Tag: hutan tropis

  • Replika Hutan Tropis Hiasi Ruang Penyambutan Tamu KTT ASEAN

    Replika Hutan Tropis Hiasi Ruang Penyambutan Tamu KTT ASEAN

    7cloud.asia – Ada yang berbeda dari KTT ASEAN 2023 di Jakarta. Nuansa hutan hujan tropis menghiasi area penyambutan kedatangan para pemimpin negara ASEAN. 

    Di area dengan latar bergambar hutan tropis dan Ibu Kota Nusantara (IKN) itulah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ibu Iriana menerima kedatangan para tamu dari negara anggota ASEAN sekaligus melakukan foto bersama.

    Foto bersama dengan latar hutan tropis tersebut dilakukan sebelum melakukan pertemuan pertama KTT ke-43 ASEAN di Balai Sidang Jakarta (JCC) pada Selasa (05/09/2023).

    Baca: Jokowi serukan ASEAN jadi sumber kekuatan bukan ruang rivalitas

    Menurut Konsultan Visual Kreatif KTT ke-43 ASEAN, Elwin Mok, area penyambutan menjadi salah satu unsur penting dalam penyelenggaraan forum-forum global.

    Sebab, hal ini dapat memperkuat branding Indonesia sebagai tuan rumah di mata internasional.

    “Di titik inilah, keunikan dan suasana batin dapat mulai dibangun, yang  diharapkan membawa dampak positif bagi keseluruhan penyelenggaraan KTT ASEAN,” jelas Elwin dalam siaran pers Tim Komunikasi dan Media KTT ke-43 ASEAN 2023.

    Baca: KTT ASEAN berlangsung di tengah udara Jakarta yang tidak sehat

    Nuansa hutan tropis tersebut, menurut Elwin merupakan simbol alam Indonesia berupa hutan hujan tropis dan air terjun, yang dipadukan dengan layar besar multimedia yang menampilkan siluet Istana Presiden di IKN.

    Eratnya kerja sama antar negara ASEAN seakan menjadi mata air yang akan
    terus-menerus menyuburkan pertumbuhan dunia.

    Sementara Dina Touwani, perangkai bunga dan dekorator area penyambutan di
    JCC menjelaskan proses penataan di JCC bermula dari KTT G20 di Bali ketika
    ketika dia dan timnya ditugaskan untuk mempercantik alam di kawasan Garuda
    Wisnu Kencana (GWK) yang digunakan saat jamuan makan malam para tamu
    negara.

    Baca: Shuttle bus selama berlangsungnya KTT ASEAN

    “Pada KTT ASEAN ini, kami ingin menyuguhkan sesuatu yang indah, tanpa mengubah banyak struktur gedung. Idenya adalah membawa hutan ke dalam ruangan,” urai Dina yang bertugas menata tanaman dan pepohonan di area penyambutan tamu-tamu negara.

    Pada KTT ASEAN kali ini, Dina mengungkapkan beberapa tantangan dalam menata ruangan di area penyambutan. Timnya harus mencari jenis tanaman hutan, mencari pohon-pohon besar yang dapat membentuk hutan dalam ruangan.

    Selain itu, menambah unsur air maupun tanaman air yang bisa sesuai dengan habitatnya, dan ruangan yang menggunakan penyejuk udara.

    Baca: Selama KTT ASEAN berlaku WFH 50 persen untuk ASN

    Ada berbagai jenis tanaman dan pepohonan yang ditampilkan dalam miniatur hutan seluas 2000 meter persegi tersebut.

    Di antaranya pakis, anggrek, randu, palem, lontar, pule, pohon mahoni, pohon beringin, angsana, dan ulin.

    Untuk mempersiapkan hutan hujan tropis ini, pihaknya menghabiskan waktu selama satu bulan.

    Sedangkan untuk menata tanaman dengan aneka ragam bunga memakan waktu hingga enam hari.

    Baca: Myanmar tidak hadir di KTT ASEAN LAbuan Bajo, ini penjelasannya

    “Kami membuat hutan ini sealami mungkin. Di hutan tropis buatan ini kita juga menonjolkan anggrek Indonesia,” kata Dina.

    KTT ke-43 ASEAN ini dihadiri oleh pimpinan atau utusan dari 22 negara. Selain negara-negara anggota ASEAN, pertemuan puncak para pemimpin kali ini juga dihadiri para negara mitra dari luar kawasan, seperti China, Jepang, Korea
    Selatan, Amerika Serikat, dan Kanada.

    Dari 22 negara tamu yang hadir, tiga di antaranya yaitu Thailand, Amerika  Serikat, Rusia tidak diwakili kepala negara/kepala pemerintahan. Thailand diwakili oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Thailand
    Sarun Charoensuwan.

    Baca: Perubahan iklim dan ASEAN

    Delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Presiden Kamala Harris, sedangkan Rusia akan diwakili Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov. 

    Perdana Menteri Jepang, China, Australia, dan Kanada juga dipastikan hadir. Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol juga akan bergabung dalam KTT ASEAN yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Mengembalikan Hutan Hujan Tropis di IKN, Persemaian Mentawir Hampir Selesai

    Mengembalikan Hutan Hujan Tropis di IKN, Persemaian Mentawir Hampir Selesai

    7cloud.asia – Pembangunan persemaian Mentawir, Kalimantan Timur yang akan digunakan untuk menghijaukan Ibu Kota Nusantara (IKN) penyelesaiannya hampir 100 persen.

    Hal itu diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau persemaian Mentawir, Penajam Paser Utara, Kaltim, Kamis (21/09/2023).

    “Ini adalah persemaian yang kita persiapkan untuk menghijaukan Ibu Kota Nusantara plus sekitarnya. Dulu kita masuk belum kelihatan. Sekarang ini sudah hampir 100 persen selesai, tinggal rapih-rapihin saja,” ungkapnya. 

    Baca: Ibukota pindah, warga Jakarta harus cetak ulang KTP

    Dilansir dari Antaranews, Jokowi memastikan bibit dari persemaian Mentawir sudah siap digunakan untuk menanam pohon di IKN.

    Dengan demikian, Jokowi berharap dapat mengembalikan menjadi hutan hujan tropis di sekitar IKN.

    Sementara lokasi penanaman akan diatur oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Otorita IKN (OIKN).

    “Persemaian Mentawir ini sekarang memang siap dan sudah komplet, tinggal  ditanam di mana pengaturannya nanti yang akan dilakukan oleh Menteri Kehutanan, Dirjen, Otoritas,” ujarnya

    Baca: Konsep kota hutan di IKN

    Ia menambahkan, semua tanaman ini akan mempercantik ibu kota dan mengembalikan hutan-hutan yang ada di sekitar Nusantara menjadi tropical rain forest lagi, bukan hutan homogen.

    Adanya persemaian Mentawir ini, lanjut Jokowi sebagai bukti dari komitmen Pemerintah Indonesia untuk memperbaiki lingkungan.

    “Intinya kita ingin memperbaiki lingkungan, merehabilitasi hutan baik hutan alam, hutan yang rusak maupun hutan hujan yang rusak, dan hutan mangrove yang perlu direhabilitasi semua kita kerjakan,” katanya.

    Persemaian Mentawir, kata Jokowi, dapat memproduksi 15 juta bibit tanaman.yang siap digunakan.

    Baca: Makna sumbu filosofi dlam tata kota Yogyakarta

    “Ini adalah basic, kalau orang mau tanam tidak punya persemaian, tidak punya bibit, dari mana dapat ? ini menunjukkan komitmen kuat kita bahwa kita memang ingin memperbaiki, memang ingin merehabilitasi (lingkungan),” urainya 

    Ada beberapa bibit tanaman dari Persemaian Mentawir, di antaranya, tabebuya, pucuk merah yang dapat meningkatkan estetika lingkungan.

    Kemudian, bibit untuk sengon albasia, ulin, meranti, dan lain-lain.

    Reporter: Nurakhmayani

     

  • 5 Cara Penebangan Pohon di Hutan Tropis Secara Berkelanjutan

    5 Cara Penebangan Pohon di Hutan Tropis Secara Berkelanjutan

    7cloud.asia – Penebangan liar dan penebangan secara besar-besaran disebut sebagai salah satu penyebab utama rusaknya hutan tropis.

    Namun, bagaimana jika penebangan di hutan tropis ini direncanakan dengan cermat dan dilakukan oleh pekerja yang terlatih?

    Berikut hasil kajian mengenai penebangan secara cermat di hutan tropis yang ditulis oleh Francis E Putz (Research Professor, University of the Sunshine Coast) dan Claudia Romero (University of the Sunshine Coast).

    Beberapa tahun belakangan kampanye publik untuk mengakhiri penebangan hutan tropis mendominasi media populer dan jurnal sains terkenal

    Namun, di luar perhatian publik juga tengah berlangsung transisi dari praktik “penambangan kayu” ke “kehutanan yang tertata” (managed forestry) dan berbasis bukti.

    Baca: Teknik Daisugi, cara menebang hutan secara berkelanjutan

    Mengingat praktik penebangan yang buruk kemungkinan terus berlanjut di sekitar 500 juta hektare hutan tropis, upaya untuk mendorong kehutanan yang bertanggung jawab patut mendapat perhatian lebih.

    Dalam laporan terbaru, kami merekomendasikan lima cara memperbaiki pengelolaan hutan tropis, salah satunya dengan penebangan yang tertata.

    Pekerjaan ini didanai oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) dan Program Internasional Dinas Kehutanan AS.

    Untungnya, praktik-praktik ini sejalan dengan pengelolaan hasil hutan non-kayu seperti buah-buahan, serat, damar dan tanaman obat, serta pelestarian keberagaman hayati.

    Praktik ini juga akan mengurangi emisi karbon dan meningkatkan penyerapan karbon dengan lebih irit biaya.

    Baca: Mengapa COP 28 tak secara tegas melarang deforestasi

    Lima cara untuk memperbaiki nasib hutan tropis. 

    Penelitian menunjukkan, hutan yang dikelola dengan baik dan ditebang secara selektif bisa menjaga sebagian besar kekayaan dan keberagaman hayati di dalamnya, terutama jika perburuan turut dikendalikan.

    Apabila praktik penebangan berdampak rendah diterapkan, hutan masih mampu menjaga stok karbonnya tetap tinggi.

    Penebangan 5–10% pohon memang mengurangi jumlah total karbon tersimpan di hutan untuk sementara. Namun, cadangan karbon ini dapat pulih dengan cepat jika kita dapat meredam kerusakan pohon muda dan tanah.

    Berikut adalah lima cara untuk memuluskan transisi dari “penambangan kayu” dan penebangan habis ke pengelolaan hutan dengan pemanenan selektif:

    1. Memperbaiki praktik penebangan kayu.

    Praktik penebangan terencana–dilakukan oleh pekerja terlatih dengan upah berdasarkan praktik penebangan berdampak rendah—meredam erosi tanah,

    mengurangi angka cedera pekerja, dan melepaskan emisi karbon 50 persen lebih rendah dibandingkan pembalakan konvensional.

    Baca: Deforestasi memicu masalah serius untuk lingkungan

    2. Mengurangi limbah kayu.

    Pekerja dapat dilatih untuk memaksimalkan perolehan kayu dari pemanenan dan pemrosesan.

    Misalnya, jika pohon ditebang dengan benar, tunggulnya (sisa pohon yang masih menancap di tanah) bakal lebih rendah dan batang kayu yang patah akan berkurang.

    3. Memberikan waktu untuk pemulihan.

    Usaha mempertahankan hasil kayu seringkali mengharuskan hutan dibiarkan lebih lama di antara masa panen (mengurangi frekuensi pemanenan) dan atau membatasi jumlah kayu yang dapat dipanen per satuan luas.

    Intensitas pemanenan (jumlah pohon atau volume kayu yang ditebang per satuan luas) dapat dikurangi dengan menambah jarak antarpohon yang dapat ditebang atau dengan menambah ukuran minimum pohon yang dapat ditebang.

    Meski mengurangi keuntungan jangka pendek, pembatasan akan memastikan stok kayu yang bisa dipanen pada masa depan. Untungnya, perubahan-perubahan ini juga mengurangi emisi karbon dari hutan.

    Pengurangan emisi ini dapat menarik minat investor pasar karbon yang ingin menebus emisi mereka.

    Baca: Perkebunan monokultur dituding penyebab utama deforestasi

    4. Lindungi pohon-pohon muda.

    Jika kita melindungi dan mendorong pertumbuhan pohon-pohon kecil, pohon-pohon tersebut akan tumbuh hingga mencapai ukuran yang sesuai untuk panen berikutnya.

    Hal ini sangat penting khususnya di hutan yang telah terganggu oleh penebangan sebelumnya.

    Pembersihan pohon dari tanaman merambat berkayu (tumbuhan liana) adalah cara yang relatif murah untuk meningkatkan hasil kayu pada masa depan sekaligus mempercepat laju penyerapan CO2 dari atmosfer.

    5. Tanam lebih banyak pohon.

    Di area yang tidak memiliki regenerasi spesies pohon komersial secara alami, penanaman pengayaan (enrichment planting) dapat membantu.

    Jika pohon-pohon yang ditanam ini dirawat secara teratur selama beberapa tahun, tingkat pertumbuhan dan penyerapan karbon akan meningkat.

  • Manfaat Ekonomi Penebangan Secara Berencana di Hutan Tropis

    Manfaat Ekonomi Penebangan Secara Berencana di Hutan Tropis

    7cloud.asia –  Beberapa tahun belakangan kampanye publik untuk mengakhiri penebangan hutan tropis mendominasi media populer dan jurnal sains terkenal

    Namun, pada saat yang sama juga tengah berlangsung transisi dari praktik “penambangan kayu” ke “kehutanan yang tertata” (managed forestry) dan berbasis bukti.

    Ada lima mekanisme yang dilakukan dalam penebangan terencana ini yakni memperbaiki praktik penebangan, mengurangi limbah kayu, memberi waktu pemulihan, melindungi pohon muda dan menanam lebih banyak pohon 

    Ada manfaat karbon berganda dari penebangan pohon hutan tropis secara terencana ini.

    Baca: 5 Cara penebangan hutan tropis yang berkelanjutan

    Manfaat karbon dari kelima mekanisme yang disebutkan di atas hanya bersifat tambahan. Artinya, hal tersebut tidak akan terjadi jika tidak ada intervensi.

    Karena itu, pasar karbon harus mendukung usaha transisi dari penambangan kayu yang eksploitatif ketika pengelolaan hutan yang bertanggung jawab menjadi aspek penggunaan lahan yang sah.

    Praktik kehutanan yang tertata juga menciptakan lapangan kerja bagi para profesional dan mendukung tenaga kerja yang stabil.

    Sebaliknya, proyek karbon yang hanya menghentikan pembalakan hutan justru berisiko memindahkan para penebang ke tempat lain.

     

    Baca: Teknik daisugi cara memanen kayu di hutan secara berkelanjutan

    Karena itu dibutuhkan kesadaran untuk menubah paradigma dari eksploitasi dan degradasi ke penataan hutan. 

    Transisi yang lama dinanti dari eksploitasi hutan tropis menjadi pengelolaan hutan yang bertanggung jawab memerlukan dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan seluruh masyarakat.

    Pemerintah perlu menegakkan hukum. Kegagalan penerapan praktik penebangan yang berkelanjuan ini berisiko melemahkan perekonomian pendapatan pajak negara.

    Sementara itu, melimpahnya kayu hasil penebangan ilegal dapat menjungkirkan harga kayu ke titik terendah.

     

    Baca: Mengapa COP 28 tak secara tegas melarang deforestasi

    Industri kehutanan perlu menyadari manfaat investasi di seluruh aspek kehutanan termasuk pemeliharaan tegakan kayu produktif.

    Masyarakat juga perlu mendukung sektor kehutanan dengan memastikan tersedianya tenaga kehutanan muda yang terlatih.

    Sayangnya, kesalahpahaman umum soal pengelolaan hutan sama dengan degradasi hutan mengurangi daya tarik profesi ini di kalangan generasi muda pemerhati lingkungan.

    Hal ini ditandai dengan penutupan begitu banyak program sarjana kehutanan di luar Brasil dan diperburuk dengan meningkatnya fokus pada perkebunan dibandingkan hutan alam.

    Baca: Indonesia dan Brasil jadi penyumbang deforestasi hutan tropis terbesar dunia

    Kondisi ini membuat kita sulit menemukan orang-orang yang terlatih dan tertarik memuluskan transisi menuju pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.

    Padahal, transisi ini tidak sia-sia karena pengelolaan hutan yang bertanggung jawab menjanjikan manfaat finansial, lingkungan dan juga sosial.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Francis E Putz (Research Professor, University of the Sunshine Coast) dan Claudia Romero (University of the Sunshine Coast).

  • Mengenal Amazon, Hutan Tropis Terbesar di Dunia

    Mengenal Amazon, Hutan Tropis Terbesar di Dunia

    7cloud.asia – Hutan hujan tropis atau hutan tropis punya peran yang sangat besar di dunia, dan signifikansinya ditandai dengan adanya Hari Hutan Hujan Sedunia.

    Di antara ekosistem-ekosistem yang ada di bumi, hutan tropis merupakan tempat tumbuhnya keanekaragaman spesies tumbuhan dan hewan terbesar

    Hutan tropis juga menjadi rumah bagi sebagian besar kelompok masyarakat adat yang masih hidup terisolasi dari umat manusia, dan menjadi sumber listrik bagi sungai-sungai besar.

    Hutan tropis menyimpan sejumlah besar karbon, suhu lokal yang moderat, dan mempengaruhi curah hujan serta pola cuaca pada skala regional dan planet.

    Meski demikian, deforestasi di hutan tropis dunia masih tetap tinggi sejak tahun 1980an hingga hari ini.

    Hal ini disebabkan meningkatnya kebutuhan manusia akan pangan, serat, dan bahan bakar serta kegagalan dalam memahami nilai hutan sebagai ekosistem yang sehat dan produktif.

    Sejak tahun 2002, rata-rata 3,2 juta hektare hutan tropis primer—jenis hutan dengan keanekaragaman hayati paling tinggi dan padat karbon—telah dirusak setiap tahunnya. Kawasan hutan sekunder yang lebih luas lagi ditebangi atau terdegradasi.

    Di bawah ini adalah gambaran singkat mengenai kondisi hutan hujan tropis terbesar yang tersisa di dunia.

    Hutan tropis Amazon adalah hutan hujan tropis terbesar dan paling terkenal di dunia.

    Jika diukur berdasarkan luasnya hutan primer, hutan tropis Amazon tiga kali lebih besar dibandingkan hutan hujan Kongo, hutan hujan terbesar kedua di dunia.

    Hutan hujan tropis Amazon mencakup sepertiga tutupan pohon di seluruh wilayah tropis.

    Sungai Amazon, yang mengaliri wilayah yang hampir seluas empat puluh delapan wilayah Amerika Serikat, adalah sungai terbesar di dunia. Ia membawa lebih dari lima kali volume Kongo atau dua belas kali lipat volume Mississippi.

    Diperkirakan, 70 persen PDB Amerika Selatan dihasilkan di wilayah yang menerima curah hujan dari hutan hujan Amazon. Hal ini mencakup lumbung pertanian di Amerika Selatan dan beberapa kota terbesarnya.

    Karena ukurannya, Amazon memimpin seluruh kawasan hutan tropis dalam hal luas kehilangan hutan tahunan. Antara tahun 2002 dan 2019, lebih dari 30 juta hektar hutan primer ditebangi di wilayah ini, atau sekitar setengah dari total hilangnya hutan primer tropis dunia pada periode tersebut.

    Amazon diperkirakan menjadi rumah bagi lebih dari separuh suku-suku yang “belum pernah dihubungi” dan hidup dalam isolasi sukarela dari umat manusia lainnya. Namun sebagian besar masyarakat adat di Amazon tinggal di kota besar, kecil, dan desa.

    Negara-negara besar: Sekitar 60 persen hutan hujan Amazon terletak di perbatasan Brasil.

    Sisanya terdapat di beberapa bagian Peru (13persen), Kolombia (8persen), Venezuela (6persen), Bolivia (6persen), Guyana (3persen), Ekuador (2persen), dan Suriname (2persen), serta Guyana Perancis (1persen).

    Tercatat ada lebih dari 40.000 spesies tumbuhan yang hidup di hutan Amazon, termasuk 16.000 spesies pohon; 3.000 ikan; 1.300 burung, 1.000 amfibi; 430 mamalia, dan 400 reptil.

    Spesies paling terkenal antara lain adalah jaguar; tenuk; kapibara; lumba-lumba sungai; berbagai monyet dan burung beo.

    Kabar buruknya, tren deforestasi di Hutan Amazon meningkat di sebagian besar negara, dipimpin oleh Brasil.

    Amazon kehilangan lebih dari 30 juta hektar hutan primer (5,5 persen dari luas hutan pada tahun 2001) dan 44,5 juta hektar tutupan pohon (6,6 persen) antara tahun 2002 dan 2019.

    Sumber:earth.org

  • Pemuda Adat Global Berkumpul di Papua dan Hasilkan Deklarasi Sira, Ini Isinya

    Pemuda Adat Global Berkumpul di Papua dan Hasilkan Deklarasi Sira, Ini Isinya

    7cloud.asiaForest Defender Camp yang diselenggarakan pada 23–26 September 2025 di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya ditutup dengan menghasilkan Deklarasi Sira.

    Deklarasi Sira, Deklarasi Pemuda Adat Global ini mencakup poin-poin tuntutan global yang merefleksikan tantangan yang sama-sama dihadapi oleh Masyarakat Adat di Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Tanah Papua.

    Deklarasi Sira lahir dari diskusi panjang oleh 89 perwakilan Masyarakat Adat yang berkumpul di Kampung Sira, Distrik Saifi, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, Wilayah Adat Tehit Knasaimos.

    Dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia, para pemuda adat ini datang dari empat kawasan hutan tropis terbesar di dunia, yaitu Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Se-Tanah Papua.

    Para pemuda adat yang hadir menyepakati sebuah seruan dari Pemuda Adat global bagi para pemimpin dunia untuk menjaga iklim global yang dicatatkan dalam Deklarasi Sira.

    “Kami, para Pemuda Adat —berbicara hari ini dengan satu suara. Kami adalah Pemuda Adat, pembawa pengetahuan leluhur, dan pelindung sistem kehidupan yang menopang bukan hanya masyarakat kami, tetapi seluruh planet,“ demikian petikan Deklarasi Sira yang dibacakan Rossyana Kogoya.

    Baca: Kerusakan hutan tropis dunia semakin mengkhawatirkan

    Kiki Taufik, Kepala Kampanye Global Greenpeace untuk Hutan Indonesia, berharap deklarasi Sira dapat mengantarkan suara masyarakat adat yang merupakan penjaga hutan yang sesungguhnya ke Konferensi Perubahan Iklim atau COP30 di Belem, Brasil November mendatang.

    “Suara yang akan sampai ke telinga para pemimpin dunia nanti adalah suara para Pemuda Adat yang menjadi kunci masa depan Bumi,” tandas Kiki seperti dilansir di laman resmi Greenpeace Indonesia.

    Forest Defender Camp
    Forest Defender Camp hadir untuk memperkuat gerakan dan mengkampanyekan hak-hak Masyarakat Adat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun solidaritas global.

    Desakan untuk memperjuangkan payung hukum yang mengakui hak-hak Masyarakat Adat dan akses langsung Masyarakat Adat terhadap pendanaan iklim juga terus digaungkan.

    Menurut Nabot Sreklefat dari Komunitas Anak Muda Adat Knasaimos, kehadiran representasi dari semua wilayah adat se-Tanah Papua dan belahan dunia lain dapat saling menginspirasi.

    “Harapan sa dari kita pu kemah adat ini bisa ada rekomendasi yang kita bawakan secara nasional dan internasional,” katanya saat membuka Forest Defender Camp 2025.

    Baca: Peran masyarakat adat atasi krisis iklim

    Krisis iklim dan keanekaragaman hayati yang terjadi secara bersamaan telah menjadi ancaman global bagi masa depan generasi muda. Namun, suara generasi muda, terutama Pemuda Adat, masih sering diabaikan dalam pengambilan keputusan terkait masalah krisis iklim.

    Sebagai upaya untuk mengamplifikasi suara Pemuda Adat, Forest Defender Camp 2025 turut melaksanakan Forum Pemuda Adat Internasional, sebuah forum yang diikuti oleh perwakilan dari masing-masing wilayah adat dan para delegasi Pemuda Adat global.

    Nathalia Kycendekarun Apurinã, Masyarakat Adat Amazon yang berpartisipasi dalam forum ini, mengatakan bahwa hutan hujan tropis dan orang-orang yang melindunginya merupakan fondasi kehidupan di Bumi.

    Keberadaan hutan tropis telah menopang kehidupan dengan suplai udara, air, dan stabilitas iklim.

    Baginya, Pemuda Adat memiliki komitmen yang tak tergoyahkan, yakni untuk melindungi tanah adat, menghormati warisan leluhur, dan memastikan masa depan bagi keturunannya.

    Krisis iklim, ujarnya, menuntut semua orang—pemerintah, pelaku bisnis, dan organisasi internasional—untuk bergabung dengan masyarakat adat. Menurutnya, solusi krisis iklim ada dan berakar pada pengetahuan tradisional dan hubungan masyarakat adat dengan alam.

    ”Waktunya untuk bertindak adalah sekarang. Untuk menjaga planet ini tetap bertahan, Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Se-Tanah Papua harus tetap hidup. Umat manusia mencari jawaban, tetapi jawabannya selalu ada di sini. Jawabannya adalah kita,” tegas Komunikator untuk Koordinasi Organisasi Adat Amazon Brasil (COIAB) ini.

    Baca: Larangan adat efektif menjaga kelestarian hutan

  • Jelang COP 30: Catatan Kritis terhadap Inisiatif TFFF untuk Lindungi Hutan Tropis Dunia

    Jelang COP 30: Catatan Kritis terhadap Inisiatif TFFF untuk Lindungi Hutan Tropis Dunia

    7cloud.asia – Pemerintah Brasil akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pihak ke-30 Konvensi Iklim PBB (COP 30) yang akan diselenggarakan di Belém do Pará, Brasil pada November 2025 mendatang

    Kesempatan ini akan dimanfaatkan Brasil untuk meluncurkan Tropical Forest Finance Facility (TFFF) atau Fasilitas Pembiayaan Hutan Tropis dunia.

    Dalam press brefing pada Senin (20/10/2025) disebutkan bahwa inisiatif ini akan mempertemukan negara-negara dengan hutan hujan terbesar di dunia.

    Dalam kertas posisi, yang dirilis WALHI pada April 2025 lalu, disebutkan bahwa TFFF pertama kali difasilitasi di sela-sela KTT G20 di Bali, Indonesia pada November 2022.

    Kala Sebuah kesepakatan diumumkan antara Brasil, Indonesia, dan Republik Demokratik Kongo—tiga negara yang jika digabungkan diperkirakan memiliki sekitar 52 persen hutan hujan dunia.

    Mekanisme TFFF ini pertama kali digagas lebih dari 15 tahun yang lalu oleh seorang eksekutif senior Bank Dunia bernama Kenneth Lay.

    Pada tahun 2018, Center for Global Development menyebarluaskan sebuah proposal terkait mekanisme keuangan ini dan pemerintah Brasil kemudian mengadopsinya serta mempresentasikannya dalam COP 28 di Dubai.

    Sejak saat itu, sebuah tim yang terdiri dari perwakilan pemerintah Brasil, Bank Dunia, Lion’s Head Global Partners, dan sejumlah pihak lainnya mulai menyusun proposal rinci yang tetap menggunakan akronim TFFF, namun dengan makna baru untuk salah satu huruf “F”: kini dikenal sebagai Tropical Forest Forever Facility.

    Baca: Brasil dorong inisiatif TFFF untuk Pelestarian Hutan Tropis

    Hingga Maret 2025, tim ini telah menghasilkan dua concept note mengenai TFFF. Yang pertama, yang akan kami sebut sebagai Versi 1, dirilis pada 5 Juli 2024. Yang kedua, atau Versi 2, dirilis pada 24 Februari 2025.

    Mary Louise Malig, Direktur Kebijakan Global Forest Coalition yang menulis kertas posisi ini mnyebut, terdapat banyak perbedaan antara kedua versi ini.

    Berikut analisis Mary lebih lanjut tentang TFFF yang akan dilaunching pada COP 30, November mendatang

    Mary mengritik TFFF sebagai konsep yang dibangun di atas logika kapitalisme hijau yang menyesatkan. Ia menganggap krisis iklim terjadi karena “kegagalan pasar” dalam memberi nilai pada jasa ekosistem, bukan karena model ekonomi ekstraktif yang rakus dan menghancurkan alam.

    Alih-alih melindungi hutan tropis, TFFF dinilai justru memperdalam komodifikasi hutan tropis, dan mengubahnya menjadi aset finansial yang diperdagangkan dan dipertaruhkan.

    “Hutan dinilai hanya 4 dolar per hektare, padahal menyediakan penyerapan karbon, pengatur iklim global, hingga habitat biodiversitas. Angka ini bukan hasil kalkulasi ilmiah, tapi sekadar imbal hasil investasi yang diinginkan Bank Dunia,” tandas Mary dalam tulisannya.

    Mary menulis, TFFF sebagai skema rapuh yang menguntungkan investor dan bahkan menurutnya bisa berbahaya. Karena bergantung pada pinjaman dan investasi pasar modal, jika terjadi krisis keuangan, insentif bisa dihentikan.

    Bahkan dokumen resmi TFFF menyatakan bahwa fasilitas ini bisa dilikuidasi jika gagal memenuhi target keuangan. Dengan kata lain, nasib hutan tropis ditentukan oleh stabilitas pasar global, bukan komitmen perlindungan lingkungan.

    Baca: Kerusakan hutan tropis dunia semakin mengkhawatirkan

    Siapa yang Diuntungkan?
    TFFF menjanjikan dana untuk perlindungan hutan, tetapi ⁠80 persen dari dana dikendalikan pemerintah pusat, bukan komunitas penjaga hutan seperti masyarakat adat.

    Kertas posisi itu juga menyoroti, dana yang dialokasikan untuk masyarakat adat dan komunitas lokal yang hanya 20 persen, padahal masyrakat adat inilah yang justru telah terbukti paling efektif menjaga hutan.

    ⁠Tidak ada sanksi untuk negara atau perusahaan yang melakukan deforestasi atas nama pembangunan atau investasi.

    Sementara itu, korporasi bisa dengan mudah mengklaim bahwa mereka “berkontribusi pada penyelamatan hutan” hanya dengan menanamkan modal di TFFF. Greenwashing dilegalkan.

    TFFF Gagal Menjawab Akar Masalah
    TFFF tidak menyentuh penyebab utama deforestasi: ekspansi sawit, peternakan industri, tambang, dan proyek infrastruktur. Skema ini justru mengalihkan tanggung jawab dari negara industri ke negara tropis.

    Dengan membayar 4 dolar per hektare, negara-negara kaya bisa mencuci tangan tanpa harus mengurangi emisi mereka sendiri.

    “Ini bukan keadilan iklim—ini adalah outsourcing tanggung jawab moral dan ekologis,“ demikian kertas posisi tersebut.

  • Masyarakat Sipil: TFFF Tidak Menyentuh Akar Masalah Deforestasi Hutan Tropis Dunia

    Masyarakat Sipil: TFFF Tidak Menyentuh Akar Masalah Deforestasi Hutan Tropis Dunia

    7cloud.asia – Pemerintah Brasil dan United Nations Development Programme (UNDP), Senin (20/10/2025) menyelenggarakan lokakarya regional tentang Tropical Forest Forever Facility (TFFF) bersama Negara-negara Anggota ASEAN dan para pemangku kepentingan di Jakarta.

    TFFF adalah mekanisme pembiayaan inovatif untuk memberi penghargaan kepada negara-negara tropis untuk pelestarian hutan yang dipimpin oleh Brasil dan dirancang bersama oleh komite pengarah interim yang terdiri dari negara-negara tropis (Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Ghana, Indonesia, dan Malaysia).

    Selain itu ada lima negara maju yang disebut siap menjadi sponsor TFFF, yaitu Perancis, Jerman, Norwegia, Uni Emirat Arab, dan Inggris.

    TFFF didukung partisipasi aktif organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat dan komunitas lokal, dan sektor swasta, Mekanisme ini akan memberikan insentif jangka panjang dan berkesinambungan bagi negara-negara berhutan tropis

    TFFF juga disebut akan memastikan sumber daya yang signifikan menjangkau mereka yang melindungi dan memulihkan hutan di lapangan, terutama masyarakat adat dan komunitas lokal.

    TFFF adalah fasilitas pendanaan yang bertujuan memberikan insentif sebesar 4 dolar AS/hektare/tahun kepada negara-negara yang berhasil menjaga tutupan hutan tropis tetap utuh.

    Dana ini dikumpulkan dari investor: 80 persen berasal dari pasar modal dan 20 persen dari sponsor negara kaya, dengan total target sebesar USD 125 miliar.

    Dana tersebut dikelola dengan target return sebesar 7,5 persen, yang kemudian disalurkan ke negara-negara pemilik hutan jika mereka memenuhi kriteria pengurangan deforestasi.

    Baca: Brasil dorong inisiatif TFFF untuk pelestarian hutan tropis

    Namun pembayaran ini bersifat bersyarat. Jika angka deforestasi naik, negara bisa kehilangan insentif atau bahkan dikenai penalti. Skema ini membuat hutan tropis menjadi semacam instrumen pasar: dievaluasi, dihitung, dan dijadikan objek pertaruhan keuangan.

    Resident Representative UNDP Indonesia,Sara Ferrer Olivella dalam pres briefing pada Senin (20/10/2025) di Jakarta mengatakan, TFFF merupakan contoh nyata bagaimana negara-negara di kawasan Global South merancang solusi yang menjawab tantangan bersama mereka.

    ”Negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia, memiliki peran penting dalam membentuk kerangka inovatif ini agar pendanaan iklim dan kehutanan dikelola secara transparan, menjangkau masyarakat lokal, serta mendorong pembangunan manusia dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, “UNDP siap mendukung negara-negara dalam memperkuat sistem tata kelola dan kapasitas kelembagaan yang diperlukan agar mekanisme ini benar-benar bermanfaat bagi manusia dan bagi planet ini.”

    Namun, TFFF menuai kritik dan disebut gagal menjawab akar masalah deforestasi hutan tropis di dunia.

    Mary Louise Malig, Direktur Kebijakan Global Forest Coalition yang menulis kertas posisi tentang TFFF menyebut, inisiatif ini tidak menyentuh penyebab utama deforestasi: ekspansi sawit, peternakan industri, tambang, dan proyek infrastruktur.

    Skema ini justru mengalihkan tanggung jawab dari negara industri ke negara-negara pemilik hutan tropis. Dengan membayar hanya 4 dolar per hektare, negara-negara kaya bisa mencuci tangan tanpa harus mengurangi emisi mereka sendiri.

    “Ini bukan keadilan iklim—ini adalah outsourcing tanggung jawab moral dan ekologis,“ demikian kertas posisi tersebut.

    Baca: Catatan Kritis terhadap inisiatif TFFF untuk lindungi hutan tropis dunia

    Alih-alih bergantung pada mekanisme pasar dan investor global, Mary menegaskan, perlindungan hutan tropis seharusnya dibangun di atas prinsip keadilan ekologis dan pengakuan hak masyarakat adat.

    Beberapa alternatif nyata yang layak diperjuangkan:
    • ⁠Pendanaan langsung ke masyarakat adat dan komunitas lokal.
    • ⁠Hentikan insentif ekonomi untuk industri perusak hutan seperti sawit, tambang, dan agribisnis.
    • ⁠Pajak emisi karbon dan industri minyak, serta realokasi sebagian anggaran militer global (hanya 1persen saja) untuk perlindungan hutan.
    • ⁠Hukum yang mengakui hutan sebagai subjek hukum, bukan sekadar objek ekonomi.
    • ⁠Akuntabilitas hukum terhadap perusahaan-perusahaan perusak lingkungan.

    “Daripada berharap pada skema pasar, kita perlu hukum yang mengakui hak hukum hutan sebagai subjek hidup, dan menuntut korporasi perusak bertanggung jawab,” tandas Mary dalam kertas posisi tersebut.

    Ditambahkan, TFFF merupakan contoh nyata bagaimana kapitalisme hijau bekerja: membungkus pendekatan neoliberal dalam narasi keberlanjutan, sambil tetap mempertahankan struktur dominasi dan ketimpangan.

    Skema ini disebutnya menguntungkan bank dan investor, tidak menghentikan sistem ekonomi ekstraktif dan mengorbankan masyarakat adat dan ekosistem hutan.

    Perlindungan hutan tropis harus dilakukan dengan berbasis pada hak-hak masyarakat adat, dilandasi regulasi ketat terhadap perusak lingkungan, dan tidak menjadikan hutan sebagai objek spekulasi pasar.