Tag: survei

  • Survei SMRC: Pasangan Capres Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil Unggul

    Survei SMRC: Pasangan Capres Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil Unggul

    7cloud.asia – Survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) memetakan elektabilitas tiga bakal calon presiden (capres) Pemilu 2024.

    Survei terbaru SMRC soal elektabilitas capres ini digelar pada 5-8 September 2023, dengan melibatkan 1.212 responden yang dipilih melalui metode random digit dialing (RDD) atau pembangkitan nomor telepon secara acak.

    Margin of error survei SMRC soal elektabilitas tiga bakal capres ini diperkirakan +-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

    Dalam survei ini, SMRC melakukan simulasi bakal capres PDI Perjuangan Ganjar Pranowo berpasangan dengan mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

    Baca: Mengenal kepemimpinan Ganjar Pranowo yang penuh falsafah

    Sementara, bakal capres Partai Gerindra Prabowo Subianto disimulasikan berpasangan dengan Menteri BUMN Erick Thohir.

    Lalu, bakal capres Koalisi Perubahan untuk Persatuan, Anies Baswedan, dipasangkan dengan bakal calon wakil presiden (cawapres) Muhaimin Iskandar.

    Hasilnya, pasangan Ganjar Pranowo -Ridwan Kamil mendapat dukungan paling besar dengan raihan 35,4 persen.

    Di urutan kedua, pasangan Prabowo-Erick Thohir mengantongi 31,7 persen. Sementara, Anies-Muhaimin mengekor di urutan terakhir dengan perolehan dukungan 16,5 persen.

    Baca: Golkar dan PAN resmi dukung Prabowo

    Dilansir Kompas.com, pendiri SMRC, Saiful Mujani mengatakan, survei ini memperlihatkan bahwa suara Anies belum mengalami kenaikan setelah mendeklarasikan Muhaimin sebagai cawapresnya.

    Sebab, dalam survei individual yang menghadapkan Anies dengan Ganjar dan Prabowo, suara mantan Gubernur DKI Jakarta itu masih di kisaran 20 persen.

    “Artinya, ketika Anies berpasangan dengan Muhaimin, data ini menunjukkan suara Anies belum mengalami kenaikan,” kata Saiful dalam siaran pers yang dirilis Kamis (14/9/2023)

    Menurut Saiful, 16,5 persen suara Anies-Muhaimin mencerminkan kekuatan dua partai. Keduanya, bisa Nasdem dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), atau Nasdem dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

    Baca: Pasangan Anies-Muhaimin Iskandar resmi dideklarasikan

    Dengan demikian, kata Saiful, Anies tidak atau kurang memiliki pemilih independen. Sebab, pendukungnya hanya berasal dari partai-partai yang mendukungnya.

    Dilihat dari data sementara tersebut, Anies belum memberikan efek ekor jas atau coat-tail effect karena suara pendukungnya masih merupakan suara partai.

    “Kalau menurun, saya tidak bisa bilang begitu. Tapi setidak-tidaknya (data ini menunjukkan) tidak meningkat. Ini reaksi publik beberapa hari setelah deklarasi Anies-Muhaimin,” jelas Saiful.

     

    Adapun Anies dan Cak Imin, demikian sapaan akrab Muhaimin, resmi mendeklarasikan diri sebagai bakal capres dan bakal cawapres Koalisi Perubahan untuk Persatuan pada Sabtu (2/9/2023).

    Hingga kini, pasangan ini didukung oleh Partai Nasdem, PKB, dan PKS. Sementara, PDI Perjuangan menjagokan mantan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

    Baca: Ganjar ajak peserta Pilpres 2024 kedepankan etika 

    Pencapresan Ganjar juga didukung Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Hanura. 

    Namun, sosok Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno santer disebut di bursa cawapres politikus PDI-P itu.

    Di sisi lain, Partai Gerindra hendak mencalonkan ketua umumnya, Prabowo Subianto. Prabowo didukung oleh Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB).

    Prabowo juga belum mengumumkan calon pendampingnya. Akan tetapi, sosok Erick Thohir digadang-gadang jadi calon RI-2 yang potensial mendampingi Menteri Pertahanan itu. 

     

  • Survei Ipsos: Ganjar Pranowo Populer di Kalangan Milenial dan Gen Z, Ini Sebabnya

    Survei Ipsos: Ganjar Pranowo Populer di Kalangan Milenial dan Gen Z, Ini Sebabnya

    7cloud.asia – Hasil survei Ipsos Public Affairs menyebutkan bahwa elektabilitas bakal calon presiden (capres) PDI Perjuangan Ganjar Pranowo unggul di kalangan milenial (usia 25-39 tahun) dan Gen Z (usia 17-24 tahun).

    Survei Ipsos menyebutkan bahwa elektabilitas Ganjar Pranowo unggul di kalangan Gen Z (17-24 tahun), yaitu sebesar 42,40 persen. Sementara itu, Prabowo Subianto sebesar 41,6 persen, Anies Baswedan 16 persen.

    Dalam survei Ipsos itu, kalangan milenial (25-39 tahun), Ganjar Pranowo masih unggul di angka 39,90 persen, lalu Prabowo 35,71 persen, dan Anies Baswedan 24,38 persen.

    Baca: Survei SMRC ungkap Ganjar Pranowo – Ridwan Kamil Unggul

    Survei Ipsos tersebut digelar pada 22 sampai 27 Agustus 2023 di 24 provinsi, pada daerah perkotaan dan perdesaan.

    Survei ini menggunakan metode wawancara tatap muka dengan 1.200 responden dengan menggunakan aplikasi Ipsos Ifield yang merupakan sistem Computer-Assisted Personal Interviews (CAPI).

    Survei Ipsos tersebut memiliki margin of error sekitar 2,83 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

    Baca: Jumlah pemilih disabilitas di Pemilu 2024 capai 1,1 juta orang

    Ketua Umum Angkatan Muda Ka’bah (AMK) Rhendika Harsono menilai bakal calon presiden (bacapres) Ganjar Pranowo sangat paham komunikasi dengan kalangan milenial dan Gen Z.

    Oleh karena itu, menurut dia, dengan sosok Ganjar yang komunikatif dan tidak kaku, sehingga wajar jika mantan Gubernur Jawa Tengah itu memiliki elektabilitas yang tinggi di kalangan milenial dan Gen Z.

    “Ganjar sangat low profile, tidak kaku, dekat dengan semua masyarakat, mahasiswa dan pelajar,” kata Rhendika di Jakarta, Sabtu (16/9/2023) 

    Baca: Aplikasi belanja yang paling banyak diunduh

    Menurut dia, Ganjar sangat paham bagaimana berkomunikasi dengan kalangan milenial dan GenZ. Itu bisa dilihat dari akun media sosial Gubernur Jawa Tengah dua periode itu memiliki follower di atas enam juta.

    “Kalangan milenial dan Gen Z yang bisa dilihat misal di akun Instagram Ganjar memiliki follower 6,2 Juta, akun tiktok Ganjar dengan follower 7,1 juta dan like mencapai 174,5 juta,” ujarnya.

    Menurut dia, dari banyak penelitian yang menyebutkan bahwa Ganjar Pranowo sangat diminati kalangan milenial dan Gen Z.

    Bisa diambil beberapa kesimpulan, seperti Ganjar sangat berpengalaman sebagai seorang anggota DPR RI yang vokal, handal, dan ramah media.

    Baca: Cara beda PSI dan PDIP memandang pemilih Gen Z

    Selain itu, dia menilai Ganjar sukses memimpin Jawa Tengah sebagai gubernur selama dua periode, yang menempati urutan ke-5 sebagai provinsi terpadat di Indonesia dan disebut juga sebagai provinsi pusat pendidikan.

    Rhendika menegaskan bahwa AMK sebagai badan otonom dari PPP, akan bersinergi dengan program PPP, khususnya untuk lebih memperkenalkan Ganjar di kalangan anak muda.

    Menurut dia, para kader AMK yang menjadi calon anggota legislatif di PPP mengacu kepada keputusan dan langkah pemenangan yang diputuskan Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPP PPP.

     

  • Survei SMRC: Pasangan Anies Muhaimin Belum Geser Elektabilitas Ganjar Pranowo di Jawa Timur

    Survei SMRC: Pasangan Anies Muhaimin Belum Geser Elektabilitas Ganjar Pranowo di Jawa Timur

    7cloud.asia – Untuk mengetahui dampak elektoral dari deklarasi pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar atau pasangan Anies Muhaimin, SMRC melakukan survei telepon secara nasional.

    Survei SMRC ini dilakukan pada 20-22 September 2023 melalui telepon dengan target warga Jawa Timur yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon/cellphone, sekitar 80% dari total populasi Jawa Timur.

    Pemilihan sampel dilakukan melalui metode random digit dialing (RDD).  Sebanyak 140 responden dipilih melalui proses pembangkitan nomor telepon secara acak, divalidasi, dan discreening oleh tim peneliti SMRC.

    Margin of error survei SMRC kali ini diperkirakan ±8,5% pada tingkat kepercayaan 95%, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang dilatih. 

    Dalam survei SMRC tersebut, dibuat simulasi pasangan Anies Muhaimin berhadapan dengan Ganjar Pranowo-Mahfud MD dan Prabowo-Erick.

    Baca: Faktor Muhaimin belum angkat elektabilitas Anies

    Juga dilakukan perbandingan dengan pasangan Anies-Muhaimin berhadapan dengan Ganjar Pranowo-RK dan Prabowo-Erick. Lalu hasilnya dianalisa khusus di Jawa Timur.

    Dalam format pasangan Anies Muhaimin vs Ganjar Pranowo-Mahfud vs Prabowo-Erick, di Jawa Timur, pasangan Anies Muhaimin mendapat suara 12 persen, Ganjar-Mahfud 45 persen, Prabowo-Erick 28 persen, dan tidak jawab 14 persen.

    Sementara dalam simulasi Ganjar Pranowo berpasangan dengan Ridwan Kamil, Anies-Muhaimin mendapat dukungan 14 persen, Ganjar-RK 47 persen, Prabowo-Erick 24 persen, dan tidak jawab 14 persen.

    Saiful menyimpulkan bahwa setelah sekitar dua atau tiga minggu pasca-deklarasi Anies Muhaimin, dukungan pada pasangan ini di Jawa Timur belum mengalami perkembangan.

    Baca: Saat 3 bakal Capres bicara adu gagasan

    “Mungkin butuh waktu yang lebih lama lagi untuk mengkampanyekan pasangan Amin ini (agar lebih berkembang). Setidak-tidaknya sampai survei terakhir ini (20-22 September 2023), kita belum melihat adanya perkembangan positif terhadap pasangan ini,” pungkasnya.

    Sebelumnya, SMRC juga melakukan survei nasional secara tatap muka persis setelah deklarasi Anies-Muhaimin, 2 September 2023.

    Survei nasional tersebut dilakukan pada 2 sampai 11 September 2023. Survei dilakukan secara nasional, namun yang dianalisis adalah khusus di Jawa Timur.

    Dalam format tanpa pasangan pada simulasi tiga nama, Ganjar Pranowo mendapat dukungan 44 persen, Prabowo Subianto 23 persen, Anies Baswedan 14,2 persen, sementara yang tidak menjawab atau tidak tahu 18,8 persen.

    Saiful menjelaskan bahwa suara Anies di Jawa Timur tidak banyak berbeda dengan suaranya di tingkat nasional, bahkan cenderung lebih rendah.

    Baca: Seperti ini gagasan Anies Muhaimin 

    Pada survei sebelumnya (31 Juli – 11 Agustus 2023), secara nasional Anies mendapatkan dukungan 20,4 persen.

    Menurut Saiful, hal ini menunjukkan di Jawa Timur, di mana deklarasi Anies-Muhaimin itu dilakukan, tidak membuat Anies menguat untuk sementara ini.

    “Di Jawa Timur, Ganjar masih unggul, terutama dengan Anies, dengan selisih dukungan sekitar 30 persen,” ungkapnya.

    Dalam simulasi pasangan di mana Anies berpasangan dengan Muhaimin melawan Ganjar-Ridwan Kamil dan Prabowo-Erick Thohir.

    Hasilnya pasangan Anies-Muhaimin mendapat dukungan 12 persen, Ganjar-RK 46 persen, Prabowo-Erick 23 persen, dan tidak jawab 19 persen.

    Saiful menjelaskan bahwa di Jawa Timur yang merupakan basis PKB, NU, dan Muhaimin, setelah deklarasi Anies-Muhaimin, belum terlihat ada kejutan.

    Baca: Ganjar ajak capres tidak korbankan persatuan demi mengejar kemenangan

    “Harapannya kan ada kejutan di mana dukungan pada pasangan Amin (Anies-Muhaimin) menjadi lebih kompetitif terhadap Ganjar maupun Prabowo. Namun dalam survei 2-11 September 2023, deklarasi Amin tersebut belum memperkuat pasangan Amin maupun Anies sendiri,” kata Saiful.

    Lebih jauh Saiful mengemukakan bahwa dalam survei 2-11 September 2023 tersebut, yang disimulasikan memang hanya pasangan Ganjar-Ridwan Kamin dan Prabowo-Erick untuk melihat efek deklarasi pasangan Anies-Muhaimin.

    Secara teoretis, lanjut Saiful, jika ada pasangan dari wilayah tertentu, maka akan memperkuat dukungan dari wilayah asal pasangan tersebut.

    Namun dalam simulasi di mana Ganjar Pranowo berpasangan dengan Ridwan Kamil yang bukan berasal dari Jawa Timur, Ganjar Pranowo tetap kompetitif dibanding Anies.

    Bahkan ketika Anies sudah berpasangan dengan Muhaimin yang merupakan kader NU dan mantan ketua umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi mahasiswa tingkat nasional yang berafiliasi dengan NU.

     

    Baca: 

     

  • Survei Indikator Politik: Ganjar Pranowo Unggul di Simulasi 3 Nama

    Survei Indikator Politik: Ganjar Pranowo Unggul di Simulasi 3 Nama

    7cloud.asia – Survei terbaru yang dilakukan Lembaga Indikator Politik Indonesia  menunjukkan Ganjar Pranowo menjadi bakal capres dengan elektabilitas tertinggi.

    Survei Indikator Politik Indonesia ini dilakukan pada tanggal 25 Agustus-3 September 2023 di seluruh wilayah Indonesia melibatkan sebanyak 4.090 respoden.

    Dengan menggunakan multistage random sampling, margin of error yang diterapkan Survei Indikator Politik Indonesia ini sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

    Baca: Survei SMRC ungkap pasangan Anies-Muhaimin belum geser Ganjar Pranowo di Jawa Timur

    Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menyampaikan hasil ini terlihat ketika pihaknya melakukan simulasi pertarungan tiga calon yang berpotensi menjadi capres.

    Mereka yaitu Ganjar Pranowo, Prabowo Subianto dan Anies Baswedan. 

    “Dari tiga nama besar, Ganjar unggul atas Prabowo dan Anies,” kata Burhanuddin dalam paparan hasil surveinya secara daring, Sabtu (30/9/2023).

    Baca Juga: G30S, G30S/PKI, Gestapu, Gestok, Mengapa Gerakan 30 September Punya Beragam Nama?

    Dalam hasil survei Indikator terlihat Ganjar Pranowo memperoleh elektabilitas sebesar 37,4 persen.

    Mantan gubernur Jawa Tengah itu menduduki peringkat teratas. Baca Juga Ganjar Tegaskan Pemberantasan Korupsi Prioritas Utama usai Terpilih Jadi Presiden di 2024

    Kemudian, peringkat kedua ditempati oleh Prabowo Subianto dengan elektabilitas sebesar 33 persen.

    Di peringkat terakhir ditempati Anies Baswedan dengan perolehan elektabilitas sebesar 21,5 persen.

    “Sementara yang menjawab Tidak tahu/tidak jawab sebesar 8,2 persen,” ujarnya.

    Baca Juga: Jokowi ke Ganjar Pranowo: Rencanakan Kedaulatan Pangan dari Sekarang, Langsung Eksekusi Begitu Dilantik

    Sementara pada simulasi head to head, Prabowo unggul atas Ganjar Pranowo dengan perolehan 45,3 persen dibanding 41.2 persen).

    Prabowo juga unggul signifikan atas Anies, 52.3 persen vs 30.5 persen lebih dominan ketimbang Ganjar Pranowo Vs Anies, 49.7 persen Vs 33.2 persen

    Pada simulasi daftar 18 lambang dan nama partai, PDIP paling banyak didukung dengan  26 persen.

    Baca Juga: Angkat Tema Kedaulatan Pangan untuk Kesejahteraan Rakyat, Rakernas PDIP Sebut Food Estate Harus Dievaluasi

    Kemudian berturut-turut disusul Gerindra 12.6 persen, Golkar 9.2 persen, PKB 7.5 persen, PKS 5.2 persen, Demokrat 5.1 persen, NasDem 4.8 persen,

    PAN 4.5 persen, PPP 2.4 persen, Perindo 1.9 persen dan partai Lainnya kurang dari 1 persen.

    “Sementara sekitar 19 persen sisanya belum menentukan pilihan” terang Muhtadi.

     

     

     

  • Survei LSI: Mayoritas Warga Nilai Putusan MK Soal Usia Minimal Capres Tidak Adil

    Survei LSI: Mayoritas Warga Nilai Putusan MK Soal Usia Minimal Capres Tidak Adil

    7cloud.asia – Survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengungkap hanya 24 persen warga yang tahu jika Ketua MK, Anwar Usman adalah adik ipar Presiden Jokowi.

    Namun, dari angka hasil survei LSI itu 57,6 persen di antaranya mengatakan keputusan MK mengenai batasan usia calon presiden/calon wakil presiden sebagai keputusan yang tidak adil.

    “Dengan kata lain kalau misalnya yang tahu Ketua MK adalah adik ipar Presiden makin banyak, maka penilaian bahwa keputusan MK sangat tidak adil karena menguntungkan keluarga Presiden, akan lebih banyak lagi,” jelas Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan secara daring, Minggu (22/10/2023).

    Baca: Majelis Kehormatan MK dibentuk untuk tangani pelaporan terkait dugaan pelanggran kode etik

    Survei LSI  tersebut juga mendapati bahwa sekitar 37,2 persen warga tahu atau pernah mendengar keputusan MK terkait batasan usia calon presiden atau calon wakil presiden.

    Dilansir VOA INdonesia, survei LSI itu melibatkan 1.229 responden pada 16-18 Oktober 2023 dengan tingkat kesalahan kurang lebih 2,9 persen.

    Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa elektabilitas Prabowo Subianto naik tipis sekitar 3,4 persen atau menjadi 35,9 persen jika berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka.

    Baca: Keputusan MK soal usia minimal capres/cawapres berujung pelaporan

    Persentase ini mengungguli Ganjar Pranowo-Mahfud MD (26,1 persen) dan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (19,6 persen).

    Namun semakin banyak yang tahu jika Ketua MK adalah adik ipar Jokowi, maka dukungan terhadap Prabowo diperkirakan akan menyusut.

    “Makin banyak orang tahu Ketua MK Anwar Usman adalah adik ipar presiden, maka potensi suara menurunkan suara Prabowo lebih besar,” tambah Djayadi Hanan. 

    Baca: Putusan MK muluskan nafsu Gibran jadi cawapres

    Di samping itu, hasil survei juga menunjukkan tingkat kepercayaan pada lembaga negara lebih rendah di kelompok yang tahu tentang keputusan MK.

    Setidaknya hal itu terjadi di tubuh Polri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), DPR, dan MK. Adapun yang tidak terdampak, yaitu TNI, Kejaksaan Agung, Pengadilan, dan Partai Politik.

    “Mungkin untungnya masyarakat yang mengikuti putusan MK (hanya) 37 persen, kalau angka ini lebih besar bisa jadi kepercayaan ke lembaga-lembaga politik mungkin potensial akan mengalami penurunan.” ujar Hanan

    Baca: MK diminta tak jadi fasilitator politik dinasti keluarga Jokowi

    Pengamat politik dari Universitas Islam Internasional Indonesia (UII) Philips J. Vermonte menyoroti potensi penurunan kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga negara.

    Ia meyakini semakin banyak warga yang tahu tentang putusan MK ini akan semakin banyak yang tidak percaya terhadap lembaga negara dan institusi demokrasi.

    Karena itu, ia menilai hal ini akan menjadi kemunduran bagi demokrasi di Indonesia.

    Baca: Anak muda di Pemilu 2024, yang berjuang dengan previlese dan yang berdiri di atas kaki sendiri

    “Kita ini seperti mendorong batu ke atas bukit lalu menggelinding ke bawah dan kita dorong ke atas dan menggelinding lagi ke bawah,” ujarnya.

    Vermonte mengatakan kemunduran demokrasi yang telah disepakati pada awal reformasi terlihat dalam pembahasan undang-undang lainnya. Sebagai contoh Undang-Undang Aparatur Sipil Negara yang membolehkan TNI-Polri untuk menduduki jabatan sipil.

    Selain itu, ia khawatir penggunaan institusi hukum seperti MK akan digunakan oleh pemenang pemilu mendatang untuk kepentingan pribadi atau golongan. (VOA Indonesia)

    Baca: Dari AHY hingga Gibran, mengulik dinasti politik di Indonesia

  • Survei Charta Politica: Pasangan Ganjar dan Mahfud MD Bersaing Ketat dengan Prabowo-Gibran

    Survei Charta Politica: Pasangan Ganjar dan Mahfud MD Bersaing Ketat dengan Prabowo-Gibran

    7cloud.asia – Lembaga survei Charta Politika Indonesia, Senin (6/11/2023) merilis hasil survei terbarunya soal elektabilitas tiga pasangan calon yang akan berkontestasi di Pilpres 2023. 

    Survei yang dilakukan pada 26-31 Oktober 2023 ini menunjukkan elektabilitas pasangan Ganjar dan Mahfud MD masih unggul dibanding dua pasangan lainnya.

    Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengungkapkan, elektabilitas Ganjar dan Mahfud MD tercatat sebesar 36,8 persen, sementara Prabowo-Gibran 34,7 persen dan pasangan Anies-Cak Imin 24,3 persen. 

    Baca: Beda cara Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto tangani kemiskinan

    Simulasi tiga pasangan Adapun elektabilitas Ganjar-Mahfud dan Prabowo-Gibran bersaing ketat dalam simulasi tiga pasangan calon presiden dan wakil presiden.

    “(Elektabilitas) tidak terlalu jauh berbeda, Ganjar-Mahfud ada di angka 36,8 persen, Prabowo Subianto-Gibran di angka 34,7 persen,” kata Yunarto dalam konferensi pers, Senin (6/11/2023) yang dipantau dari akun YouTube resmi Charta Politica Indonesia. 

    Menurut Yunarto, selisih 2,1 persen antara Ganjar dan Mahfud MD dengan Prabowo-Gibran itu berada sedikit di atas margin of error 2 persen pada survei ini.

    Baca: Bahaya dinasti politik pada demokrasi

    Namun, jika  jika diadu dengan skema head to head pasangan Ganjar dan Mahfud MD kalah dibanding Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming. 

    Namun jika diadu head to head, pasangan Ganjar dan Mahfud MD kalah tertinggal 2,9 persen dibanding pasangan Prabowo-Gibran. Pasangan Ganjar dan Mahfud MD meraih 40,6 persen sedangkan Prabowo-Gibran meraih 43,5 persen. 

    “(Elektabilitas) Prabowo-Gibran dengan pasangan Ganjar dan Mahfud MD ada di angka 43,5 persen melawan 40,6 persen, jadi selisih 2,9 persen,” kata Yunarto 

    Baca: Mengapa dinasti politik Jokowi disoal

    Sementara, Prabowo-Gibran unggul cukup telak dibandingkan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dalam simulasi dua nama, yakni 50,3 persen berbanding 29 persen.

    “(Elektabilitas) Pak Prabowo-Gibran dengan Anies-Cak Imin ada di angka 50 lawan 29, ada selisih sekitar 20 persen,” kata Yunarto  

    Sementara itu, Ganjar dan Mahfud MD tercatat unggul ketimbang Anies-Muhaimin jika keduanya berhadapan, dengan elektabilitas 45,5 persen dan 34,4 persen.

     

    Baca: Kaum muda di Pemilu 2024 ada yang mewarisi previlese dan yang berjuang di atas kaki sendiri

    Berselisih cukup jauh di bawah keduanya, elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar ada di angka 24,3 persen.

    Sisanya, ada 4,3 persen responden yang menjawab tidak tahu atau tidak menjawab.

    Adapun survei ini dilaksanakan pada 26-31 Oktober dengan melakukan wawancara kepada 2.400 orang responden dari 38 provinsi se-Indonesia.

    Survei ini memiliki margin of error lebih kurang 2,0 persen.

    Baca: Menunggu putusan MKMK, akankah pengaruhi pendaftaran capres/cawapres

  • Survei Charta Politika: Cawe-cawe Jokowi di Pemilu 2024 Turunkan Kepuasan Publik

    Survei Charta Politika: Cawe-cawe Jokowi di Pemilu 2024 Turunkan Kepuasan Publik

    7cloud.asia – Hasil Survei terbaru Charta Politika menunjukkan kenaikan harga bahan pokok dan sikap Jokowi dalam Pemilu 2024 memengaruhi kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah Jokowi.

    Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya mengatakan sikap Jokowi terkait Pemilu 2024 inilah yang membuat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah Jokowi-Ma’ruf Amin sedikit menurun dibanding sebelumnya. 

    Dipantau di akun YouTube Charta Politika, Yunarto menyebut  kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah pusat mencapai 75,5 persen atau dianggap masih cukup baik.

    “Kami dapat angka 75,5 persen responden yang menyatakan masyarakat puas dengan kinerja pemerintah pusat, yang terdiri atas 11,3 persen responden sangat puas dan 64,2 persen cukup puas dengan kinerja pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya di Jakarta, Senin (6/11/2023).

    Baca: Melawan kekuasaan yang dipertontonkan Jokowi, Relawan Ganjar gunakan hati

    Yunarto menyebut kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi di periode kedua ini lebih baik dibandingkan kepuasan publik pada akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhono (SBY).

    Saat itu kepuasan publik terhadap kinerja SBY cenderung berada di angka 60 persen.

    Meskipun demikian, kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah menurun dibandingkan posisi tertinggi pada Mei 2023 yang sebesar 79 persen.

    Secara sektoral, kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah Jokowi-Ma’ruf Amin di sektor ekonomi masih cukup bagus, karena berada di atas 60 persen atau tepatnya di 61,8 persen.

    Baca: Dinasti politik Jokowi terlalu telanjang, sehingga banyak disorot

    Kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah Jokowi di sektor hukum juga masih cukup baik, yakni sebesar 63,8 persen.

    Namun, kepuasan terhadap kinerja pemerintah dalam pemberantasan korupsi dinilai masih kurang baik karena hanya mencapai 59,8 persen atau di bawah 60 persen.

    “Ini jadi lampu merah karena jauh sekali dari tingkat kepuasan secara umum yang 75 persen. Sementara itu, kepuasan publik terhadap kinerja pemerintah di bidang pemberantasan korupsi hanya 59,8 persen,” ujar Yunarto.

    Dalam survei ini, Charta Politika juga menanyakan pendapat publik terkait keputusan MK yang melapangkan jalan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menjadi cawapres. 

    Baca: Ini bahayanya politik dinasti bagi demokrasi

    Dari 62,3 persen responden yang mengetahui keputusan MK soal usia minimal capres/cawapres, 49,9 persen atau hampir separuh responden menilai ada penyalahgunaan wewenang untuk memudahkan langkah putra sulung Jokowi itu menjadi cawapres. 

    “Sementara 48,9 persen responden menilai Gibran belum pantas maju menjadi cawapres,” imbuh Yunarto. 

    Selain itu 59.3% atau mayoritas responden menyatakan tidak setuju dengan praktik politik dinasti yang saat ini sedang dipertontonkan keluarga Jokowi.

    Survei Charta Politika ini dilakukan melalui wawancara langsung pada 26-31 Oktober 2023.

    Survei dilakukan dengan menggunakan kuesioner terstruktur terhadap sampel sebanyak 2.400 responden yang tersebar di 38 provinsi Indonesia.

     

     

     

  • Survei Terbaru Indikator Politik: Kecil Kemungkinan Pilpres 2024 Berlangsung Satu Putaran

    Survei Terbaru Indikator Politik: Kecil Kemungkinan Pilpres 2024 Berlangsung Satu Putaran

    7cloud.asia – Hasik jajak pendapat terbaru dari Indikator Politik menyebut, kecil kemungkinan Pilpres 2024 akan berlangsung satu putaran.

    Dalam hasil survei Indikator Politik Indonesia  tentang elektabilitas capres-cawapres yang dirilis Selasa (26/12/2023) belum ada pasangan capres cawapres yang elektabilitasnya melampaui 50 persen.

    Dalam survei yang dilaksanakan pada 23–24 Desember 2023 itu, jika Pilpres 2024 dilaksanakan hari ini, Prabowo-Gibran dipastikan lolos putaran kedua namun belum mampu menyentuh angka 50 persen.

    “Kami belum menemukan data Prabowo-Gibran menyentuh angka 50 persen,” ucap Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi dalam rilis hasil survei yang disiarkan secara daring. 

    Baca: Cawe-cawe Jokowi turunkan kepuasan publik

    Burhanuddin Muhtadi, menyatakan hasil survei ini sekaligus membantah lembaga lain yang menyebut Prabowo-Gibran bakal menang satu putaran. 

    Survei Indikator Politik ini dilakukan setelah debat yang disiarkan televisi antara calon presiden pada 12 Desember dan debat cawapres pada 22 Desember. Tiga debat lagi akan dilangsungkan sebelum Pemilu 2024 digelar pada Februari mendatang.  

    Dalam hasil surveinya, Indikator Politik Indonesia menyebut Prabowo-Gibran unggul dengan 46,7 persen.

    Sementara itu, Ganjar-Mahfud berada di posisi kedua dengan memperoleh suara sebesar 24,5 persen dan Anies-Muhaimin sebesar 21 persen.

    Namun, Muhtadi mengingatkan, peringkat kedua dan ketiga itu dalam margin of error, yakni sebesar 2,9 persen.

    Baca: Relawan Ganjar-Mahfud gunakan hati untuk lawan kekuasaan Jokowi

    Burhanuddin menambahkan, pihaknya tidak tahu siapa yang unggul di antara Ganjar-Mahfud atau Anies-Muhaimin.

    Dia mengatakan pendamping Prabowo-Gibran di putaran kedua masih belum bisa diprediksikan.

    “Itu misteri Tuhan selain jodoh dan kematian. Kami belum bisa menebak sampai hari ini,” ujarnya berseloroh.

    Peluang Ganjar-Mahfud dan Anies-Muhaimin untuk lolos ke putaran kedua, menurut Burhanuddin, masih sama besar. 

    Namun, dia mengingatkan hal itu berlaku jika Prabowo-Gibran gagal mendapatkan suara 50 persen plus satu di putaran pertama.

    Baca: Mengapa politik dinasti Jokowi disoal

     

    Target populasi survei ini adalah warga negara Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah dan memiliki telepon/cellphone, sekitar 83 persen dari total populasi nasional. 

    Sampel sebanyak 1.217 responden dipilih melalui kombinasi metode Random Digit Dialing (RDD) sebanyak 265 responden dan Double Sampling (DS) sebanyak 952 responden.

    RDD adalah proses pembangkitan nomor telepon secara acak, sementara DS adalah pengambilan sample secara acak dari kumpulan data hasil survei tatap muka yang dilakukan sebelumnya.

    Margin of error survei diperkirakan ± 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling. Wawancara dengan responden dilakukan lewat telepon oleh pewawancara yang sudah terlatih dan profesional.

    Baca: Akankah polarisasi kembali terjadi di Pemilu 2024?

    Jajak pendapat yang dilakukan Kompas bulan ini menunjukkan bahwa Prabowo-Gibran memperoleh 39,3 persen suara dan menempatkan Anies sebagai lawan terdekatnya dengan 16,7 persen, disusul Ganjar dengan 15,3 persen.

    Keputusan mahkamah konstitusi Indonesia pada Oktober lalu membuka jalan bagi Gibran untuk mencalonkan diri dalam pemilu, meningkatkan kekhawatiran yang luas mengenai semakin mendalamnya politik dinasti di Indonesia.

    Esti Utami, dari berbagai sumber

     

  • Survei Lets Invest Girls: Mayoritas Remaja Putri di 4 Kota di Indonesia Tak Paham Literasi Keuangan

    Survei Lets Invest Girls: Mayoritas Remaja Putri di 4 Kota di Indonesia Tak Paham Literasi Keuangan

    7cloud.asia – Riset yang dilakukan oleh Let’s Invest Girls menemukan 91 persen remaja putri berusia 15-18 tahun belum pernah mendapatkan sesi literasi keuangan.

    Riset tersebut dilakukan Let’s Invest Girls terhadap 150 remaja putri dari 26 SMA/SMK di empat kota, yakni Bogor, Jakarta, Medan, dan Sidoarjo.

    Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, inisiator LIG Elvera N. Makki mengatakan survei ini diadakan dalam rentang waktu enam bulan sejak November 2023 hingga April 2024.

    Survei Let’s Invest Girls ini juga mengindikasikan bahwa hanya 23 persen dari remaja yang disurvei memahami cara mengelola keuangan.

    Baca:Klinik-investasi-gak-ada-uang-ya-gak-cuan

    Sementara itu hampir 80 persen siswi telah mendapatkan uang bulanan dari orang tua dengan rata-rata jumlah Rp100 ribu hingga Rp800 ribu.

    “Akibatnya, sebagian besar dari mereka kesulitan menabung, sangat kurang memahami pentingnya investasi, dan belum sepenuhnya memahami perbedaan keinginan dan kebutuhan, serta arti penting menentukan tujuan finansial,” ujar dia.

    Menimbang kondisi itu, LIG melaksanakan kegiatan literasi keuangan yang ditargetkan mencapai 500 remaja putri di berbagai wilayah Indonesia pada tahun ini.

    Dalam kegiatan literasi keuangan ini LIG akan membahas konsep dasar tentang uang, menggali bagaimana investasi dapat melindungi keuangan dari inflasi.

    Baca:Benarkah-masyarakat-terjebak-pinjol-dan-judi-online-karena-tak-paham-literasi-keuangan

    Peserta juga diajak untuk belajar membedakan keinginan dan kebutuhan, membantu mencapai tujuan keuangan dengan lebih efisien, serta bagaimana cara perempuan mengontrol masa depan finansial mereka.

    Elvera meyakini jika program literasi keuangan dapat mencapai lebih banyak remaja perempuan di Indonesia, dapat menciptakan dampak positif yang besar bagi perekonomian.

    Pasalnya, perempuan memiliki peran penting dalam membuat keputusan finansial yang berpengaruh tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk keluarga mereka dan generasi mendatang.

    Sehinggadengan literasi keuangan pada remaja putri akan punya multplier effect yang lebih besar,

    Baca:Indonesia-segera-terapkan-kebijakan-golden-visa-ini-dampaknya-bagi-dunia-kerja

     

    Hasil riset Let’s Invest Girls itu sejalan dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan pada 2022.

    Survei OJK menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 49,68 persen, sementara tingkat inklusi keuangan telah mencapai 85,1 persen.

     

  • SMRC: Di Bawah Jokowi Indonesia Menuju Negara Otoritarian, 51 Persen Takut Bicara Isu Politik

    SMRC: Di Bawah Jokowi Indonesia Menuju Negara Otoritarian, 51 Persen Takut Bicara Isu Politik

    7cloud.asia – Survei Saiful Mujani Research and Consulting atau SMRC mengungkap 51 persen orang Indonesia mengaku takut membicarakan masalah politik dalam 10 tahun terakhir pemerintahan Presiden Jokowi.

    Angka ini menunjukkan adanya penurunan kebebasan berekspresi selama 10 tahun pemerintahan Jokowi. Di bawah Jokowi, Indonesia berproses menjadi negara otoritarian.

    “Sebelumnya belum pernah mayoritas orang takut membicarakan politik, tetap di akhir masa jabatan Presiden Jokowi, nyatanya ketakutan membicarakan politik dialami oleh mayoritas orang,” kata pendiri SMRC, Saiful Mujani, dikutip dari tayangan YouTube SMRC TV, Minggu (20/10/2024).

    Survei SMRC tersebut dilakukan secara nasional terhadap 994 sampel pada 4 hingga 11 Oktober 2024, dengan margin of error 3,2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

    Saiful Mujani menjelaskan, terjadi peningkatan persentase orang yang takut bicara politik dalam 10 tahun ini. Menurut survei SMRC pada 2014 menunjukkan hanya 22 persen masyarakat yang mengaku takut membicarakan masalah politik.

    Persentase tersebut meningkat tajam pada 2019 dengan persentase orang yang takut bicara politik sebesar 43 persen. Lalu naik menjadi 51 persen setelah Pilpres 2024.

    Sementara responden yang merasa tidak takut membicarakan politik dalam survei tersebut berjumlah 47,3 persen.

    Survei tersebut juga mengungkapkan ketakutan membicarakan politik sejalan dengan peningkatan ketakutan masyarakat terhadap tindakan represif aparat penegak hukum.

    Baca: Runtuhnya demokrasi tandai 10 tahun pemerintahan Jokowi

    “Pada 2014, 32 persen masyarakat takut atas kesewenang-wenangan aparat. Lalu tahun ini angkanya menjadi 51 persen,” katanya.

    Hal serupa juga terjadi dalam konteks meningkatnya ketakutan masyarakat untuk berserikat atau berorganisasi. Ketakutan ikut organisasi naik dari 14 persen ke 28 persen.

    Kemudian ketakutan menjalankan agama naik dari 7 persen ke 21 persen. Lalu persepsi atas pelanggaran konstitusi dan undang-undang oleh pemerintah melonjak dari 40 persen ke 52 persen.

    Saiful mengatakan perbandingan hasil survei di awal pemerintahan Jokowi dengan survei pada kondisi hari ini mencerminkan Indonesia sedang berada di jalur menuju otoritarianisme dalam 10 tahun terakhir.

    “Menurunnya kinerja demokrasi dari demokrasi yang hampir terkonsolidasi sebelum Presiden Jokowi memimpin menjadi otokratis atau otoritarianisme telah terjadi, terutama pada lima tahun terakhir Indonesia di bawah kepemimpinannya,” katanya.

    Mujani menjelaskan bahwa otokratisasi atau proses Indonesia menjadi negara otokrat atau otoritarian ini ditunjukan oleh penilaian ahli Indonesia yang dihimpun V-Dem.

    Hal tersebut misalnya dilihat dari memburuknya indeks demokrasi elektoral, pengawasan pemerintah, kesetaraan tiap warga di muka hukum, dan perlindungan terhadap minoritas.

    Pada 2004, dalam skala 0 – 1, dengan 0 sangat buruk dan 1 sangat baik, indeks demokrasi elektoral Indonesia menurut V-Dem ada di angka 0,7. Angka ini relatif stabil di masa pemerintahan Susilo Bambang-Yudhoyono. Pada 2014, skor demokrasi elektoral Indonesia ada di angka 0,67.

    Baca: PBHI sebut skema Proyek Strategis Nasional jadi akar pelanggaran HAM di era Jokowi

    Angka kemudian menurun sepanjang pemerintahan Joko Widodo: 0,6 di 2019 dan 0,54 pada 2023. Pada komponen liberal, skor Indonesia bergerak dari 0,53 di 2004, 0,52 pada 2014, menurun menjadi 0,46 pada 2019, dan terus merosot menjadi 0,36 pada 2024.

    “Kesimpulannya adalah sedang terjadi kemerosotan demokrasi selama pemerintahan Joko Widodo. Atau dalam bahasa V-Dem, Indonesia sedang mengalami otokratisasi,” ungkap Saiful.

    Saiful melanjutkan, otokratisasi menurut ahli ini konsisten dengan persepsi publik nasional secara umum atas sejumlah indikator otokrasi atau otoritarianisme versus demokrasi.

    Dalam 10 tahun pemerintahan Jokowi juga terjadi peningkatan ketakutan atas kesewenang-wenangan aparat penegak hukum naik dari 32% menjadi 51%, ketakutan ikut organisasi naik dari 14% ke 28%.

    Ketakutan menjalankan agama naik dari 7% ke 21%, dan persepsi atas pelanggaran konstitusi dan undang-undang oleh pemerintah melonjak dari 40% ke 52%.

    Lebih jauh Saiful memaparkan bahwa otokratisasi atau proses menuju keadaan Indonesia yang otokratik atau otoritarian ini dirasakan terutama oleh warga yang berpendidikan SLTP ke atas.

    Ada 51 persen responden berpendidikan tinggi yang menyatakan selalu atau sangat sering sekarang masyarakat takut bicara soal politik, sementara hanya 43 persen warga berpendidikan SD yang menyatakan demikian.

    Dari kelompok berpendidikan tinggi yang merasa sekarang pemerintah selalu atau sering mengabaikan konstitusi atau perundang-undangan 58 persen, dari kalangan lulusan SD 40 persen.

    Sebanyak 53 persen warga dari lulusan perguruan tinggi yang menyatakan sekarang warga selalu atau sering takut karena penangkapan semena-mena aparat hukum, dari kelompok lulusan SD hanya 46 persen.

    Sementara untuk pertanyaan tentang ikut organisasi dan melaksanakan ajaran agama, tidak terlihat perbedaan respons yang mencolok dari tingkat pendidikan yang berbeda.