Agar Gen Z Lebih Antusias Ikuti Gerakan Pro Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Penelitian yang dilakukan Ina Ratriyana, kandidat PhD  School of Film, Media, and Journalism, Monash University, Melbourne, Australia, Monash University menemukan antusiasme Gen Z dalam kegiatan pro lingkungan masih rendah.

Penelitian Ina dilakukan pada 2021 dengan partisipan di Yogyakarta, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, dan Denpasar menunjukkan masih rendahnya antusiasme Gen Z di Jawa dan Bali pada gerakan pro lingkungan, 

Lantas apa solusinya agar anak muda terutama Gen Z mau terlibat dalam aksi nyata dan gerakan pro lingkungan? 

Baca: Antusiasme Gen Z di indonesia dalam gerakan pro lingkungan masih rendah

Ina Ratriyana dalam tulisannya di The Conversation berjudul “Riset: antusiasme Gen Z di Jawa dan Bali pada isu lingkungan masih rendah” mengusulkan beberapa langkah berikut ini:  

1. Pendidikan kesadaran lingkungan secara formal maupun nonformal

Dalam konteks formal, pemerintah melalui beberapa kementerian terkait sudah melakukan inisiasi penting.

Misalnya dengan membuat kesepakatan bersama antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 03/MENLH/02/2010 dan Nomor 01/II/KB/2010 tentang Pendidikan Lingkungan Hidup.

Di tahun 2013, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga sudah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 81A/2013 untuk mendorong program sekolah berbasis lingkungan di Indonesia.

Baca: Anak muda sadar akan bahaya perubahan iklim tapi enggan beraksi

Sayangnya, program ini masih belum menemukan titik terang di mana praktik pro lingkungan terbatas pada hafalan limbah dan polusi. Salah seorang partisipan dari Cirebon, Jawa Barat, mengaku:

“Saya hanya menghafal jenis-jenis polusi dari pelajaran biologi, namun pengalaman tentang polusi baru saya dapat saat mulai kos di Yogyakarta.”

Hal ini diamini oleh teman-temannya yang lain.

Selain pendekatan formal, penelitian ini juga menunjukkan nilai-nilai baik yang bisa dibangun melalui pendidikan nonformal.

Beberapa partisipan, misalnya, mengaku mendapatkan ilmu dan praktik pro lingkungan, seperti kegiatan menanam pohon dan pentingnya merawat alam, dari kegiatan gereja dan masjid.

Baca: Seperti ini media memotret gerakan lingkungan Gen Z

2. Menggunakan pendekatan budaya populer

Gen Z merupakan generasi yang lebih familiar dengan isu lingkungan saat membacanya di majalah, website, media sosial, ataupun film.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh salah satu partisipan yang menyebutkan bahwa:

“Saya paham tentang banjir dari film Leonardo di Caprio.”

Mendekati Gen Z memang tidak bisa menggunakan cara-cara lama dalam menggugah keedulian mereka pada gerakan pro lingkungan.

Perlu cara baru yang lebih inovatif untuk menggerakkan Gen Z agar mau terlibat dalam gerakan pro lingkungan.

Baca: Bumi butuh aksi nyatamu, yuk segera bergabung dengan gerakan lingkungan

Program yang bersifat mekanistik, yaitu ditentukan oleh pemerintah atau pihak sekolah tanpa melibatkan kebutuhan dan keinginan siswa, tidak akan sukses untuk kelompok ini.

Bentuk Kegiatan pro lingkungan harus didesain oleh dan untuk anak muda itu sendiri. Pihak lain, seperti guru, pemerintah, atau pemilik dana, bisa mengarahkan dan mengawasi prosesnya.

Selain itu, kegiatan pro lingkungan juga bisa menggunakan media populer sebagai sarana edukasi.

Bagaimanapun, bagi Gen Z, fotografi, musik, atau cerita menjadikan informasi pro lingkungan lebih ringan dan lebih mudah diingat daripada tumpukan buku pelajaran.

Sumber: The Conversation

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *