Tag: Indonesia Gelap

  • Aksi Indonesia Gelap Digelar BEM SI Hari Ini, Menuntut Jokowi Diadili

    Aksi Indonesia Gelap Digelar BEM SI Hari Ini, Menuntut Jokowi Diadili

     

    7cloud.asia – Sekitar 5000 mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) akan menggelar aksi unjuk rasa bertajuk Indonesia Gelap secara serentak di berbagai daerah pada Senin (17/2/2025).

    “Dari laporan konsolidasi kami kemarin ada lima ribuan lebih akan turun dalam aksi Indonesia Gelap,” kata Koordinator Pusat BEM SI, Herianto seperti dikutip IDN Times, Senin (17/2/2025).

    Demo bertajuk Indonesia Gelap itu digelar sebagai bentuk protes terhadap berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming.

    Di Jakarta, aksi “Indonesia Gelap” ini akan dipusatkan di Patung Kuda Arjuna Wijaya, yang terletak tak jauh dari Istana Negara.

    Setidaknya ada tujuh tuntutan aksi Indonesia Gelap yang digelar BEM SI sepanjang pekan ini, termasuk desakan untuk menangkap dan mengadili mantan Presiden Jokowi.

    Baca: Coretan Adili Jokowi muncul di sejumlah kota

    Berikut tujuh tuntutan aksi Indonesia Gelap yang digelar BEM SI:
    Pertama, mendesak agar Prabowo mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025.

    Kedua, transparansi status pembangunan.

    Ketiga, transparansi keseluruhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Keempat, tolak Revisi UU Mineral dan Batubara (Minerba).

    Kelima, tolak upaya menghidupkan kembali dwifungsi TNI.

    Keenam, tangkap dan adili Jokowi.

    Ketujuh, sahkan RUU Perampasan aset.

    Baca: Sejumlah Program Strategis Nasional warisan Jokowi akan dievaluasi

    Herianto menjelaskan, BEM SI menilai bahwa situasi bangsa saat ini mengkhawatirkan.

    “Bersama surat ini kami ingin menyerukan rapatkan barisan dan menyampaikan kepada BEM SI mengenai situasi bangsa kita hari ini makin gelap kebijakannya yang hari demi hari makin mencengkam dan menyengsarakan rakyat,” demikian surat instruksi terkait aksi yang dibagikan Herianto.

    BEM SI menegaskan, UUD 45 dan Pancasila harus di implementasikan dengan sebenar-benarnya demi kesejahteraan rakyat Indonesia

    “Oleh karena itu saatnya #AdiliJokowi dan evaluasi total kabinet merah putih yang berada di bawah pimpinannya Prabowo-Gibran,” lanjut surat tersebut.

    Dalam surat itu juga dijelaskan, aksi Indonesia Gelap akan digelar selama beberapa hari di tingkat daerah maupun skala nasional. Rencananya BEM SI menyelenggarakan aksi di daerah pada Senin, 17 Februari 2025, dan Selasa, 18 Februari 2025.

    Lalu, aksi yang terpusat di tingkat nasional rencana digelar pada Rabu, 19 Februari 2025, atau Kamis, 20 Februari 2025.

    Baca: Tipe korupsi yang diduga dilakukan Jokowi

  • Aksi Indonesia Gelap di Jakarta Soroti Kebijakan Prabowo-Gibran yang Sengsarakan Rakyat

    Aksi Indonesia Gelap di Jakarta Soroti Kebijakan Prabowo-Gibran yang Sengsarakan Rakyat

    7cloud.asia – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi unjuk rasa bertajuk ‘Indonesia Gelap’ di area Istana Negara dan Patung Kuda, Gambir, Jakarta Pusat pada Senin (17/2/2025).

    Setidaknya, ada 1.000 mahasiswa UI dari lintas fakultas yang mengikuti aksi Indonesia Gelap tersebut.

    “Akan ada seribu orang yang bergabung bersama-sama untuk menuntut pemerintah kita,” kata Ketua BEM UI, Iqbal Cheisa Wigunan sebelum pemberangkatan massa dari Kampus UI Depok, Senin (17/2/2025) siang.

    Iqbal lantas menjelaskan, terdapat lima tuntutan dan aspirasi yang akan diperjuangkan dalam aksi Indonesia Gelap yang juga dilakukan BEM Seluruh Indonesia. Tuntutan ini menyorot berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo.

    Sebelumnya, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia dalam unggahan di X menyebut “banyak kebijakan ugal-ugalan nirsubstansi yang menyebabkan penderitaan rakyat terus berlanjut”.

    Tuntutan pertama, BEM UI meminta pemerintah mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran yang dinilai kurang tepat.

    Baca: Aksi Indonesia Gelap tolak efisiensi anggaran

    Kedua, BEM UI meminta pemerintah melakukan evaluasi program makan bergizi gratis (MBG).

    “Kita melihat bahwa banyak hal-hal yang kurang tepat terkait dengan makan bergizi gratis ini,” ungkap Iqbal.

    Ketiga, mereka meminta pemerintah mengevaluasi RUU Minerba, terutama terkait pasal perguruan tinggi dapat mengolah izin tambang.

    Keempat, terkait inkonsistensi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam mengambil kebijakan-kebijakan.

    Kelima, BEM UI meminta pemerintah mencairkan tunjangan kinerja dosen dan tenaga pendidik sebagaimana mestinya.

    “Terkait dengan efisiensi anggaran pendidikan ini sempat viral juga. Waktu itu sekitar 600 ribu mahasiswa yang ada di Indonesia terancam untuk tidak bisa melanjutkan kuliahnya (karena efisiensi anggaran),” tandasnya.

    Baca: Coretan Adili Jokowi muncul di sejumlah kota

    Iqbal menegaskan, BEM UI bakal menggelar demo lanjutan yang lebih besar jika aksi “Indonesia Gelap” tidak memperoleh perhatian serius pemerintah.

    Hal itu tergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah dalam menyikapi protes para mahasiswa di patung kuda dan Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (17/2/2025).

    “Mungkin akan ada aksi-aksi lanjutan lainnya yang pastinya akan lebih besar ke depannya,” kata Iqbal dilansir Kompas.com.

    Sebelumnya Koordinator Pusat BEM Seluruh Indonesia, Herianto mengatakan aksi Indonesia Gelap hari ini dilakukan serentak di sejumlah kota.

    Sementara aksi Indonesia Gelap tingkat nasional juga akan digelar, pada tanggal 19 atau 20 Februari pekan ini.

    Tagar #IndonesiaGelap juga menjadi trending topik di X pada Senin (17/02). Sebagian besar pengguna X mengungkapkan keresahan mereka terkait kondisi Indonesia terkini.

  • Dukung Aksi Indonesia Gelap, BEM UGM Juga Soroti Pemangkasan Anggaran Pendidikan dan Program Makan Bergizi Gratis

    Dukung Aksi Indonesia Gelap, BEM UGM Juga Soroti Pemangkasan Anggaran Pendidikan dan Program Makan Bergizi Gratis

    7cloud.asia – Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto mengatakan pihaknya mendukung aksi Indonesia Gelap yang dilakukan BEM se-Indonesia di Jakarta.

    BEM UGM, ujar Tiyo, akan melakukan aksi serupa aksi Indonesia Gelap pada pekan ini mengusung dua tuntutan utama kepada pemerintah.

    Pertama, evaluasi total terhadap program makan bergizi gratis dengan menyesuaikan kemampuan APBN dan kondisi ekonomi nasional.

    “Pemerintah tidak perlu malu untuk mempertimbangkan skema pembatalan dan mengembalikan fokus pada sektor fundamental seperti pendidikan dan kesehatan masyarakat,“ ujar Tiyo Ardianto, dilansir ugm.ac.id, Selasa (18/2/2025).

    Kedua, penerapan kebijakan pajak progresif kepada orang kaya yang diharapkan mampu menjadi sumber pendapatan baru bagi Negara.

    Baca: BEM SI kritisi kebijakan pemerintahan Prabowo yang tak pro rakyat

    Tiyo menambahkan, BEM UGM memandang pemerintah perlu mengatur kembali prioritas masyarakat sebelum mengambil kebijakan.

    “Kembalikan kepercayaan rakyat kepada Pemerintah dengan mewujudkan pemerintahan yang bersih dari korupsi,” pesan Tiyo.

    Tiyo menambahkan, BEM UGM mendesak Presiden segera meninjau ulang kebijakan efisiensi anggaran terutama yang terkait pemangkasan anggaran pendidikan, kesehatan, fasilitas dan pelayanan publik lainnya.

    “Kita minta Presiden untuk meninjau ulang pemangkasan anggaran dengan menimbang kepentingan masyarakat,” tandasnya.

    Tiyo menambahkan, anggaran pendidikan yang dialokasikan selama ini sebenarnya belum ideal untuk menopang pendidikan dasar, menengah hingga jenjang pendidikan tinggi.

    Baca: YLBHI sebut efisiensi anggaran pemerintahan Prabowo ancam pemenuhan hak dasar rakyat

     Bahkan. menurutnya, isu mengenai sarana dan prasarana yang layak, hingga gaji guru honorer masih belum bisa diatasi dengan anggaran pendidikan yang ada.

    Namun anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang mulanya sejumlah Rp33,5 triliun dipangkas sebesar Rp8 triliun menjadi Rp25,5.

    Pemangkasan anggaran juga dialami Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

    Kebijakan ini memunculkan pertanyaan terkait komitmen pemerintahan Prabowo Soebianto untuk memajukan sektor pendidikan.

    “PTN harus mencari dana sendiri. Jalan keluar paling gampang adalah naikkan UKT. Siapa yang jadi korban? Mahasiswa, orang tua, dan masyarakat Indonesia yang harus menguburkan mimpinya untuk kuliah karena tak ada biaya,” jelas Tiyo.

    Baca: Aksi Indonesia Gelap di Jakarta soroti kebijakan Prabowo-Gibran yang sengsarakan Rakyat

    Meski pemerintah baru-baru ini menyatakan tidak akan ada kenaikan UKT dan program KIP-K tetap dijalankan, Tiyo melihat sejak awal pemerintah terkesan ingin mengorbankan pendidikan dengan alasan efisiensi anggaran.

    Tiyo menilai, tidak bijak jika efisiensi anggaran dijalankan sedemikian rupa untuk mendukung program yang sejak awal sulit untuk ditopang APBN, seperti program makan bergizi gratis.

    “Presiden Prabowo harus menyadari bahwa pemangkasan ugal-ugalan ini tidak boleh dilakukan sekadar untuk memenuhi janji politik demi sebuah program yang tidak melalui kajian akademik yang cukup,” tambahnya.

    Tiyo menegaskan, apabila pemerintah belum memenuhi tuntutan para mahasiswa, maka BEM UGM bersama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia akan kembali menggelar aksi yang akan menggandeng masyarakat yang lebih luas.

  • Puncak Demo Indonesia Gelap Dihelat di Sejumlah Kota

    Puncak Demo Indonesia Gelap Dihelat di Sejumlah Kota

    7cloud.asia – Sejumlah elemen mahasiswa akan menggelar puncak demo mahasiswa bertajuk Indonesia Gelap pada Kamis, (20/2/2025) sore.

    Aksi tersebut merupakan lanjutan dari demo Indonesia Gelap yang sebelumnya berlangsung di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat dan sejumlah daerah pada Senin, (17/2/2025).

    Selain di Jakarta, beberapa hari ini demo mahasiswa bertajuk Indonesia Gelap juga digelar di sejumlah daerah, seperti Bandung, Lampung, Surabaya, Malang, Samarinda, Banjarmasin, Aceh, dan Bali.

    Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Herianto mengatakan, aksi salah satunya untuk menentang kebijakan pemotongan anggaran besar-besaran yang disebut oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai langkah efisiensi Anggaran.

    Pemilihan tanggal puncak aksi karena bertepatan dengan pelantikan kepala daerah terpilih pada 20 Februari 2025. Mahasiswa, kata Herianto, ingin memperingatkan kepala daerah terpilih tanggung jawab moral untuk menghadirkan keadilan bagi masyarakat.

    “Jadi bebannya bukan pemerintah pusat saja. Pemerintah daerah juga harus berpikir posisi di sana,” kata Herianto dilansir Tempo.co.

    Menurut Herianto, langkah BEM SI menggelar aksi lanjutan Indonesia Gelap, salah satunya karena pemerintah tidak merespons aspirasi mahasiswa pada Senin, (17/2/2025).

    Herianto berharap pemerintah merespons cepat aspirasi mahasiswa dan masyarakat sipil, karena masyarakat masih menunggu.

    Di Yogyakarta, gabungan mahasiswa dari berbagai universitas dan sejumlah kelompok aktivis serta masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Jogja Memanggil juga menggelar aksi turun ke jalan di Yogyakarta, DIY, Kamis (20/2/2025).

    Aksi damai bertajuk #BersamaRakyat itu akan dimulai pukul 10.00 WIB di Tempat Parkir Abu Bakar Ali, Danurejan, Kota Yogyakarta sebagai titik kumpul.

    Aksi Aliansi Jogja Memanggil turun ke jalan hari ini merupakan bagian dari sejumlah aksi ‘Indonesia Gelap’ yang digelar maraton di sejumlah wilayah Indonesia dari Banda Aceh, Jakarta, hingga Makassar.

    Sana Ulaili, salah seorang koordinator dari Forum Cik Di Tiro menuturkan, aksi damai ini digelar untuk menggaungkan tuntutan yang juga disuarakan aksi Indonesia Gelap.

    Tuntutan para mahasiswa
    Secara rinci, berikut 13 poin tuntutan para massa aksi demonstrasi Indonesia Gelap:

    1. Ciptakan pendidikan gratis ilmiah dan demokratis serta batalkan pemangkasan anggaran pendidikan.

    2. Cabut proyek strategis nasional bermasalah, wujudkan reforma agraria sejati. Menurut mereka, Proyek Strategis Nasional (PSN) kerap menjadi alat perampasan tanah rakyat.

    3. Menolak revisi Undang-Undang Minerba. Menurut mereka, revisi UU Minerba hanya menjadi alat pembungkam bagi rezim untuk kampus-kampus dan lingkungan akademik ketika bersuara secara kritis.

    4. Hapuskan multi fungsi ABRI. Keterlibatan militer dalam sektor sipil berpotensi menciptakan represi dan menghambat kehidupan yang demokratis.

    5. Sahkan rancangan undang-undang masyarakat adat. Masyarakat adat membutuhkan perlindungan hukum yang jelas atas tanah dan kebudayaan mereka.

    6. Cabut Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2025. Aturan ini dinilai sebagai ancaman terhadap bagian-bagian dari kepentingan rakyat seperti pendidikan dan kesehatan.

    7. Evaluasi total program makan bergizi gratis. Program makan gratis harus dievaluasi secara menyeluruh agar tepat sasaran, terlaksana dengan baik, dan tidak menjadi alat politik semata.

    8. Realisasikan anggaran tunjangan kinerja dosen. Kesejahteraan akademisi harus diperhatikan demi peningkatan kualitas pendidikan tinggi dan melindungi hak-hak buruh kampus.

    9. Mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang perampasan aset.

    10. Menolak revisi Undang-Undang TNI, Polri, dan Kejaksaan yang mana revisi ini berpotensi menguatkan impunitas para aparat juga militer dan memperlemah penguasaan terhadap aparat.

    11. Efisiensi dan rombak Kabinet Merah Putih. Borosnya para pejabat yang tidak bertanggung jawab harus diatasi dengan merombak para pejabat yang bermasalah.

    12. Menolak revisi peraturan Dewan perwakilan Rakyat tentang Tata Tertib yang mana revisi tatib ini sangat bermasalah dan bisa menimbulkan kesewenang wenangan dari lembaga DPR.

    13. Reformasi Kepolisian Republik Indonesia. Kepolisian harus direformasi secara menyeluruh untuk menghilangkan budaya represif dan meningkatkan profesionalisme.

  • #IndonesiaGelap: Alarm Bagi Publik Agar Tak Terlena Narasi Penguasa

    #IndonesiaGelap: Alarm Bagi Publik Agar Tak Terlena Narasi Penguasa

    7cloud.asia – Bermula dari media sosial, tagar #IndonesiaGelap menjadi bentuk aksi kolektif masyarakat, utamanya kaum muda, yang menuntut keadilan terhadap pemerintah hari ini.

    Aksi kolektif yang berawal dari tagar tersebut terealisasi secara serentak di berbagai kota oleh mahasiswa dari berbagai kampus.

    Mereka menuntut pertanggungjawaban atas segala bentuk kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang dianggap tidak prorakyat.

    Bukan hanya untuk memprotes pemerintah, hadirnya #IndonesiaGelap juga terlihat menjadi narasi perlawanan di tengah dominasi penguasa yang menyebarkan narasi yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

    Penguasa dalam hal ini pemerintah, kerap menghadirkan gambaran bahwa kondisi Indonesia baik-baik saja. Selain itu, media arus utama juga dapat memperburuk situasi dengan terus menerus menggambarkan kondisi yang tidak sesuai realitas.

    Aksi kolektif seperti #IndonesiaGelap menjadi pengingat atau alarm bagi masyarakat luas bahwa ada realitas lain yang coba disembunyikan oleh penguasa. Publik jangan sampai terlena oleh realitas palsu pemerintah.

    Terlena narasi penguasa
    Berdasarkan hasil survei opini publik oleh Litbang Kompas pada 4-10 Januari 2025, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo-Gibran mencapai 80,9 persen. Hanya 19,1 persen menyatakan tidak puas.

    Ini sebenarnya perlu dipahami lebih kritis, karena data tersebut bisa saja hanya respons dari masyarakat yang menjadi korban dari narasi penguasa.

    Baca: Puncak demo Indonesia Gelap digelar di sejumlah kota

    Selain itu, kita perlu juga mempertanyakan metode dan interpretasi survei itu sendiri. Dalam The Illusion of Public Opinion: Fact and Artifact in American Public Opinion Polls (2004), George F. Bishop menyoroti bagaimana desain pertanyaan dalam survei dapat memengaruhi hasil yang diinginkan.

    Misalnya, jika survei menanyakan kepuasan secara umum tanpa merinci aspek spesifik dari kebijakan pemerintah, maka responden mungkin akan memberikan jawaban yang lebih positif.

    Sebab, mereka tidak diberi kesempatan untuk mempertimbangkan aspek negatif secara mendalam.

    Temuan akan kepuasan semacam itu bisa dilihat juga melalui pendekatan System Justification Theory oleh Jost dan Banaji pada 1994.

    Teori ini menyatakan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk membenarkan dan mempertahankan sistem sosial, politik, dan ekonomi yang ada, meskipun sistem tersebut merugikan mereka.

    John Jost, psikolog sosial Amerika Serikat mengembangkan teori tersebut lebih jauh dengan menunjukkan bahwa seseorang sering kali mendukung sistem yang ada bukan karena mereka mendapat manfaat langsung, tetapi karena adanya kebutuhan psikologis akan stabilitas, ketertiban, dan kepastian.

    Sesuai dengan teori tersebut, dalam sistem politik, individu cenderung menerima narasi dominan yang disebarluaskan oleh penguasa dan media. Inipun termasuk apabila narasi tersebut bertentangan dengan kepentingan mereka

    Itulah mengapa penguasa kita gemar menggunakan kerja dari para buzzer untuk membingkai sebuah peristiwa atau fenomena. Semua itu dapat menguatkan narasi penguasa yang menjelaskan bahwa semua baik-baik saja.

    Baca: Aksi Indonesia Gelap soroti kebijakan Prabowo-Gibran yang tidak prorakyat

    Dalam buku The Righteous Mind: Why Good People Are Divided by Politics and Religion, psikolog sosial asal AS Jonathan Haidt menjelaskan bahwa preferensi politik masyarakat sering kali didasarkan pada emosi dan identitas kelompok, bukan analisis rasional terhadap kebijakan.

    Jika pemerintah berhasil membangun citra populis yang kuat—misalnya dengan menampilkan diri sebagai pembela rakyat kecil atau pemimpin yang tegas—maka dukungan publik bisa meningkat. Ini bahkan jika kebijakan yang diambil justru merugikan mereka dalam jangka panjang.

    Kuatnya narasi penguasa ini kerap kali diperparah oleh peran media massa yang melakukan propaganda model.

    Menurut Edward S. Herman dan Noam Chomsky dalam buku Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media (1988), propaganda model adalah ketika kebijakan pemerintah dapat terlihat lebih populer dari kenyataan sesungguhnya karena adanya kontrol terhadap wacana publik.

    Media yang berpihak pada elite politik cenderung menonjolkan aspek positif pemerintahan. Sementara itu, kritik dibungkam atau disisihkan ke ruang-ruang marjinal.

    Jika pemerintah terus menutup diri terhadap kritik dan mengandalkan strategi komunikasi hegemonik untuk menutupi kegagalannya, maka gerakan seperti #IndonesiaGelap akan semakin relevan sebagai ruang alternatif bagi warga untuk menuntut akuntabilitas.

    Harapannya, gerakan ini tidak hanya menjadi reaksi sesaat terhadap kebijakan yang dinilai merugikan, tetapi berkembang menjadi upaya jangka panjang dalam membangun masyarakat sipil yang lebih kuat dan independen.

    Baca: Indonesia sulit jadi negara maju jika anggaran pendidikan dan riset tak jadi prioritas

    Merebut ruang narasi
    Tantangan terbesar dari gerakan ini adalah bagaimana ia dapat bertahan dan berkembang di tengah represi politik dan kontrol terhadap ruang publik, serta dapat diakomodasi dalam kebijakan publik.

    Pemerintah yang memiliki akses terhadap aparat, media, dan infrastruktur digital bisa berisiko menekan gerakan semacam ini melalui propaganda, kriminalisasi aktivis, atau bahkan sensor terhadap informasi kritis.

    Oleh karena itu, aksi Indonesia Gelap harus mampu beradaptasi dengan strategi perlawanan yang fleksibel, mulai dari memperkuat jejaring solidaritas lintas sektor, menciptakan narasi tandingan yang lebih luas, hingga menggunakan teknologi untuk menghindari sensor dan manipulasi informasi.

    Jika tidak, gerakan ini berisiko meredup dan kehilangan daya dorongnya, seperti banyak gerakan protes lainnya yang gagal melewati fase awal euforia.

    Ke depan, Indonesia Gelap harus lebih dari sekadar tagar dan aksi sesaat. Gerakan ini perlu bertransformasi menjadi ruang-ruang yang lebih terstruktur untuk edukasi politik dan mobilisasi massa yang berkelanjutan.

    Kritik terhadap pemerintah juga harus diiringi dengan penyampaian solusi alternatif yang konkret. Harapannya, gerakan ini tidak hanya menjadi simbol perlawanan, tetapi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk membangun kesadaran politik yang lebih mendalam.

    Dengan menggabungkan kekuatan media sosial, aksi massa, dan kajian kritis terhadap kebijakan publik, gerakan ini bisa menjadi titik balik dalam mendorong demokrasi yang lebih substansial.

    Hanya dengan cara itu, Indonesia Gelap bisa benar-benar menjadi harapan bagi masyarakat yang ingin keluar dari kegelapan sistem politik yang manipulatif dan menindas.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Wawan Kurniawan (Peneliti di Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia, Universitas Indonesia)

  • Tak Hanya Mahasiswa, Masyarakat Sipil dan Kelompok Pekerja Ikut Aksi Indonesia Gelap

    Tak Hanya Mahasiswa, Masyarakat Sipil dan Kelompok Pekerja Ikut Aksi Indonesia Gelap

    7cloud.asia – Massa gabungan mahasiswa, serikat pekerja dan organisasi masyarakat sipil memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Jumat (21/2/2025) melanjutkan aksi Indonesia Gelap untuk memprotes sejumlah kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat

    Dengan mengenakan pakaian berwarna gelap, gelombang massa peserta aksi Indonesia Gelap mulai berdatangan sejak pukul 13.30 waktu Indonesia barat.

    Sejumlah pengunjukrasa yang ditemui mengaku ikut aksi Indonesia Gelap karena merasa gerah dengan berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang pada Kamis (20/2/2025) tepat berusia empat bulan.

    Menengok poster yang dibawa pengunjukrasa, sebagian besar menyoroti efisiensi anggaran yang dinilai tidak didasarkan pada pertimbangan komprehensif sehingga berdampak pada layanan kepada rakyat banyak.

    Di sisi lain Prabowo-Gibran justru melakukan pemborosan dengan kabinet yang gemuk dan aneka acara seremonial. Prabowo-Gibran juga dinilai mengabaikan kritik masyarakat, ditunjukkan lewat pernyataannya di HUT Gerindra pekan lalu.

    Baca: #IndonesiaGelap jadi alarm agar publik tak terlena oleh narasi penguasa

    Seperti demo pada beberapa hari sebelumnya, para pengunjukrasa membawa poster-poster yang menggelitik, seperti:

    “Bukan Hanya Emyu Yang Gelap, Indonesia Juga Gelap”

    “Cukup Badan Saja Yang Gemuk, Kabinet Jangan”

    “#IndonesiaGelap: Makan Siang Gratis, Cari Kerja Berbaris”

    “The Goverment Mean Nothing Without Us”

    Tak ketinggalan tentunya, “Adili Jokowi”

    Dan berikut pernyataan sejumlah peserta aksi Indonesia Gelap yang ditemui 7cloud.asia:

    “Kami gerah dengan kondisi negara kita yang dijalankan secara ugal-ugalan,” seru Aryo.

    “Terlalu mengakomodasi elit politik sehingga menomorduakan kebutuhan dan kesejahteraan rakyat,” ujar Anda.

    “Kami tidak mau melihat kesejahteraan rakyat Indonesia makin terdampak hanya karena kebijakan yang asal-asalan,” ujar Amanda.

    “Kami memprotes pengelolaan uang negara lewat Danantara yang nantinya minim pengawasan. Itu adalah hasil keringat rakyat,” ujar Norma.

    Baca: 13 Tuntutan aksi Indonesia Gelap

    Aksi dengan mengangkat tagar #IndonesiaGelap, mulai diluncurkan Senin (17/2/2025) oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI).

    Aksi Indonesia Gelap bermuara dari keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk melakukan pemangkasan anggaran sebesar Rp 306,7 triliun dengan mengurangi belanja kementerian dan lembaga, acara-acara besar, dan perjalanan dinas.

    Serangkaian aksi demonstrasi sudah berlangsung di berbagai daerah menyuarakan sejumlah tuntutan, terutama terkait kebijakan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah baru-baru ini.

    Dalam puncak aksi Indonesia Gelap pada Kamis (20/2/2025), masyarakat juga menuntut pengesahan sejumlah rancangan undang-undang (RUU) prorakyat, yaitu RUU Masyarakat Adat, RUU Perampasan Aset dan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga.

    Selain itu, massa juga tetap menyuarakan penolakan terhadap sejumlah RUU, antara lain Revisi Undang-Undang (UU) Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Revisi UU Polri, Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan UU Mineral Batu Bara.

    Massa juga menuntut pembatalan sejumlah program pemerintah, antara lain multifungsi TNI-Polri, program food estate seluas 29 juta hektar dan pendirian Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

    Tak hanya di Jakarta, aksi massa Indonesia Gelap juga berlangsung di kota-kota besar lain, seperti Yogyakarta, Bandung (Jawa Barat), Surabaya&Malang (Jawa Timur), Solo dan Semarang (Jawa Tengah) Medan (Sumatera Utara); dan Makassar (Sulawesi Selatan).

     

  • Seruan Salemba Kedua: Bebaskan Indonesia dari Gelap

    Seruan Salemba Kedua: Bebaskan Indonesia dari Gelap

     

    7cloud.asia – Sekitar seratus guru besar, akademisi, aktivis mahasiswa, dan masyarakat sipil berkumpul di Kampus UI Salemba, Kamis (27/2/25) dan menyerukan ‘Seruan Salemba Kedua, Bebaskan Indonesia dari Gelap’.

    Acara ini diisi orasi secara bergantian oleh tokoh-tokoh yang hadir, seperti Profesor Soelistyowati, budayawan Sukidi, sejarawan Asvi Marwan Adam, akademisi Ubeidillah Badrun, Pakar hukum tatanegara Feri Amsari.

    Dalam orasinya, para tokoh menekankan bahwa para pendiri bangsa bersama pemimpin bangsa-bangsa Asia–Afrika telah menorehkan tinta emas sejarah dunia. Mereka menginspirasi kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah melalui konsolidasi geopolitik baru dalam Konferensi Asia–Afrika di Bandung pada tahun 1955.

    Konferensi yang menghasilkan Dasa Sila Bandung itu secara substansial telah membangun kesadaran tentang pentingnya menghormati hak-hak asasi manusia dan kedaulatan bangsa-bangsa melalui sistem demokrasi yang berakar dan berujung pada kepentingan rakyat.

    Hari ini, bangsa ini patut menanyakan lagi signifikansi Dasa Sila Bandung bagi kaum muda Indonesia ketika kualitas demokrasi dan prinsip negara hukum menurun.

    Sejarah Indonesia juga mencatat gerakan kaum muda selalu menjadi pengingat dan penyelamat, ketika bangsa berhadapan dengan pelbagai masalah berat. Kejadian 1955, 1965, 1998 dan beberapa tahun belakangan.

    Baca: #IndonesiaGelap jadi alarm agar publik tak terlena narasi penguasa

    Saat ini kaum muda kembali menggemakan suara rakyat, persis ketika lembaga perwakilan rakyat tidak menjalankan fungsinya sebagai penyeimbang kekuasaan dalam negara hukum.

    Dalam beberapa tahun ini muncul sejumlah gerakan mahasiswa #Reformasidikorupsi (2019), #Mositidakpercaya (2020), #Peringatandarurat (2024), #KaburAjaDulu, dan #Indonesia Gelap (2025).

    Kaum muda bergerak menyuarakan keprihatinan akan penyelewengan serius arah kebijakan pemerintahan dipicu oleh antara lain:

    Pertama, kurangnya transparansi dan akuntabilitas tata kelola pemerintahan, pemborosan anggaran untuk proyek-proyek mercusuar yang tak jelas manfaatnya; Pemilu sarat nepotisme dan konflik kepentingan; kebijakan pembangunan ekstraktif berimplikasi pada hilangnya ruang hidup rakyat; kerusakan bumi dan musnahnya keragaman hayati yang tidak terbarukan.

    Mengutip puisi aktivis mahasiswa Adnan Malay, sejarawan Asvi menyebut tritura yang pernah digaungkan mahasiswa pada 1966, terasa relevan digaungkan gerakan mahasiswa untuk menyikapi situasi saat ini

    Pertama, bubarkan kabinet 100 menteri. Selain menjadi kaki tangan Jokowi, kabinet ini juga tidak efisien.

    Baca: Masyarakat sipil dan kelompok pekerja ikut aksi Indonesia Gelap

    Tuntutan kedua adalah turun harga, karena memang harga-harga dirasakan semakin membebani masyarakat yang daya belinya terus menurun. Dan, yang ketiga adalah hancurkan korupsi.

    “Ini bisa diwujudkan dengan menuntut agar UU Perampasan aset disetujui DPR. dan mereka yang pernah dihukum karena korupsi tidak boleh lagi menjabat di pemerintahan,“ terang Asvi.

    Di akhir acara, perwakian tokoh yang hadir membacakan Seruan Salemba kedua, yaitu:
    Pertama, mendesak pemerintah untuk secara sungguh-sungguh memenuhi 13 butir tuntutan gerakan mahasiswa Indonesia yang disuarakan dalam aksi “Indonesia Gelap”.

    Kedua, mendesak DPR bekerja sebagai pengontrol pemerintah. Artinya, DPR harus mengindahkan mandat Konstitusi sebagai penyeimbang kekuasaan eksekutif; menghindari memberi tafsir menyesatkan dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan penganggaran dengan sebenarnya.

    “Agar mendapat kepercayaan publik, DPR dan Pemerintah harus menjalankan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan,a kuntabel, cerdas, dan kredibel,” ujar Ubed.

    Tuntutan ketiga, Ubed mendesak Presiden dan DPR agar mulai saat ini menghentikan pembuatan atau revisi hukum yang tidak didasarkan pada assessment, penelitian mendalam yang bertanggung jawab, berbasis bukti dari data berkualitas, regulatory impact analysis, dan partisipasi masyarakat.

    Baca: 13 tuntutan aksi Indonesia Gelap

    Pembuatan kebijakan tidak bisa didasarkan pada naskah akademik yang dibuat
    seadanya, sekedar syarat formalitas, apalagi menghadirkan akademisi hanya untuk
    melegalisasi tujuan-tujuan kekuasaan.

    Keempat, mendesak Presiden dan DPR meninjau ulang pelbagai kebijakan, termasuk atas nama efisiensi, yang berdampak pada pengurangan signifikan berbagai layanan masyarakat. Ini terutama tapi tidak terbatas bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan di bidang kesehatan, sumber energi, kebutuhan pokok, dan pendidikan.

    Dampak lebih luas terlihat pada terhambatnya pengembangan ilmu pengetahuan, pemutusan hubungan kerja, hilangnya kesempatan kaum muda berkompetisi tanpa kolusi dan nepotisme dalam mendapatkan pekerjaan, serta kerusakan lingkungan akibat ekstraksi dan komersialisasi yang berlebihan dan tak memikirkan masa depan.

    Tuntutan kelima, mendesak pemerintah menjamin kebebasan berekspresi warga negara sebagai bentuk hormat kepada hak asasi dan dukungan kepada terbukanya potensi-potensi kreatif dari anak-anak bangsa.

    “Keenam, mendesak Presiden berkomitmen pada pemberantasan korupsi untuk tanpa pandang bulu mengusut dugaan-dugaan korupsi dan penyelewengan kekuasaan pada masa pemerintahan sebelumnya. Anggapan bahwa aparat hukum tebang pilih hanya bisa ditepis apabila kasus-kasus yang melibatkan penguasa sebelumnya juga diperkarakan,” jelas dia.

    Ketujuh, karena kerusakan demokrasi telah terjadi, ketidakpastian hukum, korupsi merajalela, ekonomi memburuk, dan lingkungan telah rusak, maka pemerintah perlu secara jelas dan tegas menunjukkan kepada publik itikad serius dan langkah-langkah nyata dalam jangka pendek maupun panjang untuk memperbaiki keadaan di atas.

  • Amnesty International Indonesia: Prabowo Harus Berhenti Mendelegitimasi Gerakan Masyarakat Sipil

    Amnesty International Indonesia: Prabowo Harus Berhenti Mendelegitimasi Gerakan Masyarakat Sipil

    7cloud.asia – Amnesty International mendesak Presiden Prabowo berhenti mendelegitimasi gerakan masyarakat sipil yang selama ini menyuarakan protes yang sah dan damai.

    Hal ini terkait dengan tudingan Prabowo saat berpidato di Kongres Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Solo pada hari Minggu (20/72025), bahwa aksi-aksi protes Indonesia Gelap dibiayai dan direkayasa oleh koruptor

    Deputi Direktur Amnesty International Indonesia, Wirya Adiwena menganggap pernyataan Prabowo tersebut merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan berekspresi.

    Baca: Mahasiswa, masyarakat sipil dan kelompok pekerja ikut aksi Indonesia Gelap

    “Pernyataan Presiden tersebut jelas merupakan bentuk serangan terhadap kebebasan berekspresi dan hak warga sipil untuk menyuarakan protes yang sah dan damai. Ini adalah  upaya untuk mendelegitimasi gerakan masyarakat sipil dengan melontarkan klaim yang tidak berdasar ke publik luas,” jelas Wirya dalam keterangan pers pada Selasa (22/07/2025).

    “Apa yang dikatakan oleh Prabowo tersebut tidak didasarkan pada bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan,” lanjutnya.

    Menurutnya hal ini juga bukan kali pertama presiden menyudutkan suara-suara kritis dari masyarakat. 

    Sebelumnya Prabowo juga menyerang kredibilitas Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan tuduhan membawa kepentingan asing dan misi adu domba saat masyarakat sipil  mengawasi jalannya pemerintahan. 

    Baca: Puncak demo Indonesia gelap digelar di sejumlah kota

    “Alih-alih mendengar dan menanggapi substansi kritik dari rakyat, presiden justru memilih menyerang motif dan kredibilitas para pengkritiknya,” katanya.

    Selanjutnya Wirya menjelaskan sikap presiden yang terus-menerus mengarahkan tudingan kepada LSM, aktivis, dan gerakan sipil justru dapat mendelegitimasi kritik dan keresahan masyarakat atas kondisi sosial dan kebijakan pemerintah.

    Ini menciptakan narasi yang berbahaya, seolah-olah siapa pun yang mengkritik negara adalah musuh, antek asing, atau kaki tangan koruptor.

    Baca: Aksi Indonesia Gelap soroti kebijakan Prabowo-Gibran yang sengsarakan rakyat

    “Ini adalah retorika khas rezim otoriter yang takut pada transparansi dan pertanggungjawaban publik,” ujarnya.

    Karena itu, Amnesty International mendesak Prabowo segera berhenti melontarkan klaim yang tidak berdasar terkait gerakan masyarakat sipil serta menjamin dan membuka seluas-luasnya akses masyarakat untuk menyampaikan kritik secara sah dan damai di Indonesia.