Ganjar Pranowo mengatakan, Keberhasilan pilot project penggunaan beras fortifikasi di Jateng sudah terlihat.
“Dari sampling yang saya lihat, hasilnya lumayan bagus. Jadi, sistem sudah dibuatkan, tapi praktek sudah dilaksanakan,” kata Ganjar Pranowo
Ganjar Pranowo mengatakan Pilot project penurunan angka stunting ini merupakan program kolaborasi antar beberapa pihak, dari kampus, BUMD, dari pemerintah, termasuk dari kabupaten/kota.
Baca: Standar garis kemiskinan layak dikaji ulang
Dilansir suara.com, metode lain untuk menangani persoalan stunting juga terus dikembangkan UGM. Selain itu, kampus lain juga akan didorong agar melakukan penelitian untuk mencari solusi terkait dengan masalah stunting.
“Dulu dari peternakan UGM juga pernah ada telur omega. Yang lain kalau ada, kami dorong. Model keroyokan inilah yang kami harapkan nanti, bisa melaksanakan program percepatan penanganan stunting,” tegas Ganjar Pranowo.
Penanganan stunting menjadi fokus utama Ganjar Pranowo selama menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Baca: Kemiskinan ekstrem di Indonesia turun drastis, tapi ada catatan
Banyak program yang dirumuskan Ganjar Pranowo untuk menekan angka stunting di Jawa Tengah. Di antaranya program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5Ng), Jo Kawin Bocah, edukasi melalui program Gubernur Mengajar, dan lainnya.
Berdasarkan perhitungan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (ePPGBM), pada 2018 tingkat stunting di Jawa Tengah tercatat berada di angka 24,4 persen.
Setahun kemudian pada 2019 angka stunting di Jawa Tengah turun menjadi 18,3 persen. Angka stunting kembali turun pada 2020 menjadi 14,5 persen. Kemudian, pada 2021 turun menjadi 12,8 persen, dan terakhir pada 2022 di angka 11,9 persen.

Leave a Reply