7cloud.asia – Pramusapa, demikian profesi ini dinamakan. Pramusapa ini bertugas untuk melayani penumpang prioritas TransJakarta ataupun commuterline.
Saya menemukan pramusapa pertama kali saat melintas di jembatan penyeberangan yang menghubungkan halte TransJakarta Velbak dengan Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Pada Rabu (20/9/2023) malam saya kembali menemukan pramusapa itu. Pramusapa bernama Raka Novan sedang memandu dua orang disabilitas netra, Dadan dan rekannya, dari Halte TransJakarta Velbak menuju Stasiun Kebayoran.
Setelah mengantar dua disabilitas netra hingga pintu masuk dan memastikan mereka diterima petugas pramusapa di Stasiun Kebayoran, ia kembali ke basenya di Halte TransJakarta Velbak.
Baca: Mengenal bus ramah disabilitas yang digagas Ganjar Pranowo
Kepada 7cloud.asia, Raka menyebutkan tugasnya sebagai pramusapa adalah memberikan informasi penumpang TransJakarta yang tidak tahu rute bus.
“Kami juga bertugas untuk membantu penumpang prioritas, seperti anak-anak, lansia, perempuan hamil ataupun penyandang disabilitas untuk memastikan kenyamanan mereka,” ujarnya.
Novan mengatakan, ia telah bekerja sebagai pramusapa selama satu tahun terakhir.
Kami bekerja dalam shift, ujarnya, dengan satu shift selama 8 jam. Novan menjelaskan beragam bantuan yang dibutuhkan penumpang prioritas.
Baca: PT KAI sediakan tiket khusus bagi penyandang disabilitas
Seperti memastikan mereka mendapatkan tempat duduk di bangku prioritas, memastikan mereka tidak salah rute, atau bahkan memapah penumpang yang memang tidak bisa berjalan sendiri.
“Tapi di TransJakarta rute Ciledug-Tendean ini jarang ada penumpang yang menggunakan kursi roda. karena ini tinggi sekali sehingga dijuluki jalur langit,” ujarnya.
Novan mengungkapkan, untuk mendapatkan layanan penumpang prioritas bisa mendaftar ke PT TransJakarta atau PT KAI. Mereka akan mendapatkan pin sehingga petugas akan tahu bahwa mereka butuh layanan khusus.
“Selain itu, kami juga memiliki grup whatsapp untuk berbagi informasi dan berkoordinasi soal penumpang prioritas ini. Sehingga ketika mereka tiba di halte ataupun stasiun yang dituju, dipastikan ada petugas yang siap membantu,” terangnya.
Baca: Kafe Difabis, potret perjuangan difabel bisu di Jakarta
Bagi Dadan, keberadaan pramusapa ini dangat membantunya. Apalagi di jembatan penyeberangan orang Velbak yang cukup panjang dan tidak dilengkapi marka untuk disabilitas ini.
Dadan menambahkan, meski masih ada kekurangan, apa yang dilakukan PT TransJakarta dan PT KAI ini layak diapresiasi.
Dadan yang bekerja di sebuah bank nasional ini berharap, ke depan pemerintah lebih memperhatikan layanan transportasi yang ramah bagi penyandang disabilitas.
“Sehingga orang-orang seperti kami, bisa bepergian secara mandiri,” ujarnya.
Baca: Kisah-kisah Tuli, memotret keseharian disabilitas di Kota Solo
Sayang, saya tidak bisa mengikuti bagaimana Dadan dan temannya harus berdesakan naik TransJakarta ataupun commuter line di jam-jam sibuk seperti saat itu.
Yang saya tahu, di jam-jam sibuk seperti ini biasanya transportasi publik ini akan sangat padat.
Mungkin, di kesempatan lain saya bisa mengiukti mereka dan memotret secara lebih utuh untuk dapat menggambarkan bagaimana layanan transportasi publik untuk warga disabilitas di Jakarta.

Leave a Reply