Tag: spesies baru

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tumbuhan Araceae Asal Riau

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tumbuhan Araceae Asal Riau

    7cloud.asia – Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama mitra taksonom berhasil mengidentifikasi satu spesies baru tumbuhan dari famili Araceae (aroid) yang ditemukan di Riau.

    Spesies ini diberi nama Homalomena chikmawatiae sebagai bentuk penghargaan kepada Prof. Tatik Chikmawati (IPB University) atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu biosistematika tumbuhan di Indonesia.

    Spesies baru Homalomena chikmawatiae dideskripsikan berdasarkan sejumlah ciri khas, antara lain daun berbentuk perisai (peltate), spadix dengan bagian steril (appendix) yang menonjol, serta bunga jantan yang hanya memiliki satu benang sari (monandrus).

    Tanaman ini awalnya ditemukan oleh masyarakat lokal di Riau, kemudian dibudidayakan di Bogor. Tim BRIN selanjutnya melakukan pengamatan morfologi dan analisis molekuler terhadap spesimen tersebut.

    “Tanaman ini memiliki kombinasi ciri yang tidak biasa dalam kelompoknya, terutama daun peltate dan appendix steril besar. Ini memperkaya pemahaman kita tentang variasi morfologi dan hubungan evolusi dalam Homalomena,” jelasnya.

    Baca: 8 Spesies Nepenthes endemik Sumatera terancam punah

    Secara filogenetik, H. chikmawatiae ditempatkan dalam Cyrtocladon Supergroup, meskipun beberapa cirinya menyimpang dari karakter umum kelompok tersebut.

    Hal ini menegaskan pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi tumbuhan aroid di kawasan Malesia.

    Saat ini, H. chikmawatiae hanya diketahui dari satu populasi, sehingga direkomendasikan berstatus Data Deficient (DD) berdasarkan pedoman IUCN.

    Selain mendeskripsikan spesies baru, studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena dengan spadix bertipe Furtadoa di wilayah Malesia.

    Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad R. Hariri, mengatakan, Homalomena chikmawatiae merupakan spesies baru dari Riau, yang secara morfologi menyerupai genus Furtadoa.

    Baca: Ratusan jenis lumut jadi kekayaan Gunung Gede

    Adapun ciri khas genus ini adalah daun memerisai dan bagian steril cukup besar pada spadix.

    Penelitian filogenetik berbasis sekuen ITS menunjukkan bahwa genus Furtadoa bersifat polifiletik dan seluruh spesiesnya kini direklasifikasikan ke dalam genus Homalomena.

    Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae Malesia.

    “Penelitian kami menunjukkan bahwa keragaman morfologi dalam Homalomena, khususnya kelompok dengan spadix bertipe Furtadoa, jauh lebih kompleks dari yang selama ini diperkirakan,” ujarnya.

    Dia menambahkan bahwa temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae di kawasan Malesia.

    Baca: Beragam Ficus jadi penjaga ekosistem Hutan Sanggabuana

    Sebagai tindak lanjut, dua spesies sebelumnya dalam genus Furtadoa kini resmi diklasifikasikan ulang: Furtadoa indrae menjadi Homalomena indrae, dan Furtadoa sumatrensis menjadi Homalomena sumatrensis.

    Studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena bertipe spadix Furtadoa di wilayah Malesia.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Webbia: Journal of Plant Taxonomy and Geography, Volume 80(1), halaman 99–104, April 2025, dengan judul “Nomenclatural Changes and New Species in Malesian Homalomena (Araceae)” (Irsyam et al., 2025).

    Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi data morfologi dan molekuler dalam studi taksonomi tumbuhan, serta perlunya revisi sistematika agar mencerminkan hubungan evolusioner yang lebih akurat.

    Temuan ini tidak hanya memperkuat koleksi ilmiah nasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi konservasi dan pengembangan riset biosistematika di Indonesia.

    Baca: Peneliti BRIN temukan anggrek akar tak berdaun endemik Pulau Sumatera

  • BRIN Temukan Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi

    BRIN Temukan Spesies Baru Katak Pohon Endemik Sulawesi

    7cloud.asia – Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi satu spesies baru katak pohon dari genus Rhacophorus yang ditemukan di dua lokasi berbeda di Pulau Sulawesi, yakni Gunung Katopasa dan Gunung Gandang Dewata.

    Penemuan spesies baru yang diberi nama Rhacophorus boeadii ini memperkaya daftar fauna endemik Sulawesi khususnya amfibi, serta mempertegas pentingnya konservasi keanekaragaman hayati di kawasan Wallacea.

    Penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa (5569 (2): 201–230), dan menjadi referensi penting dalam studi taksonomi serta konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

    Nama Rhacophorus boeadii diberikan sebagai penghormatan kepada mendiang Boeadi, seorang naturalis dan ilmuwan dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang telah berkontribusi terhadap dunia ilmu zoologi dan konservasi satwa herpetofauna di Indonesia.

    Baca: Mengapa Pulau Sulawesi kaya akan satwa endemik unik

    Baca: Katak terbang Sulawesi yang lama menghilang

    Peneliti Herpetologi BRIN, Amir Hamidy, menjelaskan bahwa Rhacophorus boeadii sp.nov. memiliki karakter morfologis yang membedakannya dari tiga spesies Rhacophorus Sulawesi lainnya, yakni R. edentulus, R. georgii, dan R. monticola.

    “Katak ini berukuran sedang, dengan panjang tubuh jantan sekitar 40-45 milimeter dan betina 48-54 milimeter. Ciri khas lainnya termasuk moncong jantan yang miring, kulit punggung kasar dengan bintik putih, serta pola bercak putih di sisi tubuh,” ujar Amir.

    Menurutnya, penemuan spesies baru ini merupakan hasil survei intensif yang dilakukan pada 2016 hingga 2019 di kawasan Gunung Katopasa (Sulawesi Tengah) dan Gunung Gandang Dewata (Sulawesi Barat).

    Analisis morfologi, genetika, serta suara panggilan jantan Rhacophorus boeadii mendukung bahwa spesimen ini adalah spesies baru yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.

    Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di hutan Indonesia

    Baca: Pembangunan mengancam laboratorium evolusi Wallacea

    Peneliti BRIN mengaku sangat antusias dengan penemuan spesies baru ini, karena semakin membuka wawasan terhadap kekayaan biodiversitas Sulawesi yang unik.

    “Namun, kami juga khawatir karena habitatnya yang terspesifikasi pada hutan dataran tinggi sangat rentan terhadap ancaman kerusakan habitat dan perubahan iklim,” ungkap Amir.

    Sebagai bagian dari kawasan Wallacea, Pulau Sulawesi dikenal sebagai hotspot keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisme tinggi, terutama untuk kelompok amfibi.

    Sayangnya, tekanan terhadap habitat alaminya terus meningkat dan menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan spesies endemik Pulau Sulawesi ini.

    Baca: Pemerintah diminta mengubah paradigma konservasi

  • Tim Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Katak Bertaring dari Kalimantan

    Tim Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Katak Bertaring dari Kalimantan

    7cloud.asia – Tim Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) secara resmi melaporkan penemuan dua spesies baru katak bertaring (famili Dicroglossidae) dari kawasan Pegunungan Meratus di Kalimantan Tengah dan Selatan.

    Dua spesies baru tersebut masing-masing diberi nama Limnonectes maanyanorum sp.nov. dan Limnonectes nusantara sp. nov., yang mana sebelumnya disangka sebagai bagian dari spesies umum, Limnonectes kuhlii.

    Profesor Riset bidang Herpetologi PRBE BRIN, Amir Hamidy mengatakan, penemuan spesies baru ini menjadi kontribusi penting dalam upaya mendokumentasikan keanekaragaman herpetofauna Kalimantan.

    Penemuan ini sekaligus menegaskan peran penting wilayah Meratus dalam konservasi spesies endemik,” katanya melalui keterangan yang dikutip Antaranews.com, Rabu (16/7/2025).

    Amir menjelaskan Limnonectes maanyanorum sp.nov. ditemukan di kawasan Gunung Karasik, Kalimantan Tengah. Nama ilmiahnya diberikan untuk menghormati masyarakat adat Dayak Maanyan yang tinggal di wilayah tersebut.

    Di kalangan masyarakat setempat, katak ini dikenal sebagai Senteleng Watu, yang berarti “katak batu”.

    Baca: BRIN temukan spesies baru katak pohon endemik Sulawesi

    Sementara itu, Limnonectes nusantara sp.nov. ditemukan di daerah Loksado dan Paramasan, Kalimantan Selatan. Nama “Nusantara” dipilih sebagai simbol identitas nasional Indonesia, sekaligus merujuk pada Ibu Kota Negara baru yang berlokasi di Kalimantan.

    Di wilayah asalnya, katak ini disebut Lampinik oleh masyarakat Dayak Meratus. Kedua spesies ini berukuran tubuh sedang dan memiliki ciri khas berupa ‘taring’ (struktur tulang menonjol) di rahang bawah, terutama pada katak jantan.

    “Jari-jari kaki mereka berselaput penuh, kulit tubuh berbintil, dan memiliki warna serta pola tubuh yang khas. Bentuk bintil dan ukuran taring menjadi pembeda penting antara keduanya,” jelas Amir.

    Amir memaparkan analisis genetik dan morfologi menunjukkan bahwa keduanya merupakan garis keturunan yang berbeda secara signifikan berdasarkan jarak genetik pada sebagian sekuens gen 16S rRNA serta kombinasi karakter morfologis.

    Sedangkan, analisis filogenetik menunjukkan bahwa L. maanyanorum dan L. nusantara masing-masing membentuk klad monofiletik dengan dukungan statistik yang sangat tinggi, serta memiliki jarak genetik yang signifikan dibandingkan spesies lainnya.

    Hal ini menguatkan status keduanya sebagai spesies baru.

    Baca: Sejumlah spesies baru ditemukan di hutan Indonesia

    Menurut Amir, penemuan ini menegaskan pentingnya eksplorasi biodiversitas dan penguatan kebijakan konservasi berbasis data ilmiah di wilayah-wilayah tropis yang masih kurang terjamah

    Hal khususnya untuk wilayah Kalimantan sebagai bagian dari kawasan Sundaland yang sangat kaya akan spesies endemik.

    “Penemuan ini menunjukkan bahwa Kalimantan masih menyimpan banyak misteri biologis. Kita perlu terus melakukan eksplorasi dan penelitian, terutama di wilayah yang belum banyak dijangkau,” tegas Amir.

    Diketahui, penemuan ini dilakukan berkat kerja sama Tim Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aichi University of Education, Kyoto University, dan Universitas Palangkaraya.

    Penemuan ini telah diterbitkan dalam jurnal ilmiah internasional Zootaxa (Zootaxa 5575 (3): 387-408) pada 24 Januari 2025, dengan judul Two new species of fanged frog from Southeastern Borneo, Indonesia.

    Baca: Mengenal Hari Spesies Terancam Punah Sedunia

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama tim peneliti lintas pusat riset berhasil mengidentifikasi satu spesies baru jamur dari genus Morchella.

    Dilansir di laman resmi BRIN, brin.goid, Spesies baru jamur dari genus Morchella ini ditemukan di kawasan Cagar Biosfer Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Temuan ini menjadi catatan penting bagi keanekaragaman jamur tropis di Asia Tenggara.

    Spesies baru yang diberi nama Morchella rinjaniensis ini memiliki ciri khas tubuh buah besar dengan pola lubang dan ridges tidak beraturan, serta spora berpola seperti labirin.

    Peneliti PRBE BRIN, Atik Retnowati, menjelaskan bahwa berdasarkan ciri morfologi serta hasil analisis genetik terhadap empat gen, spesies ini menunjukkan perbedaan yang jelas dibandingkan jenis Morchella lainnya. Sehingga, secara ilmiah, spesies ini dapat dideskripsikan sebagai spesies baru.

    “Spesies ini memiliki kombinasi karakter unik yang tidak ditemukan pada jenis Morchella lain, baik secara morfologi maupun molekuler,” katanya.

    Baca: Penemuan spesies baru tumbuhan Araceae dari Riau

    Jamur Morchella rinjaniensis ditemukan tumbuh liar di lereng Gunung Rinjani pada ketinggian antara 900 hingga 1.200 meter di jalur seperti Torean, Senaru, Sembalun, Tetebatu, dan Aik Berik.

    Jamur ini umumnya muncul saat peralihan musim hujan ke kemarau, yakni sekitar April hingga Mei.

    “Spesies ini memiliki tubuh buah yang bisa mencapai 19 centimeter, dengan pola lubang (pits) tidak beraturan dan spora berukuran besar yang permukaannya bergelombang menyerupai labirin,” jelas Atik.

    Dia menambahkan bahwa hasil analisis pohon filogenetik menempatkan Morchella rinjaniensis dalam satu klade dengan Morchella galilaea. Namun, keduanya menunjukkan perbedaan morfologi dan genetik yang jelas.

    Lebih lanjut, penelitian mencatat bahwa jamur ini tumbuh di bawah naungan vegetasi hutan alami dan kerap ditemukan di sekitar aliran air kecil atau area semi terbuka.

    Baca: Sejumlah spesies nepenthes endemik Sumatra terancam punah

    Di habitat tersebut, Morchella rinjaniensis tumbuh berdampingan dengan berbagai jenis tumbuhan dari famili seperti Elaeocarpaceae, Urticaceae, dan Myrtaceae.

    Spesies ini berpotensi dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif bernilai tinggi karena termasuk dalam kelompok jamur yang dapat dikonsumsi.

    Menurut Atik, pengelolaan berbasis konservasi untuk menjaga kelestarian populasi Morchella rinjaniensis di alam penting untuk dilakukan.

    “Strategi pelestarian jamur ini sejalan dengan program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO yang mendorong pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan melalui pemanfaatan zona transisi biosfer,” tuturnya.

    Pendeskripsian Morchella rinjaniensis sebagai spesies baru merupakan bagian dari penelitian pembudidayaan Morchella.

    Baca: Ratusan jenis lumut jadi kekayaan Gunung Gede

    “Harapannya, hasil riset ini membuka peluang pengembangan budidaya yang ramah lingkungan dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar,” harap Atik.

    Selain itu, hasil riset ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan rencana budidaya jamur Morchella di Indonesia, baik jangka pendek maupun panjang, memperkaya data keanekaragaman hayati Indonesia.

    Riset ini juga membuka peluang baru bagi riset ekologi jamur serta pengembangan bioprospeksi di kawasan tropis.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Mycobiology, Volume 53(4), halaman 367–378 tahun 2025, berjudul “Morchella rinjaniensis: A Novel Species of Tropical Morchella (Ascomycota, Pezizales, and Morchellaceae) Discovered in UNESCO Rinjani-Lombok Biosphere Reserve, Indonesia” oleh Retnowati et al. (2025).

  • Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tikus Hutan Endemik Sulawesi

    Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Tikus Hutan Endemik Sulawesi

    7cloud.asia – Tim peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bersama mitra riset dari Amerika Serikat, Australia, Prancis, dan Malaysia melaporkan penemuan spesies baru, yaitu tikus hutan endemik Sulawesi, Crunomys tompotika.

    Penelitian ini merupakan bagian dari kajian sistematika dan biogeografi mamalia Asia Tenggara yang menyoroti keragaman tikus hutan. Hasil studi menunjukkan bahwa Sulawesi, dengan sejarah geologinya yang unik, kembali menghadirkan temuan penting bagi keanekaragaman hayati dunia.

    Peneliti PRBE BRIN, Anang Setiawan Achmadi menjelaskan, Crunomys tompotika dideskripsikan dari spesimen yang dikoleksi di kawasan Gunung Tompotika, Sulawesi Tengah.

    Spesies baru ini memiliki ukuran tubuh sedang, ekor relatif pendek dibandingkan panjang tubuh, serta bulu rapat dengan tekstur khas kelompok Crunomys. Habitatnya berupa hutan pegunungan alami dengan vegetasi lebat yang relatif masih terjaga.

    “Penemuan ini menambah daftar panjang mamalia endemik Sulawesi yang terus bertambah seiring eksplorasi lapangan yang lebih intensif,” kata Anang.

    Baca: Sejarah Biogeografis Membuat Pulau Sulawesi Kaya Akan Satwa Endemik Unik

    Selain mendeskripsikan spesies baru, jelas Anang, penelitian ini merevisi taksonomi besar dengan menyatukan seluruh anggota Maxomys (tikus berduri/spiny rats) ke dalam genus Crunomys.

    “Analisis ribuan penanda DNA, termasuk data genomik resolusi tinggi, menunjukkan bahwa Maxomys tidak membentuk kelompok yang utuh (non-monofiletik) jika dipisahkan dari Crunomys. Oleh karena itu, revisi ini dianggap paling tepat untuk mencerminkan hubungan evolusi sebenarnya,” jelas Anang.

    Anang menegaskan pentingnya penelitian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan. Penemuan Crunomys tompotika menunjukkan pentingnya eksplorasi lapangan dan kolaborasi internasional dalam mengungkap keragaman mamalia di Sulawesi.

    ”Hasil ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak kekayaan hayati Indonesia yang menunggu untuk dipelajari lebih dalam,” katanya.

    Sejak 2012, lebih dari 20 spesies baru mamalia berhasil dideskripsikan dari Sulawesi, menunjukkan betapa kayanya fauna endemik yang terus diungkap melalui penelitian.

    Baca: Nilai Strategis Ekosistem Kawasan Wallacea untuk Keanekaragaman Hayati Dunia

    Dengan adanya tambahan spesies baru, para ahli menegaskan pentingnya upaya eksplorasi biodiversitas di kawasan Wallacea, yang hingga kini masih kurang terwakili dalam studi biologi dibandingkan kawasan lain di Indonesia.

    “Penemuan spesies baru Crunomys dari Sulawesi ini membuka jendela baru terhadap sejarah evolusi hewan kecil di wilayah Wallacea, serta menegaskan pentingnya klasifikasi ulang pada tingkat genus untuk memahami keanekaragaman mamalia Indonesia secara lebih akurat,” ujar Anang.

    Kolaborasi lintas negara, sambung dia, memungkinkan pemanfaatan teknologi genomik terkini serta memperluas cakupan data biogeografi, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif mengenai sejarah evolusi mamalia di Asia Tenggara.

    Penemuan Crunomys tompotika sekaligus membuka peluang penelitian lebih lanjut, baik terkait ekologi maupun interaksinya dalam ekosistem hutan Sulawesi.

    “Data ini diharapkan menjadi pijakan penting memperkuat kebijakan konservasi dan memacu riset lanjutan dalam mendokumentasikan kekayaan hayati Indonesia,” pungkas Anang.

    Hasil penelitian lengkap telah diterbitkan dalam Jurnal Ilmiah Internasional, Journal of Mammalogy, Volume 106(4): 832–858, pada 13 Juni 2025, dengan judul Systematics and historical biogeography of Crunomys and Maxomys (Muridae: Murinae), with the description of a new species from Sulawesi and new genus-level classification.

    Baca: BRIN Targetkan Temukan 50 Spesies Baru Per Tahun

  • BRIN Temukan 51 Spesies Baru Sepanjang 2025

    BRIN Temukan 51 Spesies Baru Sepanjang 2025

    7cloud.asia – Sepanjang tahun 2025, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi 51 spesies baru.

    Penemuan tersebut terdiri atas 32 spesies baru fauna, 16 spesies baru flora, dan 3 spesies baru mikroba.

    Dari total penemuan tersebut, sebanyak 49 spesies berasal dari Indonesia, satu mikroalga dari Kaledonia Baru, dan satu krustasea dari Vietnam.

    Mayoritas spesies baru yang ditemukan di Indonesia merupakan spesies endemik yang hanya hidup di habitat tertentu, sehingga memiliki nilai penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus upaya konservasi lingkungan.

    Dengan adanya temuan ini, semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia yang masih menyimpan kekayaan biodiversitas belum sepenuhnya terungkap.

    Baca: Peneliti BRIN temukan spesies baru jamur morel dari Gunung Rinjani

    Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, Ph.D., mengatakan pengumpulan data primer tersebut merupakan langkah penting dalam upaya eksplorasi lingkungan sekaligus menjadi acuan dalam menjaga ekosistem.

    “Penentuan spesies itu sudah semakin presisi, datanya semakin valid dan terverifikasi. Jadi sebagai orang yang berkecimpung di bidang biodiversitas, justru ini yang harus didorong oleh pemerintah melalui kegiatan-kegiatan eksplorasi,” ujarnya dilansir ugm.ac.id, Jumat (13/2/2026).

    Sebagian besar temuan merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu, sehingga memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

    Keberadaan spesies endemik ini sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi dan pendataan biodiversitas secara berkelanjutan agar kekayaan hayati Indonesia dapat teridentifikasi sebelum terancam kerusakan lingkungan.

    Baca: Peneliti BRIN temukan spesies baru tumbuhan Araceae asal Riau

    Ia menegaskan bahwa pendataan menjadi langkah penting untuk mengetahui status kelestarian spesies dan mencegah potensi kepunahan akibat kerusakan ekosistem yang tidak terpantau.

    “Bahayanya kalau kita belum bisa mendata sementara ekosistemnya sudah rusak, kita tidak bisa mengetahui apakah spesies tersebut sudah punah atau belum karena kita tidak punya data,” ujarnya.

    Selama ini data biodiversitas Indonesia penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sebenarnya telah tersedia di berbagai institusi seperti kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi, namun belum terkelola secara terpadu dan sulit diakses publik.

    Kehadiran Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) bertujuan menghimpun, mengelola, serta menyusun data tersebut menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat digunakan untuk memantau status dan tren keanekaragaman hayati di Indonesia.

  • Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Ngengat Endemik Papua

    Peneliti BRIN Temukan Dua Spesies Baru Ngengat Endemik Papua

    7cloud.asia – Tim Peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengidentifikasi dua spesies baru ngengat endemik Indonesia dari genus Glyphodella dan Chabulina.

    Dua spesies baru ini diberi nama Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 dan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026.

    Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal internasional Raffles Bulletin of Zoology edisi Februari 2026, Volume 74, dengan judul Description of two new endemic species of the closely related genera, Glyphodella and Chabulina from Indonesia.

    Penemuan dua spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN Hari Sutrisno dan Rosichon Ubaidillah.

    Kegiatan Penelitian dilakukan melalui survei lapangan di wilayah Papua dan Sulawesi selama periode 2002–2017, serta kajian terhadap koleksi spesimen di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Bogor.

    Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan bahwa Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan satu-satunya spesies dari genus Glyphodella yang ditemukan di Indonesia, dan bersifat endemik Papua, khususnya di Pegunungan Foja.

    Baca: Peran penting serangga dalam menjaga kelestarian ekosistem

    Sementara, Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 merupakan spesies baru yang endemik Sulawesi dan ditemukan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Utara.

    Menurut Ubaidillah, kedua spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada pola sayap dan struktur genitalia yang menjadi penanda utama dalam identifikasi ngengat.

    “Glyphodella fojaensis memiliki ciri berupa bercak kuning berbentuk bulat pada sayap depan, serta struktur genitalia jantan yang berbeda dari spesies kerabatnya. Sementara Chabulina celebesensis dapat dikenali dari pola garis pada sayap dan bentuk genitalia yang khas,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa perbedaan karakter tersebut menjadi dasar utama penetapan kedua spesies sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Kedua spesies ini bersifat nokturnal atau aktif pada malam hari.

    “Karakter morfologi ini menunjukkan adanya keunikan evolusi dan adaptasi pada masing-masing habitat, baik di Papua maupun Sulawesi,” ungkapnya.

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan perangkap cahaya untuk mengoleksi spesimen, serta pengamatan detail menggunakan mikroskop. Seluruh spesimen kemudian disimpan dan didokumentasikan di Museum Zoologicum Bogoriense sebagai koleksi nasional.

    Baca: Anjloknya populasi serangga berdampak buruk pada lingkungan

    Berdasarkan hasil penelitian, Glyphodella fojaensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 hidup di hutan tropis primer di kawasan Pegunungan Foja, Papua, sedangkan Chabulina celebesensis Sutrisno & Ubaidillah, 2026 ditemukan di hutan sekunder tropis di wilayah Sulawesi.

    Penemuan ini menambah data keanekaragaman serangga Indonesia, khususnya kelompok ngengat famili Crambidae. Selain itu, temuan ini juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

    Para peneliti menilai bahwa keberadaan spesies endemik yang terbatas pada wilayah tertentu membuatnya rentan terhadap perubahan lingkungan, seperti deforestasi dan degradasi habitat.

    “Oleh karena itu, diperlukan upaya perlindungan ekosistem hutan di Papua dan Sulawesi agar spesies-spesies endemik ini dapat terus lestari,” jelas Rosichon.

    Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas serangga di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

  • Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Temukan Dua Spesies Baru Anggrek Gastrodia

    Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Temukan Dua Spesies Baru Anggrek Gastrodia

    7cloud.asia – Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berhasil mengidentifikasi dua spesies baru anggrek yang ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru.

    Dua spesies baru anggrek tersebut ditemukan pada awal Januari 2026 dan diberi nama Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis.

    Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBTS, Toni Artaka menyatakan dua spesies anggrek ditemukan oleh petugas yang saat itu sedang melaksanakan patroli kawasan, sekaligus melakukan pengidentifikasian terhadap biodiversitas.

    “Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis sama-sama ditemukan pada awal Januari 2026 di lereng selatan Gunung Semeru. Keduanya adalah catatan atau temuan baru di TNBTS yang mana selama ini belum pernah terdata,” kata Toni Jumat (27/3/2026) seperti dikutip Antaranews.com.

    Dua spesies tanaman anggrek ditemukan pada habitat yang relatif sama, yaitu teduh, berhumus tebal, dan cukup lembab di ketinggian 1.000 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl).

    Baca: Peneliti BRIN temukan anggrek akar tak berdaun endemik Pulau Sumatera

    Berdasarkan rangkuman yang diterima dari Pengendali Ekosistem Hutan menyebutkan bahwa dua spesies anggrek tersebut memiliki ciri khas yang berbeda.

    Untuk spesies baru Gastrodia selabintanensis tercatat pada bagian perbungaan memiliki panjang antara 15-25 centimeter dengan 2-4 bunga atau kuntum.

    Kelopak bunga spesies itu memiliki warna coklat kehijauan dengan tekstur kasar serta berkutil.

    Ukuran mahkota bunga Gastrodia selabintanensis memiliki panjang empat centimeter dan lebar empat centimeter berwarna putih semu serta kuning.

    Sedangkan spesies Gastrodia biruensis bagian perbungaannya memiliki panjang 18-32 centimeter dan bunganya berjumlah tiga sampai lima kuntum.

    Baca: Anggrek spesies baru Aerides obyrneana jadi buruan kolektor

    Bagian kelopak spesies itu berwarna coklat kekuningan dan bertekstur halus. Ukuran mahkota bunga Gastrodia biruensis memiliki panjang 4-6 centimeter dan lebar 4-5 centimeter dengan warna putih serta oranye.

    Kedua jenis anggrek ini termasuk tumbuhan mycoheterotropic yang mana pertumbuhannya sangat bergantung pada habitat dan sulit mengembangkan pembiakan di luar habitat alaminya.

    Meski demikian pihak balai besar belum menetapkan nama atau penyebutan lokal untuk dua spesies tanaman tersebut.

    Temuan baru ini menambah daftar kekayaan flora di kawasan TNBTS menjadi 309 spesies anggrek.

    Toni menyampaikan pihaknya terus melakukan upaya konservasi di kawasan TNBTS sebagai langkah melindungi keberlanjutan habitat tanaman anggrek, khususnya Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis.

    Toni menambahkan, pihaknya juga terus melakukan pemetaan sebaran populasi dua jenis anggrek ini dengan cara identifikasi pada lokasi lain pada musim berbunga.

  • Perkenalkan, Homalomena Lingua-felis Spesies Baru Araceae Temuan Peneliti BRIN

    Perkenalkan, Homalomena Lingua-felis Spesies Baru Araceae Temuan Peneliti BRIN

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tim dari Herbarium Bandungense SITH ITB, Universitas Sebelas Maret, IPB University, Universitas Lampung, Yayasan Botani Tropika Indonesia, dan Jungle Farm Nursery berhasil menemukan satu spesies baru tumbuhan aroid endemik Indonesia, yaitu Homalomena lingua-felis.

    Penemuan ini menambah data keanekaragaman flora Indonesia, khususnya kelompok Araceae, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia.

    Araceae mencakup berbagai macam tumbuhan monokotil terestrial atau terkadang sedikit akuatik dengan ciri khas bunga majemuk bertipe “tongkol” yang berseludang (spatha).

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal Internasional PhytoKeys Volume 271, halaman 161–172, dengan judul A new densely-haired aroid species of Homalomena (Araceae) from North Sumatra, Indonesia.

    Artikel ilmiah tersebut dapat diakses di tautan:https://doi.org/10.3897/phytokeys.271.172410.

    Penemuan spesies baru ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad Rifqi Hariri bersama tim.

    Baca: Dua spesies baru anggrek Gastrodia ditemukan di Bromo-Tengger

    Penelitian dilakukan melalui ekspedisi lapangan di wilayah Batang Toru, Tapanuli, Sumatra Utara pada Januari 2024, serta kajian morfologi dan analisis molekuler di laboratorium dan herbarium.

    Dalam publikasinya, para peneliti melaporkan Homalomena lingua-felis merupakan spesies yang memiliki kemiripan dengan Homalomena pexa, namun menunjukkan perbedaan morfologi dan genetik yang jelas.

    Menurut Rifqi, spesies ini memiliki karakter morfologi yang khas, terutama pada permukaan daun bagian atas yang dipenuhi rambut lebat dengan tekstur menyerupai lidah kucing.

    “Nama lingua-felis berasal dari bahasa Latin lingua dan feles yang berarti lidah dan kucing, merujuk pada tekstur unik permukaan daunnya,” ujarnya.

    Selain tekstur daun, perbedaan juga terlihat pada tangkai daun yang lebih pendek, permukaan bawah daun dan tangkai yang berbintil, serta struktur bunga jantan berbentuk kerucut.

    “Karakter morfologi tersebut menjadi dasar utama dalam penetapan spesies ini sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan,” ungkapnya.

    Baca: BRIN temukan 51 spesies baru sepanjang tahun 2025

    Penelitian ini dilakukan melalui pengumpulan sampel di habitat alami berupa dinding batu di sekitar air terjun pada ketinggian rendah. Spesimen yang dikoleksi kemudian diamati secara detail dan dibandingkan dengan koleksi herbarium.

    Untuk memperkuat hasil identifikasi, tim juga melakukan analisis DNA berbasis sekuens ITS guna memastikan posisi kekerabatan spesies ini dalam kelompok Homalomena.

    Spesies baru ini diketahui memiliki sebaran terbatas di wilayah Tapanuli dan bersifat endemik Sumatra Utara. Berdasarkan kajian awal menggunakan kriteria International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini diusulkan berstatus Rentan (Vulnerable).

    Hal ini karena spesies tersebut memiliki sebaran yang sangat terbatas dengan luas area hunian yang sempit serta menghadapi ancaman kebakaran hutan dan pengambilan ilegal akibat nilai estetikanya sebagai tanaman hias.

    Tim peneliti BRIN akan terus melakukan eksplorasi dan kajian biodiversitas tumbuhan di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya pendataan, pelestarian, dan pemanfaatan sumber daya hayati secara berkelanjutan.

  • Peneliti BRIN Deskripsikan Spesies Baru Keong Darat Hanya Ditemukan di Sumatra Selatan

    Peneliti BRIN Deskripsikan Spesies Baru Keong Darat Hanya Ditemukan di Sumatra Selatan

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mendeskripsikan satu spesies baru keong darat Chamalycaeus dayangmerindu.

    Spesies baru keong darat ini dideskripsikan oleh Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah bersama tim kolaborator,

    Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Zookeys pada 2026. Melalui temuan ini, tim peneliti BRIN berharap dapat terus mendorong eksplorasi dan kajian biodiversitas, khususnya kelompok moluska darat, sebagai bagian dari upaya pendataan dan pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan.

    Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Ilmiah Terindeks Global Bereputasi Tinggi (Q1)ZooKeys 1272: 1–31 (2026), dengan judul Operculate land snails (Gastropoda, Caenogastropoda, Cyclophoroidea) from Padang Bindu Karst, South Sumatra, Indonesia with the description of a new species, Chamalycaeus dayangmerindu.

    Penemuan spesies baru keong darat Chamalycaeus dayangmerindu ini merupakan hasil kajian panjang dari 2021 hingga dipublikasikan pada 2026. Artikel ilmiah tersebut dapat diakses melalui tautan: https://doi.org/10.3897/zookeys.1272.179378

    Kegiatan pengambilan sampel dilakukan pada 2021 sebagai bagian dari Ekspedisi Karakterisasi dan Valuasi Kawasan Ekosistem Esensial: Karst di Sumatra, Indonesia.

    Baca: Keong darat adalah spesies penting dalam ekosistem tapi terlupakan

    Selanjutnya, telaah taksonomi melalui pengamatan morfologi cangkang dan pembandingan dengan spesimen koleksi ilmiah dilakukan hingga 2025.

    Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Ayu Savitri Nurinsiyah, menjelaskan proses menemukan, mendeskripsi, dan mengungkap (mempublikasikan) spesies baru bukan perjalanan yang singkat.

    Suatu spesies dapat diakui sebagai spesies baru apabila telah melalui beragam tahapan ilmiah, mulai dari telaah morfologi, anatomi, atau genetika, komparasi dengan spesies yang telah diketahui sebelumnya.

    Juga proses penelaahan oleh para ahli (peer review) dunia dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

    Ayu mengatakan, perjalanan panjang pengungkapan keanekaragaman hayati sudah menjadi jejak langkah setiap Taksonom.

    “Mulai dari ekspedisi dan eksplorasi di lapangan, telaah literatur dan laboratorium, hingga proses penulisan dan pengakuan secara internasional. Meski panjang dan penuh tantangan, saya percaya setiap proses dalam perjalanan ini akan selalu bermakna dan bermanfaat,” ujarnya.

    Baca: 40 Spesies hewan liar migrasi ditetapkan jadi satwa yang dilindungi

    Hingga saat ini, spesies Chamalycaeus dayangmerindu hanya ditemukan di kawasan karst Padang Bindu, Sumatra Selatan. Kondisi tersebut menjadikannya rentan terhadap perubahan lingkungan, termasuk alih fungsi lahan dan degradasi habitat.

    Menurut Ayu, dokumentasi dan publikasi spesies baru merupakan langkah awal yang penting dalam upaya konservasi.

    Pengungkapan spesies baru ini juga merupakan hasil kolaborasi dengan beberapa pihak, yaitu Universitas Negeri Surabaya dan Széchenyi István University, Hungaria.

    Salah satu penulis, Latifah Nurul Aulia, merupakan mahasiswa dari Universitas Negeri Surabaya yang melakukan penelitian di BRIN sejak masa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) hingga tugas akhir.

    Latifah bergabung di BRIN sejak menjadi mahasiswa Program MBKM hingga melanjutkan tugas akhirnya dengan program Bantuan Riset bagi Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) BRIN.

    “Tidak mudah mencari generasi penerus dalam bidang taksonomi dan biosistematika, lebih lagi di taksa keong. Semoga akan lebih banyak lagi generasi muda yang curious dan peduli terhadap pengungkapan keanekaragamanan hayati Indonesia”, lanjut Ayu.