Tag: Rendah Emisi

  • Kawasan Malioboro Bakal Dijadikan Kawasan Rendah Emisi, Ini Pendapat Warga Kota Yogyakarta

    Kawasan Malioboro Bakal Dijadikan Kawasan Rendah Emisi, Ini Pendapat Warga Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – Kawasan Maliboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta akan segera diubah menjadi zona rendah emisi alias low emission zone (LEZ).

    Untuk menjadikan zona rendah emisi ini, Kawasan Malioboro yang berada di jantung Kota Yogyakarta akan ditata ulang, salah satunya adalah dengan membongkar Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dan menjadikannya ruang terbuka hijau.

    Dilansir harianjogja.com, Taman Parkir ABA dianggap tidak mendukung program Malioboro menjadi zona rendah emisi karena letaknya segaris lurus dengan Sumbu Filosofi yang menjadi acuan penataan Kota Yogyakarta.

    Dalam jangka panjang, kawasan yang berada di sepanjang sumbu filosofi Yogyakarta juga akan diubah menjadi zona rendah emisi.

    Baca: Masih banyak yang belum tahu Malioboro adalah kawasan bebas rokok

    Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mengantisipasi relokasi Taman Parkir ABA ini dengan menyiapkan taman parkir lain.

    Plt Kepala Dishub DIY Sumariyoto, Senin (31/7/2023) mengatakan, program Malioboro rendah emisi akan mulai diterapkan pada 2025 mendatang, sedangkan relokasi Taman Parkir ABA sudah mulai dilakukan.

    Sumariyoto menyebut rencananya Taman Parkir ABA akan direlokasi ke area Eks-UPN yang berada di Ketandan.

    “Rencananya di area eks-UPN, tapi belum final masih dilakukan kajian,” ujarnya.

    Baca: Makna sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta

    Tak hanya merelokasi Taman Parkir ABA, untuk menjadikan Malioboro jadi kawasan rendah emisi kendaraan beremisi juga tidak boleh lewat di sana..

    “Tidak boleh karena prinsipnya untuk menjaga lingkungan Malioboro Jogja agar rendah emisi, udaranya bersih,” ucapnya.

    Dalam penataan ulang Malioboro sebagai zona rendah emisi, selain merelokasi Taman Parkir ABA, menurut Sumariyoto, Pemda DIY juga akan memindahkan Gedung DPRD DIY pada 2025 mendatang.

    “Jalan-jalan sirip di Malioboro juga akan ditata supaya rendah emisi,” katanya.

    Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta

    Upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi ini mendapat respon positif dari warga Yogyakarta. Namun mereka memberikan catatan.

    Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc  mengatakan langkah tersebut akan meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung Malioboro.

    Dan, dalam jangka panjang kondisi ini akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan Malioboro.

    Berbagai langkah telah dilakukan untuk secara bertahap untuk menurunkan emisi di Malioboro.

    “Upaya ini antara lain mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan ini dan memberikan ruang sepenuhnya untuk pejalan kaki dan pesepeda,” ujarnya dalam pesan tertulis kepada 7cloud.asia.

    Saat ini, lanjut Iwan, Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala setiap hari antara pukul 18:00 hingga pukul 21:00 WIB. Malioboro juga ditutup pada saat jam-jam puncak liburan.

    Upaya memindahkan Taman Parkir Abu Bakar Ali, tambah Iwan, adalah langkah yang bisa dilakukan selanjutnya, terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi.

    Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan

    Namun demikian, Iwan meminta Pemkot Yogyakarta agar tetap memberikan ruang bagi angkutan umum guna memudahkan pengunjung yang ingin jalan-jalan ke Malioboro. 

    Dananjaya, warga Yogyakarta yang dihubungi secara terpisah sependapat dengan Iwan. Ia menilai upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi bagus tujuannya.

    Malioboro jadi kawasan rendah emisi, ujarnya, berarti prioritas untuk pejalan kaki atau kendaraan rendah emisi.

    “Sementara Malioboro adalah daerah tujuan wisata utama Yogyakarta, sehingga sarana transportasi bagi orang-orang yang akan berkunjung ke Malioboro harus dipikirkan,” ujarnya. 

    Dananjaya juga melihat adanya kurang koordinasi antar lembaga. Perencanaan yang kurang matang dan kurang terkonsep dengan baik membuat pembangunannya terkesan tumpang tindih.

    “Infrastruktur pendukungnya belum disiapkan dengan matang, jadi kesannya itu nggak terkonsep dengan baik dan tumpang tindih kegiatan antara satu pihak dengan pihak lain,” ujarnya kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon.

    Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

     

     

  • Kaca Rendah Emisi: Wujud Desain Biofilik dalam Mewujudkan Bangunan Ramah Lingkungan

    Kaca Rendah Emisi: Wujud Desain Biofilik dalam Mewujudkan Bangunan Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Kaca rendah emisi saat ini telah menjadi hal mendasar dalam desain berkelanjutan yang canggih karena menawarkan manfaat penghematan energi yang kuat tanpa mengorbankan cahaya alami.

    Hal ini karena kaca rendah emisi meminimalkan perpindahan panas dan mengurangi silau sehingga membantu menciptakan lingkungan dalam ruangan yang nyaman dan efisien yang mendukung tujuan desain yang ramah lingkungan.

    Pelapis kaca rendah emisi tersedia dalam dua jenis utama, yaitu lapisan lembut dan lapisan keras. Masing-masing lapisan ini menawarkan manfaat unik untuk kinerja energi dalam sebuah bangunan.

    Kaca rendah emisi lapisan lembut memberikan insulasi yang sangat baik dengan memantulkan energi inframerah, sehingga ideal untuk menahan panas dalam ruangan di iklim yang lebih sejuk.

    Kaca ini bekerja paling optimal pada jendela ganda atau multipanel karena lebih halus dibandingkan kaca rendah emisi lapisan keras, yang menyatu selama pembuatan.

    Baca: Bangunan hijau untuk atasi panas perkotaan

    Proses ini menciptakan permukaan yang lebih tahan lama yang cocok untuk jendela satu panel, meskipun kaca lapisan keras tidak memberikan insulasi seefektif alternatif lapisan lunak.

    Lapisan selektif spektral menambah keserbagunaan dengan menyaring panas yang dihasilkan sinar inframerah sekaligus membiarkan cahaya tampak melewatinya. Pelapis ini sangat berharga di iklim hangat.

    Di wilayah banyak sinar matahari kaca jenis ini membantu mengurangi biaya pendinginan dengan menjaga interior tetap terang tanpa penambahan panas, menjadikan kaca rendah emisi sebagai komponen kunci dalam bangunan yang hemat energi dan nyaman sepanjang tahun.

    Kenyamanan termal dan visual
    Kaca rendah emisi juga memungkinkan cahaya alami masuk sekaligus menghalangi panas yang tidak diinginkan, membantu menjaga kestabilan selubung termal.

    Jendela tradisional dapat menyebabkan hilangnya energi dalam jumlah besar, dengan 25 hingga 30 persen penggunaan di perumahan, dan sekitar 30 peren di bangunan komersial berasal dari panas yang melewati jendela.

    Baca: Kota-kota di dunia berbenah untuk atasi kenaikan udara panas

    Kaca rendah emisi mengurangi kehilangan ini dengan memantulkan energi inframerah. Hal ini membuat interior tetap sejuk selama bulan-bulan panas, tetapi tetap hangat di musim dingin, sehingga mengurangi ketergantungan pada sistem pemanas dan pendingin.

    Kontrol selektif terhadap panas dan cahaya ini memungkinkan ruangan terang dan terang secara alami tanpa biaya tambahan.

    Aplikasi Integratif
    Menggunakan kaca rendah emisi dengan desain surya pasif dan peneduh dinamis mengoptimalkan manajemen energi.

    Metode tenaga surya pasif berfokus pada orientasi strategis dan perancangan struktur untuk memanfaatkan sinar matahari untuk pemanasan alami di musim dingin. Sebaliknya, sistem ini menghalangi sinar matahari musim panas yang terik untuk menjaga interior tetap sejuk.

    Ketika dipadukan dengan solusi peneduh dinamis –seperti tirai otomatis atau peneduh eksterior– bangunan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi cahaya sepanjang hari.

    Kombinasi cerdas ini mengurangi konsumsi energi dan memaksimalkan cahaya alami, menjadikan interior cerah dan menarik sekaligus mengurangi kebutuhan pemanasan dan pendinginan buatan.

  • Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    Desain Biofilik: Salah Satu Jalan Menuju Kota Rendah Emisi

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau rendah emisi.

    Pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu juga meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Ini karena desain biofilik menghubungkan manusia sebagai penghuni kota/bangunan dengan alam, sekaligus mengoptimalkan cahaya dan meningkatkan kualitas udara sekaligus mengurangi penggunaan energi.

    Desain biofilik yang berkelanjutan dan canggih dapat mengurangi konsumsi material berdampak tinggi seperti kaca dengan emisivitas rendah (Low-E), isolasi berkinerja tinggi, dan sistem ramah lingkungan.

    Fitur-fitur ini menjadikannya penting untuk proyek-proyek sadar iklim. Berinvestasi dalam strategi ramah lingkungan ini akan mendorong masa depan yang lebih harmonis bagi manusia dan planet ini.

    Baca: Desain Biofilik menghadirkan alam ke dalam bangunan

    Banyak pakar menyebut desain biofilik merupakan tahap tingkat lanjut dalam arsitektur modern.

    Desain biofilik berkembang jauh melampaui penambahan penghijauan pada lanskap perkotaan. Arsitek masa kini menciptakan ekosistem di dalam bangunan untuk membantu menumbuhkan manfaat penting alam di kawasan perkotaan yang padat.

    Para ahli percaya peralihan ke arsitektur biofilik dapat mendorong keberlanjutan dengan memasukkan proses alami ke dalam ruang sehari-hari, membantu mengatasi tantangan perkotaan seperti kelangkaan sumber daya dan terbatasnya akses ke kawasan hijau.

    Melalui fitur-fitur inovatif seperti dinding hidup yang sarat tanaman, taman di puncak gedung, ataupun koridor hijau, desain biofilik menghubungkan kembali manusia dengan alam.

    Hal ini menciptakan ekosistem perkotaan yang mendukung keanekaragaman hayati, mengelola air hujan, dan meningkatkan kualitas udara.

    Baca: Beda desain biofilik dan desain ramah lingkungan

    Pendekatan ini memposisikan bangunan sebagai kontributor aktif terhadap keberlanjutan perkotaan, membawa sistem alam ke dalam ruang yang sering kali terlewatkan.

    Sinergi antara biomimikri dan biofilia mendorong transformasi ini seiring dengan semakin banyaknya arsitek yang mengandalkan alam sebagai inspirasi.

    Dengan meniru proses seperti teknik pendinginan mandiri pada sarang rayap atau penangkapan energi yang efisien pada dedaunan, para arsitek dapat membuat bangunan yang mengoptimalkan penggunaan listrik dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi penghuninya.

    Desain biofilik menawarkan manfaat terukur, mulai dari peningkatan kenyamanan termal dan produktivitas hingga peningkatan kesejahteraan emosional.

    Pada ujungnya, desain biofilik akan meningkatkan tampilan ruang kota dan membangun lingkungan berkelanjutan yang mendukung planet ini dan penghuninya.

  • Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    Kiat Memadukan Desain Biofilik dengan Material Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Desain biofilik dan berkelanjutan yang canggih belakangan makin mendapat perhatian apalagi saat dunia gencar mengampanyekan kebijakan ramah lingkungan dan rendah emisi.

    Para arsitek dan pengembang makin menyadari peran desain biofilik yang menentukan dalam mencapai tujuan net-zero carbon atau bangunan rendah emisi.

    Perlu diingat, pendekatan desain biofilik lebih dari sekadar pengurangan emisi, lebih dari itu desain biofilik juga akan meningkatkan kualitas hidup sebuah kota dengan penghuninya.

    Memadukan kaca rendah emisi dan material efisien lainnya ke dalam desain biofilik dan berkelanjutan dapat mengoptimalkan konsumsi energi dan menurunkan secara signifikan dampak bangunan pada lingkungan.

    Pemilihan sumber daya dan elemen desain yang cermat menciptakan ruang yang memaksimalkan cahaya alami, mengurangi kebutuhan energi, sekaligus menumbuhkan hubungan mendalam dengan lingkungan.

    Baca: Desain Biofilik membuka jalan menuju kota rendah emisi

    Para perancang dapat mengintegrasikan kaca rendah emisi dengan material ramah lingkungan lainnya ke dalam desain biofilik melalui langkah-langkah praktis berikut:

    Tentukan tujuan energi dan lingkungan:
    Tetapkan target efisiensi dan keberlanjutan yang jelas untuk memandu pilihan material dan desain berdasarkan kebutuhan proyek.

    Analisis pertimbangan iklim:
    Untuk mengoptimalkan retensi atau pantulan panas, pilih jenis kaca rendah emisi yang sesuai berdasarkan kondisi iklim setempat.

    Misalnya, kaca lembaran menutupi lebih dari 50 persen luas permukaan eksterior gedung pencakar langit modern. Namun, ia menghantarkan panas dengan cepat dan menghasilkan konsumsi yang lebih tinggi.

    Berkonsultasi dengan pakar keberlanjutan:
    Libatkan konsultan untuk melakukan penilaian siklus hidup, untuk memastikan material memiliki kandungan karbon yang rendah dan EPD yang tinggi.

    Baca: Mengenal lebih dekat konsep desain biofilik

    Mengarahkan bangunan untuk mendapatkan manfaat sinar matahari:
    Rencanakan penempatan jendela dan orientasi bangunan untuk memanfaatkan pemanasan matahari pasif di bulan-bulan dingin dan menghindari perolehan panas berlebih di bulan-bulan hangat.

    Menggabungkan sistem peneduh dinamis:
    Gunakan tirai atau kisi-kisi otomatis untuk menyesuaikan peneduh dan memungkinkan cahaya alami tanpa panas berlebihan.

    Tambahkan elemen biofilik dengan cermat:
    Padukan material alami, dinding hidup, dan atap hijau untuk meningkatkan kualitas udara dalam ruangan dan membina hubungan yang lebih kuat dengan alam.

    Targetkan sertifikasi bangunan ramah lingkungan:
    Targetkan sertifikasi seperti LEED atau WELL, yang memberikan kerangka kerja untuk menggabungkan praktik berkelanjutan dan material yang efisien di seluruh proses desain.

    Langkah-langkah di atas akan dapat menciptakan struktur yang memenuhi standar kinerja dan memperkaya hubungan penghuni dengan lingkungan alam.

    Menjelajahi strategi canggih untuk menggabungkan kaca rendah emisi dan material ramah lingkungan memungkinkan para arsitek untuk mendorong batas-batas dari apa yang mungkin dilakukan dalam desain lingkungan.

    Dengan mengadopsi teknik-teknik ini, dimungkinkan untuk menciptakan kawasan yang hemat energi dan sangat terhubung dengan alam.

  • Peneliti BRIN Temukan Perekat Kayu Rendah Emisi yang Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan inovasi teknologi perekat urea-formaldehida yang rendah emisi sehingga lebih ramah lingkungan.

    Perekat rendah emisi ini dikembangkan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Muhammad Adly Rahandi Lubis.

    Inovasi tersebut dikembangkan sejak 2021 bersama mitra startup, Greenie Indonesia, melalui program kerja sama penelitian dan pengembangan perekat untuk produk panel komposit non-kayu berbasis limbah.

    Teknologi ini hadir sebagai solusi atas tingginya emisi formaldehida dari perekat konvensional yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia serta lingkungan.

    Dalam verifikasi lapangan di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (10/7/2025) lalu, Adly menyoroti bahwa inovasi ini dapat menggantikan perekat furnitur beremisi formaldehida yang berisiko terhadap kesehatan.

    “Inovasi ini kami kembangkan agar masyarakat bisa menggunakan perekat yang lebih sehat, murah, dan ramah lingkungan. Inovasi ini dikembangkan karena bahan perekat pada produk furnitur sangat rentan menimbulkan sick building syndrome,” ungkapnya.

    Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

    Sejak 2021, inovasi ini dikembangkan bersama Greenie Indonesia melalui program kerja sama penelitian dan pengembangan perekat untuk produk panel komposit yang tidak menggunakan kayu.

    Teknologi ini menawarkan solusi untuk emisi formaldehida yang tinggi dari perekat konvensional, yang merugikan lingkungan dan kesehatan manusia.

    Salah satu tujuan dari pembuatan perekat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan industri akan bahan yang ramah lingkungan, tahan air, dan berbasis biomassa lokal.

    Greenie Indonesia telah mendapatkan lisensi non-eksklusif dari 2021 hingga 2026 untuk menjadi mitra utama dalam alih teknologi perekat ini. Di bawah Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), produk berbasis teknologi ini telah dipamerkan di IFFINA Expo 2023.

    Menurut Adly, meskipun teknologi perekat ini telah dilirik oleh banyak perusahaan besar, kendala yang dihadapi masih menjadi poin penting, terutama dalam hal produksi dan pengembangan skala industri.

    “Kapasitas produksi kami saat ini masih rendah, hanya sekitar seratus kilogram per bulan. Untuk meningkatkan skala, dibutuhkan fasilitas dan modal yang besar,” ungkapnya.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Kendati demikian, dia juga menyampaikan, ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, seperti menjalin kolaborasi produksi (maklon), menerapkan konsep B2B, memperkuat branding melalui partisipasi di berbagai ekspo, serta riset pengembangan produk terus dilanjutkan agar kualitas dan keberlanjutan teknologinya tetap terjaga.

    Adly menjelaskan beragam potensi pemanfaatan dari pengembangan teknologi perekat urea-formaldehida beremisi rendah ini.

    Inovasi ini membuka peluang penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, mengurangi emisi formaldehida, serta dampak negatif pembakaran limbah.

    “Kami juga ingin memberdayakan petani non-kayu dan pengumpul sampah, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, pemuda, dan pekerja tidak terampil. Harapannya, teknologi ini bisa mendorong praktik produksi yang lebih hijau di berbagai sektor, mulai dari furnitur, F&B, hingga fesyen,” jelas Adly.

    Teknologi ini menjadi tonggak penting dalam mengurangi impor perekat industri, membuka peluang ekonomi bagi UMKM, serta menciptakan lapangan kerja baru berbasis limbah pertanian.

    Adly berharap ke depan, teknologi ini bisa memperluas jejaring lisensi dan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri furnitur hijau di Indonesia.

    Inovasi ini mengantarkan Adly menjadi calon penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia.

    Baca: KLHK ajak masyarakat tak beli produk yang mengabaikan sampah plastiknya

  • Menggagas Kemungkinan Dekarbonisasi Kendaraan Angkutan Berat

    Menggagas Kemungkinan Dekarbonisasi Kendaraan Angkutan Berat

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia terus mendorong transisi energi hijau menuju transportasi berat rendah emisi, guna mencapai target Net Zero Emission 2060.

    Dalam diskusi publik bertema “Shaping the Future of Zero-Emission Freight and Public Transport” pada Juni 2025 lalu, diluncurkan dua inisiatif strategis yaitu platform kolaboratif Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA) dan hasil studi WRI Indonesia mengenai strategi pengadaan massal bus listrik serta elektrifikasi truk logistik.

    Dalam kesempatan itu, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Republik Indonesia, Rachmat Kaimuddin, menyatakan pemerintah terus mendorong elektrifikasi kendaraan pribadi.

    Berbagai insentif diberikan untuk itu, seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), pemberian insentif Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM), dan bebas bea impor, dan penggunaannya meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

    “Tantangan berikutnya adalah dekarbonisasi kendaraan berat, atau heavy-duty vehicle. Sektor transportasi adalah kontributor CO2 terbesar kedua, sekitar 23 persen, dari total emisi CO2 energi di Indonesia, dan secara konsisten menjadi sumber utama polusi udara,” ujarnya

    Selain itu, konsumsi energinya signifikan dan sebagian besar masih bergantung pada impor bahan bakar fosil.

    Baca: Tantangan penggunaan bus listrik secara massal

    Oleh karena itu, Rahmat menekankan dekarbonisasi kendaraan berat, dalam hal ini bus dan truk, harus segera dilaksanakan untuk mengurangi emisi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

    Sementara, WRI Indonesia meluncurkan dua studi, yaitu Penilaian Kesiapan Infrastruktur dan Keungan untuk Adopsi Truk Listik di Indonesia, dan Pembangunan Kerangka Kolaborasi Nasional dan Daerah untuk Percepatan Adopsi Bus Nol Emisi melalui Metode Agregasi Permintaan.

    Dikutip dari laman resmi WRI, kedua studi ini menyoroti temuan penting mengenai pengadaan massal bus listrik dan elektrifikasi truk logistik.

    Studi WRI mengungkapkan bahwa tanpa elektrifikasi truk, target pengurangan emisi sektor transportasi hanya mencapai 71,05 persen dari yang direncanakan dalam Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon Indonesia.

    Managing Director WRI Indonesia, Arief Wijaya, mengatakan dalam usaha mendukung penurunan emisi karbon di sektor transportasi, WRI Indonesia selama satu tahun terakhir secara aktif melakukan riset terkait kendaraan berat rendah emisi, berkolaborasi dengan Kemenka Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan dan Kementrian Perhubungan.

    “Studi yang dilakukan WRI Indonesia dan LAPI ITB menunjukkan bahwa walaupun jumlah kendaraan berat hanya sekitar 3,9 persen dari total populasi kendaraan di Indonesia, sektor ini menghasilkan sekitar 35,6 persen dari total emisi karbon sektor transportasi darat,” papar Arief.

    Baca: Penataan transportasi publik penting dalam dekarbonisasi sektor transportasi

    Studi ini juga menunjukkan bahwa kendaraan diesel tidak hanya berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca, tetapi juga menghasilkan polusi udara yang berdampak pada peningkatan risiko penyakit pernapasan dan beban kesehatan masyarakat.

    Elektrifikasi truk dan bus menjadi prioritas karena dua alasan utama: Kontribusi terhadap emisi yang besar dan peluang efisiensi biaya operasional yang tinggi.

    Untuk strategi pengadaan massal bus listrik, studi ini merekomendasikan pendekatan agregasi permintaan yang mencakup lebih dari 14.000 unit dari berbagai kota di Indonesia.

    Pendekatan ini berpotensi menurunkan biaya pengadaan hingga 20 persen melalui skala ekonomi dan standardisasi spesifikasi. Sementara, untuk elektrifikasi truk logistik, studi ini menekankan pentingnya pengembangan infrastruktur pengisian daya yang memadai di koridor-koridor utama.

    Melalui Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle Summit 2025 dan peluncuran platform IFDA, Indonesia menunjukkan komitmen serius dalam membangun sistem transportasi berat nol emisi yang bersifat kolaboratif, berbasis data, dan berkeadilan.

    Indonesia Freight Decarbonization Accelerator (IFDA) merupakan platform kolaboratif yang bertujuan mempercepat adopsi truk listrik di sektor logistik, dan akan berperan sebagai wadah sinergi antara pemerintah.

    IFDA juga berperan dalam penyedia teknologi dan pelaku industri logistik untuk menjawab tantangan infrastruktur dan pembiayaan dalam elektrifikasi truk.

    Platform ini akan memfasilitasi pengembangan model bisnis yang layak secara ekonomi serta mendorong investasi untuk infrastruktur pengisian daya di koridor-koridor logistik utama Indonesia.

    Arief berharap melalui peluncuran Indonesia Freight Decarbonization Accelerator dan hasil studi yang kami serahkan hari ini, para pemangku kepentingan dapat mengambil langkah strategis yang lebih terarah dan kolaboratif.

    “WRI Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung proses transisi ini melalui riset, advokasi kebijakan, dan penguatan kerja sama lintas sektor,” pungkas Arief.

    Baca: Menilik kesiapan infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia

  • Fitur Hijau di Aplikasi Kurang Efektif Mengajak Masyarakat untuk ‘Go Green’

    Fitur Hijau di Aplikasi Kurang Efektif Mengajak Masyarakat untuk ‘Go Green’

     

    7cloud.asia – Memesan kendaraan antar jemput lewat aplikasi ride-hailing kini tak terpisahkan dari hidup banyak orang, khususnya warga kota. Mau bepergian, makan, kirim dokumen, dan belanja bulanan bisa dilakukan kapan dan di mana saja hanya dengan beberapa ketukan jempol saja.

    Namun, layanan ini ikut menambah ramai kendaraan di jalan yang berarti adanya peningkatan konsumsi bahan bakar, kemacetan, dan emisi.

    Untuk merespons masalah tersebut, sejumlah platform transportasi digital mulai menawarkan program ramah lingkungan.

    Ada yang mendorong penggunaan kendaraan listrik, menawarkan opsi carbon-neutral, atau mengajak pengguna berkontribusi pada program pengurangan emisi. 

    Masalahnya, menyediakan fitur hijau di aplikasi juga tidak otomatis membuat pengguna ikut berpartisipasi. Banyak pengguna mungkin melihat pilihan ini, tetapi mengabaikannya.

    Sebagian lain mungkin bertanya: apakah kontribusi ini benar-benar berdampak? Apakah perusahaan sungguh-sungguh peduli pada lingkungan, atau polesan citra hijau saja?

    Perlu ada bukti pada konsumen

    Dalam layanan ride-hailing, pengguna adalah konsumen pasif. Mereka membuka aplikasi, memilih tujuan, membayar, lalu duduk manis dan sampai ke tempat tujuan.

    Dengan kata lain, proses penyediaan layanan menjadi tanggung jawab platform dan pengemudi. Pengguna hanya menerima manfaatnya.

    Namun, dalam program keberlanjutan, posisi pengguna harus didorong menjadi lebih aktif. Kita memilih opsi kendaraan yang lebih rendah emisi, berdonasi untuk penanaman pohon, atau mengikuti tantangan mengurangi jejak karbon.

    Di sinilah tantangannya. Bagaimana cara mengajak masyarakat untuk ikut secara sukarela menciptakan nilai lingkungan bersama platform atau disebut green customer co-creation behavior

    Supaya warga semakin banyak terlibat, kampanye hijau tidak cukup hanya memakai slogan seperti “ramah lingkungan” atau “selamatkan Bumi”.

    Pengguna butuh melihat bukti yang lebih jelas: sejauh mana perhitungan kontribusi mereka, ke mana dana disalurkan, program apa yang didukung, serta dampak yang terukur.

    Jika informasi seperti ini tidak tersedia, pengguna bisa meragu. Bahkan, mereka bisa menganggap program hijau hanya gimik marketing semata. Kecurigaan terhadap potensi greenwashing bisa muncul dan ini bukan tanpa alasan.

    Dalam banyak sektor, klaim ramah lingkungan sering dipakai untuk memperbaiki citra tanpa perubahan operasional yang berarti. Fitur hijau dalam aplikasi adalah langkah awal. 

    Jadi intinya, fitur hijau saja tidak cukup. Pengguna perlu percaya bahwa perusahaan bertindak etis, programnya transparan, dan kontribusi mereka benar-benar menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

    Kepercayaan saja belum cukup

    Temuan krusial dalam riset kami adalah kepercayaan (300 pengguna yang kami wawancara) terhadap reputasi suatu platform/brand memang penting, tetapi bukan faktor yang langsung membuat pengguna memilih opsi hijau. 

    Kepercayaan hanya membuka pintu. Tetapi agar pengguna benar-benar bertindak, kepercayaan perlu berubah menjadi nilai, keyakinan, dan norma pribadi. Mereka perlu meyakini perjalanan harian punya dampak terhadap lingkungan.

    Karena dinamika penggunaan aplikasi ride-hailing tergolong cepat, desain aplikasi berperan besar. Tentunya, pengguna tidak punya waktu lama untuk membaca penjelasan panjang tentang emisi.

    Karena itu, aplikator perlu menerjemahkan komitmen lingkungan ke dalam desain yang sederhana dan berguna. Misalnya, aplikasi bisa menampilkan ringkasan dampak bulanan pengguna atau menunjukkan kemajuan kolektif pengguna di satu kota.

    Para aplikator juga bisa memberi pengingat setelah perjalanan, seperti bahwa pengguna telah ikut mendukung opsi mobilitas rendah emisi bersama pengguna lain yang bisa dihiasi dengan gamifikasi dan promo menarik bagi pengguna.

    Pengguna tetap perlu tahu apa arti partisipasi mereka secara konkret. Jika tidak, fitur hijau hanya menjadi ornamen aplikasi. 

    Tak boleh membebankan pengguna

    Hal yang perlu menjadi catatan kritis adalah perusahaan bisa saja terlihat seolah-olah sudah “hijau” hanya karena menyediakan pilihan bagi pengguna untuk membayar kontribusi lingkungan.

    Namun, tanggung jawab utama tetap ada pada perusahaan dengan memperbaiki operasi seperti mengurangi perjalanan kosong, memperbaiki efisiensi algoritma, mendukung kendaraan rendah emisi, memberi insentif yang adil bagi pengemudi, dan memastikan program carbon-neutral benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

    Partisipasi pengguna sebaiknya dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti tanggung jawab korporasi. Dengan kata lain, pengguna dapat menjadi mitra dalam menciptakan nilai lingkungan. Mereka tidak boleh dijadikan alat untuk menutup kekurangan strategi keberlanjutan perusahaan. 

    Inilah mengapa etika menjadi sangat penting. Pengguna akan lebih bersedia berpartisipasi jika mereka melihat perusahaan tidak hanya meminta kontribusi, tetapi juga melakukan perubahan nyata dari sisi operasional.

    Pembelajaran ke depan

    Temuan ini punya implikasi lebih luas bagi masa depan transportasi kota.

    Pertama, keberlanjutan dalam ride-hailing tidak cukup dibahas sebagai persoalan teknologi. Kendaraan listrik, algoritma yang lebih efisien, dan program pengurangan emisi memang penting. Namun, perilaku pengguna juga menentukan apakah fitur hijau digunakan secara konsisten.

    Kedua, komunikasi keberlanjutan harus lebih spesifik. Platform perlu menjelaskan program hijau dengan bahasa sederhana, data yang dapat diverifikasi, dan mekanisme yang mudah dipahami. 

    Ketiga, perusahaan perlu membangun norma sosial yang sehat. Pilihan hijau sebaiknya ditampilkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama, bukan sebagai beban individual semata.

    Keempat, pemerintah dan regulator juga punya peran. Mereka dapat mendorong standar transparansi untuk klaim lingkungan dalam aplikasi digital, termasuk bagaimana program carbon-neutral dihitung, diaudit, dan dilaporkan kepada publik.

    Tanpa standar yang jelas, pengguna akan sulit membedakan antara komitmen lingkungan yang serius dan promosi hijau yang dangkal.  


    Ardy Wibowo, Peneliti, Universitas Diponegoro dan Andi Wijayanto, Peneliti, Universitas Diponegoro

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool

    Wujudkan Hunian dan Kawasan Rendah Emisi Bersama BeCool

    7cloud.asia – Raflesia atau Rumah Reflektif Surya Indonesia. Demikian nama yang disematkan untuk hunian rendah emisi hasil inovasi bersama tim dari Universitas Pembangunan Indonesia (UPI) Bandung, dan sejumlah lembaga seperti Domus dan Grenlam Laminated ini.

    Hunian rendah emisi Raflesia ini merupakan rumah knockdown dengan struktur baja ringan yang dikombinasikan dengan penggunaan cat reflektif surya BeCool Indonesia pada genteng metal dan penutup dindingnya.

    Ruangkota.com, berkesempatan menyaksikan Raflesia ini di sela gelaran Arch.id, yang digelar di kawasan BSD City, Banten pada akhir April lalu.

    Adalah Dr. Eng. Beta Paramita, dosen sekaligus peneliti dari Program Studi Artsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) Universitas Pendidikan Indonesia sekaligus Founder BeCool Indonesia yang berada di balik inovasi ini.

    Dalam perbincangannya dengan 7cloud.asia, Beta mengatakan, penggunaan BeCool bisa jadi solusi alternatif untuk mengatasi efek pulau panas perkotaan terutama di kawasan padat penduduk.

    Dijelaskannya, hal ini dikarenakan BeCool memiliki kemampuan tinggi dalam memantulkan sebagian dari radiasi matahari kembali ke atmosfer sambil menyerap panas melalui kemampuan pendinginan radiasinya.

    Baca: Kiat Membangun Rumah yang Nyaman Lagi Hemat Energi

    Karena itu teknologi ini layak untuk meningkatkan efisiensi energi dan kualitas lingkungan di iklim panas dan lembab.

    BeCool yang dapat diterapkan pada atap dan dinding memiliki emitansi (kemampuan memancarkan kembali energi atau panas yang diserap) sebesar 0,90, reflektansi (memantulkan) matahari hingga 72,1 persen dan serapan surya hingga 27,9 persen.

    Indeks Reflektan Surya (Solar Reflectance Index/ SRI) rumah Raflesia mencapai 88,0 atau di atas angka ideal untuk material yang mampu mendinginkan diri (yakni di angka 78).

    Bahan dengan SRI tinggi membantu menurunkan suhu perkotaan karena panas tidak terperangkap atau dipantulkan kembali ke udara.

    “Sekaligus mendukung efisiensi energi karena menjaga suhu di bawah atap atau bangunan tetap sejuk, sehingga mengurangi konsumsi listrik untuk pendingin ruangan (AC),“ terang Beta.

    Beta menambahkan, BeCool yang merupakan produksi cat reflektif surya produksi lokal pertama di Indonesia, kini telah diterapkan di sejumlah bangunan pabrik ataupun perumahan pribadi.

    Adapun proyek percontohan lingkungan binaan yang telah dibangun dengan mengedepankan prinsip bangunan, area dan komunitas berkelanjutan diberi nama Kampung BeCool, Desa Tipar, Padalarang, Kabupaten Bandung.

    Baca: Masyarakat Bisa Berkontribusi Kurangi Panas Perkotaan dengan Langkah Kecil dari Rumah

    Kampung BeCool ini merupakan lingkungan binaan yang dibangun berbasis Corporate Social
    Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan yang digagas oleh BeCool Indonesia dan Tatalogam Group.

    Secara tidak langsung, hasil inovasi dapat mendorong penghematan energi untuk pendinginan bangunan. Beta memaparkan, penggunaan BeCool dalam skala rumah tangga terbukti menurunkan biaya listrik.

    “Dari semula dengan pembelian token sebesar Rp500 ribu hanya untuk kebutuhan listrik rumah tangga, setelah menggunakan BeColl bisa tambah untuk mengecharge kendaraan listrik,“ paparnya.

    Dari ujicoba yang dilakukan timnya, Beta menyebutkan penggunaan Becool untuk pelapisan atap mampu menurunkan suhu dalam ruangan hingga 11 derajat Celcius, sehingga efektif memperbaiki temperatur dalam bangunan.

    Kemampuan ini dapat lebih dioptimalkan dengan mengombinasikannya dengan penataan lanskap, shadowing atau naungan pepohonan serta perbanyakan ruang terbuka hijau.

    Jika digunakan dalam skala luas, ujarnya, penggunaan BeCool akan mampu menurunkan panas kawasan perkotaan secara signifikan.