Peneliti BRIN Temukan Perekat Kayu Rendah Emisi yang Ramah Lingkungan

Written by

in

7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil menemukan inovasi teknologi perekat urea-formaldehida yang rendah emisi sehingga lebih ramah lingkungan.

Perekat rendah emisi ini dikembangkan oleh Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Muhammad Adly Rahandi Lubis.

Inovasi tersebut dikembangkan sejak 2021 bersama mitra startup, Greenie Indonesia, melalui program kerja sama penelitian dan pengembangan perekat untuk produk panel komposit non-kayu berbasis limbah.

Teknologi ini hadir sebagai solusi atas tingginya emisi formaldehida dari perekat konvensional yang berdampak negatif terhadap kesehatan manusia serta lingkungan.

Dalam verifikasi lapangan di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (10/7/2025) lalu, Adly menyoroti bahwa inovasi ini dapat menggantikan perekat furnitur beremisi formaldehida yang berisiko terhadap kesehatan.

“Inovasi ini kami kembangkan agar masyarakat bisa menggunakan perekat yang lebih sehat, murah, dan ramah lingkungan. Inovasi ini dikembangkan karena bahan perekat pada produk furnitur sangat rentan menimbulkan sick building syndrome,” ungkapnya.

Baca: Robries memberi nilai lebih pada sampah plastik

Sejak 2021, inovasi ini dikembangkan bersama Greenie Indonesia melalui program kerja sama penelitian dan pengembangan perekat untuk produk panel komposit yang tidak menggunakan kayu.

Teknologi ini menawarkan solusi untuk emisi formaldehida yang tinggi dari perekat konvensional, yang merugikan lingkungan dan kesehatan manusia.

Salah satu tujuan dari pembuatan perekat ini adalah untuk memenuhi kebutuhan industri akan bahan yang ramah lingkungan, tahan air, dan berbasis biomassa lokal.

Greenie Indonesia telah mendapatkan lisensi non-eksklusif dari 2021 hingga 2026 untuk menjadi mitra utama dalam alih teknologi perekat ini. Di bawah Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), produk berbasis teknologi ini telah dipamerkan di IFFINA Expo 2023.

Menurut Adly, meskipun teknologi perekat ini telah dilirik oleh banyak perusahaan besar, kendala yang dihadapi masih menjadi poin penting, terutama dalam hal produksi dan pengembangan skala industri.

“Kapasitas produksi kami saat ini masih rendah, hanya sekitar seratus kilogram per bulan. Untuk meningkatkan skala, dibutuhkan fasilitas dan modal yang besar,” ungkapnya.

Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

Kendati demikian, dia juga menyampaikan, ada upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut, seperti menjalin kolaborasi produksi (maklon), menerapkan konsep B2B, memperkuat branding melalui partisipasi di berbagai ekspo, serta riset pengembangan produk terus dilanjutkan agar kualitas dan keberlanjutan teknologinya tetap terjaga.

Adly menjelaskan beragam potensi pemanfaatan dari pengembangan teknologi perekat urea-formaldehida beremisi rendah ini.

Inovasi ini membuka peluang penerapan ekonomi sirkular yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, mengurangi emisi formaldehida, serta dampak negatif pembakaran limbah.

“Kami juga ingin memberdayakan petani non-kayu dan pengumpul sampah, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi perempuan, pemuda, dan pekerja tidak terampil. Harapannya, teknologi ini bisa mendorong praktik produksi yang lebih hijau di berbagai sektor, mulai dari furnitur, F&B, hingga fesyen,” jelas Adly.

Teknologi ini menjadi tonggak penting dalam mengurangi impor perekat industri, membuka peluang ekonomi bagi UMKM, serta menciptakan lapangan kerja baru berbasis limbah pertanian.

Adly berharap ke depan, teknologi ini bisa memperluas jejaring lisensi dan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri furnitur hijau di Indonesia.

Inovasi ini mengantarkan Adly menjadi calon penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Republik Indonesia.

Baca: KLHK ajak masyarakat tak beli produk yang mengabaikan sampah plastiknya

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *