7cloud.asia – Fenomena sampah makanan saat bulan Ramadan menjadi masalah tahunan di Indonesia, terutama akibat kebiasaan kalap makan dan hungry buying setelah seharian berpuasa.
Rasa lapar yang menumpuk selama puasa Ramadan sering kali membuat kita membeli atau mengambil makanan secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kapasitas perut.
Kebiasaan ini tidak hanya berdampak pada pemborosan uang dan gangguan kesehatan, tetapi juga meningkatkan beban sampah yang dapat merusak lingkungan.
Sampah makanan menimbulkan dampak lingkungan yang serius, terutama jika pengelolaan sampahnya masih berakhir di tempat pembuangan akhir.
Berikut sejumlah dampak yang ditimbulkan dari menumpuknya sampah makanan sebagaimana ditulis Rian Mantasa Salve Prastica (PhD student studying urban stormwater management, Environmental Engineering research group, School of Civil Engineering, The University of Queensland) di The Conversation:
Baca: Jakarta Recycle Centre untuk olah sampah makanan
1. Cemari sumber air sekitar
Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik akan menghasilkan leachate (lindi), yaitu limbah cair yang meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air di sekitarnya.
Lindi dapat memperburuk kualitas air tanah, merusak tanah di kawasan pertanian, serta berpotensi menyebarkan bibit penyakit pada manusia.
2. Perburuk kondisi iklim
Selain itu, sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH₄).
Gas ini memiliki efek pemanasan global 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida (CO₂), sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.
3. Picu ledakan, kebakaran, dan longsor
Gas metana yang terperangkap di tumpukan sampah juga dapat terkumpul dan menciptakan tekanan tinggi.
Baca: Setidaknya Ada 306 TPA layak ditutup karena terapkan open dumping
Jika tidak dikelola dengan baik, gas tersebut berisiko meledak sehingga dapat memicu kebakaran besar.
Ketika ledakan terjadi, api yang menyala akan sulit dipadamkan karena sampah organik terus menghasilkan gas metana baru.
Kebakaran di landfill sering berlangsung selama berhari-hari hingga berpekan-pekan, mengeluarkan asap beracun yang mencemari udara dan membahayakan kesehatan warga sekitar.
Akumulasi sampah yang terus bertambah juga menyebabkan overload di TPA, yang dapat meningkatkan tekanan pada struktur landfill.
Apabila kelebihan beban, bencana bisa terjadi, seperti Tragedi Ledakan Leuwigajah 2005 di Jawa Barat yang menyebabkan banyak korban jiwa, hingga longsor di TPA Cipeucang.

Leave a Reply