7cloud.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan generasi atau Gen Z terkait perencanaan keuangan dengan tujuan utama memberikan edukasi mengenai literasi keuangan, perencanaan investasi.
Edukasi perencanaan keuangan ini juga untuk menumbuhkan pemahaman di kalangan Gen Z terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Financial Advisor Community OJK Viko Hadian, di Jakarta, Selasa (22/10/2024) mengatakan edukasi literasi keuangan ini dilakukan agar kalangan Gen Z memiliki pemahaman yang baik mengenai produk dan layanan jasa keuangan.
“Selain itu dapat membentengi diri dari maraknya berbagai penipuan berkedok investasi dan aktivitas keuangan ilegal di era digital,” katanya pula.
Ia mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengatur perencanaan keuangan, di antaranya yakni harus menurunkan utang, melestarikan kekayaan.
Selain itu juga mengembangkan kekayaan dengan berinvestasi, menjaga keamanan kekayaan dan mengatur keuangan dengan baik.
“Untuk menjaga hal tersebut maka Gen Z ini perlu mengetahui terkait literasi keuangan, agar mampu untuk memahami dan mengelola keuangan pribadi secara efektif. Seperti kebiasaan menabung, investasi, mengelola keuangan dan utang, serta merencanakan keuangan untuk masa mendatang,” katanya.
Baca: Cara investasi dengan modal cekak
Ia juga menyinggung tiga fenomena di kalangan Gen Z yang berdampak negatif saat menggunakan layanan keuangan digital. Ketiganya yakni you only live once (Yolo), fear of missing out (Fomo), dan fear of other peoples opinion (Fopo).
“Selain pemahaman terkait risiko, teman-teman juga harus memahami kebutuhan keuangannya sendiri. Jangan ikut gaya dan tren yang dapat uang sedikit langsung digunakan untuk belanja agar mengikuti tren,” katanya pula.
Selain itu, fenomena Fomo juga jamak dijumpai di kalangan Gen Z. Takut ketinggalan suatu hal, seperti keputusan anak muda menggunakan layanan keuangan digital hanya untuk ikut tren tanpa memahami dan mengelola keuangan pribadi secara efektif.
“Dan menyinggung fenomena Fopo yang merujuk kepada keputusan anak muda dengan mencoba layanan keuangan digital, karena takut dikritik orang lain tanpa tahu layanan itu memiliki izin resmi atau tidak,” katanya.
Pihaknya juga mengingatkan generasi Z untuk terus memahami modus penawaran layanan keuangan digital.
Ia berpesan agar selalu berhati-hati dan tidak mudah percaya dengan beragam tawaran yang beredar dengan cara memastikan layanan itu memiliki izin resmi dari pihak berwenang seperti OJK.
Baca: Alasan perusahaan tolak fresh graduate yang terjebak utang
Sebelumnya, perusahaan konsultan audit dan pajak Grant Thornton Indonesia menyebut perencanaan keuangan yang matang dapat membantu menghadapi tekanan ekonomi saat ini terutama bagi kalangan kelas menengah.
Konsultan tersebut menyarankan langkah-langkah seperti diversifikasi pendapatan, pengelolaan utang yang bijak, dan peningkatan literasi keuangan agar tetap mampu bertahan bahkan tetap tumbuh di tengah tekanan ekonomi.
Penurunan jumlah kelas menengah, ujarnya, menjadi tantangan besar yang membutuhkan solusi terpadu.
“Kami tetap percaya bahwa dengan perencanaan keuangan yang matang dan strategi yang tepat, kelas menengah tidak hanya bertahan namun juga bertumbuh.” kata CEO Grant Thornton Johanna Gani dikutip Antaranews.com, September lalu.
Johanna mengungkapkan tekanan dan perubahan ekonomi yang cepat saat ini dapat memberatkan kelas menengah.
Hal itu juga sejalan dengan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah kelas menengah telah menurun dari 57,4 juta pada 2019 menjadi 47,9 juta di 2024.
Penurunan sebesar 9,5 juta orang atau sekitar 16,5 persen ini tidak hanya dipengaruhi oleh tekanan harga, tetapi juga oleh perubahan gaya hidup yang berdampak pada penurunan daya beli dan tabungan masyarakat kelas menengah.

Leave a Reply