7cloud.asia – Beberapa tahun belakangan kampanye publik untuk mengakhiri penebangan hutan tropis mendominasi media populer dan jurnal sains terkenal
Namun, pada saat yang sama juga tengah berlangsung transisi dari praktik “penambangan kayu” ke “kehutanan yang tertata” (managed forestry) dan berbasis bukti.
Ada lima mekanisme yang dilakukan dalam penebangan terencana ini yakni memperbaiki praktik penebangan, mengurangi limbah kayu, memberi waktu pemulihan, melindungi pohon muda dan menanam lebih banyak pohon
Ada manfaat karbon berganda dari penebangan pohon hutan tropis secara terencana ini.
Baca: 5 Cara penebangan hutan tropis yang berkelanjutan
Manfaat karbon dari kelima mekanisme yang disebutkan di atas hanya bersifat tambahan. Artinya, hal tersebut tidak akan terjadi jika tidak ada intervensi.
Karena itu, pasar karbon harus mendukung usaha transisi dari penambangan kayu yang eksploitatif ketika pengelolaan hutan yang bertanggung jawab menjadi aspek penggunaan lahan yang sah.
Praktik kehutanan yang tertata juga menciptakan lapangan kerja bagi para profesional dan mendukung tenaga kerja yang stabil.
Sebaliknya, proyek karbon yang hanya menghentikan pembalakan hutan justru berisiko memindahkan para penebang ke tempat lain.
Baca: Teknik daisugi cara memanen kayu di hutan secara berkelanjutan
Karena itu dibutuhkan kesadaran untuk menubah paradigma dari eksploitasi dan degradasi ke penataan hutan.
Transisi yang lama dinanti dari eksploitasi hutan tropis menjadi pengelolaan hutan yang bertanggung jawab memerlukan dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan seluruh masyarakat.
Pemerintah perlu menegakkan hukum. Kegagalan penerapan praktik penebangan yang berkelanjuan ini berisiko melemahkan perekonomian pendapatan pajak negara.
Sementara itu, melimpahnya kayu hasil penebangan ilegal dapat menjungkirkan harga kayu ke titik terendah.
Baca: Mengapa COP 28 tak secara tegas melarang deforestasi
Industri kehutanan perlu menyadari manfaat investasi di seluruh aspek kehutanan termasuk pemeliharaan tegakan kayu produktif.
Masyarakat juga perlu mendukung sektor kehutanan dengan memastikan tersedianya tenaga kehutanan muda yang terlatih.
Sayangnya, kesalahpahaman umum soal pengelolaan hutan sama dengan degradasi hutan mengurangi daya tarik profesi ini di kalangan generasi muda pemerhati lingkungan.
Hal ini ditandai dengan penutupan begitu banyak program sarjana kehutanan di luar Brasil dan diperburuk dengan meningkatnya fokus pada perkebunan dibandingkan hutan alam.
Baca: Indonesia dan Brasil jadi penyumbang deforestasi hutan tropis terbesar dunia
Kondisi ini membuat kita sulit menemukan orang-orang yang terlatih dan tertarik memuluskan transisi menuju pengelolaan hutan yang bertanggung jawab.
Padahal, transisi ini tidak sia-sia karena pengelolaan hutan yang bertanggung jawab menjanjikan manfaat finansial, lingkungan dan juga sosial.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Francis E Putz (Research Professor, University of the Sunshine Coast) dan Claudia Romero (University of the Sunshine Coast).

Leave a Reply