Blog

  • Salon Sapi, Tradisi Unik di Kota Blitar Jelang Hari Raya Idul Adha

    Salon Sapi, Tradisi Unik di Kota Blitar Jelang Hari Raya Idul Adha

    7cloud.asia – Ada yang unik di kota Blitar, Jawa Timur menjelang hari raya Idul Adha. Beberapa hari jelang hari raya Idul Adha peternak sapi biasa membawa ternak sapinya ke salon sapi

    Tak hanya di Blitar, tadisi merapikan penampilan ternak sapi ke salon sapi menjadi hal yang lumrah di pasar hewan di berbagai kota di Jawa Timur, seperti Tulungagung, Kediri, Wage, Pahing, dan Ngunut.

    Merapikan penampilan ternak sapi ke salon sapi dilakukan karena bisa meningkatkan harga jual, apalagi menjelang hari raya Idul Adha permintaan sapi melonjak tajam.

    Baca: Ibadah haji sudah dilakukan lama sebelum Islam berkembang

    Alhasil, menjelang hari raya Idul Adha seperti sekarang, permintaan untuk mendandani sapi meningkat tajam. 

    Salon sapi itu antara lain bisa ditemukan di pasar hewan Dimoro, Kota Blitar. Sepekan jelang hari raya Idul Adha 2023 kesibukan melonjak tajam di pasar hewan terbesar di Kota Blitar tersebut.

    Pelanggan jasa salon sapi di kota Blitar biasanya mengunakan paket perawatan kuku dan tanduk yang dipatok seharga Rp50.000 per paket.

    Baca: Mengenal ritual thudong, saat para bhante berjalan ribuan kilometer ke Borobudur

    Jelang hari raya Idul Adha, peternak dan pedagang sapi berbondong-bondong ke pasar hewan Dimoro, Blitar untuk merapikan kuku dan tanduk ternak mereka. 
     
    Sebelum dibawa ke salon sapi, biasanya ternak sapi terlebih dahulu dimandikan sehingga kulitnya lebih bersih agar laku untuk dijual sebagai binatang kurban di hari raya Idul Adha.
     
    Salah satu penyedia jasa salon sapi ini adalah Nur Rohman (55) asal Rejotangan, Kabupaten Tulungagung yang ditemui di pasar hewan Dimoro, Biltar.
     
     
     

    Dengan teliti, Nur Rohman mengerok tanduk sapi dengan menggunakan sabit. Tanduk sapi yang awalnya panjang itu kemudian dipotong dan diruncingkan, sehingga tampak lebih rapi.

    Nur Rohman bukan satu-satunya penyedia jasa salon sapi di pasar hewan Dimoro, Blitar. Ada beberapa orang lain yang juga menyediakan jasa serupa.

    Nur Rohman mengungkapkan, mereka yang berkecimpung di bisnis ini kebanyakan merupakan keluarga dekat.

    Baca: Ribuan bahasa di dunia terancam punah

    Awalnya, Nur Rohman membuk ajasa salon sapi bersama kakaknya, Setelah sang kakak meninggal, Nur Rohman menjalankan usaha salon sapi ini dengan dibantu keponakan dan anak-anaknya.

    Keponakan dan anak-anak Nur Rohman juga menyediakan jasa salon sapi. Selain di Blitar, Nur  Rohman juga memiliki salon sapi di Tulungagung, yang dijalankan oleh anaknya sendiri.

    Nur menjelaskan jasa salon sapi yang dilakukannya mencakup perawatan kuku dan tanduk, serta membersikan ternak. 

    Untuk merapikan kuku dan tanduk sapi mereka menggunakan berbagai alat seperti sabit, gergaji, gerinda, tatah, dan palu.

    Baca informasi selengkapnya di sini

  • Kisah Sukses Petani Milenial Jawa Barat Jaga Angka Inflasi

    Kisah Sukses Petani Milenial Jawa Barat Jaga Angka Inflasi

    7cloud.asia – Petani Milenial merupakan program untuk mendorong generasi muda Jawa Barat supaya turut berkegiatan ekonomi pada sektor pertanian.

    Petani milenial mendorong peran generasi muda Jawa Barat yang memiliki karakter inovatif, kreatif dan adaptif terhadap teknologi untuk terjun di sektor pangan.

    Program Petani Milenial  ini merupakan sebuah terobosan untuk menciptakan pertanian yang maju, mandiri dan modern guna mendorong produktivitas pangan.

    Hingga saat ini terdapat 5.000 petani milenial aktif di sektor pertanian hortikultura, petani beras, peternakan dan perikanan.

    Program Petani Milenial ini turut didukung oleh pendanaan APBD Provinsi Jawa Barat dan kesiapan lahan pertanian yang digarap mencapai 100,52 hektare.

    Baca: Perjuangan petani Kaltim ekpor pisang kepok

    Berbagai teknologi dan digitalisasi yang telah diimplementasikan lewat program Petani Milenial, di antaranya adalah automatic smart feeder, fish finder, sistem irigasi mikro hingga green house.

    Anggota Komisi XI DPR Siti Mufattahah berharap program petani milenial dapat berdampak secara jangka pendek maupun jangka panjang dalam meraih ketahanan pangan di Jawa Barat.

    Ia mendorong para Petani Milenial kepada peran generasi muda Jawa Barat yang memiliki inovasi, gagasan, kreativitas dan adaptif terhadap teknologi untuk terjun di sektor pangan.

    “Program tersebut dapat menciptakan pertanian maju, mandiri dan modern guna mendorong produktivitas pangan dan meraih ketahanan pangan di Jawa Barat,” ujar Siti Mufattahah usai pertemuan dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jabar dan Pemprov Jabar di Bandung, Jawa Barat, Jumat (16/06/2023).

    Baca: Dari tembakau, petani Magelang beralih ke ubi Cilembu

     

     

    Dalam rangka hilirisasi sekaligus mendorong nilai tambah produk pertanian, Bank Indonesia Jawa Barat dan Pemerintah Daerah juga menginisiasi Program Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi (Pangsi). 

    “Melalui ekosistem pangsi ini, kelompok masyarakat seperti pondok pesantren dan kelompok tani pada sisi hulu pada produk pertanian, perikanan budidaya perikanan tangkap, pembenihan dan pembibitan didorong untuk dapat memiliki produk kemasan atau produk olahan turunan yang bernilai tambah,” urai Siti Mufattahah.

    Selain itu, guna mendorong efisiensi dan efektivitas proses bisnis sekaligus meningkatkan daya saing diterapkan sistem digitalisasi secara end-to-end mulai dari sisi produksi, pasca produksi, pemasaran, pembayaran dan pembiayaan dengan program tersebut smart farming, smart fisherypacking house, refrigerated logistic dan digital banking services. 

    Baca: Kontroversi sawit, antara alternatif ketahanan pangan dan ancaman pada lingkungan

    Atas inovasi tersebut,  melalui program Petani Milenial, TPID Provinsi Jawa Barat berhasil meraih penghargaan TPID Terbaik Provinsi pada gelaran Rakornas Pengendalian Inflasi Daerah 2022. 

    “Program Petani Milenial tersebut juga memiliki andil dalam pencapaian outcome capaian inflasi Jawa Barat 2021 yang rendah dan stabil sebesar 1,69 persen (yoy),” ujar Siti Mufattahah.

    Salah satu cerita sukses ekosistem Pangsi adalah terintegrasinya produk perikanan olahan dari hulu di PP Al-Hikmah Sukabumi yang produksi ikan budidaya dan cabai.

    “Hasil penennya kemudian diserap menjadi bahan baku utama olahan ikan oleh PP Al-Umanaa dan Kelompok Tani Tamara Sukabumi,” tutupnya.

     

     

     

  • Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    Ekonomi Sirkular Belum Sempurna Jika Tak Terapkan Hal Ini

    7cloud.asia – Sejumlah produsen yang menggunakan kemasan plastik mengklaim dan menggencarkan iklan telah menerapkan ekonomi sirkular.

    Namun demikian, klaim perapan ekonomi sirkular ini belum bisa dikatakan benar jika produknya belum menggunakan plastik hasil daur ulang (rPET). Ini karena konsep ekonomi sirkular terbaik adalah model Close Loop atau menjadikan hasil plastik daur ulang kembali sebagai bahan kemasan.

    Demikian salah satu topik yang diangkat dalam webinar bertema “Akuntabilitas Program Pengelolaan Sampah Plastik Produsen” yang diselenggarakan secara daring oleh Aliansi Profesi Jurnalis Indonesia (APJI), Rabu (15/6/2023).

    Ujang Solihin “Uso” Sidik, Kasubdit Tata Laksana Produsen Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan, penarikan kembali dan daur ulang botol-botol plastik itu merupakan bagian penting dari ekonomi sirkular.

    Baca: KLHK ajak masyarakat ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastik

    Menurutnya, langkah ini ada arahan kebijakan atau semacam directive dalam pengelolaan sampah plastik, namun belum secara tegas dinyatakan sebagai mandatory.

    “Tapi, directive ke depan bahwa kemasan-kemasan botol-botol plastik AMDK, baik yang kecil maupun ukuran besar atau galon itu harus mengandung recycle content, harus mengandung bahan daur ulang,” ujarnya.

    Uso menambahkan, di Uni Eropa, tahun depan recycle content itu sudah 25% harus mandatory.

    “Jadi, produk-produk yang berbasis kemasan PET tidak bisa dipasarkan di seluruh negara Eropa kalau tidak mengandung 25% bahan daur ulang di dalam kemasan,” ungkapnya.

    Baca: Pemerintah-produsen dan konsumen harus bahu membahu tangani sampah plastik

    Karena, kata Uso, dalam prinsip pendauran ulang atau recycle, produsen wajib untuk melakukan pendauran ulang produk atau kemasan produk yang mereka hasilkan melalui
    penarikan kembali.

    “Jadi, post costumer packaging itu harus ditarik lagi, dikumpulkan lagi oleh para produsen untuk kemudian masuk ke jalur daur ulang. Tentunya harus dipastikan di awal bahwa kemasan itu memang kemasan yang layak, mudah didaur ulang,” tandasnya.

    Uso menegaskan, ketika bicara daur ulang, yang ideal itu adalah model close loop (botol harus kembali ke botol) dan dan bukan open loop atau down cycle (botolnya dari daur ulang
    menjadi produk lain).

    Dia menyebutkan sudah ada beberapa produsen terutama produsen yang menghasilkan produk minuman dengan wadah kemasan plastik PET yang sudah menerapkan model close loop atau recycle PET.

    Baca: Botol kaca dan botol plastik, mana yang lebih ramah lingkungan?

    “Berdasarkan data kami, yang sudah bergerak ke sana itu Danone Aqua atau Danone Indonesia yang produknya bermerk Aqua. Kemudian yang sudah bergerak ke arah sana juga, tapi ini baru tahap awal atau rencana dan mereka sudah bangun pabrik juga yaitu Coca Cola dengan produk PET. Yang lainnya belum, baru dua itu,” tuturnya.

    Bisuk Abraham Sisungkunon, Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) mengatakan esensi dari ekonomi sirkular kadang
    hanya terbatasi oleh yang namanya pendauran ulang. Padahal, lanjutnya, sebetulnya sirkulasi ekonomi jauh lebih luas.

    “Kita ingin menghasilkan sebuah close loop. Jadi diupayakan agar produsen itu bisa menarik lagi bekas kemasan plastiknya sehingga itu bisa masuk lagi ke dalam siklus produksi. Hal ini
    bisa mengurangi jumlah sampah yang akan tertumpuk di TPS itu akan menjadi lebih sedikit daripada yang sebelumnya,” ujarnya.

    Baca: Robries, cara unik daur ulang sampah plastik

    Guru Besar Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Mochamad Arief Budihardjo mengatakan, menjadi tantangan bagi industri AMDK untuk menerapkan model close loop sebagai realialisasi ekonomi sirkular.

    Karena, menurutnya, pada saat berbicara tentang close loop, itu akan kembali lagi menjadi sebuah kemasan seperti yang didesain pada awalnya atau air minum menjadi kemasan air minum lagi.

    “Tidak semua industri siap menerapkan konsep ini karena membutuhkan sebuah tantangan. Karenanya perlu mulai dipikirkan bagaimana kita bisa meng-encourage konsumen kita atau pengguna produk ini untuk mengembalikan atau untuk terlibat dalam sebuah close loop system,” ucapnya.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace, menyambut baik dengan adanya dorongan kepada produsen AMDK untuk menerapkan model circular close loop.

    Menurutnya, dengan daur ulang menjadi produk yang sama akan jauh lebih baik karena tidak perlu lagi mencari atau mengambil sumber daya yang baru.

    “Tapi memang pada praktiknya di lapangan tentu ini tidak mudah. Tapi, sebenarnya model sirkuler yang ideal itu adalah ketika didaur ulang yaitu menjadi resource yang sama, itu akan bertahan menjadi satu produk yang sama,” katanya.

    Baca: Plastik ramah lingkungan yang ada di Indonesia

    Reza Andreanto, Ketua Umum PRAISE dan juga Sustainability Manager TetraPak Indonesia bahkan mengutarakan bahwa dalam konteks ekonomi sirkular, model close loop ini levelnya lebih tinggi.

    Tapi, menurutnya, untuk bisa mengarah ke model close loop ini dibutuhkan proses mengingat pengendaliannya di masyarakat itu juga cukup berat.

    “Kalau di lapangan ini tantangan cukup besar sehingga pelaksanaannya tidak bisa diterapkan secara otomatis tapi harus bertahap,” tukasnya.

    Penulis: Charles Maruli Siahaan

  • Ganjar Pranowo Berharap Cawapres yang Mendampingi Dirinya Berjiwa Muda

    Ganjar Pranowo Berharap Cawapres yang Mendampingi Dirinya Berjiwa Muda

  • Begini Cara Blackpink Tunjukkan Kepeduliannya pada Lingkungan

    Begini Cara Blackpink Tunjukkan Kepeduliannya pada Lingkungan

    7cloud.asia – Tak bisa dipungkiri, hingga kini Blackpink masih menjadi grup vokal perempuan atau girl group dari Korea yang paling berpengaruh di dunia.

    Blackpink yang mencitrakan diri sebagai feminim tetapi juga garang dan pantang menyerah ini ternyata punya kepedulian tinggi pada kelestarian lingkungan. 

    Pada 2021, Blackpink meminjamkan pengaruh mereka sebagai bintang untuk inisiatif global yang bertujuan menginspirasi orang untuk lebih peduli lingkungan.

    Blackpink juga mengajak fansnya yang dikenal dengan istilah Blinks untuk ikut aktif dalam aksi memecahkan masalah iklim dan ikut membuat planet Bumi menjadi lebih sehat.

    Baca: Cara Coldplay wujudkan tur ramah lingkungan

    Saat menyampaikan pidato tentang perubahan iklim selama episode spesial mereka ‘Dear Earth’Blackpink membuat para Blinks terkesan dengan balada mereka yang berjudul berjudul ‘Stay’ 

    Blackpink yang beranggotakan Jennie, Lisa, Jisoo, dan Rose menggunakan nada tinggi saat membawakan ‘Stay’ seolah menggambarkan perasaan mereka terhadap apa yang terjadi pada planet bumi.

    Jennie, Lisa, Jisoo, dan Rose menambahkan sentuhan pribadi mereka ke trek, menjadikannya suguhan yang sempurna untuk semua blinks yang menonton acara yang digelar secara virtual pada Oktober 2021 lalu.

    Baca: 7 film ini akan membuatmu makin cinta Indonesia

    Dalam konser tersebut, Blackpinck juga mengkomunikasikan “pesan penting” tentang perubahan iklim dan bahkan mengungkapkan saat mereka menyadari sudah waktunya untuk angkat bicara.

    Secara bergiliran personil Blackpink mencatat masalah lingkungan seperti polusi udara, mencairnya lapisan es, dan banyak lagi sambil mengungkapkan bahwa ini adalah beberapa alasannya. mereka memutuskan untuk berbicara untuk perubahan.

    “Kita adalah generasi pertama yang tumbuh di era digital, dan itu membuat kita unik. Karena kita tumbuh dan terhubung satu sama lain melalui teknologi, kita memiliki banyak kesamaan di mana pun kita tinggal di Bumi. Hari ini, kita bersatu sekali lagi karena kita menghadapi masalah umum yang terkait dengan zaman yang kita jalani sekarang,” kata Jennie.

    Baca: K-drama yang mengangkat isu kesehatan mental

    Jisoo melanjutkan dalam bahasa Korea dengan mengatakan, “Kita tumbuh di planet yang, setiap hari sejak kita lahir, semakin sakit dan semakin sakit. Dan karena generasi kita juga yang paling terhubung, dan karena kami akan ada untuk melihat bagaimana kisah ini. terungkap, kita harus lebih sadar akan krisis lingkungan ini.”

    Rose menambahkan, “Saya menyadari keseriusan masalah ini setelah memperhatikan jumlah limbah yang dikumpulkan bumi setiap tahun.” 

    “Masalah ini tidak pernah lebih penting bagi saya sejak menyadari betapa berbahayanya polusi udara,” kata Lisa. 

    Baca:Greta Thunberg berjuang untuk lingkungan sejak umur 8 tahun

    “Kita tidak perlu bertanya apakah perubahan iklim sedang terjadi. Kita tidak perlu diyakinkan bahwa alam menghilang.”

    “Planet ini memanas terlalu cepat, alam liar kita menghilang terlalu cepat, lautan sekarat, sampah menumpuk. Seperti yang terjadi, mungkin tidak ada planet tersisa untuk diselamatkan,” kata kelompok itu.

    Blackpink menambahkan, “Generasi kita akan bertanggung jawab untuk menjaga Bumi dan kita akan bekerja untuk membangun dunia yang lebih baik, lebih setara, dan lebih berkelanjutan.”

    Baca: Film bisa menjadi media efektif untuk kampanye lingkungan

    Show yang berlangsung pada Oktober 2021 tersebut merupakan penampilan pertama Blackpink setelah konser virtual ‘The Show’ yang berlangsung awal tahun yang sama. 

    Hingga saat ini Blackpink masih menjadi girl group yang berpengaruh meski Rose dan Lisa telah merilis album solo mereka.

    Sumber: indiatimes.com, baca artikel asli di sini

  • Gelombang Panas di India Tewaskan 98 Orang

    Gelombang Panas di India Tewaskan 98 Orang

    Saat sebagian wilayah India menyaksikan gelombang panas parah dalam beberapa hari dengan suhu melewati 40 derajat Celsius di banyak tempat.
     
    Jika dirinci korban meninggal akibat gelombang panas di India ini adalah sebagai berikut, 54 orang meninggal di utara Uttar Pradesh dan 44 di Bihar timur.
    Baca: Cuaca panas di Indonesia bukan gelombang panas

    Seluruh 54 orang yang meninggal di Uttar Pradesh dilaporkan berasal dari satu distrik Ballia, di mana setidaknya 400 orang dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
     

    Pengawas Medis SK Yadav, mengkonfirmasi korban meninggal, serta mengatakan satu tim dari ibukota negara bagian Uttar Pradesh, Lucknow akan tiba untuk menyelidiki permasalahan tersebut

    “Mereka akan melihat apakah penyakit lain yang menyebabkan kematian ini. Sebagian besar para pasien memiliki penyakit penyerta seperti hipertensi dan diabetes,” kata Yadav kepada Anadolu.

    Baca : Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim
     
    Gelombang panas di Distrik Ballia mencatat suhu maksimum mencapai 43 derajat Celsius pada Sabtu. Sementara itu 44 orang lainnya meninggal di negara bagian timur, Bihar akibat kondisi cuaca panas.
     

    Dari 44 yang meninggal akibat gelombang panas, 35 meninggal di kota Patna, menurut keterangan media India Today. Sembilan orang meninggal dari distrik lain di negara bagian yang sama.

    Patna, ibukota Bihar, mencatat suhu maksimum mencapai 44,7 derajat Celsius pada Jumat. Suhu di 11 distrik lainnya melewati 44 derajat Celsius.
     
    Baca: Negara paling terdampak perubahan iklim berhak dapatkan loss and damage fund

    Departemen Meteorologi India (IMD) meramalkan gelombang panas di banyak negara bagian India dan mengeluarkan tanda bahaya bagi Bihar. 

     
    Banyak negara bagian yang memperpanjang liburan musim panas akibat panas terik.

    Tahun lalu, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh jurnal medis The Lancet mengatakan bahwa kematian akibat panas di India meningkat 55% antara 2000-2004 dan 2017-2021.

    Sumber: Anadolu

  • Perubahan Iklim Picu Bedol Desa di Pantura

    Perubahan Iklim Picu Bedol Desa di Pantura

    7cloud.asia –  Indonesia berada di urutan tiga teratas sebagai negara yang paling berisiko terdampak perubahan iklim. Menurut Bank Pembangunan Asia (ADB), sekitar 1,4 juta warga akan terdampak banjir ekstrem pada 2035-2044.

    Sementara, sejumlah organisasi sipil yang tergabung dalam Jaring Nusa Kawasan Timur Indonesia (Jaring Nusa KTI) menyatakan ribuan desa yang ada di pesisir pantai khususnya di wilayah Indonesia timur terancam mengalami krisis atau bahkan hilang akibat dampak perubahan iklim.

    Di Pulau Jawa perubahan iklim telah memaksa ribuan warga pesisir di pantai utara Jawa  untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

    Seperti apa perubahan iklim berdampak pada kehidupan warga pesisir utara Pulau Jawa (Pantura), berikut tulisan Muhammad Soufi Cahya Gemilang (Research Officer Resilience Development Initiative (RDI) yang telah dimuat di The Conversation.

     

    Baca: Ribuan desa pesisir di Indonesia terancam hilang akibat perubahan iklim

    Pada 2019, seluruh penduduk dari Dusun Simonet, Desa Wonokerto Kulon, Kabupaten Pekalongan, harus berbondong-bondong mengungsi dari rumah. Banjir rob menggenangi bangunan-bangunan di dusun yang dulu terkenal dengan produksi melatinya. Garis pantai yang dulu berjarak 1 km dari rumah warga telah terkikis. Kini, rumah mereka tepat berada di bibir pantai.

    Banjir rob serta abrasi yang terjadi lagi pada 2020 dan 2021 membuat warga harus mengubur impian untuk kembali ke rumah. Saat ini, banyak warga Dusun Simonet yang berpencar ke berbagai wilayah karena desa mereka tenggelam. Meski dusun ini terancam ‘hilang’ dari peta, tidak ada kejelasan seputar program relokasi warga dari pemerintah.

    Tak hanya Dusun Simonet, fenomena kehilangan ruang hidup dan perpindahan massal akibat perubahan iklim (disebut juga migrasi iklim) juga terjadi di beberapa daerah lainnya di sepanjang pantai utara Jawa. Misalnya, sekitar 273 bidang tanah milik warga di tiga desa di pesisir Sayung, Demak, hilang akibat abrasi.

    Baca: Film sebagai media kampanye tentang iklim

    Seiring tahun berlalu, risiko semakin besar. Bank Pembangunan Asia (ADB) menyatakan Indonesia berada dalam urutan tiga teratas sebagai negara yang paling berisiko terdampak perubahan iklim. 

    Menurut ADB, sekitar 1,4 juta warga akan terdampak banjir ekstrem pada 2035-2044. Sekitar 4,2 juta warga (terutama di pesisir) bakal terimbas banjir permanen akibat peruahan iklim pada 2070-2100 sehingga keberadaan rumah mereka terancam.

     

    Sayangnya, risiko gelombang migrasi yang membesar tak berbanding lurus dengan kebijakan maupun program yang memadai. Saya mendapati persoalan perpindahan warga tidak termuat dalam kebijakan serta aturan di Indonesia. Ketiadaan regulasi ini akhirnya berdampak pada upaya penanggulangan migrasi di lapangan dan hak-hak masyarakat yang tidak terpenuhi.

    Absennya urusan migrasi iklim

    Saya menelaah Rencana Aksi Nasional – Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) dan Peta Jalan Target Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (Roadmap NDC).

    Dokumen RAN-API berfungsi untuk mendetailkan strategi dan langkah intervensi terhadap dampak perubahan iklim dari berbagai sektor. Sementara itu, Roadmap NDC adalah dokumen referensi target dan strategi pelaksanaan adaptasi perubahan iklim. Masing-masing terbit pada 2014 dan 2016.

    Dalam RAN-API, pemerintah berupaya meningkatkan ketahanan di empat sektor: ekonomi, ekosistem, kesehatan, dan wilayah khusus (perkotaan, pesisir, dan pulau-pulau kecil). Penekanan terhadap peningkatan infrastruktur dan perencanaan tata ruang yang adaptif menjadi strategi dominan, terutama di bagian ekosistem dan wilayah khusus.

    Sayangnya, mobilitas warga akibat perubahan iklim masih belum hadir di dalam kerangka kebijakan tersebut. Sebagaimana yang disebutkan dalam laporan para peneliti yang mengkaji RAN-API, dokumen tersebut masih berfokus di dimensi teknis dan fisik (seperti infrastruktur) dari adaptasi terhadap perubahan iklim.

    Isu migrasi iklim juga belum banyak dibahas dalam pembahasan ilmiah di Indonesia. Hanya ada satu mengenai fenomena ini, yaitu di Lombok dan satu studi yang berupaya mempelajari pola migrasi iklim di Indonesia. Studi yang kedua sendiri masih menggunakan data pengungsi bencana alam dari Internally Displacement Monitoring Center (IDMC) yang tidak spesifik membedakan tipe bencana penyebab relokasi.

    Baca: Perubahan iklim membuat banjir rob makin sering terjadi

    Ada tiga dampak akibat absennya urusan perpindahan warga dalam kebijakan pemerintah.

    Pertama, pendekatan yang dipakai dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim masih bersifat lokal. Mayoritas strategi dalam dua kebijakan tersebut masih menekankan kepada bentuk adaptasi yang sifatnya melindungi permukiman. Kebijakan tak berfokus kepada warga yang terdampak dan berpindah.

    Kita bisa melihat program pemerintah pusat: Proyek National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) di Jakarta dan Proyek Strategis Nasional Tol dan Tanggul Laut Semarang-Demak (TTLSD). Keduanya adalah contoh proyek yang bertujuan melindungi permukiman.

    Proyek pemerintah daerah pun setali tiga uang. Studi dari lembaga riset untuk pembangunan berkelanjutan, BlueUrban (tidak dipublikasi), pada 2023 di Kabupaten dan Kota Pekalongan menunjukkan bahwa inisiatif pemerintah lokal masih terbatas kepada pembuatan tanggul laut untuk daerah terdampak banjir rob.

    Strategi serupa juga diterapkan pemerintah Indramayu, Jawa Barat, untuk mengatasi banjir rob di daerah Kandanghaur.

    Kedua, ketiadaan fokus soal migrasi iklim berakibat pada absennya rencana sistematis pemberian kompensasi bagi warga terdampak perubahan iklim. Rencana sistematis penting agar warga mendapatkan kepastian kompensasi jika ruang hidup mereka hilang.

    Di Pekalongan, pengadaan lahan relokasi bagi warga Dusun Simonet di daerah Teratebang hingga kini belum ada kemajuan. Sementara itu, di Demak, relokasi warga terdampak abrasi masih terbatas pada satu dusun, belum menjangkau penduduk dusun lainnya.

    Ketiga, belum adanya upaya pemberdayaan masyarakat yang berpindah. Upaya pemberdayaan ini sangat penting. Migrasi iklim berpotensi menciptakan kerentanan baru karena warga terpaksa meninggalkan sumber penghidupan mereka.

    Riset BlueUrban di Pekalongan menemukan warga Simonet kehilangan akses ke mata pencaharian, umumnya sebagai sebagai petani melati atau nelayan muara, karena desa mereka tenggelam.

     

    Selain hilangnya mata pencaharian, kenaikan muka air laut juga membuat tanah sejumlah warga berstatus musnah. Sialnya, Peraturan Presiden No. 52 Tahun 2022 hanya mengatur pemberian kompensasi sekitar 25% dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Di Demak, besaran kompensasi ini menuai protes dari banyak warga karena jumlahnya yang dianggap terlalu kecil.

    Baca: Kelompok sering ditinggalkan dalam upaya adaptasi perubahan iklim

    Pemerintah perlu menyertakan aspek perpindahan warga dalam kebijakan adaptasi perubahan iklim. Migrasi seharusnya bagian dari upaya adaptasi masyarakat terhadap peralihan bentang alam akibat perubahan iklim.

    Pemerintah dapat melakukan beberapa langkah untuk menghadapi migrasi iklim.

    Pertama, pengakuan status “pengungsi” bagi para migran iklim baik yang bermigrasi karena guncangan (shock) maupun tekanan (stress). Keduanya berbeda. Migrasi karena guncangan terjadi secara cepat sebagai respons seseorang terhadap bencana (kerap disebut “pengungsi”).

    Sementara itu, perpindahan akibat tekanan timbul secara perlahan karena suatu faktor yang secara langsung ataupun tidak langsung mengancam kehidupan seseorang (misalnya kehilangan sumber penghidupan).

    Secara formal, para migran iklim yang berpindah perlahan seringkali tidak dipandang sama dengan mereka yang berpindah akibat bencana cepat (guncangan). Padahal, tak mudah menyebut migrasi seseorang ataupun komunitas karena guncangan maupun tekanan. “Berpindah” adalah keputusan yang kompleks.

    Fenomena ini juga terlihat pada studi tim BlueUrban di Pekalongan. Bencana hebat yang terjadi pada akhir 2019 memang memaksa banyak warga di Dusun Simonet untuk langsung berpindah. Namun, warga Desa Api-api–berada di sebelah Simonet pun–banyak bermigrasi keluar karena didorong oleh hilangnya penghasilan akibat abrasi.

    Untuk mengatasi kerumitan ini, Indonesia dapat mencontoh Argentina. Negara ini mengumumkan komitmen untuk memfasilitasi migrasi yang teratur, aman, dan massal kepada warganya yang terdampak perubahan iklim. Mereka juga memberikan perlindungan sosial bagi “migran iklim” baik dari dalam maupun luar negeri yang belum diakui sebagai pengungsi oleh hukum internasional.

    Baca: Nasib nelayan terombang-ambing karena perubahan iklim

    Kedua, pemerintah dapat memasukkan aspek migrasi iklim ke dalam Rencana Adaptasi Nasional dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang. Pemerintah Togo dan Ghana sudah menempuh langkah tersebut dengan menjadikan migrasi iklim sebagai salah satu prioritas adaptasi. Masuknya migrasi ke dalam rencana adaptasi nasional membuat mereka mampu memberikan sumber daya memadai untuk merumuskan upaya perlindungan, relokasi sistematis, dan program pemberdayaan para migran.

    Ketiga, penguatan kapasitas pemerintah lokal di dalam merespons migrasi iklim. Penguatan kapasitas harus diarahkan untuk proses analisis permasalahan di lapangan dan pengembangan solusi yang tidak bersifat lokal (misalnya hanya di suatu dusun).

    Pada akhirnya, pemerintah daerah menjadi pemangku kepentingan utama di dalam penanganan aspek ini. Sebab, mereka mengetahui kebutuhan jangka panjang dan sumber daya yang mampu dikerahkan di daerah masing-masing untuk menghadapi migrasi iklim.

  • Ekonomi Sirkular Antar Jawa Tengah Raih Gelar Provinsi dengan Pembangunan Daerah Terbaik

    Ekonomi Sirkular Antar Jawa Tengah Raih Gelar Provinsi dengan Pembangunan Daerah Terbaik

    7cloud.asia – Pemprov Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Ganjar Pranowo berkomitmen untuk terus mengembangkan ekonomi sirkular.

    Untuk itu, keterlibatan anak muda kreatif sangat penting, mengingat ekonomi sirkular semakin menjadi tren dan dapat menyelesaikan beberapa persoalan di masyarakat, khususnya terkait masalah lingkungan.

    “Sebenarnya ekonomi sirkular kan menjadi tren ya. Kalau kemudian masyarakat punya problem di tempatnya masing-masing dan mereka ingin menyelesaikan, ternyata berdasarkan sumber atau resources yang ada di situ, mereka mampu untuk mengolah kembali, dan ternyata praktik-praktik baik itu ada. Kita mencoba mendampingi,” kata Ganjar Pranowo usai rapat paripurna di Gedung DPRD Jawa Tengah, awal Juni lalu.
     
     
    Ditambahkan, perkembangan ekonomi sirkular, juga terlihat dari semakin tingginya minat masyarakat untuk melakukan daur ulang.
     
    Perkembangan ekonomi sirkular ini sejalan dengan semakin banyaknya generasi muda yang peduli dengan isu lingkungan dan ingin membuat dunia menjadi lebih baik dan nyaman.
     
    “Banyak sekali kelompok masyarakat yang muda dan demen banget sama ekonomi sirkular. Generasi muda sekarang itu sangat berorientasi pada isu lingkungan, bagaimana kemudian dunia itu lebih baik dan lebih nyaman, semua yang hari ini mengganggu, contohnya sampah begitu, mereka mencoba mengolah,” tuturnya.
     
     
    Ganjar Pranowo lantas menyebutkan contoh penerapan ekonomi sirkular yang dilakukan sejumlah anak muda dengan mengolah sampah baru menjaid produk fesyen.
     
    Beberapa waktu lalu, Ganjar Pranowo menerima kiriman baju dengan pewarna alam, dan memanfaatkan material bekas untuk kancing baju.
     
    “Biasa saja kalau dilihat tetapi setelah saya tanya, pewarnanya itu natural. Hitam natural baru saya lihat sekali itu bagus, tidak terlalu gelap tapi hitamnya kelihatan dominan. Kedua, beberapa kancing bajunya itu beberapa materi-materi yang dibuang. Ini contoh dari ekonomi sirkular,” katanya.
     
     
    Ganjar Pranowo menegaskan, produk itu menjadi bukti, di tangan generasi muda sampah dapat diolah kembali dan menghasilkan produk yang bagus. 
     
    “Oleh anak-anak muda didesain dengan sedemikian rupa bagusnya, kemudian menjadi produk yang bagus. Ini contoh-contoh saja. Mudah-mudahan menjadi trendsetter ya, ekonomi sirkular dan orang mau melakukan aktivitas di situ,” ungkapnya.
     
    Menurutnya, penerapan ekonomi sirkular yang mulai dikembangkan di Jawa Tengah mendapat apresiasi dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 
    Bappenas.
     
    Jawa Tengah menjadi provinsi terbaik pertama dalam Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) 2023. Penghargaan dari Bappenas ini juga pernah diterima Jawa Tengah pada 2019 dan 2020.

     
     
    Namun Ganjar Pranowo menegaskan penghargaan ini hanyalah efek dari penerapan ekonomi sirkular.
     
    “Penghargaan itu bukan tujuan, tapi substansi dari program, termasuk ekonomi sirkular harus menyentuh kelompok masyarakat,” tandasnya.
     
    Peghargaan ini juga tak lepas dari penerapan energi baru terbarukan atau EBT. Itu terlihat dari banyaknya jumlah desa mandiri energi (DME) di Jawa Tengah.
     
    Saat ini telah berjumlah 2.353 DME. Seluruh DME tersebut terdiri dari 2.167 DME inisiatif, 160 DME berkembang, dan 26 DME mapan.
     
    Sumber: jawatengah.go.id
     
     

     

     

     

     

     

  • 50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    50 Tahun Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Polusi Plastik Ditargetkan Turun 80 Persen pada 2040

    7cloud.asia – Tahun ini masyarakat dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ke-50 dengan fokus pada solusi polusi plastik. Perayaan resmi Hari Lingkungan Hidup Sedunia diadakan di Abidjan, Pantai Gading.

    Tema solusi untuk polusi plastik pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini dinilai sangat tepat, setelah berakhirnya negosiasi putaran kedua mengenai kesepakatan global untuk mengakhiri polusi plastik di Prancis.

    Umat manusia di seluruh dunia memproduksi lebih dari 430 juta ton plastik setiap tahunnya, dua pertiganya merupakan produk berumur pendek yang segera menjadi limbah.

    Sementara biaya sosial dan ekonomi dari polusi plastik berkisar antara 300 hingga 600 miliar dolar AS per tahun.

    Baca: Baru dua produsen di Indonesia yang benar-benar kelola sampah plastiknya

    Menurut laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) baru-baru ini, polusi plastik dapat berkurang hingga 80 persen pada tahun 2040.

    Hal itu bakal terwujud jika negara dan perusahaan membuat kebijakan mendalam dan ada perubahan mendasar di pasar dengan menggunakan teknologi yang ada.

    “Demi kesehatan planet ini, demi kesehatan kita, demi kemakmuran kita, kita harus mengakhiri polusi plastik. Ini akan memerlukan desain ulang menyeluruh tentang cara kami memproduksi, menggunakan, memulihkan, dan membuang plastik dan produk yang mengandungnya,” kata Inger Andersen, Direktur Eksekutif UNEP.

    “Bagaimana dunia memproduksi, mengkonsumsi, dan membuang plastik telah menciptakan bencana. Tapi itu salah satu yang bisa kita akhiri dengan mematikan keran polusi plastik. Pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, saya mengajak semua orang untuk bergabung dengan gerakan global. Dan bantu kami mengalahkan polusi plastik, untuk selamanya.”

    Baca: Robries mengubah sampah plastik jadi furnitur cantik

    Selama lima dekade terakhir, Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia telah berkembang menjadi salah satu platform global terbesar untuk lingkungan.

    Puluhan juta orang berpartisipasi dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, baik secara daring maupun melalui berbagai aktivitas, acara, dan tindakan langsung di seluruh dunia.

    “Plastik terbuat dari bahan bakar fosil – semakin banyak plastik yang kita hasilkan, semakin banyak bahan bakar fosil yang kita bakar, dan semakin buruk kita membuat krisis iklim. Tapi kami punya solusinya,” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pesan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

    Ia menambahkan, “Kita harus bekerja sebagai satu kesatuan – pemerintah, perusahaan, dan konsumen – untuk menghentikan ketergantungan terhadap plastik, memperjuangkan nol limbah, dan membangun ekonomi sirkular yang sesungguhnya.”

    Baca: Solusi sampah plastik di Indonesia

    Berbicara pada acara resmi di Espace Latrille Events Deux Plateaux di Abidjan, Jean-Luc Assi, Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Pantai Gading, mengatakan Pantai Gading mengeluarkan keputusan pada tahun 2013 yang melarang produksi, impor dan pemasaran, kepemilikan dan penggunaan kantong plastik.

    “Ini telah mendukung bisnis untuk beralih ke kemasan yang dapat digunakan kembali dan dapat terurai secara hayati.” ujarnya.

    Kota terbesar di Pantai Gading, Abidjan, juga diarahkan untuk menjadi pusat bagi perusahaan baru yang ingin mengalahkan polusi plastik. 

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik

    “Hari Lingkungan Hidup Sedunia membantu menyoroti tantangan mendesak yang kita hadapi saat ini. Tantangan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Polusi plastik menyentuh ketiga tantangan tersebut,” kata Vivianne Heijnen, Menteri Lingkungan Hidup Belanda.

    “Sangat penting bagi kami untuk terus meningkatkan kesadaran, mengumpulkan praktik terbaik, dan memastikan komitmen dari semua pemangku kepentingan. Saya berharap edisi Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini akan terbukti menjadi peristiwa penting dalam perjuangan kita bersama untuk mengalahkan polusi plastik.” imbuhnya

    Baca:  KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak kelola sampah plastiknya

    Upaya mengurangi produksi dan penggunaan plastik juga terus dilakukan. Pada sesi kedua Intergovernmental Negotiating Committee (INC) tentang polusi plastik di Paris, Prancis, Ketua INC diberi mandat untuk menyiapkan draft nol perjanjian internasional yang mengikat secara hukum tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut.

    Pada bulan Februari 2022, pada sesi kelima Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEA-5.2), sebuah resolusi bersejarah diadopsi untuk mengembangkan instrumen yang mengikat secara hukum internasional tentang polusi plastik, termasuk di lingkungan laut dengan ambisi untuk menyelesaikan negosiasi pada akhir tahun 2024.

    Instrumen tersebut akan didasarkan pada pendekatan komprehensif yang membahas siklus hidup penuh plastik. Sesi ketiga INC akan berlangsung di Nairobi, Kenya, pada November 2023.

    Sumber: UNEP

  • Jangan Buang Minyak Jelantah yang Kamu Hasilkan, Olah Menjadi Beragam Produk Ini

    Jangan Buang Minyak Jelantah yang Kamu Hasilkan, Olah Menjadi Beragam Produk Ini

    7cloud.asia – Rae, yang membuka usaha makanan di Serpong, Banten suka kebingungan mengelola minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang dihasilkannya.

    Dalam sepekan, paling tidak ia menghasilkan 1-2 liter minyak jelantah. Ia tahu, penggunaan minyak goreng hingga berulang kali berdampak tidak baik untuk kesehatan pelanggannya.

    Namun, ia juga merasa sayang jika harus membuang minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang melimpah itu. 

    Sehingga, saat mendengar ada pihak yang bersedia membeli minyak jelantah, ia sangat girang. Apalagi uang yang ditawarkan juga lumayan yakni Rp 3000-5000 per liter.

    “Informasi yang saya terima, minyak jelantah ini akan diolah kembali menjadi biodiesel,” ujar Rae kepada 7cloud.asia beberapa waktu lalu sambil menunjukkan berjeligen minyak jelantah yang berhasil dikumpulkannya.

    Baca: Beragam produk ramah lingkungan dari DemiBumi

    Pengumpulan minyak jelantah juga mulai dilakukan warga Kelurahan Malaka, Klender, Jakarta Timur.

    Lewat pengurus RW/RT setempat warga diminta mengumpulkan minyak goreng bekas atau minyak jelantah ke pengurus yang ditunjuk. Minyak jelantah yang terkumpul ini kemudian dijual kepada pembeli yang siap menjemput pada hari-hari tertentu.

    “Hasil penjualan minyak goreng bekas atau jelantah ini akan digunakan untuk keperluan wilayah masing-masing,” terang Yanti, salah seorang warga di sana.

    Baca: Robries mengubah sampah plastik menjadi furnitur cantik

    Ya, informasi untuk mendaur-ulang minyak goreng bekas atau jelantah menjadi berbagai produk seperti biodiesel, lilin ataupun sabun batang menjadi kabar baik yang ditunggu-tunggu

    Selama ini minyak goreng bekas atau minyak jelantah menjadi masalah baik bagi kesehatan maupun untuk lingkungan. Penggunaan minyak goreng hingga berulang kali dapat membahayakan kesehatan.

    Penggunan minyak goreng berulang-ulang dapat meningkatkan kadar HNE (zat beracun yang mudah diserap dalam makanan) pada makanan yang dapat mengakibatkan stroke, alzheimer dan Parkinson.

    Baca: Plastik ramah lingkungan mulai ramaikan pasar domestik

    Minyak jelantah yang dibuang begitu saja juga menimbulkan masalah bagi lingkungan, yakni mencemari air dan tanah.

    Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan risiko meningkatnya kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan lapisan minyak.

    Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang mendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air tanah.

    Baca: Cara mudah memilah sampah

    Minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa berasal dari jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak samin dan sebagainya. 

    Minyak goreng bekas atau jelantah adalah minyak goreng yang sudah digunakan berulang-ulang (4 kali) pemakaiannya dan minyak tersebut sudah turun kualitasnya sehingga dianjurkan untuk tidka digunakan lagi.

    Jika kamu tertarik untuk mengolah sendiri minyak jelantah kamu hasilkan, berikut beberapa ide yang bisa kamu lakukan: 

    Bahan Bakar Lampu Minyak

    Ketika mati listik pada malam hari, tentu kita membutuhkan lilin atau lampu emergency untuk tetap terang. Jika tidak ada lilin atau lampu emergency lupa tidak dicharge, kita bisa memanfaatkan minyak jelantah sebagai bahan lampu minyak. Cara membuat dengan langkah sebagai berikut:

    1. Sediakan wadah yang tidak mudah bocor dan tahan panas
    2. Tuangkan minyak jelantah ke dalam wadah tersebut
    3. Ambil segumpal kapas dan padatkan seperti sumbu kompor
    4. Letakkan kapas tersebut di dalam minyak
    5. Diamkan beberapa saat hingga minyak meresap dan membasahi semua bagian kapas
    6. Bakar kapas tersebut dengan korek api hingga menyala

    Baca: Dear perempuan, segini sampahh yang dihasilkan dari pembalut

    Sabun Cuci Baju

    Kita bisa membuat sabun cuci baju sehingga bisa lebih hemat dan lebih ramah lingkungan. Bahan dan cara pembuatannya sebagai berikut

    Bahan :

    • Minyak jelantah
    • NaOH (Natrium Hidroksida) atau soda api
    • Jahe
    • Jeruk Nipis
    • Daun Binahong
    • Air
    • Cetakan
    • Wadah dan Pengaduk

    Cara Membuatnya :

    • Goreng jahe secukupnya dengan minyak jelantah untuk mengurangi bau tidak sedap
    • Saring minyak jelantah dan dinginkan
    • Timbang minyak jelantah sebanyak 200 gram
    • Masukkan NaOH (soda api) sebanyak 33,6 gram ke dalam 100 ml air (jangan terbalik, jangan sampai air yang dituang ke soda api bisa meledak)
    • Masukkan larutan NaOH (soda api) tersebut ke dalam minyak jelantah sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga rata
    • Aduk terus hingga mengental
    • Tambah jeruk nipis secukupnya untuk menambah aroma
    • Tambahkan ekstrak daun binahong sebagai bahan anti bakteri
    • Tuangkan ke dalam cetakan
    • Biarkan 3-5 hari
    • Sabun siap dipakai

    Setelah mengetahui cara mengolah minyak jelantah, mari kita manfaatkan minyak jelantah untuk membuat sesuatu yang bermanfaat sehingga tidak memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia dan lingkungan.