya adalah kita liat dulu latar belakang organisasinya dan keterlibatannya dalam organisasi masyarakat itu sejauh mana dan dampak apa yang sudah diberikan,” kata Ledia di Gedung Nusantara Ruang Abdul Muis Kompleks Parlemen, Senin (12/2/2024).

    Ledia menyampaikan, pemilu legislatif adalah momen penting untuk menentukan wakil di Parlemen.

    Baca: Tanggapan tiga paslon terkait film Dirty Vote

    Meskipun telah banyak kemajuan dalam penyelenggaraan pemilu di Indonesia, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas pemilu. Seperti transparasi dan akuntabilitas.

    Sementara itu, Anggota DPR RI Fadli Zon menambahkan pemilu di Indonesia merupakan pemilu yang paling “Kompleks” dibandingkan dengan negara lain.

    “Saya sudah mengikuti sejumlah pemilu di negara lain dan bisa dikatakan bahwa Indonesia itu yang paling sederhana semuanya masih manual,” imbuhnya

    Baca: Aksi mahaiswa tolak kecurangan di Pemilu