Tag: keracunan

  • Keracunan Alkohol Bisa Picu Kematian: Indonesia Tercatat Negara dengan Jumlah Kasus Terbanyak Sedunia

    Keracunan Alkohol Bisa Picu Kematian: Indonesia Tercatat Negara dengan Jumlah Kasus Terbanyak Sedunia

    7cloud.asia – Jelang akhir November 2024, dunia dihebohkan dengan kasus keracunan minuman mengandung alkohol di Laos yang menewaskan enam wisatawan remaja asal Australia, Denmark, Inggris, dan Amerika Serikat.

    Mereka terindikasi keracunan minuman mengandung alkohol dengan kandungan metanol (spiritus).

    Dua bulan sebelum kejadian tersebut, tiga remaja asal Garut, Jawa Barat, meninggal dunia akibat menenggak minuman keras (miras) oplosan dengan kandungan alkohol 70 persen yang mengandung isopropanol.

    Fenomena keracunan alkohol bukan hal baru dan insidennya terus berulang saban tahun.

    Menurut laporan organisasi kesehatan internasional, Médecins Sans Frontières (MSF), hingga pekan awal Januari 2024 terdapat sekitar 994 kasus keracunan alkohol di dunia.

    Insiden keracunan alkohol ini mengakibatkan lebih dari 40 ribu kasus keracunan dan menewaskan 13 ribu orang di antaranya.

    Hal yang mengejutkan adalah Indonesia menjadi negara dengan insiden keracunan alkohol terbanyak di dunia, yaitu 339 kasus.

    Dalam kasus miras oplosan, keracunan alkohol umumnya disebabkan teknik penyulingan yang tidak sesuai standar.

    Selain itu, produsen miras oplosan secara sengaja menambahkan metanol ataupun isopropanol demi meningkatkan efek memabukkan yang ekonomis. Pasalnya, harga metanol dan isopropanol jauh lebih murah dibandingkan alkohol murni.

    Namun, hal yang tidak banyak orang tahu, efek samping keracunan alkohol justru lebih mengerikan dibandingkan sensasi sesaat yang dihasilkannya. Keracunan alkohol dapat menyebabkan kebutaan hingga kematian.

    Bagaimana keracunan alkohol terjadi?
    Keracunan alkohol atau dikenal sebagai asidosis metabolik terjadi karena metabolisme (proses biokimia tubuh) mengubah alkohol beracun menjadi zat perusak keseimbangan asam basa sehingga dapat membahayakan kesehatan.

    Setidaknya, ada tiga jenis alkohol berbahaya yang digunakan dalam bahan pangan dan obat-obatan dan dapat menyebabkan keracunan alkohol, antara lain:

    1. Metanol
    Metanol merupakan bahan kimia yang digunakan dalam plastik, bahan bangunan, dan cat. Dalam tubuh, alkohol dengan campuran metanol diubah menjadi formaldehida (formalin).

    Tubuh kemudian mengubah formalin secara langsung menjadi asam format. Zat ini dapat merusak penglihatan hingga menyebabkan kebutaan.

    2. Etilen glikol & dietilen glikol
    Jenis alkohol beracun berikutnya adalah etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG). Pada 2023, kandungan EG/DEG dalam sirup obat batuk mengakibatkan kematian 195 anak balita di Indonesia.

    Hal ini diduga terjadi akibat kesalahan penggunaan bahan baku obat. Drum berlabel propilen glikol (yang diperbolehkan digunakan dalam pembuatan obat) ternyata berisi EG.

    Ketika EG dicampur dalam obat, kadarnya menjadi jauh lebih tinggi, yaitu lebih dari 30 persen. Ini jauh melebihi ambang batas cemaran EG dalam produk yang tidak boleh melampaui 0,1 persen.

    EG dan DEG biasanya digunakan dalam industri produk antibeku dan minyak rem. Harganya jauh lebih murah dibandingkan bahan baku obat, seperti gliserol dan propilen glikol.

    Bahayanya, rasa manis yang dimiliki EG disalahgunakan sejumlah oknum sebagai bahan pelarut sekaligus pemanis obat sirup untuk anak.

    EG yang diproses tubuh menghasilkan asam glikolat. Sedangkan DEG menghasilkan 2-hydroxyethoxyacetic acid. Kedua alkohol beracun ini dapat menyebabkan kerusakan sel nefron (bagian ginjal yang menyaring darah dan menghasilkan urine) sehingga memicu gagal ginjal akut.

    3. Isopropanol
    Isopropanol paling sering ditemukan dalam kandungan alkohol gosok 70% yang biasa digunakan untuk membersihkan noda membandel. Dalam tubuh, isopropanol dimetabolisme menjadi aseton yang bisa merusak organ tubuh.

    Lantas, adakah cara agar keracunan alkohol ataupun miras oplosan ini tidak kembali terulang? Ikuti jawabannya dalam tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Benediktus Yohan Arman (Peneliti di Klaster Health Sciences, Doctrine UK dan Mahasiswa Doktoral (DPhil) di bidang Biochemistry, University of Oxford)

  • Keracunan Alkohol Bisa Picu Kematian: Bagaimana Cara Mencegah Agar Tidak Terus Berulang

    Keracunan Alkohol Bisa Picu Kematian: Bagaimana Cara Mencegah Agar Tidak Terus Berulang

    7cloud.asia – Menurut laporan organisasi kesehatan internasional, Médecins Sans Frontières (MSF), hingga pekan awal Januari 2024 terdapat sekitar 994 kasus keracunan alkohol di dunia.

    Insiden ini mengakibatkan lebih dari 40 ribu kasus keracunan dan menewaskan 13 ribu orang di antaranya.

    Hal yang mengejutkan adalah Indonesia menjadi negara dengan insiden keracunan alkohol terbanyak di dunia, yaitu 339 kasus.

    Dalam kasus miras oplosan, keracunan alkohol umumnya disebabkan teknik penyulingan yang tidak sesuai standar.

    Selain itu, produsen miras oplosan secara sengaja menambahkan metanol ataupun isopropanol demi meningkatkan efek memabukkan yang ekonomis. Pasalnya, harga metanol dan isopropanol jauh lebih murah dibandingkan alkohol murni.

    Namun, hal yang tidak banyak orang tahu, efek samping keracunan alkohol justru lebih mengerikan dibandingkan sensasi sesaat yang dihasilkannya. Keracunan alkohol dapat menyebabkan kebutaan hingga kematian.

    Baca: Indonesia masuk negara dengan kasus keracunan alkohol tertinggi

     

    Mencegah keberulangan kasus keracunan alkohol
    Selama ini, tata laksana penanganan keracunan alkohol lebih bersifat suportif, yaitu dengan merangsang pasien agar muntah dan mengeluarkan bahan racun dari tubuh, disertai pemberian arang aktif untuk menyerap racun.

    Upaya tersebut harus dilakukan sesegera mungkin (kurang dari sejam sejak keracunan alkohol). Sebab, perawatan yang tertunda dapat mengakibatkan efek lebih buruk.

    Untuk menangkal keracunan metanol dan EG, kita membutuhkan penghambat enzim alcohol dehydrogenase bernama fomepizole. Namun, apabila keracunan alkohol lebih parah, pasien memerlukan terapi hemodialisis (cuci darah).

    Selain langkah suportif, kita memerlukan pula upaya preventif (pencegahan) untuk mencegah keberulangan kasus keracunan alkohol di Indonesia, meliputi:

    1. Alat pendeteksi alkohol beracun
    Hingga saat ini, upaya deteksi cemaran alkohol beracun pada produk medis di Indonesia masih sangat terbatas, sulit dilakukan, serta membutuhkan laboratorium dan peralatan memadai.

    Contohnya pada kasus cemaran EG dan DEG, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan metode standar untuk mengidentifikasi cemaran pakai alat kromatografi gas.

    Baca: Beragam khasiat kencur dan cara mengolahnya

    Selain harganya cukup mahal dan hanya tersedia di beberapa laboratorium rujukan, pengoperasian kromatografi gas membutuhkan tenaga ahli.

    Metode alternatif lebih cepat dan murah menggunakan kromatografi lapis tipis. Namun, metode ini juga membutuhkan laboratorium, peralatan, dan analis laboratorium terlatih.

    Padahal, alat pendeteksi alkohol beracun sangat dibutuhkan berbagai lini untuk mendeteksi cemaran sedini mungkin, mulai dari pabrik pembuat obat (saat proses kontrol kualitas bahan baku) hingga ketika dipasarkan kepada konsumen.

    2. BPOM perketat pengawasan
    Peran Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sangat krusial dalam mengawasi, menindak, dan mencegah produk tercemar dikonsumsi oleh masyarakat.

    Hal ini sejalan dengan strategi pencegahan, pendeteksian, dan respons WHO.Dalam hal ini, izin peredaran bahan kimia, seperti metanol dan isopropanol perlu diperketat.

    Produsen miras oplosan dan obat yang tercemar alkohol kemudian perlu diberikan sanksi tegas melalui pelarangan operasi maupun peredaran produk agar memutus rantai kasus keracunan alkohol.

    Baca: Manfaat daun kelor untuk kesehatan

    3. Kolaborasi lintas keilmuan
    Para ahli di Inggris menjalin kolaborasi lintas keilmuan guna menemukan metode-metode baru dalam mengatasi masalah cemaran alkohol beracun.

    Kolaborasi ini diperluas di tingkat Eropa melalui pertemuan yang mengkaji kualitas obat hingga teknologi deteksi cemaran EG dan DEG.

    Kolaborasi ilmiah ini diharapkan dapat melahirkan solusi baru dalam mencegah dan mengatasi cemaran alkohol beracun.

    Transfer teknologi pun menjadi sangat mutlak melalui peran mahasiswa Indonesia di negara-negara tersebut yang membawa pulang dan menerapkan ilmu mutakhir ke Tanah Air demi kemaslahatan masyarakat Indonesia.

    4. Edukasi ke lingkungan terkecil
    Pemerintah juga perlu melakukan edukasi lebih gencar mengenai bahaya miras oplosan dan keracunan alkohol di tingkat RT/RW dan sekolah, terutama di kawasan sentra peracikan alkohol.

    Kasus cemaran dan keracunan alkohol di Indonesia harus disikapi lebih serius oleh pemerintah. Tidak hanya melalui langkah penanganan, tetapi juga pencegahan agar tidak lagi membahayakan masyarakat.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Benediktus Yohan Arman (Peneliti di Klaster Health Sciences, Doctrine UK dan Mahasiswa Doktoral (DPhil) di bidang Biochemistry, University of Oxford)

  • Kasus Keracunan Program MBG Terus Terjadi, DPR Desak Lakukan Audit

    Kasus Keracunan Program MBG Terus Terjadi, DPR Desak Lakukan Audit

    7cloud.asia – Kasus keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah baru-baru ini.

    Terbaru, keracunan menimpa 186 siswa SMPN 8 Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sampai harus dirawat di sejumlah rumah sakit.

    Ratusan siswa ini merasakan mual, lemas, buang air besar terus-menerus, dan dehidrasi. Mereka diduga keracunan setelah mengonsumsi daging sapi dan sayuran dari paket MBG.

    Peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di SDN Tenau Kota Kupang dan SMAN 1 Taebenu Kabupaten Kupang.

    Selain di Kupang, ratusan anak keracunan MBG juga terjadi di SMAN 1 Kota Tambolaka, SMKN 2 Kota Tambolaka, dan SMK Don Bosco di Kabupaten Sumba Barat Daya.

    Sebelum masalah keracunan ini, persoalan paket MBG juga sudah berulang kali terjadi di Nusa Tenggara Timur.

    Baca: Tambahan Anggaran yang diajukan BGN untuk MBG dinilai sebagai pemborosan

    Di Kabupaten Sumba Timur, Pulau Sumba, daging ayam yang dibagikan kepada siswa terlihat mentah karena masih ada darahnya. Ada juga helaian rambut yang ditemukan dalam kotak makan.

    Akibatnya, sejak awal pekan ini, sejumlah orangtua murid melarang anak mereka mengonsumsi paket MBG, karena khawatir dengan keselamatan anaknya menyusul keracunan di sejumlah sekolah.

    Kini, warga lebih memilih membekali anaknya dari rumah ketimbang mengkonsumsi jatah MBG.

    Tak hanya NTT, belasan siswa SD 45 Arowi, Kabupaten Manokwari, Papua juga dilaporkan mengalami keracunan menu MBG.

    Kemudian, 80 siswa dari dua SMP di Wates, Kulon Progo, Jawa Tengah pun diduga keracunan MBG.

    Dengan rincian 30 siswa dari SMP Muhammadiyah 2 Wates dan 50 siswa dari SMP N 3 Wates. Mereka harus menjalani perawatan di puskesmas setempat.

    Baca: Rentetan masalah dalam pelaksanaan program MBG

    Atas rentetan kejadian MBG, Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk segera melakukan audit menyeluruh terkait kandungan gizi dan standar keamanan makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    “Audit keamanan kandungan menu MBG menjadi langkah krusial untuk memastikan bahwa makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga bebas dari kontaminan dan bahan berbahaya yang dapat mengancam kesehatan,” kata Yahya dalam keterangan tertulisnya, Senin (4/8/2025).

    Yahya pun mendorong BGN menerapkan sistem pengawasan yang lebih ketat dan terintegrasi sepanjang rantai distribusi makanan. Khususnya di wilayah rawan seperti NTT dan daerah-daerah terpencil lainnya.

    “Kelemahan dalam pengelolaan distribusi sering kali menjadi celah munculnya risiko keracunan dan gangguan kesehatan lainnya,” tegas Yahya.

    Ia berharap dengan pengawasan yang ketat, maka proses pengiriman, penyimpanan, dan penyajian MBG dapat berjalan sesuai standar keamanan pangan yang berlaku.

    Baca: Banyak masalah, program MBG harus dievaluasi

    Yahya juga menekankan pentingnya Pemerintah memastikan keterlibatan tenaga kesehatan daerah dalam proses pengawasan.

    Keterlibatan tenaga kesehatan pada pengawasan program MBG juga bisa menjadi garda terdepan dalam merespons cepat penanganan apabila terjadi kasus keracunan atau gangguan kesehatan.

    “Peran nakes sangat vital dalam mengidentifikasi penyebab masalah, memberikan pertolongan medis, dan melakukan edukasi kepada sekolah serta keluarga terkait pencegahan,” imbuh Yahya.

    Pemerintah juga diharapkan dapat mengintegrasikan audit, pengawasan, dan respons kesehatan secara holistik. Menurut Yahya, hal tersebut diperlukan agar MBG dapat terus berjalan efektif, aman, dan memberi manfaat maksimal bagi anak-anak Indonesia.

    Yahya mengingatkan, aspek kesehatan publik harus menjadi komponen utama dan prioritas dalam pelaksanaan program MBG.

    “Dan harus menjadi catatan, keberhasilan program bukan hanya soal kuantitas penerima manfaat, tetapi lebih jauh pada jaminan keamanan dan kesehatan anak-anak sebagai generasi penerus bangsa,” pungkas Yahya.

  • Banyak Masalah, Komisi IX Usul Pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis Diserahkan ke Sekolah

    Banyak Masalah, Komisi IX Usul Pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis Diserahkan ke Sekolah

    7cloud.asia – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai terobosan pemenuhan gizi anak sekolah dan menjadi program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto justru menimbulkan banyak persoalan.

    Salah satunya adalah keracunan massal di berbagai daerah yang dialami siswa akibat program makan bergizi gratis ini. Sejak Januari hingga September 2025, sedikitnya 5.626 siswa mengalami kasus keracunan yang terjadi di 17 provinsi.

    Terbaru, keracunan massal Makan Bergizi Gratis terjadi di Kab Banggai Kepulauan. Kemudian ada juga keracunan MBG di Garut, Tasikmalaya, hingga Bau Bau Sulawesi Tenggara.

    Banyak daerah harus menanggung biaya perawatan korban di Puskesmas maupun rumah sakit. Padahal pada saat bersamaan, alokasi transfer ke daerah justru dipangkas hingga Rp50,29 triliun.

    Wakil Ketua Komisi IX DPR Yahya Zaini menilai Badan Gizi Nasional (BGN) bersama DPR serta pihak-pihak terkait harus mencari solusi dan alternatif pengelolaan MBG agar masalah keracunan massal tak terjadi lagi.

    Baca: Kasus keracunan program MBG terus terjadi, DPR desak dilakukan audit

    Dia mengusulkan untuk melibatkan pihak sekolah untuk menyediakan menu MBG yang kualitasnya lebih terjamin dan fresh saat disajikan kepada para siswa.

    “Mengingat banyaknya kasus keracunan, perlu dipikirkan alternatif MBG dikelola sekolah bersama komite sekolah,” kata Yahya Zaini dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (22/9/2025).

    Seperti diketahui, saat ini MBG melibatkan mitra seperti yayasan dan UMKM untuk operasional dapur dan penyaluran makanannya.

    Yahya mengusulkan agar pengelolaan diberikan kepada masing-masing sekolah untuk mengantisipasi berbagai persoalan yang ada, sekaligus karena pihak sekolah lebih memahami karakter anak-anak didiknya yang mendapat fasilitas program MBG.

    “Karena akan lebih terjamin higienitas dan keamanannya serta sesuai selera anak-anak sekolah. Mereka sudah paham selera anak-anak sekolahnya,” sambungnya.

    Baca: Ompreng MBG diduga tidak food grade

    Yahya pun menyinggung pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana yang mengungkapkan alasan serapan anggaran MBG masih rendah lantaran banyak pihak tidak yakin terhadap jalannya program tersebut.

    Karena itu, ia meminta BGN mencari alternatif pengelolaan MBG agar target dari program unggulan Presiden Prabowo ini dapat segera tercapai.

    Selain masalah keracunan, Yahya juga menyoroti rendahnya serapan anggaran BGN. Di mana anggaran MBG hingga September hanya terserap Rp13,2 triliun atau 18,6 persen dari alokasi Rp71 triliun.

    Padahal, klaim pelaksanaan MBG telah berlangsung di 38 provinsi dengan jumlah penerima manfaat mencapai 22 juta. Akan tetapi, angka tersebut tidak dapat diverifikasi karena minimnya informasi yang dapat diakses publik.

    Apalagi, laporan Transparency International Indonesia menemukan bahwa sejumlah menu MBG tidak mencapai nilai rata-rata Rp10 ribu per penerima manfaat.

    Baca: Komisi IX DPR soroti praktik dapur fiktif dalam program MBG

    Belum lagi, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa juga telah mewanti-wanti BGN bahwa jika sampai akhir Oktober anggaran untuk melaksanakan MBG tidak terserap, maka pihaknya akan menarik alokasi dana untuk keperluan lain.

    “Ini juga untuk mempercepat pencapaian target yang ditentukan. Mengingat serapan anggaran BGN masih rendah sekitar 22 persen,” terang Yahya.

    Yahya menyebut, pihak ketiga yang bekerja sama untuk pelaksanaan MBG masih tetap bisa dilanjutkan. Hal ini, kata Yahya, dapat dilakukan sambil evaluasi tata kelola pelaksanaan MBG.

    “Bagi yayasan yang sudah bekerjasama dengan BGN tetap dapat dilanjutkan sambil memperbaiki tata kelola dan keamanan makanannya,” sebutnya.

    Yahya mendesak Pemerintah untuk segera memperbaiki mekanisme pelaporan anggaran MBG. Bila perlu, ia menyarankan BGN membuka kanal pengaduan publik dan memastikan akuntabilitas belanja agar hak anak untuk memperoleh makanan bergizi dan aman benar-benar terpenuhi.

    “Karena transparansi dan akuntabilitas yang lemah, dikhawatirkan akan memperbesar risiko penyalahgunaan anggaran,” pungkas Yahya Zaini.

  • Politisi PDI Perjuangan: Maraknya Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis Tunjukkan Adanya Kesalahan Sistem

    Politisi PDI Perjuangan: Maraknya Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis Tunjukkan Adanya Kesalahan Sistem

    7cloud.asia – Maraknya keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah lebih disebabkan oleh kelemahan sistem, bukan semata pada pelaksana lapangan.

    Karena itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris mendorong agar rekomendasi yang muncul diarahkan pada perbaikan tata kelola dan bukan penghentian program.

    Hal itu disampaikan Charles dalam audiensi Komisi IX dengan Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA), Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) terkait penyampaian pandangan serta Rekomendasi terhadap Program Makan Bergizi Gratis di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Senin (22/9/2025).

    “Ketika hal ini (keracunan MBG) terjadi di banyak titik, maka kesalahan kemungkinan bukan ada di SPPG tetapi masalah di sistem. Oleh karena itu, saya sebenarnya ingin sekali bapak/ibu yang hadir di sini bisa memberikan apa sih yang harus dibenahi, apa yang harus dilakukan apabila memang program ini akan terus dijalankan,” ujar Politisi PDI Perjuangan ini.

    Baca: Komisi IX usul pengelolaan program Makan Bergizi Gratis diserahkan ke pihak sekolah

    Charles mengingatkan bahwa tanpa perbaikan sistem, kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis akan terus berulang seiring bertambahnya jumlah dapur.

    Kondisi ini, katanya, bisa memunculkan trauma di kalangan orang tua sehingga anak-anak tidak lagi diizinkan mengkonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis.

    Kalau sistemnya tidak diubah, maka hampir bisa dipastikan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis akan terus berulang.

    Jadi dalam beberapa bulan ke depan, tanpa adanya kampanye negatif sekalipun, dia punya keyakinan orang tua murid se-Indonesia akan punya trauma dan ketakutan untuk tidak lagi mengizinkan anaknya mengkonsumsi MBG.

    “Jadi program ini akan mubazir, akan sia-sia. Anggaran ratusan triliun yang disediakan akan terbuang sia-sia,” tegasnya.

    Baca: Kasus keracunan program MBG terus terjadi, DPR desak dilakukan audit

    Lebih jauh, ia menyatakan bahwa tujuan utama program adalah mengentaskan gizi buruk, sehingga fokus seharusnya diarahkan ke wilayah 3T yang paling rawan.

    “Tujuannya kan apa? Tujuannya kan adalah mengentaskan gizi buruk. Dari awal kita sudah sampaikan ke BGN, harus fokus ke 3T. Jangan mau cari gampangnya, mentang-mentang infrastruktur di kota lebih siap, lebih mudah, ya sudah bikin dapur di situ saja. Hanya ngejar angka,” kata Charles.

    Charles meminta para pemangku kepentingan untuk segera memberikan rekomendasi konkrit terkait perbaikan sistem pelaksanaan MBG.

    “Dengan tetap berjalannya program ini, apa yang harus dilakukan? Apa yang harus diubah? Apakah kita tidak lagi menggunakan sistem SPPG? Kita berikan ke sekolah atau apa? Tapi program ini, faktanya program ini tetap ada,” pungkasnya.

    Keracunan massal terjadi di berbagai daerah yang dialami siswa akibat program makan bergizi gratis ini. Sejak Januari hingga September 2025, sedikitnya 5.626 siswa mengalami kasus keracunan yang terjadi di 17 provinsi.

    Baca: Sederet masalah muncul dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis

  • Cegah Keracunan Massal, CISDI Desak Pemerintah Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis

    Cegah Keracunan Massal, CISDI Desak Pemerintah Hentikan Sementara Program Makan Bergizi Gratis

    7cloud.asiaCenter for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mendesak pemerintahan Presiden Prabowo Subianto segera menghentikan sementara atau memoratorium program makan bergizi gratis (MBG) secara menyeluruh.

    Desakan ini disampaikan menyusul terjadinya keracunan massal akibat program Makan Bergizi Gratis.

    Dilansir di laman resmi CISDI, lebih dari 5.000 kasus keracunan makanan dialami siswa dan guru di berbagai daerah harus menjadi alarm yang mengindikasikan program makan bergizi gratis perlu dievaluasi total.

    Founder dan CEO CISDI Diah Saminarsih mengatakan, kasus keracunan akibat MBG ibarat fenomena puncak gunung es. Jumlah kasus sebenarnya bisa jadi jauh lebih banyak karena pemerintah sejauh ini belum menyediakan dasbor pelaporan yang bisa diakses publik.

    Menurut Diah, pangkal persoalan program makan bergizi gratis adalah ambisi pemerintah yang menargetkan 82,9 juta penerima manfaat pada akhir 2025.

    “Demi mencapai target yang sangat masif itu, program MBG dilaksanakan secara terburu-buru sehingga kualitas tata kelola penyediaan makanan hingga distribusinya tidak tertata dengan baik,” kata Diah, 19 September 2025.

    Baca: Ketua DPR minta program makan bergizi gratis dievaluasi total

    CISDI mencatat, sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025 hingga 19 September lalu, program MBG telah menyebabkan sedikitnya 5.626 kasus keracunan makanan di puluhan kota dan kabupaten di 17 provinsi.

    Data ini diperoleh dari pemantauan pemberitaan, serta sumber informasi dari pernyataan resmi perwakilan Dinas Kesehatan di berbagai daerah.

    Beberapa peristiwa keracunan bahkan ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) karena menimpa ratusan siswa. Kegiatan belajar menjadi lumpuh karena korban mesti dirawat di puskesmas maupun rumah sakit.

    Selain itu, keracunan massal menimbulkan beban biaya tak terduga yang dibebankan pada pemerintah daerah, untuk membayar penanganan keracunan di rumah sakit daerah atau swasta setempat. Hal ini tentu memberatkan para pemerintah daerah.

    Terlebih, alokasi anggaran transfer ke daerah juga berkurang 24,7 persen dari Rp864,1 triliun (APBN 2025) menjadi Rp650 triliun (RAPBN 2026).

    Baca: Keracunan massal tunjukkan adanya kesalahan sistem di program makan bergizi gratis

    Meski dirancang untuk meningkatkan status gizi penerima manfaat, program makan bergizi gratis sejak awal tidak dipersiapkan secara matang dari aspek regulasi, keamanan pangan dan kecukupan nutrisi hingga monitoring dan evaluasi.

    Meski sudah berlangsung selama delapan bulan, program yang dijalankan terpusat oleh Badan Gizi Nasional (BGN) ini belum juga dilandasi oleh peraturan presiden sebagai payung hukum dan peraturan lainnya yang seharusnya tersedia.

    Dampaknya, tata kelola kelembagaan menjadi tidak jelas, dari koordinasi antar-kementerian atau lembaga, hubungan pusat-daerah, hingga pengaturan kerja sama multipihak.

    Diah mengatakan, absennya payung hukum MBG dan panduan teknis juga minimnya sistem pengawasan telah memicu berbagai macam persoalan di lapangan.

    Selain kasus keracunan akibat makanan tidak layak atau tidak higienis, menu MBG di banyak sekolah diwarnai produk pangan ultra-proses (ultra-processed food) dan susu berperisa tinggi gula.

    Baca: Sederet masalah dalam program makan bergizi gratis

    “Masuknya pangan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak dalam jangka panjang dapat memicu berat badan berlebih dan obesitas pada anak dan remaja. Efeknya justru kontraproduktif dengan tujuan awal MBG yaitu memperbaiki status gizi anak Indonesia,” ujar Diah.

    Diah menambahkan, maraknya kasus keracunan serta masifnya produk pangan ultra-proses dalam menu MBG juga merupakan bentuk pelanggaran hak penerima manfaat program ini, khususnya anak usia sekolah.

    Karenanya, CISDI mendesak pemerintah memenuhi hak penerima manfaat program MBG untuk memperoleh makan bergizi yang aman dan berkualitas.

    Agar evaluasi berjalan efektif, pemerintah harus memoratorium program MBG terlebih dahulu. Klaim pemerintah bahwa program ini dapat disempurnakan sembari berjalan terbukti gagal karena kasus keracunan terus berulang dan bertambah. A

    Apabila program MBG tetap dijalankan tanpa evaluasi total, dikhawatirkan kasus keracunan MBG akan terus terjadi dan mengancam kesehatan anak-anak.

    Sementara, upaya pemerintah untuk memulihkan hak anak yang menjadi korban keracunan masih belum jelas.

    Baca: Perlu banyak perbaikan dalam program makan bergizi gratis

  • Meski Ribuan Siswa Keracunan, Program MBG Akan Tetap Dilanjutkan

    Meski Ribuan Siswa Keracunan, Program MBG Akan Tetap Dilanjutkan

    7cloud.asia – Menindaklanjuti kejadian luar biasa (KLB) keracunan di sejumlah daerah akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah membenahi tata kelola program secara menyeluruh dan sejumlah langkah strategis.

    “Keselamatan anak adalah prioritas utama. Insiden ini bukan sekadar angka, tetapi menyangkut keselamatan generasi penerus bangsa,” kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan di Jakarta, Minggu (28/9/2025).

    Sebelumnya sejumlah kalangan menilai maraknya keracunan dalam program MBG menunjukkan adanya kesalahan sistem. Korban keracunan akibat program MBG diperkirakan telah melampaui 8000 kasus yang terjadi di 52 kabupaten/kota.

    Karena itu diusulkan agar pemerintah menghentikan sementara program MBG sembari dilakukan pembenahan.

    Namun, sepertinya pemerintah tetap akan melanjutkan program andalan presiden Prabowo ini.

    Baca: Menuntut tanggung jawab Negara dalam kasus keracunan MBG

    Adapun, sejumlah langkah yang dilakukan pemerintah untuk menyikapi maraknya keracunan akibat program MBG adalah:

    Pertama, menutup sementara Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) yang terindikasi bermasalah untuk dilakukan evaluasi dan investigasi menyeluruh.

    Kedua, melakukan evaluasi terhadap disiplin, kualitas, dan kemampuan juru masak di seluruh SPPG, tidak terbatas pada lokasi terdampak.

    Ketiga, memperbaiki proses sanitasi, khususnya terkait kualitas air dan pengelolaan limbah, yang kini diawasi secara nasional.

    Langkah keempat adalah memastikan keterlibatan lintas sektor, di mana kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan yang memiliki peran dalam program MBG diminta aktif berperan dalam proses perbaikan.

    Baca: Keracunan marak pemerintah didesak hentikan sementara program MBG

    Kelima, mewajibkan setiap SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) sebagai syarat mutlak, bukan lagi sekadar administratif.

    “SLHS sebelumnya bersifat administratif, tapi kini wajib. Tanpa itu, potensi kejadian serupa bisa terulang. Kami tidak ingin itu terjadi lagi,” ujar Zulhas.

    Terakhir, pemerintah meminta Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mengoptimalkan peran puskesmas dan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) untuk melakukan pemantauan rutin dan berkala terhadap pelaksanaan MBG di daerah.

    Zulkifli Hasan menegaskan seluruh langkah diambil secara terbuka dan akuntabel agar masyarakat yakin makanan dalam program MBG benar-benar aman, sehat, dan bergizi.

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan pentingnya percepatan Sertifikasi Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) bagi seluruh dapur MBG.

    Baca: Ketua DPR minta program MBG dievaluasi secara menyeluruh

    Hal ini guna memastikan standar kebersihan, kualitas sumber daya manusia, dan proses pengolahan makanan yang aman dan layak bagi masyarakat. Dia menjelaskan dalam waktu satu bulan ke depan, proses percepatan ini harus selesai.

    Kemenkes dan pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengontrol proses persiapan makanan mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan, hingga penyajian makanan.

    “Semua proses ini sudah disepakati bersama agar kejadian serupa tidak terulang kembali,” katanya.

    Rapat koordinasi lanjutan dijadwalkan pada Rabu mendatang untuk mengevaluasi progres perbaikan.

    Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri akan menggelar rapat teknis bersama kepala daerah, kepala Dinas Pendidikan, dan kepala Dinas Kesehatan, yang melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, BGN dan jajaran pemerintah terkait lainnya.

    Baca: Keracunan massal dalam program MBG tunjukkan adanya kesalahan sistem

     

  • BGN Nonaktifkan 56 SPPG Makan Bergizi Gratis (MBG)

    BGN Nonaktifkan 56 SPPG Makan Bergizi Gratis (MBG)

    7cloud.asia – Badan Gizi Nasional (BGN) menonaktifkan sementara 56 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Keputusan ini diambil setelah adanya laporan keracunan atau kasus gangguan kesehatan yang dialami ratusan penerima manfaat usai mengonsumsi MBG dari dapur SPPG tersebut.

    Dalam keterangan tertulisnya, BGN menyatakan pihaknya tidak akan berkompromi terhadap persoalan yang menyangkut keselamatan penerima MBG.

    “Setiap SPPG wajib mematuhi standar keamanan pangan yang sudah ditetapkan. Nonaktif sementara ini adalah bagian dari proses evaluasi menyeluruh agar kejadian serupa tidak terulang. Keselamatan masyarakat, terutama anak-anak penerima MBG jadi prioritas utama,” ujar keterangan tertulis BGN Selasa (30/9/2025).

    SPPG yang dinonaktifkan termasuk di antaranya SPPG Bandung Barat Cipongkor Cijambu, SPPG Bandung Barat Cipongkor Neglasari, SPPG Bandung Barat Cihampelas Mekarmukti, serta SPPG Banggai Kepulauan Tinangkung (Sulawesi Tengah).

    Baca: Keracunan MBG sebagian besar terjadi di SPPG baru

    Adapun, puluhan SPPG yang dinonaktifkan kini masih menunggu hasil uji laboratorium yang tengah dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

    Hasil pemeriksaan ini akan menjadi dasar dalam menentukan langkah lebih lanjut, baik berupa perbaikan, penguatan pengawasan, maupun sanksi bagi mitra penyelenggara yang terbukti lalai.

    “BGN berkomitmen penuh agar insiden serupa tidak terulang kembali. Dengan langkah penguatan pengawasan, kami berharap kepercayaan masyarakat terhadap Program MBG tetap terjaga,” tegasnya.

    Sementara itu, untuk memperkuat mekanisme pengawasan di lapangan, BGN membuka kanal pengaduan masyarakat sebagai upaya meningkatkan kualitas pelaksanaan Program MBG.

    Baca: Menuntut tanggung jawab Negara dalam keracunan MBG

    Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati mengatakan kebijakan tersebut diharapkan menjadi sarana deteksi dini apabila muncul potensi masalah serupa di kemudian hari.

    “BGN membuka kanal pengaduan masyarakat dan memperkuat mekanisme monitoring di lapangan. Hal ini untuk memastikan setiap persoalan dapat segera terpantau dan ditangani dengan cepat,” kata Hida.

    Menurut Hida, momentum evaluasi kali ini akan dimanfaatkan sebagai perbaikan menyeluruh terhadap tata kelola SPPG mulai dari rantai pasokan bahan pangan, proses pengolahan di dapur, hingga distribusi ke penerima manfaat akan menjadi fokus pengawasan.

    “Evaluasi ini menjadi momentum perbaikan menyeluruh. Kami ingin memastikan bahwa standar keamanan pangan dipatuhi di semua lini, sehingga penerima manfaat terlindungi,” tegasnya.

  • Program MBG Pantas Disetop, Tapi Mengapa Pemerintah Jalan Terus

    Program MBG Pantas Disetop, Tapi Mengapa Pemerintah Jalan Terus


    7cloud.asia – Kasus keracunan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat sorotan tajam dari masyarakat, terutama perempuan. Sejak diluncurkan pada Januari 2025 hingga 1 Oktober 2025, lebih dari 7.000 anak mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG.

    Pemerintah menanggapi keracunan masif MBG dengan menutup puluhan SPPG yang dipandang bermasalah. Namun, langkah ini dinilai tidak cukup. Sejumlah kalangan mendesak agar pemerintah menghentikan program MBG dan melakukan evaluasi menyeluruh.

    Koalisi Warga Tolak MBG yang terdiri dari Indonesia Corruption Watch, FIAN Indonesia, jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Koalisi Perempuan Indonesia, Transparency International Indonesia, Suara Ibu Peduli menyatakan sikap menolak program MBG.

    Program yang diklaim pemerintah sebagai solusi stunting justru berubah menjadi sumber masalah serius: ribuan anak mengalami keracunan massal sepanjang Januari-September 2025.

    Koalisi menilai program MBG terbukti gagal memenuhi hak anak atas pangan bergizi, sehat dan aman. Alih-alih menjadi jawaban atas problem gizi, MBG justru dikelola dengan pola sentralistik dan militeristik, minim transparansi, serta rawan praktik rente.

    “Karena itu, Koalisi mendesak agar pemerintah menghentikan proyek ini dan segera mengembalikan pemenuhan gizi anak kepada komunitas dan daerah,” demikian Koalisi dalam pernyataannya.

    Baca: Unjuk rasa menolak program MBG

    Hal-hal yang mendasari mengapa Program MBG harus dihentikan segera.

    Sistem yang Sentralistik
    Salah satunya adalah tingginya kasus keracunan membuktikan kegagalan sistemik MBG dalam menjamin keamanan pangan anak.

    Selain itu MBG dijalankan secara sentralistik dan militeristik. MBG dijalankan sebagai program kesayangan Presiden dengan pola serba top-down. BGN mengendalikan penuh tanpa melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, sekolah, maupun orang tua.

    Distribusi makanan bahkan dikawal aparat militer, menciptakan suasana tidak ramah anak. Pola ini menutup partisipasi publik dan lebih mengedepankan pencitraan politik ketimbang pemenuhan gizi.

    Minim Transparansi dan Akuntabilitas
    Tata kelola MBG sangat tertutup. MoU antara BGN dan sekolah/orang tua tidak memuat pertanggungjawaban jelas dan bahkan melarang publikasi data.

    Publik tidak mengetahui kriteria penerima, standar menu, maupun mekanisme distribusi. JPPI menemukan 70 persen sekolah yang dipantau tidak mendapat informasi resmi tentang jadwal maupun standar gizi MBG. Hal ini membuka ruang diskriminasi dan melemahkan kontrol publik.

    Selain itu, ICW dalam hasil pemantauannya di Jakarta (Maret–April 2025) menemukan hal serupa: informasi penerima MBG tidak dibuka ke publik, distribusi makanan kerap terlambat hingga tiga jam dari jadwal, dan keluhan siswa maupun guru tidak ditindaklanjuti oleh SPPG.

    Baca: Ketua DPR Minta program MBG dievaluasi total

    “Kondisi ini membuktikan bahwa transparansi dan akuntabilitas MBG sangat rendah, membuka ruang diskriminasi antar sekolah sekaligus melemahkan kontrol publik,” demikian Koalisi dalam pernyataannya.

    Praktik Rente dan Korupsi
    Pelaksanaan MBG rawan menjadi bancakan politik. Pemilihan mitra dapur bermasalah, konflik kepentingan kental, dan SPPG di banyak daerah tidak menerima pembayaran tepat waktu. Dengan anggaran jumbo, MBG berubah menjadi lahan rente dan potensi korupsi baru.

    Praktik pemotongan yang dilakukan oleh yayasan pengelola SPPG menciptakan risiko korupsi. Praktik tersebut tidak hanya berpotensi menurunkan kualitas menu yang diberikan, tapi juga menimbulkan potensi kerugian (potential lost).

    Hal ini mengingat besarnya nilai akumulatif pemotongan yang terjadi secara masif dan sistemik. Dampaknya, penerima manfaat dipaksa mengkonsumsi makanan basi sementara dana miliaran rupiah tetap digelontorkan.

    Menggerogoti Anggaran Pendidikan
    MBG menyedot 30–44 persen dari total anggaran pendidikan Rp 757 triliun (RAPBN 2026). Padahal, 4,2 juta anak masih tidak sekolah, lebih dari 60 persen SD rusak, dan jutaan guru belum bersertifikasi.

    Alih-alih memperbaiki mutu pendidikan, dana pendidikan justru dipangkas untuk proyek “makan-makan” yang gagal melindungi anak.

    Baca: Keracunan massal program MBG tunjukkan ada kesalahan sistem

    Merusak Ekosistem Sekolah dan Komunitas
    MBG mengacaukan ekosistem sekolah. Guru terbebani tugas tambahan mengelola distribusi makanan, mencatat alergi siswa, hingga menangani keracunan.

    Kantin sekolah kehilangan pendapatan, dan komunitas/orang tua tersisih dari pemenuhan gizi anak. Model sentralistik ini mematikan inisiatif lokal yang selama ini lebih dekat dengan kebutuhan siswa.

    Tidak mencerminkan prinsip kedaulatan pangan nasional.
    Fakta di lapangan menunjukkan bahwa menu MBG masih menggunakan Ultra Processed Food yang tidak sesuai dengan prinsip gizi seimbang.

    Program MBG juga belum berfokus pada pemanfaatan dan pemberdayaan pangan lokal dan kesejahteraan petani serta pelaku UMKM lokal yang seharusnya menjadi bagian penting dalam ekosistem ketahanan dan kedaulatan pangan.

    Keracunan akibat program MBG juga menjadi sorotan DPR. Saat menutup Masa Persidangan I Tahun Sidang 2025-2026 DPR Kamis (2/10/2025), Ketua DPR Puan Maharani mengingatkan pemerintah untuk melaksanakan rekomendasi yang disampaikan DPR.

    Baca: Menuntut tanggung jawab negara dalam kasus keracunan massal program MBG

    Lebih lanjut, Puan juga meminta adanya evaluasi dan perbaikan secara total dari pelaksanaan MBG. Supaya ke depannya proses penyediaan program MBG pun tidak lagi mempunyai masalah di lapangan.

    Puan menegaskan pentingnya regulasi berbentuk Peraturan Presiden (Perpres) untuk menjadi payung hukum dalam pengelolaan dan pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

    Hal ini disampaikan merespon hasil Rapat Kerja (Raker) Komisi IX bersama BPOM dan Badan Gizi Nasional di Komisi IX DPR, Rabu (1/10/2025). Dalam raker tersebut, DPR menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pelaksanaan program MBG.

    DPR, ujar Puan, sudah meminta adanya payung hukum berupa Perpres agar seluruh kementerian dan lembaga terkait bisa terlibat langsung dalam mendukung program MBG.

    “Dengan begitu, proses di lapangan tidak lagi menemui masalah seperti yang terjadi sebelumnya,” ujar Puan saat memberikan keterangan pers di Gedung Nusantara II, Senayan, Jakarta, Kamis (2/10/2025).

  • Tim Investigasi BGN: Keracunan Massal di Bandung Barat Akibat Senyawa Nitrit

    Tim Investigasi BGN: Keracunan Massal di Bandung Barat Akibat Senyawa Nitrit

    7cloud.asia – Ketua Tim Investigasi Independen Badan Gizi Nasional (BGN) Dra Karimah Muhammad menyebut berdasarkan jenis sampel yang diuji, terdapat 3,91 dan 3,54 mg/L nitrit dalam sisa makanan program makan bergizi gratis (MBG) yang diduga memicu keracunan pada ribuan pelajar di Cipongkor, Bandung Barat, Jawa Barat.

    Padahal, menurut Karimah, jika merujuk standar Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency/EPA), kadar maksimum nitrit yang boleh dikonsumsi dalam minuman adalah 1 mg/L.

    “Jadi kalau merujuk standar EPA, maka kadar nitrit dalam sampel sisa makanan di sekolah hampir 4 kali lipat dari batas maksimum,” ujar Karimah seperti dikutip dari KompasTV Jumat (3/10/2025).

    Karimah mengatakan, penyelidikan yang dilakukan timnya menyimpulkan, nitrit adalah penyebab keracunan MBG yang dialami 1.315 siswa di Bandung Barat pada bulan lalu.

    Dia menuturkan, sebagian buah-buahan dan sayur-sayuran memang mengandung nitrit dan kadarnya bisa meningkat karena hasil kerja bakteri.

    “Pola gejala yang ditunjukkan para korban sejalan dengan gejala keracunan nitrit, di mana yang mendominasi adalah efek di saluran pencernaan bagian atas, misal mual, muntah atau nyeri lambung, sebanyak 36 persen. Bukan di saluran pencernaan bagian bawah, misal diare,” ujarnya.

    Baca: Program MBG pantas dihentikan

    Gambaran ini, kata Karimah, selaras dengan gejala yang dialami mayoritas pelajar di Cipongkor, Bandung Barat yaitu pusing atau kepala terasa ringan.

    Hal tersebut muncul karena terjadi pelebaran pembuluh darah yang juga merupakan ciri keracunan nitrat.

    Karimah menyampaikan, gejala ini menunjukkan persentase cukup besar yaitu 29 persen, dan berada di peringkat kedua setelah gejala di saluran pencernaan bagian atas.

    Sebelumnya, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) menginvestigasi kematian siswi SMK Negeri 1 Cihampelas pada 30 September 2025. Kasus tersebut tidak boleh dianggap remeh, apalagi ditutup-tutupi.

    “Kasus ini harus diinvestigasi secara transparan,” kata Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji dikutip dari Media Indonesia, Sabtu (4/10/2025).

    Ubaid mengatakan, ada tiga alasan mengapa kasus ini diduga terkait dengan Makan Bergizi Gratis (MBG). Pertama, korelasi waktu dengan kasus keracunan MBG.

    Baca: Unjuk rasa mendesak dihentikannya program MBG

    Ubaid menjelaskan, siswi yang meninggal merupakan bagian dari sekolah yang sebelumnya juga mengalami kasus keracunan massal akibat MBG pada 24 September 2025. Meskipun, gejala yang dialami korban muncul setelah beberapa hari.

    “Fakta ini menimbulkan dugaan kuat adanya kaitan, meskipun gejala muncul beberapa hari kemudian,” kata Ubaid.

    Kedua, gejala klinis korban serupa dengan kasus keracunan MBG. Korban dilaporkan mengalami muntah, kejang, hingga mulut berbusa.

    “Ini adalah gejala khas yang sama seperti ratusan siswa lain yang menjadi korban keracunan MBG di Bandung Barat,” ungkap Ubaid.

    Ketiga, kambuhnya keracunan MBG di lokasi yang sama. Menurut dia, puluhan siswa yang mengalami keracunan dinyatakan sembuh. Namun, mereka justru dilaporkan kambuh lagi dengan gejala serupa pada 27-29 september 2025.

    Menurut dia, kasus kematian tersebut tidak boleh dianggap remeh. Investigasi menyeluruh harus dilakukan.

    Baca: Menuntut tanggung jawab Negara dalam keracunan massal program MBG