7cloud.asia – Kawasan Maliboro yang menjadi ikon Kota Yogyakarta akan segera diubah menjadi zona rendah emisi alias low emission zone (LEZ).
Untuk menjadikan zona rendah emisi ini, Kawasan Malioboro yang berada di jantung Kota Yogyakarta akan ditata ulang, salah satunya adalah dengan membongkar Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) dan menjadikannya ruang terbuka hijau.
Dilansir harianjogja.com, Taman Parkir ABA dianggap tidak mendukung program Malioboro menjadi zona rendah emisi karena letaknya segaris lurus dengan Sumbu Filosofi yang menjadi acuan penataan Kota Yogyakarta.
Dalam jangka panjang, kawasan yang berada di sepanjang sumbu filosofi Yogyakarta juga akan diubah menjadi zona rendah emisi.
Baca: Masih banyak yang belum tahu Malioboro adalah kawasan bebas rokok
Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta sudah mengantisipasi relokasi Taman Parkir ABA ini dengan menyiapkan taman parkir lain.
Plt Kepala Dishub DIY Sumariyoto, Senin (31/7/2023) mengatakan, program Malioboro rendah emisi akan mulai diterapkan pada 2025 mendatang, sedangkan relokasi Taman Parkir ABA sudah mulai dilakukan.
Sumariyoto menyebut rencananya Taman Parkir ABA akan direlokasi ke area Eks-UPN yang berada di Ketandan.
“Rencananya di area eks-UPN, tapi belum final masih dilakukan kajian,” ujarnya.
Baca: Makna sumbu filosofi dalam penataan Kota Yogyakarta
Tak hanya merelokasi Taman Parkir ABA, untuk menjadikan Malioboro jadi kawasan rendah emisi kendaraan beremisi juga tidak boleh lewat di sana..
“Tidak boleh karena prinsipnya untuk menjaga lingkungan Malioboro Jogja agar rendah emisi, udaranya bersih,” ucapnya.
Dalam penataan ulang Malioboro sebagai zona rendah emisi, selain merelokasi Taman Parkir ABA, menurut Sumariyoto, Pemda DIY juga akan memindahkan Gedung DPRD DIY pada 2025 mendatang.
“Jalan-jalan sirip di Malioboro juga akan ditata supaya rendah emisi,” katanya.
Baca: Prinsip alon-alon waton kelakon warga Yogyakarta
Upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi ini mendapat respon positif dari warga Yogyakarta. Namun mereka memberikan catatan.
Peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Juhri Iwan Agriawan ST., M.Sc mengatakan langkah tersebut akan meningkatkan kenyamanan bagi pengunjung Malioboro.
Dan, dalam jangka panjang kondisi ini akan meningkatkan kunjungan orang ke kawasan Malioboro.
Berbagai langkah telah dilakukan untuk secara bertahap untuk menurunkan emisi di Malioboro.
“Upaya ini antara lain mengurangi secara drastis akses kendaraan bermotor terutama kendaraan pribadi ke kawasan ini dan memberikan ruang sepenuhnya untuk pejalan kaki dan pesepeda,” ujarnya dalam pesan tertulis kepada 7cloud.asia.
Saat ini, lanjut Iwan, Malioboro telah menerapkan penutupan kawasan jalan dari kendaraan bermotor secara berkala setiap hari antara pukul 18:00 hingga pukul 21:00 WIB. Malioboro juga ditutup pada saat jam-jam puncak liburan.
Upaya memindahkan Taman Parkir Abu Bakar Ali, tambah Iwan, adalah langkah yang bisa dilakukan selanjutnya, terutama untuk parkir kendaraan bermotor pribadi.
Baca: Slow city, konsep baru tata kelola kota yang lebih memanusiakan
Namun demikian, Iwan meminta Pemkot Yogyakarta agar tetap memberikan ruang bagi angkutan umum guna memudahkan pengunjung yang ingin jalan-jalan ke Malioboro.
Dananjaya, warga Yogyakarta yang dihubungi secara terpisah sependapat dengan Iwan. Ia menilai upaya Pemkot Yogyakarta menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi bagus tujuannya.
Malioboro jadi kawasan rendah emisi, ujarnya, berarti prioritas untuk pejalan kaki atau kendaraan rendah emisi.
“Sementara Malioboro adalah daerah tujuan wisata utama Yogyakarta, sehingga sarana transportasi bagi orang-orang yang akan berkunjung ke Malioboro harus dipikirkan,” ujarnya.
Dananjaya juga melihat adanya kurang koordinasi antar lembaga. Perencanaan yang kurang matang dan kurang terkonsep dengan baik membuat pembangunannya terkesan tumpang tindih.
“Infrastruktur pendukungnya belum disiapkan dengan matang, jadi kesannya itu nggak terkonsep dengan baik dan tumpang tindih kegiatan antara satu pihak dengan pihak lain,” ujarnya kepada 7cloud.asia melalui sambungan telepon.
Baca: Sukses terapkan konsep TOD, ini manfaat yang dirasakan Kota Bogota

Leave a Reply