Tag: jawa barat

  • Mengenal Sejarah Tatar Sunda atau Jawa Barat

    Mengenal Sejarah Tatar Sunda atau Jawa Barat

    7cloud.asia – Pada Sabtu, (19/8/2023) lalu Jawa Barat yang dikenal sebagai tatar Sunda merayakan hari jadinya yang ke-78.

    Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil memimpin langsung upacara peringatan HUT ke-78 Jawa Barat di Lapangan Gasibu, Kota Bandung pada Sabtu (19/8/2033) dengan dihadiri sejumlah bupati dan walikota.

    Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan penduduk terbanyak di Indonesia memiliki sejarah yang panjang.

    Dihimpun dari berbagai sumber, Jawa Barat merupakan jantung budaya Sunda atau biasa disebut sebagai Tatar Sunda/Pasundan bersama dengan provinsi Banten.

    Berabad silam, Tatar Sunda, merupakan wilayah yang terdiri dari banyak kerajaan, seperti Kerajaan Jampang Manggung, Kerajaan Agrabintapura, Kerajaan Tanjung Singuru, Kerajaan Kendan, Kerajaan Galuh.

    Kerajaan lain di Jawa Barat kala itu adalah Salakanagara, Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda, Kerajaan Talaga Manggung, Kerajaan Galunggung, Kerajaan Sunda Galuh, Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tembong Agung, dan Kerajaan Sumedang Larang.

    Baca: Beli rumah di Bodetabek harus punya kendaraan

    Meski memiliki banyak kerajaan, ada satu tokoh yang terkenal sebagai pemimpin tatar Sunda atau Jawa Barat saat itu, yaitu Sri Baduga Maharaja atau dikenal sebagai Raja Siliwangi.

    Raja ini dianggap sebagai pemersatu kerajaan yang ada di Parahyangan, di bawah Kerajaan Sunda yang berpusat di Pakuan Pajajaran sebelum runtuh pada 1579.

    Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara. Hal ini diperkuat dengan adanya tujuh prasasti yang tersebar di berbagai wilayah di Jawa Barat.

    Prasasti tersebut ditulis dalam aksara Wengi (yang digunakan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.

    Pada abad 8 kerajaan Tarumanegara runtuh. Kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda.

    Baca: Ini jadinya kalau kendaraan bermotor di Jakarta dibatasi

    Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Ibukota kerajaan Sunda saat itu berada di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).

    Pada abad ke-16, Kerajaan Sunda mulai mendapat sainga dari Kesultanan Demak. Pelabuhan Cirebon (Kota Cirebon sekarang) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak.

    Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.

    Sementara VOC yang terdesak oleh Portugis, memutuskan untuk pindah ke Jayakarta atau Batavia di tahun 1619 dengan Gubernur Jenderal VOC pertama, Pieter Both.

    VOC tidak hanya menguasai Batavia tetapi juga mengembangkan wilayah kekuasaannya hingga ke wilayah Banten pada tahun 1603 Masehi.

    Baca: Apa kabar pembatasan kendaraan di Jakarta?

    Tokoh masyarakat di Banten lantas berkongsi dengan VOC. Bahkan VOC dapat menyandarkan kapal miliknya, mendirikan kantor-kantornya, hingga mengizinkan untuk mendirikan benteng pertahanannya di wilayah Banten tersebut.

    Kemudian pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat pada tahun 1925. Pembentukan ini sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi.

    Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy. di wilayah ini sebagian besar penduduk menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.

    Pemerintah kolonial Belanda menetapkan wilayah batas Provinsi Jawa Barat mirip dengan peta yang dibayangkan oleh Mataram dan VOC pada 1706. Wilayah Provinsi Jawa Barat termasuk Banten, Batavia, Priangan, dan Cirebon.

    Bagi sebagian orang Sunda istilah Jawa Barat berarti subordinat Jawa, tapi masyarakat setempat sebenarnya lebih menyukai Sunda atau Pasoendan seperti petisi yang dilayangkan Paguyuban Pasundan 1924-1925.

    Baca: Pembangunan kawasan berkonsep TOD di Jakarta

    Sama halnya dengan Kongres Pemuda Sunda yang menyarankan Sunda sebagai nama provinsi daripada Jawa Barat.

    1 Januari 1926 menjadi awal sistem pemerintahan di Jawa Barat pada masa kolonial Belanda.

    Sistem pemerintahan di Jawa Barat ini pertama kali diusulkan kepada Belanda oleh beberapa tokoh, seperti Otto Iskandar Dinata, Husni Thamrin, HOS Tjokroaminoto.

    Usulan itu diterima pemerintah kolonial Belanda, ada sekitar 45 orang pribumi, 20 diantaranya tokoh Sunda yang terlibat dalam pemerintahan provinsi Jawa Barat. Penyebutan Tatar Sunda diubah menjadi Provincie West-Java oleh Belanda.

    Kemudian pemerintah Belanda mendapat usulan lagi dari Paguyuban Pasundan agar namanya diganti menjadi Provinsi Pasundan.

    Baca: Metamorfosa Jakarta lewat penataan transportasi publik

    Usulan nama tersebut disetujui pemerintah Belanda dengan adanya ketetapan tentang pembentukan propinsi ini antara lain berbunyi: “…..West Java, in inheemsche talen aan te duiden als Pasoendan,…….” (Staatsblad no. 285 dan 378 tahun 1925), yang terjemahannya “…..Jawa Barat, dalam bahasa orang pribumi (bahasa Sunda) menunjuk sebagai Pasundan,……”.

    Namun, kenyataannya hingga kini nama Provinsi Pasundan tidak pernah digunakan. 

    Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.

    Namun, baru pada 19 Agustus, Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengumumkan Jawa Barat sebagai salah satu dari 8 Provinsi di Indonesia.

    Ibukota Jawa Barat silih berganti. Awalnya berada di Bandung pada 19 Agustus 1945, kemudian pada 21 Juli 1947 dipindah ke Indihiang, Tasikmalaya pada 21 Juli 1947.

    Baca: Mengenal Manado, kota cantik di negeri yang jauh

    Cuma beberapa hari, ibukota Jawa Barat berpindah lagi dari Indihiang ke Lebak Siuh lalu ke Culamega kemudian ke Tawangbanteng. 

    Ibukota Jawa Barat kemudian dipindah ke Wanayasa, Purwakarta pada 17 Agustus 1948.

    Saat ibukota Jawa Barat dipindah ke Wanayasa, Oja Soemantri membentuk pemerintahan Jawa Barat dengan nama Pemerintahan Republik Jawa Barat (PRJB).

    PRJB sendiri adalah suatu republik yang menolak Perjanjian Renville namun masih menyatakan setia pada semangat proklamasi 17 Agustus 1945.

    Ketika Raden Mas Sewaka menjadi gubernur kembali tahun 1950-1951, ibukota Jawa Barat dipindah dari Wanayasa ke Subang, Kuningan.

    Baca: Sejarah panjang kota Palembang, kota tertua di Indonesia

    Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keamanan akibat Agresi Militer Belanda II.

    Pemerintah kolonial Belanda membentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) untuk memecah konsentrasi persatuan para bumiputera.

    Wilayah Jawa Barat menjadi bagian Negara Pasundan pada 24 April 1948–24 Maret 1950.

    Saat itu, negara Pasundan adalah wilayah yang kuat, tidak ekspansif dan terbuka terhadap budaya lain. Kemudian pada 24 Maret 1950 Negara Pasundan kembali bergabung dengan Sukarno dan Kaum Republiken memperkuat Indonesia.

    Merujuk pada fakta sejarah tersebut, pada tahun 2010 keluar Perda Nomor 26 Tahun 2010 tentang Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang jatuh pada tanggal 19 Agustus.

    Nurakhmayani, dari berbagai sumber

  • Ini Rencana Ridwan Kamil Setelah Tak Lagi Jabat Gubernur Jawa Barat

    Ini Rencana Ridwan Kamil Setelah Tak Lagi Jabat Gubernur Jawa Barat

    7cloud.asia – Terhitung mulai Selasa (05/09/2023) kemarin, Ridwan Kamil secara resmi lengser dari jabatannya sebagai Gubernur Jawa Barat. Lantas, apa rencananya setelah lengser?

    Ada banyak rencana Ridwan Kamil usai tak lagi menjadi gubernur Jawa Barat, salah satunya kembali menekuni profesinya sebagai arsitek.

    “Kalau ada yang butuh jasa arsitek seorang Ridwan Kamil silakan hubungi manajer saya,” kata Ridwan Kamil usai serah terima jabatan Gubernur Jawa Barat seperti yang dilansir Republika.

    Laki-laki yang akrab disapa Kang Emil ini menyebut ada tiga profesi yang dapat ia jalani.

    Baca: Membaca kans Gibran di panggung politik nasional

    Selain menjadi arsitek, Ridwan Kamil juga menawarkan diri untuk promosikan produk-produk di akun media sosialnya atau endorser.

    Emil mengaku memiliki jumlah pengikut yang besar di media sosial, sehingga ia
    menawarkan kesempatan kerjasama tersebut ke pihak swasta.

    “Followers saya 20 juta orang di Instagram, kalau ada yang mau endorse silakan hubungi manajer saya,” ungkap Ridwan Kamil sambil menunjuk Atalia istrinya.

    Selain menawari diri menjadi endorser, Emil juga menyadari dirinya yang selalu
    berpenampilan segar dan necis. Hal ini mendorongnya untuk berbisnis produk
    perawatan kulit.

    Baca: Gibran mengaku belum cukup umur dan pengalaman untuk jadi cawapres

    “Dalam waktu dekat saya akan meluncurkan produk skincare,” kata Emil berkelakar.

    Sedangkan untuk rencana politik, Emil mengaku tidak mengetahuinya. Sebab,
    menurutnya politik nasional jelang Pemilu 2024 ini penuh dengan tikungan dan kejutan.

    “Kami mohon doa takdir kami ke mana, kami tidak tahu, tapi insyaallah Tuhan memberikan yang terbaik. Tapi kalau minggu depan ada breaking news, ya mohon dimaklumi. Kodenya itu aja,” kata Emil tanpa menjelaskan lebih detail ucapannya.

    Sebelumnya, Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Ahmad Basarah menyebut Ketua
    Umum Megawati Soekarnoputri mempertimbangkan semua tokoh secara seksama untuk mendampingi Ganjar Pranowo, termasuk Ridwan Kamil. 

    Baca: Ini alasan Kaesang bersedia dicalonkan jadi Walikota Depok

    “Saya kira Pak Ridwan Kamil sebagai salah satu tokoh kepala daerah yang dinilai sukses memimpin Jawa Barat sebagai salah satu kandidat yang masuk dalam pertimbangan-pertimbangan tersebut,” katanya.

    Namun, Ridwan Kamil sendiri pernah secara terbuka menyatakan bahwa kansnya adalah di Jawa Barat bukan nasional. 

    Nama Ridwan Kamil memang masuk dalam bursa cawapres di Pilpres 2024. Menurut survei Litbang Kompas elektabilitas Ridwan Kamil pada Agustus 2023 tercatat sebesar 8,4 persen. 

    Reporter: Nurakhmayani

  • Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    Kebakaran TPA Sarimukti Hampir Padam, Aktivis Lingkungan Ingatkan Pembenahan Manajemen Sampah

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Jawa Barat berhasil memadamkan 90 persen kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Hanya beberapa titik api yang masih belum padam.

    “Sarimukti kalau kita lihat sekarang kebakaran di sana lebih dari 90 persen sudah padam. Tinggal sisa-sisa beberapa titik, dan saat ini kita dapat bantuan dari BNPB, teman-teman BPBD dan Satgas di lapangan,” jelas Plh Sekretaris Daerah Jawa Barat, Setiawan Wangsaatmaja dikutip Tribun Priangan.

    Dengan kondisi seperti ini, lanjut Setiawan, TPA yang terbakar sejak 19 Agustus ini sudah dapat membuka beberapa zona untuk menerima kiriman sampah yang tertunda selama kebakaran terjadi.

    Tetapi, kini daya tampung berkurang menjadi 50 persen. Karena itu, pemerintah kabupaten/kota di wilayah Bandung Raya harus mengurangi kiriman sampah sebanyak 50 persen.

    Sementara 50 persen sisanya harus mulai diolah melalui program pemilahan sampah dari sumbernya. “Yang 50 persen (sisa)-nya tersebut adalah harus mulai program pengurangan dari sumber,” katanya.

    Pada kesempatan itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah. Sebab, hal ini dapat menimbulkan masalah baru, seperti polusi udara.

    Selain itu, pemerintah juga tengah merancang solusi dalam menangani sampah ini adalah melalui program memilah sampah menuju zero waste. 

    Untuk itu, menurut Setiawan, perlu kerja sama semua pihak, terutama masyarakat.

    “Bagi (sampah) yang numpuk saat ini, memang masih bisa ditampung di Sarimukti. Tapi (sampah) yang baru harus dipilah dari sumber penghasil sampah, (seperti) rumah tangga. Kalau tidak begitu, kita tidak akan pernah selesai,” urainya.

    Sementara itu, anggota Tim Masyarakat Peduli TPA Sarimukti, Wahyu Dharmawan H kepada 7cloud.asia menjelaskan penggunaan lahan Sarimukti sebagai TPA kembali tidak menyelesaikan masalah yang terjadi.

    Karena, lanjut Wahyu, mengirimkan sampah ke TPA Sarimukti itu sama saja dengan mengirimkan bahan baku untuk terjadinya kebakaran kembali.

    Menurut Wahyu, Sarimukti sebenarnya bukan TPA, tetapi TPK (Tempat Pengolahan Kompos). Jadi harus dikembalikan kembali peruntukkannya untuk pengolahan pupuk kompos.

    “Anorganik jangan masuk ke Sarimukti. Mengapa? Karena bukan TPA lho. Disini pengelola bilang ini TPK. Karena namanya pengolahan kompos, maka nggak layak dong anorganik masuk. Dan secara hukum mereka salah,” jelas Wahyu.

    Karena itu, sampah anorganik seharusnya ditampung di TPPAS Legok Nangka dan tidak dicampur di Sarimukti. Jika masih tercampur semuanya, maka bukan tidak mungkin kebakaran terulang kembali.

    Selain itu, kata Wahyu, pemprov Jawa Barat perlu segera melakukan transformasi manajemen pelayanan persampahan agar kebakaran tak terulang.

    Transformasi ini juga dilakukan disetiap kota dan kabupaten di Jawa Barat. Wahyu percaya pemprov Jawa Barat mampu melakukannya.  

    Reporter: Nurakhmayani

  • Api Padam, Status Darurat Kebakaran TPA Sarimukti Dihentikan

    Api Padam, Status Darurat Kebakaran TPA Sarimukti Dihentikan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencabut atau tidak memperpanjang status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti seiring dengan berhasil dipadamkannya api yang membakar fasilitas yang terletak di Kabupaten Bandung Barat tersebut.

    Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin mengatakan dengan padamnya api di TPA Sarimukti tersebut, status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti dinyatakan berakhir 25 September 2023 ini.  

    “Alhamdulillah sudah berhasil dipadamkan. Oleh karena itu, status darurat di TPA Sarimukti yang berakhir hari ini tidak diperpanjang,” ucap Bey di Bandung, Senin (25/09/2023).

    Baca: Kebakaran di TPA Sarimukti, sudah saatnya Pemkot Bandung serius kelola sampah

    Meski kebakaran TPA Sarimukti sudah mengalami perbaikan, Bey menegaskan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Bandung Raya, harus tetap berkomitmen mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA.  

    “Kalau caranya tetap sama seperti ini, ya, ini akan berulang terus. Kita tidak mau seperti itu. Harus ada perubahan pola,” tuturnya.

    Setelah status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti berakhir, penanganan kini dialihkan untuk masa transisi TPA Sarimukti ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar yang diatur oleh Keputusan Gubernur (Kepgub).  

    Baca: Teknologi pengelolaan sampah Masaro ubah sampah jadi emas

    Penetapan status masa transisi darurat oleh Pj Gubernur terhitung mulai 25 September 2023, dengan melibatkan Kodam III/Siliwangi, Damkar Kabupaten/Kota, perangkat daerah Pemda Provinsi Jabar dan Pemda Kabupaten/Kota, serta ITB.

    Saat ini, dikabarkan TPA Sarimukti masih bisa menerima sampah di zona super darurat sebanyak 2.626 ritase dengan satu ritase sekitar tiga sampai empat ton.

    Bey mengapresiasi masyarakat dan pemda kabupaten/kota di Bandung Raya, yang selama masa darurat sampah melakukan berbagai upaya untuk pengolahan sampah sehingga beban TPA Sarimukti bisa berkurang.

    Baca: Kenali jenis sampah plastik dan nilai ekonominya

    “Saya sampaikan apresiasi dan terima kasih kepada warga terutama di Bandung Raya atas pengertian selama masa darurat sampah dengan memilah sampah sejak dari rumah. Ini jadi momentum bagi Bandung Raya dan Jabar untuk mengelola sampah lebih baik, modern, dan terintegrasi,” tuturnya.

    Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar Dani Ramdan mengatakan, meski status darurat penanganan kebakaran TPA Sarimukti tidak diperpanjang, penanganan darurat sampah di Bandung Raya, diperpanjang hingga 25 Oktober.

    “Untuk menggunakan kembali TPA Sarimukti, DLH Jabar perlu melaksanakan beberapa hal di antaranya, penutupan tanah di area bekas terbakar, membangun sistem proteksi kebakaran,” ucap Dani.

    Sumber: Antaranews

  • Status Darurat Berlanjut, Pemprov Jawa Barat Tambah Kuota Membuang Sampah Terpilah

    Status Darurat Berlanjut, Pemprov Jawa Barat Tambah Kuota Membuang Sampah Terpilah

    7cloud.asia – Status darurat sampah di wilayah Bandung Raya masih berlanjut. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menambah kuota membuang sampah terpilah.

    Penambahan kuota ini untuk empat wilayah kabupaten dan kota di Bandung Raya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.

    Dilansir Antaranews, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Prima Mayaningtias menjelaskan  kuota yang berlaku per 12 September 2023 masih sebesar 31 ribu ton sampah.

    Baca: Buntut aksi Pandawara, Polres Sukabumi akan selidiki pembuang limbah yang cemari Pantai Cibutun Loji

    Hingga 4 Oktober, lanjut Prima, masih ada sisa kuota sampah di jawa Barat, kecuali Kabupaten Bandung yang pada posisi terakhir kuotanya sudah habis bahkan melebihi dari yang disepakati.

    “Jadi berdasarkan rakor penangangan darurat sampah yang dihadiri para anggota satuan tugas dipimpin Penjabat Sekda Jabar, Taufiq Budi Santoso pada Rabu (4/10), disepakati penambahan kuota dan Satgas pada hari ini sudah melakukan penataan,” jelas Prima.

    Selanjutnya Prima menjelaskan pada Kamis (05/10/2023), satgas menata lahan 0,28 hektare untuk menampung sampah baru.

    Baca: Dampak buruk fast fashion pada lingkungan

    Sampah baru tersebut terdiri atas 1.167 ritase (jumlah capaian armada dalam pengiriman material dari lokasi A menuju lokasi B) untuk empat wilayah di Bandung Raya.

    Dengan penambahan kuota itu, maka kuota untuk Kota Bandung menjadi 1.194 ritase, yang terdiri atas 817 ritase tambahan dan 377 ritase sisa.

    Kota Cimahi, sisa kuota 185 ritase ditambah 105 ritase, sehingga memiliki total 290 ritase.

    Baca: Cara mudah menjalani gaya hidup ramah lingkungan

    Untuk Kabupaten Bandung Barat sisa 59 ritase, ditambah 91 ritase, sehingga totalnya menjadi 150 ritase lagi.

    “Untuk Kabupaten Bandung diberi tambahan kuota 154 ritase, tapi karena sebelumnya sudah melebihi batas sembilan ritase, maka penambahan kuotanya dikurangi untuk membayar hutang sehingga totalnya menjadi 145 ritase,” paparnya.

    Jumlah ritase tersebut dihitung berdasarkan volume rata-rata truk sampah sebesar 12 meter kubik dengan densitas sampah di truk seberat 0,35 ton per meter kubik.

    Baca: Cara mudah memilah sampah dari rumah

    Dengan demikian, selama masa darurat truk yang diizinkan masuk ke TPA Sarimukti adalah truk dengan kapasitas maksimal 12 meter kubik.

    “Masing-masing kabupaten dan kota diharapkan dapat membuat simulasi atau rencana pengiriman sampah harian dengan memperhatikan jumlah sampah maksimal yang dapat dibuang ke zona darurat,” urainya.

    Selama pengoperasian zona darurat TPA Sarimukti, kata Prima lagi, jam operasional dibatasi mulai pukul 08.00-16.00 WIB setiap harinya.

    “Mengingat terbatasnya volume zona darurat, Dinas Lingkungan Hidup akan melaksanakan pemantauan secara berkala dan dilaporkan kepada masing-masing kabupaten dan kota untuk dipedomani,” ujarnya.

    Reporter: Nurakhmayani.

  • Program Pembangunan Ekonomi Hijau, Ikhtiar Pemprov Jawa Barat Turunkan Polusi Udara

    Program Pembangunan Ekonomi Hijau, Ikhtiar Pemprov Jawa Barat Turunkan Polusi Udara

    7cloud.asia – Berbagai upaya yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menurunkan polusi udara. Salah satunya dengan pembangunan ekonomi hijau di kawasan Bogor, Depok dan Bekasi (Bodebek).

    Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman di hadapan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan.

    Herman memaparkan pembangunan ekonomi hijau serta lingkungan sehat itu dengan cara optimalisasi transportasi publik antarmoda yang ramah lingkungan seperti BRT (Bus Rapid Transit) berbasis listrik dan LRT (Light Rail Transit).

    Baca: Standar baru dalam atap hijau

    “Beberapa upaya kami antara lain optimalisasi transportasi publik melalui konektivitas antarmoda yang ramah lingkungan BRT dan LRT,” jelas Herman seperti yang dikutip Antaranews.

    Pembangunan ekonomi hijau untuk mengurangi polusi udara ini, lanjut Herman, sejalan dengan program Pemerintah Pusat.

    Herman menjelaskan ada beberapa program yang akan diterapkan di wilayah Bogor, Depok dan Bekasi.

    Seperti program Friday Car Free di Gedung Sate bagi para ASN. Program ini juga akan diterapkan di Pemda Bogor, Depok dan Bekasi.

    Baca: Manfaat atap hijau penuh tumbuhan

    “Dimulai di Kota Bandung kemudian pada akhirnya 27 kabupaten dan kota melakukan hal yang sama,” katanya.

    Selain itu, upaya lainnya adalah pengelolaan sampah menggunakan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

    Dengan cara ini sampah akan dikeringkan terlebih dahulu hingga siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif di TPPAS Lulut Nambo, Kabupaten Bogor.​​​​​​​

    Kemudian hasil dari pengolahan sampah RDF ini akan dibeli oleh perusahaan yang kini menjadi offtaker TPPAS Lulut Nambo.

    Setelah melalui beberapa uji coba, TPPAS yang ada di kecamatan Klapanunggal itu siap dioperasikan untuk mengangkut sampah di Bogor, Depok, dan Tangerang Selatan (Banten).

    Baca: Indonesia membutuhkan banyak green jobs

    “Nambo sudah melalui beberapa kali uji coba, tinggal pengoperasian resmi. Sehari bisa mengangkut sampai 100 ton sampah yang nantinya menjadi energi alternatif untuk mengurangi emisi karbon,” tuturnya.

    Upaya lainnya adalah melakukan penghijauan serta upaya lain yang berbasis partisipasi masyarakat.

    Hal ini perlu dilakukan bersama dengan masyarakat agar dapat menciptakan lingkungan sehat minim emisi karbon.

    ​​​​​​​”Penghijauan, serta kegiatan lainnya yang berbasis partisipasi masyarakat juga terus kami optimalkan,” kata Herman.

  • Anies Baswedan Urung Maju di Pilkada Jawa Barat, Ini Alasannya

    Anies Baswedan Urung Maju di Pilkada Jawa Barat, Ini Alasannya

    7cloud.asia – Juru bicara Anies Baswedan, Sahrin Hamid, mengungkapkan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut sudah memutuskan untuk tidak maju di Pilkada Jawa Barat.

    Sahrin menyampaikan bahwa salah satu pertimbangan Anies Baswedan tidak maju adalah tidak ada permintaan khusus dari masyarakat Jawa Barat maupun aspirasi partai politik untuk mengusung dirinya.

    “Sehingga, untuk itu Anies menyampaikan terima kasih, tentunya apresiasi, kepada partai yang meminta Anies untuk maju di Jawa Barat, dan dengan berbagai macam pertimbangan tentunya Anies telah menyatakan tidak maju di Jawa Barat,” kata Sahrin di Jakarta, Kamis (29/8/2024) malam.

    Sahrin menyampaikan bahwa pihaknya belum merencanakan keberangkatan ke Kota Bandung untuk menyiapkan pendaftaran di Komisi Pemilihan Umum Provinsi Jabar pada Kamis malam.

    Baca Juga: Salip Ridwan Kamil-Suswono, Pasangan Pramono Anung dan Rano Karno Jadi Pasangan Pertama yang Mendaftar ke KPUD Jakarta

    “Kami belum ada komunikasi secara teknis untuk berangkat, tidak ada komunikasi soal itu. Kami baru komunikasi soal tawaran maju di Jawa Barat,” ujarnya.

    Lebih lanjut, ia menjanjikan bahwa Anies akan memberikan pernyataan resmi di hadapan publik, terutama untuk membahas dinamika Pilkada 2024.

    “Insyaallah, mungkin pada esok hari akan ada penyampaian secara khusus dari Anies untuk kebutuhan masyarakat atau publik,” katanya.

    Sebelumnya, beredar kabar PDI Perjuangan akan mengusung Anies Baswedan berpasangan dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Barat Ono Surono di Pilkada Jabar.

    Baca Juga: Gegara Putusan MK, Calon PDI Perjuangan di Jawa Tengah Batal Melawan Kotak Kosong di Pilkada 2024

    Adapun Ono sempat mengatakan bahwa terbuka peluang bakal calon Gubernur Jawa Barat yang akan diusung oleh partainya bukanlah kader PDIP.

    “Jawa Barat ini merupakan wilayah besar dengan kompleksitas masalah yang besar, jumlah pemilih yang besar, sehingga bisa saja nanti calon gubernurnya bukan kader PDI Perjuangan, yang juga bisa saja nanti dipasangkan dengan kader partai lain,” kata Ono dikutip Antaranews.com

  • BMKG Ingatkan Potensi Terjadinya Hujan Ekstrem di Jawa Barat Hingga 7 Februari 2025

    BMKG Ingatkan Potensi Terjadinya Hujan Ekstrem di Jawa Barat Hingga 7 Februari 2025

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan adanya potensi peningkatan intensitas hujan, hingga terjadinya hujan ekstrem di Jawa Barat, dalam periode 2-7 Februari 2025.

    Dalam pernyataannya dalam konferensi pers digital, Sabtu (1/2/2025) Kepala BMKG Dwikorita mengatakan, hal ini dipicu oleh adanya bibit siklon tropis yang baru saja muncul di perairan Samudera Hindia

    “Yang kemungkinan dapat membahayakan pelayaran atau publik baik secara langsung, ataupun tidak langsung,” kata Kepala BMKG Dwikorita.

    Dwikorita menjelaskan bahwa saat ini sebagian besar wilayah Indonesia termasuk Jawa Barat masih dalam puncak musim hujan hingga akhir Februari atau Maret mendatang.

    BMKG memantau, kondisi cuaca di Jawa Barat masih dipengaruhi angin muson dari Asia yang semakin menguat dan disertai dengan La Nina lemah yang diprediksi berlangsung hingga bulan Maret-April.

    Hal ini karena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang bergerak ke arah Indonesia bagian tengah dan pengaruh seruakan udara dingin dari dataran tinggi di Asia atau dataran tinggi Siberia sejak beberapa hari lalu.

    Baca: Pemkot Jakarta Selatan keruk Kali Baru Barat untuk mitigasi banjir

    “Selain juga masih ada kondisi liabilitas atmosfer secara lokal di beberapa wilayah Indonesia, dan pengaruh gelombang equator yang akan masih sama dalam sepekan ini nah yang berbeda adalah munculnya bibit siklon tropis di tiga titik,” katanya.

    BMKG juga memantau munculnya sejumlah bibit siklon seperti 90S di Selatan NTT-NTB, 96P di Teluk Karpentaria Papua, dan yang paling dekat Jabar adalah 99S di Selatan Banten.

    “Ini kalau saya sebutkan adalah ‘pemain baru’ selain kondisi yang kita alami beberapa hari terakhir,” ucapnya.

    Atas adanya bibit siklon tropis ini, BMKG mengingatkan potensi hujan dengan intensitas lebat yang dapat berkembang menjadi sangat lebat dan ekstrem di sejumlah daerah.

    Daerah yang berpotensi mengalami hujan ekstrem antara lain Papua, NTT, NTB, Bali, Jatim, Jateng, DIY, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Maluku Utara, sampai Jawa Barat dan Jambi.

    “Nah, selain peningkatan curah hujan yang dapat mencapai sangat lebat dan dimungkinkan menjadi ekstrem, juga perlu diantisipasi angin kencang dan juga gelombang yang dapat mencapai 2,5 meter hingga 4 meter di perairan Samudera Hindia dari Bengkulu hingga NTT (termasuk Jabar),” ucapnya.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di Jakarta hingga Februari 2025

    Plt Sestama BMKG Guswanto, mengungkapkan dalam aktivitas cuaca yang terjadi, pihaknya juga melihat adanya pertumbuhan awan kumulonimbus dalam periode 2-7 Februari 2025 tersebut.

    Adapun cakupannya meliputi 50-75 persen di Samudera Hindia, Selat Malaka, Aceh, Sumatera Utara, Laut Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Banda, Papua Barat, dan Papua.

    “Dan awan dengan cakupan lebih besar dari 75 persen yang sangat membahayakan jalur penerbangan ada di Samudera Hindia Selatan Jawa, Aceh, Laut Flores, Laut Banda, lalu ada di Samudera Pasifik Utara Papua, dan Laut Arafurura,” tutur dia.

    BMKG mengimbau pemerintah daerah hingga pihak terkait untuk bersiap-siap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah seperti banjir banjir bandang hingga tanah longsor.

    Masyarakat juga perlu memitigasi dengan mengenali cuaca dengan baik dan bagaimana mengenali lingkungan tempat tinggal kita. Misal ketika lihat di hulu awan gelap segera menjauh dari bantaran sungai beberapa kilometer. Lalu kalau hujan menjauh dari lereng.

    “Karena dengan mengenali dua hal itu, itu merupakan hampir 75 persen lebih sebagai usaha untuk mitigasi bencana hidrometeorologi basah,” tambah Dwikorita.

  • Banyaknya Alih Fungsi Lahan Picu Bencana Hidrometeorologi di Jawa Barat

    Banyaknya Alih Fungsi Lahan Picu Bencana Hidrometeorologi di Jawa Barat

    7cloud.asia – Provinsi Jawa Barat tercatat menempati posisi pertama terkait terjadinya bencana hidrometorologi se-Indonesia. Bencana hidrometeorologi itu seperti banjir, tanah longsor atau angin kencang.

    Berdasarkan data dari BPBD Jawa Barat, dari Januari 2025, sampai dengan Maret 2025 tercatat ada 324 bencana yang terdiri dari banjir (73 kejadian), tanah longsor (98 kejadian, dan cuaca ekstrem (153 kejadian).

    Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 bencana hidrometeorologi selesai ditangani dan sisanya sedang dalam proses.

    Plt Kepala Pelaksana BPBD Jabar, Anne Hermadiane Adnan, di Bandung, Rabu (12/3/2025) mengungkapkan, ada beberapa jenis bencana yang tercatat paling banyak terjadi di wilayah Jawa Barat.

    Baca: Bantaran sungai di Jawa Barat akan diklaim negara

    Misalnya banjir, longsor, angin kencang, dan beberapa lainnya yang termasuk bencana hidrometeorologi.

    Atas banyaknya kejadian ini, kata Anne, sedikitnya sembilan daerah telah menetapkan status tanggap darurat kebencanaan karena bencana yang terjadi di daerah tersebut tergolong berat dan besar.

    Sembilan daerah tersebut beberapa di antaranya yaitu Kabupaten Indramayu, Tasikmalaya, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Sukabumi.

    Masyarakat dan pemerintah di sembilan daerah yang sudah menetapkan status tanggap darurat kebencanaan itu, harus melakukan mitigasi kebencanaan agar efek yang terjadi tidak makin besar.

    Atas berbagai kejadian bencana yang otomatis ada anggaran yang harus dikeluarkan, Anne mengatakan anggaran untuk penanganan dan mitigasi saat ini masih belum bisa diketahui.

    Baca: Kementerian Lingkungan Hidup akan tertibkan kawasan hulu

    “Nah, ini prakiraannya agak susah karena kami tidak tahu berapa, katakanlah prakiraan nominal yang dikeluarkan oleh logistik, kami juga didukung oleh BNPB. Kemudian oleh Kementerian Sosial dan beberapa instansi lainnya,” kata dia.

    Sementara untuk antisipasi terjadinya peristiwa kebencanaan, lanjut Anne, yaitu dengan memperbaiki infrastruktur atau tata ruang di wilayah resapan air.

    Seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan membongkar objek wisata di kawasan puncak, Bogor.

    Kalau infrastruktur sekarang sudah digencar oleh Pak Gubernur ya, karena itu yang paling susah. Yang paling sulit itu adalah mitigasi struktural dan sosial.

    “Nah, sosial ini termasuk adalah perilaku masyarakat yang mengubah lahan untuk kegiatan sosial dan ekonomi,” katanya menambahkan.

  • Pemprov Jawa Barat Akan Evaluasi Kegiatan Ekonomi di Kawasan Pegunungan

    Pemprov Jawa Barat Akan Evaluasi Kegiatan Ekonomi di Kawasan Pegunungan

    7cloud.asia – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akan meminta pakar keilmuan terkait dengan lingkungan dan tata ruang melakukan evaluasi secara ilmiah terhadap seluruh kegiatan, utamanya ekonomi, di kawasan pegunungan dan perbukitan.

    Evaluasi ini dilakukan menyusul banjir besar yang melanda kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) pada awal Maret lalu yang diduga akibat kerusakan lingkungan.

    “Saya gini, akan mengambil sikap ilmiah saja, nanti ada tim pakar yang mengevaluasi. Nanti biar mereka yang menyimpulkan (secara ilmiah), jangan saya,” kata dia di Bandung, Minggu (30/3/2025) seperti dikutip Antaranews.com

    Kegiatan-kegiatan perekonomian yang akan dievaluasi, katanya, seperti pertambangan ilegal dan kegiatan pengembangan wisata di kawasan-kawasan puncak pegunungan atau perbukitan di seluruh Jabar.

    Baca: Luas agrowisata di Puncak langgar dokumen lingkungan

    Jika kemudian ada kesimpulan terhadap berbagai kegiatan yang dimaksud, seperti akan menimbulkan masalah lingkungan misalnya banjir, longsor, polusi atau peningkatan suhu udara, katanya, memiliki landasan ilmiah.

    “Jadi keputusannya nanti berdasarkan para pakar yang kemudian memberikan rekomendasi pada dinas teknisnya. Seperti dalam persoalan Eiger Camp, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat,” ujar dia.

    Terkait dengan pelibatan pakar di berbagai proyek atau wahana yang telah disegel untuk memberikan kesempatan dilakukan kajian dan evaluasi, Dedi mengharapkan, bisa segera dilakukan dalam waktu cepat untuk memberikan kepastian, termasuk kepada dunia usaha dan masyarakat.

    “Kan saya selalu cepat menangani. Saya juga tidak mau membuat ketidakpastian kalangan dunia usaha kan semuanya harus pasti. Tetapi juga saya harus memberikan jaminan keyakinan pada warga bahwa (proyek, kawasan dan bangunan) ini tidak bermasalah,” kata dia.

    Baca: Kementerian ATR/BPN temukan 796 titik pelanggaran tata ruang di Jabodetabek-Punjur

    Sebelumnya , Dedi menyoroti alih fungsi lahan di Jawa Barat, terutama yang secara status adalah pengelolaan PTPN seperti di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor.

    Di mana dia bersama Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq dan Menko Pangan Zulkifli Hasan melakukan penyegelan pada sedikitnya empat lokasi.

    Sebanyak empat lokasi yang disegel dan beberapa dibongkar, antara lain Pabrik Teh Ciliwung di Telaga Saat, Hibisc Fantasy, bangunan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 Agro Wisata Gunung Mas, dan Eiger Adventure Land.

    Penyegelan yang terbaru, terhadap proyek Eiger Camp di sekitar kaki Gunung Tangkuban Parahu di Sukawana, Desa Karyawangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, di atas lahan kelolaan PT Perkebunan Nusantara VIII.