Tag: limbah makanan

  • Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Limbah Makanan

    Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Limbah Makanan

    7cloud.asia – Saat sebagian penduduk bumi menghadapi krisis pangan, dunia juga menghadapi masalah lingkungan yang dipicu oleh limbah makanan.

    Limbah makanan memang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Gas metana yang dilepas limbah makanan disebut lebih besar dampaknya pada pemanasan global ketimbang emisi karbon dari bahan bakar fosil. 

    Mirisnya, sepertiga dari makanan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia – sekitar 1,3 miliar ton – terbuang menjadi limbah makanan yang selanjutnya memicu masalah bagi ligkungan.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar: pemanasan global

    Jumlah ini cukup untuk memberi makan untuk 3 miliar orang. Limbah makanan dan kehilangan makanan menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca setiap tahunnya.

    Jika angka emisi yang dihasilkan limbah makanan ini diibaratkan sebuah negara, maka limbah makanan akan menjadi penghasil gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah Tiongkok dan Amerika Serikat.

    Pemborosan dan kehilangan pangan menjaid limbah makanan terjadi pada tahapan yang berbeda di masing-masing negara berkembang dan maju.

    Baca: Masalah lingkungan terbesar: kebijakan yang salah

    Di negara berkembang, 40% limbah makanan terjadi pada tingkat pascapanen dan pengolahan.

    Sedangkan di negara maju, 40% limbah makanan terjadi di tingkat ritel (rantai penjualan) dan konsumen.​

    Di tingkat ritel, banyak sekali makanan yang terbuang menjadi limbah hanya karena alasan estetika.

    Baca: Mungkinkah dunia mewujudkan zero emision?

    Faktanya, di AS, lebih dari 50% dari seluruh produk yang dibuang di AS dilakukan karena dianggap “terlalu jelek” untuk dijual kepada konsumen.

    Data ini berarti, sekitar 60 juta ton buah-buahan dan sayuran terbuang menjadi limbah makanan. Dan, ini terjadi untuk di AS saja. 

    Kondisi inilah yang menyebabkan kerawanan pangan masuk dalam salah satu masalah lingkungan terbesar di tahun 2023 ini. 

    Baca : Perkebunan monokultur salah satu penyumbang terbesar deforestasi

    Apa masalah lingkungan terbesar di tahun 2023, ikuti di tulisan selanjutnya.

    Sumber: earth.org

  • Magalarva dan FoodCycle Ubah Limbah Makanan dan Sampah Organik Jadi Berkah

    Magalarva dan FoodCycle Ubah Limbah Makanan dan Sampah Organik Jadi Berkah

    7cloud.asia – Pemerintah getol mendorong industri pengolahan limbah makanan dengan menggunakan lalat hitam (BSF) sebagai bagian solusi pengurangan emisi karbon dari sampah.

    Salah satu industri pengolahan limbah makanan dan sampah organik dengan menggunakan lalat hitam itu adalah Magalarva yang berdiri pada 2017.

    Magalarva adalah satu dari banyak perusahaan bioteknologi di Indonesia yang menggeluti bisnis pengolahan limbah makanan dan sampah organik menjadi makanan ternak dan pupuk organik dengan teknologi BSF.

    Founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya, mengatakan jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dan limbah makanan menjadi penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca.

     

    Baca: Aplikasi ini ubah sampah makanan jadi produk bernilai tinggi

    Padahal, 40 persen dari timbulan sampah di Indonesia adalah sampah organik dan limbah makanan.

    “BSF ini yang sangat ganas makan limbah makanan atau sampah organik, sampai habis dan cepat banget,” ujar founder dan CEO Magalarva, Rendria Labde (31 tahun), dalam perbincangan dengan VOA baru-baru ini di kantornya.

    Bau busuk menyengat dari gunungan-gunungan sampah makanan di lokasi pabrik masih menyelinap ke ruang kantor Magalarva dan tak mampu diredam dengan masker.

    Di sudut lain pabrik Magalarva, tampak mesin-mesin pengering larva bersuara menderu-deru. Begitu lah sekelumit hiruk pikuk kegiatan keseharian Magalarva.

    “This is A Real Problem”

     

    Baca: Dampak sampah makanan pada lingkungan

    Rendria dan rekan-rekannya mendirikan Magalarva karena prihatin dengan masalah penanganan sampah organik, terutama sampah makanan, di Indonesia.

    Selama ini, katanya, gerakan kesadaran sampah hanya berkutat pada pengelolaan sampah non-organik, seperti plastik.

    Ia pernah melihat tumpukan sampah yang menggunung hingga bisa mencapai belasan lantai bangunan di sebuah tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa ada solusi.

    Kalau TPA udah jenuh, ujarnya, maka pindah, jenuh (lagi), pindah (lagi). Nah, dari situ lah kita lihat…. wah, this is a real problem.

    “Yang organik malah nggak ada [solusi] sama sekali. Di situ lah kita mengambil keputusan, oke, let’s find a solution untuk ini,” tukas Rendria, lulusan Teknik Mesin Universitas Indonesia

    Baca: Yuk kenali jenis sampah dan manfaat ekonominya

    Menurut data KLHK, pada 2022, sebanyak 65,83 persen sampah di Indonesia masih diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan sampah.

    Selain Magalarva, juga ada FoodCycle yang mengolah limbah makanan dengan teknologi BSF sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon pemerintah.

    Herman mengatakan FoodCycle sedang mengembangkan teknologi BSF menjadi bagian dari program integrated urban farming atau konsep pertanian perkotaan terintegrasi bersama salah satu mitranya yang mengelola panti asuhan di Jati Asih, Bekasi.

    Idenya, teknologi BSF digunakan untuk mengolah limbah organik di panti asuhan itu.

    Kita belajar bareng sih sebenarnya ya. Selama ini dari awal tahun untuk mengolah limbah organik di lokasi yang hasilnya nanti langsung diberikan ke lele dan pupuknya langsung ke tanaman ubi.

    “Itu integrated urban farm,” papar Herman, jebolan teknik komputer di RMIT University di Australia.

    Baca: Teknologi pengolahan sampah Masaro

    Dia menambahkan FoodCycle berencana menduplikasi konsep pertanian perkotaan dengan teknologi BSF ini ke beberapa lokasi.

    Harapannya, kata Herman, konsep itu akan menghasilkan gaya hidup nir-sampah, sebagaimana slogan FoodCycle: Zero Hunger & Zero Waste for A Better Indonesia.

    Sementara itu, Magalarva memiliki obsesi untuk meningkatkan kapasitas pengolahannya yang artinya akan lebih banyak lagi volume sisa makanan yang diharapkan dapat diolah.

    Namun, Rendria menekankan perlunya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik.

    “Karena buat saya juga, sebenarnya kalau memang kita melihat suatu solusi yang masif untuk kita berangkat dari kesadaran individu, secara realistis itu rada-rada sulit memang sebenarnya,” tukas Rendria.

    Sumber: VOA Indonesia

     

  • Kota di Eropa Dorong Warganya Pelihara Ayam untuk Atasi Limbah Makanan Rumah Tangga

    Kota di Eropa Dorong Warganya Pelihara Ayam untuk Atasi Limbah Makanan Rumah Tangga

    7cloud.asia – Sekitar Paskah pada 2015, otoritas kota Colmar di Prancis mulai membagikan ayam gratis kepada penduduknya. Tujuannya, untuk mengurangi limbah makanan yang dihasilkan rumah tangga.

    Proyek ini telah direncanakan sejak lama dan akhirnya diluncurkan oleh departemen pengumpulan sampah di kota yang berada di timur laut Prancis itu.

    Semua ini berawal dari Gilbert Meyer yang terpilih kembali sebagai presiden wilayah aglomerasi Colmar (jabatan yang mirip dengan wali kota) pada 2014. Waktu itu dia memiliki slogan “satu keluarga, satu ayam betina”, yang bertujuan untuk mendorong warga untuk memelihara seekor ayam.

    Tahun berikutnya, proyek ini diluncurkan, bekerja sama dengan dua peternakan ayam. Warga didorong untuk bisa membuat ayam bertelur, sehingga menghasilkan telur gratis. Upaya memelihara ayam akan segera membuahkan hasil.

    Lebih dari 200 rumah di empat kota mendaftar dan masing-masing diberi dua ayam–baik ayam merah (poulet rouge) atau ayam alsace, ras kuno dan lokal.

    Setiap rumah tangga menandatangani perjanjian untuk memelihara ayam. Di dalamnya juga terdapat kesepakatan bahwa departemen sampah dapat melakukan pemeriksaan mendadak atas kesejahteraan hewan kapan saja.

    Kandang ayam tidak disediakan; warga sendiri yang harus membangun atau membeli kandang. Pihak departemen memastikan bahwa setiap rumah memiliki ruang yang cukup untuk ayam, antara delapan sampai 10 meter persegi.

    Baca: Peternakan ayam petelur tanpa sangkar

    Skema ini sukses dan masih berlangsung.
    “Selama bertahun-tahun, kota lain telah bergabung dan sejak 2022, ada 20 kota di aglomerasi telah berpartisipasi,” kata Eric Straumann, presiden wilayah aglomerasi Colmar saat ini.

    Hingga saat ini, 5.282 ayam betina telah didistribusikan kepada warga setempat. Saat ini telah dibuka pendaftaran untuk putaran distribusi berikutnya pada Juni 2025.

    Dengan memelihara ayam, warga tidak hanya menerima pasokan telur gratis yang melimpah, tetapi limbah makanan juga teratasi. Sebab, ayam-ayam itu diberi makan dari limbah dapur.

    “Mengingat seekor ayam betina memiliki harapan hidup rata-rata empat tahun dan mengonsumsi 150 gram limbah dari bahan organik per hari, kami memperkirakan bisa mengendalikan 273,35 ton limbah dari bahan organik [sejak 2015] yang tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir,” kata Straumann.

    Limbah makanan menyumbang emisi metana lebih banyak ke atmosfer daripada bahan-bahan lain yang dibuang ke tempat pembuangan akhir karena tingkat pembusukannya yang cepat.

    Baca: Limbah makanan picu masalah serius pada lingkungan

    Di AS, sekitar 58 persen emisi metana yang dilepaskan ke atmosfer dari tempat pembuangan sampah berasal dari limbah makanan.

    Meskipun berumur lebih pendek di atmosfer daripada karbon dioksida (CO2), metana memiliki dampak pemanasan global lebih dari 80 kali lebih tinggi daripada CO2 selama periode 20 tahun.

    Sekitar sepertiga makanan yang diproduksi untuk manusia hilang atau terbuang secara global, mencapai 1,3 miliar ton per tahun.

    Kehilangan dan pemborosan makanan menyumbang 8-10 persen dari emisi gas rumah kaca global tahunan–yang hampir lima kali total emisi dari sektor penerbangan.

    Meskipun pemilik ayam di Inggris telah disarankan untuk menghindari memberi makan ayam dengan sisa-sisa sampah dapur karena kekhawatiran tentang penyebaran penyakit, hal itu sepenuhnya legal untuk dilakukan di tempat lain di dunia.

    Cara itu juga dapat membawa dampak yang berarti dalam mengurangi limbah makanan dan memulai siklus yang menguntungkan semua orang.

    Baca: Dampak limbah makanan pada lingkungan

    “Diusulkan dengan tujuan mengurangi limbah makanan, ayam memungkinkan untuk mempromosikan praktik ekonomi sirkular tradisional yang masih relevan saat ini, terutama di desa-desa, dan yang sekarang berkembang bahkan di daerah perkotaan: ayam yang diberi makan limbah makanan kita, sebagai imbalannya memberi kita telur segar,” kata Straumann.

    Manfaat tambahan adalah bahwa ayam dapat mengajarkan anak-anak di Colmar tentang hewan dan pentingnya melindungi alam, tambahnya.

    Colmar bukan satu-satunya kota yang membagikan ayam gratis—juga bukan yang pertama melakukannya.

    Pada 2012 di kota kecil lain di barat laut Prancis yang disebut Pincé, setiap rumah tangga ditawari dua ayam untuk membantu mereka mengurangi limbah organik.

    “Awalnya itu lelucon, tetapi kemudian kami menyadari itu adalah ide yang sangat bagus,” kata Lydie Pasteau, wali kota Pincé, kepada media lokal saat itu.

    Sebanyak 31 keluarga diberi ayam, bersama dengan sekantong pakan. Pasteau menyebut skema itu sebagai kesuksesan yang “mengejutkan”.

    Di Belgia, ayam telah dibagikan di kota-kota Mouscron dan Antwerp serta provinsi Limburg, meskipun warga harus menandatangani perjanjian untuk tidak memakan ayam selama setidaknya dua tahun.

    Baca: Yang bisa diakukan untuk kurangi limbah makanan

    Lebih dari 2.500 keluarga mengadopsi ayam betina dalam satu tahun saja di Limburg, menurut beberapa laporan. Sementara di Mouscron, 50 pasang ayam dibagikan pada putaran kedua skema tersebut, setelah pemberian awal sukses.

    Warga harus membuktikan bahwa mereka memiliki ruang yang cukup di kebun mereka untuk memelihara ayam. Setelah itu, mereka baru diberi instruksi dasar tentang pemeliharaan ayam.

    Secara teori, skema ini tampak seperti ide yang bagus, terutama di bagian dunia di mana telur langka atau sangat mahal.

    Di California atau New York, misalnya, selusin telur berharga sekitar USD$9 (senilai Rp149.000 dengan kurs Maret 2025).

    Karena beberapa ras ayam dapat bertelur hingga 300 telur setiap tahun, satu ayam dapat menghasilkan telur senilai hingga $225 (senilai Rp3,7 juta setiap tahun).

    Namun dalam praktiknya, Paul Behrens, seorang profesor di Universitas Oxford yang berfokus pada sistem pangan, mengatakan ada beberapa hambatan yang menghalangi.

    “Saya yakin itu bisa dilakukan di Inggris tetapi saya tidak yakin itu ide yang bagus,” katanya.

    “Flu burung adalah kekhawatiran yang selalu ada. Peraturan saat ini berarti Anda harus memelihara ayam di area berpagar atau di dalam ruangan—ini mungkin menjadi masalah lagi untuk kesejahteraan hewan, atau bahkan penyebaran penyakit jika orang tidak melakukannya.”

  • Sistem Pangan Sirkular Jadi Opsi untuk Mengatasi Limbah Makanan

    Sistem Pangan Sirkular Jadi Opsi untuk Mengatasi Limbah Makanan

    7cloud.asia – Masalah pemborosan makanan yang menghasilkan limbah makanan sangat beragam, mulai dari industri hingga individu;

    Ada banyak faktor yang berkontribusi terhadap tinginya produksi limbah makanan, seperti preferensi pembelian, produksi berlebih, standar ritel, kenyamanan, dan biaya.

    Pemborosan yang memicu limbah makanan memengaruhi ketiga aspek keberlanjutan: lingkungan, ekonomi, dan sosial. Ini adalah masalah sosial yang menyentuh semua orang di seluruh dunia.

    Limbah makanan juga berkontribusi pada masalah perubahan iklim. Sistem pangan secara keseluruhan bertanggung jawab atas sepertiga dari seluruh emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia

    Dilansir Earth.org, limbah makanan akibat pemborosan makanan berkontribusi sekitar 8-10 persen dari emisi ini setiap tahunnya. Saat ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan solusi untuk mengatasi pemborosan makanan.

    Setiap orang memiliki peran untuk dimainkan, mulai dari perusahaan besar hingga komunitas kecil. Meskipun para inovator telah mengeksplorasi berbagai solusi dalam industri sains dan teknologi, masih banyak yang harus dilakukan.

    Baca: Limbah makanan jadi masalah serius untuk lingkungan

    Manfaat mengurangi limbah makanan
    Mengurangi pemborosan makanan seharusnya tidak hanya dilihat sebagai tindakan amal; hal ini juga menawarkan manfaat yang signifikan bagi lingkungan dan seringkali tidak disadari.

    Bagi pelaku bisnis, menerapkan solusi inovatif dalam mengurangi sampah makanan dapat menghasilkan keuntungan yang substansial.

    Dengan mengalihkan kelebihan makanan ke masyarakat yang membutuhkan, perusahaan dapat menghemat uang dan sekaligus mengurangi emisi metana mereka.

    Mendidik masyarakat tentang manfaat ini dapat mendorong bisnis dan konsumen untuk memantau limbah mereka lebih cermat, mendorong perubahan yang lebih komprehensif dan berdampak.

    Menciptakan Sistem Pangan Sirkular
    Pelaku bisnis dapat memperoleh manfaat dari pengurangan limbah makanan secara ekonomi, sosial, dan, dalam skala yang lebih luas, lingkungan.

    Terinspirasi oleh upaya keberlanjutan Patagonia, Proyek Tim Mitchell Center di University of Maine melakukan proyek penelitian yang berupaya memberdayakan bisnis untuk mengadopsi praktik pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan.

    Baca: Dampak limbah makanan pada lingkungan

    Studi ini dilakukan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan dari berbagai industri terkait pangan di Maine, mulai dari toko kelontong dan pertanian hingga restoran dan rumah sakit.

    Tujuan proyek ini adalah untuk menentukan seberapa mudah perubahan ini dapat diadaptasi agar sesuai dengan gaya hidup masing-masing konsumen.

    Dengan menggunakan pendekatan tiga tujuan utama, bisnis didorong untuk memprioritaskan keuntungan moneter mereka secara seimbang dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial mereka.

    Mereka merekomendasikan perubahan sistem pangan dari sistem linier menjadi sistem sirkular. Dalam sistem linier, terdapat hubungan sederhana antara produksi dan konsumsi, yang menghasilkan limbah.

    Namun, dengan ekonomi sirkular, tujuannya adalah mendaur ulang limbah menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan produk baru.

    Sampah makanan bukan hanya masalah perusahaan; individu juga bertanggung jawab, karena limbah rumah tangga menyumbang 37 persen dari total sampah global. Untuk membuat perbedaan nyata, masyarakat perlu mengubah kebiasaan dan pola pikir kita.

    Baca: Cara kota-kota di Eropa menangani limbah makanan

    Cara sederhana untuk mengurangi limbah makanan di rumah adalah dengan menatanya. Anda dapat menata lemari es agar barang-barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat berada di depan dan di tengah.

    Mencatat inventaris makanan dan tanggal kedaluwarsanya secara berkala juga dapat membantu mencegah pembelian berlebihan dan makanan yang terlupakan.

    Meskipun ini mungkin tampak memakan waktu, sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa kebiasaan kecil ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan, baik dari segi makanan maupun uang.

    Kita juga perlu mengubah persepsi tentang makanan. Alih-alih memasak apa pun yang kita inginkan, kita harus membuat keputusan menu berdasarkan apa yang perlu digunakan terlebih dahulu.

    Lebih lanjut, meneliti resep yang menggunakan sisa makanan adalah cara yang bagus untuk menjadi lebih kreatif.

    Misalnya, meningkatkan tingkat pengomposan secara global dapat menghasilkan penghematan karbon yang setara dengan menghilangkan sekitar 15 juta kendaraan penumpang dari jalan raya selama tiga dekade.

    Baca: Yang bisa dilakukan untuk kurangi sampah makanan

  • Penerapan Ekonomi Sirkular untuk Mengurangi Limbah Makanan

    Penerapan Ekonomi Sirkular untuk Mengurangi Limbah Makanan

    7cloud.asia – Pelaku usaha dapat memetik manfaat dari pengurangan limbah makanan baik secara ekonomi, sosial, dan dalam skala yang lebih luas, memetik manfaat untuk lingkungan.

    Terinspirasi oleh upaya keberlanjutan Patagonia, Tim Proyek Mitchell Center di University of Maine, AS melakukan penelitian yang bertujuan untuk memberdayakan pelaku bisnis agar mengadopsi praktik pengelolaan pangan yang lebih berkelanjutan.

    Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan dari berbagai industri terkait pangan di Maine, mulai dari toko kelontong dan pertanian hingga restoran dan rumah sakit.

    Dilansir Earth.org, tujuan proyek ini adalah untuk menentukan seberapa mudah perubahan ini dapat diadaptasi agar sesuai dengan gaya hidup masing-masing konsumen.

    Dengan menggunakan pendekatan tiga tujuan utama, sektor bisnis didorong untuk memprioritaskan keuntungan finansial mereka secara seimbang dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial mereka.

    Peneliti merekomendasikan perubahan sistem pangan dari sistem linier menjadi sistem sirkular. Dalam sistem linier, terdapat hubungan sederhana antara produksi dan konsumsi, yang menghasilkan limbah.

    Baca: Opsi untuk mengatasi limbah makanan

    Sementara, dalam ekonomi sirkular, tujuannya adalah mendaur ulang limbah termasuk limbah makanan menjadi sumber daya yang dapat digunakan untuk menciptakan produk baru.

    Berikut enam solusi dikembangkan untuk penerapan ekonomi sirkular di sektor pangan melalui kolaborasi pemangku kepentingan, yang masing-masing berfokus pada pengurangan, pemulihan, atau daur ulang:

    1. Mengukur dan melacak semua stok makanan
    Pelaku usaha didorong untuk menggunakan teknologi pelacakan limbah makanan yang sudah ada. Sistem ini dapat membantu pelaku usaha menyadari uang yang mereka buang untuk limbah makanan yang tidak pernah sampai ke konsumen.

    2. Menciptakan sistem “Penyelamatan Makanan”
    Solusi ini memanfaatkan sistem berbasis web yang mencocokkan makanan yang tersedia secara lokal dengan kebutuhan pangan lokal dan para relawan untuk menyalurkan makanan tersebut kepada mereka yang paling membutuhkan.

    3. Edukasi limbah konsumen dan produsen di seluruh negara bagian
    Edukasi dan kesadaran konsumen tentang sistem pangan dan limbah didorong. Hal ini membantu masyarakat melihat nilai sebenarnya dari makanan yang mereka beli.

    Menerapkan program edukasi di sekolah juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengedukasi masyarakat.

    Baca: Limbah makanan jadi ancaman serius untuk lingkungan

    4. Membangun infrastruktur penanganan dan pemrosesan makanan
    Solusi ini berfokus pada “mendaur ulang” makanan yang sudah ada dalam sistem, misalnya mengubah tomat menjadi saus tomat dan meningkatkan permintaan dalam pengalengan dan pemrosesan makanan untuk penyimpanan jangka panjang.

    Tujuannya adalah untuk menghubungkan anggota kunci sistem pangan dan menciptakan sinergi di antara para pemangku kepentingan dalam penanganan dan pengolahan.

    Adapun isu-isu utama yang perlu ditangani adalah ketersediaan transportasi, keterbatasan penyimpanan, dan pembatasan terkait donasi makanan.

    5. Mengedukasi produsen tentang keuntungan donasi
    Tujuan utamanya adalah mengedukasi para pemangku kepentingan tentang insentif donasi makanan, perlindungan hukum, dan memberikan panduan kepada instansi pemerintah terkait.

    6. Alternatif Pengomposan
    Solusi ini bertujuan untuk meningkatkan pilihan pengomposan dan alternatif lain selain pembuangan makanan di tempat pembuangan akhir (TPA).

    Mengembangkan praktik di seluruh negara bagian untuk mengalihkan sampah makanan dari TPA dapat menghasilkan penghematan biaya yang sangat besar.

    Baca: Kota di Eropa dorong warganya pelihara ayam untuk atasi limbah makanan rumah tangga

     

     

  • Mengurangi Limbah Makanan di Tingkat Produsen: Penanganan Pascapanen hingga Mendonasikan Makanan Berlebih

    Mengurangi Limbah Makanan di Tingkat Produsen: Penanganan Pascapanen hingga Mendonasikan Makanan Berlebih

    7cloud.asia – Untuk mengurangi dampak lingkungan akibat limbah makanan, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) merekomendasikan agar produsen dan petani mempertimbangkan transisi ke tanaman yang lebih berkelanjutan.

    IPCC percaya bahwa mengubah apa yang dimakan dan ditanam masyarakat sangat penting untuk meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

    Dilansir Earth.org, cara ini dapat dicapai dengan menanam tanaman yang mudah dirawat, tahan terhadap cuaca ekstrem, dan dapat diintegrasikan ke dalam padang rumput dan lahan pertanian.

    Tanaman yang “tahan iklim” ini merupakan bagian penting dalam menciptakan sistem pangan yang lebih berkelanjutan yang dapat bertahan menghadapi tantangan perubahan iklim.

    Adapun cara lain mengurangi limbah pangan di tingkat produsen, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) merekomendasikan solusi berikut bagi produsen dan petani:

    1. Penyimpanan di lahan pertanian
    Penyimpanan di lahan pertanian merupakan cara yang efektif untuk mengurangi kehilangan produksi pascapanen. Petani harus memiliki tempat penyimpanan yang efektif, aman, dan mudah diakses untuk produk mereka.

    Beberapa negara mungkin menawarkan program pinjaman fasilitas penyimpanan pertanian yang menyediakan pembiayaan berbunga rendah untuk membantu produsen membangun atau meningkatkan tempat penyimpanan.

    Baca: Sistem pangan sirkular untuk mengurangi limbah makanan

    2. Produk bernilai tambah
    Di sinilah petani dapat meningkatkan nilai produk dengan mendaur ulangnya menjadi produk lain. Potensi pengurangan limbah makanan dapat terwujud jika masyarakat menciptakan produk bernilai tambah.

    Contoh yang baik adalah membudidayakan larva lalat tentara hitam untuk mengubah limbah organik menjadi protein serangga, minyak, dan kotoran hewan yang berkelanjutan. Cara ini dapat menghilangkan atau mengurangi emisi pertanian.

    3. Pasar sekunder yang menyediakan layanan pengiriman
    Semakin banyak bisnis yang menawarkan kotak produk makanan mingguan atau dua bulanan yang bersumber langsung dari petani. Petani dapat berkolaborasi langsung dengan pasar-pasar ini untuk mengendalikan produksi pangan mereka secara efektif.

    4. Donasi
    Donasi dari petani dapat membantu menyediakan produk segar bagi individu jika mereka memiliki akses terbatas.

    Di Amerika Serikat telah ada undang-undang dan program yang dibuat untuk memudahkan donasi — perlindungan kewajiban, manfaat pajak, biaya pemetikan dan pengemasan, pengumpulan sisa makanan, dll.

    Baca: Limbah makanan jadi masalah serius untuk lingkungan

    5. Memberi makan hewan
    Menggunakan sisa makanan sebagai pakan ternak adalah praktik yang telah berusia berabad-abad dan merupakan cara mudah untuk mengurangi limbah makanan.

    Namun, karena hewan-hewan ini—terutama sapi—menghasilkan metana, metode yang lebih baik untuk mendaur ulang limbah, seperti budidaya serangga, perlu diterapkan.

    Mengalihkan surplus makanan
    Cara yang tak kalah penting dalam mengurangi limbah makanan adalah mengalihkan surplus makanan dan edukasi pelaku bisnis restoran. Sektor ini menyumbang 28 persen dari seluruh makanan yang terbuang secara global.

    Terkait hal ini, dibutuhkan advokasi kebijakan yang membatasi limbah dan mengalihkan surplus makanan ke tempat yang paling membutuhkan, misalnya melalui program pemulihan makanan yang disumbangkan ke tempat penampungan.

    Pengecer juga dapat melakukan berbagai perubahan untuk mengurangi limbah mereka, termasuk memperbarui perangkat keras mereka dengan teknologi terkini, memprioritaskan keberlanjutan jangka panjang daripada pengembalian jangka pendek.

    Pengecer juga dapat memodifikasi kebijakan internal, dan memastikan semua makanan—bahkan produk yang “tidak sehat”—diterima untuk dijual.

    Baca: Penerapan ekonomi sirkular untuk mengurangi limbah makanan

    Supermarket, khususnya, memainkan peran penting karena dapat memberikan edukasi, inspirasi, dan saran kepada pelanggan mereka. Konsumen sering kali meminta panduan kepada mereka tentang cara mengatasi limbah makanan di rumah.

    Pengecer dapat membuat kampanye dan menyediakan literatur, seperti majalah dan program keanggotaan, yang menawarkan kiat-kiat tentang pencegahan limbah makanan dan resep yang memanfaatkan sisa makanan.

    Contoh suksesnya adalah meningkatnya jumlah inisiatif “sayuran unik” yang diterapkan supermarket dalam beberapa tahun terakhir.

    Program-program ini mendorong konsumen untuk membeli makanan yang tidak memenuhi kriteria estetika yang ketat, memasarkannya dengan cara yang menarik.

    Misalnya, pada tahun 2021, program limbah makanan Perfectly Imperfect dari Tesco dilaporkan berhasil menyelamatkan setidaknya 50 juta bungkus buah dan sayuran dari pembuangan.

  • Fakta Mengejutkan Soal Limbah Makanan

    Fakta Mengejutkan Soal Limbah Makanan

    7cloud.asia – Skala pemborosan makanan global sangat mencengangkan. Dan, tanpa disadari limbah makanan telah memicu krisis tersembunyi yang merugikan dunia triliunan dolar setiap tahunnya, sekaligus memicu darurat iklim.

    Untuk merayakan Hari Pangan Sedunia 2025, Earth.Org telah mengumpulkan sejumlah fakta penting yang mengungkap biaya tersembunyi dari kebiasaan membuang makanan yang memicu limbah makanan.

    Dalam tulisan ini, Earth.org juga menggarisbawahi mengapa mengatasi pemborosan makanan penting untuk masa depan yang berkelanjutan.

    Berikut sejumlah fakta mengenai limbah makanan yang perlu mendapat perhatian publik:
    1. Setiap tahun, sekitar 25-30 persen dari seluruh makanan yang diproduksi di seluruh dunia – sekitar 1,6 miliar ton – terbuang. Jumlah ini setara dengan satu miliar makanan per hari, menurut PBB.

    2. Dari total makanan yang terbuang pada tahun 2022 – sekitar 1,05 miliar ton – rumah tangga bertanggung jawab atas 631 juta ton (60 persen), sektor jasa makanan sebesar 290 juta ton, dan sektor ritel sebesar 131 juta ton.

    3. Rumah tangga membuang lebih dari 1 miliar makanan layak makan setiap hari. Ini setara dengan sekitar 1,3 makanan setiap hari untuk setiap orang di dunia yang menghadapi kelaparan.

    4. Pada tahun 2019, AS menghasilkan 66 juta ton makanan terbuang di sektor ritel makanan, jasa boga, dan perumahan. Jumlah tersebut hampir 40 persen dari seluruh pasokan pangan negara tersebut.

    Sekitar 60 persen dari limbah makanan ini dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA).

    5. Pertanian merupakan sektor yang mengonsumsi air dalam jumlah besar, menyumbang hampir 92 persen dari jejak air global.

    Data PBB menunjukkan bahwa air yang digunakan untuk memproduksi makanan terbuang mencapai 24 persen dari total volume air yang digunakan untuk produksi.

    6. Dengan mempertimbangkan semua sumber daya yang digunakan untuk menanam pangan, para ilmuwan telah menghitung bahwa limbah makanan di AS menghabiskan hingga 21 persen air tawar, 19 persen pupuk, 18 persen lahan pertanian, dan 21 persen volume TPA.

    7. Makanan yang terbuang saat ini di Eropa dapat memberi makan 200 juta orang, di Amerika Latin 300 juta orang, dan di Afrika 300 juta orang.

    8. Negara maju dan negara berkembang membuang atau kehilangan makanan dalam jumlah yang hampir sama setiap tahun, masing-masing sebesar 670 dan 630 juta ton.

    9. Negara-negara berpenghasilan tinggi, menengah ke atas, dan menengah ke bawah hanya berbeda dalam tingkat rata-rata pemborosan makanan rumah tangga yang diamati, yaitu hanya 7 kilogram per kapita per tahun.

    10. Jika dipecah berdasarkan kelompok makanan, kehilangan dan pemborosan per tahun adalah sekitar 30 persen untuk sereal, 40-50 persen untuk tanaman umbi-umbian, buah-buahan, dan sayur-sayuran, 20 persen untuk biji minyak, daging, dan susu, serta 35 persen untuk ikan.

    11. Meskipun diperkirakan 735 juta orang di dunia mengalami kelaparan, kehilangan dan pemborosan pangan menghasilkan 8-10 persen emisi gas rumah kaca global – hampir lima kali lipat total emisi dari sektor penerbangan.

    Jika kehilangan pangan diibaratkan sebuah negara, negara tersebut akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca terbesar ketiga, setelah Tiongkok dan AS.

    12. Untuk memenuhi kebutuhan pangan global, pada tahun 2050, produksi pangan harus meningkat sebesar 70 persen dari tingkat saat ini.

    Produksi sereal tahunan perlu meningkat menjadi sekitar 3 miliar ton dari 2,1 miliar ton saat ini, dan produksi daging tahunan perlu meningkat lebih dari 200 juta ton untuk mencapai 470 juta ton.

    13. Kehilangan pangan mengakibatkan hilangnya pendapatan bagi petani dan harga yang lebih tinggi bagi konsumen, sehingga memberikan kita insentif ekonomi untuk mengurangi pemborosan pangan.

  • Banyak Makanan Terbuang, MBG Menambah Persoalan Lingkungan

    Banyak Makanan Terbuang, MBG Menambah Persoalan Lingkungan

    7cloud.asia – Selain masalah keracunan dan beban anggaran, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menyisakan persoalan lain, yakni food waste atau limbah makanan.

    Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan limbah makanan dari program MBG mencapai 1,1-1,4 juta ton per tahun.

    Ironisnya, dari jumlah tersebut, 451-603 ribu ton di antaranya merupakan edible food atau makanan yang sebenarnya masih bisa dikonsumsi.

    Mengapa MBG banyak terbuang? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis bersama tim dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) melakukan penelitian di 10 sekolah wilayah Kota Bandung dan dan Kabupaten Bandung Barat.

    Penelitian difokuskan untuk menelusuri penyebab tingginya limbah makanan akibat program MBG. Riset kami (belum dipublikasikan) menemukan setidaknya tiga persoalan:

    1. Preferensi makanan
    Perbedaan preferensi makanan menjadi salah satu penyebab utama anak-anak tidak menghabiskan makanan mereka.

    Beberapa menu makanan dalam program MBG kurang disukai anak-anak. Misalnya, sayur-sayuran, telur rebus, buah bertekstur basah (seperti semangka) atau makanan dengan bumbu ringan dan kadar garam rendah.

    Meski sehat, menu yang disajikan ini tidak menggugah selera sebagian siswa. Ketidaksesuaian menu dengan selera anak membuat makanan yang disajikan berakhir di tempat sampah.

    Baca: Kawula muda menilai MBG bukan jawaban atas masalah pendidikan layak

    “Kadang anak-anak tidak mau makan kalau menunya selalu sama, sehingga imbasnya kan mubazir ya. Terkadang kita bingung juga, karena ini kan uang negara, uang rakyat tapi dihambur-hamburkan begini. Kalau bisa ya ini diefektifkan, jadi sebisa mungkin menu diperhatikan, sehingga anak lebih semangat makannya.” (Salah satu guru di SMA Kota Bandung).

    2. Kesegaran makanan
    Persoalan lain adalah kesegaran makanan. Kami menemukan sayur dan buah merupakan makanan yang paling sering berubah tekstur, bau, dan warna ketika hendak disantap anak-anak saat jam makan siang.

    Masalah ini terjadi karena makanan disimpan terlalu lama dan tidak sempat didinginkan setelah dimasak, karena harus segera didistribusian ke sekolah-sekolah. Waktu pengiriman yang cukup lama juga memengaruhi suhu makanan, sehingga kesegarannya menurun.

    Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus memasak 2.000 – 3.000 porsi setiap hari, lalu mendistribusikannya ke beberapa sekolah dalam radius sekitar lima kilometer dari dapur.

    Untuk memproduksi makanan dalam skala besar seperti ini, menjaga kebersihan, mutu, dan konsistensi setiap makanan bakal sulit.

    3. Sistem pengelolaan sampah
    Sisa makanan yang terbuang juga belum dikelola dengan baik. Beberapa sekolah ada yang berinisiatif mengelola sampah sendiri.

    Dari sepuluh sekolah yang kami datangi, dua di antaranya berkolaborasi dengan jaringan peternak maggot dan peternak lokal lainnya agar sisa makanan bisa dijadikan pakan ternak.

    Namun, secara umum, sejak awal memang belum ada antisipasi sistem pengelolaan sampah sisa makanan dalam desain program MBG. Akibatnya, program ini justru menambah beban sampah di sekolah dan lingkungan sekitar.

    Baca: Keracunan akibat program MBG terus terjadi

    Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024 mencatat, total sampah yang dihasilkan di 321 Kabupaten/Kota di Indonesia sudah mencapai kurang lebih 35 juta ton.

    Dari jumlah tersebut, tercatat komposisi sampah dari sisa makanan yang paling banyak, mencapai 39-40 persen selama lima tahun terakhir. Padahal di sisi lain, masih banyak masyarakat miskin yang kekurangan makanan.

    Strategi mengurangi sampah makanan
    Limbah makanan mengakibatkan dampak lingkungan yang serius. Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.

    Limbah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH₄) yang paling parah menyebabkan pemanasan global.

    Sekitar 26 persen dari total emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia berasal dari limbah makanan. Sampah dari MBG tentunya akan menambah jejak emisi yang sudah tinggi ini.

    Karena itu, perlu strategi pengelolaan sampah makanan yang sistematis untuk mengurangi sampah makanan dari Program MBG.

    Kami merekomendasikan beberapa langkah berikut:
    Evaluasi menyeluruh: Program MBG tidak bisa hanya menekankan pemenuhan gizi, tetapi juga perlu mempertimbangkan selera dan kebiasaan makan anak-anak.

    Panduan teknis dan regulasi: Perlu dokumen pedoman dan aturan teknis yang mengatur pengelolaan sisa makanan agar limbah tidak langsung dibuang, tetapi dimanfaatkan kembali.

    Kolaborasi lintas pihak: Perlu kolaborasi antara pemerintah, sekolah, pelaku usaha pangan, serta komunitas lokal untuk membangun sistem pemanfaatan limbah yang efektif dan sistematis.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Lingga Utami (PhD Student, Universitas Pendidikan Indonesia) dan Elly Malihah (Universitas Pendidikan Indonesia)

  • Jelang Hari Tanpa Limbah Dunia: PBB Serukan Pengurangan Limbah Makanan

    Jelang Hari Tanpa Limbah Dunia: PBB Serukan Pengurangan Limbah Makanan

    7cloud.asia – Peringatan Hari Tanpa Limbah Dunia tahun ini, akan difokuskan pada pengelolaan limbah makanan.

    Adapun tema ini akan diejawantahkan dengan menekankan apapun yang kita makan, apa yang kita buang, dan bagaimana dunia dapat bergerak menuju masa depan pangan yang lebih sirkular.

    Bertahun-tahun para ahli telah memperingatkan bahwa masyarakat dunia membuang limbah makanan dalam skala yang mengejutkan.

    Setiap tahun kita membuang lebih dari 1 miliar ton makanan yang sebenarnya dapat dimakan. Angka ini hampir seperlima dari seluruh makanan yang tersedia bagi konsumen.

    Dilansir di laman resmi PBB, un.org, kondisi ini selanjutnya akan berdampak pada kehidupan manusia dan juga lingkungan. Karena itu masyarakat dunia diajak untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mengelola pangan mereka.

    Baca: Fakta mengejutkan soal limbah makanan

    Sejumlah penelitian mengungkap, sekitar 60 persen limbah makanan dihasilkan di tingkat rumah tangga.

    Sisanya sebagian besar berasal dari layanan makanan dan ritel, akibat dari sistem pangan yang tidak efisien – termasuk produksi, distribusi, dan konsumsi.

    Mengatasi masalah limbah makanan ini dibutuhkan perancangan ulang sistem pangan global. Di mana perlu dilakukan transisi ke pendekatan sirkular yang lebih berkelanjutan yang didasarkan pada efisiensi, ketahanan, dan keberlanjutan.

    Agar transisi ini berhasil, semua pihak memiliki peran untuk dimainkan. Pemerintah –baik nasional maupun lokal– dapat mengintegrasikan pencegahan limbah makanan ke dalam strategi tanpa limbah, iklim, dan keanekaragaman hayati.

    Mereka dapat menetapkan target yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 12.3 dan 11.6, memperkuat sistem data dan pendidikan, serta berinvestasi dalam infrastruktur dan kemitraan yang mendukung sistem pangan sirkular.

    Baca: Penerapan ekonomi sirkular untuk kurangi limbah makanan

    Sektor swasta dapat mulai mengukur kehilangan dan pemborosan makanan, dan mengambil langkah-langkah untuk menguranginya.

    Langkah ini termasuk meningkatkan pelaporan pemborosan makanan publik, efisiensi rantai pasokan, mendesain ulang produk dan praktik ritel, dan mendistribusikan kembali surplus makanan melalui model bisnis sirkular yang transparan dan adil.

    Sementara konsumen dapat merencanakan makanan mereka, berbelanja dengan bijak, menyimpan makanan dengan benar, dan memanfaatkan sepenuhnya makanan yang mereka beli dengan berbagi dengan tetangga, menggunakan kembali sisa makanan, dan mengomposkan limbah organik yang tidak dapat dihindari.

    Masa depan tanpa limbah dimungkinkan ketika semua pihak bekerja sama. Lakukan bagian Anda dengan mengonsumsi secara bijak, memulihkan surplus makanan, dan berupaya membangun sistem pangan sirkular.

    “Mari kita pastikan makanan kita dihargai, bukan disia-siakan,“ demikian pernyataan resmi PBB

    Baca: Limbah makanan jadi masalah serius bagi lingkungan

  • Hari Tanpa Sampah Sedunia: Warga Dunia Diajak Kurangi Produksi Limbah Makanan

    Hari Tanpa Sampah Sedunia: Warga Dunia Diajak Kurangi Produksi Limbah Makanan

    7cloud.asia – Memperingati Hari Tanpa Sampah Sedunia (Zero Waste Day), Program Lingkungan PBB (UNEP) menyerukan warga dunia untuk mengurangi limbah makanan.

    Dilansir di laman resmi unep.org, Direktur Eksekutif UNEP, Inge Andersen mengatakan, Hari Tanpa Sampah Sedunia pertama kali diperingati tiga tahun lalu, dan difasilitasi oleh UNEP dan UN Habitat.

    Dalam perjalanannya, Hari Tanpa Sampah Sedunia telah mengedepankan aksi berani dalam memikirkan kembali bagaimana kita memproduksi, mengonsumsi, dan mengelola sumber daya yang ada.

    Dalam kesempatan itu, Inge menegaskan bahwa peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia tahun ini diperingati di tengah krisis yang mendesak dan dapat dicegah, yakni pemborosan yang memicu limbah makanan.

    Pada tahun 2022 saja, satu miliar ton makanan –hampir 20 persen dari makanan yang tersedia untuk pengecer, layanan makanan, dan rumah tangga – dibuang.

    “Ini di atas 13 persen makanan yang hilang sebelum sampai ke pengecer. Sementara itu, ratusan juta orang menghadapi kelaparan,” ujar Inge dalam sambutannya di peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia.

    Baca: Studi mengungkap kurangi limbah makanan efektif menahan laju krisis iklim

    Konsekuensi limbah makanan ini sangat luas. Kehilangan dan pemborosan makanan menghasilkan 8-10 persen emisi gas rumah kaca global.

    Pemborosan ini merupakan sumber emisi metana, sebagian besar berasal dari sampah organik yang membusuk di tempat pembuangan sampah.

    Ditegaskannya, metana lebih dari 80 kali lebih kuat daripada CO₂ dalam jangka pendek. Mengurangi emisi dari limbah makanan, ujar Inge, akan memperlambat laju pemanasan global pada pertengahan abad ini.

    Dia mengingatkan, jika kita tidak membuang dan kehilangan makanan dari pertanian hingga ke meja makan, kita tidak akan membuang semua input – tanah, air, energi, dan upaya para petani.

    peringatan Hari Tanpa Sampah Sedunia ini berlangsung di tengah percepatan perubahan iklim, meningkatnya deforestasi, kelangkaan air, meluasnya degradasi lahan dan penggurunan, serta kenaikan harga pangan.

    Karena itu, masyarakat dunia diingatkan untuk tidak membuang sumber daya berharga untuk menanam makanan yang tidak dimakan.

    Baca: UNEP luncurkan inisiatif untuk kurangi limbah makanan

    “Dan kita tentu tidak mampu menanggung kerugian sebesar 1 triliun dolar per tahun yang ditimbulkan oleh kehilangan dan pemborosan makanan bagi perekonomian global,” imbuhnya.

    Inge menegaskan kehilangan dan pemborosan akibat sampah makanan ini dapat diatasi. Jepang dan Inggris telah menunjukkan hal ini, dengan mengurangi pemborosan makanan masing-masing sebesar 53 persen dan 22 persen.

    Untuk mencapai dan melampaui tingkat tersebut di setiap negara, ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh pemerintah nasional, pemerintah daerah, dan bisnis makanan.

    Inge menyebut beberapa langkah yang bisa dilakukan, seperti kampanye perubahan perilaku konsumen, dan program literasi pangan di sekolah-sekolah.

    Keterlibatan sektor ritel dan perhotelan dapat ditingkatkan melalui pemberian diskon pada produk yang mendekati tanggal kedaluwarsa, peningkatan manajemen stok, dan penawaran makan tanpa limbah.

    Baca: Limbah makanan dapat memicu masalah serius pada lingkungan

    Reformasi label tanggal untuk mengurangi kebingungan antara label “baik sebelum” dan “gunakan sebelum”. Alat digital dan sistem data yang membantu bisnis memprediksi permintaan dan mengoptimalkan inventaris.

    Program Food Waste Breakthrough yang dipimpin UNEP, bersama Brasil, Jepang, dan Inggris, lanjutnya, bertujuan untuk mengurangi separuh limbah makanan dan memangkas emisi metana hingga 7 persen.

    Program Food Waste Breakthrough ini berfokus pada banyak langkah tersebut di kota-kota dan bisnis makanan.

    Memperluas kemitraan dengan bank makanan, badan amal, dan organisasi komunitas dapat secara signifikan mengurangi limbah dan memberi makan mereka yang membutuhkan adalah cara lain untuk mengurangi sampah makanan.

    Pemerintah dapat mendukung upaya tersebut melalui perlindungan tanggung jawab, insentif fiskal, dan pedoman donasi makanan yang jelas. Bisnis dapat membangun kemitraan donasi terstruktur untuk memastikan redistribusi makanan berlebih yang aman dan efisien.