7cloud.asia – Pohon raksasa berusia ratusan tahun di Koto Malintang, Kecamatan Tanjungraya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menarik wisatawan berkunjung ke daerah tersebut.
 
Pohon raksasa dengan jenis medang (Litsea sp) memiliki 516 meter kubik kayu tersebut memiliki diameter 4,6 meter, lingkaran 14 meter, tinggi bebas cabang 34 meter dan tinggi lebih dari 50 meter.
 
“Pohon raksasa tersebut membuat orang tertarik datang ke lokasi. Ini sama seperti di Sumatera ada harimau, Nusa Tenggara Timur ada badak, dan Sumatera lainnya ada badak yang tidak ada di tempat lain yang harus dijaga,” ujar Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan Republik Indonesia Nining Ngudi Purnamaningtyas kamis (1/6/2023) seperti dikutip Antaranews.

Nining mengapresiasi masyarakat dalam menjaga pohon raksasa tersebut sampai besar di lahan mereka, dan ini sangat penting berdampingan dengan para pegiat yang bergerak di konservasi dan kehutanan.

Menurutnya, pengembangan wisata penting, karena bisa memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, tetapi jangan lupa wisata yang dikembangkan itu objeknya apa dan yang dijaga apa termasuk pohon raksasa ini.

Namun, ia mengingatkan bahwa dalam pembangunan destinasi wisata harus perlu diperhatikan rambu-rambu dan dampak lingkungan, 

“Jalan yang bakal dibangun menuju lokasi itu tidak harus yang besar dan akses ada, tetapi bagaimana masyarakat mengantisipasi dampak positif dalam pembangunan itu nantinya,” katanya pula.

Ia menambahkan, di lokasi pohon raksasa ada juga potensi seperti rangkong, satwa lain, dan tanaman yang dilindungi.

Dengan kondisi itu, penting sinergi pembangunan dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui perhutanan sosial.

Dia menjelaskan, salah satu latar belakang dalam pembentukan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan Republik Indonesia berdasarkan instrumen pemerintah.

BPDLH merupakan badan layanan umum dalam mengelola dana. Dana untuk mendukung target pemerintah dalam meningkatkan lingkungan hidup.

“Tentunya nyaman hidup, berkecukupan, tidak hanya cukup uang dan tetapi tidak sehat. Ini yang kita bangun berbagai instrumen,” katanya lagi.

Wali Nagari Koto Malintang Nazaruddin berharap ada dukungan dana dari pemerintah pusat dalam mendukung pengembangan destinasi wisata di lokasi pohan raksasa ini.

“Pengembangan sesuai dengan arahan Direktur Penyaluran Dana Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup Kementerian Keuangan Republik Indonesia dan sekarang kami masih terkendala dengan biaya,” katanya pula.

Ia mengakui, pengembangan destinasi wisata pohon raksasa tersebut sudah dari lama direncanakan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Apalagi, keberadaan pohon raksasa itu sudah dikunjungi oleh wisatawan Nusantara dan mancanegara dari Vietnam, Eropa, dan lainnya.