BRIN Temukan 51 Spesies Baru Sepanjang 2025

Written by

in

7cloud.asia – Sepanjang tahun 2025, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), berhasil mengidentifikasi 51 spesies baru.

Penemuan tersebut terdiri atas 32 spesies baru fauna, 16 spesies baru flora, dan 3 spesies baru mikroba.

Dari total penemuan tersebut, sebanyak 49 spesies berasal dari Indonesia, satu mikroalga dari Kaledonia Baru, dan satu krustasea dari Vietnam.

Mayoritas spesies baru yang ditemukan di Indonesia merupakan spesies endemik yang hanya hidup di habitat tertentu, sehingga memiliki nilai penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus upaya konservasi lingkungan.

Dengan adanya temuan ini, semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia yang masih menyimpan kekayaan biodiversitas belum sepenuhnya terungkap.

Baca: Peneliti BRIN temukan spesies baru jamur morel dari Gunung Rinjani

Guru Besar Fakultas Biologi UGM sekaligus Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI), Prof. Budi Setiadi Daryono, Ph.D., mengatakan pengumpulan data primer tersebut merupakan langkah penting dalam upaya eksplorasi lingkungan sekaligus menjadi acuan dalam menjaga ekosistem.

“Penentuan spesies itu sudah semakin presisi, datanya semakin valid dan terverifikasi. Jadi sebagai orang yang berkecimpung di bidang biodiversitas, justru ini yang harus didorong oleh pemerintah melalui kegiatan-kegiatan eksplorasi,” ujarnya dilansir ugm.ac.id, Jumat (13/2/2026).

Sebagian besar temuan merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu, sehingga memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.

Keberadaan spesies endemik ini sekaligus menegaskan pentingnya eksplorasi dan pendataan biodiversitas secara berkelanjutan agar kekayaan hayati Indonesia dapat teridentifikasi sebelum terancam kerusakan lingkungan.

Baca: Peneliti BRIN temukan spesies baru tumbuhan Araceae asal Riau

Ia menegaskan bahwa pendataan menjadi langkah penting untuk mengetahui status kelestarian spesies dan mencegah potensi kepunahan akibat kerusakan ekosistem yang tidak terpantau.

“Bahayanya kalau kita belum bisa mendata sementara ekosistemnya sudah rusak, kita tidak bisa mengetahui apakah spesies tersebut sudah punah atau belum karena kita tidak punya data,” ujarnya.

Selama ini data biodiversitas Indonesia penyusunan Indeks Biodiversitas Indonesia (IBI) sebenarnya telah tersedia di berbagai institusi seperti kementerian, lembaga riset, dan perguruan tinggi, namun belum terkelola secara terpadu dan sulit diakses publik.

Kehadiran Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) bertujuan menghimpun, mengelola, serta menyusun data tersebut menjadi indeks biodiversitas nasional yang dapat digunakan untuk memantau status dan tren keanekaragaman hayati di Indonesia.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *